"Surat perjanjian perceraian?" Mendengar kata-kata ini, wajah Bella tiba-tiba menjadi pucat saat dia menatap Laskar dengan tatapan tak percaya, bibirnya sedikit bergetar.
Ekspresi Laskar tampak cuek. "Saat itu, aku menikahimu semata-mata demi menenangkan ayahku dan menyelamatkan nyawa Vera. Sekarang setelah aku menemukannya, tentu saja aku tidak akan membiarkannya jatuh ke dalam bahaya lagi."
Bella memahami maksud yang tersirat di balik kata-katanya.
Sejak awal, pernikahan mereka hanyalah sebuah langkah strategis. Karena tujuannya sudah tercapai, dia sudah tidak berguna lagi bagi Laskar, seorang istri yang hanya membuatnya malu.
Memikirkan hal ini, Bella tidak dapat menahan diri untuk tersenyum. Hanya saja, senyumnya ini mengandung kepasrahan dan celaan terhadap dirinya sendiri.
Dia mengangkat pandangannya untuk menatap Laskar, matanya dipenuhi kesedihan tetapi masih menyimpan secercah harapan saat dia bertanya, "Laskar, selama kita menikah selama tiga tahun, apakah aku tidak lebih dari sekadar alat bagimu?"
Saat Bella baru saja selesai berbicara, suara tawa pecah di sekitarnya, mengejek dan tajam. "Apakah dia sedang bermimpi? Apakah dia masih berangan-angan bahwa ada kemungkinan Laskar menyukainya sedikit saja?"
"Tidak bisakah dia melihat seperti apa dirinya itu? Dia begitu jelek seperti kuda nil!"
Menutup telinga terhadap kata-kata ejekan mereka, Bella hanya menatap Laskar dengan saksama. Dia dengan keras kepala menunggu jawaban dari pria itu.
Dengan suara dingin, Laskar hanya mengucapkan sepatah kata, "Ya."
Air mata tiba-tiba menggenang di mata Bella yang memerah.
Pada saat ini, dia merasa seolah-olah hatinya dicabut keluar, dibuang ke lantai, dan diinjak-injak tanpa ampun.
Rasa sakitnya sangat menyiksa.
Bella hanya bisa tersenyum sedih. "Aku mengerti," ucapnya.
Dia menatap ke bawah dan mengangguk perlahan, menerima takdirnya. "Aku akan menandatangani surat perjanjian perceraian saat aku tiba di rumah."
"Kita akan bertemu besok jam sepuluh pagi di Kantor Catatan Sipil," ucap Laskar dengan nada dingin. Dia lalu berbalik, kembali ke sofa, dan duduk di sana.
Langkah Bella terasa berat saat dia berbalik dan berjalan ke arah pintu ruang pribadi untuk pergi.
Tepat pada saat ini, suara Vera yang terdengar lembut bergema. "Laskar, aku merasa terlalu kenyang. Kue ini ... bisakah aku membuangnya?"
Mendengar itu, punggung Bella tiba-tiba menegang.
"Ya," jawab Laskar.
Mendengar jawaban Laskar, Bella memejamkan mata dengan ekspresi yang tampak pahit, membiarkan air matanya jatuh bersama tetesan air hujan di wajahnya.
Dia meninggalkan ruang pribadi itu secepat mungkin, dan kembali ke Vila Impian, rumah yang ditinggalinya bersama Laskar.
Di meja kopi, seperti yang disebutkan Laskar, ada surat perjanjian perceraian itu.
Mata Bella segera memindai dokumen dan mencatat persyaratan penyelesaian. Setelah bercerai dengan Laskar, dia akan mendapatkan enam ratus miliar rupiah dan dua vila yang mewah.
Meskipun hanya memanfaatkannya, Laskar adalah seorang suami yang sangat murah hati, memastikan dia tidak akan keluar dengan tangan kosong.
Tiga tahun pernikahan sekarang setara dengan enam ratus miliar dan dua properti, bukankah itu suatu bentuk keuntungan?
Dengan senyum pahit di wajahnya, Bella menandatangani surat perjanjian perceraian.
Setetes air mata membasahi dokumen itu, dia buru-buru menyekanya dan mengangkat kepala, mencoba menahan agar air matanya tidak jatuh lagi.
Tepat pada saat ini, ponselnya bergetar karena ada pesan baru.
Dia mengambil gawai itu dan menyadari bahwa orang yang mengirimkan pesan adalah gurunya.
"Bella, apakah kamu sudah mempertimbangkan dan memutuskan? Jangan lewatkan kesempatan untuk belajar di luar negeri, ini adalah sebuah kesempatan yang luar biasa. Jika melewatkannya, kamu pasti akan menyesal!"
Bella melihat pesan teks itu, tekadnya semakin membulat saat dia menjawab, "Aku sudah memutuskan. Guru, aku akan pergi ke luar negeri untuk belajar."
Di masa lalu, Bella ragu-ragu dan bingung apakah dia harus mengambil kesempatan belajar di luar negeri.
Sekarang, dia telah menemukan sebuah jawaban.
Dia ingin pergi!
Sudah waktunya dia memulai lembaran yang baru dalam hidupnya. Dia menginginkan kehidupan baru yang benar-benar hanya miliknya.
Setelah menjawab, dia menyimpan ponselnya ke saku dan mulai berkemas.
Meski hujan pada hari sebelumnya membuatnya demam, dia memaksakan diri untuk pergi ke Kantor Catatan Sipul pada pukul sepuluh pagi keesokan harinya.
Akan tetapi, bahkan setelah sampai pukul sebelas, Laskar tidak muncul.
Bella memutuskan untuk menelepon Laskar.
Suara Vera menyambutnya begitu panggilan telepon tersambung. "Laskar, bisakah kamu membantuku di sini ...."
Lalu, suara Laskar terdengar. "Aku masih punya urusan lain. Kita akan menjadwalkan ulang kunjungan ke Kantor Catatan Sipil."
Dengan itu, dia menutup panggilan telepon secara tiba-tiba.
Bella menatap ponselnya saat panggilan terputus. Dia merasa tercekat di tenggorokannya.
Dengan berat hati, dia menuliskan pesan teks terakhir untuk Laskar. Kemudian, dia mengeluarkan kartu SIM-nya dan membuangnya di tempat sampah terdekat.
Dia memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Hari ini bukan hari biasa, ini adalah hari keberangkatannya ke Cado.
Bella bersumpah pada dirinya sendiri bahwa begitu tiba di luar negeri, dia akan menghapus semua kenangan tentang Laskar dari pikirannya!
Tiga tahun telah berlalu, dan suasana di kediaman Keluarga Tanzil di Tewo dipenuhi kegembiraan.
Di aula perjamuan besar, suara tawa dan percakapan bercampur dengan aroma parfum yang kuat.
Keluarga Tanzil, yang berada di balik keluarga-keluarga berpengaruh di Tewo, memegang kekuasaan yang cukup besar.
Malam ini, mereka merayakan kepulangan putri angkat kepala keluarga mereka dari luar negeri dengan perjamuan yang mewah.
Orang-orang yang berasal dari lingkaran elit kota hadir dalam acara tersebut.
"Laskar, kudengar Bella kembali ke tanah air hari ini?" tanya Ruben Andino dari sudut ruangan.
Mendengar pertanyaan itu, Laskar terdiam untuk beberapa saat, jari-jarinya mencengkeram gelas anggurnya erat-erat. Beberapa saat kemudian, dia menanggapi dengan anggukan untuk mengonfirmasi berita tersebut setelah menikmati seteguk anggur.
Hari ini, dia mengenakan setelan biru tua yang dirancang dengan baik. Entah itu gaya rambutnya atau pakaiannya, dia memancarkan aura keanggunan.
"Momen ini akhirnya tiba!" ucap Ruben sambil menoleh ke arah Vera yang berdiri di samping Laskar. "Wanita yang menikah dengan Laskar seharusnya sudah pergi dari hidupnya sejak lama. Selamat, ya, Vera. Tidak lama lagi kamu akan menjadi nyonya Keluarga Kordinus."
Vera hanya menanggapi dengan senyum tipis, suaranya terdengar lembut, "Yang penting bagiku adalah dekat dengan Laskar, gelar sebagai istrinya tidak penting."
Terlepas dari kata-kata yang diucapkannya, tatapan intensnya terhadap Laskar mengungkapkan banyak hal tentang perasaannya yang sebenarnya, harapannya untuk menikah dengan Laskar terlihat jelas bagi semua pengamat.
Laskar menatap ke bawah, jarinya mengetuk-ngetuk gelas dengan malas, tidak berbicara sedikit pun.
Melihat ekspresi Vera yang menatapnya dengan penuh harap, cahaya melintas di mata Ruben dan dia berkata, "Laskar begitu mencintaimu, Vera. Begitu dia bercerai dari Bella, dia pasti akan langsung menjadikanmu istrinya. Benar, 'kan, Laskar?"
Laskar tidak menanggapi perkataan mereka, tampaknya tenggelam dalam benaknya sendiri.
Bibir Vera terbuka saat dia hendak bicara, tetapi perhatian ruangan itu tiba-tiba teralih ke tempat lain oleh keributan di pintu masuk.
Semua kepala menoleh saat suara sepatu hak tinggi beradu di lantai marmer, bergema dengan detak jantung kerumunan.
Muncul sesosok yang mencolok dalam gaun merah menyala. Gaun itu memiliki kerah berbentuk V yang dalam dan payet yang berkilauan, ujung gaunnya berbentuk ekor ikan yang menari-nari saat wanita tersebut berjalan.
Kehadirannya bersifat magnetis, tubuhnya sempurna. Fitur wajahnya yang indah dibingkai oleh mata yang cerah, pesonanya diperkuat oleh eyeliner gelap. Kecantikannya tidak hanya bisa dilihat tetapi juga bisa dirasakan, membuat semua orang yang hadir terpana.
"Astaga! Siapa wanita itu? Aku tidak percaya ada seseorang yang begitu menawan di Tewo selama ini! Kenapa aku belum pernah melihatnya sebelumnya?" tanya Ruben dengan nada bicara terkejut.
"Memang, dia cukup cantik," komentar Vera sambil memasang senyum di wajahnya.
Laskar perlahan mengangkat mata untuk bertemu dengan tatapan wanita itu, dan matanya menyipit tajam saat melihatnya.
"Aku menyukai wanita ini! Aku akan meminta nomor teleponnya sekarang. Kalian tunggu saja kabar baik dariku!" ucap Ruben dengan cepat, sambil berjalan mendekati wanita itu dengan langkah mantap.
Mendekati wanita itu, Ruben menawarkan senyuman yang dia anggap paling menawan dan memikat. "Halo, Cantik! Aku Ruben Andino, putra ketua dewan Grup Andino. Apakah aku bisa mendapatkan kehormatan untuk berkenalan denganmu?"
Bella menatap Ruben, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Sebelumnya, di antara teman-teman Laskar, Ruben adalah yang paling kasar padanya, selalu melontarkan hinaan padanya.
Ruben telah mengatainya dengan banyak kata buruk sebelumnya, tanpa pernah mempertimbangkan perasaannya sedikit pun.
Namun sekarang, di sinilah pria itu, berdiri di hadapannya, jelas terpikat oleh kecantikannya.
Ironi manis dari semua ini membuat Bella merasa geli.
Melihat senyum menawan Bella, Ruben terpesona untuk beberapa saat. Dia berdeham dan berkata, "Bolehkan aku mengetahui namamu?"
Saat Bella membuka mulut, hendak berbicara, sebuah suara berat menyelanya, "Belia ...."