Sejak kejadian itu, Izza tidak pernah ke rumah mertuanya sampai hampir 2 bulan. Dia paham, bahwa dirinya harus menetralisir emosinya. Dan hal itu bisa ia lakukan dengan menjauhi orang-orang itu. Dia butuh waktu untuk menyembuhkan hatinya. Hal ini yang selalu Izza lakukan setelah perasaannya dilukai. Setelah ia disudutkan perihal kekurangannya yang belum bisa menjadi ibu.
Namun, Izza tetap meminta Yanto mengunjungi ibu mertuanya itu. Dan setiap minggu pun, Yanto ke rumah ibunya untuk memberi uang jajan untuk sang ibu.
"Izza mana, Yan? Kok lama gak ikut kesini?" tanya Bu Ami kala melihat Yanto mampir sendirian sepulang kerja.
"Dia lembur, Bu. Di kantornya banyak kerjaan," jawab Yanto, ia berbohong.
"Ohh, suruh nginep di sini saja kalau lembur. Kasihan rumah kalian jauh. Tidur di sini saja, ya. Besoknya berangkat kerja dari sini, kan deket thoo? Cuma 15 menit saja ke kantor Izza," lanjut Bu Ami.
"Ndak ah, Bu. Izza itu gak bisa tidur kalau gak meluk gulingnya yang sudah kusut itu. Katanya itu guling kenangan," jawab Yanto, mencoba mencairkan suasana. Diiringi tawa Bu Ami.
Bu Ami adalah mertua yang baik, sabar, penyayang, dan lemah lembut. Beliau tak pernah mempertanyakan soal cucu kepada Izza ataupun Yanto. Beliau juga cuek soal kehamilan dan momongan. Beliau bahkan tak pernah bertanya tentang hal-hal privasi mengenai anak dan menantunya.
"Ibu minta maaf ya, Le. Perihal tempo hari." Bu Ami melanjutkan obrolan.
Le adalah bahasa jawa yaitu panggilan untuk anak laki-laki. (Tole/Le).
"Apaan sih, buk? Udah, gak usah dibahas. Ibu gak usah minta maaf juga. Toh bukan salah ibu, kan?" jawab Yanto sambil menyeruput kopi di hadapannya.
"Ibu itu lho sebenarnya juga ikutan sedih, Le. Seminggu setelah resepsi pernikahan adikmu, Ragil. Dia tiba-tiba bilang kalau istrinya tengah hamil dan sudah memasuki 5 bulan.
Ibu waktu itu ya cuma manggut-manggut sambil membatin. -Lhoo kok hamil duluan? Kan kasian nanti mbak nya? Izza belum hamil, ini kok Asih sudah hamil duluan?- Bukannya ibu gak bersyukur mau nambah cucu. Tapi, gimana ibu mau cerita ke istrimu soal kabar ini? Pasti dia sedih, pasti dia kecewa. Terus ibu cerita ke mbakmu Si Nana, Ibu bilang gimana ini, Nduk? Asih, adikmu itu hamil, dan sudah memasuki bulan ke-5. Padahal, resepsi baru usai digelar. Bagaimana kita memberi tahu adikmu yang satunya? si Izza? Mbak Nana-mu bilang kalau Izza sudah tau dari si Asih sendiri. Lewat HP. Iya tah, Le??." Bu Ami berbicara menjabarkan isi hatinya.
"Iya Bu. Izza tau dari status Asih di WA. Tapi dia kuat kok. Ibu gak usah khawatir," ucap Yanto meyakinkan ibunya.
"Yo wes Le, kalau Izza kerjaannya sudah gak lembur-lembur, ajak dia kesini ya. Ibu kangen," lanjut Bu Ami.
"iya, Bu." Jawab Yanto singkat.
Sore itu Yanto dan Bu Ami ngobrol ngalor ngidul umumnya anak dan ibu. Sesekali mereka tertawa sambil bercerita tentang hal-hal konyol. Bu Ami bercerita tentang rutinitasnya mengolah sawah dan tak terasa senja mulai merayap. Yanto-pun pamit pulang. Karena Yanto ingat ada kegiatan ngaji bersama di kampung ba'da isya' nanti.
*************
Sehabis sholat isya', Yanto bersiap-siap berangkat ke masjid. Ada acara mengaji rutin di sana setiap malam jumat. Sudah menjadi rutinitas bagi warga laki-laki di kampung.
Yanto berangkat bersama kakak iparnya, Saipul.
Saipul ini adalah suami dari mbak kandung Izza. Jadi, Yanto dan Saipul sama-sama menantu di keluarga Izza.
"Mas, ayo berangkat, nanti kita terlambat." Yanto memanggil Saipul dari pagar rumahnya. Rumah mereka bersebelahan.
Singkat cerita mereka pun berangkat. Sesampai di masjid, beberapa jamaah sudah datang. Tapi, Pak Ustadz belum datang. Ada sedikit halangan yang membuat Pak Ustadz datang terlambat.
"Lhoo, Mas Saipul sama Mas Yanto, sini duduk di dekat saya." Laki-laki paruh baya itu memangil Saipul dan Yanto untuk bersila di sebelahnya.
Dia adalah Pak Marjan. Laki-laki berusia 45 tahun yang suaranya sangat lantang kalau berbicara, dan selalu berbicara dengan nada 4 sampai 5 oktaf. Entah itu bawaan lahir atau apa.
Yanto dan Saipul sebenarnya ogah duduk di dekat Pak Marjan. Tapi, tempat lain sudah penuh. Akhirnya, mereka pun duduk di sebelah Pak Marjan. Sambil menunggu Pak Ustadz datang, mereka menenggak teh hangat sambil ngobrol satu sama lain.
Dan tiba-tiba Pak Marjan membuka obrolan, "Mas Yanto ini, gimana sampean ini mas? Kerja ke kota berangkat pagi pulang sore, tapi gak punya anak. Rugi lhoh. Lihat tuh kakak iparmu, si Saipul, langsung jadi thooh? Nikah, kawin, langsung bunting tub istrinya. Pintar bikin lho. Belajar dong sama kakakmu." Dia berkata sambil nyelonong saja itu mulut, seakan-akan tak peduli ada hati yang terluka di sebelahnya.
"Rugi ngasih nafkah ke istri kalau istrimu kagak bisa bunting, Mas. Sungguh. Apa mau saya ajari caranya?" Mulut Pak Marjan terus saja mengucapkan hal-hal yang bukan urusan dia.
Jamaah lain menoleh. Ada yang terlihat tidak nyaman. Ada yang menanggapi dengan tertawa. Mungkin dikira ini adalah lawakan receh. Ada yang tersenyum menguatkan Yanto.
Yanto tak menanggapi. Dia beringsut pindah tempat. Menjauh dari Pak Marjan. "aya pindah di dekat pintu saja, Mas. Sambil ngisis (mencari angin segar)," ucap Yanto kepada Saipul.
Tak lama kemudian, Pak Ustadz datang. Ngaji dimulai seperti biasanya dan berakhir jam 21.00.
Di perjalanan pulang, Yanto dan Saipul berjalan bersama beberapa warga lain. Tiba-tiba Pak Marjan muncul lagi. Dia menepuk bahu Yanto.
"Ayoo, Mas. Lekas dihamili itu istrinya. Waahh jangan-jangan kalian KB ya? ngapain KB sih? Waah pasti kalian gak mau punya anak yaa?" Mulut Pak Marjan terus saja memburu.
Tidak ada bedanya dengan emak-emak.
Di sisi lain jalan raya, juga beriringan beberapa orang jamaah ngaji tadi.
"Woy, Rek (bahasa jawa rek ; kawan-kawan/ guys) ini lhoo, Mas Yanto ini, sudah lama menikah, tapi istrinya mandul. Lama sekali dia ini, gak punya anak."
Pak Marjan seperti memproklamasikan kemerdekaan di tengah-tengah jalan, menggebu-gebu.
Degh! Dada Yanto terasa sakit. Tapi ia malas berdebat. Apalagi menanggapi laki-laki macam Pak Marjan. Yanto juga tau diri, ia di kampung ini hanyalah pendatang. Dia menetap di sini karena ikut istrinya.
Segera Yanto mempercepat langkahnya mendahului kerumunan orang-orang itu. Memang hanya mulut Pak Marjan yang julid. Tapi, Yanto khawatir jika ada warga lain yang ikut-ikutan menimpali. Dan Yanto juga tidak mau jika tiba-tiba ia kehilangan kontrol emosi. Apalagi ia hanyalah pendatang. Ia harus menjaga nama baik keluarga Izza sebagai warga asli kampung ini.
*********
Sesampai di rumah, Yanto langsung ganti baju dan duduk di depan TV. Izza sedang nonton tv sambil melipat baju
.
"Yang..., aku mulai kamis depan gak ikut pengajian ya." Yanto memulai obrolan.
"Lho.., kenapa sayang?" timpal Izza.
"Anu..., kayaknya aku tiap kamis bakalan agak malem pulangnya. Tadi pak boss baru ngasih info sih," kata Yanto.
"Ya.., gak malam-malam amat. Mungkin maghrib aku baru nyampe rumah. Jadi, gak bisa ikut ngaji. Gak papa yaa aku absen sementara. Nanti juga ikut lagi kok kapan-kapan."
Yanto sengaja berbohong agar istrinya tak ikut bersedih atas perlakuan Pak Marjan tadi.
Padahal, ia trauma dengan Pak Marjan yang sudah lama usil mempermalukan Yanto setiap kamis.
"Iyaa gak papa. Ngaji kan gak hanya di masjid. Dan gak cuma tiap kamis juga bisa. Banyak media buat kita nambah ilmu agama kok," jawab Izza sambil menepuk bahu suaminya dan berlalu menata lipatan baju di lemari.
Yanto tersenyum manis. Tapi di dalam hatinya ada luka. Yaah... dan lagi-lagi, itu adalah luka yang sama.
Apakah dengan menghindari Pak Marjan di pengajian, akan membuat Yanto bebas dari cibiran Pak Marjan?
"Sayang, besok weekend. Nonton film yuk. Kita sama-sama pulang lebih awal kan?" Begitulah isi pesan WA Yanto kepada istrinya.
"Besok aku pulang jam setengah empat, Yang. Kita nonton jam setengah lima yaa. Nanti aku pesen tiket online aja," balas Izza.
"Oke sayang, nanti sepulang dari pabrik aku numpang mandi di rumah ibu deh. Terus aku jemput kamu di kantor ya." Yanto tampak bersemangat mengetik.
"Siap ❤️." Masuklah notice balasan dari istrinya.
Yanto tau kapan waktunya quality time bersama pasangannya. Ia tau istrinya stress berat dengan semua beban di pundaknya. Terlebih jika memikirkan soal momongan.
Jadi, setiap weekend, Yanto mengajak istrinya refreshing. Kadang ke mall. Sekedar makan di foodcourt atau nonton film terbaru sambil makan popcorn. Terkadang pergi makan bakso di pinggir jalan. Kadang juga makan lalapan di warung kesukaan Izza. Sesekali ke pantai atau ke kolam renang dekat rumah sambil jajan cilok. Dan kalau malas pergi-pergi, mereka memilih menghabiskan waktu di rumah. Beli jajanan di minimarket dan seharian ngobrol, rebahan, atau nonton TV berdua sambil makan oreo dan eskrim lima ribuan. Itu sudah quality time bagi mereka.
Jam tiga sore, Yanto sudah pulang. Ia langsung mampir ke rumah ibunya. Mandi dan bergegas menjemput Izza.
"Mau kemana, Le? Izza mana?" tanya Bu Ami.
"Mau nonton, Bu. Mumpung malem minggu. Ini mau jemput Izza ke tempat kerja terus berangkat," jawab Yanto.
"Owh, nanti sepulang nonton ajak Izza mampir kesini ya." Terlihat wajah Bu Ami penuh harap. Mungkin rindu kepada menantunya.
"Nginep juga boleh kok, Le," lanjut Bu Ami sambil nyeruput kopi.
"Siap, Bu," tukas Yanto sambil bersalaman dan pamit kepada Bu Ami.
**********
Sepulang dari nonton film, Yanto dan Izza makan di tempat langganan mereka.
"Sayang, habis ini kita mampir ke ibu ya." Tiba-tiba Yanto memulai percakapan ketika sedang makan.
"Ehmmm...?" Izza terlihat berfikir sejenak.
"Oke deh ayo mampir," sahutnya setengah ragu.
"Eh tapi nanti bungkusin ibu roti bakar di perempatan ya," lanjut Izza, dengan senyum mengembang.
"Okay," jawab Yanto sambil nyengir kuda.
***********
Yanto pun melajukan motor ke rumah ibunya. Sesampai di muka gang, Izza tiba-tiba menghela napas gusar.
"Semoga tak ada omongan-omongan itu lagi." Ia berbisik dari belakang, tepat di telinga suaminya.
Yanto mengangguk paham.
Sampailah mereka di depan rumah Bu Ami. Yanto menghentikan motor dan Izza tetap di posisi duduknya. Sekilas ia menoleh ke dalam rumah Bu Ami. Asih terlihat sedang duduk di sofa dengan daster yukensi sepaha. Asih sedang memotong kuku. Terlihat perutnya sudah besar. Mungkin saat ini, dia sudah hamil tujuh bulan.
Setelah mengumpulkan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan. Izza masuk ke dalam rumah mertuanya.
Terdengar suara Bu Ami dari dapur, "Ya Allah anakku, lupa kah sama jalan kerumah ibu? Lama banget gak kesini. Nginep ya?" ucapnya.
"Tidak, Bu. Izza gak bawa baju ganti. Jadi ndak bisa nginep," jawab Izza seraya tersenyum, kemudian segera ia bersalaman dan memberikan roti bakar kepada Bu Ami.
"Makanlah sana. Ibu sudah masak," suruh Bu Ami sambil membuka roti itu.
"Nanti saja, Bu. Barusan makan kok," sahut Yanto sambil mendudukkan bokongnya di kursi dapur, menemani ibunya yang sedang menggoreng rengginang.
Izza bergegas keluar ke teras hendak mengambil tasnya di motor.
Tiba-tiba Asih menyapa, "Dari mana, Mbak?" tanya Asih sambil mengelus perutnya. Diiringi raut wajah pamer.
Sekilas Izza menoleh ke perut adik iparnya itu, dan ..., Degh ...! ada perasaan tak nyaman mendera. Hatinya seperti dihantam ribuan batu. Ada kesedihan tersendiri yang mencabik-cabik perasaannya.
"Dari nonton ke bioskop," jawab Izza singkat.
"Enak banget yaa, pulang kerja nonton, jalan-jalan, makan-makan. Gak ada anak sih. Jadi bebas gak ada yang dipikir selain bersenang-senang." Asih mulai mencibir.
"Aku sih udah ndak bisa kemana-mana. Perut udah buncit kayak gini. Bumil kan harus banyak-banyak di rumah." Mulut Asih terus menerutuk begitu saja. Sambil sesekali menyunggingkan senyuman mengejek.
"Iya lah, kapan lagi happy-happy? Sayang dong, kalau uang dicari terus-menerus, tapi gak dipake buat nyenengin diri," jawab Izza dengan tenang.
"Jangan nyari uang terus. Gak ada tanggungan beli pampers dan sufor kan? Hehehe." Asih berbicara dengan nada datar tapi di setiap kalimatnya terselip duri.
"Emang gak ada tanggungan buat beli pampers sih. Tapi lipstick aku mahal, lhoh. Hehehe," jawab Izza dengan senyuman elegan.
"Aku sih pakai lipstick sepuluh ribuan saja yang penting merah di bibir. Lagian bumil kayak aku ini meskipun pakai makeup murah, aura bumilnya itu lho udah mengkilau." Asih terus saja berbicara soal kehamilannya.
"Iya lah, kamu kan cuma ke sungai, nyuci kolor. Rugi kan kalau beli lipstick mahal-mahal. Aku kan harus tampil prima di depan mitra kerjaku." Izza masih bisa menghandle rentetan keusilan mulut Asih.
"Ke sungai itu cuma nemenin suami aku lho. Yang nyuci baju yaa dia. Aku mah gak pernah nyuci baju. Maklum kan lagi hamil. Hamil itu enak lho, Mbak. Dimanja." Terlihat Asih begitu menggebu-gebu pamer kehamilan.
Oh ya. Rumah Bu Ami ini bersebelahan dengan sungai. Jadi, masih sering nyuci baju ke sungai.
"Hari gini ngapain nyuci baju ke sungai? Aku nyucinya ke laundry aja lebih praktis. Kalau mau nyuci sendiri dirumah juga bisa. Ada mesin cuci dan tinggal diputer. Hemat tenaga, hemat waktu dan gak perlu setor darah ke nyamuk penunggu sungai kan." Izza terus saja mendapati jawaban bagus untuk ocehan adik iparnya.
"Oh iya, perihal dimanja. Kalau aku sih sejak menikah udah dimanjain sama Masmu. Gak harus hamil juga baru dimanjain," tandas si Izza.
"Definisi dimanja itu banyak, gak cuma nemenin ke sungai aja. Malem minggu nih, minta jalan-jalan kek sama Ragil. Minimal ngajak makan di luar sana. Nah, itu salah satu definisi dimanjain, lho." Izza seperti sudah menyiapkan jawaban-jawaban yang bagus untuk kejulidan Asih.
"Yaa gak gitu juga, Mbak. Dimanja itu biasanya sama suami dilarang kerja. Kayak aku nih, nikah, hamil dan dirumah nganggur. Nikmat banget lho, gak usah repot-repot kerja." Kini Asih menyindir perihal rutinitas Izza yang sibuk berkarir.
"Ohh, kalau soal kerja. Aku sih lebih ke sebuah rutinitas yang positive ya. Daripada nganggur di rumah. Paling-paling gosip sana-sini sama tetangga. Gak ada faedahnya kan? Mending berkarir. Kerja kan juga ibadah. Penghasilanku ya buat diriku. Buat tabungan, buat beli makeup, buat beli baju, beli tas, dan untuk hal-hal lain. Rumah kami juga alhamdulillah sudah lengkap isinya. Dan satu lagi, aku dan masmu bekerja keras karena kami sadar kami harus mandiri. Kami gak mau hidup membebani orang tua, kayak kamu. Heheeh." Izza terkekeh.
"Dan satu lagi, Orang tuaku pasti bangga melihat anak perempuannya bisa bekerja dan sesuai dengan harapan mereka. Mandiri. Pemikiranku sih berbeda dengan pemikiranmu yang hanya lulusan SD." Wanita itu benar-benar menggencarkan serangan balik untuk setiap mulut julid adik iparnya.
Akhirnya, Asih pergi masuk ke dalam kamarnya begitu saja, tanpa berbicara apa-apa. Izza bersikap masa bodoh dan tidak peduli jika adik iparnya itu baper atau tersinggung.
Asih-lah yang menyulut api peperangan terlebih dahulu.
"Dasar wanita julid," desah si Izzah setengah kesal.