Bab 2

"Ya, sayang. Aku dan suamiku sudah bercerai dan suamiku kembali ke negara asal nya, setelah kami bercerai dan dia membawa putra kami bersama nya." Sahut nya sedih, terlihat jelas dari raut wajah nya bahwa dia sangat merindukan putra nya.

"Lalu, mengapa Ibu tidak mengunjungi mereka?" tanya ku sedikit kepo.

"Aku punya alasan sayang." Sahut nya mulai tenang.

"Lalu, apakah ibu bisa berbahasa Arab, atau mantan suami ibu yang berbahasa Ingris?" Tanyaku lagi tambah kepo.

"Aku sangat pandai berbahasa Arab," sahut nya.

"Aku juga pandai berbahasa Arab," sahut ku dengan mulut ku. tanpa penerjemah.

"Benarkah?" Tanya nya sambil tersenyum.

"Ya Umi' aku pernah menjadi TKW di Jeddah, satu tahun aku bekerja di Jeddah." Sahut ku dengan lancar, karna memang aku sangat mahir berbahasa Arab, Lidia tersenyum lebar karna sepertinya dia juga menyukai ku, terutama kami sekarang menjadi satu bahasa.

"Apakah kamu sudah menikah sayang?" Tanya nya dengan lembut.

"Aku seorang janda Umi." Sahut ku.

"Sudah berapa lama?" Tanya nya lagi.

"Sudah 16 tahun." Sahutku malu.

"Lalu mengapa kamu tidak menikah lagi?" Tanya nya mulai kepo.

"Entahlah Umi, aku merasa ragu kepada setiap pria yang ingin bersama ku." Sahut ku sambil menggigit bibir, kenangan buruk masa lalu terlintas dalam fikiran ku.

"Maaf' sayang aku tidak bermaksut membuat mu merasa tidak nyaman, mari kita berbicara tentang hal lain." Ucap nya lagi, dia wanita yang sangat peka, kami sama-sama diam mencari tema untuk memulai percakapan baru.

"Apa pekerjaan mu sayang?" Dia memulai pertanyaan.

"Aku tidak bekerja Umi, aku dan anak perempuan ku, ikut orang tua ku mengurus beberapa adik ku." Sahut ku jujur karna meski kami baru pertama bertemu tapi aku merasa sudah sangat akrab dengan nya.

"Apa pekerjaan Ayah mu?"

"Karyawan disebuah perusahaan batu bara."

"Jadi sekarang putri mu tinggal bersama mu?"

"Iya Umi."

"Putriku juga tinggal bersama ku, nama nya Nesreen, usia nya 18 tahun.

"Ooo...putriku berusia 16 tahun."

"Dan kamu? Berapa usia mu?" Tanya nya sedikit terkejut karna mungkin dia tidak bisa menebak usia ku.

"36 tahun Umi."

"Putra ku berusia 21 tahun, nama nya Neyreen, Neyren Alexander Nicole, suatu hari nanti. akan ibu kenalkan kamu dengan nya." Ucap nya bersemangat.

Kami pun banyak berbicara dan dia banyak bertanya tentang pengalaman ku saat menjadi TKW, dia juga sepertinya sangat menyukai ku.

2 jam berlalu, tidak terasa vc kami sampai 2 jam, tapi terasa baru beberapa menit, alarm diponsel nya berbunyi, yang artinya dia memiliki hal penting yang harus dia lakukan.

"Sayang, Ibu ada pekerjaan, nanti kita bicara lagi." ucapnya, terlihat dari wajah nya dia kesulitan meninggalkan ku.

"Iya Ibu, hubungi aku saat ibu bebas." Sahut ku sambil tersenyum lebar.

"Byy..." ucap nya sambil melambaikan tangan nya, kemudian memutuskan panggilan.

Setelah kepergian nya, aku seperti orang yang sedang jatuh cinta, aku tersenyum sendiri dan melompat kegirangan diatas tempat tidur, aku merasa. apa yang kurang dalam hidup ku, kini sudah lengkap.

Dua hari berlalu tanpa kabar dari nya, aku menghibur hatiku dengan berkata.

"Mungkin dia sibuk" tapi tetap saja kegelisahan menyelimuti fikiran ku, tapi aku tidak berani mengganggunya dengan mengiriminya pesan, aku takut pesan ku justru mengganggu nya.

Ting!

Notif masuk di ponsel ku, saat aku sedang mandi. aku buru-buru memakai handuk padahal masih ada banyak sabun di tubvh ku, aku berlari kemudian tangan ku menyambar ponsel yang terletak di atas televisi, aku melihat nama nya, membuat aku tersenyum lebar kemudian aku membuka pesan nya, aku bahkan belum sempat membaca isi pesan nya, tapi panggilan masuk dan membuat ku terkejut, dengan ragu aku menerima panggilan nya dan sempat berfikir.

"Tidak masalah, kami sesama perempuan." Gumam ku.

Vc ku terima, aku terkejut karna ternyata ada orang lain yang juga sedang bergabung di panggilan itu, Lidia berteriak.

"Oh Tuhan....." itu dia ucapkan repleks karna terkejut melihat aku hanya menggunakan handuk yang menutupi dada ku, sementara pria yang bergabung di vc juga memalingkan wajah nya sambil tersenyum.

"Maaf Umi, aku sedang mandi, dan maaf juga karna aku tidak tahu ada orang lain di vc ini, tolong beri aku waktu 5 menit." Rengek ku.

"Baiklah, pergilah." Sahut nya disertai tangan nya yang memberikan isyarat. agar aku segera pergi, aku tinggalkan vc yang masih aktif di atas televisi dan aku bergegas mandi lalu mengenakan pakaian ku, aku pun selesai dengan ritual ku tetapi tidak terdengar suara apapun di vc, aku fikir vc sudah berakhir, aku ambil ponsel ku dan aku melihat, Lidia sibuk dengan beberapa kertas ditangan nya, sementara pria itu sibuk dengan Laptop nya.

"Maaf...." ucap ku malu, membuat kedua mata orang itu memandang kearah ku, aku semakin malu dan menundukan kepala ku, aku merasa sangat ceroboh karna tidak menyadari bahwa itu adalah sebuah percakapan Grub.

"Tidak masalah sayang, Ibu yang salah. Ibu tidak memberitahu kamu sebelum membuat grub bersama Putra ibu." ucap nya sambil melirik ke sebelah nya, dimana putra nya juga sedang menyimak pembicaraan kami, dalam hati aku berkata.

"Anak nya tampan." Lidia menyadari kekaguman ku terhadap anak nya, dia pun mulai menggodaku.

"Ehem! Putra ku tampan kan?" tanya nya sambil mata nya melirik ke arah putra nya yang nampak cuek.

"I-iya." Sahut ku gugup, karna pria yang dia sebut putra nya terlihat begitu dingin bagaikan patung, hanya matanya saja yang berkedip, yang membuat aku yakin bahwa dia bukan patung.

"Kemaren. aku sudah menceritakan tentang kamu. kepada putra ku, aku mengajak dia untuk bertemu kamu di grub, tadinya dia keberatan, tapi setelah aku bujuk, akhir nya dia setuju." ucap Lidia memulai percakapan yang mulai canggung ini.

"Bagaimana kabar kalian?" tanya ku sambil mataku memandangi mereka secara bergantian.

"Kabar ku baik, putra ku juga baik." sahut Lidia, di iringi senyuman tipis dari putra nya.

"Neyreen, bagaimana menurut kamu, dia adalah wanita yang kemaren ibu ceritakan kepada mu?" tanya Lidia, sambil mata nya melihat kearah layar tempat putra nya berada, bukan jawaban yang kami dapatkan tetapi hanya sebuah senyuman, kemudian dia minum air putih yang tersedia di depan nya, dalam hati aku berkata.

"Apakah mungkin putra nya bisu? Astaga....aku bahkan tidak bisa bahasa isyarat." Aku memandangi pria itu tapi dia justru memandangi layar laptop nya yang menyala di depan nya.

"Bagaimana kabar ayah mu?" Pertanyaan Lidia menyadarkan ku dari lamunan.

"Oohh....baik, sekarang sedang bekerja." Sahut ku sedikit gugup.

"Bagaimana kabar Adik-adik mu?" Tanya nya lagi.

"Eeee....mereka juga baik."

"Putri mu apa kabar?" Tanya nya lagi, kali ini aku tidak langsung menjawab karna jantungku tiba-tiba berdebar, Neyreen memandangiku seolah dia juga sedang menunggu jawaban ku.

Bab 3

"Anak ku....juga baik-baik saja," jawab ku sedikit takut, aku takut anak nya tidak mau lagi mengenal ku, jika dia tahu aku janda dengan satu anak, tapi aku memperhatikan wajah nya, tidak ada yang berubah, reaksi nya tetap datar, tidak menunjukan ekspresi apapun, aku menggaruk kepala ku yang tidak gatal, dia melirik sebentar, tapi kemudian dia kembali melihat ke arah laptop nya, ekspresi bingung ku dengan sikap nya ternyata bisa dibaca oleh Lidia, Lidia pun berkata.

"Putra ku orang yang tidak suka bicara, tapi dia pria yang baik." ucap nya sambil tersenyum, dia melirik kearah layar putra nya berada, disaat yang sama putra nya juga melihat ke arah nya, sekilas aku merasa hubungan mereka tidak harmonis.

"Sayang katakan, makanan apa yang kamu sukai?" tanya Lidia sambil memandang kearah ku.

"Aku suka makanan yang pedas dan juga manis, walaupun kadang aku sakit perut karna makanan pedas membuat asam lambung ku naik" jawab ku jujur.

"Selera kita sama, tapi aku tidak suka manis. karna aku memiliki reseko diabetes, aku terpaksa menghindari gula." sahut Lidia, aku kembali melirik kearah putra nya yang sejak tadi memandangi Ibu nya berbicara.

"Lalu apakah Ibu menyukai makanan pedas?"

"Aku suka makanan dengan sedikit pedas, Neyrean yang menyukai makanan pedas, benar kan Neyreen?" tanya Lidia kepada putra nya, tapi putra nya hanya menggelengkan kepala nya saja tanpa memberikan jawaban, aku merasa Lidia tidak terlalu mengenal putra nya.

"Tapi apakah kamu suka makanan manis? Seingat Ibu, dulu kamu menyukai makanan manis," tanya Lidia mulai gugup di depan putra nya, dari situ aku memiliki keyakinan bahwa hubungan mereka sangat buruk, putra nya kembali menggelengkan kepala, terlihat ada rasa kecewa di wajah Lidia. karna dia tidak tahu banyak tentang Putra nya sendiri, Lidia memandangi wajah putra nya yang sedang memandangi ku, aku sendiri memandangi Lidia dengan banyak pertanyaan di benak ku.

"Umi, apakah di sana siang?" tanya ku berusaha mengubah topik pembicaraan.

"Ah, iya. Pasti ada perbedaan waktu diantara kita," sahut Lidia sambil memandang kearah ku, kemudian dia kembali memandang kearah putra nya.

"Sayang, aku rasa kamu tahu bahwa hubungan ku dengan putra ku tidak baik-baik saja, dia dan aku sangat sedikit berkomunikasi, bahkan dia sering mengganti nomor whatsapp nya. karna ingin menghindari ku, hanya di Apk biru ini saja aku bisa berbicara dengan nya, karna di apk ini ada banyak keluarga ku di daftar pertemanan nya." Lidia mulai terbuka, pernyataan itu menjawab sedikit rasa penasaran ku.

"Tapi mengapa begitu? Bukan kah anda adalah Ibu kandung nya?" tanyaku sambil melihat kearah Neyreen yang entah sedang melamun atau mendengarkan percakapan kami.

"Putra ku sering menghindari ku, setelah dia tinggal bersama ayah nya, dia menjadikan aku musuh nya, dia dulu seorang anak yang periang dan juga banyak bicara, tapi entah pendidikan seperti apa yang diberikan oleh ayah nya, sehingga dia kehilangan rasa hormat nya kepada ku." Lidia mulai menangis.

"Lidia," untuk pertama kalinya aku mendengar Neyreen berbicara, tapi kenapa? Kenapa dia memanggil ibunya dengan sebutan Nama? Apa yang sebenar nya terjadi diantara mereka? Hubungan seperti apa yang mereka miliki? Semua Pertanyaan itu mengganggu fikiran ku.

"Ayah mu yang mengajari mu untuk selalu melawan ku!" Bentak Lidia, Neyreen tidak memberikan jawaban apapun, dia hanya menggelengkan kepala nya saja.

"Umi, tenang lah." pinta ku. berusaha menenangkan nya.

"Putra ku selalu menyalahkan ku karna perceraian kami, karna Ayah nya yang sudah meracuni fikiran nya."

"Kamu salah faham lagi." Sahut Neyreen.

"Kenyataan nya kamu selalu menyalahkan ku! mengapa? Mengapa kamu membela ayah mu? Aku yang sudah melahirkan mu, setidak nya tunjukan sedikit rasa hormat mu kepada ku." Bentak Lidia, aku bingung. tidak tahu siapa yang harus aku bela, aku hanya diam melihat perdebatan mereka.

"Saat itu usia ku sudah 10 tahun, aku bisa memahami semua hal yang terjadi hari itu, aku minta maaf karna aku merasa kamu yang bersalah." ucap Neyreen dengan tegas, suaranya tidak lantang tapi kenapa rasanya kuping ku sakit mendengar nya.

"Neyren!" Bentak Lidia.

"Maaf' Assalamualaikum Faridah." ucap Neyreen dengan mata melihat ke arah ku, Setelah itu dia menutup panggilan dan hanya ada aku saja bersama Lidia yang mulai menangis.

"Umi, tenangkan diri mu." Pintaku.

"Tidak kah dia tahu, bahwa aku sangat menyayangi nya?" tanya Lidia kepada ku dengan air mata mengalir yang tidak mampu dia tahan.

"Umi, janganlah kamu membenci putra mu, kamu adalah ibu kandung nya, do'a mu, kutukan mu, semua akan terjadi, maafkan lah putra mu dan jangan berfikiran buruk tentang putra mu, aku bisa merasakan bahwa dia masih memiliki rasa hormat kepada mu, buktinya dia mau hadir di vidio call hari ini." ucap ku, Lidia menghapus air mata nya kemudian menarik nafas nya, aku melihat dia sudah lebih tenang.

"Aku dan Neyreen, tidak pernah lagi bertemu secara langsung. setelah aku dan ayah nya Neyreen bercerai, saat itu dia berusia 10 tahun, entah apa yang dia fikirkan tentang ku, meski aku berusaha bertanya kepada nya, aku tidak pernah mendapatkan jawaban apapun." Lidia mulai melamun setelah berkata begitu.

Ting!

Notif pesan, masuk di ponsel ku, bertuliskan nama Muhamad Kashafa, aku sempat melamun dan mengingat-ingat siapa Muhamad Kashafa. Karna sepanjang aku menggunakan Apk biru, aku tidak pernah berbicara dengan akun yang bernama Muhamad Kashafa, diam-diam aku membuka pesan nya dan tanpa sepengetahuan Lidia aku membaca pesan nya yang bertuliskan.

"Maaf! Atas kejadian tadi." Begitu isi pesan nya, aku merasa itu adalah Neyreen tetapi mengapa profil nya berbeda. yaitu dengan nama yang tidak aku kenal, aku mengunjungi profil nya kemudian aku melihat foto di unggahan nya adalah foto Neyreen, karna aku sangat penasaran, aku mulai berusaha mencari alasan untuk meninggalkan Lidia.

"Umi, tenangkan dirimu, istirahat lah," ucapku mencari alasan untuk mengakhiri panggilan, Lidia pun mengangguk tanda setuju dan mungkin dia memang ingin sendirian untuk menenangkan diri.

"Baiklah, aku akan istirahat, By...." sahut nya sambil melambaikan tangan kemudian dia memutuskan panggilan.

"Mengapa sikap mu seperti itu kepada ibu mu?" begitulah isi balasan pesan ku kepada nya, tetapi pesan ku hanya di baca dan tidak dibalas, pastinya bikin kesal, karna aku sudah bela-belain meninggalkan Ibunya demi dia, tapi hasil nya malah dia abaikan, aku sempat berfikir apakah dia orang yang berbeda.

Ting!

10 menit kemudian masuk lagi notif lain, aku kembali membuka pesan masuk dan aku melihat ini adalah pesan grub lagi, grub yang di buat oleh Muhamad Kashafa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED