Bab 2

"Apa yang Kakak lakukan?" Farra memekik begitu melihatku memegang tempat makanan dari ibunya itu. Rasa panik yang teramat sangat membuatku tak bisa berbuat banyak, aku hanya mematung seolah menanti kedatangannya.

Ketika tadi Farra memanggil suaranya juga sudah sangat dekat, aku terlalu fokus pada makanan yang menyerupai jari diantara potongan daging itu hingga membuatku lalai akan dirinya. Tiba-tiba saja dia datang, dan kini melihatku memegang makanan yang dibawa ibunya. Beruntunglah potongan daging yang ada di sendok telah kuletakkan lagi. 

"Bukankah sudah kukatakan, jangan menyentuh makanan itu!" Farra terlihat begitu marah, dia membentak dengan mata melotot. Baru kali ini aku melihatnya semarah ini, entahlah sorot matanya membuat hati ngeri 

Farra maju, dengan sangat kasar dia menyambar tempat makanan yang ada ditanganku. Otak berpikir cepat, mencari alasan yang tepat dan logis agar Farra tidak marah lagi. Aku merasa ada yang salah,bila makanan ini tak ada apa-apanya, tidak mungkin Farra semarah ini.

Kutenangkan diri dan berusaha menjawab selembut mungkin."Kenapa semarah ini, sayang. Bukankah ini hanya sayur pare, mungkin kau belum tau jika aku tidak suka pare," ucapku sambil tersenyum.

Farra mendelik, kemudian bertanya dengan nada tajam."Kakak sudah melihat isinya?"

Kusembunyikan rasa tak karuan dalam hati, dan menjawab Farra dengan tenang malah tertawa.

"Iya, kakak sudah melihatnya, hanya pare," jawabku. "Tadi ada tikus yang saling berkejaran diatas sana, ketika kakak ingin mengusirnya, eee ... tau-tau lauk yang kau sembunyikan ini tersembul. Hehe ... mungkin kau pikir suamimu ini doyan pare, hingga kau sembunyikan dan tak mau membaginya." 

Farra diam, mungkin dia percaya dengan ucapanku, karena memang benar di rumahku ini banyak tikus."Jadi, kakak belum mencicipinya?" tanyanya lagi.

Aku tersenyum "Tidak, sayang. Suamimu yang ganteng dan ngagenin ini tidak suka pare." Sengaja kujawab dengan gurauan. Meski begitu tatapan Farra tidak berubah, matanya tetap melotot terlihat menyeramkan.

"Lain kali jangan menyentuh apa yang tak semestinya kakak sentuh!" geramnya.

Sebenarnya bisa saja aku berbalik memarahinya, bertanya lebih jauh mengapa hal sepele seperti ini membuatnya seperti ini. Akan tetapi kutekan kuat rasa itu, hati sudah curiga dan aku ingin menyelidiki penyebab keganjilan ini secara diam-diam.

Kupegang lembut pundak Farra, ketika dia diam saja tanganku turun meraih jemarinya."Maafkan aku, sayang! Sungguh aku tidak sengaja mengambil makanan itu, andai kutau kau akan semarah ini kubiarkan saja tempat makanan itu tersembul atau bahkan jauh oleh tikus," ucapku dengan nada penuh sesal.

Farra menatapku, perlahan matanya teduh bahkan ada senyum kecil yang terbit di bibirnya."Tidak apa-apa, justru akulah yang seharusnya meminta maaf karena telah membentak Kakak. Emosiku benar-benar tidak stabil sejak kehamilan ini, aku menjadi begitu sensitif dan selalu marah dengan hal-hal remeh," ucapnya kemudian.

Tidak, apa yang dikatakan Farra tidak benar. Memang dia sensitif sejak kehamilannya, tapi tidak pernah semarah ini. Istriku ini tak pernah semarah ini, jika saja bukan karena makanan yang selalu dia sembunyikan ini. Caranya ini membuat curiga semakin kuat, dan merasa apa yang kulihat tadi ada kaitannya dengan kemarahan Farra.

Aku akan mencari tau semuanya, tanpa ada kecurigaan sedikitpun dari Farra. Untuk itu aku akan bersikap biasa, seolah tidak terjadi apapun. "Kakak mengerti, sayang. Kata ibu, orang hamil memang seperti ini," ucapku kemudian sambil memeluknya.

Raut menyeramkan diwajah Farra berangsur menghilang, dia membalas pelukanku, tetapi tidak lama, Farra melepasnya segera sambil berucap."Sebaiknya kakak kedepan saja, aku mau mandi dulu, gerah sekali rasanya."

Meresa dia sudah baik-baik saja akupun menurut, kutinggalkan dapur dan duduk santai di teras rumah. Sambil duduk aku merenung, memikirkan apa yang terjadi tadi, meski memang belum jelas tapi aku merasa campuran sayur pare tadi benar seperti potongan jari.

Aku memeras otak memikirkan semuanya, jika benar itu jari, lalu jari apa yang sekecil itu? Apa mungkin jari bayi, atau jari tikus. Ihhh ... aku menjadi ngeri. Atau apa mungkin aku salah lihat, itu hanya ujung ceker ayam, bukan jari seperti yang aku pikirkan.

Cukup lama aku di teras, Farra yang mengatakan dirinya hendak mandi sangatlah lama. Karena bosan aku turun ke halaman, kemudian menuju jalan untuk sekedar melihat suasana. Tak terasa aku berjalan cukup jauh, dan tibalah di sebuah gardu, sedang banyak orang aku ikut duduk dan mengobrol sampai sore.

Aku pulang dari gardu setelah matahari hampir tenggelam, dan ketika malam tiba setelah selesai makan malam aku dan Farra duduk di ruang tengah bersama tv yang menyala, tapi kami tidak menontonnya, yang kami lihat justru ponsel yang ada di tangan masing-masing.

Tanganku bergerak pelan scroll branda lebih jauh, dan aku melonjak kaget sekaligus ngeri membaca sebuah status yang ramai like dan komen di berandaku. Dalam status yang pemilik akunnya yang seorang lelaki itu bercerita. 

Bahwa semalam istrinya melahirkan, tapi karena usia kandungan baru enam bulan lebih  bayi itu tidak bisa di selamatkan. Secara biasanya, istri dari orang itu keguguran. Yang membuat hati kaget dan ngeri, ketika dia menuliskan bahwa janin yang telah keluar dari rahim istrinya itu hilang entah kemana.

Di kolom komentar banyak yang mengatakan jika janin itu pasti di curi, leak atau selaq (sejenis kuyang) yang membuat hati semakin tidak karuan, ternyata tempat kejadian itu berada di kampung mertuaku. Setelah aku teliti lebih jauh, sepertinya aku mengenal orang yang membuat status.

"Lihat, Dik! Ada berita di fb, teman sekampungmu keguguran, tapi janin yang dia lahirkan hilang!" Saking kagetnya aku berseru, dan memperlihatkan ponsel pada Farra.

Farra melepas ponselnya sendiri, kemudian memegang hpku. Kuperhatikan wajahnya yang seketika berubah, dia kembali nampak menyeramkan seperti tadi.

"Status tak ada faedahnya seperti ini tak perlu kakak baca, palingan cuma hoak saja!" geramnya kemudian.

Bersambung.

Bab 3

"Tak perlu kakak ikut campur dan membesar-besarkan masalah seperti itu, bisa saja kan bukan selaq (kuyang) yang mengambil, tapi mahluk lain. Pembuat status hanya ingin viral, itu sebabnya memposting hal yang tidak berguna seperti itu!"

Sensitif karena hamil muda si, iya. Tapi apa mungkin sampai separah ini, yang dibahas di status orang ini bukan dirinya, tapi mengapa Farra begitu marah seolah pembuat status dengan terang-terangan menyinggung dirinya. Sungguh, aku semakin heran dan bingung saja dengan tingkah istriku ini.

Kutatap matanya yang melotot marah seperti tadi, tapi dengan segera dia membuang muka.

"Ada apa?" tanyaku kemudian. "Apa yang salah, mengapa sampai semarah ini hanya karena sebuah status?" sambungku.

Dia berbalik, menatapku lagi dengan tajam, tapi ketika aku balas menatap dia menundukkan wajah.

"Aku tidak marah karena status itu, yang membuatku geram ketika dia memamerkan apa yang tak sepantasnya dipamerkan!" ketusnya.

"Dia tidak memamerkan, dia hanya berbagi pengalaman dan mengingatkan agar semua orang menjadi waspada. Seharusnya kau suka itu, karena kaupun sedang mengandung, pesan orang itu hendaknya diikuti, kita harus berjaga-jaga!"

Dalam status tadi orang itu juga menyertakan ucapan pengingat, agar semua yang membaca menjadi waspada, agar apa yang dia dan keluarganya alami tidak terjadi pada keluarga lain. Bukankah semua itu sesuatu yang mulia, lalu mengapa Farra harus marah.

"Hiks ... hiks ... "

Aku kaget, karena tiba-tiba saja terdengar isak tangis, Farra yang tadi terlihat beringas jadi menangis.

"Kakak jahat, gara-gara orang jauh membentak dan memarahiku. Kakak membela orang luar, dan membuang aku!"

"Astagfirulloh ... " lirihku, serapuh inilah orang yang sedang hamil. Padahal aku tidak pernah marah, tidak juga membentak, hanya mengucapkan kebenaran dari status orang itu agar Farra mengerti dan tidak marah lagi.

Untuk membuatnya tenang, kuraih jemarinya. "Bukan begitu, sayang. Aku tidak pernah memarahimu," ucapku, tapi dengan kasar dia menepis dan memalingkan wajah.

"Pergi saja ke orang yang Kakak bela, jangan bersamaku lagi!" ucapnya sinis, sebelum aku bergerak dan berucap lagi dia bangkit dan berlalu menuju kamar.

Brakkkk ... 

Pintu kamar terhempas dengan keras, dan akupun hanya bisa mengelus dada.

Malam berlalu disertai angin dingin menusuk tulang, diatas pembaringan Farra tidur membelakangiku. Sudah berulang kali aku memeluk dan meminta maaf, tapi dia masih saja diam. Tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. 

Akan tetapi, rasa kantuk yang begitu kuat membuatku tidak tahan dan  akhirnya kubiarkan saja dia dengan ngambeknya. Aku berpikir besok pagi, bersamaan dengan bangunnya dari tidur dia akan baik lagi. Kupeluk tubuhnya dari belakang kemudian terlelap.

"Emmm ... nyammm ... emmm ... !"

Aku tersentak bangun karena mendengar suara aneh, kulihat jam dinding yang tergantung di tembok kamar, waktu menunjukkan jam dua tengah malam.

"Emmm ... !"

Aku bangkit ketika suara gerakan itu terdengar lagi, suaranya mirip dengan kucing yang tengah memangsa tikus. Tapi terdengar lebih menyeramkan, bahkan sampai membuat bulu kudukku meremang. Aku bergerak ingin keluar untuk memastikan suara yang sepertinya dari arah dapur itu.

Baru saja berjalan dua langkah, kaki berhenti. Aku mengingat sesuatu.

"Dimana Farra?" gumamku sambil berpaling menatap ranjang. "Kemana anak itu tengah malam begini?" gumamku lagi.

"Apa mungkin ada di kamar kecil?" Aku berbicara pada diri sendiri sambil bergerak menuju kamar mandi yang masih berda di dalam kamar, kubuka pintu dan menemukan kamar itu kosong.

"Farra ... !" seruku kemudian sambil bergegas membuka pintu dan keluar.

"Farra, kau dimana, sayang?" teriakku lagi. Melewati ruang tengah, dan tak menemukan istriku di sana. Tapi ada yang aneh, begitu aku keluar dan berseru suara geraman itu langsung hilang.

"Apa mungkin di dapur?" gumamku lagi, dan tanpa membuang waktu aku menuju dapur dengan langkah cepat.

Astagfirulloh, hampir saja aku berteriak karena ada seseorang yang duduk menapaki lantai dapur, jika saja aku tidak mengenali baju yang dia kenakan aku pasti menjerit.

"Farra, kaulah itu!" seruku kemudian. 

Piyama merah muda, yang dikenakan wanita dengan rambut acak-acakan yang duduk menapak lantai dengan posisi membelakanguku ini, sama persis dengan yang dikenakan Farra tadi.

Akan tetapi bila benar dia Farra lalu kenapa diam saja, jangankan menoleh bergerakpun tidak. Meski begitu hatiku tetap yakin jika yang didepanku ini adalah Farra, hingga akhirnya aku memanggil lagi.

"Farra, apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku sambil maju mendekatinya.

Sebelum ada reaksi, mataku menangkap sesuatu, tempat makanan berwarna merah dari mertuaku tadi ada di depan wanita ini, dan semua itu membuatku semakin yakin jika dia  memang istriku.

Bersambung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED