—Lila Winter
Dia menarikku dari posisi bersandar di mobil. Mengusap-usap punggungku, tanpa mengatakan apa pun. Bahkan tidak menatapku sama sekali. Sedikit mendongak, aku melihat pandangannya lurus melewati kepalaku.
Dia bertubuh tinggi. Aku berada tepat sedikit di bawah pundaknya. Padahal, aku tidak begitu pendek. Seratus enam puluh tujuh, sepertinya.
Apa dia berusaha minta maaf karena sudah membuatku terdorong keras seperti tadi?
Aneh saat kubiarkan dia mengusap-usap punggungku, seolah kami ini akrab.
Hei, apa karena dia membuatku merasa tertekan?
Hmm, mungkin.
Biasanya, hal ini hanya dilakukan oleh ayah dan para pamanku. Untuk Ray, bahkan aku tidak mengizinkannya menyentuhku.
“Masuk. Jangan keluar sebelum aku memintamu, Nona. Aku sungguh-sungguh saat memperingatimu.” Dia menatapku kali ini. Dengan matanya yang meneliti.
Apa yang coba dia teliti dariku?
“Dapatkan dia dan potong lehernya! Bawa kepalanya untuk Bos!”
Jantungku serasa meluncur jatuh ketika mendengar suara penuh amarah dari luar semak-semak.
Bekapan di mulutku barusan saja terjadi. Pria ini mungkin memprediksi bahwa aku pasti akan berteriak dalam situasi seperti sekarang.
Kami saling menatap. Pria itu tidak berkedip. Hanya tampak seperti sedang sangat berkonsentrasi daripada terlihat ketakutan.
Situasi yang mungkin biasa saja baginya. Malah bisa jadi, dia sudah sering mengalami hal-hal menakutkan seperti ini.
“Jika tidak, leher kalian yang akan kutebas sebagai gantinya!” Teriakan dengan suara yang sama. Suara pria yang tadi memerintah.
Tubuhku gemetar, walau bisa kupastikan wajahku saat ini terlihat nyaris tanpa ekspresi. Aku yakin begitu. Tidak perlu berlatih atau berpura-pura, aku memang mewarisinya dari ayahku. Hampir semua sifatnya diturunkan padaku.
Kedua kakiku rasa-rasanya sudah siap terkulai ke tanah, jika tidak kuperingatkan melalui perintah otak agar terus kuat bertahan.
Suara-suara di luar begitu ribut awalnya, sampai kemudian senyap.
Firasat buruk!
Aku yakin apa yang akan terjadi—
“Ingatlah peringatanku ini, Nona. Bila aku tidak kembali dalam sepuluh menit, segera pergi dari sini. Lindungi dirimu sendiri bagaimana pun caranya.” Dia bicara di depan wajahku, begitu dekat. Hingga napasnya menyentuh kulitku. Aroma mint, bukan rokok.
Aku tidak gila untuk menyerahkan diriku pada keadaan yang teramat dekat dengan kematian.
Ancaman yang barusan itu bukan gertakan. Aku yakin mereka tidak punya waktu untuk bermain petak umpet dengan pria yang sedang bersamaku ini.
Berapa kali aku harus merasa yakin dan memperingati diri? Bahwa ini adalah keadaan genting. Antara hidup dan mati.
“Cepat masuk!” Dia membentak, tapi tidak dengan suara yang keras. Lalu mendorongku. Cukup kuat.
Nyaris saja aku terjatuh. Kakiku lemas, bukan karena apa-apa.
Sempat kulihat dia pergi meninggalkanku dengan tergesa. Kaki-kaki panjangnya melangkah lebar dalam kecepatan setengah berlari.
Semak terbuka. Kudengar teriakan. Itu suara orang—lebih dari satu—yang seperti akan menyerang.
Membuka dan menutup pintu mobil dengan hati-hati, kurasa sekarang tugasku hanya menunggu.
Tanganku gemetar, walau ekspresiku terpantau datar saat kulihat di kaca spion.
Satu menit berlalu. Aku berulang kali terperanjat saat mendengar suara tembakan yang begitu dekat.
Apa dia berhasil ditangkap dan tertembak mati?Sekarang aku harus bagaimana?
Mulutku tertutup rapat dengan mataku yang terbelalak atas apa yang kulihat barusan. Selama hidupku, aku belum pernah berteriak terlalu histeris karena hidup di lingkungan yang selalu tenang dan nyaman.
Kaca jendela mobil di sampingku, tempat si pria tadi duduk, pecah karena pria asing lain yang melakukannya.
“Keluar!” Dia membentakku. Bahkan senjata laras panjangnya begitu cepat mengarah ke depan wajahku, melewati jendela yang pecah.
Aku menjauhkan diri dengan nyawa yang seperti terlepas dari tubuhku. Jangan tanya bagaimana kacaunya diriku, meski ekspresiku tidak bisa kuatur agar menjadi ketakutan, layaknya orang normal yang sedang menghadapi situasi mengerikan seperti ini.
Saat kaki sudah menginjak tanah, aku mundur beberapa langkah. Namun sudah jelas, pria itu menangkap lenganku dan menariknya paksa sambil membentakku.
“Aku tidak akan segan-segan melubangi kepalamu dengan peluru jika berani melawanku. Jadi jangan bertingkah. Kemari, ikuti aku!”
Cengkeramannya yang kasar dan besar, bisa saja mematahkan tulang-tulangku jika lebih lama lagi dia memperlakukanku dengan cara seperti ini.
Kami keluar dari semak-semak. Mataku langsung melihat ada lebih dari tiga orang yang tergeletak begitu saja di tanah. Entah pingsan atau mati, aku melihat bercak darah di mana-mana.
Di mana pria—
Suara tembakan jarak dekat. Aku makin gemetar saat tangan besar pria yang menyeretku tadi, terlepas begitu saja. Aku bahkan tidak berani menoleh, tapi kakiku yang sedang dalam kondisi lemah saat ini, masih mampu mengikuti perintah otakku.
Lari!
Tidak peduli bahwa pria beserta senapan laras panjangnya itu kini terlempar ke tanah, aku melarikan diri.
Bau darah!
Ada banyak—
“Berhenti!”
Tarikan yang begitu kuat. Membuatku berbalik badan secara otomatis dan menghantam dada, tubuh seseorang.
“Tetap di dekatku, Nona.” Pria itu, di depanku. Dialah yang menarik tanganku. Dengan kening mengernyit, dia terlihat menahan kesakitan. Garis panjang bertetes darah terukir di pipi kanannya. Mata kirinya lebam.
Aku terpaku sejenak di sana melihat apa yang terjadi padanya. Rautku pastilah sedatar biasanya, apa pun yang terjadi. Memang begitu. Aku sulit berekspresi. Ini sudah kujelaskan sejak awal.
“Kau punya telinga, tapi tidak kau gunakan untuk mendengar ucapanku dengan baik. Jangan keras kepala. Patuhi saja ucapanku atau kepalamu bisa berlubang.”
Aku tersadar bahwa sudah berbuat salah. Tidak mendengarkannya yang memperingatiku.
“Itu dia!”
Di belakang pria itu, ada empat pria yang berlari menyeberangi sungai dangkal di depan sana. Berteriak dalam jarak beberapa puluh meter dari tempat kami berada.
“Lari ke dalam hutan!”
Aku berbalik dan menurutinya. Berlari sendirian diiringi suara tembakan sebanyak dua kali.
Dia tidak kunjung menyusulku. Peduli setan! Biarkan saja. Aku masih sayang nyawaku!
Tapi mungkin, hati nuraniku lebih mendominasi. Kedua kakiku berhenti dengan sendirinya. Kepalaku menoleh ke belakang dan melihat pria itu kesulitan menyusulku.
Kaki kanannya pincang!
Aku berlari ke arahnya. Tidak peduli dengan isyarat tangannya yang memintaku untuk tidak berbalik.
“Ternyata kau ini benar-benar keras kepala.” Dia menggerutu. Bahkan sempat menepis bantuanku yang ingin mengambil lengannya agar bersandar padaku. Membantunya berjalan lebih cepat dengan adanya pertolongan dariku.
“Aku tidak bisa hidup dalam penyesalan, andai meninggalkanmu mati sendirian di sini.”
Memastikan bahwa aku memapahnya ke arah yang benar—dalam hutan yang mulai gelap, lembab dan mencekam—kuperhatikan setiap tempat yang memungkinkan kami untuk bersembunyi sementara.
Ada pohon besar tumbang dengan daun-daunnya yang menghalangi pandangan. Aku membantunya ke arah dalam pohon, agar dia bisa duduk bersandar di batang yang terbentang, sambil meluruskan kedua kakinya.
“Tidak usah—”
“Kau butuh bantuan. Kakimu terluka.”
“Pelankan suaramu, Nona.”
Kami saling menatap. Nyaris satu helaan napas di depan wajah masing-masing. Ini jarak yang berbahaya. Aku mengalihkannya. Menunduk untuk memastikan, bahwa bokongnya sudah terhempas dengan baik ke tanah yang tidak becek karena hujan.
Aku duduk, tapi merasa harus melakukan sesuatu. Kuperhatikan gaun hitamku yang lembab, lalu merobeknya tanpa pikir panjang. Bagian bawah terusanku yang kehilangan model klasiknya.
Kudekati kakinya yang terluka di balik celana jeans hitamnya yang tidak ketat. Mengikatkan kain dari gaunku yang sengaja kurobek. Aku berusaha tidak menyakitinya saat membalut bagian yang luka. Sepertinya, darahnya belum berhenti mengalir.
“Kita aman di sini, seharusnya begitu.” Suaranya terdengar pelan, tidak sekasar sebelumnya.
“Kau harusnya minta maaf, karena sudah melibatkan orang yang tidak bersalah dalam urusan pribadimu.”
Dia menatapku. Aku juga heran kenapa bisa menggerutu seperti itu pada orang asing.
“Kau butuh maaf dariku?”
“Tidak juga.” Aku menggeleng canggung.
“Lalu? Kenapa kau mengatakan hal itu padaku?”
“Cuma formalitas.” Dan selebihnya hanya kelepasan bicara.
Dia memalingkan wajahnya dariku. Tidak lagi mempertanyakan. Sama halnya denganku.
Aku tidak pernah terbiasa memulai pembicaraan dalam keadaan seperti ini. Maksudku, bila berada di satu udara dengan orang asing.
Dia asing. Aku juga pasti asing baginya.
Gerimis mulai turun lagi. Padahal, kupikir akan reda. Setidaknya, tidak akan turun hujan lagi sampai esok hari.
“Sekarang, kau bisa meninggalkanku sendirian di sini.”
Aku tidak menoleh. Percuma dia memerintahku seperti itu. Kusadari apa yang kulakukan. Dengan gerakan pelan, aku memayunginya agar tidak terkena tetesan air hujan, menggunakan kedua telapak tanganku.
“Banyak bicara.” Cuma itu yang ingin kukatakan. Melihatnya yang mendongak karena perbuatanku.
Padahal, tindakan ini sama sekali tidak memiliki kegunaan apa pun. Aku hanya tidak ingin terlihat tidak melakukan apa-apa, di saat aku memiliki luang untuk melakukannya.
“Kau tahu cara balas budi.”
Selalu, aku selalu tidak membiasakan diri dengan pujian.
Memang tidak. Sejak sudah memasuki usia yang bisa memahami banyak hal, ayahku yang membiasakan untuk tidak mudah merasa puas hanya karena sebuah pujian.
Namun, ibuku pasti menjadi orang pertama yang melanggar kebiasaan ayah. Dia dengan mudah dan sengaja memujiku atau adikku di depan ayah. Bahkan juga, tidak segan memuji secara berlebihan untuk semua yang dimiliki ayahku. Apa pun itu, asalkan semua tentang ayah.
“Kita aman di sini.” Lagi-lagi dia mengatakan hal yang sama.
“Kau tahu dari mana soal itu?”
Dia cuma tersenyum. Memicingkan matanya ke sekeliling. Membuatku curiga.
“Tidak akan ada yang berani masuk ke hutan ini.”
Mendadak, aku cemas karena ucapannya. “Kenapa tidak?”
“Hutan ini, tempat tinggalnya binatang buas.”
Benar-benar membuat resah. Ketakutan belum juga memanjat ke wajahku. Ekspresiku justru makin gelap, datar tanpa emosi. Pasti terlihat begitu.
Kalian jangan lagi terkejut. Aku memang seperti itu.
“Itu artinya kita akan mati bersama di sini,” kataku.
Dia tertawa. Jadi, ada dua kemungkinan melihat dari caranya tertawa. Yang pertama, ini hanya akal-akalannya saja. Yang kedua, bisa jadi memang ada binatang buas di hutan ini dan dia berencana menjadikanku sebagai persembahannya. Membuatku jadi pahlawan bodoh.
Aku tidak siap mati. Kapan pun itu, tidak akan pernah siap.
“Kurasa, hewan-hewan itu tidak berencana untuk memangsa tuannya sendiri.”
Aku pura-pura tidak masalah dengan pernyataannya barusan. Pria ini dan binatang buas? Boleh juga.
Aku berdiri. Melihat ke kiri dan kanan, bahkan ke segala penjuru arah. Berharap bahwa pria ini mungkin saja berencana membual tentang binatang buas.
Rasanya, mustahil.
“Tetap di dekatku, Nona. Jangan melakukan gerakan yang tidak perlu.”
Aku menurutinya. Kuanggap kali ini saja, bahwa dia memang pawang binatang buas, sebab sesuatu mulai mendekat. Dan ... jantungku berdebar kencang, sangat. Seekor macan—bukan. Itu harimau. Jenis hewan pemakan daging dengan warna oranye terang bermotif garis-garis hitam, berjalan pelan. Mendekat.
Gemetaran dengan jantung yang berdebar kencang tanpa henti. Sudah pasti. Aku akan mati hari ini, ibu. Ayah, maafkan aku karena—
“Duduk di pangkuanku, Nona.”
Bahkan kepalaku terlalu tegang untuk menoleh.
“Lakukan dengan gerakan perlahan. Jangan panik, tetap tenang.”
Sejauh ini, dia terus melindungiku. Walau sejak awal, dia yang mendatangkan banyak hal berbahaya untukku. Bahkan dia menyeretku masuk dalam uji nyali dan harus siap kehilangan nyawa berhargaku.
Aku sudah duduk di atas pangkuannya. Sementara pria ini mulai mengulurkan tangannya ke arah si harimau yang sudah dekat. Benar-benar dekat.
Kupalingkan wajahku ke arah lain. Ini bukan safari kebun binatang. Jadi kurasa aku tidak perlu repot-repot ikut membelai kepala si binatang buas, seperti yang dilakukan oleh pria ini.
“Tyga, terima kasih untuk bantuanmu. Kau boleh pergi.”
Suaranya riang. Terlalu riang. Aku—oh!
“Tyga, jangan. Dia bukan mainanmu, tapi mainanku. Okay? Pergilah.”
Gila! Nyaris saja aku mati! Mati!
“Dia sudah pergi,” bisiknya.
Aku tidak langsung mempercayainya. Mengeratkan lingkaran kedua tanganku di lehernya, aku ketakutan sampai ke ujung kakiku. Bahkan mungkin, aku bisa buang air kecil di sini, di atas pangkuannya karena terlalu takut.
“Tyga merobek gaunmu,” katanya lagi.
Aku masih tidak juga berkutik. Robek saja! Asal jangan cabik-cabik tubuhku. Keinginan hidup adalah prioritas utamaku saat ini dan nanti.
“Tuan, Anda tidak apa-apa?” Suara lain. Suara yang sarat akan kecemasan.
Aku mendongak. Melihat dua pria berdiri kaku di samping kanan kami. Aku masih tetap tidak ingin pergi dari pangkuannya, karena terlalu lemas.
“Periksa saja luka di kakiku. Biar dia tetap di sini.”
“Baik, Tuan.”
Tubuhku dipeluk dengan satu tangannya. Aku tidak merasa terganggu. Mungkin efek ketakutan tingkat tinggi masih mempengaruhiku. Harimau dengan warna oranye terang tadi masih memenuhi kepalaku.
Melihat sekilas lewat bahuku, pria yang bertanya tadi, sekarang sedang menggunting celana pria yang tengah memangkuku ini. Ada kotak obat dan entah apalagi di samping tempatnya berjongkok. Aku tidak peduli dan kembali menatap lurus. Membuat wajahku berada di pundak pria ini. Karena aku tidak ingin melihat wajahnya. Itu canggung sekali.
Kegiatan memangku ini bukan bersama kekasih idaman. Jadi, jangan harap aku menikmatinya. Aku butuh pria ini sebagai jaminan keselamatanku.
—Devon Woody
Kulirik sekilas wajahnya dari samping. Jujur, dia cantik dan menggairahkan. Masih muda, segar, sangat menawan.
Kejantananku ikut liar sejak tadi, ketika dia duduk di atas pangkuanku. Namun, hebatnya, aku selalu bisa menjaga diriku. Hatiku, cintaku.
“Kita harus pergi dari sini. Hujannya semakin deras.” Aku memberitahunya. Seperti tersadar dari lamunan, tubuhnya yang canggung bergerak menjauhiku dengan cekatan.
“Okay.” Santai. Dingin. Tidak terbaca.
Banyak kelebihan yang tergambar jelas pada diri wanita muda ini. Mungkin dia lebih cocok jadi adik dari salah satu teman-temanku atau bahkan keponakan mereka.
Jelas dari wajahnya pun, dia tampak semuda itu.
Rambut hitam melewati bahu dengan warna mata yang sama pekatnya.
Dia tidak ragu atau canggung saat membantuku berjalan. Padahal, Otis dan Jack ada di sini. Jauh lebih bisa diandalkan.
“Ambil mayat di dekat semak-semak, berikan pada Tyga.” Sambil memberi perintah, aku menangkap keterkejutan di sepasang mata gelapnya itu, walau tidak bisa kubaca ekspresi apa pun di wajahnya.
“Jangan lupa juga untuk mengeluarkan mobil Nona ini dari semak-semak.” Kembali memberi perintah, kurasakan tubuh kami merapat karena wanita ini menghindari genangan air di dekat kakinya.
Kami tiba di pinggir hutan. Tempat Otis memarkir jeep milikku.
Wanita ini melepasku setelah jarak kami dengan mobilku sudah dekat.
Dia berdiri tidak jauh dari mobilku. Tidak mendekat.
“Kau akan menunggu mobilmu di sini?”
Dia mengangguk. Bahkan anggukkannya terlihat pelit. Sangat singkat.
“Tyga kadang suka berkeliaran sampai ke pinggiran hutan, walau tidak keluar dari wilayah ini. Dua anak buahku pasti akan meninggalkanmu sendirian di sini bersama mobilmu. Apa menurutmu, kau akan baik-baik saja?”
Lihatlah. Betapa mempesonanya tatapan sedingin es itu. Seakan memberi jawaban yang pasti bahwa dirinya tidak kenal takut. Tidak peduli apa pun. Meski aku tahu dan bisa merasakan, tubuhnya selalu gemetar di saat bahaya datang.
“Aku akan ikut denganmu kalau begitu. Kau bisa minta mereka mengantarkan mobilku ke tempat di mana aku turun nanti.” Dia berjalan mendekat. Benar-benar tidak terlihat sedang gelisah, padahal jelas sekali dia ketakutan. Wanita muda yang luar biasa.
Tangannya merebut kunci jeep dariku. “Aku pengemudi yang baik.”
“Senang mendengarnya.” Alih-alih mengatakan hal yang bertolak belakang dari keinginan hatiku, kubiarkan dia masuk dan duduk di balik kemudiku.
Padahal, selama jeep itu menjadi milikku, hanya boleh aku atau Jack yang mengemudikannya.
Sekarang, bahkan seorang wanita kubiarkan menjinakkan mobil kesayanganku itu.
Dia memang mahir. Selalu fokus. Tidak banyak bicara.
Tidak mirip dengan seseorang dan aku juga bukan sengaja mengingatnya ketika melihat wanita ini.
Bukan tentang ‘dia mengingatkanku pada seseorang’ bukan, karena memang tidak ada yang mirip di antara mereka berdua. Hanya membandingkan, sedikit.
“Lurus atau belok?”
Aku tidak sadar. Dia mengemudi sudah sejauh itu. Atau sebenarnya aku yang terlalu menikmati isi kepalaku yang dipenuhi oleh wanita ini.
“Lurus saja. Terobos sedikit semak belukar seratus meter di depan.”
Dia menoleh padaku sekilas. Karena sudah bersama sejak beberapa jam lalu, entah kenapa, aku merasa sedikit mengenalnya dengan baik.
“Jangan khawatir. Terobos saja. Jika terasa sesuatu terlindas ban mobil, itu artinya ada ular atau hewan melata lainnya yang lewat. Jangan berhenti. Tetap jalan,” jelasku lagi.
“Okay.”
Sulit jika ingin mendengar suaranya sedikit lebih lama. Bicaranya sedikit, pelit.
“Bisa kutinggal tidur?”
Detik itu juga, di dalam guncangan karena jalanan berbatu, dia melotot padaku. Melotot, tapi tanpa ekspresi. Bagaimana bisa? Hanya sepasang matanya saja yang membulat.
“Jangan macam-macam. Aku mungkin bisa melemparkan mobil ini ke jurang tanpa sengaja. Namun itu artinya bukan salahku, tapi salahmu.”
Ucapannya setajam tatapannya. Wanita ini memang cantik di setiap kesempatan. Apa dia menyadari hal itu? Atau mungkin di usia muda seperti dia ini, akan sangat gila saat berada di atas ranjang? Berapa banyak pria yang sudah tidur dengannya?
“Temani aku kalau begitu.” Sungguh aku suka saat suaranya memenuhi udara di sekitarku.
Dia melirik lagi. Itu artinya penjelasan.
“Temani aku dengan bicara. Bertanya atau menjawab. Lakukan itu.”
Dia melirikku sekilas. “Kenapa kau mendadak melemparkan dirimu ke depan mobilku?”
Ah, seketika aku menyesal membiarkan sesi tanya jawab ini berlangsung. Dia pasti cerdik. Memilih menanyakan hal itu dibandingkan hal lain. Seperti keinginan untuk bertanya tentang siapa namaku, misalnya.
“Karena hanya mobilmu yang melintas saat aku berada di jalanan itu. Mudah saja jawabannya. Andai kakek tua yang kebetulan lewat, tentu sekarang dia sudah mati karena serangan jantung setelah ikut berpetualang bersamaku.”
Lirikan matanya menandakan kekesalan. “Beruntung sekali kakek itu. Yang muda pun bisa mati karena serangan jantung.”
“Kau benar." Tawaku cuma sekilas. Karena sungguh, ini tidak lucu sama sekali. “Berapa usiamu, Nona?”
Senyum sinisnya membuatku menaikkan alis. Apa itu pertanyaan yang tidak boleh kuajukan?
“Seharusnya, kau menanyakan namaku sebelum umurku.”
Ah, itu benar. Apa nama wanita di sisiku ini tidak terlalu penting untukku?
“Aku ingin lebih dulu tahu berapa umurmu.”
Tidak ada tawa, apalagi senyum malu-malu. Jangan harap. Aku semakin mulai mengenal siapa wanita ini.
“Dua puluh lima tahun.”
Apa? Sungguh, aku tahu dia memang semuda itu, tapi dua puluh lima tahun masih terlalu jauh dari perkiraanku yang lebih tua lima belas tahun darinya.
Kupikir, kami hanya berbeda tujuh atau sembilan tahun.
“Dan kau pasti jauh lebih tua dariku, Paman?” Dia menyeringai. Bahkan sengaja memperlihatkan wajahnya saat senyum setengah mengejek itu tergambar di sana. Penekanan pada kata ‘Paman’ entah kenapa, membuatku kesal.
“Aku bukan Pamanmu. Aku Devon.” Padahal dia tidak bertanya siapa namaku, tapi aku menyebutkan nama asliku dengan mudah di depannya. Tingkahku kekanakan sekali.
“Okay, Dev. Kau senang sekarang?”
Oh, jantungku nyaris lepas dari tempatnya. Dev? Mudah sekali namaku terucap di bibir tipisnya yang andai menciumku, pasti tidak akan kutolak. Walau hatiku hanya untuk seseorang lain, di sana.
Jangan harap dia akan menyebutkan namanya tanpa kuminta. Jadi ketika aku memerintahkan mobilku agar masuk ke halaman rumah singgahku di Oland, kucegat lengannya yang ingin meninggalkanku. Mobil miliknya sudah terlihat di kejauhan.
“Kenapa?” Dia melihatku dan lengannya yang kucengkeram secara bergantian.
“Siapa namamu?”
Dia tertawa. “Sekarang kau penasaran siapa namaku? Karena takut aku akan melaporkanmu?”
“Kau tidak akan melakukan itu.” Ah, dia masih normal ternyata. Kupikir, dia menikmati petualangan kami tanpa berpikir apa pun tentang lapor melaporkan ke pihak berwajib.
“Tapi, silakan lakukan jika kau ingin. Aku tidak akan mencegahmu,” kataku lagi.
“Lalu, kenapa?”
Apanya?
Kuperhatikan dia yang menatap kaku pada tanganku yang belum melepas dirinya.
Ah, wanita ini membuatku kacau! “Aku tanya, siapa namamu? Kenapa malah membahas hal lain?”
“Lila.”
Hanya itu? “Lila?”
“Mm-hm.” Dia mengangguk.
Aku suka namanya. Bahkan menurutku, kami bertemu di saat yang tepat.
“Tuan Dev!”
Aku tidak berbalik meski suara mungil itu memanggil dan bergerak dari arah belakangku. Kecuali, wanita ini. Lila. Ah, ya. Lila yang malah melihat ke arah munculnya suara.
Itu anak kepala pelayan di rumah ini. Yang sejak awal kedatanganku, sangat ingin menempel padaku. Terus-terusan membuatku kesal.
“Tuan, Anda baik-baik saja?” Penuh kecemasan, Aura Morgan mencengkeram lenganku yang masih memegangi Lila. Aura melepaskan peganganku pada Lila, begitu saja. Lancang memang. Tapi aku enggan mendebatnya. Tidak sekarang.
“Aku baik-baik saja.”
“Pipi Anda berdarah.” Dengan sigap, Aura berjinjit. Memiliki selalu saputangan yang siap sedia bersamanya. Dia mengusap darah yang mulai mengering di kulitku itu secara perlahan.
Aku tahu. Aura sengaja mengabaikan keberadaan Lila di belakangnya. Memunggungi Lila yang artinya tidak menganggap wanita itu ada di sana. Di antara kami.
Mungkin, walau sesama wanita, Aura tidak akan tahu dengan cepat, siapa itu Lila. Bagaimana sikap Lila yang tidak pernah peduli pada apa pun. Sehingga rasanya, percuma mengabaikan karena Lila sudah lebih dulu mengabaikan orang lain.
Lila bergerak tanpa permisi terlebih dulu padaku. Dia melangkah menghampiri Jack yang berjalan ke arahnya. Mereka saling bertukar kunci mobil saat sudah berhadapan.
Dari sini, aku melihat tatapan Jack yang bingung. Pandangan itu tertuju untukku.
Cegah dia!
Tidak. Mana mungkin aku berteriak memberi perintah pada Jack tentang hal itu. Tapi, akhirnya. Aku menepis pelan tangan Aura yang masih berada di pipiku, lalu bergerak dengan setengah berlari menuju ke arah mobil SUV Lila yang mesinnya sudah menyala.
Jangan pergi seenaknya. Setidaknya, kau harus pamit padaku dengan benar!
Lagi, aku melompat ke depan mobilnya. Tidak menjatuhkan diri, tapi tegak berdiri.
Lila baru akan pergi. Bahkan ban mobilnya belum bergerak. Kaca jendela terbuka. Dia mengeluarkan kepalanya. Tatapan itu benar-benar membuatku frustrasi.
“Ada apa lagi?”
Wanita ini benar-benar sesuatu. “Turun,” perintahku pelan. Tepat saat ini aku sudah berdiri di depan pintu mobilnya.
Tidak ada helaan napas, keluhan atau wajah mengerut. Dia benar-benar turun dari mobil tanpa ekspresi apa pun yang terlukis di wajahnya.
Wanita ini setenang air di permukaan danau. Hebatnya, dia membuatku panas karena kesal. Aku yakin, bersandiwara itu sulit. Apalagi, bila terlihat sampai sebagus ini.
Kurasa, Lila tidak sedang bermain peran. Seperti inilah dia. Memang begitu adanya.
“Ada apa, Dev?”
Suaranya bagai menendang hancur setengah dari pertahananku. Tidak, Dev! Jangan lemah! Kau pria yang mampu menghabisi nyawa siapa pun setiap hari, tanpa rasa bersalah. Menghadapi wanita yang baru kau kenal bukanlah apa-apa. Tidak mustahil untukmu melakukannya.
“Kau akan pergi?” tanyaku akhirnya. Bertahan dalam nada suaraku yang datar.
“Ya.”
Tatapannya menembusku tanpa ragu-ragu. Andai seorang pria, mungkin akan kuajak dia untuk ikut bergabung bersamaku. Menjadi bawahan setiaku.
“Kau lelah. Minum teh atau makanlah sesuatu sebelum pergi.”
Rupanya, tidak perlu membujuknya secara berlebihan. Karena dia langsung mengangguk. Sesederhana itu.
Apa dia akan tetap tinggal bila aku mengatakan hal-hal sederhana lain padanya?
Kuberi isyarat pada Jack saat raut wajah bawahanku itu bingung menatapku, yang berjalan melewatinya sambil mengekori Lila.
Aura mendelik tidak suka tanpa suara. Dia akhirnya bertingkah genit kembali ke sisiku.
“Aura, siapkan camilan dan teh untuk tamuku. Antarkan ke ruanganku.”
“Ruangan Anda, Tuan?” Kepala mungilnya miring ke kanan.
“Ya, ruanganku.” Memang tidak pernah ada yang kubiarkan masuk ke sana, selain Otis dan Jack. “Seperti biasa. Ketuk pintunya dan tetap berdiri di depan pintu.”
“Tuan Dev—”
“Kebiasaan pelayan lain juga berlaku untukmu, Aura.” Aku tidak suka membuatnya merasa di atas awan. Diperlakukan istimewa, walau ibunya adalah pelayan paling dipercaya oleh keluargaku, tidak akan pernah kulakukan padanya.
Lila berhenti di depan pintu samping yang besar. Seharusnya, itu jadi garasi mobil, tapi aku lebih suka menjadikannya lorong untuk masuk ke ruang kerjaku. Terhubung secara langsung, walau tidak akan mudah begitu saja bagi orang asing kuizinkan masuk.
“Dari mana kau tahu kita akan melewati pintu ini?” Kudorong pintu dengan cepat, membuka dan membiarkannya masuk lebih dulu.
“Hanya perkiraan sementara.”
Aku ingin tertawa mendengar jawabannya. Apa sulit untuk menjawab dengan bahasa yang tidak perlu bertele-tele? Padahal, usianya masih muda. Namun terkadang ucapan yang keluar dari mulutnya, terdengar seperti wanita tua.
Kami tiba di depan pintu kerjaku. Dia tidak bertanya. Malah aku yang penasaran merasa harus bertanya.
“Kau pernah ke tempat seperti ini sebelumnya?”
Dia menggeleng. Melirikku sekilas. Bicara dengan bibirnya yang tidak terbuka terlalu lebar. “Di rumahku juga banyak terdapat ruang rahasia ayahku. Jadi, kurasa, satu ruang rahasiamu mewakili tentang rasa ingin tahu.”
Sekarang, aku benar-benar tertawa. “Kenapa kau mulai bicara seperti wanita tua, Lila?”
“Terkadang aku begitu.”
Aku ingin coba menyentuh Lila, tapi kuurungkan saat wajah wanita yang seharusnya kusentuh, lewat di depan mataku. Mencegahku untuk bersikap tidak setia. Jangan, Dev! Kau tidak akan bisa berhenti, jika berani memulainya sekarang.