Bab 2

Silvana sudah menyimpan ketertarikan pada Sir Leon, dosen tampan mereka semenjak semester pertama. Tidak mengherankan gadis itu terus saja memasukan nama pria itu dalam daftar kelas yang dia hadari sepanjang semesternya. Tentu saja Sir Leon akan membantu siapapun yang membutuhkan dirinya, tapi dalam segi romansa Sir Leon jelas jenis pria yang sulit untuk dicapai. Cukup sulit bagi Silvana untuk melakukan pendekatan padanya, terlebih pria itu selalu saja memiliki cara terbaik dalam membuat sebuah batasan jelas antara dirinya dengan para mahasiswi yang memiliki niatan yang sama dengan Silvana. Karena alasan itulah Silvana menyimpan ketertarikan itu hanya sebatas kekaguman semata, tidak lebih. Tapi bila dia punya kesempatan untuk tidur di ranjang si dosen muda, kenapa tidak?

Pagi ini saja saat dia menggoda Jiyya, gadis itu malah mendapatkan peluang lebih dekat dengan dosen mereka yang satu lagi. Orang dengan predikat nomor dua sebagai primadona pria dewasa di kampus menurut Silvana, Sir Joan. Pria itu memang menarik tapi jujur saja bukan tipe-nya. Dia tidak cemburu, bukan itu masalah utamanya. Namun yang membuatnya terganggu diatas segalanya adalah jika sahabatnya punya peluang sebagus itu, lantas kapan gilirannya dengan Sir Leon?

Dia mengutuk situasi romantik yang selalu saja tidak bagus untuknya.

Apalagi situasinya sekarang, Silvana sedang berjalan sendirian tanpa Jiyya disisinya. Gadis itu memang baru saja menyelesaikan beberapa tugasnya hingga larut malam setelah bersenang-senang dengan temannya yang lain karena Jiyya pergi dengan Sir Joan dan teman satu clubnya.

Silvana tidak yakin jam berapa saat itu, tapi yang pasti sudah masuk tengah malam nampaknya. Silvana merasa kelelahan, kakinya bahkan terasa seperti jelly yang menumpu pada jalanan aspal yang dia tapaki saat dirinya berjalan pulang menuju ke rumahnya.

Dia sebenarnya sudah tidak sabar untuk segera pindah dari kediaman orangtuanya. Tapi orangtuanya yang tahu bagaimana kelakuannya, tidak memberikan izin bagi Silvana untuk hidup sendiri. Mereka tidak percaya bahwa Silvana bisa menjaga diri. Dan insting orangtuanya memang benar. Dia sudah sangat liar bahkan sejak SMA. Dia ingin keluar dari rumah itu tujuannya memang supaya bebas melakukan apapun yang dia inginkan, tanpa harus mendapatkan omelan dan rasa malu keesokan harinya.

Saat dia sibuk dengan tempat tinggal dan romansa impiannya bila terpisah dari orangtuanya, tiba-tiba Silvana mendengar suara yang datang dari arah kanannya. Kedengaran seperti napas berat. Dengan lugu, Silvana berpikir bahwa barangkali itu adalah suara orang yang terluka. Sebab suara itu terdengar seperti seseorang yang berjuang melawan rasa sakit.

Sampai tiba-tiba suara itu berubah menjadi erangan keras. Kaget, wajah Silvana jelas langsung memerah. Dia tidak bodoh, dia cukup tahu tentang hubungan pria dan wanita sehingga mudah baginya untuk menebak suara apa itu.

Tanpa dia sadar, tubuhnya malah mendekat kearah sumber suara. Di sebelah kanannya memang kebetulan ada bar. Bar yang sebelumnya tidak pernah menarik perhatiannya sama sekali. Tapi suara itu justru berasal dari arah gang sempit diantara bangunan bar dengan pertokoan yang sudah tutup malam itu. Suara erangannya makin mengecil, dan terdengar seperti suara seorang wanita. Rasa penasaran menguasai dirinya, seberapa bagusnya permainan si pria sampai bisa mampu membuat suara erangan seperti itu?

Silvana tahu bahwa dia sudah melakukan hal yang tidak terlalu bagus sekarang. Dia yang mengendap dan merayap mendekati gang tersebut dan mengintipnya adalah hal random yang seumur hidup tidak pernah dia pikirkan.

Dan dia melihatnya, dua siluet yang terkena cahaya bulan. Bersandar pada dinding dan mereka terlihat begitu liar.

Si wanita terlihat makin merapat ke dinding, napas mereka memburu, erangan si wanita semakin keras lagi namun bibir wanita itu ditutup rapat oleh satu tangan si pria. Meredam suaranya agar tidak terdengar, tapi mereka tidak tahu bahwa aksi keduanya telah disaksikan oleh Silvana.

“Fuck…” suara baritone si pria mengerang.

Silvana kontan merasa menggigil, rasanya suara itu seperti merayap naik dan juga turun dari sekitar tulang punggungnya. Dia mengenal suara itu.

Wanita yang sibuk dia gagahi terus mendesis, tapi Silvana tidak peduli sedikitpun padanya. Dia lebih tertarik memastikan pria yang membuat tubuhnya terasa membeku ditempat. Gadis itu merayap lebih dekat, sedekat yang memungkinkan untuk tidak dapat disadari kedua orang itu, namun cukup untuk menuntaskan kecurigaannya. Pria itu punya kulit sewarna perunggu dengan kedua kakinya yang berotot. Silvana melihat tas selempang yang terlempar dibawah kakinya, itu milik Sir Leon. Seratus persen Silvana bisa memastikannya karena dia selalu memperhatikan dosen tampannya itu dan menganalisa penampilannya setiap hari.

Ini tidak benar! Seorang pria yang terhormat di kampus mereka sebagai seorang pengajar melakukan hal seperti ini di muka umum. Dia bertaruh bahkan bila dia menceritakannya pada Jiyya gadis itu pasti akan memukulnya dibandingkan mau percaya. Ini moment pribadi, dia harusnya segera pergi sekarang sebelum mereka berdua tahu bahwa ada seorang gadis muda menonton kegiatan mereka seperti ini. Tapi meski punya pikiran sewaras itu, Silvana malah tidak bisa beranjak dari sana.

Sebaliknya, gadis itu malah meneliti tubuh sang dosen saat dia sibuk dengan wanita-nya malam ini. Silvana tertegun akan setiap lekukan ototnya yang tidak terhalang kemeja sialan yang dia kenakan setiap kali mengajar. Khusus malam itu Sir Leon menggulung kemejanya hingga ke siku dan tidak dia duga bahwa ada bekas luka yang tersebar disana, anehnya itu malah membuat pria itu tambah terlihat seksi. Silvana terpesona, dan tergelitik untuk tahu lebih banyak. Sebab meski pasangannya sudah berantakan, Sir Leon masih tetap berpakaian utuh kecuali bagian celananya yang sedikit melorot.

Sensasi aneh muncul diperut Silvana. Rasa panas malah menjalar kebagian bawah tubuhnya. Sial, dia malah terbawa suasana. Ini menjijikan, pikirnya. Gadis itu memutuskan untuk beranjak darisana. Tapi baru beberapa langkah dia malah mendengar suara tubuh yang melekat dan saling menampar, menggema di udara.

“Kau begitu panas,”

Wajah Silvana merah padam mendengar suara Sir Leon dari balik gang sempit itu. Lagi, dia malah melakukan kesalahan dengan berbalik menyaksikan mereka berdua disana. Suara Sir Leon seolah menyuruhnya untuk tetap berada disana dan menyaksikan semuanya hingga tuntas.

“Kau sempurna, aku tahu sejak aku melihatmu. Ah!” Wanita itu berteriak, Silvana tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya tapi yang jelas gesture tubuh wanita itu benar-benar menandakan bahwa dia telah dimabuk oleh kenikmatan. Mereka terlihat saling terpuaskan satu sama lain dalam puncak gelombang yang diraih bersamaan.

Seluruh tubuh Silvana tergelitik lagi melihat adegan panas itu. Silvana tidak tahu siapa perempuan itu, tapi gadis itu iri mengingat betapa beruntungnya dia mendapatkan Sir Leon pada dirinya.

Sebelumnya Silvana memang tertarik pada dosennya dan sempat mengubur keinginannya mendekati pria yang lebih dewasa darinya itu. Tapi setelah ini sepertinya dia harus menarik kembali ucapannya untuk melupakan Sir Leon. Bahkan detik ini juga, Silvana merasakan adanya gelombang kecemburuan yang menerpa dirinya.

“Sangat hebat,” komentar si wanita. Ada sedikit desahan yang dibuat-buat disana.

“Aku hanya melakukan apa yang biasa aku lakukan,” balas Sir Leon. Suaranya lebih serak daripada biasanya, sekali lagi Silvana merasa perutnya melilit.

Silvana masih mengamati mereka, terutama Sir Leon yang kini sudah merayap mengambil sesuatu dari tas selempangnya yang ada dibawah kakinya. Mengeluarkan sebatang rokok dan juga pematiknya sekaligus.

Pria itu menyalakan rokoknya. Wajah wanita yang menjadi teman mainnya sedikit buram karena penerangan yang minim. Tapi Silvana optimis bahwa wanita itu tidak lebih cantik darinya. Kenapa harus dia yang punya kesempatan seperti itu dengan Sir Leon yang dia kagumi?

Tapi perhatiannya teralihkan pada Sir Leon yang sedang mengulum rokoknya. Lalu menggerakan tangannya untuk mengambil rokok yang dia hisap dari mulutnya. Anehnya pergerakan kasual itu jadi terlihat sensual sekarang. Kenapa Silvana baru menyadari semua itu sekarang?

Belum lama kekaguman merajai, rasa panas oleh amarah mematiknya lagi. Terjadi tepat ketika Sir Leon dengan lembut meletakan rokok bekas mulutnya kepada wanita itu sembari menepuk kepalanya dengan penuh sayang. Seperti perlakuan yang pernah Sir Leon lakukan pada Silvana saat dia berhasil mendapatkan nilai sempurna dalam ujiannya yang super sulit.

“Kita akan bertemu lagi?” Wanita itu bertanya penuh harap, menghisap rokok yang diberikan oleh Sir Leon seolah takut rokok itu akan diambil kembali olehnya.

“Entahlah,” balas Sir Leon, pria itu menyelempangkan tasnya lagi ketubuh tegapnya dan kemudian berjalan kearah sebaliknya. Meninggalkan si wanita begitu saja. Silvana cukup beruntung dosen tampannya itu tidak mengambil jalan menuju kearahnya.

Tapi selepas dia pergi dan melihat wanita itu terkulai di gang sempit sambil menghisap rokok bekas Sir Leon membuat Silvana marah padanya tanpa alasan.

Dia merasa punya dorongan gila untuk mencabut rokok itu dari si wanita asing tersebut. Namun dia tahu, dia tidak mungkin melakukannya. Setelah semua adegan itu berakhir, pada akhirnya dia benar-benar memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulangnya yang tertunda.

Ini hari yang gila. Meski kakinya melangkah menuju kerumah, tapi pikirannya masih tetap berkelana pada setiap adegan yang dia lihat. Bahkan pada saat dia sampai didepan pintu rumahnya, masuk kedalam kamarnya. Gadis itu malah membayangkan dirinya yang ada diposisi wanita itu dan melakukannya dengan sang dosen.

Silvana sudah tidak waras, dia tahu. Baru siang tadi dia bilang bahwa Sir Leon menarik, malamnya dia malah mendapatkan pembuktian konkret. Padahal pagi tadi dia hanya senang membercandai Jiyya, dengan mengatakan pria yang lebih dewasa lebih berpengalaman. Pendapatnya tidak salah.

“Dia benar-benar sangat hebat, tidak salah kalau aku tertarik padanya sejak pertama kali bertemu.”

Bab 3

Canggung sekali. Joan merasa tidak tahu harus berbuat apa sekarang dan yang membuat perasaan itu kian memberat adalah fakta bahwa barangkali hanya dia yang merasa demikian diantara Dean yang duduk disebelahnya (yang sepertinya pemuda bobrok itu tidak memahami situasi sama sekali) dan Jiyya yang duduk disebelah Dean. Gadis itu tidak banyak bicara dan hanya mengaduk-ngaduk kuah ramen menggunakan sumpit di mangkuknya. Seolah tidak menikmati suguhan yang menurut Dean adalah santapan surgawi. Jiyya bahkan belum memasukan mie dengan tekstur kenyal tersebut kemulutnya. Namun herannya lagi sesekali Jiyya melemparkan tatapan bersalah kearahnya, seakan dia baru saja melakukan hal yang paling tercela terhadap Joan. Tapi apa?

“Kau tahu kan kalau si bedebah sialan itu terus memaksaku untuk mengikuti keinginan bodohnya, jadinya aku—”

Ya, dan Dean terus saja mencerocos soal pengalamannya bersama dengan Sir Yoga. Joan tentu mengenal orang yang di maksud sebab bisa dibilang pria itu memang menjadi guru pribadi dari Dean dan punya ambisi untuk mengajari pemuda itu menjadi seseorang yang lebih hebat darinya.

Terlebih sebelum menjadi dosen bagi kedua anak ini, mereka sudah cukup saling mengenal di masa lalu. Joan sendiri sebenarnya tidak begitu peduli dengan cerita itu, tapi akan lebih baik bila dia membiarkan Dean terus bercokol dengan kisah-kisahnya supaya bisa membantunya keluar dari situasi dimana dia terlalu peka untuk paham bahwa sejak tadi Jiyya terus saja melemparkan pandangan tak biasa. Pandangan yang membuat Joan merasa ada yang salah pada dirinya sendiri. Bukan seperti ‘apa ada yang salah dengan wajahku?’ tapi lebih pada ‘Kenapa seorang gadis yang notabene adalah mahasiswinya sendiri terus terusan memandanginya dengan penuh motif seperti itu?’

Bahkan setelah Joan perhatikan, Jiyya terus saja mencoba menembakan sebuah pandangan yang penuh dengan selidik dari matanya yang penuh dengan binar cerah. Alis Joan berkerut, mata mereka bertemu tapi secepat kilat air muka gadis itu berubah memerah. Tak sampai disitu Jiyya bahkan mengalihkan pandangannya dengan cepat kearah mangkuk ramennya lagi.

Sebagai pria yang sudah matang, jelas Joan menyadari apa yang barus saja terjadi dengan lebih jelas. Joan sudah memiliki banyak pengalaman mengajar sejak dia berusia dua puluhan, dan meskipun sikapnya acuh tak acuh tapi bukan berarti dia tidak punya pengalaman serupa dengan kasus seperti ini. Sudah jelas Jiyya tertarik padanya. Itu dia.

Tapi cepat-cepat pria itu membuang spekulasinya itu jauh-jauh. Kenapa dia harus menduga hal itu? Semua orang dikampus sudah tahu, bila Joan tidak akan pernah masuk dalam perhitungan sebagai seorang laki-laki yang akan Jiyya sukai. Dari rumor yang dia dengar mahasiswi pintar yang dekat dengannya saat ini sangat terobsesi dengan Bestian.

Usia Joan juga menjadi salah satu faktor, Jian tidak pernah berpikir bahwa dia akan mendapati seorang gadis yang baru awal masuk dua puluhan memiliki ketertarikan dalam hal nafsu terhadapnya. Jujur saja Joan lebih sering menghabiskan malam yang panas dengan yang lebih tua. Sebab dengan yang lebih tua Joan lebih bisa mengatasi nafsu mereka. Tapi dengan yang lebih muda? Tentu saja yang lebih muda tidak cukup tahu banyak tentang hubungan pria dan wanita di ranjang dan memerlukan sedikit ‘pelatihan’. Ya, lagipula Joan juga tidak tertarik pada gadis belia.

Sekarang, gara-gara pemikiran bodohnya itu Joan malah jadi sibuk sendiri menilai soal Jiyya. Joan tidak mengelak bahwa dia adalah seorang gadis yang cantik, sebentar lagi dia bahkan dia bertaruh dia akan menjadi seorang wanita matang yang mempesona dalam beberapa tahun kedepan. Sorot matanya yang penuh kebijaksanaan dan perhitungan, bersanding dalam sebuah emosi yang begitu seimbang. Joan tahu lebih dari siapapun bahwa gadis itu selalu berjuang tanpa pernah menyerah. Dan itu adalah sisi yang paling mengesankan darinya.

Diantara kedua matanya, Jiyya punya hidung yang manis tidak terlalu besar ataupun kecil. Bangir? Barangkali itu penggambaran paling mendekati, pipinya terlihat begitu lembut dan menggemaskan, pun pindah ke bibirnya terlihat penuh dan menggoda…

Sampai disitu Joan tahu bahwa dia harus berhenti untuk memikirkan soal Jiyya. Mau bagaimanapun dia tetap adalah mahasiswi yang belajar dibawah bimbingannya. Joan punya tugas untuk membantunya meraih masa depan yang lebih gemilang. Alih-alih menatapnya dengan tatapan mesum dan menatapnya dari sudut pandang kurang ajarnya seperti ini. Tapi sisi liar dari Joan justru malah berbisik nakal bahwa dia bisa membantu Jiyya dengan cara yang lebih menyenangkan.

Matanya berpindah pada dada Jiyya, asset yang terkadang sering kali Joan dengar bagian yang paling membuat gadis itu kerap menyesali dirinya. Joan harus mengsayai bahwa ya, dada gadis itu memang lebih kecil daripada segelintir mahasiswi yang pernah kedapatan menggodanya. Tapi ketidaksempurnaan itu tidak mengurangi nilai Jiyya di mata Joan. Kemudian mata Joan kembali menelisik, dan tanpa sengaja kini mata mereka bertemu lagi. Jiyya bersemu merah, dia menyembunyikan lagi wajahnya.

“Jiyya?” Dean tiba-tiba memotong ceritnya di tengah jalan kemudian memandangi gadis yang duduk disebelahnya dengan pandangan khawatir. “Ada apa?”

Jiyya tidak langsung bereaksi. Tapi melihat itu Joan justru suka dengan efek ini terhadap gadis itu. Joan tidak tahu bahwa ini malah jadi semakin menarik saja.

“Saya mau pulang.” Gadis itu memutar kursinya dan berdiri. Sebelum Joan maupun Dean sempat berkata apapun gadis itu sudah pergi.

Dean memandangi kepergian Jiyya dengan ekspresi yang sangat bingung.

“Sir Joan, apa yang baru saja terjadi? Apa kita melakukan kesalahan?”

Joan menundukan kepalanya sebelum dengan perlaahan bangun dari kursinya juga. “Kamu akan membayar seluruh pesanannya kan? dompet saya ketinggalan.”

Dean kini sekarang terlihat sangat kebingungan dengan kedua orang yang dia panggil untuk acara reuni kecil-kecilan mereka. “Tapi bagaimana dengan bagianmu? Kamu mau pergi begitu saja tanpa memakannya dulu?” tanyanya hampir mengiba.

“Untuk urusan itu saya serahkan padamu. Kamu bisa menyelesaikannya bahkan lebih baik dari saya kan, Dean?”

Hening sejenak, tapi kemudian Dean malah menyeringai senang. “Kau bisa percayakan soal perut padaku. Sir Joan.” Dean mengangkat jempolnya kemudian mulai sibuk menerjang mangkuk ramen milik Joan yang belum tersentuh sama sekali.

Setelahnya Joan mulai keluar dari kedai tersebut, sembari menatap jalanan. Meskipun Jiyya keluar dengan cepat, tapi gadis itu punya sesuatu yang mudah untuk dikenali, rambutnya yang pendek sebahu dan hoodie kebesaran yang selalu menjadi pakaian andalannya adalah ciri khas gadis itu. Maka dengan cepat Joan dapat menemukan keberadaannya.

Dengan langkah santai pria yang lebih tua dari Jiyya itu mulai mengikuti langkah Jiyya yang tergesa. Sejujurnya Joan sendiri tidak yakin dengan langkah apa yang akan dia lsayakan selanjutnya. Tapi paling tidak dia ingin meluruskan tingkah lsaya Jiyya yang membuatnya penasaran sejak tadi pagi.

Baru saja Jiyya berbelok dan berdiri didepan pintu rumahnya, gadis itu terlihat menyilangkan tangannya didepan dada. Wajahnya masih bersemu merah seperti di kedai tadi. Matanya menatap kearah tanah yang dia pijak. Dan saat itulah Joan memutuskan untuk menampakan kehadirannya didepan gadis itu.

“Yo, Jiyya.”

Gadis itu terlonjak hampir sepuluh kaki ke udara, matanya melebar. Nampaknya dia benar-benar tidak menyadari bahwa sejak tadi dia dibuntuti. “Ap-apa yang kau lakukan disini Sir Joan?” desak Jiyya.

Joan sedikit merendahkan kepalanya. “Kamu ingin saya pergi?”

Jiyya kini malah balik bingung. Tapi Joan sebaliknya, dia malah menyukai ekspresi Jiyya saat ini. Joan tidak tahu setan apa yang sedang merasukinya sekarang, tapi yang jelas saat dia bersama Jiyya seperti ini mau tidak mau dia malah tergoda untuk sedikit mempermainkan gadis ini.

“Saya, tidak… maksudku…” Jiyya terlihat kesulitan mengatakan apa yang ada dibenaknya. “Tentu saja tidak Sir Joan, maaf,” ujarnya kikuk.

Joan tersenyum padanya. “Tidak perlu minta maaf, kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa. Hanya saja kamu tiba-tiba keluar, Dean terlihat khawatir, begitu juga saya. Makanya saya putuskan untuk menyusul kamu. Kami cemas kalau ada sesuatu yang salah.”

Jiyya memandang kesamping, terlihat tidak percaya dengan alasan sang dosen muda. “Ya, saya yakin Dean lebih mengkhawatirkan mangkuk ramennya dibandingkan saya, sebetulnya.”

Joan tertawa kecil menanggapi perkataan Jiyya. “Begitukah? Kalau begitu saya yang khawatir sekarang.”

Jiyya kontan langsung tersentak kecil, pipinya sekali lagi memerah dengan cara menggemaskan. Sekali lagi gadis itu memandang kearah Joan. Jiyya benar-benar sangat tidak ahli menyembunyikan perasaannya itulah kesimpulan yang Joan dapatkan dari Jiyya. Joan malah memandang Jiyya tanpa sedikitpun memperlihatkan betapa senangnya dia tatakala melihat pipi mahasiswinya memerah malu seperti itu.

“Apa yang sebenarnya membuatmu kabur begitu? Apa kamu sakit?”

Jiyya menggelengkan kepalanya beberapa kali.

“Kamu yakin?” Joan bergerak mendekat dan menempelkan tangannya ke dahi Jiyya.

Saat tangan itu menyentuhnya, tubuh Jiyya berubah ksaya. Kedua tangannya mengepal, dengan kedua matanya yang langsung membulat menatap langsung kearah Joan. Tapi Joan malah semakin ingin melsayakan hal yang lebih, dia menyukai keadaan Jiyya saat ini. Joan tahu bahwa dia ini benar-benar sudah kelewat mesum dengan isi otaknya.

“Hm…” Tanpa sepengetahuan gadis itu, Joan tersenyum licik dibalik masker hitam yang dikenakannya. “Sebenarnya menurutku suhu tubuhmu sedikit panas. Dan lihat—” Dia menarik tangannya dari dahi Jiyya menunjuk tepat ke pipi gadis itu. “—pipimu juga memerah,” tutupnya.

Sudah jelas Jiyya sekarang sudah terlalu pasrah untuk dapat menutupi apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya. Joan bersiul pelan.

“Mungkin sebaiknya kamu beristirahat dan tidur saja. Seharusnya kalau kamu tidak enak badan kamu bisa menolak ajakan Dean sejak awal. Lagipula besok kamu sedang tidak ada kelas kan?”

Jiyya menggelengkan kepalanya, dia masih belum bisa untuk berkata-kata. Angin dingin yang tiba-tiba melewati mereka berdua malah kontan membuat gadis itu menggigil.

“Mung—ehm…” Suara Jiyya terdengar agak serak dia berdehem dan mencoba lagi merangkai kata-kata yang ingin dia sampaikan dengan lebih normal. “Mungkin kau benar Sir Joan, saya akan… saya akan beristirahat dan tidur. Ini pasti gara-gara saya tidak tidur dengan benar semalam.”

“Ah begitu ya?” Joan menganggukan kepalanya mengerti. “Saya juga sama.”

Jiyya tiba-tiba saja tersipu dan Joan malah makin menyeringai menyadari bahwa barangkali mahasiswinya ini membayangkan hal nakal dikepalanya.

“Saya… uh… saya demam Sir!” Jiyya tiba-tiba saja memekik. “Itulah kenapa saya tidak bisa tidur! bukan karena hal lain. Umm… selamat tinggal Sir Joan, saya pulang dulu!” gadis itu menggumamkan kata-katanya dengan cepat dan meninggalkan Joan sembari masuk kedalam rumahnya dengan sedikit brutal.

“Mimpi indah Jiyya.” Joan berujar diluar sana.

Jiyya hanya bisa merosot dibalik pintu ketika dia berhasil lolos dari Sir Joan. Punggungnya bersandar sepenuhnya pada pintu yang telah tertutup rapat. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Silvana benar-benar sudah mempengaruhi dia. Sekarang segala sesuatu yang Sir Joan katakan malah dimaknai sebagai hal yang nakal olehnya.

Gadis itu menepuk jidatnya sendiri, mengerang sebelum akhirnya dia menarik wajahnya sendiri dengan gemas. Dia merasa bahwa dia sudah tidak waras karena memikirkan dosen mudanya itu dengan cara tidak wajar lagi.

Dari gerak-geriknya tadi sepertinya Sir Joan sudah tahu bahwa dia telah memandanginya. Tapi apakah dia juga tahu bahwa Jiyya juga memikirkannya? Kenapa Jiyya harus terus memikirkan pria yang lebih tua darinya saat hatinya masih tertambat pada cinta pertama sekaligus orang yang tidak akan pernah dia lepaskan cintanya?

Semua ini gara-gara Silvana! Iya! Gara-gara sahabat gilanya itu sekarang Jiyya tidak lagi bisa jadi mahasiswi yang dapat menghadapi Sir Joan dengan cara normal. Jiyya mengutuk sahabatnya yang bodoh serta ide konyolnya.

Setelah puas mengutuki Silvana, si gadis konservatif itu kemudian akhirnya memutuskan untuk bergerak dan merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Itu bukan karena dia lelah atau sakit, namun dia membutuhkan hal lain.

Ya, Jiyya mungkin memang masih perawan. Tapi bukan berarti dia tidak tahu cara menyenangkan dirinya sendiri.

Dia melepas seluruh pakaiannya, mulanya memang ingin berganti dengan piyama namun niatan itu urung seketika. Well, pemicunya sudah ada. Jadi lebih baik menggunakannya.

Gadis itu berbaring ditempat tidurnya, secara perlahan tangannya merayap turun untuk menikmati sensasi jemarinya menyentuh otot abdomennya.

Dia mencapai satu titik, menggigit bibir tatkala jemarinya menyentuh titik kecil disana. Sensasi mengejutkan dan kenikmatan langsung menyebar keseluruh tubuh. Gadis itu menutup mata untuk melihat kegelapan sampai kemudian dia melihat bayangan seseorang merayap memasuki imajinasi liarnya.

Tanpa disadarinya, Jiyya malah membayangkan Sir Joan yang datang padanya.

Tidak! tidak mungkin dia melakukan ini sembari membayangkan dosennya sendiri! ini sudah gila!

“What the hell?” Jiyya menyentuh sisi kepalanya dan berdiri dari sana. “Apa yang baru saja aku perbuat? Ya Tuhan! Ya Tuhan!” Jiya berjalan mondar-mandir di dalam ruangan, wajahnya begitu horror tatkala dia memandangi cermin dikamarnya.

Apa yang baru saja dilakukannya adalah hal illegal. Dia tidak boleh berimajinasi nakal tentang seseorang yang dia lihat setiap hari. Terutama dia adalah sosok tenaga pengajar dikampus!

“Silvana sialan!”

“Argh! Bego… bego… aku bodoh sekali!” Jiyya menghempaskan tubuhnya kembali ketempat tidur.

Apa yang akan Sir Joan pikirkan dan lakukan kalau Jiyya kedapatan melakukan hal kotor ini dengan mengimajinasikan dirinya?

Ah, dia butuh air dingin. Dia butuh kesegaran untuk menutupi seluruh dosa yang baru saja dia perbuat. Dia harus mandi untuk menjaga kewarasan dan kemudian dia akan memenggal kepala Silvana setelanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED