Suara tembakan saling bersautan. Mamoru semakin menjauh dari posisi Mayumi berada. Dia lebih sedikit menembak. Mungkin untuk menghemat peluru.
Mayumi masih meringkuk di tempatnya ditinggalkan. Berbagai macam pikiran buruk muncul di benaknya. Berbagai macam pertanyaan berkeliaran.
Siapa orang-orang ini? Kenapa mereka mengejarnya? Kenapa Mamoru-san bisa memiliki pistol di tangannya? Apa dia orang jahat? Siapa yang penjahat di sini? Apa Rikimaru dan Irie baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan, menelpon polisi? Bagaimana cara menelpon polisi? Di mana posisi mereka sekarang? Apa dia akan mati?
Mayumi gemetar di tempatnya bersembunyi. Suara teriakan kesakitan lalu diikuti suara gedebuk keras. Sepertinya sudah ada yang tumbang. Kulitnya semakin dingin memikirkan jika orang itu mati.
Dia ingin pulang. Dia ingin memeluk ibunya. Dia cuma mau hidup cukup lama untuk mengabulkan keinginan ibunya melihatnya menikah. Juga melihat adiknya tumbuh besar mengalahkan badannya. Dia pikir dia akan mati hari ini.
Mayumi mencoba menarik napas dan mengeluarkannya. Berharap itu bisa memberikan ketenangan. Coba berpikir positif bahwa dia masih bisa pulang setelah ini. Dia tidak yakin sudah berapa lama, tapi saat sudah cukup tenang, dia menyadari suara tembakan berhenti. Gudang tekstil itu sepi.
Gadis itu tidak yakin harus melakukan apa. Mungkin menunggu Mamoru-san kembali atau menunggu kedua orang lainnya datang untuk memastikan bahwa sudah aman. Dari posisinya dia kembali melihat Mamoru-san. Matanya bergerak ke kanan dan kiri memeriksa keadaan.
Mayumi menunggu dengan tegang. Berdoa semoga ini telah selesai. Dari sudut matanya dia melihat pergerakan. Seseorang berpakaian hitam sedang membidik Mamoru-san. Sementara cosplayer itu membelakanginya. Mayumi ingin berteriak memperingatkan. Masalahnya jika itu dilakukan, kemungkinan dia akan langsung ditembak di kepala oleh musuh Mamoru-san.
Mayumi hampir putus asa. Tapi dia melihat sebuah pulpel dari tumpukan barang yang dijatuhkan Mamoru-san dari tasnya. Mayumi mengambilnya dan berjalan merangkak mendekati orang itu. Dia akan melakukan hal gila.
Mayumi memusatkan pikiran. Dia melempar pulpen di tangannya ke arah musuh layaknya melempar dart ke poin target. Bagian tajam pulpen itu menancap di bagian leher yang terbuka. Orang itu meringis sakit dan berbalik ke arahnya dengan pistol di tangan.
Dor!
Mayumi mengira dia sudah mati. Tapi peluru itu tidak menembus tubuhnya. Orang yang terkena tembakan adalah si orang berbaju hitam. Mamoru-san menembaknya tepat di kepala. Orang itu langsung jatuh telungkup ke depan. Darah menggenang dari luka tembakan.
"Mamoru-sama!" suara Rikimaru memanggil sambil berlari masuk. "Semua yang di luar sudah clear."
Mayumi tidak begitu yakin otaknya mendengar apa yang dibicarakan Rikimaru dan Mamoru. Dia luruh ke lantai. Matanya menatap tangannya dengan gemetar. Dadanya terasa sesak. Dia baru saja membunuh seseorang.
Mamoru datang lalu berjongkok di depannya. Dia memperhatikan Mayumi yang masih terdiam. Sinar matanya mengiba. Dia menangkup tangan Mayumi yang gemetar dengan tangan besarnya.
"Bukan salahmu." katanya lembut.
Mayumi tidak bergerak. Otaknya masih tidak bisa memproses apapun yang diucapkan oleh Mamoru-san. Dia merasa tangan dingin mengusap pipinya. Apa dia menangis? Mungkin iya. Dadanya sesak sekali.
Mamoru menguatkan genggaman tangannya. Perlahan dia menarik kepala perempuan muda yang baru saja menyelamatkan dirinya dari bidikan senjata. Dia membenamkannya di dadanya yang bidang. Membiarkan gadis itu mengeluarkan semua rasa takut, teror, dan kagetnya.
"Bukan salahmu." ulangnya lagi.
Rikimaru dan Irie yang baru datang menatap tuannya aneh. Percaya atau tidak, Mamoru-sama biasanya tidak memperdulikan orang lain. Dia bukan tipe orang yang bisa menenangkan seseorang yang menangis. Kecuali kalau lagi meet & greet dengan fans-nya. Kalau mereka menangis juga Mamoru hanya akan menepuk bahu orang itu dan menyuruh panitia menenangkannya. Tidak pernah sampai memeluk seseorang dengan penuh kelembutan seperti ini.
"Um, mobil kita rusak. Jadi aku akan mencari penggantinya." kata Rikimaru sambil menggaruk pipi.
Mobil sewaan mereka terkena tembakan di beberapa tempat. Masih bisa jalan sebenarnya. Tapi akan sangat menarik perhatian jika dibawa berkendara. Beruntung mereka menyewa mobil pada kolega di sini. Jadi misal bolong-bolong peluru seperti itu, mereka tidak akan memperkarakannya. Paling minta ganti rugi. Rikimaru berniat pergi keluar untuk menelpon.
Suara dering ponsel terdengar dari saku Mayumi. Semua orang menegang. Mereka waspada, khawatir ada sesuatu. Mayumi melepaskan diri dari pelukan Mamoru. Dia mengusap wajahnya yang masih memerah pasca menangis, menarik napas berkali-kali untuk menenangkan diri. Mamoru menatapnya awas.
"Halo Mas."
[Halo Mba. Photoshootnya jadi apa gak?]
Ternyata panggilan dari pemilik studio foto.
"Oh iya Mas. Maaf kita lagi ada kendala tadi."
Suaranya cukup tenang saat menjawab. Walau berulang kali menarik ingus.
[Kenapa Mba macet?]
"Ini.. mobilnya mogok." jawabnya spontan. "Iya mogok makanya kita lagi nunggu mobil lain."
[Aduh Mba kenapa gak kasih kabar dari tadi?] ujar yang di sana kesal.
"Maaf, maaf saya rada panik tadi. Jadi gak kepikiran."
[Udah nyampe mana Mba? Kalau dekat kita jemput.]
"Aduh di mana ini ya. Tadi agak muter jauh juga keluar jalan utama. Nyari jalan pintas. Tapi gak tau di mana. Kita... kita sudah panggil kendaraan lain. Gak usah dijemput ke sini." ujarnya sedikit panik.
Tidak mungkin dia memberitahu kalau mereka habis di serang oleh orang bersenjata. Apalagi bilang kalau Mamoru habis bunuh orang dengan pistol yang dia bawa.
[Kira-kira lama gak Mba? Biar saya bilang ke yang lain.]
"Umm... 40-50 menitan deh Mas." karena kalau bilang satu jam kelamaan.
[Oke Mba. Saya tunggu ya.]
Mayumi menghela napas sejenak. Dia melihat wajah tegang ketiga laki-laki di sana. Tahu bahwa mereka khawatir akan telepon yang diterimanya, Mayumi menjelaskan isi pembicaraan dirinya dengan pemilik studio. Rikimaru segera menelpon koleganya untuk mengirim mobil lain. Semoga mereka bisa sampai dengan cepat.
Demi memotong waktu, Rikimaru melajukan mobil yang penuh lubang peluru itu. Beruntung tidak ada kebocoran bensin atau kerusakan mesin. Nanti saat sudah sampai di jalan utama, mereka akan menunggu mobil pengganti. Rikimaru melajukan mobilnya sesuai rute terdekat ke studio foto.
Mobil pesanan mereka tiba tidak lama setelah mereka tiba di jalan utama. Mereka memindahkan semua barang ke mobil itu. Sementara mobil rusaknya dibawa kolega mereka.
Sepanjang perjalanan Mayumi diam sambil meremas ponselnya. Matanya dia palingkan dari orang yang duduk di sebelahnya. Dia tidak ingin berinteraksi dengan mereka.
Orang-orang di studio foto menyambut mereka dengan gembira. Mayumi langsung membungkuk dan minta maaf berkali-kali pada pemilik studio atas keterlambatannya. Rikimaru selaku manager juga melakukan hal yang sama. Mamoru hanya diam melihat mereka. Dia tidak bicara apapun dan hanya membungkuk sedikit untuk mengucapkan permintaan maafnya. Tidak seperti Rikimaru dan Mayumi yang membungkuk lebih dalam.
Mamoru segera berganti pakaian dan memasang makeup. Tampilannya berubah menjadi luar biasa tampan. Benar kata managernya, Mamoru menggunakan setelan polisi di photoshoot ini. Pakaiannya membingkai seluruh tubuhnya dengan baik. Dengan tubuh proporsional dan dada yang bidang, Mamoru terlihat luar biasa.
Mayumi seharusnya bersemangat saat melihat cosplayer idolanya sedang berpose dengan profesional di depan matanya. Cara bagaimana dia mengungkapkan ekspresi untuk ditangkap layar sangat di atas levelnya. Tapi sayangnya Mayumi masih tidak bisa menghilangkan gambaran penembakan yang baru dilaluinya beberapa menit lalu. Apalagi dengan pistol hitam yang sekarang digunakan sebagai properti cosplay oleh Mamoru.
"Mayu, kenapa diam saja? Biasanya kamu heboh. Terlalu terpesona ya sama Mamoru-sama. Cieee." goda salah satu photografer.
"Apa sih Kak Dama."
Orang yang dipanggil Dama itu semakin giat menggodanya. Mumpung lagi gantian bertugas.
"Rikimaru-san. Do you know that Mayu-chan is a cosplayer?"
"Eh, I don't know. She didn't tell us."
"Mayu-chan is one of our best model. Look at that photo. That's her."
Dama menunjuk ke salah satu foto cosplay yang di pajang di dinding. Rikimaru ternganga saat melihatnya. Penampilan di foto itu benar-benar sangat cantik. Mayumi menggunakan kostum Ahri dari K/DA. Posenya sangat tegas dan menantang.
"Wow."
"That one too." tunjuknya pada Nezuko dari Kimetsu no Yaiba.
"Waa kawaii."
Rikimaru dengan tidak tahu malu mengambil foto di dinding itu dengan handphone.
"Dama, stop it!"
Mayumi merasa sangat malu. Dia sudah lama tidak meluangkan waktu untuk cosplay. Lebih banyak dia ikut sebagai volunteer sekarang. Dama masih belum selesai. Dia mengeluarkan katalog cosplay yang ada di sana dan menyerahkannya pada Rikimaru. Di dalam katalog itu ada beberapa yang menjadikannya model. Sial sekali memang.
Mayumi sejak awal menutupi kalau dirinya seorang cosplayer karena khawatir Mamoru-san tidak nyaman. Dia juga tidak bilang kalau dia fansnya Mamoru V. Takut nanti idolanya tidak nyaman bersamanya. Sekarang temannya yang seorang photografer membuka aibnya terang-terangan. Mayumi dengan kesal memukul Dama.
"Ih, kenapa ih marah. Orang aku gak ngapa-ngapain."
"Siapa yang izinin kamu bilang."
"Tapi kamu kan modelnya. Aduh, aduh jangan dicubit dong."
Sedang seru-serunya mereka bertengkar, Mayumi tidak sadar kalau Mamoru-san sedang break. Dia mengambil katalog itu dan melihat-lihat. Ada wajah Mayumi dengan costume yang menantang. Masih dengan pakaian Nezuko, tapi belahan dadanya lebih kelihatan termasuk paha putihnya. Mamoru melihat kearah Mayumi yang sekarang sedang pakai celana jeans panjang kusam dan kaos polos biru lengan panjang. Kemudian melihat kembali ke katalog untuk memastikan jika mereka orang yang sama. Rikimaru yang berada di sampingnya tiba-tiba merasa was-was.
"Mamoru-san." bisik Rikimaru.
Mamoru mengerjapkan mata mendengar panggilan itu. Dia melirik managernya dan memiringkan kepala.
"Waktunya 30 menit lagi. Apa Mamoru-san masih ingin melanjutkan."
Mamoru mengangguk sedikit. Dia bangkit dan kembali ke set studio. Melakukan beberapa take terakhir sebelum berganti pakaian.
"Terima kasih untuk hari ini. Sangat menyenangkan. Otsukaresamadeshita minna-san."
Rikimaru memberikan amplop tebal kepada pemilik studio.
"Mohon maaf karena kami tidak banyak menukarkan uang, jadi masih ada beberapa yang berbentuk dollar."
Mayumi menerjemahkan kalimat Rikimaru dengan hati-hati. Tim studio poto yang ada di sana langsung ingin buru-buru membuka amplop. Tapi sang ketua berhasil menahannya. Agar tidak memalukan, tim photograper menyiapkan suatu hadiah kenang-kenangan untuk dibawa Mamoru-san pulang. Tim studio foto melepas mereka dengan senang dan banyak kata terima kasih. Mayumi yakin setelah pintu ditutup, orang-orang di sana langsung merobek amplop. Terbukti dengan suara teriakan gembira di belakang.
Mayumi kembali duduk di mobil bersama Mamoru-san dan timnya. Sama seperti tadi, tidak ada pembicaraan. Mamoru meliriknya dari tempat duduknya, tapi tidak mengatakan apapun. Hari ini sudah tidak ada jadwal lagi. Besok Mamoru-san baru akan kembali ke Jepang. Jadi hari ini Mayumi masih menginap di hotel yang sama dengan mereka sampai dia mengantarkan Mamoru-san dan tim ke bandara. Mayumi harus bertahan sedikit lagi sebelum bisa pulang ke rumah.
Mayumi bangun dengan tubuh yang terasa lelah. Dia tidak bisa tidur semalam. Bayangan kejadian kemarin dan suara tembakan yang bersahut-sahutan masih terus terngiang. Dia merasa takut dan mual. Tangannya seperti bernoda darah. Dia ingin meraung dan menangis. Berteriak kencang melepaskan ketakutannya. Tapi tidak bisa, dinding kamar hotelnya tidak setebal itu untuk menampung suaranya. Nanti yang ada malah dia di kira orang gila.
Ponselnya berbunyi, notifikasi dari panitia untuk memastikan bahwa Mamoru-san masih aman bersamanya. Hari ini masih ada sedikit jadwal sebelum mengantar mereka naik penerbangan sore. Mayumi sudah membuat catatan, memperkirakan jam berapa dia harus menyiapkan mobil.
Sepengalamannya, guest star biasanya akan bangun siang. Jadi dia tidak terburu-buru bersiap. Barang-barang miliknya sudah dipak rapi di tas. Mayumi baru selesai pakai bra saat terdengar suara ketukan pintu. Buru-buru dia menyambar pakaiannya.
"Ohayuou gozaimasu."
Selamat pagi.
"Ohayou gozaimasu Rikimaru-san. O tetsudaimashoka?"
Selamat pagi Rikimaru-san. Ada yang bisa saya bantu?
"Ah, aku cuma mau ajak kamu untuk sarapan bersama di cafetaria."
"Oh tentu saja. Sebentar saya ambil handphone dulu."
Mereka turun ke cafetaria bersama. Hotel itu tidak terlalu ramai di bulan-bulan ini, jadi tidak banyak orang di sini. Di sebuah meja di sudut ruangan sudah ada Mamoru-san dan Irie-san. Mamoru-san sedang membaca sebuah buku dengan fokus. Piring di depannya berisi beberapa lembar roti yang tidak di sentuh. Sebuah mug berisi kopi di sebelahnya. Irie sibuk dengan sepiring buah di depannya. Rikimaru mengajaknya mengambil sarapan di meja order.
Mayumi memesan omelet dan menyendok sedikit nasi goreng dari wilayah prasmanan. Dia juga mengambil buah dan segelas air putih. Rikimaru mengambil sepiring besar nasi beserta lauk pauk. Mereka duduk di meja makan.
Tidak ada suara selain bunyi dentingan piring dan sendok. Rikimaru dan Irie tidak mencoba memulai pembicaraan seperti yang biasa mereka lakukan. Mayumi juga diam saja mengacuhkan keheningan. Sesuatu yang seharusnya tidak lakukan karena mereka masih harus ke tempat lain hari ini. Pihak panitia sudah memberikan akomodasi wisata ke musium untuk Mamoru-san sesuai permintaan cosplayer itu.
Keheningan di meja makan terasa sangat pekat. Mayumi jadi tidak bisa menikmati makanannya dengan baik. Rasanya hambar.
"Apa kau tidak mau mengatakan apapun?"
Mamoru tiba-tiba berbicara. Mayumi tidak yakin kalau itu ditujukan untuknya, jadi dia diam saja. Rikimaru dan Irie sudah saling lirik.
"Kenapa diam saja, kau tidak mau mengatakan sesuatu?"
Mamoru menutup bukunya. Kali ini matanya menatap Mayumi di sebrangnya. Mayumi menelan ludah. Memang apa yang harus dia katakan? Apa dia harus bertanya apa tidur kalian nyenyak? Atau dia menanyakan masalah kemarin?
Mamoru kali ini membanting bukunya ke meja. Garpu Irie sampai melompat jatuh ke bawah. Mayumi semakin merasa jika dia harus mengatakan sesuatu sebelum hal buruk terjadi.
"Memangnya apa yang harus saya katakan?"
Mayumi berdecak dalam hati. Bukan niatnya untuk mengatakan itu, tapi dia tidak yakin apa yang ingin Mamoru dengar. Dia tidak yakin harus menghadapi orang di depannya seperti apa. Selama ini dia hanya mengenal Mamoru sebagai Mamoru V, cosplayer tampan dari Jepang yang terlihat charming di matanya. Tapi sekarang dia bahkan tidak tahu harus menghadapi orang ini seperti apa.
"Kau tidak mau bertanya? Marah? melampiaskan apapun perasaanmu?"
Mayumi baru mengerti. Mamoru-san sejak tadi menunggu dia bicara untuk melakukan konfrontasi padanya. Mungkin malah dia menunggunya membuka mulut sejak kemarin. Tapi dia terus diam sepanjang waktu.
"Jika aku bertanya, apa Anda akan menjawabnya." nadanya lebih seperti pernyataan.
Mayumi sadar diri bahwa orang seperti Mamoru pasti tidak suka diberondong pertanyaan. Sama dengan ketidaksukaannya diberondong peluru seperti kemarin.
"Ano... aku rasa sebaiknya kita.."
Mamoru mengangkat satu tangan, menghentikan perkataan Rikimaru. Managernya itu dengan patuh langsung menutup mulut. Mamoru kemudian mengibaskan tangannya dengan gestur mengusir. Irie dan Rikimaru saling sikut sebelum beranjak dengan piring makanan mereka. Mayumi juga berniat berdiri, tapi Mamoru menahannya.
"Kau duduk. Pembicaraan kita belum selesai."
Rikimaru menatap Mamoru dan Mayumi dengan khawatir. Tapi dia tetap melangkah menjauh. Bersama Irie, dia pindah duduk di meja lain yang agak jauh. Tapi tetap bisa memantau Mamoru dan Mayumi dengan jelas.
Mayumi mengumpulkan tenaga yang hilang entah kemana. Selama ini teman-temannya selalu bilang dia orang yang bersemangat. Tapi sekarang di depan Mamoru, dia hanya ingin pulang dan mengunci kamar. Dia bahkan tidak mau buka mulut.
"Baiklah, apa yang ingin Anda bicarakan?"
"Soal kemarin.."
"Tenang saja. Saya tidak akan membicarakannya dengan orang lain. Tidak akan pernah. Saya janji."
Mamoru menghela napas. Bukan karena merasa lega. Tapi lelah karena tidak tahu bagaimana agar wanita di depannya berhenti diam saja.
"Kau tidak ingin bertanya?" ucapnya lebih lembut sekarang.
"Saya rasa... itu bukan urusan saya. Jadi saya tidak akan ikut campur."
"Mn."
Mereka kembali dalam keheningan.
"Kau tidak tidur dengan baik."
Mayumi menatap ke arah lain. Karena tadi dijemput Rikimaru, dia belum sempat makeup. Dia yakin pasti kantung matanya terlihat sekali.
"Saya tidak apa-apa."
"Apa kau akan terus seperti ini? mendiamiku?"
Mayumi menolehkan kepalanya cepat. Dia sekarang menatap Mamoru-san dengan jelas. Wajahnya masih datar seperti tanpa ekspesi. Tapi jika benar mata bisa bicara, mungkin dia sedikit melihat rasa sedih di sana.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Jadi saya tidak bicara."
"Aku ingin mendengar kau bicara."
"Saya melakukannya sekarang."
"Tapi kau lebih banyak diam."
"Anda yang meminta."
Mayumi kembali memalingkan wajah. Dia meremas gelasnya. Apa yang sebenarnya diinginkan orang ini? Dia seperti sedang berputar-putar.
"Saat itu aku hanya bercanda denganmu. Aku tidak bermaksud membuatmu diam. Tapi kau benar-benar memasukkannya ke hati dan tidak bicara lagi."
Mayumi menarik napas dengan sulit. Dia tahu maksud saat itu adalah saat Mamoru-san mengomentarinya sebagai pengganggu. Tidak secara gamblang sih, tapi tersirat.
"Itu sepenuhnya kesalahan saya. Lain kali saya akan berhati-hati."
Tidak akan ada kata lain kali. Mayumi yakin mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Lebih baik seperti itu. Mayumi akan kembali ke kehidupan normalnya tanpa perlu mengingat bunyi tembakan senjata atau darah yang menggenang di lantai. Mayumi meminum airnya. Tenggorokannya tidak nyaman.
"Apa kau menyukaiku?"
Mayumi yang mendengar itu mengerjapkan mata.
"Maaf?"
"Mereka, orang di studio mengatakan kalau kau menyukaiku."
Mayumi memang ngefans sama Mamoru V jauh sebelum ini. Jauh sebelum tahu jika ada sesuatu yang tidak boleh dia ketahui. Sesuatu yang membuatnya menggigil karena teror.
"Apa setelah ini kau akan berhenti menyukaiku?" tanya Mamoru pelan.
Mayumi tidak ingin membalas. Dia tidak ingin mengatakan hal menyakitkan. Mungkin sekarang hatinya terlalu sakit saat mengetahui kebrutalan seorang Mamoru V. Cosplayer yang selalu dia jadikan idola. Orang yang selalu dia jadikan penyemangat untuk nyentriknya. Tapi pasti jauh dalam hatinya, masih ada rasa suka itu. Rasa suka yang tertanam lama yang tidak bisa begitu saja dilepas. Entah dia akan berhenti menjadi fans, dia belum tahu.
"Pesawat akan berangkat jam lima sore. Jika ingin ke musium, kita bisa pergi awal. Tiga puluh menit lagi saya akan menyiapkan mobil."
"Mobil sewaan Rikimaru sudah terparkir di bawah."
"Kalau begitu saya akan merapikan barang-barang saya di kamar. Permisi."
Mamoru memejamkan matanya saat Mayumi berlalu pergi. Dia menutup matanya dengan satu tangan. Dia meremas buku yang tadi dibacanya.
...
Mereka tetap melakukan perjalanan sesuai jadwal. Berkunjung di salah satu musium di Jakarta. Banyak orang sepertinya punya niat berkunjung untuk foto-foto ala vintage dari pada menikmati isi musium.
Mayumi masih mengikuti ketiga orang itu dalam diam. Hal-hal berbau musium bukan sesuatu yang dia kuasai. Jadi tidak perlu banyak berkomentar karena ada papan penjelasannya. Mamoru-san juga tidak terlihat menikmati. Dia hanya berjalan sambil berpura-pura tertarik, padahal tidak ada satupun hal yang benar-benar dibacanya di papan.
"Rumah yang di sana itu kafe kan?" tanya Rikimaru.
"Iya."
"Mau istirahat di sana?" tawarnya.
Mereka masuk ke kafe dengan bangunan tua ala Belanda. Banyak anak muda yang sudah duduk di dalamnya memesan berbagai minuman. Ajaibnya di sana ada cendol. Mayumi berinisiatif membeli satu agar mereka coba. Irie dan Rikimaru langsung menyukainya. Mamoru diam saja tidak menggubris.
"Ada beberapa jam lagi sebelum ke bandara. Apa ada rekomendasi tempat lagi di sini?"
"Kalau kalian mau, aku bisa ajak ke tempat souvenir."
"Boleh, ayo."
Mayumi mengajak mereka ke area Blok M. Entahlah, dia sendiri tidak tahu tempat souvenir di mana. Tapi area ini paling familiar untuknya. Mereka masuk ke toko-toko yang menarik. Rikimaru menanyakan ini dan itu jika menemukan benda tidak wajar. Sementara Irie sudah senang dengan tempat penjual makanan. Mamoru berjalan malas di belakang.
Rikimaru meninggalkan mereka saat melihat Irie menemukan makanan yang menarik. Mayumi izin pergi ke atm sebentar. Sehingga meninggalkan Mamoru di depan toko sendirian. Dia terlihat bosan.
Mayumi kembali dengan sebuah bingkisan. Saat hampir dekat dengan toko terakhir, dia melihat seorang laki-laki bertindak mencurigakan. Orang itu melirik ke sana kemari sebelum mendekati seorang ibu yang sedang melihat-lihat baju. Tas si ibu terbuka. Tahu apa yang akan dilakukan, Mayumi melepas sepatu dan melemparnya dengan kekuatan penuh. Lemparan luar biasa itu berhasil mendarat ke kepala orang itu.
"COPET!" teriaknya keras.
Pencopet itu sadar dan bergegas berlari. Dompet si ibu sudah berhasil dipegangnya. Si ibu juga langsung histeris berteriak copet. Semua orang yang ada di sekitar ikut mengejar. Mayumi melepas sisa sepatunya dan kembali melemparkan. Karena jaraknya jauh, sepatu itu kena ke bahu pencopet membuatnya oleng. Copet itu mau menyeimbangkan diri saat tiba-tiba ada tangan lain yang memegangnya. Laki-laki tinggi berwajah oriental menahan tangannya. Pencopet itu mencoba melepas, bahkan menginjak kaki orang asing itu, dia tidak bergeming. Orang asing itu- Mamoru memelintir tangan si pencopet. Cengkramannya begitu kuat hingga terasa di tulang. Pencopet itu langsung berteriak kesakitan.
"Lepaskan aku, lepaskan aku!"
Semua orang yang mengejar si pencopet kini mengerubunginya. Dompet itu kembali pada si Ibu. Dia berterima kasih berulang kali padanya. Mayumi merasa lega. Dia capek mengejar orang ini.
Rikimaru dan Irie terlambat muncul. Mereka baru keluar dari tempat penjual cemilan. Mereka menatap bingung keramaian di luar.
Mamoru-san menatap Mayumi dari atas ke bawah. Dia berhenti di kaki, membuat Mayumi mengikuti arah pandangnya. Benar juga kedua sepatunya sudah dilepas tadi untuk dilempar ke copet itu.
"Tunggu sebentar." katanya tertawa hambar. Dia berbalik untuk mencari sepatunya yang tertinggal.
Pada akhirnya Mayumi mengantar ketiga orang itu ke bandara. Penerbangan masih agak lama jadi mereka bisa bersantai. Mayumi mengambil napas berulang-ulang untuk mendapatkan keberanian. Dia mendekati Mamoru yang menatap kosong area tunggu bandara. Rikimaru dan Irie minta izin pergi ke toilet sebentar.
"Mamoru-san. Ini untukmu." sambil menyodorkan bingkisan. Tangannya gemetar karena ketakutan akan ditolak.
Mamoru menatapnya sebentar sebelum mengambil bingkisannya. Dia langsung membukanya di tempat. Isinya sebuah lukisan kanvas dirinya saat menjadi Howl berambut blonde.
"Bukan buatanku. Aku commission pada temanku. Buat permintaan maaf." jelas Mayumi cepat.
"Terima kasih, tapi kau tidak salah."
"Terima saja."
"..."
Mamoru menyimpannya dan berpamitan pergi saat Irie dan Rikimaru kembali. Setelah mereka masuk gate keberangkatan, Mayumi segera mengetik laporan ke atasannya panitia inti. Saat mencari angkutan untuk pulang, pihak panitia mengirim pesan padanya.
[Terima kasih atas kerja kerasnya. Manager Mamoru-san memintaku agar menyampaikan bahwa mereka mengirimkan sedikit tip ke rekeningmu. Mereka bilang sangat menyenangkan bekerja bersamamu.]
"Tunggu dulu tip? Rekening? Dari mana mereka tahu nomor rekeningku?"
Mayumi segera membuka akun m-bankingnya. Sebuah nilai fantastis tiba-tiba mendarat di saldo atmnya. Nama pengirimnya juga menggunakan kanji Rikimaru.
"Astaga, satu, dua, tiga, kenapa banyak sekali nolnya di belakang. Apa-apaan ini?! Mamoru-san!"