Bab 2

Malam itu, setelah acara selesai, Yara merasa lega bisa keluar dari ballroom tanpa harus bertemu Arkhan lagi. Ia sudah cukup stres dengan acara formal yang penuh aturan itu. Ia hanya ingin pulang, tidur, dan mungkin ngemil cokelat di atas kasur sambil nonton drama Korea. Tapi takdir berkata lain.

Saat ia melangkah menuju parkiran, sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depannya. Kaca jendela mobil itu turun perlahan, dan wajah Arkhan, dengan tatapan tajam yang khas, muncul dari baliknya.

"Masuk," kata pria itu singkat.

Yara mengerutkan kening, bingung. "Hah? Masuk ke mana? Aku nggak pesan taksi online, deh."

Arkhan menghela napas. Tatapannya tidak menunjukkan kesabaran sedikit pun. "Aku tidak suka mengulangi perintah dua kali. Masuk sekarang, atau aku yang menarikmu masuk."

Yara mendadak panik. Ia mundur selangkah, lalu mencoba tertawa untuk mencairkan suasana. "Hehe, Arkhan, aku tahu kamu serius banget orangnya, tapi bercanda dikit dong. Lagian aku bawa motor, aku bisa pulang sendiri."

Arkhan tidak bergeming. Rahangnya mengeras. "Lima detik."

"Hah?"

"Lima detik. Kalau kamu nggak masuk, aku yang turun dan membawamu masuk."

Yara menatap Arkhan dengan pandangan setengah takut, setengah kesal. Pria ini benar-benar tidak bercanda. Tapi ia juga tipe yang tidak mau kalah begitu saja.

"Dengar, tuan Mafia. Aku ini bukan salah satu anak buahmu, oke? Jadi-"

Arkhan membuka pintu mobilnya, keluar, dan berjalan ke arahnya dengan langkah besar. Yara menelan ludah. Ia tahu Arkhan tidak main-main. Sebelum pria itu sempat sampai di depannya, ia buru-buru mengangkat tangan.

"Oke, oke! Aku masuk! Jangan sentuh aku! Rambutku baru dikeramas!"

Arkhan berhenti, menatapnya sejenak dengan ekspresi datar, lalu kembali ke mobil. Yara menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian, dan akhirnya masuk ke dalam mobil itu.

"Happy?" omelnya sambil menyandarkan tubuh ke jok.

Arkhan tidak menjawab. Ia hanya memberi tanda pada sopir untuk menjalankan mobil. Yara mendengus, merasa sangat tidak dihargai.

"Bisa nggak sih kamu jelasin dulu kenapa aku harus ikut kamu? Aku kan punya hak untuk tahu apa yang terjadi. Kita ini suami-istri, bukan bos sama anak buah, ngerti?"

Arkhan menatapnya sekilas. "Kamu bikin kekacauan malam ini."

Yara melongo. "Kekacauan? Kekacauan apa? Aku cuma diam aja di pojokan, nunggu waktu pulang. Apa itu termasuk kekacauan buat kamu?"

"Kamu menumpahkan wine ke baju salah satu klien pentingku."

"Itu bukan salahku!" Yara langsung membela diri. "Dia yang jalan terlalu dekat ke arahku! Dan, lagian, siapa sih yang taruh meja wine di tengah ruangan kayak gitu? Itu kan bahaya buat orang ceroboh sepertiku!"

Arkhan memijat keningnya, tanda ia mulai kehilangan kesabaran. "Kamu bahkan tidak meminta maaf padanya. Kamu malah tertawa."

Yara tersentak. "Hei, aku nggak sengaja ketawa, oke? Aku gugup. Kalau aku gugup, aku memang suka ketawa. Itu reflek!"

Arkhan menatapnya tajam, tapi kali ini ada sedikit kelelahan di matanya. "Yara, kamu tidak bisa terus seperti ini. Dunia yang aku jalani bukan tempat untuk orang seperti kamu. Kalau kamu terus bertingkah seperti tadi, kamu akan membuat masalah besar."

Yara mengernyit. "Masalah besar? Jadi, sekarang aku ini masalah buat kamu?"

Arkhan menghela napas panjang, menahan diri untuk tidak mengeluarkan komentar tajam. "Bukan itu maksudku."

"Kalau bukan itu, terus apa? Kamu malu punya istri kayak aku? Kamu lebih suka kalau aku diem aja, tunduk sama kamu, kayak patung?"

Arkhan tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah mencoba mengabaikan semua protes Yara. Tapi sikap diamnya justru membuat Yara semakin kesal.

"Kamu tahu nggak, Arkhan?" Yara mulai berbicara dengan suara yang lebih tinggi. "Aku ini nggak pernah minta untuk masuk ke dunia kamu. Kamu yang bawa aku ke sini. Jadi, kalau kamu nggak suka sama aku, ya salahkan dirimu sendiri!"

Arkhan tetap diam. Tapi rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa ia sedang menahan diri dengan sangat keras untuk tidak membalas.

Yara mendengus. Ia menyilangkan tangan di dada, memalingkan wajah ke jendela. "Pria. Selalu merasa benar. Selalu merasa paling tahu segalanya."

Mobil melaju dalam keheningan yang canggung selama beberapa menit. Yara mencoba menyibukkan diri dengan memandangi lampu jalan yang berkelap-kelip. Tapi rasa penasarannya akhirnya mengalahkan rasa kesalnya.

"Jadi, kita mau ke mana?" tanyanya akhirnya.

"Ke markas," jawab Arkhan singkat.

Yara menoleh, kaget. "Markas? Serius? Kamu mau bawa aku ke sarang Mafia? Kamu ini beneran nggak punya otak atau gimana sih?"

Arkhan menatapnya tajam. "Jaga ucapanmu."

"Jaga ucapan? Aku? Oh, maaf, Tuan Mafia. Aku lupa kalau kamu ini raja besar yang nggak boleh disentuh harga dirinya."

Arkhan memejamkan mata sebentar, mencoba menenangkan diri. "Aku membawamu ke markas karena aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Setelah kejadian tadi, ada kemungkinan rivalku akan mencoba mendekatimu."

Yara terdiam. Ia tidak menyangka alasan Arkhan ternyata lebih serius dari dugaannya.

"Rival?" tanyanya pelan.

Arkhan mengangguk. "Damar. Dia mungkin akan mencoba memanfaatkanmu untuk menyerangku. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

Yara menelan ludah. Nama Damar sudah tidak asing lagi baginya. Pria itu adalah mantannya, seseorang yang pernah ia pikir ia cintai, sebelum ia tahu siapa sebenarnya pria itu.

"Tapi..." Yara mencoba mencari alasan. "Bukannya aku lebih aman kalau aku jauh dari kamu? Kalau aku ke markasmu, bukannya itu malah membuat aku jadi target yang lebih mudah?"

Arkhan menatapnya dengan tatapan dingin. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu. Selama kamu ada di dekatku, kamu aman."

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Yara terdiam. Meskipun ia kesal, ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Arkhan benar-benar serius melindunginya. Tapi, di sisi lain, ia juga tidak tahan dengan sikap pria itu yang selalu merasa tahu yang terbaik.

"Kalau aku aman di dekatmu, kenapa aku masih merasa seperti anak kecil yang terus dimarahi?" gumam Yara pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Arkhan tidak menjawab. Ia hanya menatapnya sebentar, lalu kembali memalingkan wajah. Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan besar dengan penjagaan ketat. Yara menatapnya dengan mata melebar.

"Ini markasmu?" tanyanya.

Arkhan mengangguk. "Masuk."

Yara menghela napas panjang. "Baiklah, Tuan Mafia. Aku ikut. Tapi kalau aku bosan, aku nggak segan-segan kabur, ya."

Arkhan hanya menggelengkan kepala sambil berjalan masuk. Yara mengikutinya, meskipun hatinya masih penuh dengan keraguan.

♡ ♡ ♡

Di dalam markas, suasananya jauh lebih tegang daripada yang ia bayangkan. Semua orang menatap Arkhan dengan hormat, tapi juga dengan rasa takut. Yara merasa seperti ikan kecil yang dilempar ke kolam penuh hiu.

"Pak Arkhan," salah satu anak buah Arkhan mendekat, memberi laporan. "Ada kabar tentang Damar. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu."

Arkhan mengangguk. "Kita bicarakan nanti. Pastikan keamanan di sekitar markas ditingkatkan."

Anak buah itu mengangguk, lalu pergi. Yara menatap Arkhan dengan kening berkerut.

"Damar lagi?" tanyanya. "Dia beneran nggak punya kerjaan lain selain bikin hidup orang lain susah?"

Arkhan tidak menjawab. Ia hanya berjalan ke ruang kerjanya, meninggalkan Yara yang masih berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi bingung.

"Eh, aku harus ikut ke mana?" tanyanya, tapi Arkhan sudah menghilang di balik pintu.

Salah satu anak buah Arkhan mendekat, seorang pria muda dengan wajah yang cukup ramah. "Bu Yara, silakan ikut saya. Saya tunjukkan tempat Anda bisa beristirahat."

Yara mengangguk pelan, mengikuti pria itu. Tapi sebelum ia sempat melangkah jauh, ia mendengar suara Rendra dari belakang.

"Yara, jangan bikin kekacauan di sini, ya. Kita semua tahu kamu spesialis bikin rusuh."

Bab 3

"Yara, jangan bikin kekacauan di sini, ya. Kita semua tahu kamu spesialis bikin rusuh."

Rendra melontarkan kalimat itu dengan nada setengah bercanda, tapi matanya serius. Yara yang tadinya sudah bersiap melangkah maju, tiba-tiba berhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Rendra dengan alis terangkat.

"Mas Rendra, maksudnya apa, sih? Aku kan cuma mau istirahat, ya kali aku bikin rusuh sambil tidur," jawab Yara dengan ekspresi polos, meskipun dalam hatinya ia mengakui bahwa reputasinya sebagai "ratu kekacauan" memang sudah terlalu melekat.

Rendra hanya menghela napas panjang sambil menatap Arkhan yang berdiri tak jauh dari mereka. "Ayang"-ya, hanya Yara yang berani memanggil bos mafia itu dengan panggilan menggelikan-"Tolong, deh. Kasih tahu istri kamu buat nggak bikin masalah di sini. Tempat ini serius banget, bukan taman bermain."

Arkhan menatap Rendra sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke Yara. Wajahnya tetap dingin, seperti biasa, tapi ada sedikit kerutan di keningnya. Ia tahu, benar-benar tahu, bahwa Yara tidak pernah sengaja bikin masalah. Tapi hasil akhirnya? Tetap saja kekacauan.

"Yara," Arkhan akhirnya membuka suara. "Dengar Rendra. Jangan macam-macam. Kita di sini bukan untuk main-main."

Yara melipat tangan di depan dada, matanya menatap Arkhan dengan tatapan penuh protes. "Aku tuh nggak pernah niat bikin masalah, Ayang. Kamu tuh kayak nggak percaya sama aku aja."

"Bukan nggak percaya," gumam Arkhan sambil mengusap pelipisnya. "Aku cuma tahu kamu terlalu kreatif."

Yara tersenyum kecil mendengar kata "kreatif". Ia tahu itu adalah cara halus Arkhan untuk menyebutnya "koplak". Tapi sebelum ia sempat membalas, pria muda yang tadi menawarkan untuk mengantar Yara kembali angkat bicara, mencoba mencairkan suasana.

"Bu Yara, ayo, saya antar ke ruang istirahat. Tempatnya nyaman kok, dan jauh dari keramaian," katanya dengan senyum ramah.

Yara mengangguk, akhirnya memutuskan untuk mengikuti pria itu. Tapi sebelum melangkah, ia sempat melirik Rendra dan Arkhan. "Aku nggak akan bikin masalah, kok. Percaya, ya."

Rendra hanya mendengus kecil, sementara Arkhan tidak menjawab. Hanya tatapan tajamnya yang mengikuti punggung kecil Yara saat ia berjalan menjauh.

♡ ♡ ♡

Begitu sampai di ruang istirahat, Yara langsung mendesah lega. Ruangan itu cukup luas, dengan sofa empuk di sudut dan jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Matahari sore menerobos masuk, menciptakan suasana yang hangat dan nyaman.

"Ini tempatnya, Bu Yara," kata pria muda tadi. "Kalau ada yang Ibu butuhkan, tinggal panggil saja. Saya akan berjaga di luar."

"Udah, jangan terlalu formal gitu. Panggil aja aku Yara," jawab Yara sambil tersenyum manis. "Eh, nama kamu siapa?"

"Namaku Bayu, Bu-eh, Mbak Yara."

"Bayu, ya? Oke. Makasih banyak, Bayu. Kamu baik banget. Kalau aku butuh sesuatu, aku panggil, ya."

Bayu mengangguk, lalu keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, Yara menghempaskan tubuhnya ke sofa. Rasanya nyaman sekali, tapi pikirannya tidak bisa diam. Ia mulai memikirkan Arkhan, Rendra, dan semua orang di rumah besar ini. Dunia mereka terasa begitu jauh dari hidupnya yang dulu. Dunia mafia-dunia yang penuh bahaya, intrik, dan... orang-orang serius.

"Kenapa sih semua orang di sini tegang banget?" gumam Yara sambil memainkan ujung rambutnya. "Kalau aku nggak ada, mereka pasti nggak pernah ketawa."

Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah cangkir di meja kecil di depannya. Cangkir itu berisi kopi hitam, dan aromanya menggoda. Yara tidak tahu kopi itu milik siapa, tapi ia tetap saja mengambilnya. Ia menyeruput sedikit, lalu langsung meringis.

"Ya ampun, pahit banget! Siapa yang minum ini? Nggak ada gulanya, apa?" keluhnya sambil meletakkan cangkir itu kembali.

Tapi karena penasaran, ia mengambil cangkir itu lagi. Kali ini ia meminumnya sambil menahan napas. Entah kenapa, meskipun pahit, ada sesuatu yang membuatnya ingin mencoba lagi.

Saat ia sedang asyik dengan eksperimen "kopi pahit", tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Bayu masuk dengan wajah panik.

"Maaf, Mbak Yara, tapi-"

Bayu belum selesai bicara ketika terdengar suara ledakan kecil dari arah taman. Yara langsung melompat dari sofa. "Astaga! Apa itu?"

Bayu tampak ragu untuk menjawab, tapi akhirnya ia berkata, "Sepertinya ada masalah kecil di luar. Mbak Yara, mohon tetap di sini. Saya akan memeriksa."

Namun, Yara tidak peduli dengan peringatan itu. Rasa penasarannya sudah menguasai dirinya. "Masalah kecil? Apa maksudnya? Aku ikut, ya!"

"Mbak Yara, ini bukan tempat untuk-"

Terlambat. Yara sudah berjalan cepat keluar ruangan, meninggalkan Bayu yang hanya bisa menghela napas pasrah.

♡ ♡ ♡

Ketika Yara sampai di taman belakang, ia langsung melihat sumber kekacauan. Sebuah mobil hitam tampak terbakar di salah satu sudut, dengan asap tebal membumbung ke udara. Beberapa anak buah Arkhan sibuk memadamkan api, sementara yang lain berjaga dengan senjata di tangan.

"Wah, seru banget!" seru Yara tanpa sadar, matanya berbinar-binar.

Rendra, yang sedang memberikan instruksi kepada anak buahnya, langsung menoleh ketika mendengar suara itu. Wajahnya seketika berubah kesal. "Yara! Aku bilang jangan bikin kekacauan, bukan malah datang ke sini!"

Yara mengangkat tangan, mencoba terlihat tak bersalah. "Aku nggak bikin apa-apa, kok. Aku cuma penasaran."

"Penasaran itu sumber masalah!" balas Rendra. Ia berjalan mendekati Yara dengan langkah cepat. "Ini tempat berbahaya. Kamu nggak boleh ada di sini."

"Tapi aku cuma mau lihat. Lagian, aku kan istri bos besar. Masa aku nggak boleh tahu apa yang terjadi di wilayah suamiku?" jawab Yara dengan nada manja.

Rendra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu berdebat dengan Yara sama sekali tidak ada gunanya. "Sudah, balik ke dalam sekarang, sebelum Arkhan datang dan melihat kamu di sini."

"Kenapa? Kalau Arkhan lihat, emangnya kenapa?" Yara bertanya, tapi sebelum Rendra sempat menjawab, suara familiar membuatnya terdiam.

"Yara."

Arkhan muncul dari balik kerumunan, auranya begitu dingin dan mengintimidasi. Para anak buahnya langsung memberi jalan, sementara Yara hanya bisa menelan ludah.

"Aku bilang apa tadi?" tanya Arkhan, suaranya pelan tapi penuh tekanan.

Yara mencoba tersenyum, meskipun jelas ia gugup. "Aku cuma mau lihat, Ayang. Nggak apa-apa, kan?"

Arkhan tidak menjawab. Ia hanya menatap Yara dengan mata tajam, membuat wanita itu merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang mencuri kue.

"Aku udah bilang jangan macam-macam," kata Arkhan akhirnya. "Tapi kamu selalu nggak bisa diam."

"Aku nggak macam-macam kok. Serius," balas Yara, mencoba membela diri.

Arkhan menghela napas panjang, lalu mengangkat tangannya. "Rendra, bawa dia ke dalam. Jangan biarkan dia keluar lagi sampai semuanya selesai."

"Apa? Ayang, aku nggak mau dikurung di dalam!" protes Yara.

Namun, Arkhan tidak menggubrisnya. Ia sudah berbalik, kembali ke arah mobil yang terbakar. Rendra, meskipun merasa sedikit kasihan pada Yara, tetap menjalankan perintah bosnya.

"Yara, ayo," katanya, mencoba terdengar ramah.

"Tapi aku-"

"Ayo," potong Rendra, kali ini nada suaranya lebih tegas.

Dengan berat hati, Yara akhirnya menurut. Tapi dalam hatinya, ia merasa tidak adil. Ia hanya ingin membantu, atau setidaknya tahu apa yang sedang terjadi. Apa salahnya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED