"Dindaa kenapa kamu disitu, sini dong keluar, Mas Arya ingin berkenalan denganmu" panggil Siska.
Perlahan dinda keluar dari balik pintu ruang tengah itu, Dinda hanya menundukkan wajahnya tak berani menatap Arya dan Siska, tangannya dingin, dahinya berkeringat, bibirnya mengatup dengan kuat menahan rasa gugup yang ada pada dirinya.
Namanya Dinda Kinara, usianya 17 tahun, kulitnya putih tubuhnya mungil rambutnya ikal panjang setengah punggung.
Ia langsung mencium punggung tangan Siska dan Arya, lalu Dinda kembali duduk bersama Mbah Tarmin.
"Itu Mas gadis yang akan kamu nikahi nanti, namanya Dinda" ucap Siska sambil menunjuk ke arah Dinda.
"Dinda Ini namanya Mas Arya" ucap Siska memperkenalkan Arya kepada Dinda.
Dinda hanya tersenyum menatap Arya, meskipun ia merasa kaku, tapi Ia berusaha untuk santai.
Sedang Arya hanya menatap sebentar Dinda lalu memalingkan wajahnya.
Entah mengapa hati Arya berkecamuk, Ia menggerutuk giginya karena merasa geram dengan permintaan Istrinya itu, karena tak sanggup menahan emosinya, seketika Arya langsung menarik tangan Siska lalu mengajaknya keluar.
"Siska kamu yakin akan menikahkan aku dengan gadis itu? Dia itu kan masih kecil?" tanya Arya serius
Mendengar pertanyaan Arya, Siska hanya tersenyum lalu Ia menjelaskan tentang Dinda.
"Sayang, Dinda itu sudah berumur 17 tahun, cuma badannya aja yang kecil dan kurasa usia segitu sudah cukup untuk menikah" jelas Siska sambil memegang tangan Arya.
"Tapi aku tidak mencintainya Siska"
"Itu cuma awalnya sayang, lama lama juga kamu akan bisa mencintainya juga mas"
Mendengar kata kata Siska, Arya langsung emosi dan memegang kedua lengan Siska.
"Tatap aku Siska, sampai kapanpun cintaku hanya untukmu, dan aku tidak bisa menikahinya" ucap Arya dengan nada emosi menatap tajam Siska.
"Kalau begitu kamu tinggal pilih Mas, kamu akan menikahi Dinda atau kamu ceraikan aku Mas!" ucap Siska melawan Arya.
Seketika Arya langsung melepas genggamannya terhadap Siska. Ia terdiam sejenak ,menyapu wajahnya yang berkeringat sampai rambut dengan kedua tangannya.
"Pikirkanlah itu Mas, waktumu tidak banyak" ucap Siska berlalu masuk kedalam rumah Mbah Tarmin.
Sedangkan Dinda dan Mbah Tarmin menunggu didalam ruang tamu, Dinda merasa gugup yang luar biasa, berulang kali Ia mengeluhkan keresahannya kepada Mbah Tarmin.
"Mbah, Dinda takut" keluh Dinda memegang tangan Mbah Tarmin.
"Sabar Nduk, mereka orang baik, pasti mereka tidak akan menyakitimu" ucap Mbah Tarmin menenangkan Dinda.
Tiba tiba Siska masuk kedalam rumah lalu kembali duduk di tempat yang ia duduki tadi, sejenak Siska menghela nafas panjang. lalu melanjutkan pembicaraannya bersama Dinda dan Mbah Tarmin.
Lalu menyusul Arya Masuk kedalam rumah dan duduk di samping Siska.
"Jadi bagaimana Dinda apa kamu sudah siap?" Tanya Siska meyakinkan Dinda.
Seketika Dinda langsung menatap Siska, dirinya tak kuasa menjawabnya tapi apa boleh buat, Ia sudah terlanjur membuat perjanjian denga Siska.
"Ii.. Iya Bu, Dinda Siap" jawab Dinda terbata bata.
"Mbah Tarmin setuju kan kalau Dinda menikah dengan suamiku?" tanya Siska menatap Mbah Tarmin.
"Kalau Mbah sih setuju aja, tapi bagaimana denganmu Nak Siska, apa kamu rela membagi suamimu?" ucap Mbah Tarmin sembari meyakinkan Siska.
Mendengar pertanyaan Mbah Tarmin, membuat Siska terkejut, Siska dan Arya saling menatap satu sama lain.
"Iya Mbah saya sudah siap, bahkan mas Arya juga sudah siap menikahi Dinda, ya kan Mas?" ucap Dinda tersenyum sembari memegang tangan Arya.
"Iya Mbah saya siap" ucap Arya terpaksa.
"Baiklah kalau semua sudah setuju, Mbah tinggal mengikuti saja, jadi kapan kira kira pernikahannya akan dilangsungkan?" Tanya Mbah Tarmin.
"Secepatnya Mbah, kalau bisa besok Mas Arya akan menikahi Dinda" Jawab Siska dengan cepat.
Sedang Arya hanya tercengang mendengar pernyataan Siska.
"Apa? besok ? bagaimana bisa aku melakukannya secepat itu" gumam Arya bertanya tanya dalam hati.
"Kenapa secepat itu Siska? kenapa kamu tak memberi kita waktu untuk menyiapkan semuanya?" Protes Arya.
"Tidak bisa Mas, kita tidak punya waktu, kamu hanya akan menikah Siri dengan Dinda jadi kita lakukan ini secara Privasi"
"Tapi aku kan besok harus masuk kantor, dan aku pun belum sempat minta cuti" ucap Arya mencari alasan.
"Kamu tenang aja Mas, tadi aku sudah menyuruh pak Joko untuk mengantarkan surat permohonan cuti mu selama 3 hari, dan kita akan tetap berada disini sampai pernikahanmu dengan Dinda selesai"
"Apa? kenapa kamu tidak bilang dulu kepadaku?"
"Kelamaan Mas, pokoknya ikuti saja perintahku"
"Terus kita selama tinggal disini mau pakai apa sayang? kita kan gak bawa baju"
"Baju ada dimobil, saya sudah siapkan dari tadi pagi sebelum kamu bangun mas"
"Jadi kita akan tinggal disini sampai menunggu besok"
"Tidak sayang, aku sudah memesan kamar penginapan dekat sini kok, jadi kamu tak perlu khawatir mas"
Arya hanya menghela nafasnya menatap Siska, ia tak tau harus berbicara apa lagi, ia bingung dan hanya bisa menuruti semua keinginan Siska,
Setelah mengobrol yang cukup lama, Siska dan Arya pun pamit pergi ke penginapan kepada Mbah Tarmin dan Dinda, karena perjalanan yang cukup jauh membuat Siska merasa letih, belum lagi harus menguras emosi ketika beradu dengan Arya, membuat Tenaganya benar benar terkuras.
****
Semilir angin sejuk menghempas wajah Arya dari balik jendela kamar penginapan, Ia berdiri melihat hijaunya pemandangan desa tempat Dinda tinggal, pikiran kacau, hatinya remuk mengingat perlakuan Siska kepadanya, bagaimana bisa, Siska sekuat itu rela membagikan cintanya dengan wanita lain, Arya benar benar tak mengerti dengan semua ini, bagaimana bisa Siska bisa merencanakan ini semua dengan baik.
"Mas" Panggil Siska menghampiri Arya.
Arya yang sedang melamun, tiba tiba terkejut mendengar panggilan Istrinya,
"Iya sayang" sahut Arya menatap istrinya yang berada dihadapannya.
Siska langsung mengambil tangan Arya, ditengadahkan telapak tangan Arya, lalu Ia menaruh sebuah kotak berwarna merah yang berisikan cincin emas ditangan Arya.
"Apa ini?"
"Ini cincin aku belikan untuk Mas kawin Dinda"
Melihat kotak itu, Arya bertambah kesal, tapi Ia tak bisa meluapkan emosinya kepada Siska, Arya langsung meremas kotak itu, lalu ia menarik bahu Siska dan dihempaskan ke dadanya agar Siska jatuh dipelukannya.
Arya memeluk erat Siska lalu membisikkan sesuatu di telinga Siska.
"Berjanjilah kepadaku Siska, bahwa setelah pernikahan ini selesai, cintamu tak akan berubah kepadaku" ucap Arya.
"Iya Mas, aku janji" ucap Siska lirih, Ia berusaha menyembunyikan kesedihannya dibalik dada Arya, sebenarnya Siska juga tak rela cintanya dibagi, tapi mau bagaimana lagi, Ia tak punya pilihan lain selain harus menikahkan Arya dengan Dinda demi mendapatkan seorang anak.
***
Dinda hanya duduk termangu diteras depan rumahnya, Ia melihat teman teman sebayanya yang baru pulang sekolah, andai Ia orang yang mampu, mungkin Ia sudah memakai seragam putih abu abu, Namun Impiannya harus Ia kubur dalam dalam semenjak Ia lulus SD, karena keterbatasan ekonomi, Ia tak bisa meneruskan pendidikannya karena harus menjadi tulang punggung keluarga.
Mulai besok Ia akan melepas masa lajangnya, menikah dengan seorang pria yang lebih dewasa darinya, yang tidak Ia cintai, pikiran Dinda benar benar kacau, bulir bulir bening jatuh membasahi pipinya.
Ia tak memiliki pilihan lain, karena Ia harus membantu nenek yang Ia sayangi yang sudah membesarkannya hingga saat ini, mungkin dengan cara ini Ia bisa membalas budi Mbah Tarmin.
"Nduk, ngapain duduk melamun disitu?" sapa Mbah Tarmin membuyarkan lamunan Dinda, Mbah langsung menghampiri lalu duduk di samping Dinda.
"Eh Mbah, Dinda takut"
"Sabar Nduk, tenangkan pikiranmu, Mbah yakin kamu bisa melewati ini semua" ujar Mbah Tarmin menguatkan Dinda.
"Tapi Mbah, Dinda takut tinggalin Mbah sama Dandi disini? Nanti yang akan merawat Mbah sama Dandi siapa?" Tanya Dinda merasa risau.
"Kamu gak perlu khawatir Nduk, Dandi kan sudah besar, pasti dia bisa jagain Mbah" ucap mbah Tarmin.
"Tapi Mbah, kalau dilihat lihat Pak Arya itu tampan juga sih, tapi keliatannya galak"
"hehehe, itu hanya perasaan mu Nduk, Mbah yakin Nak Arya itu orang yang baik" ucap Mbah Tarmin merasa lucu mendengar ucapan Dinda.
"Hmm gitu yah Mbah, ya udah deh Dinda percaya aja sama kata Mbah, mudah mudahan Pak Arya bisa menerima Dinda apa adanya"
"Aamiin, Insya Allah nduk" ucap Mbah Tarmin mengaminkan doa Dinda.
tiba tiba Dinda langsung beranjak dari tempat duduk lalu meninggalkan Mbah Tarmin.
"Loh Nduk, mau kemana?"Spontan Mbah Tarmin langsung memanggil Dinda
"Dinda mau mandi dulu Mbah, soalnya sudah sore, bentar lagi kan sholat Magrib Mbah"
"Oh Nggeh Nduk, Jangan lupa ngaji yah Nduk, biar hatimu tenang," ucap Mbah Tarmin menasihati.
"Iya Mbah," ucap Dinda yang berlalu masuk kedalam rumah.
Arya sudah siap dengan mengenakan kemeja putih ,celana hitam ,bersama dasinya yang bergaris horizontal berwarna hitam biru .
Arya kembali menatap dirinya dibalik cermin kamar penginapan, Ia tampak begitu cemas menghadapi semua ini ,Karena untuk kedua kalinya Ia akan mengikrarkan janji suci didepan penghulu, bersama wanita yang tidak ia cintai dan tentu saja paksaan dari istri tercintanya itu. Berulang kali Arya meyakinkan dirinya, menghilangkan segala kecemasannya yang ada pada dirinya, tapi tetap saja tak bisa.
"Arrrghh, ini benar benar konyol, bagaimana bisa aku akan menikah dengan seorang anak kecil" gerutu Arya dalam hati.
Sementara Siska tampak sibuk sejak pagi hari tadi menyiapkan seserahan untuk dibawakan kepada keluarga Dinda, Ia hanya berjalan kesana kemari menelfon seseorang tanpa mempedulikan suaminya yang dilanda kecemasan luar biasa.
"Siska" panggil Arya.
"Iya Mas" sahut Siska menghentikan langkahnya.
"Hmm, Itu siapa namanya yang anak kecil itu?" tanya Arya.
"Oh Dinda"
"Hmm Iya iya, nama lengkapnya siapa? soalnya aku harus menghapal namanya jika Ijab kabul nanti" ucap Arya sambil menghela napasnya dengan panjang.
"Oh iya maaf aku lupa mas, seharusnya aku sudah memberitahukan ini kepadamu sejak semalam" ucap Siska menepuk jidatnya. "Namanya Dinda Kinara Binti Sudarsono Mas" lanjut Siska menyebut nama lengkap Dinda.
"Apa? Dinda Kirana?" Tanya Arya merasa pendengarannya kurang jelas.
"Bukan Mas, Dinda Kinara" jelas Siska lagi.
"Oh ya ya"
'Macam nama artis saja, hah' batin
Arya dalam merasa heran.
"Mas kamu sudah Siap?" Tanya Siska memastikan.
"Hmmm"
Arya hanya bergumam sambil menganggukan kepalanya lalu memutar tubuhnya kembali ke arah cermin. Tiba-tiba Siska memeluk Arya dari arah belakang, Ia benar-benar merasakan kesedihan yang mendalam, Sehingga butiran kristal dimatanya jatuh membasahi pipinya.
Arya yang sedang berdiri, turut merasakan kesedihan istrinya itu, seketika Ia mengerjapkan matanya lalu berbalik arah menatap Istrinya yang sudah 11 tahun Ia kenal itu.
"Sayang kenapa kamu sedih? bukankah ini kemauanmu?" tanya Arya membelai kepala Siska yang dibalut hijab pashmina berwarna kuning keemasan itu.
Siska langsung mengusap Air matanya, lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah Arya.
"Aku, tidak sedih Mas, Aku hanya merasakan terharu bahagia karena kamu akan menikah" ucap Siska berusaha menutupi kesedihannya, walau ada rasa sakit menggerogoti lehernya.
"Sudahlah Siska, kamu tak perlu berbohong, aku tahu kamu sedang sedih, aku sudah lama mengenalmu ,jadi aku tahu betul sifat kamu yang sebenarnya"
Mendengar ucapan Arya, Siska langsung menundukkan wajahnya, Ia langsung melepaskan pelukannya kepada Arya.
"Sudahlah Mas, nanti kita bicarakan itu, bersiaplah karena penghulu akan segera datang di rumah Dinda" ucap Siska berusaha mengalihkan suasana dengan beranjak pergi dari Arya, namun seketika Arya menahan tangan Siska,
"Apa kamu sudah yakin Siska, ?" tanya Arya meyakinkan dengan keputusan Siska.
"kalau kamu tidak yakin kamu bisa membatalkannya pernikahan ini sekarang" lanjut Arya berbicara.
Siska terdiam sejenak, Ia berusaha menahan Air matanya agar tidak tumpah, dengan pelan Siska menarik napasnya lalu berbalik arah menatap Arya.
"Mas kamu tahu kan aku orangnya keras kepala, jadi sekali aku memutuskan, aku tak akan merubahnya" ucap Siska melepaskan tangannya dari genggaman Arya, dan berlalu pergi meninggalkan Arya.
Saat Siska pergi, Arya mengepalkan jari-jemarinya karena menahan emosinya, ingin rasanya ia memukul cermin itu hingga hancur karena perbuatan istrinya itu.
Siska mulai berjalan keluar dari Penginapan dengan membawa sebuah seserahan kecil untuk dihadiahkan kepada Dinda, sementara Arya berada dibelakang menyusul Siska keluar dari penginapan, Arya segera memencet tombol yang berada di kunci mobil, agar Siska bisa segera masuk mobil, tampa harus menunggunya,
Arya pun ikut masuk ke mobil, lalu mulai menyetir, mereka pun melesat dengan cepat menuju rumah calon istri keduanya itu.
Sesampainya dirumah Mbah Tarmin, Siska mulai menuruni mobil dengan membawa seserahan , disana sudah terlihat beberapa orang sedang menunggu, termasuk pak penghulu, perlahan Siska dan Arya masuk ke dalam rumah, Mbah Tarmin menyambut mereka dengan hangat dan mempersilakan mereka masuk. Arya mulai duduk dilantai kayu beralaskan tikar yang mulai usang menghadap pak penghulu, bersiap mengikrarkan janji suci itu untuk kedua kalinya.
"Mbah, Dinda mana?" tanya Siska setelah memberikan seserahan itu kepada Mbah Tarmin.
"Dinda ada di dalam kamarnya nak"
"Boleh saya masuk Mbah?"
"Boleh sekali nak, Silahkan"
Setelah Mbah Tarmin mengizinkan, Siska langsung beranjak lalu masuk kedalam menuju kamar Dinda yang berada didepan.
"Dindaa" Panggil Siska dari ambang pintu kamar Dinda.
"Iya Bu Siska" sahut Dinda yang sedang duduk ditepi ranjang, ia segera menghapus air matanya agar Siska tak curiga bahwa ia sedang bersedih.
Dinda sudah siap dengan busana kebaya putih bersama hijab yang terbalut menutupi kepalanya, wajahnya memancarkan cahaya, karena Riasan wajah yang sangat natural hingga terlihat cantik, dan ini semua karena Siska yang telah mengundang MUA (Make Up Artist) terbaik dikotanya.
Siska pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar menghampiri Dinda.
"Dinda kamu cantik banget" ucap Siska pangling melihat wajah Dinda yang begitu cantik.
Dinda hanya tersenyum menatap Siska, meski didalam hatinya dirundung rasa gugup karena akan menikah dengan orang yang baru dikenalnya itu.
"Bu Siska, Dinda deg-degan banget" kata Dinda sambil meremas jari-jemarinya
"Kamu tenang saja Dinda, Memang begitu kalau baru pertama menikah ,pasti akan merasakan yang namanya deg-degan Sih, sama seperti Mbak juga begitu waktu awal menikah dengan Mas Arya" ucap Siska tersenyum berusaha menenangkan Dinda.
Berulang kali Dinda menarik napasnya, lalu menghembuskannya dengan pelan agar rasa gugupnya berkurang.
"Nak Siska, Dinda, acaranya sudah mau mulai, ayo keluar" panggil Mbah Tarmin dari balik pintu kamar Dinda.
"Oh iya Mbah, kami akan segera keluar" sahut Siska.
"Ayo Dinda kita segera keluar, acaranya akan dimulai"
"Iya Bu Siska" sahut Dinda beranjak dari duduknya.
"Eh iya, mulai sekarang kamu gak usah panggil saya Ibu, tapi panggil saya mbak atau kakak saja yah, begitu juga dengan Mas Arya"
"Hmm Iya, jadi saya panggil Mbak Siska saja yah, biar enak" ucap Dinda merasa segan.
"Nah gitu donk, Ayo kita keluar," ajak Siska seraya memegang tangan Dinda.
Sampai diruang tamu, semua mata tertuju melihat kecantikan Dinda, SementaraArya hanya menatap Dinda sebentar lalu menundukkan wajahnya, meskipun Dinda terlihat lebih cantik dan muda dari Istrinya, tapi itu semua tidak akan memudarkan rasa cinta Arya kepada istri pertamanya itu.
Perlahan Siska mengantarkan Dinda duduk disamping Arya, jantungnya mulai berdegub kencang karena rasa cemburu mulai membakar hatinya, namun Ia berusaha tegar, menghilangkan segala keegoisan yang ada pada hatinya.
Sementara Arya hanya diam membisu, menahan emosi sambil menghafal nama Dinda, Ia berusaha menjaga sikapnya sebaik mungkin agar Istri tercintanya itu tidak kecewa dengan ucapannya saat ijab kabul nanti.
"Baik semuanya sudah kumpul, jadi acaranya kita mulai saja yah?" tanya pak penghulu ditengah ruang tamu Mbah Tarmin.
"Iya Pak segera dimulai saja" jawab Siska semangat. Seluruh saksi dan Mbah Tarmin hanya menganggukan kepala sebagai tanda setuju.
Pak penghulu pun mulai membacakan doa-doa yang sakral itu, hingga saat yang ditunggu tunggu itu tiba, Pak penghulu mulai memegang tangan Arya lalu menuntun Arya untuk membacakan Ijab kabul.
Mata Siska hanya terbelalak saat menyaksikan semuanya, Dinda hanya meremas jemarinya saat melihat Arya mulai memegang tangan pak penghulu, rasanya ia benar-benar tak percaya bahwa secepat ini ia akan menikah. Hingga pada akhirnya terdengarlah suara itu,
"Saya terima nikahnya Dinda Kinara binti Sudarsono dengan mas kawin cincin seberat dua gram dibayar Tunai" ucap Arya dengan lugas tanpa celah.
"Bagaimana saksi , sah?" tanya Pak penghulu.
"SAH !" Seru semua saksi dan orang-orang yang berada didalam ruangan itu
Deg.
Mendengar seruan orang-orang seketika membuat hati Siska semakin remuk, hancur berkeping-keping, ia tak menyangka dalam satu kalimat sakral itu telah membawanya pada sesuatu kehidupan yang penuh dengan penderitaan nantinya. 'ya Allah kuatkan hati ini, jangan sampai aku pingsan disini,' batin Siska menguatkan dirinya sendiri.
"Alhamdulillahirobbill'alaamiin" ucap pak penghulu sambil membacakan doa selamat untuk pengantin baru.
Setelah selesai penghulu membacakan doa, Arya memasangkan cincin mas kawin dijari manis Dinda, kemudian Dinda mencium punggung tangan Arya yang telah menjadi suami sah nya itu.
Kini semuanya telah terjadi, hari ini Siska harus memulai hidup baru bersama madunya Dinda, dan mulai hari ini juga suami yang ia sayangi dan telah mendampinginya selama 10 tahun pernikahan, harus membagi hati untuk kedua Istrinya.
Dinda menangis, langsung memeluk Siska, seketika tangisan Siska pecah membalas pelukan dari Dinda, beberapa kali ia mengucapkan selamat kepada Dinda, memberikan doa yang terbaik untuk suaminya dan istri barunya itu.
Sementara Arya hanya menundukkan kepalanya sambil mengusap wajahnya, ia berusaha menahan kekecewaannya terhadap Siska, sejujurnya ia tak sanggup melakukan ini semua, namun apa daya rasa cintanya terlalu besar terhadap Siska ,hingga dengan terpaksa Arya harus melakukan pernikahan yang tak pernah ia inginkan.
Setelah melepas kesedihan bersama Siska, Dinda pun menghampiri Mbah Tarmin dan memeluknya dengan erat, sambil meminta restu kepada Mbah yang ia sayangi itu, karena bagi Dinda Mbah Tarmin adalah satu-satunya keluarga sekaligus orang tua yang tersisa dihidupnya.
"Selamat yah Nduk, semoga kamu bahagia bersama suamimu dan Mbakmu" ucap Mbah Tarmin terisak.
"Iya Mbah, Aamiin terima kasih doanya" ucap Dinda terisak dalam dekapan Mbah Tarmin.
***
Usai melangsungkan acara pernikahan, Siska menyuruh Dinda untuk mengemasi barang-barangnya ,karena sore ini mereka akan segera kembali ke Jakarta.
"Mbah, hati hati yah disini, jaga kesehatan" ucap Dinda terisak mengucap pamit kepada Mbah Tarmin.
"Iya Nduk, kamu juga hati-hati dijalan, selalu jaga kesehatan yah Nduk"
"Iya Mbah" jawab Dinda seraya mencium punggung tangan Mbah Tarmin.
Kemudian Dinda berlalu pindah kepada adiknya untuk berpamitan, Ia memeluk Dandi , lalu memberi pesan kepada Dandi adik semata Wayangnya.
"Dandi, jaga mbah baik baik yah, kamu sekolah yang betul-betul, jangan suka kelayapan"
"Iya Mbak, mbak juga jangan lupa ngabarin kami disini yah kalau sudah sampai disana" ucap Dandi.
"Iya dek, Pasti Mbak kabarin"
"Dinda ayo cepetan kita sudah mau jalan" panggil Siska dari dalam mobil.
"Iya Mbak," sahut Dinda menoleh ke arah Siska yang tepat berada dibelakang nya. Dinda pun mulai mengangkat tas yang berisikan pakaiannya, lalu berjalan pelan menuju mobil Arya.
Dari dalam mobil Siska pamit kepada Mbah Tarmin dan Dandi, dan ketika mereka mulai jalan, Dinda dan Siska masih sempat melambaikan tangan kepada Mbah dan Adiknya sampai akhirnya mereka tak terlihat. didalam perjalanan Dinda masih menoleh ke belakang melihat Mbah Tarmin dan Dandi untuk terakhir kalinya.
Dinda hanya bisa menangis sesenggukan harus meninggalkan keluarga yang ia sayangi itu,
"Dinda, kamu kenapa?" tanya Siska.
"Hmm, nggak Mbak, Dinda cuma sedih aja ninggalin mbah sama Dandi, karena selama ini Dinda gak pernah pisah sama mereka Mbak, hiks hiks" ucap Dinda terisak.
"Kamu gak usah khawatir, Mbah Tarmin dan Dandi pasti akan baik-baik saja disana" Siska mengusap bahu Dinda, berusaha menenangkan Dinda.
"Nggih Mbak Siska"
"Siska" Panggil Arya dari kemudi depan memotong pembicaraan Siska dan Dinda.
"Iya Mas" sahut Siska.
"Jadi bagaimana nanti jika Dinda dirumah? nanti apa yang akan kita katakan kepada orang tua kita, jika mereka tanya tentang Dinda?" tanya Arya masih fokus menyetir mobilnya.
"Hmm Iya juga Mas, aku juga belum memikirkan soal itu"
Sejenak Arya menghela napasnya lalu mengatakan sesuatu kepada Siska.
"Bagaimana kalau dia berpura-pura sebagai pembantu kita disana? hanya untuk sementara waktu saja" papar Arya menawarkan idenya.
"Bener juga idemu mas"
"Bagaimana Dinda, kamu mau kan pura pura jadi pembantu kita?" Tanya Siska menoleh kearah Dinda.
"Hmm iya Mbak, saya mau" jawab Dinda mengiyakan pendapat Arya dan Siska.
Mendengar Dinda yang setuju membuat Siska merasa lega dan senang.
"Terima kasih Dinda," ucap Siska tersenyum. Dinda hanya mengangguk membalas senyuman Siska.
Dalam perjalanan Dinda hanya melihat pemandangan lewat jendela mobil, sesekali ia berhitung mobil dijalan agar bisa menghilangkan kebosanannya, hingga akhirnya Ia tertidur pulas.
Setelah menempuh kurang lebih 2 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga, Siska pun menatap Dinda yang tertidur pulas disampingnya itu 'kasihan Dinda, pasti dia kelelahan' batin siska merasa iba.
"Dinda, bangun! kita sudah sampai" panggil Siska mengguncangkan tubuh Dinda. Dinda langsung terjaga dari tidurnya saat mendengar ada yang memanggilnya.
"kenapa Mbak? kita sudah sampai mana?" tanya Dinda kebingungan.
"kita sudah sampai Dinda" ucap Siska.
"Hah, masak Mbak, Alhamdulillah kalau begitu" ucap Dinda merasa lega lalu bersiap turun dari mobil. dan setelah turun dari mobil betapa terkejutnya Dinda melihat rumah mewah yang ada dihadapannya.
"Waah, besar banget rumahnya Mbak? Kayak Istana" ucap Dinda dengan mulut menganga terkesima sambil memegang tas bututnya, melihat tingkah Dinda, membuat Siska merasa lucu dan tertawa.
"Mari Dinda kita masuk" ajak Siska.
"Iya Mbak"
Merekapun masuk bersama-sama kedalam Rumah, namun sampai didepan pintu rumah Dinda mulai membuka sendalnya,
"Eh kenapa itu sendalnya dilepas?" tanya Siska saat menyadari Dinda melepas sendalnya.
"Gak papa Mbak, sendal saya kotor Mbak, takut lantainya kotor" ucap Dinda dengan polos.
"Hahaha, gak papa kok Dinda, dipakai aja" kata Siska terkekeh.
"Tapi Mbak"
"Sudahlah pakai saja" bujuk Siska, Dinda pun kembali mengenakan sendalnya, lalu sama-sama tertawa karena merasa konyol. Mendengar celotehan kedua istrinya didepan rumah membuat Arya kesal,
"Dasar Gadis Kampungaaan!"
Teriakan Arya sontak membuat Dinda dan Siska terkejut. Selesai mengucap kata itu, Arya berlalu pergi meninggalkan Siska dan Dinda yang masih berdiri terpaku didepan rumah.