Berteman sejak kecil, hingga akhirnya berakhir di atas pelaminan dengan pria yang begitu melindunginya adalah impian Nerissa sejak dulu. Bermimpi hidup bahagia di bawah atap yang sama, dan mengarungi bahtera rumah tangga, menjadi keinginan sederhana wanita itu.
Sikap manja, serudukan, dan sering merajuk, perlahan mulai ia rubah demi menjadi istri yang baik seperti yang diinginkan sang suami–yang tak lain adalah sahabat kecilnya. Berkaca dari pengalaman berumah tangga sang kakak ipar, juga nasihat-nasihat positif yang diberikan oleh orang-orang terdekatnya, membuat karakter Nerissa berubah 180 derajat.
Bak dua orang berbeda.
Nerissa yang semula memiliki karakter childish, kini benar-benar menjadi seorang wanita dewasa menarik, berwibawa, luwes, dan lembut. Bahkan, yang sebelumnya tak tahu caranya menanak nasi, kini pintar memasak segala jenis menu hidangan, terutama makanan kesukaan sang suami.
Ya, seniat itu Nerissa merubah diri demi menjadi istri terbaik. Wanita itu juga rela melepaskan segala hobbynya di dunia kecantikan, hanya karena ingin menjadi orang pertama yang menyambut sang suami ketika pulang dari bekerja. Sesederhana itu impiannya.
Namun sayangnya, semua yang dilakukan seakan tak berarti di mata Aresh. Sampai-sampai, hanya luka dan pengkhianatan saja yang Nerissa terima sebagai balasan atas semua pengorbanan yang dia lakukan selama ini.
Memperjuangkan segalanya sama hal dengan sebuah dilema. Maju melawan rasa sakit, mundur pun membawa luka serius. Bahkan, diam saja rasanya sulit. Hingga akhirnya semua rasa itu berada di titik terendah, dimana hati mulai mati rasa, dan pikiran ikut gelap tanpa setitik harapan, menyisakan kesia-siaan atas apa yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun ke belakang.
Usai bersembunyi di dalam toilet, dan mengendap-endap keluar dari gedung perkantoran milik sang suami–ketika pria itu sibuk menghubungi seseorang–Nerissa pun akhirnya berhasil keluar dari sana melalui pintu darurat di arah timur gedung. Berjalan limbung tanpa tahu arah, sampai tibalah di sebuah taman pusat kota yang saat ini sudah sepi dari pengunjung.
Enggan untuk kembali ke apartemen, Nerissa memilih merenung di sebuah bangku taman, yang letaknya tak jauh dari kawasan gedung perkantoran. Duduk sendirian di atas kursi taman, sembari menunggu panggilan terhubung dengan seseorang di seberang telepon sana, di temani embusan angin dingin, beserta gemerisik dedaunan yang silih beradu.
“Pa ....” Serunya lirih, kala panggilan tersebut mulai tersambung. Sedangkan matanya menatap ke atas langit.
“Kamu kenapa? Ada masalah?” tanya suara bariton di seberang sana secara to the point, saat mendengar nada bicara Nerissa tidak seceria biasanya.
Alih-alih menjawab pertanyaan sang ayah, wanita cantik itu malah balik mengajukan pertanyaan. “Papa lagi apa? Kok, jam segini masih belum tidur? Mama ke mana?”
“Papa baru selesai ngurusin kerjaan. Kalau Mama kamu, lagi tidur di kamar,” jawabnya. “Nah, sekarang ... udah bisa jawab pertanyaan Papa, kan?”
Sembari menghapus air mata yang kembali menetes lebih deras di atas wajah, Nerissa menjawab, “Sasa gak kenapa-kenapa, kok, Pa. Cuma kangen sama Papa aja. Memangnya gak boleh, ya, kangenin Papa sama Mana?”
“Kamu lagi ada masalah sama Aresh? Suami kamu bikin ulah?” tebak sang ayah tanpa basa-basi, bahkan tak mengindahkan jawaban yang Nerissa berikan.
Mendengar pertanyaan seperti itu, air matanya benar-benar semakin tak dapat terbendung lagi, hingga tangan kiri wanita itu terkepal begitu erat, sementara tangan kanannya membekap mulut, agar suara isak tangis itu tertahan dan tak dapat didengar oleh ayahnya
Namun sayang, Nerissa lupa, jika feeling orang tua bahkan jauh lebih kuat dari yang dia kira. Seolah, semua yang sedang dia rasakan, ikut dirasakan pula oleh sang ayah saat ini.
“Kok gak jawab? Apa ... tebakan Papa benar?” tanyanya lagi.
“Apa, sih, Pa? Jangan ngaco, deh!” sanggah Nerissa lagi.
“Kamu di mana? Bilang sama Papa! Papa jemput kamu sekarang!” ujar pria paruh baya itu dengan nada bicara begitu tegas.
Tanpa sadar, Nerissa menggelengkan kepala. “Ngapain Papa jemput Sasa? Sasa gak kenapa-kenapa, kok. Beneran deh. Papa berlebihan, nih, tiap kali Sasa dadakan telepon Papa.” Wanita itu berkilah.
Terdengar suara helaan napas panjang dari seberang telepon sana. “Jawab Papa! Kamu di mana? Jangan nunggu Papa marah, baru kamu jujur!”
“Sasa di apart, Pa. Sasa lagi istirahat ini.” Nerissa berpura-pura menguap panjang untuk lebih meyakinkan alasannya terhadap sang ayah. “Pa, Sasa tidur dulu, ya. Udah ngantuk banget ini. Good night, Papa. Have a nice dream.”
“Papa tahu, kamu ga–”
Belum sempat sang ayah meneruskan perkataannya, Nerissa sudah lebih dulu memutuskan sambungan telepon tersebut, agar pria paruh baya itu tidak mendengar isak tangisnya. Yang mana pasti akan menimbulkan rasa bersalah, atas semua yang terjadi saat ini.
Sementara di tempat lain, tepat di dalam ruang kerja bernuansa putih terang, pria tampan berkemeja hitam, dengan raut wajah berantakan, nampak bergerak gelisah dari satu sisi ke sisi lainnya. Menempelkan ponsel yang sedari tadi dipegangnya pada telinga, dengan harapan ... ada satu panggilan darinya yang diterima oleh sang istri.
Namun sayangnya, ternyata Nerissa sudah lebih dulu memblokir semua akses komunikasi dengan Aresh–termasuk nomor kantor–hingga membuat pria itu kesulitan untuk menghubunginya.
Tak habis akal, Aresh pun mencoba menghubungi salah satu nomor lain dari kontak panggilan yang tersimpan, menunggu beberapa saat, sampai dimana suara datar dari seorang pria menyapa indera pendengaran.
“Rash! Sasa kabur!” ucapnya tanpa perlu banyak basa-basi.
Sang lawan bicaranya seketika berhenti menguap. “Ha? Kabur gimana maksud lo? Jangan ngaco, deh!” protesnya, menganggap ucapan Aresh beberapa saat lalu hanyalah gurauan semata.
“Ya Tuhan ... Gue serius, Rash. Sasa kabur,” sanggah Aresh cepat.
“Loh, kok bisa kabur? Lo apain adik ipar gue?” tanyanya, ketus.
Aresh memijat keningnya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri, menghela napas begitu dalam, kemudian menjawab, “Sasa mergokin gue lagi diraba-raba sama Xena di kantor, dan sekarang ... Rash, gue bener-bener gak tahu lagi harus gimana? Pikiran gue blank.”
“Diraba-raba sama sekretaris lo, dan lo diem aja? Iya?” tebak sang lawan bicara.
Tanpa sadar, Aresh mengangguk. “Gue khilaf, Rash."
"Khilaf, tuh, cuma sekali! Gak berulang kaya begini, gila!"
"Gue tahu gue salah, Rash. Harusnya, gue gak diem saat Xena mulai raba-raba gue. Harusnya, gue tepis tangan dia dari tubuh gue. Harusnya ... Ah ... Gue bener-bener bingung sekarang.”
“Penyakit lo gak pernah sembuh-sembuh dari dulu! Selalu bermasalah sama cewek-cewek gak jelas di luaran sana. Capek gue nasihatin mulu,” gerutu Arash–sang kakak, kesal.
Lagi-lagi, Aresh mendesah panjang. “Gue salah, Rash. Gue akuin itu.”
“Lo udah coba hubungin Sasa?” tanya pria di seberang telepon sana.
“Udah. Tapi, semua akses komunikasi gue di blokir sama dia. Gue udah cari ke setiap sudut gedung kantor, bahkan gue juga cari dia di gudang penyimpanan, di tempat parkir, di jalanan, di apart-pun, Sasa masih gak bisa gue temuin. Dia pergi, Rash, dia gak mau ketemu gue lagi,” jelas Aresh begitu frustasi.
“Sasa ada nge-chat lo, apa gitu, sebelum semua akses komunikasi lo, dia blokir?” tanya Arash lagi, untuk memastikan.
Karena saudara kembarnya yang bertanya ... Tanpa ragu, Aresh pun menjawab dengan jujur, “Sasa nyerah sama kelakuan gue, Rash. Sasa minta cerai.”
“Jangan bertindak gegabah, dan jangan sampai salah langkah. Tunggu di sana! Gue ke tempat lo sekarang!”
Usai mengatakan hal itu, tanpa menunggu jawaban apapun, Arash segera memutuskan panggilan secara sepihak. Sementara Aresh sendiri, dalam keadaan terduduk di sofa ruangannya, mulai tertunduk lemas, sembari menggenggam ponsel di tangannya. Teringat kata-kata terakhir dari Nerissa, sebelum semua akses komunikasi mereka diblokir oleh wanita itu.
“Maafin aku, Sa. Karena lagi-lagi ... Aku nyakitin perasaan kamu,” gumamnya sangat lirih, bahkan hampir tak terdengar.
***
Aresh Abiwara Oliver.
Yang artinya, anak lelaki pintar dan penuh keberanian dari keluarga Oliver.
Seuntai nama yang begitu indah dengan terselip doa dan harapan yang begitu besar dari kedua orang tua. Namun, putra kedua dari pasangan Nathan Oliver dan Shana Abila yang lahir berjarak tujuh belas menit dengan Arash Abisatya Oliver ini, rupanya memiliki sifat yang jauh berbeda dengan sang kakak, walau keduanya termasuk kembar yang identik.
Serupa tapi tak sama.
Seperti sifat lembut dan penyayang yang dimiliki Arash, ternyata tak dimiliki oleh Aresh. Atau ... sifat rendah hati dan setia yang dimilik Arash, ternyata juga tidak dimiliki oleh Aresh. Padahal, didikan kedua orang tuanya selalu sama, dan tidak pernah dibeda-bedakan. Terlebih, didikan dari sang ayah. Yang mana keduanya selalu diperlakukan seadil-adilnya dengan begitu tegas.
Ya ... Entah semua sifat positif yang dimiliki Arash masih tersembunyi di dalam diri Aresh, atau memang benar-benar tidak ada sama sekali? Yang jelas, baik Shana, maupun Nathan, sama-sama sering dibuat sakit kepala karena sikap dan tingkah satu anak lelakinya itu. Sampai-sampai, tekanan darah tinggi Shana selalu meningkat setiap kali Aresh membuat masalah.
Seperti malam ini, usai mendengar kabar tidak mengenakkan dari putra pertamanya, hipertensi yang diderita Shana kembali kambuh hingga kepala bagian belakangnya terasa begitu nyeri. Sementara sang ayah–Nathan–dibuat naik pitam oleh hal tersebut.
Bagaimana tidak? Di jam istirahat seperti ini, pasangan suami istri itu dikejutkan oleh kedatangan Arash dan Aresh secara tiba-tiba, lalu menceritakan detail kejadian yang terjadi di antara Aresh dan Nerissa. Dimulai dari kejadian di ruangan Aresh, hingga Nerissa yang kabur dan memblokir seluruh akses komunikasi Aresh, Arash, telepon kantor, bahkan Zeira–istri Arash–sekalipun, untuk pertama kalinya.
Bukan maksud mengadu. Bukan pula hendak memancing emosi. Mereka hanya benar-benar sudah buntu dalam berpikir, hingga memutuskan untuk meminta solusi dari kedua orang tuanya atas permasalahan kompleks yang dihadapi oleh Aresh menyangkut masa depan rumah tangganya.
Duduk di atas sofa ruang tamu, tepat pada pukul sepuluh malam, gelas air mineral yang sempat dibawakan oleh asisten rumah tangga di rumah tersebut, seketika melayang melewati sisi kanan wajah Aresh, membanting pada tembok di belakang sana, dan pecah terberai di atas lantai. Membuat satu goresan tipis di wajah tampan pria itu, hingga mengeluarkan darah segar. Sedangkan Arash sibuk menenangkan sang ibu yang menangis sesenggukan dengan merangkulnya.
“Jadi, Nerissa menuntut cerai sama kamu?” tanya Nathan, dengan raut wajah speechless, juga menahan amarah.
Walau ragu, Aresh menganggukkan kepalanya.
“Keterlaluan kamu, Aresh! Bener-bener bikin malu! Ayah kecewa sama kamu!” ucap Nathan dengan suara bergetar menahan amarahnya yang memuncak.
Aresh hanya terdiam menunduk, tanpa berniat menjawab perkataan ayahnya. Takut-takut, pria paruh baya itu lepas kendali, jika Aresh mengeluarkan kalimat sanggahan sebagai pembelaan diri. Lagipula ... toh, semua yang terjadi memang benar-benar kesalahannya. Jadi, tak ada yang perlu di klarifikasi lagi.
“Apa yang harus Ayah katakan pada ayah mertuamu, Aresh?! Apa?!” teriak Nathan, dan hal itu menjadi kali pertama untuk pria paruh baya itu membentak putranya.
“Yah ....” Gumam Arash pelan, karena terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh ayahnya.
“Nerissa, adalah putri kesayangan kedua orang tuanya. Mereka membesarkan Nerissa dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan, dijaga sebaik mungkin dengan memberikan segala hal terbaik demi membuatnya bahagia. Lalu sekarang ... Kamu sakiti putri kesayangan mereka sedemikian rupa, setelah kamu minta secara resmi untuk dijadikan istri. Apa kedua orang tua Nerissa akan rela putri kesayangan mereka diperlakukan seenaknya seperti itu sama kamu? Sekiranya kamu belum siap untuk menikah, dan masih ingin bermain-main dengan wanita-wanitamu di luaran sana, lantas untuk apa kamu melamar Nerissa dan nikahin dia? Kalau ujung-ujungnya, kamu malah menyakiti dia seperti ini!” lanjut Nathan dengan penuh penekanan.
“Aresh salah, Yah. Aresh salah,” lirihnya sangat pelan, bahkan hampir tak terdengar.
Pria paruh baya itu mengembuskan napas kasar. “Ya, jelas! Kamu memang salah, dan Ayah tidak akan pernah membenarkan kelakuan kamu yang sudah sangat keterlaluan dan memalukan itu! Bahkan, kata maaf saja tidak akan pernah cukup untuk menebus kesalahan besar ini!”
“Ayah sudah sering mengingatkan kepada kalian berdua. Kalian boleh nakal, kalian boleh bertindak sesuka hati kalian. Tapi, jangan pernah menyakiti hati seorang wanita, dan jangan pernah bermain-main dengan wanita! Apa kamu masih belum paham juga, maksud dari nasihat Ayah itu?” tanya Nathan.
Aresh masih tetap terdiam pada posisinya. Sedangkan Nathan mengusap wajahnya kasar. “Kamu sudah merusak mental seorang wanita, Aresh! Kamu sudah merusak pikiran seorang wanita!” lanjutnya.
Melihat sang ayah mulai tidak dapat mengontrol amarahnya, Arash pun seketika menyela, “Yah, apa yang harus kita lakuin sekarang? Kayanya ... sampai detik ini, Om Arion, Tante Al, dan Galen belum tahu permasalahan ini. Mengingat, gak ada satu orang pun dari mereka yang ngehubungin aku, Ayah, Bunda, ataupun Aresh untuk meminta penjelasan.”
Nathan memijat pelipis matanya yang berdenyut nyeri. “Sayang, bisa minta tolong hubungi Nerissa?” tanyanya kepada sang istri.
Tanpa banyak mengatakan hal apapun, Shana segera mengangguk, dan mengambil ponsel miliknya dari atas meja ruang tengah. Membuka kunci layar, lalu menggulir daftar kontak yang tersimpan untuk mencari nama sang menantu. Setelah berhasil menemukannya, Shana pun menyentuh simbol telepon, lalu menempelkan benda pipih tersebut pada telinga. Berharap, Nerissa mau mengangkat panggilan darinya, tanpa ada drama lain yang mengikuti keresahan Shana.
“Gimana, Bun?” tanya Aresh, was-was, setelah hampir satu menit berlalu, namun sang ibu masih tetap diam tak bersuara. Rupanya, pria itu pun menanti secercah kabar baik dari Shana yang tengah berusaha menghubungi istrinya.
Dengan raut wajah khawatir, Shana menggeleng. Sementara Nathan menghela napas dalam, menatap kepada Aresh, masih dengan tatapan tajam, penuh amarah.
“Kamu sudah hubungi teman-teman terdekat istrimu?” tanyanya.
Aresh mengangguk. “Udah, Yah. Putri, Salma, Devan, Lutfi, bahkan Nayang pun gak ada yang tahu, di mana Sasa.”
Nathan menghela napas dalam, menahan kekesalannya yang semakin meningkat. “Ya Allah ... Ayah bener-bener gak tahu lagi harus bagaimana saat ketemu orang tua Nerissa nanti. Ayah bener-bener malu karena sudah gagal mendidik putra Ayah,” ucap Nathan setengah berbisik, namun lebih terdengar gumaman untuk dirinya sendiri.
“Lo udah coba cek di apartemen lagi?” Kini, giliran Arash yang bertanya.
Pria berwajah kusut itu menggeleng. “Terakhir dua jam yang lalu, masih belum pulang, Rash.”
Arash terdiam sejenak, sebelum akhirnya bangkit dari posisinya. “Dua jam ... Jarak waktu yang cukup lama untuk kemungkinan besar Sasa pulang ke apartemen kalian. Kita cari dia di apartemen lo. Kalau masih belum pulang, kita cari di sekitaran kantor atau tempat yang deket-deket apartemen lo, yang sekiranya biasa Sasa sambangi. Mumpung masih belum tengah malam,” ajak Arash, dan langsung disetujui oleh Aresh.
Sementara di tempat lain. Tepat di dalam salah satu kamar tidur sebuah apartemen mewah bernuansa ash grey, Nerissa yang nampak begitu sibuk mengeluarkan pakaian-pakaian dari dalam lemari, tiba-tiba jatuh terduduk di atas lantai. Bersandar pada tempat tidur berukuran king size dengan kepala tertunduk–menyembunyikan wajahnya.
Namun, hanya berselang beberapa detik, suara isak tangis pun lambat laun mulai terdengar, makin keras dan lepas kendali, hingga menyayat hati siapapun yang ikut mendengarnya.
Lelah ... Selelah-lelahnya. Bahkan, untuk kembali bangkit dari posisinya dan berdiri mengambil pakaian saja, rasanya begitu sulit.
Ya ... sulit! Sulit menghadapi kenyataan yang ada. Sulit merelakan segalanya. Dan yang tersulit, adalah mengambil keputusan akhir. Terlalu menyakitkan, hingga saat menarik napas saja, rasanya begitu sesak. Seperti menyelam di air yang dalam.
“Ma ... Pa ... Apa yang harus Sasa lakuin sekarang? Sasa gak sanggup kalau harus nanggung semua ini sendirian. Sasa gak sanggup kalau harus hadapi semua ini sendirian,” gumam wanita itu di sela isak tangisnya. “Tapi ... Sasa juga belum siap, Mama sama Papa tahu soal ini. Sasa gak mau, Mama sama Papa jatuh sakit karena masalah keluarga Sasa. Dan, Sasa juga takut, Mama sama Papa berpikir buruk tentang Aresh,” lanjutnya begitu lirih.
***