Aluna Surjadi POV:
Kamar tidur kami terasa dingin, meskipun penghangat ruangan menyala penuh. Yudha sedang di luar kota, menghadiri forum politik penting. Dia meneleponku setiap malam, seperti biasa, dengan suara yang dipenuhi perhatian palsu. "Bagaimana kakimu hari ini, Sayang? Aku sangat merindukanmu."
Aku hanya menjawab singkat, menjaga suaraku stabil. Dia tidak perlu tahu perubahan apa yang terjadi dalam diriku. Malam itu, setelah menemukan video itu, aku tidak tidur. Aku menghabiskan waktu dengan menatap langit-langit, memutar ulang setiap interaksi, setiap senyum curang Selvia, setiap tatapan menjijikkan dari Yudha.
Selvia Alaydrus. Dia masuk ke hidupku sebagai malaikat penolong. Terapis fisikku yang paling ramah, paling sabar. Dia membantuku belajar berjalan lagi dengan kruk, kemudian dengan kaki palsu pertamaku. Dia mendengarkan keluh kesahku, tertawa dengan leluconku, dan memberiku harapan. Harapan palsu.
"Nona Aluna sangat kuat," pujinya dulu, sambil memijat sisa pahaku yang nyeri. "Anda akan segera menari lagi."
Aku percaya padanya. Aku mempercayakan tubuhku yang rapuh padanya. Aku mempercayakan suamiku padanya, karena Yudha sering menemaniku terapi. Bagaimana bisa aku begitu buta?
Pintu kamarku diketuk perlahan. Riani, sahabatku, mengintip masuk. Wajahnya khawatir. "Aluna, kamu sudah makan? Aku membawakan soto ayam kesukaanmu."
Aku tersenyum tipis. Hanya Riani yang bisa menembus dinding pertahananku. Dia adalah sinar matahari di tengah badai ini. "Masuklah, Ri. Aku baik-baik saja."
Dia meletakkan mangkuk soto di meja samping tempat tidur, lalu duduk di kursi. "Kamu tidak baik-baik saja, Aluna. Matamu bengkak. Ada apa? Apa Yudha lagi?"
Aku menelan ludah. Bagaimana aku bisa memberitahunya? Bagaimana aku bisa mengatakan bahwa suamiku yang dielu-elukan publik adalah seorang penipu, dan terapis kepercayaanku adalah pelacurnya? Aku tidak bisa. Belum.
Komang Yusron, ibu mertuaku, masuk tanpa mengetuk. Dia selalu begitu. Matanya yang tajam menyapu kamarku, lalu berhenti di arahku. "Masih meringkuk di sini? Aku kira kamu sudah mulai terapi lagi. Jangan malas. Yudha butuh istri yang tangguh, bukan beban."
Kata-katanya seperti es, menusuk langsung ke ulu hatiku. Sejak kecelakaan, Komang tidak pernah berhenti menyindirku. Dia menyalahkanku atas "aib" Yudha karena memiliki istri yang cacat, meskipun Yudha selalu membela di depan umum. "Yudha sudah terlalu banyak berkorban untuk citranya. Kamu harusnya bersyukur, Aluna."
Aku mengencangkan rahangku. Kali ini, kata-katanya tidak menggores. Mereka memicu api. Beban? Aku yang menjadi beban? Setelah semua yang kuberikan?
"Saya tidak malas, Mama," jawabku tenang, mengejutkan Komang dan Riani. "Saya sedang berpikir. Sangat banyak yang harus saya pikirkan."
Komang mendengus, tidak puas. "Baiklah. Jangan terlalu lama berpikir yang tidak-tidak. Ingat, reputasi keluarga kita harus dijaga." Dia membalikkan badan dan keluar, menyisakan keheningan yang berat.
Riani menatapku, matanya penuh tanya. "Aluna, ada apa sebenarnya? Kamu berubah."
Aku menatapnya, lalu ke arah pintu yang tertutup. "Aku baru saja menyadari sesuatu, Ri. Aku bukan lagi wanita yang sama. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun lagi menginjak-injakku."
Soto ayam itu mendingin, tidak tersentuh. Aku tidak butuh makanan. Aku butuh rencana.
Aluna Surjadi POV:
Pagi itu terasa berbeda. Udara dingin menyelinap melalui celah jendela, tapi di dalam diriku, sesuatu mulai membara. Aku tidak lagi merasa sebagai korban. Kemarahan telah membeku menjadi tekad baja. Riani menatapku dengan alis terangkat saat aku duduk di meja sarapan, tidak lagi di tempat tidur.
"Kamu terlihat... bersemangat?" tanyanya, mencoba menebak suasana hatiku.
Aku menyesap tehku. "Aku hanya sudah memutuskan untuk tidak membiarkan diriku tenggelam lebih jauh."
Tentu saja, Komang Yusron juga hadir, menyuarakan ketidakpuasannya. "Hanya itu? Kupikir kamu akan melakukan sesuatu yang berguna. Kenapa tidak mulai berlatih lagi dengan Selvia? Aku tahu dia sangat baik dan sabar."
Aku hampir tersedak teh. Selvia. Nama itu kini terasa seperti kotoran di lidahku. "Saya akan menghubungi terapis lain, Mama. Saya butuh suasana baru."
Komang mengerutkan kening. "Apa yang salah dengan Selvia? Dia direkomendasikan oleh banyak orang penting. Dia bahkan sangat dekat dengan Yudha, mereka punya banyak topik pembicaraan."
Aku menatapnya, bibirku mengukir senyum tipis yang tidak mencapai mata. "Itu yang saya takutkan, Mama. Terlalu dekat."
Komang tampaknya tidak menangkap maksudku, atau memang tidak mau menangkapnya. Dia hanya mendengus dan melanjutkan sarapannya.
Setelah sarapan, aku meminta Riani untuk membantuku ke ruang kerjaku. Ruangan itu penuh dengan piala baletku, foto-foto pementasan. Sebuah dunia yang terasa sangat jauh sekarang. Aku menyalakan komputer. "Ri, bisakah kamu membantuku menyelidiki sesuatu?"
Riani, tanpa bertanya banyak, hanya mengangguk. Loyalitasnya adalah satu-satunya hal yang tidak pernah meragukanku. "Apa pun untukmu, Aluna."
Aku memberinya beberapa arahan. "Aku ingin kamu mencari tahu semua tentang Yayasan Kemanusiaan Aluna-Yudha. Setiap detail keuangannya, siapa saja pengurus intinya, dan bagaimana alur dana masuk dan keluarnya."
Yayasan itu adalah proyek amal yang kami dirikan bersama sebelum kecelakaan, untuk membantu anak-anak kurang mampu mewujudkan mimpi mereka di bidang seni. Awalnya, itu adalah impianku. Kini, itu adalah senjata.
Riani sedikit terkejut. "Tumben sekali kamu menanyakan hal-hal begini. Bukankah Yudha yang mengurus semuanya?"
"Tepat," kataku, mataku menatap layar komputer yang memantulkan wajahku yang muram. "Dan sekarang aku ingin mengurusnya sendiri. Semuanya."
Aku juga diam-diam menghubungi Dokter Jefry Purwadinata. Dia adalah dokter bedah ortopedi yang mengoperasiku, dan satu-satunya orang di rumah sakit yang menunjukkan empati yang tulus kepadaku. Dia sering mengunjungiku di rumah sakit bahkan setelah jam kerjanya. Kami berbicara tentang banyak hal, bukan hanya kakiku, tetapi juga hidup, impian, dan kehilangan. Jefry selalu mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Dokter Jefry," kataku melalui telepon, suaraku terdengar lebih kuat dari yang kuduga. "Aku ingin konsultasi tentang kaki palsu yang lebih canggih. Yang bisa membantuku menari lagi. Apa pun biayanya."
Ada keheningan sejenak di ujung sana. "Aluna, kamu yakin? Ini akan sangat melelahkan."
"Lebih yakin dari sebelumnya," jawabku. Ini bukan hanya tentang menari lagi. Ini tentang mendapatkan kembali diriku. Ini tentang menunjukkan kepada Yudha dan Selvia bahwa aku tidak hancur. Aku akan bangkit. Dan aku akan menari di atas kuburan karier mereka.