"Suster! Tunggu!"
Suster Yulia menghentikan langkah dan membalikkan badannya. Raisa yang baru saja memanggilnya tampak berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
"Jangan bawa anak itu ke panti asuhan!" ucap Raisa setelah berada tepat di depan suster Yulia.
"Maaf Bu, kalau memang nggak ada yang mau merawatnya, jalan satu-satunya harus kami serahkan ke panti asuhan!" kata suster Yulia dengan nada tegas.
"Serahkan pada saya Sus!" ucap Raisa sambil mengulurkan kedua tangannya hendak mengambil alih bedongan yang masih berada dalam dekapan suster Yulia.
"Ibu yakin mau merawatnya? Bukankah ini bukan anak ibu?" suster Yulia sengaja mengetes Raisa.
"Dia anak suami saya Sus, saya yang harus bertanggung jawab terhadap anak ini!" Raisa berkata dengan tegas.
Mendengar ucapan Raisa suster Yulia menghela nafas lega, lalu dengan hati-hati wanita berseragam putih itu menyerahkan Ziana kepada Raisa dengan senyum ramahnya
Sudah tujuh hari Azizur meninggal dan selama tujuh hari itu ibu mertua Raisa dan kakak iparnya berada di rumah Raisa, mereka membantu acara tahlil almarhum Azizur sampai selesai.
"Punya dua menantu, tapi dua-duanya nggak becus ngasih cucu laki-laki, huh!" celetuk bu Lasmini ketus, ibu mertua Raisa, wanita separuh baya itu mencibir sinis ke arah Raisa.
"Sudahlah Bu, semua sudah kehendak Allah," sahut Salina pelan, matanya melirik ke arah Raisa, adik iparnya.
"Kamu juga Sal, hidup cuma mikir kerja dan uang, sampai lupa ngurus suami, sekarang suami kabur tanpa ninggal harta atau anak," cecar bu Lasmini, kali ini Salina yang jadi sasaran omelannya.
Salina, kakak Azizur, wanita berusia 30 tahun itu menikah dengan Rudi sepuluh tahun yang lalu. Di usia pernikahan kedua tahun, Rudi meninggalkan Salina demi Tania, cinta pertama Rudi, dan tak pernah ada kabarnya sampai sekarang.
"Semua sudah ada yang atur Bu, kita tinggal jalani saja dengan ikhlas," Salina menyahut kata-kata ibunya dengan santai, tangannya sibuk mengganti popok Ziana.
Sejak kepulangannya dari rumah sakit, Salina yang mengurus bayi itu, karena Raisa tak mau mendekat apalagi menyentuhnya. Sakit hati karena dikhianati mengalahkan naluri keibuannya.
"Lebih baik kamu nikah lagi Sal, dan kasih ibu cucu laki-laki," usul bu Lasmini, wanita paruh baya berperawakan gemuk itu berdiri dan mengambil ponselnya di atas meja setelah mendengar bunyi notifikasi.
"Kalau aku nikah dan ternyata melahirkan anak perempuan, apa yang akan ibu lakukan?" tanya Salina dengan nada datar, bu Lasmini mendengus kesal mendengar pertanyaan anaknya.
"Itu artinya kamu sama dengan kedua menantu ibu, nggak becus!" cecar bu Lasmini menanggapi pertanyaan anak perempuannya.
Salina tersenyum tipis mendengar ucapan ibunya yang ketus, sama sekali tak ada rasa tersinggung atau sakit hati walau ucapan ibunya itu cenderung kasar dan sinis.
"Sebaiknya kita cari pengasuh untuk Ziana Dek, karena mbak kerja, nggak bisa tiap hari bantu ngurus Ziana," ujar Salina yang ditujukan kepada adik iparnya, Raisa yang dari tadi duduk di sofa memangku Wilma hanya mengangguk menyetujui saran kakak iparnya.
Dari awal memang Raisa sudah memikirkan hal itu,dia akan mencari pengasuh untuk anak tirinya, rasanya tak sanggup kalau tangannya harus menyentuh dan merawat anak dari hasil pengkhianatan suaminya.
"Ibu nggak setuju!" seru bu Lasmini menentang ucapan Salina. Raisa dan Salina serentak menatap bu Lasmini.
"Nggak usah buang-buang uang untuk bayar pengasuh!" ujar bu Lasmini lagi dengan suara lantang, kedua matanya menatap ke arah Raisa dengan tatapan tak suka.
"Lalu siapa yang mau merawatnya, kita nggak bisa mengandalkan mbak Nur, dia sudah repot dengan Wilma dan pekerjaan lainnya," tukas Salina mewakili Raisa, dia paham adik iparnya masih berduka dan kecewa dengan situasinya saat ini.
"Raisa kan bisa, dia bisa membawanya ke toko, di toko juga nggak mengerjakan apa-apa to, hanya mengawasi karyawannya saja," ujar bu Lasmini dengan santai, tanpa memikirkan perasaan menantunya.
Raisa memang memiliki beberapa toko besar yang bisa dibilang minimarket di kota tempat tinggalnya.
Karena kesibukannya mengurus minimarket-minimarket miliknya, Raisa menyerahkan urusan pekerjaan rumahnya kepada Nur, gadis berusia 23 tahun, gadis jujur yang awalnya bekerja di salah satu minimarketnya, entah apa alasannya Nur merasa lebih nyaman bekerja di rumah Raisa.
"Kalau begitu gimana kalau ibu saja yang merawatnya?" usul Salina, dia ingin tahu apa tanggapan ibunya atas usulannya itu. Mata Raisa terbeliak mendengar ucapan kakak iparnya.
"Sssttt, jangan Mbak, jangan bikin repot ibu!" ucap Raisa pelan sambil memberi isyarat gelengan kepalanya.
"Kalau bayi itu laki-laki, tanpa kalian minta juga ibu akan merawatnya, ibu carikan sepuluh pengasuh sekalian!" ujar bu Lasmini dengan ketus, dia merasa kesal dan geram terhadap Salina yang menurutnya sengaja mencemo'ohnya.
"Laki-laki atau perempuan kan sama juga cucu ibu, darah daging ibu!" tukas Salina, diletakkannya Ziana ke dalam box bayi yang berada di dekatnya.
Bu Lasmini yang duduk di sofa dekat box bayi itu mengerling Ziana dengan sinis, bibirnya mencibir.
"Ya jelas beda, punya cucu laki- laki itu suatu kehormatan dan kebanggaan, nggak seperti mereka itu, yang ada nanti malah jadi beban!" ujar bu Lasmini ketus sambil menunjuk ke arah Wilma dan Ziana.
"Ini si Hesti juga nggak becus bikin anak laki-laki, kalau tahu anak dia perempuan, nggak bakalan ibu nikahkan dia dengan Azizur," tambah bu Lasmini, kali ini yang jadi sasaran adalah Hesti, ibu kandung Ziana.
"Semua ini takdir Bu, kita nggak bisa menentang dan mengubahnya!" Salina menyahut perkataan ibunya.
"Jadi ibu tahu tentang pengkhianatan mas Azizur?" tanya Raisa dengan nada ditekankan.
"Jaga bicaramu Raisa! Anakku nggak berkhianat, dia berusaha untuk menunjukkan bakti kepada aku, ibunya!" sahut bu Lasmini dengan keras, tampak kemarahan di wajahnya
yang tak pernah manis di hadapan Raisa.
"Bakti?" tanya Raisa dan Salina serentak, mereka saling pandang dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah bu Lasmini.
"Azizur berusaha memenuhi keinginan ibu, dia menikah dengan Hesti karena ingin memberikan cucu laki-laki untuk ibu!" kata bu Lasmini dengan suara lantang, sedikit pun dia tak merasa bersalah dan tak peduli bahwa tindakannya itu telah menyakiti hati Raisa dan Wilma.
"Lalu, ibu dapat cucu laki-laki dari mereka?" tanya Raisa dengan sinis, luka di hatinya semakin menganga mendengar kata-kata ibu mertuanya.
"Berani-beraninya kamu mencemooh ibu!" seru bu Lasmini marah. "Itu semua gara- gara Hesti, dan sampai kapanpun ibu nggak akan mengakui bayi itu sebagai cucu!" kata bu Lasmini ketus sambil berdiri dan kaki kirinya menyepak box bayi itu dengan sengaja.
"Ibu!" tanpa sadar Raisa dan Salina menghardik bu Lasmini serentak.
"Oh, gara-gara bayi tak berguna ini kalian berani membentak ibumu?" bu Lasmini membalikkan badannya, tangannya memegang box bayi itu dan menggoncangnya dengan kasar, wajahnya tampak merah menahan marah.
"Kalau memang ibu nggak mau mengakui Ziana sebagai cucu ibu nggak apa-apa, tapi jangan menyakitinya, dia nggak berdosa!" tukas Salina, diambilnya Ziana dari box itu dan mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
"Dek, malam ini biar Ziana mbak bawa pulang. Mbak paham kamu belum bisa menerima kehadirannya, besok mbak carikan pengasuh untuknya," tutur Salina, dia memutuskan untuk pulang karena khawatir tak bisa mengontrol emosinya kalau lama-lama bersama ibunya.
"Dasar menantu manja, semua minta dilayani. Wilma kan sudah besar, sudah bisa mengurus dirinya sendiri, urusin saja bayi itu, nggak usah hambur-hamburkan uang!" bu Lasmini yang sudah berada di ruang makan masih saja menyahut perkataan Salina.
"Raisa masih berduka karena kehilangan suami, dan ditambah lagi berita tentang pengkhianatan almarhum hingga hadir Ziana, sebagai seorang wanita harusnya ibu paham bagaimana perasaannya," Salina yang tadinya sudah tak mau menanggapi ibunya terpaksa bersuara lagi.
"Siapa bilang Azizur berkhianat, dia menikah secara sah!" seru bu Lasmini dengan nada penuh emosi, dia kembali lagi ke ruang depan karena merasa jengkel terhadap Salina yang dianggapnya selalu menentang semua perkataannya.
"Apa ibu nggak memikirkan perasaan saya waktu meminta mas Azizur untuk menikah dengan perempuan lain?" tanya Raisa sambil menatap ibu mertuanya dengan tajam.
"Apanya yang harus dipikir? Toh Azizur nggak mengabaikan kalian, dan asal kamu tahu, laki- laki itu berkuasa, mereka bebas menentukan dan melakukan apa saja, makanya ibu hanya mau cucu laki-laki,titik!" kata bu Lasmini sambil meraih tas kecil yang berada di atas meja kaca, lalu melangkah keluar.
"Sudahlah Bu, Azizur sudah tenang di sana, kita doakan yang terbaik saja," ujar Salina, lalu pandangannya beralih ke arah adik iparnya." Kamu yang tabah dan sabar Dek, mbak akan selalu membantumu."
"Ibu mau ke mana?" tanya Salina dari jendela ketika melihat bu Lasmini berdiri di pintu pagar rumah Raisa. Melihat raut wajah ibunya yang yang masam, Salina paham pasti ibunya sedang marah.
"Bukan urusanmu!" jawab bu Lasmini dengan suara keras, tanpa menoleh ke arah Salina. Tak berapa lama sebuah motor datang dan berhenti tepat di depan bu Lasmini berdiri. Ternyata bu Lasmini tadi memanggil ojek untuk mengantarkannya pulang.
Salina bergegas berdiri dan bersiap-siap untuk pulang. Walau bagaimanapun dia tak sampai hati membiarkan ibunya pulang sendiri.
"Dek, mbak pulang ya, lihat itu ibu ngambek manggil ojek," ujar Salina sambil menghela nafas dalam-dalam.
"Itu ditinggal saja mbak, nanti biar dijaga mbak Nur," kata Raisa.
"Maksudmu Ziana?" tanya Salina, dahinya berkerut sambil berusaha mencerna ucapan adik iparnya. Salina bingung dengan sebutan kata 'ITU' karena banyak barang yang berada di ruangan itu.
"Iya mbak, nanti biar tidur dengan mbak Nur," ujar Raisa datar, wajahnya tanpa ekspresi dan tangannya asyik mengusap rambut Wilma.
"Asyiiikkk, aku punya teman!" Wilma yang tidur di pangkuan ibunya tiba-tiba bangun dan merosot turun, gadis kecil itu dengan riang hendak menghampiri box bayi, tapi dengan sigap Raisa menarik tubuh mungilnya dan mendudukkan di pangkuannya.
"Wilma! Itu bukan adikmu, ingat!" kata Raisa tegas sambil menggoyang- goyangkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
"Tapi Bu?" Wilma berusaha protes dan memasang wajah cemberut.
"Wilma, jangan membantah!" tanpa sadar Raisa menghardik putrinya. Wilma menundukkan wajahnya, mukanya memerah menahan tangis.
"Dek, Wilma nggak tahu apa-apa, jangan libatkan dia dengan masalahmu," ujar Salina lembut, dia berusaha membujuk Raisa.
"Saya nggak akan membiarkan anak saya menyentuh anak itu, saya benci anak itu!" Raisa berkata dengan keras.
"Ziana itu terlahir suci Dek, dia sama sekali nggak tahu apa-apa, dia hanya bisa menangis saat lapar dan haus, dia sama sekali nggak ngerti apa itu dendam dan sakit hati, jadi nggak ada gunanya kalau kamu membencinya!" tutur Salina dengan pelan, dia tak berhenti berusaha untuk membuka hati Raisa agar menerima Ziana.
"Mbak nggak merasakan apa yang saya rasa, jadi Mbak bisa bilang begitu, coba Mbak berada di posisi saya!" sahut Raisa lirih, matanya berkaca-kaca, dan dalam matanya yang berembun terpancar kebencian yang entah ditujukan kepada siapa.
"Kamu lupa Dek? Mbak juga pernah dikhianati, mbak masih..."
"Tapi situasinya berbeda dengan apa yang saya alami Mbak!" Raisa memotong kalimat Salina dengan cepat.
"Ya sudahlah Dek, mbak mau pulang dulu," karena tak mau berlarut-larut, Salina memutuskan untuk segera pulang.
Raisa tak menanggapi ucapan kakak iparnya, hanya tatapan matanya yang mengikuti kepergian kakak iparnya yang sangat sabar dan selalu membantunya.
"Mbak Nuuurr!" Raisa berteriak memanggil asistennya. Nur yang baru saja mau ke dapur terkejut mendengar majikannya memanggil dengan keras. Biasanya Raisa selalu bersikap lembut kepada siapa saja.
"Ya Bu, ada apa?" tanya Nur gugup, gadis lugu itu membalikkan badannya dan tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.
"Bawa dia ke kamarmu, semua keperluannya ambil di kamar depan, pindahkan ke kamarmu!" titah Raisa tegas dan lantang.
"Tapi Bu?" Nur menatap majikannya dengan heran. Dia heran Ziana anak majikannya kenapa disuruh tidur di kamar ART.
"Jangan membantah!" tukas Raisa sambil berdiri dan menarik tangan Wilma masuk ke kamarnya.
"Ba-baik Bu," kata Nur lirih.
"Zi cayang, Zi cantik, kita mandi yuukkk," ucap Nur dengan gemas sambil membuka lilitan kain bedongan Ziana.
"Jangan sentuh bayi itu!" Nur terkejut, sontak gadis berkulit kuning langsat itu menarik tangannya, lalu menoleh ke arah asal suara.
"Si-si-siapa kamu?"
"Sssstttt...!"
"Si-si-siapa kamu?"
"Sssttt...!"
Seorang wanita tiba-tiba datang mendekati box bayi yang berada dalam jagaan Nur, wanita tak dikenal itu mengabaikan pertanyaan Nur yang masih belum hilang rasa kagetnya karena kehadiran wanita berambut ikal sebahu itu tanpa permisi.
"Ma-maaf Mbak..."
"Ssstttt!" wanita tak dikenal itu memotong kalimat Nur dengan telunjuk yang ditempel ke bibirnya, menyuruh Nur untuk diam.
Seperti dihipnotis, Nur diam mengikuti arahan wanita bertubuh langsing itu, dengan hatinya yang panik Nur memperhatikan gerak-gerik wanita tersebut tanpa berkedip.
Wanita tak dikenal itu membungkukkan badannya, lalu diciumnya kedua pipi bayi Ziana dengan lembut, air mata yang membasahi kedua pipinya tak dihiraukannya.
"Ma-maaf Mbak, sa-saya panggilkan bu Raisa ya?" Nur yang dari tadi diam terpaku karena panik dan bingung akhirnya bersuara.
"Ssssttt, diam! Saya akan pergi sekarang!" wanita itu menyahut ucapan Nur dengan suara lirih, tanpa menoleh ke arah Nur, sementara tangannya memegang seutas kalung kecil lalu dengan cepat memakaikan kalung tersebut di leher Ziana.
Melihat itu Nur kaget dan panik, gadis lugu itu menyangka wanita itu akan mencekik leher Ziana.
"Ja-jangan! Toloong!" Nur berteriak histeris karena panik. Mendengar teriakan Nur, wanita itu kaget dan panik, tanpa membuang waktu wanita itu berlari keluar dari rumah Raisa.
"Tolooong!" Nur semakin keras berteriak, sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya karena takut dan tak sanggup melihat apa yang terjadi, Nur tak menyadari kalau wanita tak dikenal tadi sudah pergi.
Raisa yang baru saja hendak menyendokkan nasi ke piring Wilma terkejut mendengar teriakan Nur, wanita yang baru saja bergelar janda itu segera menyelesaikan pekerjaannya lalu bergegas menuju ke ruang depan.
"Ada apa sih Mbak, bukankah tadi saya bilang untuk bawa dia ke kamarmu Mbak?" cecar Raisa, sambil melirik ke arah Ziana yang sedang menggeliatkan tubuh mungilnya.
"Dan kamu ini kenapa Mbak, ada apa dengan wajahmu?" tanya Raisa lagi dengan keras, dia heran melihat tingkah asistennya yang sejak tadi menutupi wajahnya.
"It-itu, itu Buuu!" Nur menunjuk-nunjuk box bayi dengan telunjuk kanannya, dan matanya terpejam.
Raisa semakin bingung dan heran melihat tingkah Nur, karena tak sabar dia mendekati Nur dan menarik tangan yang menutupi wajah Nur.
"Kamu ini kenapa sih Mbak? Jangan bikin saya bingung!"
"Ma-maafkan saya Bu, saya nggak tahu, tiba-tiba orang itu datang," ucap Nur dengan ketakutan, dia tak berani melihat ke arah box bayi di mana Ziana sedang tertidur pulas.
"Orang? Siapa? Orang mana?" tanya Raisa bertubi-tubi, wanita cantik itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan tak menemukan orang lain selain dirinya dan Nur.
"Jangan ngaco kamu Mbak, nggak ada siapa-siapa di sini!" sergah Raisa jengkel.
"Segera bawa bayi ini ke kamarmu!" sambung Raisa lagi tegas, lalu beranjak pergi meninggalkan Nur yang masih berdiri di tempatnya tadi.
Mendengar langkah majikannya pergi, Nur bingung dan panik.
"Buuuu, ini bagaimana?" tanya Nur dengan ketakutan, sambil menunjuk ke arah box Ziana tapi pandangannya tertuju ke arah lain.
Raisa menghentikan langkahnya, dahinya berkerut dan merasa kesal melihat sikap asistennya yang aneh.
"Oek, oek!"
"Nah kan, karena ulahmu dia nangis, mungkin karena haus, cepat bawa ke kamar dan bikinkan susu!" celetuk Raisa ketus karena merasa jengkel dan kesal.
Nur tersentak ketika mendengar suara tangisan Ziana, sontak gadis itu menoleh ke arah box bayi itu, matanya mengerjap beberapa kali, dilihatnya Ziana menangis dan menggeliat, Nur mengucek-ucek kedua matanya, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Dia ma-masih hid-hidup Bu?" tanyanya dengan suara terbata.
Pertanyaan Nur membuat Raisa heran, ditatapnya wajah asistennya itu dengan bingung.
"Pertanyaanmu aneh Mbak?"
"Tad-tadi saya lihat orang itu mencekik leher non Ziana," ucap Nur sedikit tenang, kemudian dia menceritakan tentang wanita tak dikenal yang datang tadi dan apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu.
Mendengar cerita asistennya, Raisa terkejut dan timbul pikiran macam-macam dalam benaknya. Dia menduga kalau yang datang itu adalah Hesti, ibu kandung Ziana.
Raisa beranjak berlari keluar rumahnya, dia mengitari halaman rumahnya yang tersambung ke garasi mobil. Raisa tak menjumpai siapa pun di sana, karena masih penasaran, Raisa berjalan keluar pagar rumahnya, di luarpun dia tak menemukan orang yang mencurigakan.
"Kenapa kamu ceroboh Mbak, dan kenapa kamu nggak memanggilku?" cecar Raisa setelah kembali masuk ke dalam rumahnya, nafasnya memburu karena perasaan panik dan marah bercampur aduk menjadi satu.
"Sa-saya nggak tahu Bu, tiba-tiba orang itu sudah berada di dalam sini," sahut Nur dengan bibir gemetar karena ketakutan.
Raisa mendengus kesal dengan jawaban asistennya, sudut matanya melirik ke arah Ziana yang kebetulan sedang membuka matanya. Dahi Raisa berkerut ketika matanya menangkap satu kilauan dibawah dagu Ziana.
"Kalung?" gumam Raisa lirih.
Nur mendekati majikannya, dan asisten lugu itu tersadar, wanita tak dikenal tadi bukan mencekik leher Ziana, tapi melingkarkan kalung kecil itu ke leher Ziana.
"Jadi orang tadi nggak membunuh non Ziana Bu?" Nur bertanya pelan dengan perasaan lega setelah tahu kejadian yang sebenarnya.
Raisa mengabaikan pertanyaan Nur, matanya tertuju ke arah liontin kecil berbentuk hati yang ada di kalung yang melingkar di leher Ziana.
Dengan tangan gemetar Raisa memegang liontin tersebut, dengan jelas tertera huruf Z di liontin tersebut.
"Cepat bawa dia masuk Mbak! Saya nggak mau kejadian yang sama terulang lagi, pastikan pintu rumah selalu terkunci!" titah Raisa tegas lalu beranjak menemui Wilma yang masih menunggu di meja makan.
"Adik Zi kenapa Bu?" tanya Wilma dengan raut wajah khawatir karena mendengar teriakan pengasuhnya tadi.
Raisa menatap tajam ke arah putrinya, gadis kecil itu sontak menundukkan kepalanya, dia tahu ibunya pasti tak suka dengan pertanyaannya.
"Sudah berapa kali ibu bilang, dia bukan adikmu!" ucap Raisa dengan nada tinggi.
"Tapi Bu?" Wilma mencoba membantah ucapan ibunya.
"Wilma!" bentakan Raisa membungkam mulut gadis kecil itu, sontak air matanya mengalir membasahi kedua pipinya, sendok yang dari tadi dipegangnya diletakkan di atas piringnya, dan bergegas lari ke kamarnya.
"Wilma, habiskan dulu makannya!" seru Raisa berusaha mengontrol emosinya. Wilma terus berlari ke kamarnya, mengabaikan teriakan ibunya.
"Wilma, maafkan ibu Nak!" ucap Raisa pelan sambil memeluk tubuh mungil putrinya.
"Ibu jahat!" sahut Wilma keras sambil menutupi wajahnya dengan selimut, di bawah selimut lembut itu Wilma menyembunyikan tangisnya dari Raisa
Raisa tersentak mendengar ucapan putrinya, selama hidupnya, baru kali ini Wilma berkata kasar terhadapnya.
"Semua gara-gara bayi sialan itu, anakku yang dulu penurut dan lembut sekarang berani memberontak dan membantahku," gumam Raisa lirih.
"Wilma, dengarkan ibu Nak!" bujuk Raisa sambil berusaha menarik selimut yang menutupi wajah putrinya.
"Enggak! Pokoknya aku mau adik!" Wilma menyahut dari balik selimut di sela isak tangisnya yang lirih.
"Dia bukan adikmu Nak!" ucap Raisa tegas.
"Kalau bukan adikku kenapa dibawa ke rumah ini?" tanya Wilma masih belum juga membuka selimut yang menutupi wajahnya.
Raisa bingung mendengar ucapan Wilma, dia tak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Gadis kecil seusia Wilma pasti belum paham dengan masalah yang menimpanya.
Tok, tok, tok!
"Bu Raisa, Bu....!" lamunan Raisa buyar mendengar suara Nur yang memanggilnya dengan panik.
"Ada apa lagi sih Mbak, dari tadi bikin orang jantungan terus!" sahut Raisa dengan sedikit emosi.
"Non Ziana...non Ziana hilang Bu!"
"Si-si-siapa kamu?"
"Sssttt...!"
Seorang wanita tiba-tiba datang mendekati box bayi yang berada dalam jagaan Nur, wanita tak dikenal itu mengabaikan pertanyaan Nur yang masih belum hilang rasa kagetnya karena kehadiran wanita berambut ikal sebahu itu tanpa permisi.
"Ma-maaf Mbak..."
"Ssstttt!" wanita tak dikenal itu memotong kalimat Nur dengan telunjuk yang ditempel ke bibirnya, menyuruh Nur untuk diam.
Seperti dihipnotis, Nur diam mengikuti arahan wanita bertubuh langsing itu, dengan hatinya yang panik Nur memperhatikan gerak-gerik wanita tersebut tanpa berkedip.
Wanita tak dikenal itu membungkukkan badannya, lalu diciumnya kedua pipi bayi Ziana dengan lembut, air mata yang membasahi kedua pipinya tak dihiraukannya.
"Ma-maaf Mbak, sa-saya panggilkan bu Raisa ya?" Nur yang dari tadi diam terpaku karena panik dan bingung akhirnya bersuara.
"Ssssttt, diam! Saya akan pergi sekarang!" wanita itu menyahut ucapan Nur dengan suara lirih, tanpa menoleh ke arah Nur, sementara tangannya memegang seutas kalung kecil lalu dengan cepat memakaikan kalung tersebut di leher Ziana.
Melihat itu Nur kaget dan panik, gadis lugu itu menyangka wanita itu akan mencekik leher Ziana.
"Ja-jangan! Toloong!" Nur berteriak histeris karena panik. Mendengar teriakan Nur, wanita itu kaget dan panik, tanpa membuang waktu wanita itu berlari keluar dari rumah Raisa.
"Tolooong!" Nur semakin keras berteriak, sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya karena takut dan tak sanggup melihat apa yang terjadi, Nur tak menyadari kalau wanita tak dikenal tadi sudah pergi.
Raisa yang baru saja hendak menyendokkan nasi ke piring Wilma terkejut mendengar teriakan Nur, wanita yang baru saja bergelar janda itu segera menyelesaikan pekerjaannya lalu bergegas menuju ke ruang depan.
"Ada apa sih Mbak, bukankah tadi saya bilang untuk bawa dia ke kamarmu Mbak?" cecar Raisa, sambil melirik ke arah Ziana yang sedang menggeliatkan tubuh mungilnya.
"Dan kamu ini kenapa Mbak, ada apa dengan wajahmu?" tanya Raisa lagi dengan keras, dia heran melihat tingkah asistennya yang sejak tadi menutupi wajahnya.
"It-itu, itu Buuu!" Nur menunjuk-nunjuk box bayi dengan telunjuk kanannya, dan matanya terpejam.
Raisa semakin bingung dan heran melihat tingkah Nur, karena tak sabar dia mendekati Nur dan menarik tangan yang menutupi wajah Nur.
"Kamu ini kenapa sih Mbak? Jangan bikin saya bingung!"
"Ma-maafkan saya Bu, saya nggak tahu, tiba-tiba orang itu datang," ucap Nur dengan ketakutan, dia tak berani melihat ke arah box bayi di mana Ziana sedang tertidur pulas.
"Orang? Siapa? Orang mana?" tanya Raisa bertubi-tubi, wanita cantik itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan tak menemukan orang lain selain dirinya dan Nur.
"Jangan ngaco kamu Mbak, nggak ada siapa-siapa di sini!" sergah Raisa jengkel.
"Segera bawa bayi ini ke kamarmu!" sambung Raisa lagi tegas, lalu beranjak pergi meninggalkan Nur yang masih berdiri di tempatnya tadi.
Mendengar langkah majikannya pergi, Nur bingung dan panik.
"Buuuu, ini bagaimana?" tanya Nur dengan ketakutan, sambil menunjuk ke arah box Ziana tapi pandangannya tertuju ke arah lain.
Raisa menghentikan langkahnya, dahinya berkerut dan merasa kesal melihat sikap asistennya yang aneh.
"Oek, oek!"
"Nah kan, karena ulahmu dia nangis, mungkin karena haus, cepat bawa ke kamar dan bikinkan susu!" celetuk Raisa ketus karena merasa jengkel dan kesal.
Nur tersentak ketika mendengar suara tangisan Ziana, sontak gadis itu menoleh ke arah box bayi itu, matanya mengerjap beberapa kali, dilihatnya Ziana menangis dan menggeliat, Nur mengucek-ucek kedua matanya, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Dia ma-masih hid-hidup Bu?" tanyanya dengan suara terbata.
Pertanyaan Nur membuat Raisa heran, ditatapnya wajah asistennya itu dengan bingung.
"Pertanyaanmu aneh Mbak?"
"Tad-tadi saya lihat orang itu mencekik leher non Ziana," ucap Nur sedikit tenang, kemudian dia menceritakan tentang wanita tak dikenal yang datang tadi dan apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu.
Mendengar cerita asistennya, Raisa terkejut dan timbul pikiran macam-macam dalam benaknya. Dia menduga kalau yang datang itu adalah Hesti, ibu kandung Ziana.
Raisa beranjak berlari keluar rumahnya, dia mengitari halaman rumahnya yang tersambung ke garasi mobil. Raisa tak menjumpai siapa pun di sana, karena masih penasaran, Raisa berjalan keluar pagar rumahnya, di luarpun dia tak menemukan orang yang mencurigakan.
"Kenapa kamu ceroboh Mbak, dan kenapa kamu nggak memanggilku?" cecar Raisa setelah kembali masuk ke dalam rumahnya, nafasnya memburu karena perasaan panik dan marah bercampur aduk menjadi satu.
"Sa-saya nggak tahu Bu, tiba-tiba orang itu sudah berada di dalam sini," sahut Nur dengan bibir gemetar karena ketakutan.
Raisa mendengus kesal dengan jawaban asistennya, sudut matanya melirik ke arah Ziana yang kebetulan sedang membuka matanya. Dahi Raisa berkerut ketika matanya menangkap satu kilauan dibawah dagu Ziana.
"Kalung?" gumam Raisa lirih.
Nur mendekati majikannya, dan asisten lugu itu tersadar, wanita tak dikenal tadi bukan mencekik leher Ziana, tapi melingkarkan kalung kecil itu ke leher Ziana.
"Jadi orang tadi nggak membunuh non Ziana Bu?" Nur bertanya pelan dengan perasaan lega setelah tahu kejadian yang sebenarnya.
Raisa mengabaikan pertanyaan Nur, matanya tertuju ke arah liontin kecil berbentuk hati yang ada di kalung yang melingkar di leher Ziana.
Dengan tangan gemetar Raisa memegang liontin tersebut, dengan jelas tertera huruf Z di liontin tersebut.
"Cepat bawa dia masuk Mbak! Saya nggak mau kejadian yang sama terulang lagi, pastikan pintu rumah selalu terkunci!" titah Raisa tegas lalu beranjak menemui Wilma yang masih menunggu di meja makan.
"Adik Zi kenapa Bu?" tanya Wilma dengan raut wajah khawatir karena mendengar teriakan pengasuhnya tadi.
Raisa menatap tajam ke arah putrinya, gadis kecil itu sontak menundukkan kepalanya, dia tahu ibunya pasti tak suka dengan pertanyaannya.
"Sudah berapa kali ibu bilang, dia bukan adikmu!" ucap Raisa dengan nada tinggi.
"Tapi Bu?" Wilma mencoba membantah ucapan ibunya.
"Wilma!" bentakan Raisa membungkam mulut gadis kecil itu, sontak air matanya mengalir membasahi kedua pipinya, sendok yang dari tadi dipegangnya diletakkan di atas piringnya, dan bergegas lari ke kamarnya.
"Wilma, habiskan dulu makannya!" seru Raisa berusaha mengontrol emosinya. Wilma terus berlari ke kamarnya, mengabaikan teriakan ibunya.
"Wilma, maafkan ibu Nak!" ucap Raisa pelan sambil memeluk tubuh mungil putrinya.
"Ibu jahat!" sahut Wilma keras sambil menutupi wajahnya dengan selimut, di bawah selimut lembut itu Wilma menyembunyikan tangisnya dari Raisa
Raisa tersentak mendengar ucapan putrinya, selama hidupnya, baru kali ini Wilma berkata kasar terhadapnya.
"Semua gara-gara bayi sialan itu, anakku yang dulu penurut dan lembut sekarang berani memberontak dan membantahku," gumam Raisa lirih.
"Wilma, dengarkan ibu Nak!" bujuk Raisa sambil berusaha menarik selimut yang menutupi wajah putrinya.
"Enggak! Pokoknya aku mau adik!" Wilma menyahut dari balik selimut di sela isak tangisnya yang lirih.
"Dia bukan adikmu Nak!" ucap Raisa tegas.
"Kalau bukan adikku kenapa dibawa ke rumah ini?" tanya Wilma masih belum juga membuka selimut yang menutupi wajahnya.
Raisa bingung mendengar ucapan Wilma, dia tak tahu harus bagaimana menjelaskannya. Gadis kecil seusia Wilma pasti belum paham dengan masalah yang menimpanya.
Tok, tok, tok!
"Bu Raisa, Bu....!" lamunan Raisa buyar mendengar suara Nur yang memanggilnya dengan panik.
"Ada apa lagi sih Mbak, dari tadi bikin orang jantungan terus!" sahut Raisa dengan sedikit emosi.
"Non Ziana...non Ziana hilang Bu!"