Bab 2

Aku bangun agak siang kali ini karena semalam beberapa kali Adel kembali terbangun karena demamnya. Beranjak dari ranjang mendekati ranjang Adel dan menemukan Adel yang masih terlelap dengan nyenyaknya. Ku raba kening Adel yang semalam panas pun sudah membaik. Mungkin benar kata Ibu bayi akan lebih sering demam dan akan cepat membaik hanya dengan minum obat.

"Pagi, Sayang." Ucapku sambil memeluk istriku dari belakang dan berhasil mengejutkannya yang tengah memasak hidangan untuk sarapan nanti.

"Kamu sudah bangun, Mas. Sekarang kamu mandi, aku sudah siapkan perlengkapan kamu di kamar, di sofa kamar kita. Sebentar lagi aku akan selesaikan sarapannya." Tutur Tari tanpa senyumannya yang khas kali ini.

"Siap, Sayang." Ku kecup pipinya sebelum berlalu melaksanakan perintahnya untuk bersiap-siap pergi ke kantor.

Kembali ke meja makan dan semua hidangan lezat yang Tari masak sudah siap tersaji di atas meja makan.

"Enak banget kayaknya makanannya, Dek." Ujarku dengan semangat duduk berseberangan dengan Ibu.

"Kamu makan yang banyak, Pras biar kerjamu konsen. Jangan lupa minum vitamin juga." Titah Ibu padaku saat Tari sedang mengambilkan nasi beserta beberapa lauk untukku.

"Kamu tidak ikut makan, Dek?" Ku lihat Tari hanya duduk tanpa mengambil makanan sedikitpun untuknya.

"Aku sudah makan tadi, Mas. Maaf ya aku makan terlebih dahulu." Ujar Tari dengan menundukan kepalanya. Terdengar nada berat dari suaranya.

"Sudah sejak Adel lahir kita tidak pernah lagi makan bersama, Dek. Kamu memang selalu menemani Mas makan tapi kamu tidak pernah ikut makan. Mas rindu kita makan sama-sama lagi." Jujurku. Memang sejak Tari melahirkan Adel, ia sudah tidak pernah lagi terlihat makan bersama denganku. Setiap aku makan pasti Tari beralasan sudah makan terlebih dahulu sebelum ku.

"Sudahlah, Pras ibu menyusui emang begitu. Mudah lapar jadi ya biarin Tari makan terlebih dahulu. Kamu makan saja dan jangan jadikan itu pikiran untukmu. Lagian kan yang terpenting Tari sudah makan." Ibu menimpali ucapanku.

"Maaf, Mas." Tari semakin menundukkan kepalanya. Selalu seperti itu jika aku menyinggung hal ini. Aneh memang, jika ibu menyusui akan lebih sering merasakan lapar tapi anehnya tidak pernah sekalipun aku melihat Tari makan.

"Ya sudah, Dek tidak apa-apa yang penting kamu makan dan kamu juga harus makan yang banyak karena kamu harus berbagi nutrisi dengan Adel." Ku usap pucuk kepala Tari yang masih menunduk.

Aku makan dengan sesekali melihat Tari yang sering menunduk saat melihatku menyuapkan makanan kedalam mulutku. Seperti seorang yang menginginkannya namun enggan. Entahlah mungkin aku salah mengira.

"Kamu mau, Dek? Sini Mas suapin." Ku dekatkan satu sendok nasi dengan lauk kearah Tari.

"Nggak usah, Mas."

"Sekali saja."

Tari menerima suapan yang aku berikan. Dia tersenyum manis kearahku. Manis sekali menurutku. Senyumnya yang tak pernah berubah meski pipinya kian menirus, tak segembul saat aku baru bertemu dengannya dulu.

"Lagi ya, Dek." Ujarku.

"Tidak, Mas tidak usah. Aku kenyang." Ucapnya dengan menjauhkan sendok yang ku dekatkan kearahnya.

Terlihat sekali perubahan ekspresi dari raut wajah Tari. Senyum yang baru saja merekah seakan hilang entah kemana di gantikan dengan raut wajah seperti orang ketakutan.

"Kamu kenapa, Dek?" Tanyaku khawatir dengan perubahan Tari yang sangat drastis ini.

"Tidak apa, Mas lebih baik Mas lanjutkan sarapannya aku tinggal dulu. Nanti aku kembali lagi." Tari berlalu meninggalkanku tanpa senyuman. Ku lihat Ibu yang tengah menunduk seperti menahan senyum.

"Ada apa, Bu?"

"Ah tidak. Ayo makan yang banyak, Pras. Habiskan makanmu, Nak."

Acara sarapan aku lanjutkan dengan hikmat bersama Ibu. Tak ku ketahui kemana perginya Tari sejak tadi. Mungkin ia melihat Adel ke kamar kami. Pikirku.

"Dek, Mas berangkat kerja dulu ya." Teriakku saat sudah menyelesaikan sarapanku.

"Bu, Pras berangkat kerja dulu ya, Bu. Pras nitip Laras dan Adel." Tuturku pada Ibu yang masih duduk memakan buah apel kesukaannya.

"Iya, Pras tenang saja. Ibu pasti jaga menantu dan cucu Ibu." Jawab beliau dengan senyum yang merekah.

"Mas." Suara Tari yang memanggilku dari arah belakang. Wanita yang ku nikahi tiga tahun yang lalu itu berjalan terponggoh menghampiriku lalu mencium takzim tanganku. Aku yakin dia telah menyisipkan doa tulusnya untuk keselamatan dan kelancaran pekerjaanku nantinya.

"Mas berangkat dulu ya, Dek kabari Mas jika ada apa-apa dengan Adel." Ku kecup pucuk kepala Tari lalu menyalami ibu dan siap berangkat ke kantor.

*****

Dering ponsel membuatku menepikan mobil yang baru saja keluar dari pintu gerbang rumahku. Panggilan dari atasan yang membuatku kembali mengecek berkas-berkas yang akan aku bawa. Nanti siang akan ada pertemuan penting dengan rekan bisnis perusahaan tempatku bekerja dan itu merupakan pertemuan yang sangat penting.

Aku menepuk keningku sendiri saat hampir saja aku melewatkan satu dokumen yang sangat penting di ruang kerja pribadiku di rumah. Cerobohnya aku sampai dokumen sepenting itu sampai hampir tertinggal.

Ku putar balik kendaraan yang ku tumpangi dan bergegas memasuki ruang kerja pribadiku di rumah untuk mengambil dokumen yang sempat tertinggal. Rasa haus di tenggorokan membuatku memutar balik langkah menuju ke dapur untuk sekedar meminum air dingin yang akan melegakan tenggorokan.

"Apa yang kamu lakukan, Dek?" Mataku terbelalak saat aku melihat Tari, istriku tengah makan makanan sisa yang sudah berada di wastafel. Memang barusan aku tidak menghabiskan sarapanku karena kenyang dan alhasil masih ada sisa di piring makanku yang saat ini sedang di makan oleh Tari.

"M-Mas." Ucapnya gugup dengan segera meletakkan kembali piring yang jelas-jelas ia ambil dari wastafel dan ia makan isinya.

"Apa yang kamu lakukan, Tari. Apa kurang makanan yang ada di meja makan hingga kamu makan makanan sisa seperti ini?" Tanyaku mencengkeram lengannya agar ia mau menatap kearahku.

"Ma-maaf, Mas." Hanya itu yang mampu Tari katakan dengan air mata yang keluar menganak sungai di pipi yang tirus itu.

"Ada apa ini ribut-ribut?" Teriakan Ibu menggema dari arah luar dapur.

Bab 3

"Ada apa ini ribut-ribut?" Teriakan Ibu menggema dari arah luar dapur.

"Ibu." Ucapku tanpa ku sadari. Terlihat raut wajah Ibu yang menegang lalu kembali normal.

"Ada apa, Pras?" Tanya Ibu dengan lembut kearahku. Berbeda sekali dengan saat ibu baru akan memasuki dapur barusan.

"Tadi Pras lihat Tari makan makanan sisa dan Pras marah. Mengapa Tari bisa makan makanan sisa padahal makanan yang ada di meja makan saja tadi masih banyak." Ujarku menjawab pertanyaan Ibu.

"Kamu itu gimana sih, Tari kalau masih lapar ya makan makanan yang ada di meja jangan makan makanan sisa. Gak baik loh untuk kesehatan kamu, apalagi kan kamu sedang menyusui." Tutur Ibu dengan lembut ke Tari.

Ku lihat Tari hanya menundukkan kepalanya tanpa berani melihatku maupun Ibu. Aku tahu Tari saat ini sedang menangis. Terlihat dari bahunya yang terguncang.

Menurutku ada hal yang tidak beres di sini. Mengapa Tari sampai memakan makanan sisa dan sejak kapan Tari melakukan ini semua. Memang selama ini aku tidak pernah melihatnya makan dan ini pertama kalinya aku melihatnya makan setelah yang terakhir sebelum Tari melahirkan empat bulan lalu.

"Sekarang kamu makan ya Tari. Jangan sampai suamimu banyak pikiran hanya karena kamu makan dari sia piringnya." Ibu menuntun Tari kembali ke meja makan. Di sana terdapat beberapa hidangan yang memang hanya di tutupi oleh tudung saji.

Ada raut ketakutan yang Tari perlihatkan saat Ibu menuntunnya ke arah meja makan. Bahkan Tari memandangku seakan ingin mengatakan sesuatu namun ia pendam.

"Kamu ngapain masih di situ, Pras ini sudah siang apa tidak ke kantor?" Pertanyaan Ibu mengagetkanku dari lamunan. Gegas aku mengambil dokumen yang sebelumnya aku letakan di meja dekat kulkas.

"Aku berangkat dulu ya, Bu, Dek. Kamu makan yang banyak biar ASI nya lancar. Aku nitip Tari dan Adel ya, Bu." Ucapku sebelum meninggalkan mereka untuk berangkat ke kantor.

*****

Aku pulang sedikit malam kali ini. Ada lembur yang harus aku kerjakan. Terlihat Tari sedang melamun di teras rumah, terbukti dia tidak menyadari aku yang melewatinya dengan mengendarai mobil. Memang sengaja tak ku bunyikan kelakson untuk memberitahunya tentang kepulangan ku karena takut jika Adel akan terganggu dengan suaranya.

"Dek." Panggilku saat berada tepat di sampingnya.

"Eh, Mas sudah pulang? Kapan pulangnya kok aku tidak tahu." Tanya Tari kaget karena panggilanku.

"Baru saja. Ayo masuk, angin malam tidak baik untukmu. Dimana Adel?" Tanyaku, pasalnya tak ku dapati Adel dalam gendongan Tari.

"Adel sudah tidur, Mas tadi minum obat." Jawab Tari datar.

"Kamu kenapa, Dek?" Tanyaku khawatir. Pasalnya malam ini Tari kembali terlihat berubah. Sikapnya dingin dan tidak ada lagi senyum hangat yang menghiasi wajahnya.

"Tidak ada. Ayo masuk!" Ajaknya pergi mendahuluiku.

"Aku ke kamar dulu mau mandi. Tolong bikinkan aku teh hangat ya, Dek!" Titahku sebelum berlalu untuk membersihkan diri. Seharian berkutat dengan beberapa file yang menguras pikiran membuatku membutuhkan air dingin untuk sekedar menyiram kepalaku yang terasa panas.

Setelah badan terasa lebih baik akibat guyuran air dingin gegas aku keluar untuk menemui Tari. Tak lupa sebelum aku meninggalkan kamarku ku lihat Adel yang sudah terlelap dalam bok bayinya. Ku sentuh kening Adel yang malam sebelumnya hangat.

"Masih panas dan sepertinya lebih panas dari kemarin malam." Gumamku.

Aku menelusuri isi rumah untuk menemukan Tari. Biasanya Tari akan meletakkan teh buatannya di depan televisi nyatanya hanya ada Ibu yang sedang menyaksikan sinetron dengan air putih di atas meja dan camilan di toples yang sedang di pangkuannya.

"Ibu lihat Tari?" Tanyaku pada Ibu yang tengah fokus melihat sinetron favoritnya.

"Tidak, di dapur mungkin." Jawab Ibu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

Aku melangkah ke dapur namun tidak ku temukan Tari di sini. Entah mengapa langkah kaki ini membawaku ke depan kotak sufor yang sudah tidak berdiri lagi, mungkin akibat tersenggol. Ku benarkan letak kotak susu itu namun dahiku mengernyit saat ku dapati isinya kosong.

"Mengapa kotak kosong masih di taruh di sini. Mengapa tidak langsung di buang saja agar tidak memenuhi meja." Gumamku berjalan membuang kotak susu itu ke tempat sampah.

"Mas." Panggian Tari mengejutkanku.

"Eh, Dek dari mana saja kamu. Mas mencarimu sejak tadi."

"Aku dari belakang. Sebentar aku bikinkan tehnya."

Ku lihat Tari dengan cekatan membuat teh yang sebelumnya aku minta.

"Ini, Mas tehnya. Aku letakkan di dekat Ibu ya, Mas." Tari membawa teh yang baru saja di buatnya ke ruangan bersantai. Tempat dimana Ibu tengah menonton televisi dengan santainya.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ini. Ibu sudah sejak tadi beranjak ke kamar dan Tari mungkin sudah sejak tadi terlelap menemani Adel. Memang akhir-akhir ini Tari lebih sering tidur lebih awal.

Benar saja, Tari sudah memejamkan matanya saat aku baru saja sampai di kamar. Terlihat Adel tidur dalam dekapan Tari. Mungkin Adel baru saja menyusu dan tertidur hingga masih tidur dalam dekapan Tari. Sungguh pemandangan yang sungguh indah melihat kedua wanita yang sangat aku cintai tertidur dengan damainya.

Baru saja ku rebahkan tubuh ini lengkingan tangis Adel kembali membuat mataku terjaga.

"Adel kenapa, Dek?" Tanyaku dengan mengucek mata yang sebelumnya mengantuk.

"Demamnya naik lagi. Badan Adel panas banget." Jawab Tari dengan wajah khawatir sekaligus bingung.

"Apa obatnya tidak bereaksi?" Tanyaku ikut khawatir.

"Entahlah, Mas." Tari berlalu meninggalkanku di dalam kamar lalu kembali membawa satu botol susu di tangannya. Di minumkannya air itu ke Adel.

Ku perhatikan Adel yang meminumnya dengan rakus membuatku teringat sesuatu. Bukankah tadi sore susu Adel telah habis dan tak ku lihat Tari membelinya malam ini. Aku juga tidak keluar membelikannya susu malam ini karena memang aku yang sering kali pergi untuk membeli susu untuk anakku.

"Susu Adel habis, Dek kenapa itu terlihat encer?" Tanyaku dengan hati-hati. Pasalnya ku lihat susu yang Adel minum memiliki warna yang tidak putih pekat namun bening.

"Ti-tidak, Mas susu Adel masih ada kok." Jawab Tari dengan terbata.

Tari meletakkan Adel yang sudah kembali tertidur ke tempat tidur milik kami. Ini selalu Tari lakukan saat Adel sedang sakit.

Sudah dua malam aku melihat Adel yang meminum susu dengan warna putih bening dan baru tadi sore aku menemukan kotak susu Adel yang kosong. Perasaan mengganjal pun menyelimuti hatiku. Pertanyaan apa yang sebenarnya Tari berikan pada Adel pun bersarang di benakku.

"Aku ambil minum dulu ya, Dek." Ucapku meninggalkan Tari yang tengah berbaring memeluk Adel. Ku lihat Tari mengangguk.

Aku bergegas berjalan ke arah dapur. Ada yang ingin aku pastikan kali ini. Benar saja, tidak ada kotak susu di atas meja. Bahkan saat aku mengecek tempat sampah otak susu yang tadi sore aku buang masih ada di sana. Lalu apa yang sebenarnya Tari berikkan untuk Adel? Pertanyaan itu seolah memenuhi isi kepalaku

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED