Bab 2

Bukan perihal yang sulit di zaman yang serba teknologi ini untuk mencari seseorang. Hanya dengan mengetik namanya dalam pencarian di media sosial. Maka akan muncul banyak rekomendasi akun-akun yang menampilkan nama seseorang yang berkaitan. Begitulah Ryan menemukan akun media sosial Kanaya.

Ia tidak pernah mengira bahwa pertemuannya dengan perempuan itu membuat Ryan terus memikirkannya. Ryan memang memiliki nomor ponsel Kanaya, tapi dia masih belum menghubunginya. Ryan merasa bimbang, haruskah ia menjadikan biaya laundy itu sebagai alasan untuk memulai percakapan?

Lalu, setelah itu bagaimana? Apa yang harus Ryan tanyakan setelahnya?

Ryan yang tengah duduk di teras Villa mengacak rambutnya. Ia mematikan rokoknya yang hampir habis dan membuangnya ke asbak. Untuk saat ini, setidaknya melalui unggahan media sosial Kanaya, Ryan telah mengetahui bahwa Kanaya tinggal di Jakarta dan merupakan pemilik sebuah kedai kopi.

***

(Dua Minggu Kemudian)

Suasana Hour Coffee siang itu terlihat cukup lengang. Hanya ada satu pelanggan yang duduk di dalam dan fokus dengan laptopnya. Sedangkan di luar ada dua mahasiswa yang tengah mengerjakan tugas. Hour Coffee baru dibuka tiga bulan yang lalu tak lama setelah Kanaya mengundurkan diri dari tempat kerja sebelumnya. Di Cafe tersebut Kanaya bekerja dibantu dengan satu barista dan satu pegawai yang bertugas memasak di dapur. Urusan mengantarkan pesanan, jika sedang tidak sibuk Kanaya turun langsung mengantarnya. Begitu pun urusan kasir, jika dua pegawainya tengah sibuk maka Kanaya yang mengambil alih.

Sejak dibukanya Hour Coffee, belum ada kemajuan yang signifikan. Kanaya benar-benar masih hijau dalam dunia bisnis seperti ini. Ia merintisnya hanya berbekal ilmu yang dipelajarinya sendiri serta dari teman-temannya yang memiliki bisnis serupa, selebihnya Kanaya melakukan riset sendiri dengan mendatangi tempat Coffee Shop yang lain.

Ukuran Hour Coffee tidak begitu besar juga tidak begitu sempit. Di ruangan indoor, terdapat tiga meja bundar serta dua kursi bar. Sedangkan di halaman belakang/outdoor, terdapat empat meja yang cukup besar.

Kanaya benar-benar masih merintis. Untuk membuat bisnis ini, ia bahkan menggunakan seluruh uang tabungan yang ia kumpulkan selama kuliah dan bekerja di perusahaan swasta selama satu tahun.

"Selamat datang di Hour Coffee." Kanaya dengan sigap berdiri di balik kasir, menyapa satu pelanggan baru yang masuk. Ketika melihatnya semakin dekat, tatapan Kanaya terpaku seakan dunianya berhenti berputar. Lelaki tampan itu mengenakan kaos putih polos dan celana hitam kain. Tangan kirinya menenteng jaket sementara bahu kanannya membawa tas.

Lagi-lagi Kanaya hampir tenggelam dalam pesonanya. Mata Kanaya mengerjap saat lelaki itu kini sudah di hadapannya.

"Ryan?"

"Kanaya?"

Kanaya terkekeh. Bagaimana bisa ia melupakan sosok Ryan, lelaki yang pernah ia muntahi bajunya. Ingatan memalukan itu tentu tak bisa Kanaya lupakan dengan mudah. Tetapi, yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Ryan masih mengingat dirinya? Oh tentu saja, Nay. Siapapun pasti akan mengingat kamu sebagai perempuan ceroboh yang memuntahi kaosnya.

Kanaya tidak bisa menahan senyumnya. Begitu juga dengan Ryan yang tengah menatapnya.

"Mau pesan apa?" Tanya Kanaya berusaha untuk kembali profesional.

Ryan mengalihkan tatapannya pada menu. Ia terlihat berpikir. "Mm ... hot cappuccino satu sama mac and cheese. Itu aja."

"Oke. Hot cappucino satu dan mac and cheese." Kanaya mengulangi. "Duduk di mana?"

Ryan menengok untuk melihat ruang di Cafe tersebut. Melihat ruangan outdoor yang tidak begitu panas, akhirnya ia memilih untuk duduk di luar. Di bawah rindangnya pohon tabebuya.

***

"Gue kira lo tinggal di Bali." Kanaya kini duduk di hadapan Ryan yang tengah menikmati cappuccino-nya.

Ryan tersenyum. Meletakkan cangkir kopi, tangan kirinya mengapit rokok di antara sela-sela jari telunjuk dan jadi tengahnya.

"Gue nomaden."

"Nomaden?"

"Iya. Kadang di Bali, kadang di Jakarta, kadang juga di Surabaya. Tergantung kerjaan aja."

Kanaya mengangguk-angguk. Nampaknya seru juga bekerja seperti Ryan, ia bisa sekalian berjalan-jalan. Tidak seperti dirinya yang hanya stuck di satu tempat.

"Tapi lo aslinya orang mana?"

"Jakarta. Gue lahir dan besar di sini."

Kanaya kembali mengangguk-angguk. Ia kemudian terjingkut karena baru mengingat sesuatu. "Oh iya! Uang laundry-nya. Jadi berapa?"

"Udah nggak usah ... santai aja ...."

"Aduhh jangan gitu dong ... gue masih nggak enak."

"Nggak apa-apa tenang aja ...."

"Yaudah, sebagai gantinya lo nggak perlu bayar ini semua."

Ryan tersenyum menyeringai, ternyata Kanaya cukup keras kepala. Akhirnya ia mengangguk mengalah.

"Lo udah berapa lama buka Cafe ini?" Ryan bertanya seraya membuang abu rokok ke asbak.

"Belum lama ... baru tiga bulan. Eh, tapi kok lo tau kalo gue ownernya?"

Ryan langsung terdiam. Dalam hati ia merutuki dirinya yang keceplosan. Ya bagaimana lagi, Ryan mengetahuinya karena ia melihat-lihat media sosial Kanaya. Tapi masa iya dia mengatakannya? Tapi, kalau tidak jujur, Ryan harus mencari alasan dari mana?

Akhirnya, dengan berusaha menutupi rasa malunya, Ryan memilih untuk jujur. "Gue liat di instagram lo."

"Ooh ...." Kanaya mengangguk santai.

"Bagus tempatnya, cozy juga buat kerja, nugas atau sekedar santai. Apalagi ada pohon tabebuya. Bagus nih kalo gugur mirip bunga sakura." Ryan buru-buru mengalihkan topik pembicaraan untuk mengakhiri kecanggungan.

Kanaya mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia setuju dengan pendapat Ryan, bahkan saat menatanya Kanaya dengan sepenuh hati memilih dan mempertimbangkan design Cafe-nya.

"Iya ... tapi masih sepi. Mungkin karena masih baru kali ya?"

"Iya Nay ... berproses ...."

Kanaya tersenyum. Itu pertama kalinya Ryan menggunakan panggilan 'Nay' untuknya.

"Mau gue kasih tips, nggak? Biar Cafe ini ramai?"

Sontak Kanaya mengangguk dengan tatapan antusias. "Mau! Mau banget!"

Ryan tersenyum. Ia melirik jam tangannya. "Besok ya? Sebentar lagi gue harus pergi, ada meeting soalnya."

Senyum Kanaya melebar. "Oke."

***

Memikirkan perkataan Ryan yang pernah melihat instagramnya, akhirnya Kanaya terpikir untuk mencari instagram Ryan. Ia juga jadi penasaran mengenai lelaki itu.

Namanya adalah Ryan Bagaskara. Tidak banyak yang dapat dilihat pada media sosial Ryan. Namun, unggahan foto dirinya selalu dipenuhi banyak komentar, terutama dari para perempuan. Komentarnya pun beragam, ada yang menggoda, meminta untuk di-follow back, dan lain sebagainya. Dari foto profilnya, mereka adalah perempuan yang cantik-cantik. Hanya saja, tidak ada satu pun yang komentarnya dibalas oleh Ryan.

Kanaya menghela napas. Lelaki setampan Ryan tentu saja banyak yang suka. Mustahil juga jika Ryan tak tertarik pada satu pun wanita yang memenuhi kolom komentarnya. Apalagi nampaknya Ryan itu akrab dengan dunia malam, tentu seleranya adalah perempuan-perempuan cantik yang bahkan membuat Kanaya saja tak berani membandingkan diri dengan mereka.

Aduhh Kanaya! Lo mikirin apa sih!

Kanaya menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengembalikan fokusnya. Ia pun memilih untuk menutup ponselnya, tapi justru, dirinya tak sengaja menekan tombol mengikuti media sosial milik Ryan. Saat itu juga tubuh Kanaya langsung membeku.

Kanaya bodoh!

Bab 3

Dalam keluarganya, Kanaya merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya adalah laki-laki. Mereka masing-masing sudah berkeluarga dan memiliki anak yang lucu-lucu. Damar, kakak pertamanya bekerja sebagai PNS dan Rama, kakak keduanya merupakan seorang jaksa. Maka tidak heran kalau mereka menjadi kebanggaan keluarganya. Terlihat jelas dari foto pelantikan Damar dan kelulusan Rama yang terpajang besar di ruang tamu.

Kini hanya Kanaya yang tersisa tinggal bersama kedua orang tuanya. Ayahnya merupakan purnawirawan perwira tinggi bintang dua yang pernah menjabat sebagai pimpinan kapolda. Sementara ibunya Kanaya merupakan pensiunan guru yang kini menjadi ibu rumah tangga. Di dalam foto keluarga mereka, hanya Kanaya sendiri yang tidak memiliki seragam kebanggaannya. Tapi, siapa peduli? Kanaya memang tidak tertarik untuk bekerja seperti kakak-kakaknya atau kedua orang tuanya. Ia lebih suka hidupnya seperti ini.

"Nay?" Shanti menyapa Kanaya yang baru saja sampai, meletakkan helm di atas meja.

"Bu." Kanaya mencium tangan wanita berusia 60 tahun bertubuh mungil yang merupakan ibunya. "Ayah udah tidur?"

"Baru aja masuk ke kamar."

Kanaya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam.

"Gimana Cafe, Nay? Ramai?"

"Yaa ... begitu Bu. Masih sama."

Shanti hanya mengelus lengan anaknya. "Yaudah, kamu mandi dulu gih. Udah makan?"

"Udah, tadi makan nasi goreng."

Shanti mengangguk-angguk. Ia kemudian kembali ke kamarnya usai menyapa Kanaya, memastikan bahwa anaknya sudah pulang dengan kondisi baik-baik saja. Dilihatnya suaminya yang tengah berbaring miring seraya menonton video youtube.

"Naya udah pulang, Bu?" Tanya Djoko.

"Udah. Baru aja."

Djoko, pria yang seluruh rambutnya sudah hampir memutih itu lantas mematikan ponselnya. Kini dirinya sudah bisa tidur dengan tenang.

Yaa ... begitulah keluarga Kanaya. Ia beruntung berada dalam keluarga yang menyayangi dan begitu memperhatikannya. Tapi di sisi lain, sering kali Kanaya merasa perlakuan orang tuanya terkadang berlebihan. Apalagi di usia Kanaya yang sudah dewasa. Ayahnya terutama, dia begitu protektif terhadapnya. Meski tidak begitu mengekang Kanaya, namun sikap ayahnya membuat Kanaya tidak sebebas perempuan lain seusianya. Masih ada batasan-batasan yang ayahnya berikan. Mungkin, karena Kanaya masih tinggal di rumah orang tuanya sehingga ia harus tetap mengikuti aturan yang ada. Tapi sejauh ini, Kanaya menganggap sikap orang tuanya sebagai bentuk kasih sayang apalagi dirinya adalah anak perempuan satu-satunya.

***

Sesuai janjinya kemarin, Ryan kembali datang ke Hour Coffee menemui Kanaya. Ia menempati meja yang sama, duduk di bawah pohon tabebuya, pun dengan minuman yang dipesannya, yaitu hot cappucino. Keduanya mengobrol dengan akrab, seperti yang ia katakan kemarin, Ryan memberikan tips-tips kepada Kanaya agar dapat meningkatkan jumlah pelanggan Cafe-nya. Untuk hal itu, tentu saja Ryan adalah ahlinya. Dia sudah berkecimpung di dunia bisnis seperti itu selama lima tahun. Memiliki tiga club yang ada di tiga kota besar di Indonesia, ingat?

Ryan memandang fokus buku menu, sesekali ia mengisap pod vape-nya yang mengepulkan asap cukup tebal beraroma strawberry milk.

"Dari segi konsep gue rasa udah bagus, target pasar Cafe lo juga jelas, pelajar, karyawan dan anak-anak muda. Tapi, boleh nggak gue kasih saran mengenai menunya?" Ryan yang semula memandang buku menu beralih melirik Kanaya di hadapannya, menopang dagu dengan tatapan lekat, siap menyimak. Ia mengangguk antusias. Untuk sesaat Ryan hampir teralihkan oleh wajah cantik Kanaya.

"Mm ... gue rasa, lo perlu bikin menu signature deh. Entah itu minuman atau makanan. Soalnya, itu juga bisa jadi salah satu daya tarik dan membuat Cafe lo beda dari yang lain."

"Gue udah kepikiran sih soal itu, tapi sampai saat ini gue masih riset menu apa kira-kira yang harus dijadiin signature."

"Oke ...." Ryan mengangguk-angguk. "Soal promosi di media sosial gimana?"

"Beberapa kali udah pernah bikin konten video promosi, tapi ya gitu, kayaknya masih belum bisa engage banyak orang."

"Boleh gue liat kontennya?"

Kanaya mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Ryan yang memutarkan video hasil editan dirinya yang seadanya.

Ryan mengembalikan kepada Kanaya usai ia selesai menontonnya. "Gue punya kenalan videografer, dia spesialis buat konten promosi untuk cafe atau resto. Kalo lo mau, gue bisa panggil dia ke sini."

"Serius??"

Ryan mengangguk seraya tersenyum tipis. "Iya. Temen gue juga ada beberapa yang jadi selebgram dan content creator. Gue bisa ajak mereka ke sini, if you want."

Sorot mata Kanaya menjadi sangat antusias. Ia mengangguk-angguk. "Boleh! Boleh banget!!"

Melihat ekspresi Kanaya, berhasil membuat Ryan terkekeh. Ia sedikit salah tingkah karena sikap polos dan lucu perempuan di hadapannya.

"Oke."

"Terus apa lagi menurut lo yang perlu gue tingkatin?"

Ryan menghembuskan asap vape melalui sudut bibirnya. "Mm ... sebetulnya yang terpenting dari bisnis ini tuh, relasi sih Nay ... promosi dengan word of mouth juga salah satu teknik marketing inbound paling efektif menurut gue. Dengan banyaknya relasi lo, lo nggak perlu capek-capek promosi nyebar brosur atau gimana, yang penting lo fokus aja ngasih eksperiens dan pelayanan yang baik buat konsumen. Nanti, dengan sendirinya mereka pasti akan dateng lagi dengan ngajak orang-orang baru, which is calon pelanggan baru lo."

Kanaya mengangguk-angguk, tidak melewatkan satu kata pun yang Ryan katakan.

"Live music atau event juga bisa jadi salah satu teknik promosi. Tapi, kalo soal itu gampang lah, nanti kita bahas setelah realisasiin yang sebelumnya."

Kanaya tersenyum lebar. Ia masih tak menyangka, pertemuannya dengan Ryan yang konyol justru berakhir hingga seperti ini. Membicarakan soal bisnis bersama dengan akrab. Pengetahuan Ryan mengenai dunia bisnis serta marketing juga begitu luas, ia memberikan banyak pencerahan baru. Kanaya jadi penasaran apa sebenarnya pekerjaan Ryan, apakah dia bekerja di bidang marketing?

"Makasih banyak ya. Lo ngasih banyak insight baru buat gue."

Ryan tersenyum seraya mengangguk. "Weekend nanti lo free nggak?"

"Kenapa?"

"Gue mau ajak lo ke suatu tempat. Kebetulan weekend nanti ada event. Darkhole. Lo tau 'kan?"

Tentu saja Kanaya tahu. Itu adalah Cafe dan Bar yang paling hits di Ibu Kota, sering menjadi tongkrongan anak-anak hits Jakarta mulai dari selebgram sampai artis. Hampir semua temannya juga sering berkumpul di sana, sementara dirinya hanya baru datang sekali. Itu pun ketika salah satu teman kuliahnya berulang tahun.

"Tau." Kanaya mengangguk.

"Gimana? Lo bisa?"

"Sure." Kanaya tersenyum menerima ajakan Ryan dengan senang hati.

***

"Bu." Kanaya menghampiri ibunya yang tengah mencuci piring usai makan malam.

"Hm?"

"Sabtu nanti Naya nginep di apartemen Thea, ya?"

"Mau ngapain emang Nay? Kemarin kamu sama Thea 'kan abis liburan ke Bali satu minggu."

Kanaya menunduk menatap jari-jari tangannya yang saling bertaut. "Yaa mau nginep aja ...." Ia mendongak untuk menatap wajah ibunya. "Boleh ya?" Bujuknya.

"Asal jangan macem-macem aja ...."

"Macem-macem apa sih Bu?"

Shanti tersenyum seraya meletakkan piring yang sudah dibilas. "Ya siapa tau ... sana kamu izin dulu sama ayah."

"Ibu aja deh yang bilang ...."

"Nanti malah nggak dikasih kalo ibu yang bilang."

Kanaya menghela pasrah. Salah satu hal yang berat untuk ia lakukan adalah meminta izin kepada ayahnya. Karena jika Kanaya melakukannya, ayahnya tidak akan sekedar memberikan izin begitu saja, tetapi ia juga akan menanyai hal detail layaknya wartawan.

"Nginep, nginep ... kayak nggak punya kamar sendiri aja."

See? Baru juga Kanaya berbicara, tapi sudah kena skak oleh ayahnya.

"Jugaan jarang-jarang ...." Kanaya duduk di sebelah ayahnya yang tengah memainkan handphone di teras depan. "Boleh ya, Yah??"

"Nggak usahlah." Djoko membenarkan letak kacamatanya.

"Yah ayah ...." Kanaya menggerutu kesal.

"Thea-nya aja suruh nginep di sini. Ngapain kamu yang harus ke sana? Biasanya juga dia 'kan yang nginep di sini?"

"Ya 'kan gantian Yah ... masa Thea terus yang nginep di sini."

"Gantian ... kayak apa aja."

Bibir Kanaya mengerucut, wajahnya sudah masam.

"Emang kamu mau ngapain di sana? Tumben-tumbenan banget nginep."

"Yaa mau quality time aja sama Thea. Jugaan kita jarang ketemu. Dia juga sibuk kerja. Mumpung weekend nanti dia libur juga 'kan?"

Djoko perlahan menghela napas. Ia terdiam sejenak. "Yaudah," katanya singkat padat dan jelas namun terasa seperti angin segar untuk Kanaya.

"Makasih ya, Yah!!" Kanaya langsung sumringah.

"Hm."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Lovers

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED