Vania menghela napas panjang. Ia melihat sejenak bayang dirinya di cermin.Baju terusan tersebut terlihat indah membalut tubuhnya dan nyaman dikenakan.
'Aku menarik ucapanku, pria yang suka main perintah sungguh tidak menyenangkan,' ucapnya dalam hati. Vania tidak memiliki pilihan, selain menuruti permintaan pria tersebut. Setelah menyuruhnya keluar, barulah Vania berganti pakaian.
"Apa kau sudah selesai?" tanya pria yang menunggunya di luar tersebut. Vania mendengkus keras.
'Kalau begitu tidak bersabar, mengapa memaksanya mencoba pakaian-pakaian itu?'
Vania berjalan keluar dan memperlihatkan pakaian yang dikenakan tersebut.
"Bagus," gumam pria itu sambil menopang dagu. Matanya tidak lepas melihat Vania dari atas ke bawah. Meski begitu, raut wajahnya terlihat datar, sehingga pujian yang dilontarkan tidak terlihat tulus.
"Baiklah, kita ...."
"Coba yang lain!" potong pria itu cepat. Vania mengerutkan kening, tetapi ia tahu dirinya tidak mungkin menentang pria tersebut. Vania menghela napas perlahan dan kembali masuk ke ruang ganti.
***
"Bagus." Ucapan singkat dan datar itu kembali terlontar dari bibir pria tersebut. Ini adalah telah kesekian kali Vania memperlihatkan pakaian yang ia coba dan hanya kata-kata itu yang terucap.
'Sabar, Vania, sabar,' gumam Vania dalam hati. Vania kembali masuk ke kamar ganti. Ia melihat pakaian yang akan ia coba tinggal dua helai lagi, iapun tersenyum kecil. Masalah akan segera usai. Namun, tepat setelah ia memikirkan itu, setumpuk pakaian kembali diantar padanya. Vania tidak lagi bisa menahan diri. Ia bergegas keluar dan menghampiri pria yang masih menunggunya tersebut.
"Apa sih yang sebenarnya kauinginkan?" tanya Vania sambil menatap tajam dan tangan bertolak pinggang.
"Aku hanya ingin membayarmu karena menemani Cio," jawab pria tersebut tenang.
"Baiklah, meski sebenarnya tidak perlu, aku masih bisa menerima alasanmu itu, tapi tidak dengan pakaian yang begitu banyak. Kau mau aku mencoba semua pakaian di toko ini."
"Tidak perlu khawatir, mereka juga senang karena aku akan membeli semua pakaian itu."
"Apa katamu?" tukas Vania dengan mata membeliak lebar.
"Apa kau sudah tidak waras? Kenapa ...?"
"Kau terlihat bagus memakai semua pakaian itu, jadi aku putuskan untuk membeli semua."
"Kau ...!" geram Vania sambil menudingkan jemari.
"Apa yang sebenarnya kauinginkan? Kau pasti berniat tidak baik."
"Aku sudah mengatakan semua ini adalah untuk membayarmu."
"Aku tidak mau menerima," tukas Vania sambil bergegas. Namun pria tersebut mencekal erat pergelangan tangannya.
"Lepaskan aku!" desis Vania geram. Ia tidak ingin membuat keributan karenanya ia tidak bersuara dengan keras. Itu saja telah membuat semua orang kini melihat pada mereka.
"Kau harus menerimanya!" sahut pria tersebut.
"Aku bukan pelayanmu. Kau tidak berhak memerintahku!" gusar Vania tidak mau mengalah. Ia berusaha melepaskan tangannya dari cekalan, tetapi pria tersebut justru menarik dia. Vania kini berada dalam rengkuhan pria tersebut. Lengan kokoh pria itu melingkari pinggang rampingnya. Wajah Vania sontak kembali memerah.
"Kau ... Dasar kurang ajar! Lepaskan aku sekarang!" desis Vania. Jantungnya berdegup keras karena wajah pria tersebut kini begitu dekat dengannya.
'Kendalikan dirimu, Nia. Dia memang suka bersikap seperti itu. Mau sampai kapan kau akan terus seperti ini saat berada di dekatnya?' tegur suara hatinya.
"MOM, DAD!" panggil sebuah suara. Vania dan pria yang masih memeluknya tersebut sontak menoleh. Mereka melihat Cio yang berlari menghampiri.
"Kalian sudah berbaikan? Aku senang sekali," ucapnya sambil menghambur memeluk pinggang keduanya.
Orang-orang yang melihat kemudian berlalu pergi. Ternyata hanya pertengkaran biasa suami istri, itulah yang terbersit dalam benak mereka.
***
"Mom, kenapa pulang ke sini? Kau tidak pulang dengan kami?" tanya Cio pada Vania. Mobil yang mengantar kini berhenti di depan rumah Vania. Cio pula yang memaksa mengantar, meski sebelumnya Vania sempat ingin pulang dengan taksi. Ia tidak ingin lagi berlama-lama dengan ayah bocah lelaki tersebut.
"Mommy-mu masih marah pada Daddy. Ia tidak mau pulang," sahut pria yang duduk di balik kemudi tersebut.
"Tapi nanti Mommy akan pulang, kan?" tanya Cio dengan suara terdengar kecewa.
"Tentu saja, saat dia tidak marah lagi, dia pasti pulang."
"Ini semua salah Daddy," tukas Cio sambil melipat tangan dengan wajah cemberut.
"Kalau tidak, Mom pasti masih tinggal dengan kita."
"Daddy telah minta maaf, tapi ...." Mata pria tersebut melirik ke arah Vani melalui spion depan mobil. Vania berdehem sejenak sambil tersenyum kecil. Ia kemudian membelai rambut Cio.
"Mom masih merasa sedikit kesal, jadi Mom tinggal di sini dulu," bujuknya.
"Jadi kalau Mom sudah tidak kesal, apa Mom akan tinggal lagi dengan kita?" tanya Cio dengan mata kembali berbinar. Hanya ingin menyenangkan bocah tersebut, jadi Vania mengangguk saja. Vania kemudian pamit dan segera keluar dari mobil. Cio berniat ikut dengannya, tetapi sang ayah segera melarang.
"Mom masih kesal sekarang. Kita tinggalkan sendiri dulu. Kau tahu dia sangat buruk saat marah. Saat tidak marah lagi, ia pasti kembali tinggal dengan kita."
Cio terlihat tidak senang, tetapi karena ayahnya terus melarang, ia hanya bisa setuju saja. Setelah beberapa saat, mobil berwarna hitam tersebut kemudian melaju pergi. Vania menghela napas perlahan. Ia tidak berharap akan bertemu mereka lagi.
***
Baju yang dibeli telah diantar ke rumah Vania. Gadis itu hanya bisa menggeleng melihat tumpukan pakaian yang kini memenuhi tempat tidurnya. Ia bahkan tidak akan pernah mengenakan, tetapi pria tersebut tetap saja membeli. Vania berpikir sejenak, ia mungkin akan mengembalikan pakaian-pakaian itu ke toko.
Vania menggeleng. Ia akan mengurus itu nanti. Sekarang telah waktunya ia untuk segera bersiap jika tidak ingin terlambat bekerja.
Pagi tersebut hari tampak begitu cerah. Tanpa ragu, Vania bergegas menuju ke tempat ia bekerja. Itu adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang advertising. Mereka membuat iklan dari produk-produk yang diluncurkan pelanggan. Vania bertugas untuk merancang ide dan konsep dari iklan yang akan dibuat. Ini adalah hal baru bagi Vania, tetapi ia sangat bersemangat dengan pekerjaan tersebut.
"Permisi, permisi," ucap Vania yang setengah berlari. Ia baru saja tiba di gedung perusahaan yang besar dan mewah tersebut. Waktunya telah mendesak. Ia bergegas menuju lift untuk segera sampai di lantai lima, tempat kerjanya.
"Apa kau tidak tahu aturan?" tegur seorang pria yang segera menghadang Vania di pintu masuk lift. Vania mengerutkan kening tidak mengerti. Lift tersebut tampak kosong. Hanya ada pria di depannya itu dan orang satu lagi di dalam lift.
"Maaf, tapi aku ...."
"Biarkan dia masuk," ucap orang di dalam lift. Vania tertegun, suara itu terdengar cukup familiar. Segera ia berusaha melihat dan mulutnya menganga dengan mata membeliak lebar. Pria di dalam lift melepas kaca mata hitamnya dan tersenyum. Dia adalah ayah Cio, pria yang paling tidak ingin ditemui lagi oleh Vania.
"Kau ini mau masuk atau tidak? Sudah disuruh masuk, malah bengong saja," tegur pria yang berdiri di depan Vania. Vania tersadar seketika dan menggeleng.
"Masuklah," suruh pria yang berada di dalam lift.
"Kau bisa terlambat kalau tidak ikut dengan lift ini sekarang."
"Tidak usah, kalian pergi lebih dulu saja," ucap Vania sambil menggeleng.
"Kau ini benar-benar tidak tahu diri, ya? Tuan Kyle telah menyuruhmu masuk, tapi kau berani menolak. Pekerja sepertimu sebaiknya dikeluarkan saja," tegur pria di depan Vania. Vania kembali tertegun. Tuan Kyle? Dia pernah mendengar nama pemilik perusahaan adalah Kyle Allister. Jadi apakah pria di dalam lift adalah ...?
"Ronan, kau jangan menakuti dia," tegur pria di dalam lift ke pria yang berdiri di depan Vania.
"Kalau memang tidak mau, kita tidak perlu memaksa. Tutup saja pintunya."
Pria bernama Ronan mengangguk dan segera menekan tombol lift. Pintu perlahan mulai menutup. Vania tersadar dan segera menahan pintu dengan tangan kanannya.
"Tunggu sebentar, aku ikut dengan kalian."
***
'Aku tidak peduli lagi. Aku tahu ini memalukan. Aku juga begitu berharap tidak bertemu lagi dengannya, tapi aku juga tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Jika terlambat, aku mungkin akan dapat peringatan. Catatanku akan menjadi buruk, poinku akan berkurang, dan terakhir aku akan dikeluarkan,' gumam Vania dalam hati. Ia sedikit terkejut saat Kyle menjentikkan jari di depannya.
"Kita sudah sampai di lantaimu," ucapnya. Vania melihat pada angka lima yang menyala merah pada dinding samping lift dan pintu yang terbuka lebar. Dengan terburu, ia bergegas keluar. Vania berbalik dan pintu lift telah menutup. Angka lift telah bertambah. Vania menghela napas lega. Ia berharap tidak lagi bertemu Kyle.
***
"Gimana? Tuan Kyle cakep banget, kan?" tanya seorang gadis yang meja kerjanya bersebelahan dengan tempat Vania. Gadis berambut hitam lurus tersebut bernama Cynthia Asako. Seperti penampilan dan namanya, Cynthia memiliki darah Jepang dalam dirinya. Vania hanya diam saja menanggapi pertanyaan itu. Jika ditanggapi, ia mungkin malah menjadi bahan gosip dari rekan-rekan kerjanya.
"Sebenarnya aku betah kerja di sini juga karena dia. Jika bisa melihatnya, aku merasa hari-hariku sungguh sangat indah," ucap Cynthia dengan tatapan menerawang dan bibir tersenyum manis. Ia kemudian melihat lagi pada Vania.
"Tapi aku tidak seberuntung dirimu, kau bahkan bisa berada satu lift dengannya. Pasti sangat menyenangkan bisa melihat dia dari dekat."
"Aku tidak merasa ada yang luar biasa satu lift dengannya, kau terlalu berlebihan menanggapi," sahut Vania.
"Kau ini, kau pasti belum tahu. Tuan Kyle adalah pemilik perusahaan. Selama ini, tidak ada yang dibolehkan berada satu lift dengannya. Kau adalah satu-satunya yang bisa melakukannya. Jangan-jangan dia memang tertarik padamu?"
"Jangan bicara sembarangan, tidak ada hal seperti itu. Aku bahkan tidak mengenal dia. Sudahlah, jangan bergosip lagi."
"Lagipula yang kaukatakan juga tidak masuk akal. Tuan Kyle telah memiliki kekasih dan dia sangat cantik. Mana mungkin dia tertarik pada gadis seperti Vania?" sahut seorang gadis lain yang berambut pirang kecoklatan. Gadis itu bernama Kezia, sifatnya agak angkuh dan suka bermanis-manis di depan atasan. Karena itu banyak yang tidak menyukainya. Kezia sendiri juga tidak suka dekat dengan yang lain. Vania menduga mungkin bagi Kezia, para pekerja lain adalah saingan dia dalam pekerjaan.
"Tidak ada yang tidak masuk akal. Tuan Kyle juga memiliki hati dan perasaan, ia bisa saja tertarik pada Vania," kilah Cynthia. Kezia tertawa mengejek sambil melihat sekilas pada Vania.
"Gadis tidak menarik sepertinya bisa menarik perhatian Tuan Kyle? Jangan mimpi ketinggian!"
Baru saja ia selesai mengatakannya, Ronan datang ke tempat kerja mereka dan menyuruh Vania untuk menemui Kyle. Kini ganti Cynthia yang tertawa sambil meleletkan lidah pada Kezia yang seketika memasang wajah cemberut.
***
Vania kini berdiri di depan Kyle. Kyle sendiri tengah duduk di balik meja kerjanya. Sebuah laptop terbuka di depannya dan ia sibuk bekerja dengan itu. Sekian menit berlalu dan Kyle masih belum juga mengatakan apa pun pada Vania. Pria itu juga tidak melihat sedikitpun pada Vania.
"Apa kau sedang mengawasiku?" tanya Kyle yang masih tetap menatap lurus pada layar di depannya.
"Apa maksudmu? Bukankah kau yang memanggilku, ... Tuan?" Vania balas bertanya. Sempat terjeda karena ia lupa bahwa Kyle adalah pemilik perusahaan.
"Aku memang memanggilmu, tapi tidak menyuruhmu berdiri di depanku."
"Lalu? Apa maksudmu kau menyuruhku menunggu di luar?" tanya Vania sambil menunjuk pada pintu. Kyle menggeleng sambil tertawa. Tawa itu terdengar bahkan begitu merdu sehingga membuat perasaan Vania kembali gundah. Ia tidak ingin bertemu Kyle, ia tidak ingin merasa tertarik pada pria angkuh dan tukang perintah, tetapi semua keinginannya itu tidak terkabul. Kyle bahkan adalah pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Itu artinya mau tidak mau Vania pasti akan bertemu dengan pria itu.
Kyle mengendikkan kepala ke arah kursi di depannya mengisyaratkan agar Vania duduk. Gadis itu segera menurut. Kyle menghentikan yang ia kerjakan dan melihat pada Vania sambil bersandar pada kursi.
"Pakaian yang kubelikan kemarin, kenapa kau tidak memakainya?" tanya Kyle setelah beberapa saat.
"Pakaian itu terlalu bagus dan mahal. Aku merasa tidak enak memakainya. Kurasa aku akan mengembalikan ke toko."
"Aku telah membelikan untukmu."
"Aku berterima kasih untuk itu, tapi aku sudah mengatakan aku tidak memerlukannya."
Vania berdehem sejenak.
"Pakaian itu adalah milikku sekarang. Apa yang kulakukan padanya, itu semua terserah padaku, bukan?"
"Kau tetap saja tidak berubah," gumam Kyle nyaris tidak terdengar. Namun hal itu cukup membuat Vania terkejut. Ia melihat seksama pada Kyle untuk beberapa saat. Pertanyaan apakah ia mengenal Kyle sebelumnya berkecamuk dalam benaknya, tetapi ia kemudian menggeleng.
'Tidak, aku tidak pernah mengenal dia, tapi mengapa ia bersikap seperti telah mengenalku? Apakah hanya dari pertemuan kami kemarin?'
"Cio terus saja bertanya tentang ibunya. Ia berkata jika aku tidak mau mencari, dia akan mencari sendiri," ucap Kyle mengalihkan kembali pikiran Vania pada pria itu.
"Kalau begitu, kau harus segera menemukan ibunya. Cio begitu merindukan dia. Mungkin Cio benar-benar akan mencari sendiri."
Kyle tersenyum tipis.
"Aku tidak melakukannya, meski begitu aku telah berhasil menemukan dia."
"Baguslah jika seperti itu."
"Bahkan jika dia berencana kabur, dia tidak akan bisa melakukannya. Aku tahu alamat rumah dan tempat dia bekerja."
Vania hanya mengangguk. Ia membayangkan ibu Cio mungkin telah pergi dengan susah-payah dari pria itu, tetapi kini malah ditemukan dengan mudah.
'Sudahlah, mungkin nasib dia memang tidak beruntung,' gumam Vania dalam hati.
"Jadi apa kau mau ikut denganku untuk bertemu Cio?" tanya Kyle.
"Untuk apa? Cio pasti ingin segera bertemu ibunya."
Kyle menyeringai.
"Karena itu kau harus ikut. Karena kau adalah ibunya Cio."