Zanara merasa panik seketika, kemudian mengambil cermin kecil dari dalam saku celemek yang ia gunakan, memeriksa apa yang menempel di wajahnya. Kotorankah?
Tak ada apa pun di sana, sementara Jayme dengan sikap tak bertanggung jawab justru tersenyum sendiri.
"Jangan bercanda! Ada apa di wajahku?" tanya Zanara, sedikit jengkel.
Jayme menggeleng.
"Ada kecantikan di sana. Baiklah ... aku pergi dulu. Ini ponselmu, sudah selesai kubersihkan dari pengganggu itu, jadi kau aman sekarang."
Jayme kemudian memutar tubuh dan mengayun langkah pergi meninggalkan Zanara yang hanya menatap punggung Jayme yang menjauh.
Ia lega karena akhirnya Jayme pergi dan mungkin akan kembali setelah beberapa hari. Pekerjaannya sebagai dokter jiwa membuat Jayme lebih sering berada di rumah sakit ketimbang di rumah. Dan saat libur, pria itu justru datang menemuinya dan menghabiskan waktu dengan Marion.
Apakah ia tidak punya keluarga untuk dikunjungi hingga selalu datang pada Zanara?
Padahal Zanara selalu bersikap ketus pada pria itu, tetapi Jayme seperti tidak kapok untuk datang lagi dan lagi, dengan alasan bertemu Marion, padahal rindu pada ibunya Marion.
Jayme mendekatinya sejak lama. Bahkan sejak Marion baru lahir, pria itu bersikap seolah punya tanggung jawab terhadap Marion hingga ia selalu datang dan meluangkan waktu bermain bersama gadis kecil yang mulai terbiasa bahkan yang ia tahu selama ini Jayme adalah ayahnya.
"Mama, apakah papa akan tinggal bersama kita? Ia selalu pergi dan kembali setelah beberapa hari berselang," tanya Marion dengan polosnya, ketika mereka tengah bercengkerama di balkon apartemen.
Zanara membelai rambut putrinya yang seketika mengingatkannya pada Mark. Namun, dengan cepat ia tepis pikiran itu. Tak boleh ada pria itu lagi dalam kehidupan Zanara maupun Marion. Sampai kapan pun bagi Zanara pria itu sudah mati.
"Marion, bagaimana mama harus katakan padamu? Paman Jayme itu ... dia ...." Zanara menghela napas, pasrah ketika menyadari Marion kini terlelap di pangkuannya. Zanara tersenyum memandangi paras ayu dan polos yang kini ada dalam rengkuhannya.
Ingatannya kembali pada dua tahun lalu, saat dirinya memergoki Mark melakukan hal menyakitkan di depan matanya. Andaikan saat itu ia tidak pergi dari rumah, entah apa yang akan terjadi padanya saat ini.
Ponsel Zanara meraung keras. Nama Shienna tertera di sana. Sudah sekian lama adiknya itu tidak menghubunginya, dan kini akhirnya ia melakukan panggilan yang jelas sangat dinanti oleh wanita yang kini menginjak usia 33 tahun tetapi masih tampak muda dan cantik layaknya berusia dua puluh tahunan.
"Hey, bagaimana kabarmu?" sapa Zanara, yang langsung disambut desahan kesal. "Ada apa" Apakah ada masalah?"
"Kau tahu, Zee. Lagi-lagi Mark datang menemuiku demi meminta informasi tentangmu. Apakah kau baik-baik di sana?" tanya Shienna, setelah melaporkan mengenai kejadian yang baru saja terjadi.
Zanara memang meminta Shienna untuk tidak mengatakan pada siapa pun mengenai keberadaannya. Ia tak ingin ada ada yang mengetahui di bumi mana ia berpijak sekarang. Hidupnya dan Marion sudah bahagia, ia tak ingin ada seorang pun yang merusak itu semua.
Ia ingin kehidupannya dan Marion tak terusik oleh apa pun. Dan Jayme adalah kejadian luar biasa. Ia tak menyangka pria itu akan hadir dalam kehidupannya.
"Aku baik, sampai sekarang. Aman dan masih bersuara."
"Baguslah. Bagaimana dokter tampan itu? Apakah ia masih sering mengunjungimu?" Kali ini Shienna memelankan tempo bicaranya, takut jika Zanara akan marah mendengar pertanyaan yang berulang kali ia tanyakan mengenai Jayme.
"Itu lagi. Kumohon jangan mulai, Shie ... aku sangat malas membahasnya. Ia tadi datang dan suasana hatiku mendadak suram. Bagaimana jika buatmu saja. Namanya hampir sama dengan mantan suamimu itu."
Shienna terbahak seketika, kala mendengar kata demi kata yang diucapkan Zanara. "Kau bercanda? Aku tak mau patah hati lagi, Zee. Semua pria jika sudah memilihmu, maka ia akan tetap pada pendiriannya. Meski kita kembar, kau ingat bagaimana Mark—oops, maaf, Zee ... aku tak bermaksud—"
Zanara menghela napas lelah. "Tak masalah, Shie. Sudahlah, jangan bahas itu. Bagaimana dengan Aaron? Apakah ia sudah mulai bersekolah? Aku sangat merindukan kalian. Kapan-kapan kau harus datang ke sini, kalian pasti akan menyukai tempat ini."
Dan berbagai obrolan mengalir begitu saja antara mereka sebagai cara melepaskan rindu. Setelah sekian lama terpaksa berjauhan, tentu saja terbit kerinduan di hati keduanya terhadap masing-masing. Namun, Zanara yakin suatu saat mereka akan berkumpul kembali.
Ia bersyukur dengan adanya Shienna, ia tak merasa seorang diri karena masih memiliki seseorang yang bisa menjadi sahabat baginya.
"Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin menyampaikan itu dan memeriksa kabar kalian berdua. Aku merindukanmu, Zee. Semoga aku akan bisa menyusul ke sana segera. Dah ... aku mencintaimu."
Panggilan berakhir dan meninggalkan Zanara dengan berbagai pikirannya tentang apa yang baru saja disampaikan oleh Shienna. Benarkah Mark mencarinya? Apakah ia dan wanita itu telah berpisah? Bukankah kabar terakhir yang ia dengar, Mark telah bertunangan dengan wanita bernama Laura itu. Entah Laura atau Bernadette, yang pasti wanita itu telah merusak keharmonisan rumah tangga Zanara.
Namun, ini tak hanya kesalahan wanita itu, karena jika cinta, meski godaan sekuat apa pun menghempas, Mark tak akan pernah goyah. Kenyataannya justru sebaliknya.
Mengenang masa lalu tak akan pernah ada habisnya, selain itu juga hanya akan menerbitkan luka di hatinya kembali menganga.
Zanara kembali menghadap layar ponselnya, kemudian menekan nomor Melika, pengasuh Marion. Ia membutuhkan bantuannya besok, karena tak mau lagi membawa Marion ikut bekerja. Ia tak ingin Jayme memiliki alasan untuk datang terus menerus. Jika ia ingin datang menemui Marion, ia bisa menemuinya di rumah.
Zanara sungguh tak ingin bertemu pria itu, meski secara tak sengaja.
"Ya, Nyonya Miller?" sapa Melika dari seberang. Gadis berusia 20 tahun itu terdengar bersemangat setiap kali menerima panggilan dari Zanara. Satu lagi orang yang menyayangi Marion selain dirinya. Dan Jayme, tentu saja.
"Hey, Melika. Bisakah besok kau menemani Marion seharian di rumah? Dan jika kau mau, aku ingin kau mulai melakukannya setiap hari, karena mulai besok aku tak akan membawanya bekerja lagi."
"Mau, Nyonya. Terima kasih banyak. Aku akan datang lebih pagi besok. Terima kasih."
Satu masalah telah terselesaikan. Kini tinggal mengatur bagaimana agar Marion tak lagi merengek untuk ikut dengannya saat bekerja. Bagaimana pun Marion masihlah kecil, jadi akan ada saatnya ia meminta untuk selalu lengket dengannya, rewel dan segala tingkah polah yang terkadang menggemaskan meski juga membuat Zanara kesal.
Namun, jelas cintanya untuk Marion tak terkira. Ia bahkan rela mati demi kebahagiaan putri tunggalnya itu.
Zanara kemudian bangkit, mengangkat tubuh mungil Marion dan membawanya ke kamar. Ia kembali memandangi gadis kecil itu, mengusap kepalanya, lalu mengecupnya dengan penuh cinta. Ia meninggalkan gadis itu terlelap, sementara dirinya mulai mempersiapkan bahan untuk membuat roti yang akan ia jual besok.
Tengah berkutat dengan kesibukannya, ponsel Zanara berdering untuk ke sekian kalinya. Panggilan dari nomor tak dikenal lagi. Ini sudah entah berapa kali ia mendapat panggilan semacam itu. Dan untuk kesekian kalinya, meski ragu, ia terpaksa menerima panggilan itu.
"Halo," sapanya, berharap yang menjawab adalah salah satu teman atau anggota keluarga. Atau bila perlu sekalian saja orang-orang tak dikenal atau salah sambung. Namun, yang ia terima justru sebaliknya.
Suara seseorang yang tak mungkin ia lupa seumur hidupnya, yang selama ini berusaha ia buang jauh segala kenangan tentang pria itu dari rongga kepalanya.
"Halo, Zee. Bagaimana kabarmu ... dan anak kita—siapa namanya? Aku sangat merindukan kalian."
Zanara membulatkan maniknya saat mendengar salam sapaan yang diucapkan oleh pria di seberang sana. Ia segera mengakhiri panggilan dan memeriksa ponselnya dan memblokir semua nomor tanpa nama secara liar. Semua nomor baru yang terus menghubunginya sudah diblokir oleh Jayme. Namun, mengapa ...?
Ia kemudian berlari ke arah kamar Marion, didera ketakutan kalau-kalau gadis kecilnya itu merasakan kehadiran ayahnya.
Tidak! Zanara tak akan membiarkan Mark datang dan menemukannya. Ia tak akan membiarkan pria itu mengusik ketenangan hidupnya bersama Marion. Mereka berdua sudah cukup bahagia meski hanya menikmati segalanya berdua tanpa sosok lelaki yang mendampingi, tanpa sosok ayah untuk putrinya, mereka tetap bahagia.
Kehadiran Jayme, meski mungkin menyebalkan bagi Zanara, tetapi setidaknya tidak bagi Marion. Dan meski zanara tak menyukai kunjungan dari pria itu, tetapi ia tak menampik kenyataan bahwa kehadiran lelaki di kehidupan mereka menerbitkan rasa aman.
Zanara mendekat pada putrinya yang masih lelap, mendekapnya seolah ia akan kehilangan Marion jika melepaskan pelukannya. Ia mengecupi pipi dan kepala putri kecilnya itu.
Dan pagi harinya, Zanara memutuskan untuk menutup tokonya sementara. Ia tak ingin meninggalkan Marion di rumah, tetapi juga tak mungkin membawanya bekerja. Banyak hal yang menjadikan dilema itu makin menjadi.
Jika ia meninggalkan Marion, bagaimana jika Mark lantas datang dan mengambil Marion darinya? Namun, hal lain yang membuatnya bingung adalah Jayme yang akan terus menjadikan Marion sebagai alasan dirinya untuk datang menemui Zanara di toko.
Melika bahkan merasa bingung saat melihat Zanara masih berada di rumah.
"Nyonya Miller, apakah kau tidak jadi pergi bekerja?" tanya gadis itu pada Zanara yang kini tengah duduk di sofa sambil mengurut kening. Wanita itu menggeleng.
"Tidak, Melika. Kepalaku tiba-tiba pening sejak semalam."
"Uhm ... lalu apakah aku perlu kembali pulang saja atau—"
"Tidak, tidak. Aku tetap membutuhkan bantuanmu di sini. Mungkin nanti aku harus berbelanja, dan aku ingin kau ikut denganku. Sekarang kau bisa membantu untuk menjaga Marion sebentar. Aku akan beristirahat di kamarku. Thanks, Melika."
Zanara kemudian masuk ke kamarnya, tetapi ia tak bisa terpejam. Ia bangkit kembali, kemudian mengambil sweaternya dan mengenakannya asal. Setelah berpamitan pada Melika dan Marion, ia pergi sebentar untuk memeriksa kondisi toko. Ia harus memasang pemberitahuan bahwa tokonya sedang libur hari ini.
Namun, baru saja memarkir mobilnya di sisi jalan yang tak jauh dari toko, Zanara melihat sosok yang sangat ia kenali, bahkan yang selalu ia rindukan meski seringkali ia tepis.
Zanara tak ingin berharap banyak dari apa yang ia terima hingga hari ini. Bisa menjalani hidup yang tenang bersama Marion adalah berkat yang luar biasa baginya. Dan kini, setelah segalanya berjalan baik-baik saja, mengapa pria itu harus kembali lagi?
Zanara membuang wajah ke arah lain, saat pria itu sepertinya menyadari kehadiran orang lain yang mengawasinya dari kejauhan. Ia tak ingin Mark menemukannya di sini, di Turki, atau di belahan dunia mana pun. Ia ingin pria itu mengetahui dan menganggap dirinya dan Marion sudah mati.
Bukankah memang ia sudah mati?
Zanara yang lama sudah mati. Tak ada lagi Zanara yang begitu mencintai Mark yang posesif dan bahkan rela menyerahkan segalanya untuk pria itu. Zanara yang saat ini berada di mobil, mengawasi dan memastikan Mark tak akan menemuinya dan Marion adalah Zanara dengan versi lain, yang tak akan pernah bisa ia miliki bahkan sekedar menemuinya. Tak akan pernah.
***
Zanara membuka pintu tergesa. Mencari Melika dan Marion yang tak tampak keberadaannya di apartemen mereka. Panik dan cemas, itu yang sekarang tergambar di benak Zanara. Ia harus membawa Marion pergi dari apartemennya, setidaknya menjauh dari Bursa untuk beberapa lama. Ia harus memastikan putrinya tak akan pernah bertemu dengan Mark sama sekali.
"Marion!!!"
Zanara berkali-kali memanggil putrinya itu, tetapi tak ada sahutan dari mana pun. Ia menilik balkon, kamar, bahkan di dapur, tempat favorit Marion. Namun, tak menemukannya di sana. Tubuhnya sudah bergetar hebat. Bagaimana jika Mark berhasil menemukan keberadaan mereka? Bagaimana jika ia tiba lebih dulu di sini lalu membawa Marion pergi?
Berbagai kemelut tengah menyergapnya saat ini.
"Melika!!! Marion!!!"
Masih juga tak ada tanda kehadiran mereka. Jika mereka bermain di taman, mengapa Zanara tak melihat siapa pun saat melewati tempat itu tadi?
Memang, Marion biasa mengajaknya bermain di taman yang lokasinya tak jauh dari gedung apartemen mereka, tetapi Zanara tak menemukan anak-anak bermain di sana kecuali hanya beberapa petugas taman yang tengah melakukan perawatan.
"Di mana kalian?" Zanara mulai tak mampu menahan air matanya yang mulai meleleh.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor salah seorang pengelola apartemen yang tinggalnya beberapa lantai di bawah. Tak lama menunggu, suara wanita paruh baya menyapanya di seberang.
"Halo, sayang. Apakah ada yang bisa kubantu?"
"Nyonya Yilmas, apakah Melika dan Marion ada di tempatmu?" tanya Zanara, berusaha mengendalikan napasnya agar wanita yang bicara dengannya tidak ikut panik, andaikan ternyata Marion tidak berada di sana.
"Tidak, sayang. Kupikir ia ikut denganmu ke toko. Apakah kau tidak bekerja?" tanya wanita itu. Namun, pertanyaan Emine Yilmas seolah tak terdengar lagi, karena pikiran Zanara yang berkelana dengan liarnya.
"Zanara? Apakah kau masih di sana? Apakah ada masalah?"
"Nyonya Yilmas, jika Marion datang ke sana, kumohon jaga mereka. Aku akan ceritakan nanti. Terima kasih sebelumnya."
Zanara segera mengakhiri panggilan, kemudian kembali mencari putri dan pengasuhnya. Kali ini, ia menuju gerai es krim yang berada di ujung jalan, salah satu tempat yang juga disukai Marion. Dan nihil.
Zanara menepikan mobilnya. Tangannya sudah bergetar hebat dan tak mampu ia kendalikan. Terlebih air matanya yang kini mulai mengalir deras di sudut matanya. Hal semacam ini tak pernah terjadi sebelumnya, karena Melika pun selalu mengabari setiap kali mengajak Marion bepergian.
Kali ini, nomor Melika tak bisa dihubungi dan sama sekali tak ada kabar dari gadis itu. Wajar saja jika Zanara panik bukan kepalang. Terlebih setelah apa yang disampaikan oleh Shienna, lalu telepon dari Mark yang mendukung kekhawatirannya yang kini bagaikan bola salju.
Sebuah panggilan mengejutkan Zanara yang tak sadar tepekur sendiri. Panggilan rutin dari Shienna yang mungkin datang di saat yang kurang tepat. Namun, pada akhirnya ia menerimanya juga, karena kini Zanara membutuhkan seseorang yang mau mendengar keluh kesahnya.
"Shie ... apakah kau meberitahukan nomorku pada pria itu?" serang Zanara tiba-tiba, saat Shienna baru saja hendak menyapa dengan salam terhangat.
"Whoa ... easy, girl. Aku tak pernah memberikan informasi apa pun padanya, sumpah. Memangnya kenapa? Apakah ada masalah?"
Zanara tak segera menjawab pertanyaan Shienna. Ia menyugar rambutnya dengan kasar.
"Pria itu ... kemarin ia menghubungiku. Dan hari ini entah siapa yang memberikan informasi, ia ada di sini, Shie. Ia datang ke toko dan mengetuk berkali-kali. Aku melihatnya sendiri."
"Oke, pelan-pelan. Aku sedang berusaha menyimak. Lalu, apa yang membuatmu sepanik ini? Terdengar dari suaramu, apakah semua baik-baik saja?"
Isak Zanara mulai terdengar. "Tidak. Ini buruk, Shie, sungguh. Marion tak ada di mana pun dan aku sangat cemas. Bagaimana jika ia ... Shie, katakan, apa yang harus kulakukan?"