"Maaf saya baru balas, saya perlu berpikir untuk menjawab. Dan setelah saya pikirkan, saya menyatakan menerima cintamu." tulis Kim saat Diki membuka hape jam delapan lewat.
Diki melompat lompat diatas ranjang kayu merefleksikan kegembiraan atas diterima cintanya
oleh Kim. Ia tidak menyadari kalau ranjangnya mulai lapuk.
"Prak.......!"
Ranjang kayu lapuk patah jadi dua, Diki jatuh tersungkur dilantai kepala membentur dinding. Ia meringis menahan sakit.
Aduh...gara gara Kim pagi pagi dapat bencana alam, batin Diki sambil mengamati ranjangnya yang patah jadi dua.
"Nggak apa apa, nanti beli lagi. Asal jangan hatiku aja yang patah, nggak ada yang jual," gumam Diki sendirian.
Ingin rasanya ia berlari keliling kampung mengabarkan pada orang orang kalau ia punya pacar baru orang Amerika. Bila perlu diumumkan pakai toa masjid.
"Terimakasih Kim kamu sudah menerima cintaku, aku akan jaga amanat cinta darimu." tulis Diki.
Kim tersenyum membaca messenger dari Diki. Ia kemudian membalas.
"I am also happy to have your boyfriend. This is the first time I've received love from a boy."
Cewek Amerika ini kadang berlebihan. Masa seumur itu baru pertama kali pacaran. Tapi bisa saja, karena sejak kecil ia dipelihara oleh negara tentu tidak sebebas seperti anak anak pada umumnya.
Bagi lelaki timur seperti Indonesia, perempuan seperti Kim sudah dibilang cantik, tapi bagi lelaki barat seperti Amerika mungkin perempuan seperti Kim dibilang masih dibawah standar. Apalagi ia warga keturunan yang konon katanya sebagian warga disana masih menganut faham rasisme. Menganggap bahwa ras diluar ras mereka adalah rendah dan tidak patut ditemani apalagi dipacari. Mungkin itu salah satu alasan kenapa Kim tidak pernah pacaran.
Sejak jadian dengan Kim lewat messenger, Diki meluangkan waktu hingga jam 12nmalam untuk komunikasi dengannya karena selisih waktu Nigeria dan Indonesia sekitar 7jam. Bila di Nigeria jam lima sore saat Kim pulang kerja, di Indonesia jam 12 malam.
Demi cintanya pada Kim, Diki rela melek kadang sampai jam dua dinihari nemani Kim ngobrol.
Hari itu cuaca di Abuja, Nigeria cukup bersahabat. Langit berawan, angin berhembus cukup kencang. Kim bersama dua rekannya mengendarai Jeep meninggalkan pangkalan menuju tempat tugas hari ini.
"Alex, kamu serius dengan lelaki Indonesia itu?" tanya Nurman rekannya.
"Ya, mulanya aku melihat dia seperti figur ibuku," ujar Kim.
"Lho, dia kan lelaki."
"Betul. Tapi wajahnya mirip ibuku."
"Mungkin karena ibumu orang Indonesia."
"Mungkin,"
Di kesatuan teman paling dekat hanya Nurman, pangkatnya satu tingkat lebih rendah dari pada Kim. Rekan yang lain seakan tidak begitu suka pada Kim apalagi tentara dari keturunan Yahudi. Mereka memandang Kim seakan rendah. Kalau saja pangkatnya lebih tinggi dari Kim, mungkin mereka akan membullynya, seperti sering terjadi di camp.
"So, lama lama aku merasa nyaman chating sama dia. Diki selalu mensuport aku baik dalam kehidupan maupun dalam pekerjaan."
"And than?"
Kim tidak langsung menjawab, ia tampak malu malu mengutarakan didepan Nurman.
"Dia menyatakan cintanya padaku."
"Kamu terima?"
"Ya, sejak awal aku suka sama dia."
"Aku turut senang, akhirnya kamu punya kekasih juga."
Kim yakin, mungkin apa yang dipikir Nurman sama seperti yang ia pikirkan. Tapi mau bagaimana lagi, benih cinta itu sudah disemai di hati masing masing.
*****
Di Jogya, Diki jadi tertawaan teman teman seprofesi sebagai driver gojek.
"Oalah mas, mas. Mimpi itu mbok ya jangan terlalu tinggi, dapetin Sanah aja kompetisinya ketat, apalagi cewek Amerika yang masih kinclong gitu," kata Jono.
"Tapi bisa aja mas Diki dibawa ke Amerika untuk ngurusi anjingnya."
"Ngurusi mamaknya," timpal Jani.
Diki diam dibully habis habisan oleh rekan rekannya, meski pun hatinya terasa sakit. Mereka tidak salah, kenyataannya memang Diki merasa tidak tau diri.
"Jangan dengerin mas, mereka paling iri mas Diki bisa dapat cewek cantik dari Amerika," kata Beno setelah teman temannya narik tinggal mereka berdua.
"Nggak apa apa Ben, emang sayanya yang nggak tau diri."
"Jangan putus asa gitu mas.Siapa tau dia memang jodoh mas Diki. Pesan saya kalau LDR an harus memperhatikan beberapa hal."
"Apa Ben?" tanya Diki antusias.
"Pertama positif thinking, tujuan sama. saling percaya. berbagi cerita. tatap muka atau vidio call. kirim hadiah. jadwalkan kunjungan"
"Wah, kayanya kamu sudah pengalaman."
"Dulu mas, tapi cuma sama cewek Jakarta. Kalau cewek Amerika susah juga mau ketemuan. Tapi kalau Allah menghendaki, apa pun bisa terjadi."
"Amin...."
"Na, optimis gitu."
Pukul delapan waktu Abuja, Kim kirim massager.
"Sorry honey, last night I fell sleep so I didn't chat back to you."
"Walah...bahasa Inggris lagi, translate nya lambat Ben." gerutu Diki.
"Pake aplikasi translate khusus Indonesia Inggris tho mas."
Beno kasih petunjuk aplikasi translate.
"Enak ini ya, cepat, nggak ribet. Bisa begadang tiap malam kalau begini."
"Kenapa harus begadang?"
"Disana siang, disini malam. Biarlah sementara jadi kalong."
Hape Diki berdering, ada order masuk.
"OTW mbak!" seru Diki bersemangat. Beno tersenyum, mudahan Kim tidak mempermainkannya, batin Beno.
Jam tujuh malam saat Diki makan malam di warung lek Sarinem, Kim Vidio call. Diki kelabakan karena tangannya kotor.
"Hai honey, saya istirahat makan siang," kata Kim.
"Aku juga lagi makan malam diwarung, pake sayur lodeh, tempe bacem sama krupuk," kata Diki sambil memperlihatkan piringnya.
"Wow....pasti lezat sekali. Saya belum pernah melihat makanan seperti itu."
"Pokoke mantul Kim "
"What ia mantul?"
"Mantul is.....opo Sur?" Diki tanya temannya. Kim senyum senyum melihat Diki tanya pada temannya.
"Very delicious," seru Surono.
"Aduh enaknya, kapan kapan aku pengen ke Jogya."
"Janji ya!?"
"Promise."
Alex menutup vidio call.
"Siapa mas?"tanya lek Sarinem.
"Pacarku, tentara Amerika."
"O...yang diomongin anak anak di pangkalan itu."
"Iya kali."
"Cantik juga mas. Kayaknya cina ya?"
"Bapak cina, ibu indonesia."
Orang orang di warung terbengong bengong. Hebat banget Diki bisa dapat gebetan secantik itu. Cari dukun dimana, seloroh anak anak diwarung.
"Dik, hati hati lho, cewek cina itu kuat tempur. Kamu musti siap jamu kalau kawin sama dia," kata lek Sarinem.
Diki hanya mesan mesem, padahal dalam hati bertanya tanya, kalau benar kata lek Sarinem gimana nanti.
Usai makan Diki nongkrong didepan gang bersama pemuda setempat sekedar istirahat. Anak anak ini tampak happy padahal hanya ditemani sebuah gitar butut untuk nyanyi rame rame, tidak perlu ke mall atau discotiqe. Rokok sebatang buat join berdua atau bertiga.
"Kemana mas?" tanya mereka melihat Diki beranjak dari tempat duduknya.
"Duluan ya, ngantuk. Nih, ada rokok."
Diki berlalu, sebenarnya bukan masalah ngantuk, tapi tidur dulu, nanti bangun lagi jam 12 malam chating sama Kim.
KABAR GEMBIRA
Awal bulan mei Kim dan kesatuannya ditarik kembali ke negaranya, dan digantikan kesatuan lain. Seminggu setelah itu ia dan beberapa anggota kesatuan naik pangkat satu tingkat menjadi sersan kepala.
Diki baru tau kalau tidak selamanya tentara itu memanggul senjata. Memang benar Kim ditugaskan ke negara lain dalam misi perdamaian, makanya ia dikirim ke Abuja sebagai staf tehnis yang mengurusi masalah administrasi seperti perbekalan atau gaji anggota bukan tergabung dalam divisi infantri maupun kavaleri yang lebih menekankan pada aspek taktis militer.
Mendengar kabar kalau Kim sudah kembali ke Amerika dan naik pangkat, Diki merogoh kocek untuk syukuran kecil kecilan dengan mengundang tetangga kanan kiri.
Pelaksanaan acara syukuran direkam dan dikirim pada Kim.
"Ini acara syukuran atas kepulangan kamu ke Amerika sekaligus kenaikan pangkat kamu," kata Diki.
"Syukuran, apa itu?"
"Syukuran itu semacam celebration, tapi menurut budaya kita."
"Puji Tuhan....sampai segitu perhatian kamu."
Selama bertugas di Nigeria, Kim belum pernah melihat warga Abuja melakukan acara yang namanya syukuran, padahal warga disana 46 persen beragama Islam, sisanya Kristen, Katholik dan lain lain.
Kim pernah dengar bahwa Indonesia memiliki keragaman budaya dan suku bangsa serta bahasa daerah. Mungkin itu yang dilakukan Diki. Ia mensyukuri kepulangan Kim dan kenaikan pangkatnya.
*****
"Coba lihat," kata Kim pada Nurman seraya menunjukkan Vidio rekaman acara syukuran yang di adakan Diki.
"Apa ini!?"
"Celebration atas kepulangan ku dan kenaikan pangkat ku."
"Wow....keren. Diki yang melakukannya?"
"Iya. Bukan mewahnya celebration,tapi niat tulusnya."
"Aku no komen kalau begini. Masalahnya celebration yang Diki lakukan bermakna religius tidak seperti yang biasa kita lakukan disini dengan pesta, whisky, right !?"
"Ya. Dia pintar mengambil hati kekasihnya."
"No,no,no. Menurutku dia tidak berniat mengambil hati, tapi lebih pada tradisi."
"Kapan kamu ambil cuti pulang ke Texas?" tanya Kim.
"Biasa, saat natal tiba. Kamu kapan cuti, kulihat sudah lima tahunan kamu nggak ambil cuti, why!?"
Kim menunduk sedih, teman teman setiap natal cuti pulang ke kampung halaman masing masing, sedangkan dia hanya bisa termenung seorang diri dalam apartemennya. Mau ke Cina tidak tau kampung halaman papanya, konon kakeknya aja meninggalkan daratan Cina tahun 60 an. Mau ke Indonesia tidak tau dari mana asal usul mamanya karena menurut cerita papa dan mamanya bertemu di Korea.
"You ok!?"tanya Nurman.
"Aku nggak apa apa."
Nurman diam karena Kim tidak ingin mengatakan apa apa meski pun matanya yang berkaca kaca tidak bisa bohong kalau ia menyimpan sesuatu.Mungkin begitu adat orang sana, tidak seperti kebanyakan kita yang kekepoan, mau tau aja urusan orang.
Nurman berlalu menghadap Kabag humas Kostrad tentara Amerika sedangkan Kim kembali ke ruangannya.
*****
"Diki, kamu ini apa sudah yakin kalau pacarmu itu benar benar serius sama kamu?" tanya Suwono, tetangga tempatnya kost.
"Yakin banget sih belum pakde."
"La kok kamu sudah kaya orang banyak duit gitu pake nyelameti segala."
"Dalam syukuran itu kan ada makna sedekah tho pakde."
"Sok tau kaya ustad Jamil aja."
Diki hanya cengengesan. Sebetulnya orang yang paling tau kenapa dan dari mana uang Diki untuk biaya syukuran itu adalah Beno, karena ia yang dimintai pendapat sehari sebelum Diki mengadakan syukuran.
"Ben, aku tu bingung," kata Diki beberapa hari lalu sebelum selamatan.
"Bingung kenapa mas?"
"Ini ada uang sejuta, tadinya sih mau buat ganti ranjang yang patah. Tapi ada kabar dari Kim, dia sudah kembali ke LA dan naik pangkat. Pengennya aku mau syukuran gitu, kecil kecilan aja."
"Kalau syukurannya bulan depan kan nggak lucu ya mas?"
"Jadi, menurut kamu buat syukuran dulu?"
"Ya, ranjangnya kan bisa bulan depan, sementara mas Diki tidur dibawah kan nggak apa apa."
Begitulah, kemudian syukuran itu pun di laksanakan.
Entah karena kebetulan atau karena keikhlasan Diki mengadakan syukuran untuk Kim, dalam seminggu ini tarikannya rame terus hingga bisa beli ranjang.
"Coba aku nggak ikuti saran kamu Ben, alamat lewat dah moment yang langka ini," ujar Diki.
"Semua itu karena mas Diki ikhlas. Jujur, saya seneng sama mas Diki karena mau dengar saran orang lain walau pun yang menyarankan lebih muda darinya."
"Ah, kamu bisa aja. Aku jadi Ge Er."
*****
Lagu nostalgia dari album Frank Sinatra mengalun lirih diruang kamar apartemen. Dari tadi Alex pantengin laptop bolak balik mencari info tentang Indonesia dari berbagai sudut pandang. Selanjutnya ia membuka tentang syukuran.
Kim heran, menurut diskripsi tentang syukuran yang ia temukan adalah sebuah acara semacam kebaktian dalam agama Nasrani namun ini lebih spesifi karena jamuan yang dipersiapkan jauh lebih banyak dan beragam tidak seperti dalam kebaktian.
Kim melihat dari sisi jangkauannya bukan makna dari masing masing acara. Kesimpulannya, tentu Diki tidak sedikit merogoh kocek untuk acara tersebut tanpa pamrih apa apa. Nyatanya mereka belum pernah ketemu sama sekali.
Kim membandingkan lelaki lain yang ia kenal dalam dunia maya. Sembilan puluh sembilan persen obsesi mereka tidak jauh dari soal syahwat, sedangkan Diki secuil pun tidak pernah menyinggung soal itu. Kalau dibilang ia Sholeh, alim, kecil kemungkinan punya aplikasi sosial media.Entahlah, Kim sampai bingung menilai Diki.
Nurman sahabatnya yang semula tidak begitu respek pada Diki pun akhirnya memuji kalau dia memang pria baik.
Sore itu Kim mengunjungi asrama mahasiswa di universitas California Los Angeles sekedar cari tau langsung dari mahasiswa asal Indonesia.
"Tolong beri gambaran tentang karakter masyarakat Jogya dan apa yang istimewa dari kota tersebut," tanya Kim setelah ditemui mahasiswi asal Jakarta.
"Jogya adalah salah satu favorit saya untuk traveling. Masyarakatnya ramah tamah dan kadang suka membanyol. Jogya adalah destinasi wisata terfavorit kedua di Indonesia setelah Bali karena menawarkan berbagai ragam budaya, seni dan cinderamata yang unik dan spesifik."
"O,ya. Senang mendengarnya." kata Kim dengan wajah berbinar binar.
Selanjutnya Kim dan Cindy ngobrol banyak tentang indonesia secara umum. Baik soal politik, sosial, perdagangan dan sebagainya.
Masalah agama, di Indonesia boleh dibilang sangat toleran meski pun ada beberapa agama dan mayoritas beragama Islam.
Issue tentang terorisme kadang dibesar besarkan oleh media asing bahkan beberapa kepala negara termasuk Amerika sempat mengeluarkan travel warning.
"Wawasan kamu terhadap sosial politik cukup bagus," puji Kim.
"Tadinya saya mau masuk fakultas itu, tapi sampai disini berubah pikiran akhirnya ambil fakultas hukum,"
"Politikus dengan pengacara sama sama hebatnya. Kalau aku lulus high school langsung masuk akademi militer karena tidak ada pilihan lagi."
Kim dan Cindy sama sama saling mengagumi. Mereka berpisah dengan menyimpan kesan masing masing.
*****
Awal Juni, Diki dikejutkan oleh kabar dari Kim yang ia tulis cukup panjang lewat WA. Begitu chat tersebut translate, ia semakin bingung tidak tau harus bagaimana menanggapi chat tersebut. Ia belum siap sama sekali.
"Coba liat chating nya mas," kata Beno.
Beno sendiri bahkan sampai melotot setelah membaca chat dari Kim.