Bab 2

Morissa terkejut mendengar perkataan pria itu. Bukan hanya sekedar pertanyaan, namun juga pernyataan. Dengan situasi yang seperti itu, tentu saja Morissa harus memikirkan dengan baik.

"Tuan, saya tidak mengerti apa yang anda katakan," jawab Morissa pura-pura tidak paham.

Pria itu mundur tiga langkah kemudian memperbaiki jasnya.

"Perkenalkan, nama saya Dirga. Saya harap anda bisa menerima tawaran saya!" ucap Dirga dingin tetapi sopan.

Morissa berdeham dan dengan cepat membantu Alesya berdiri. Sikap wanita itu mendadak baik kepada Alesya.

"Sayang, kamu enggak apa-apa? Maaf yah, mama terlalu keras mendidikmu. Mengenai gucinya, mama tidak akan marah lagi yang penting ... jangan mengulangi kesalahan yang sama yah?" Morissa begitu lembut kepada Alesya, membuat wanita itu terlalu heran dan hanya mengikuti alur.

Alesya memberanikan diri mengangkat kepalanya melihat pria asing yang ada di sampingnya. Dilihat dari penampilan pria itu, dia bukanlah pria biasa dan tidak heran kalau ibu tirinya langsung merubah sikapnya.

Dirga sedikit kesal melihat Morissa yang mengabaikannya.

"Sepertinya anda sama sekali tidak tertarik dengan penawaran yang saya berikan padahal ... mengenai keuntungan anda, kami jamin kalau anda akan puas!" ucap Dirga menatap tajam Morissa dengan wajah yang tanpa ekspresi.

"Saya tertarik. Tuan, saya akan melakukan yang terbaik untuk anda," Morissa dengan cepat membalas.

Dirga merasa lega saat Morissa menerima tawarannya. Morissa meminta pria berkaca mata itu untuk duduk. Sedangkan Chloe mengajak Rey untuk keluar dari sana setelah ibunya memberi kode agar mereka segera pergi.

"Alesya sayang, buatkan Tuan Dirga minuman!" pinta Morissa dengan senyum palsu, berusaha bersikap lembut kepada Alesya.

Alesya hanya menurut dan mulai meninggalkan mereka.

Setelah kepergian Alesya, Dirga langsung menatap Morissa.

"Anda tidak perlu berpura-pura di depan saya. Saya tahu benar kalau anda tidak pernah suka dengan kehadiran Alesya di sisi anda!" ucap Dirga serius.

Morissa berdeham. Pikirnya, Dirga tidak akan tahu kepura-puraannya.

"Kita langsung saja ke intinya. Kenapa anda menginginkan Alesya?" tanya Morissa penasaran namun berusaha bersikap sopan.

"Saya tidak bisa membocorkan alasan saya menginginkan wanita itu. Lagi pula, Alesya tidak berguna bagi anda. Saya bisa menggantikan anda untuk menyiksanya jika hal itu menjadi alasan anda ragu untuk memberikannya kepada saya!" tegas Dirga dingin.

"Apa yang akan saya dapatkan?" tanya Morrissa menaikkan satu alisnya.

"Bisa berupa uang, juga bisa berupa barang. Apa permintaan anda?" Pria itu berdiri dari duduknya dan memperbaiki jasnya.

"700jt?" jawab Morissa iseng.

"Tidak masalah!" balas Dirga tersenyum penuh arti.

Morissa terkejut saat dengan santainya Dirga menerima permintaannya padahal Morissa hanya iseng. Sudah jelas-jelas kalau pria yang ada di hadapan Morissa bukanlah pria biasa.

"A–anda serius?" tanya Morissa langsung berdiri dari duduknya.

"Saya tidak pernah main-main dengan perkataan saya!" tegas Dirga.

Dirga meminta dokumen kepada salah satu bawahannya dan meminta Morissa untuk menandatangani surat jual beli barang. Ya, bisa dibilang mereka menganggap Alesya adalah barang yang bisa diperjual belikan.

Tanpa pikir panjang, Morissa menandatangani surat perjanjian itu. Dirga menuliskan cek sebesar 700jt untuk Morissa dengan syarat wanita itu tidak punya hak apapun kepada Alesya.

***

Alesya telah mempersiapkan teh hangat. Karena di musim dingin seperti ini, lebih bagus mengonsumsi yang hangat hangat.

'Sepertinya, Tuan Dirga ini bukan orang biasa. Buktinya, ibu merubah sikapnya menjadi lembut padaku,' batin Alesya.

Wanita itu segera mengantar teh hangatnya. Namun ia heran saat dua orang pria datang mendekatinya.

Alesya mengabaikan kedua pria yang sepertinya adalah bawahan Dirga. Ia meletakkan nampan di atas meja.

Dirga yang dari tadi hanya berdiri, mulai mendekati Alesya.

"Anda bukan lagi bagian dari keluarga Dalbert. Kini anda akan menjadi bagian dari keluarga Geraldo!" tegas Dirga dingin.

Wanita itu kebingungan saat mendengar perkataan Dirga. Dia tidak tahu apa yang terjadi hingga Dirga meminta bawahannya untuk membawa Alesya ke mobil.

Tentu saja Alesya kebingungan dan terkejut pada saat bawahan itu menyeretnya dengan paksa menuju mobil. Dirga menatap Morissa sebelum akhirnya memilih meninggalkan tempat itu.

"Apa yang kalian lakukan?!"

Alesya berusaha meronta-ronta, namun tenaga kecilnya tidak sebanding dengan tenaga besar para pria berotot besar itu.

Di mobil, Dirga duduk di kursi mengemudi sedangkan Alesya berada di sampingnya. Para bawahan itu memakai mobil lain jadi Alesya bisa sedikit tenang.

"Apa maksud kamu tadi?" tanya Alesya penuh kewaspadaan.

"Saya tidak suka mengulangi perkataan untuk yang kedua kalinya!" ucap Dirga tanpa melihat Alesya.

"Maksudku, kenapa kamu bilang kalau aku bukan lagi bagian dari keluarga Dalbert? Aku adalah anak kandung ayahku dan kamu tidak berhak—"

Belum sempat Alesya melanjutkan perkataannya, Dirga langsung memotong, "Anda tidak berhak bertanya kepada saya dan saya juga tidak berhak menjawab pertanyaan anda. Yang anda bisa lakukan hanyalah mengikuti alur. Tolong jangan menyusahkan saya, Nona!"

"Kalau kamu tidak ingin menjelaskan, aku akan melompat dari mobil!" ancam Alesya.

Wanita itu semakin waspada kepada Dirga karena pria itu tidak menjelaslan apapun kepadanya. Padahal Alesya ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Jika tidak ingin Tuan marah kepada anda, tolong duduk baik-baik dan jangan lakukan apapun. Semakin anda menyusahkan, maka Tuan akan semakin mempersulit anda!" tegas Dirga.

Tuan? Alesya bahkan tidak tahu tentang tuan yang dimaksud pria itu. Sepertinya wanita itu hanya bisa mengikuti alur karena pria yang bernama Dirga ini tidak ingin membocorkan apa pun.

Tiba-tiba handphone Dirga berdering. Pria itu segera mengangkatnya dan ternyata yang menelpon adalah Victor.

'Sebelum membawa wanita itu ke hadapanku, kau harus memastikan bahwa aku puas. Pakaikan dia gaun pengantin yang mewah, aku sudah mengaturnya. Bawa ke hadapan Sherena. Semua wanita mendambakan sebuah pernikahan, aku harus membuatnya percaya bahwa dia adalah wanita yang spesial sebelum akhirnya menyiksanya dengan siksaan yang menyakitkan!'

'Baik, Tuan. Saya tidak akan mengecewakan anda,' jawab Dirga.

Setelah selesai berbicara di telpon, akhirnya mereka telah sampai di kediaman Geraldo. Rumah itu begitu besar, mirip dengan istana.

Alesya tercengang saat melihat betapa besar dan indahnya pemandangan yang ia saksikan.

"Nona, kedepannya anda akan tinggal di sini," ucap Dirga membungkuk memberi hormat kepada Alesya.

Alesya yang tadinya berpikir kalau Dirga bukan orang baik malah menyesal.

"Kenapa kamu memanggilku nona" tanya Alesya penasaran.

"Mari saya antar ke dalam. Ada sesuatu penting yang harus anda lakukan." Dirga mempersilakan Alesya untuk berjalan duluan.

Pria itu mengantar Alesya ke sebuah ruangan besar yang di sana telah ada perias wanita yang menunggu. Alesya diminta untuk masuk dan Dirga akan menunggu di luar.

"Anda pasti Nona Alesya. Wajah anda sangat manis, pantas saja ... Tuan muda tertarik kepada anda," ucap perias itu tersenyum.

"Tertarik?" tanya Alesya tidak mengerti.

BERSAMBUNG ....

Bab 3

Wanita itu merias wajah Alesya, dia mempertahankan kecantikan natural yang dimiliki Alesya.

Alesya tidak tahu apa-apa, ia bahkan tidak tahu kenapa wanita itu meriasnya. Hingga Alesya memberanikan diri untuk angkat bicara, "Kenapa kamu meriasku?"

Dengan senyum yang manis wanita tersebut menjawab, "Karena aku adalah perias. Kamu bisa memanggilku Serena. Aku salah satu bawahan Tuan Victor yang bertugas untuk kebutuhan fashion Tuan."

"Siapa Tuan Victor?" tanya Alesya heran karena setahu dia, pria yang tadi membawanya ke sini bernama Dirga.

'Apa Tuan yang dimaksud Dirga tadi saat menelpon di mobil adalah Tuan Victor?' batinnya Bertanya-tanya.

Serena tersenyum mendengar pertanyaan Alesya. Ia beralih memakaikan gaun pernikahan kepada wanita itu sehingga membuat Alesya terkejut dengan apa yang sedang terjadi.

"Gaun pernikahan? A-apa maksudnya ini? " tanya Alesya dengan cepat.

"Melihat reaksimu yang terkejut berlebihan membuatku menebak. Pasti Dirga tidak mengatakan apapun kepadamu yah?" tanya Serena tersenyum merasa lucu.

"Kau akan menikah dengan seorang Tuan yang bernama Victor Geraldo. Baru kali ini Tuan ingin menjalin hubungan yang serius. Pastikan kamu memperbaiki sikap, ini adalah saranku! Untuk info yang lebih lanjut, kamu bisa mencari tahu sendiri dengan cara mengikuti alur," jawab Serena tersenyum manis.

Wanita yang ada di hadapan Alesya sangat ramah kepada Alesya meski ia seperti Dirga yang tidak mau membocorkan lebih banyak tentang Tuannya.

Lutut Alesya terasa melemas mendengar perkataan Serena. Karena "Menikah" tidak bisa dijalani sembarang orang. Harus ada keseriusan dan kepercayaan agar hubungan bisa menjadi awet. Sedangkan Alesya tidak tahu apapun mengenai Victor, bagaimana wanita itu bisa percaya?

"Tapi kami tidak pernah bertemu, bagaimana bisa dia menikahiku tanpa mengenaliku lebih baik?" tanya Alesya meminta Serena untuk menjelaskan.

Serena meminta Alesya untuk duduk agar bisa mengepang rambut wanita itu. Dia memilih diam tanpa menjawab pertanyaan Alesya.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Bisakah kau memberitahuku?" tanya Alesya dengan raut wajah sedih.

Tentu saja ia sedih karena pernikahan itu mendadak dan tanpa persetujuan darinya. Hidup wanita itu cukup berantakan, maka dari itu ia berharap jika pernikahannya sesuai dengan apa yang dia harapkan. Yaitu bisa bersama seseorang yang ia cintai.

Setelah semuanya selesai, Alesya menatap dirinya begitu lama di hadapan cermin. Gaun pengantin putih yang sekarang ia pakai membuat penampilannya menjadi elegan. Serena meyakinkan Alesya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun hati wanita itu tidak bisa tenang.

'Apakah dia akan menerimaku apa adanya?' batinnya.

Wanita itu takut jika seorang pria yang akan menjadi suaminya itu tidak menerima dirinya apa adanya.

Serena mengantar Alesya keluar ruangan besar itu dan Dirga menunggu lama di sana. Alesya berjalan dengan pelan menuju Dirga yang membelakanginya. Ia begitu gugup, apalagi gaun yang ia pakai ternyata cukup berat.

Alesya menoleh melihat Serena yang ada di depan pintu berharap wanita itu bisa membuat Dirga menoleh.

"Apa kau akan berdiri saja di sana?" tanya Serena menggelengkan kepala melihat tingkah Alesya yang enggan menyapa Dirga.

Dirga menoleh saat mendengar teriakan Serena. Pria itu cukup terkejut saat melihat perubahan Alesya. Riasan natural membuat Alesya lebih cantik.

Pria itu berdeham dan meminta Alesya untuk mengikutinya. Alesya hanya menurut dan berjalan dengan tangan mengangkat sedikit gaunnya.

"Pastikan, jangan membuat Tuan marah!" tegas Dirga memberi saran untuk Alesya.

Alesya tidak mengerti, kenapa ia harus membuat Tuan itu marah? Bahkan mengenal saja Alesya tidak tahu.

Wanita itu melihat Dirga dari samping. Pria berkaca mata itu sebenarnya baik menurut Alesya namun ia hanya susah menunjukkan sikap tersebut. Tapi ... Alesya salah fokus melihat tatapan Dirga yang sepertinya telah menyembunyikan sesuatu kepadanya.

"Namanya Victor bukan?" tanya Alesya dengan nada rendah tanpa melihat ke arah Dirga lagi.

"Aist, pasti Serena yang memberitahu!" gumam Dirga sedikit kesal.

"Panggil dia Tuan Victor, jika tidak ingin terkena masalah!" tegas Dirga.

Alesya bertanya-tanya, seperti apa Victor ini? Kenapa Dirga meminta Alesya harus memanggilnya Tuan? Sehebat itukah seorang Victor tersebut?

Rasa penasaran Alesya semakin besar. Ia hanya bisa berharap kehidupannya di sini jauh lebih baik daripada tinggal bersama ibu tirinya yang hanya tahu marah-marah saja.

Wanita itu tidak pernah tahu kalau penderitaannya yang sebenarnya baru saja akan dimulai.

Akhirnya mereka telah sampai di depan sebuah ruangan besar. Bahkan pintu ruangan tersebut sangat mewah. Rumah itu bagaikan istana bagi Alesya. Pantaskah wanita seperti Alesya tinggal di rumah seperti itu?

"Masuklah!" pinta Dirga dingin.

"Kamu tidak masuk?" tanya Alesya berharap Dirga menemaninya masuk.

"Tuan tidak suka menunggu terlalu lama!" ucap Dirga tanpa menjawab pertanyaan Alesya.

"Berhati-hatilah saat berbicara!" Dirga memilih pergi setelah memperingati Alesya.

Sebenarnya, pria itu cukup kasian kepada Alesya tapi ... dia tidak bisa berbuat apa-apa karena wanita itu telah menabrak adik tuannya hingga tewas.

Alesya mengetuk pintu dengan pelan. Ia begitu gugup bertemu dengan pria yang akan ia nikahi. Tapi dari tadi ada hal yang mengganggu pikiran wanita itu. Kenapa pernikahannya tidak segera dilaksanakan? Dan juga, tidak ada satupun tamu yang datang ataupun perayaan pesta pernikahannya?

Wanita itu cukup lama menunggu di depan pintu, berharap seseorang yang ada di dalam ruangan bisa membuka pintu untuknya. Hingga wanita itu berinisiatif membuka dan masuk ke dalam.

Ternyata ruangan tersebut adalah sebuah kamar. Anehnya, aura kamar tersebut sedikit menakutkan, mungkin karena warna tembok dan isinya yang dominan gelap.

Alesya melihat sekeliling, berharap ada seseorang di dalam ruangan itu. Tapi ... tidak ada siapapun yang ada di sana. Namun suara gemercik air di dalam kamar mandi membuat Alesya berpikir mungkin saja pria yang akan menjadi suaminya berada di dalam kamar mandi.

Wanita itu memilih duduk di tepi tempat tidur. Ruangan itu sungguh menakutkan baginya, detak jantung Alesya berdetak begitu cepat. Wanita itu menatap seisi ruangan yang dipenuhi beberapa barang yang tidak pernah dilihat oleh wanita itu.

Ada sebuah jas yang tergantung di standing hanger berbahan kayu yang terlihat mewah. Wanita itu berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati jas hitam yang bisa mencuri perhatiannya itu.

"Apa ini jasnya? Sehebat itukah pria yang akan menikahiku, sampai-sampai jasnya juga terlihat mewah. Dan ... apakah rumah sebesar ini adalah rumahnya?" tanya Alesya bergumam.

Awalnya wanita itu berpikir Tuan muda yang dimaksud Dirga adalah anak dari keluarga kaya yang hanya bisa mengandalkan kekayaan orang tuanya. Ternyata ... sepertinya tebakan wanita itu salah.

Alesya berniat memasukkan tangannya ke kantung jas pria itu berharap bisa mendapat informasi tentang pria yang akan ia nikahi. Namun tiba-tiba seorang pria keluar dari kamar mandi.

Melihat Alesya yang mencari sesuatu di jasnya membuat Victor semakin yakin betapa menjijikkannya wanita itu. Hal itu membuat Victor mengepalkan tangan dan mulai emosi.

"Sampah menjijikkan!" gumam Victor.

"Apa yang kau cari? Uang?" tanya Victor dengan nada dingin dan penuh aura menakutkan.

BERSAMBUNG ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED