Ting!
Dering notifikasi pesan masuk. Ponsel di meja rias tampak berkedip-kedip. Irena berhenti mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, dan beralih meraih ponsel pintar. Membaca satu nama kontak tertera di layar, Irena melonjak senang. Buru-buru dia membuka pesan masuk dari kontak bernama Zen.
'Kau sedang apa? Aku merindukanmu!' Begitulah isi pesan dari Zen. Seorang pria yang telah menjadi kekasihnya. Irena dengan cepat mengetikkan balasan. Mengatakan bahwa dia juga merindukannya. Long distance relationship membuat mereka tidak dapat bertemu tatap muka lagi selama dua bulan ini. Sejenak Irena dan Zen saling mengucapkan kata rindu mereka dalam kalimat pesan singkat.
Sementara itu di dapur, Yohan baru saja selesai mencuci piring sebelum beralih pada oven. Dia memakai sarung tangan tebal saat menarik keluar loyang dari oven untuk dipindahkan ke meja. Beberapa camilan cookies terlihat berbaris rapi di permukaan loyang. Tampak renyah dan menggiurkan. Lalu dia menyiapkan piring. Memindahkan satu per satu cookies buatannya menjadi susunan piramida di atas piring. Kemampuannya dalam hal memasak bukan hal baru bagi Yohan. Dia mahir di dapur, mandiri, dan kelihatan normal...
Selesai menyusun cookies, dia membawa piring itu ke meja depan televisi. Lalu menarik langkah ke arah pintu kamar Irena yang tertutup rapat. Yohan langsung membukanya tanpa mengetuk. Dari pintu, dia melongok ke dalam. Yang dia lihat rupanya wanita itu sedang senyam-senyum dengan ponselnya di depan cermin rias. Yohan tertarik untuk mengetahui alasan Irena tersenyum, pada siapa? "Irena, aku membuat cookies. Apa kau mau?" tawar Yohan. Secara tak langsung menegur keasikan Irena yang tak menyadari dirinya membuka pintu.
"Oh ya??" Irena menoleh bersemringah. Yohan selalu tahu bagaimana menarik perhatian wanita itu. Cookies adalah camilan kesukaan Irena. Kontan saja dia bangkit dengan semangat dan berderap keluar kamar. Yohan tidak segera menyusul. Tatapannya tertuju pada ponsel milik Irena yang ditinggalkan di meja rias. Didorong rasa penasaran, Yohan mengambil ponsel itu. Mencari penyebab Irena tersenyum-senyum mencurigakan. Yohan tidak perlu lama menjelajah ponsel, karena begitu layar menyala tiba-tiba, pesan masuk dari Zen muncul seketika. Dan Yohan membaca semua isi pesan itu. Menggulirkan layar ke atas, membaca dengan gerak mata cepat, lalu mengusap layar ke bawah hingga pada pesan terakhir yang baru masuk. Kini, Yohan menemukan jawabannya.
Di pesan baru itu tertulis: kapan kita bisa bertemu lagi berdua? Aku ingin segera memelukmu.
Yohan merasa jijik dengan kalimat itu. Ide lain membuat jemarinya bergerak di atas keyboard. Yohan membalas pesan itu!
'Aku sebetulnya sudah muak denganmu! Jangan pernah mencariku! Peluk saja wanita lain!'
Yohan sadis. Dan Yohan dengan lancang -atas kesadaran penuh- dia mengutuk si pengirim pesan dengan ujaran kebencian. Tentu saja karena nomor ini milik Irena, Zen pasti mengira yang menulis pesan ini adalah Irena. Hal tersebut bisa menjadi awal sebuah peperangan. Begitulah mulanya terjadi adudomba. Yohan menyeringai senang. Membayangkan pria bernama Zen ini akan benar-benar menjauhi Irena.
Di lain sisi, Irena sedang tertawa menonton acara teve komedi sambil mengemil cookies. Benar-benar nyaman dan damai. Meksipun di luar jendela menunjukkan hujan turun di langit malam dengan intensitas rendah. Tawa Irena berhenti ketika tubuh Yohan berdiri tiba-tiba di depannya. Menghalangi pandangan Irena dari televisi. Irena kesal. Lantas melirik Yohan dengan tajam. "Ih! Minggir!" protes Irena.
Yohan tetap bergeming. Sementara Irena memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, berusaha tidak ingin melewatkan adegan di televisi. Namun, pemuda itu tidak juga berpindah dari hadapannya. Membuat kejengkelan Irena meningkat. Alisnya sudah naik sebelah saat mendeliki Yohan. "Apa maumu, Yohan?"
"Apa kau dan Zen masih berkomunikasi?" tanya Yohan. Dia tahu tentang Zen walau tidak pernah bertemu secara langsung. Zen adalah teman sekampus Irena dulu bersama Kayla. Hanya Kayla yang pernah bertemu dengannya saat pertama kali main ke rumah, menjemput Irena.
Wanita itu mendongak. Baginya, tumben sekali Yohan membicarakan tentang Zen. Biasanya dia tidak pernah membahas orang lain. "Zen? Tentu saja kami masih berkomunikasi," jujur Irena. Tanpa tahu maksud tersembunyi Yohan bertanya demikian. "Kenapa?" timpal Irena.
"Apa ada seseorang yang kau sukai?" Yohan mengajukan tanya lagi. Membuat Irena seakan sedang diinterogasi. Keningnya mengeryit heran. Tetapi dia segera teringat tentang si pengirim pesan tadi, Zen. Ekspresi wajahnya berubah seketika menjadi tampak santai. "Aku tidak tahu apakah aku menyukainya atau hanya sekadar mengagumi," ucap Irena berdusta.
"Jangan menyukainya!" tegas Yohan. Irena tersentak. "Apa maksudmu?" tanyanya polos. "Dia orang yang baik, bagaimana aku tidak menyukainya."
Seketika raut Yohan berubah mendung. Dia tidak kelihatan tegang seperti tadi lagi. Melainkan nampak sedih dilihat mata Irena. "Kau tidak peduli lagi padaku..." lirih Yohan melemas. Irena paham, ada kesalahpahaman yang tidak dimengerti Yohan. Akhirnya Irena berdiri. Meraih kedua tangan lelaki itu dengan lembut. Irena mengenal adik tirinya ini. Meskipun mereka tidak sedarah, Irena memiliki tanggung jawab pada Yohan sebagai kakak. "Yohan," panggil Irena pelan. Mereka harus bicara dari hati ke hati. "Tatap mataku dan dengarkan aku," pinta Irena dengan suara yang stabil.
Yohan butuh perhatian darinya. Irena berpikir kalau lelaki ini belum sepenuhnya terlepas dari trauma masa lalu. Maka dengan sabar, Irena meladeni gejolak emosi Yohan. Hanya itu satu-satunya cara agar dia tenang lagi. Hanya dirinya yang bisa meredakan amarah Yohan. Dan lelaki itu selalu menuruti perkataan Irena selama tidak bertentangan dengan hatinya. Yohan menggeser pandangannya dan menatap tepat ke iris hazel milik Irena.
"Aku tidak suka kau dekat dengan lelaki lain kecuali itu untuk pekerjaan," bisik Yohan melembut. Irena menarik senyuman ringan. "Tentu saja, Yohan. Kami rekan kerja dan teman yang konyol. Jangan marah lagi, ya?" sahut Irena, menggenggam kedua tangan lelaki ini. Memberi kekuatan bahwa dia tidak akan meninggalkan Yohan sendirian. Benar, itulah yang Irena pikirkan jika Yohan takut ditinggalkan. Oleh karena itu Yohan bersikap posesif kepadanya. Inilah yang dapat Irena asumsikan mengenai Yohan, berdasarkan masa lalu itu.
"Dapatkah kau berjanji kepadaku?" pinta Yohan. Menunjukkan jari kelingkingnya. Irena melihat itu dan tersenyum. "Um! Aku berjanji," katanya sembari mengaitkan kelingkingnya ke jari Yohan. Mengikat janji ala anak kecil yang selalu mereka lakukan sejak anak-anak.
"Aku ingin tidur bersamamu," ujar Yohan lagi. "Baiklah. Mari kita tidur." Irena tidak bisa menolak. Yohan harus dimanjakan. Karena kejadian ini membuat Irena merelakan melewatkan acara komedi kesukaannya. Mereka segera masuk ke kamar Irena dan berbaring di kasur tipe single itu, dengan selimut menutupi pundak keduanya. Mereka berbaring miring dengan saling berhadapan. Irena belum menutup matanya ketika memperhatikan wajah Yohan dari jarak sedekat ini. "Waktu begitu cepat berlalu," gumam Irena. Sedangkan tatapan Yohan tak sekali pun berpaling dari wajah Irena. "Kau begitu cepat tumbuh. Padahal dulu kau masih bisa kupeluk." Irena terkekeh.
"Oh... Kau tidak bisa tidur memelukku lagi dengan tubuh kecilmu itu. Sekarang giliran aku yang tidur memelukmu semalaman," balas Yohan sembari memeluk Irena bak guling dengan erat. "Ya... Sekarang giliranmu menggantikanku," bisik Irena di leher lelaki itu. Dia tersenyum kecil. Bahagia. Yohan tidak lagi marah. Dia berhasil meredakan kecemburuan Yohan dengan memanjakannya seperti ini. Yah... Irena pikir yang dilakukannya ini hanya memanjakan. Tapi dia tidak peka terhadap degupan jantung yang berdebar nyaman. Malam ini, Irena tertidur nyenyak di dalam pelukan Yohan.
Flashback.
Irena sudah menunggu kedatangan orang tuanya -yang katanya akan pulang hari ini dari rumah nenek. Ketika dia mendengar pintu rumah dibuka dan membuatnya bergegas keluar kamar, Irena terdiam melihat orang tuanya datang tidak berdua. Melainkan seorang anak laki-laki turut serta bersama mereka. Irena terbengong. Anak siapa yang mereka bawa itu?Anak laki-laki itu kelihatan lesu. Wajahnya yang menunduk, menunjukkan kesedihan. Membuat Irena merasa kasihan.
"Dia anak sahabat ibu. Ayo kuantar ke kamarmu," kata ibu. Anak itu berjalan melewati Irena. Mengekori sang ibu menuju kamar -yang kebetulan mereka memiliki tiga kamar di mana satunya kosong. Saat itu Irena melempar tanya pada sang ayah. "Ayah, siapa anak itu? Aku tak mengenalnya," ujar Irena. Tidak ada wajah anak itu di dalam memori Irena tentang sanak-saudara dari pihak ibu maupun ayah. Irena mengetahui dan mengenal hampir semua saudara sepupunya. Tapi tidak untuk anak laki-laki itu.
Sang ayah duduk di sofa ruang keluarga. Dia bersandar dengan nyaman sedangkan Irena masih berdiri menunggu jawaban. "Anak itu baru saja mengalami hal yang menakutkan bagi anak seusianya. Orangtuanya bercerai. Ayahnya menikah lagi dan ibunya bunuh diri. Sebelum meninggal, ibunya berpesan pada kami untuk menitipkan anaknya. Ketika kami sampai di rumahnya, dia sudah meninggal. Dan kami memutuskan mengadopsinya berhubung dia anak sahabat ibumu," jelas ayah.
"Dan dia mungkin butuh perawatan mental ke psikolog," sambung suara sang ibu dari arah lain. Beliau meninggalkan anak laki-laki itu di kamar saat kembali lagi ke ruang keluarga. Irena berbalik, menatap sang ibu dengan tatapan kaget atas penuturan tadi.
"Apakah dia...." Irena memggantungkan kalimatnya ragu-ragu. Namun, dibalas gelengan kepala dari wanita baya itu. "Dia tidak akan gila jika dirawat dengan baik." Sejenak beliau menghela napas prihatin. "Padahal umurnya baru sepuluh tahun, tapi sudah harus mengalami hal seperti itu," gumamnya. "Nanti kau ajarkan dia pelajaran di sekolahnya, ya," ujar sang ibu.
"Baiklah. Ngomong-ngomong, siapa nama anak itu?" tanya Irena.
"Yohan."
***
Irena melihat ke dalam kamar anak itu. Pintunya terbuka lebar, jadi dia bisa langsung mengetahui apa yang sedang dilakukan anak bernama Yohan di dalam. Anak itu rupanya hanya terdiam, duduk bersimpuh di bawah kasur. Irena berinisiatif mendekatinya. Setidaknya untuk menyapa agar tidak kesepian. "Hai," kata Irena. Tidak dijawab. Apalagi dilirik. Anak itu melamun dengan pandangan kosong.
Lalu dia duduk di samping Yohan. Menekuk lututnya dan hening sejenak. Keduanya menatap ke luar jendela. Jika Irena sedang berpikir obrolan apa yang harus dibicarakan, maka anak itu tidak memikirkan apa pun. Seperti pandangannya yang hampa. "Namaku Irena. Aku sudah mendengar tentangmu," buka Irena. Walau tahu dia tidak ditanggapi, Irena tetap melanjutkan bicara. "Aku mungkin akan mengalami hal yang sama denganmu jika aku berada di posisimu." Irena berhenti. "Kau tak perlu khawatir, Yohan. Sekarang kami adalah keluargamu yang baru." Dia melempar senyum ke samping. Tapi anak itu tetap memasang ekspresi muram tanpa memalingkan wajahnya.
Irena merasa tidak boleh membiarkan Yohan hidup terkurung oleh traumanya. Namun untuk hari pertama mereka, Irena ingin memberikan ruang untuk Yohan meratapi kesedihan itu. "Baiklah. Kau harus istirahat hari ini. Kita akan bermain besok," kata Irena kemudian beranjak keluar kamar. Dia berhenti sebentar di pintu, menatap dengan simpati kepada anak itu. Lalu menghampiri orang tuanya di ruang tengah. Sang ibu sedang memasak di dapur. "Ayah, ibu, bagaimana dengan sekolah Yohan?" tanyanya.
"Dia tetap bersekolah jika dia mau," ujar ayahnya yang tengah menonton televisi. "Sesekali temani dia agar tidak kesepian..." sambung ibunya dari dapur.
Hari kedua, ketiga sampai seminggu kemudian, Yohan tetap tidak mau bicara kepada siapa pun. Membuat Irena geram saat menghampirinya ke kamar. Irena berlutut di depan Yohan yang duduk menekuk lutut di lantai dengan menghadap jendela. "Yohan, mau sampai kapan kau murung seperti ini? Ayo ikut denganku dan ibu ke dokter," ujar Irena. Menarik pergelangan tangan kecil anak itu.
"Tidak mau! Aku tidak sakit!" teriak Yohan menolak. "Aku mengerti kau tidak sakit. Tapi---" Irena berhenti sebentar saat menempelkan telapak tangannya ke dada bocah itu. "Di sini sedang sakit. Kau butuh perawatan," lanjutnya dengan lebih pelan.
"Aku tidak butuh perawatan! Aku hanya diriku, dan kau bukan siapa pun dalam hidupku! Jadi, jangan campuri kehidupanku!" berang Yohan. Matanya membeliak marah. Sementara Irena menggeleng. "Kau tidak sendirian jika kau berpikir begitu. Kami menerimamu di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, Yohan. Tidak akan. Genggam tanganku, dan percayakan semuanya kepadaku," ucap Irena mantap.
Yohan tidak segera menyahut. Bocah itu terdiam mencerna ucapan Irena. "Bisakah kau menepati janjimu?" katanya kemudian. Mengacungkan jari kelingking, tidak mungkin Irena mengabaikannya. Sehingga dia juga menautkan jari kelingkingnya ke jemari kurus Yohan, diringi senyum tulus terukir.
Siang itu Irena berhasil membujuk Yohan untuk pergi bersama ke psikiater di sebuah rumah sakit. Ketika mendapat panggilan untuk masuk ke ruangan, mereka duduk dihadapan seorang dokter psikolog. Irena menunggu di kursi tunggu, menanti cemas ibu dan Yohan keluar dari ruangan itu. Tidak berselang lama, Irena tersentak berdiri ketika melihat mereka keluar bersama. "Bagaimana?" tanya Irena. Ibunya tersenyum. "Dia perlu rutin konsultasi tiap minggu dan meminum obat yang dianjurkan untuk menenangkan pikirannya," jelas wanita baya itu. Lalu Irena melirik Yohan yang sedikit lebih pendek darinya.
***
Tujuh tahun terlewati dan Yohan tumbuh menjadi remaja berusia tujuh belas tahun yang bersiap mengikuti ujian kelulusan. Dia digempur habis-habisan dengan tumpukan buku tebal di meja belajarnya. Hingga seseorang berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar, Yohan tetap tidak menyadarinya. Gadis itu tersenyum melihat keseriusan Yohan di meja belajar. Lantas dia melangkah masuk sambil membawa nampan berisi segelas susu. "Aku membuatkan susu hangat untukmu," kata Irena. "Aku letakkan di sini ya." Diletakkannya gelas itu di pinggir meja sebelum keluar kamar.
Namun, suara Yohan membuat langkah Irena terhenti seketika. "Tetaplah di sini dan temani aku belajar," pinta Yohan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku-buku itu. Irena menyunggingkan senyuman ringan. "Baiklah," setujunya. Dia memanfaatkan itu untuk mengobrak-abrik ruang kamar Yohan. Melihat-lihat apa pun yang menarik perhatiannya. Entah buku maupun barang yang ada di kamar ini. Hingga Irena menemukan sebuah album foto di laci. Irena mengambilnya. Membawanya ke kasur. Lalu dia mulai membuka lembar demi lembar album foto itu.
Isinya kebanyakan foto-foto mereka berdua dan beberapa bersama orang tua Irena sewaktu liburan keluarga. Irena merasa terkenang. Rasanya baru kemarin dia bertemu Yohan kecil, tetapi waktu berjalan dengan cepat. Ketika itu Irena menguap. Kantuk mulai menyerang dan membuat dia tidak dapat menahannya lagi.
Satu jam kemudian Yohan mematikan lampu belajarnya, menyisakan lampu tidur yang sudah menyala. Di merapikan semua buku itu, lalu berdiri berbalik. Seketika dia berhenti. Melihat Irena berbaring tidur di kasurnya merupakan pemandangan yang mengejutkan. Kemudian dia mendekat, menyelimuti Irena bersama dengan dirinya.
Waktu terus bergerak. Di tengah keheningan ini kelopak mata Irena terbuka. Tepat di depan matanya wajah Yohan terpampang dekat. Irena menahan napas seketika. Sekilas Irena menyadari hal yang tak seharusnya dia alami. Wajah itu telah menyihirnya. Yohan tumbuh semakin menawan. Tapi! Irena menekankan diri bahwa dirinya ini wanita berusia dua puluh satu tahun yang akan lulus kuliah, tidak semestinya mengagumi paras seorang remaja, bukan?
Selain itu, sebuah lengan Yohan bertengger di perutnya. Irena berniat menyingkirkan lengan itu dari perutnya, akan tetapi Yohan bergerak dan mengeratkan dekapannya tanpa membuka mata. "Tetaplah di sini," bisik suara Yohan. "Aku hanya butuh semalaman bersamamu untuk menghadapi hari esok."
Dan Irena tidak mampu menolaknya. "Baiklah."
***