Tarno berjalan dengan pelan menuju ruang tamu. Tangannya tak henti mengusap kasar wajahnya yang tidak gatal. Bentuk rasa frustrasi yang tidak bisa terlampiaskan. Tubuhnya dia hempaskan begitu saja di sofa ruang tamu.
Kini dia tidak bisa lagi merasa bangga karena telah berhasil merenovasi rumahnya setelah berjuang di negeri orang selama lima tahun. Yang tersisa adalah penyesalan. Hal yang sangat dia takutkan sejak pertama dia meninggalkan rumah akhirnya terjadi juga.
Tarno tidak menyangka, orang yang sangat dia percaya untuk menjaga istrinya justru berbalik menghianatinya. Joko, sahabat karibnya. Yang diyakininya akan menjaga istrinya dengan baik selama dia disini. Tarno berpikir, Joko akan menjaga Susanti selayaknya saudara sendiri.
Pintu kamar terdengar membuka diiringi langkah kaki yang mendekat. Joko dan Susanti berjalan beriringan dengan kepala menunduk. Keduanya sudah duduk di depan Tarno sekarang. Masih dengan kepala tertunduk.
Tidak ada yang memulai pembicaraan. Semuanya diam sehingga tercipta suasana yang hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar sekarang. Sesekali terdengar deru motor yang lewat di jalanan.
Tarno memandangi kedua orang di depannya dengan seksama. Susanti kini tampak lebih cantik dibanding sebelumnya. Tubuhnya menjadi lebih berisi yang membuatnya tampak lebih seksi. Bahkan daster yang dikenakannya tidak mampu menyembunyikan keseksiannya. Rambut ikal panjangnya yang biasanya hanya dikuncir asal kini tampak lurus dan terawat. Bahkan wajahnya yang sebelumnya tampak kusam kini tampak bercahaya meskipun tanpa sentuhan make up. Susanti memang aslinya sudah cantik. Dengan hidung mancung dan mata yang bulat. Meskipun sering melihatnya saat video call, namun Tarno masih terlihat takjub melihat kecantikan istrinya secara langsung.
Sementara Joko, tidak banyak yang berubah darinya. Dia hanya tampak bertambah tua sedikit karena rambutnya mulai botak di sisi kirinya. Beberapa uban juga mulai muncul di sela-sela rambutnya. Seperti rambut Tarno yang juga mulai beruban. Umur Tarno dan Joko memang tidak terpaut jauh. Tarno bahkan melihat perut Joko yang mulai membuncit.
Tarno menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya memulai pembicaraan.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi disini?” tanya Tarno dengan suara bergetar. Dia mencoba menahan tangis sekuat tenaga sehingga hanya mampu mengucapkan kalimat pendek tersebut. Dadanya bertalu-talu menahan amarah dan emosinya masih terus diredamnya sebisa mungkin. Tarno bukan tipe orang yang menyukai kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Hatinya yang lembut bahkan sudah rapuh sekarang setelah dikhianati oleh kedua orang yang sangat dipercayai.
“Mas, aku bisa menjelaskan semuanya. Apa yang kamu lihat tadi bukan yang terjadi sebenarnya. Kamu sudah salah paham. Kami hanya....” Susanti tidak mampu menyelesaikan perkataannya. Dia melirik Joko yang ada di sampingnya untuk meminta bantuan menjelaskan pada Tarno. Kakinya bahkan menyenggol kaki Joko sekarang.
“Hanya apa? Jelaskan dengan benar agar aku yang bodoh ini bisa mengerti perkataan kalian yang pintar.” Tarno tak mampu menahan tangisnya lagi sekarang. Setetes air bening meluncur membasahi pipinya yang segera diusap dengan tangan kasarnya.
Joko dan Susanti hanya menunduk diam tidak mampu menjawab pertanyaan Tarno. Tangan keduanya bertaut di atas paha masing-masing, persis seperti seorang terdakwa yang sedang diadili dalam sebuah pengadilan.
“Sejak kapan? Katakan padaku dengan jujur sejak kapan hubungan ini?” tanya Tarno lagi setelah mampu mengendalikan emosinya agar tidak menangis lagi.
Keduanya hanya diam tidak ada yang bersuara atau sekedar mengangkat kepala. Masih menunduk dengan posisi yang sama.
“Apakah kalian tuli, kenapa hanya diam saja dari tadi. JAWAB PERTANYAANKU!” Tarno akhirnya tidak tahan lagi. Dia mulai mengeluarkan emosi yang ditahannya sejak tadi.
“Apakah pertanyaanku sangat sulit dijawab?!! Bahkan Dinda yang masih TK akan menjawabnya dengan mudah,” ucap Tarno lagi. Tarno bahkan membandingkan keduanya dengan Dinda, anak bungsu Tarno yang sekarang sudah duduk di bangku TK besar.
“Susanti, jawab pertanyaanku. Apakah kamu bisu atau tidak mengerti. Perlu kuulangi lagi pertanyaanku!!” bentak Tarno pada istrinya. Tarno benar-benar marah sekarang. Dia bahkan memanggil nama istrinya langsung, hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.
Susanti sangat kaget saat mendengar suara keras Tarno saat membentaknya. Selama menikah dengan Tarno baru kali ini dia dibentak olehnya. Tarno selalu memperlakukannya dengan lembut dan tidak pernah marah. Kalau pun marah dia memilih untuk mendiamkan Susanti, baru setelah kemarahannya habis dia akan berbicara lagi.
“Aku lupa kapan tepatnya, Mas. Tapi semua berjalan begitu saja tanpa kami sadari.” Susanti menarik nafas panjang sebelum berkata lagi, “Aku yang merasa bosan dan jenuh kadang merasa sangat kesepian. Aku wanita normal yang butuh menyalurkan kebutuhan biologisku sementara kamu tidak ada di sisiku. Jadi aku melampiaskannya pada Mas Joko yang saat itu ada di sampingku,” jawab Susanti dengan mantap.
Tarno merasa kaget mendengar perkataan Susanti barusan. Bumi seakan terbelah menjadi dua dan menghisap segala sesuatu yang ada di atasnya termasuk Tarno. Dia merasa terisap ke dalam lubang yang tidak berujung saat mendengar ungkapan jujur istrinya.
“Lalu apa maumu sekarang?” tanya Tarno dengan memandang tajam Susanti.
Susanti hanya diam dan menoleh ke arah Joko. Sedangkan Joko masih menunduk tidak berani melihat Tarno ataupun Susanti.
“Jawab pertanyaanku. Apa maumu sekarang?” tanya Tarno sekali lagi.
“Aku ... Aku ingin kita bercerai, Mas,” kata Susanti dengan pelan.
“Susanti....” Joko menoleh ke arah Susanti. Dia akhirnya bersuara setelah mendengar jawaban Susanti tadi. “Apa maksudmu bercerai, Sayang?” tanya Joko lagi.
Cih, bisa-bisanya dia memanggil istrinya dengan sebutan sayang di depan suaminya sendiri. Benar-benar tidak tahu malu, pikir Tarno.
“Aku hamil, Mas. Aku sedang mengandung anakmu sekarang,” kata Susanti dengan memandang wajah Joko.
“Apa?” wajah Joko terlihat sangat kaget.
Tarno mengamati keduanya dengan perasaan muak. Bahkan dia sudah tidak kaget lagi saat mendengar perkataan Susanti barusan. Baguslah, pikirnya. Dia tidak perlu mencari-cari lagi alasan untuk mempertahankan Susanti agar tetap menjadi istrinya. Kabar kehamilan Susanti barusan membuatnya semakin yakin untuk menceraikan istrinya.
“Baiklah. Aku akan menceraikanmu sesuai keinginanmu. Dan kamu Joko, kamu harus bertanggung jawab atas anak yang sedang dikandung Susanti sekarang. Dia adalah anakmu, darah dagingmu,” kata Tarno dengan tegas tanpa berpikir lama.
Tadinya dia sempat berpikir untuk memperbaiki hubungannya dengan Susanti tapi setelah mendengar keinginan Susanti yang ingin bercerai darinya ditambah dia sekarang sedang hamil anaknya Joko sepertinya dia tidak perlu berpikir dua kali untuk menceraikannya.
“Tapi, No. Kenapa aku harus bertanggung jawab atas kehamilan Susanti. Aku bahkan tidak yakin kalau anak yang sedang dikandungnya sekarang adalah anakku. Bisa saja dia tidur dengan lelaki lain selain aku,” protes Joko tidak terima jika harus bertanggung jawab menikahi Susanti.
“Mas, tega sekali kamu menuduhku seperti itu. Anak yang ada di dalam perutku adalah anakmu. Aku tidak pernah tidur dengan lelaki lain selain kamu. Selama ini aku hanya tidur denganmu sumpah demi Allah. Mana mungkin aku mengajak lelaki lain ke rumah ini selain kamu. Aku tidak mungkin mengkhianatimu,” protes Susanti saat mendengar perkataan Joko.
Hati Tarno teriris mendengar perkataan Suanti yang bahkan berani bersumpah atas nama tuhan. Dia bahkan sudah berani terang-terangan sekarang. Rasa malu sepertinya sudah menghilang darinya. Atau bahkan dia tidak menganggap Tarno ada sekarang.
“Aku tidak percaya kalau kamu tidak berkhianat dan tidur denganku saja. La wong Tarno yang suamimu sahmu saja kamu khianati. Apalagi aku yang Cuma selingkuhanmu, lelaki yang kamu anggap sebagai pemuas nafsumu saja. Bukankah mudah bagimu mencari lelaki lain saat aku tidak bisa memuaskanmu,” elak Joko.
Tarno merasa muak melihat pertengkaran kedua orang di depannya. Benar-benar tidak tahu malu. Mereka bahkan sudah bicara blak-blakan di depan matanya. Lupakah mereka bahwa Tarno lah orang yang paling tersakiti atas kejadian ini. Kenapa mereka malah bertengkar dan mempertahankan egonya masing-masing.
“CUKUP! DIAM SEMUA!” Tarno menggebrak meja dengan kedua tangannya.
Joko dan Susanti langsung terdiam dan memandang Tarno sekilas. Melihat wajah Tarno yang memerah menahan amarah membuat keduanya menundukkan wajahnya lagi dengan posisi seperti seorang pesakitan.
“Sekarang aku akan bertanya. Kalian jawab dengan jujur.” Tarno akhirnya memutuskan.
“Susanti kamu mau kita bercerai kan?” tanya Tarno dengan tegas.
“Iya, Mas,” jawab Susanti dengan pelan. Dia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya dan memandang Tarno secara langsung.
“Lalu kamu Joko. Bukankah Susanti sudah bilang dia sedang mengandung anakmu. Sebagai lelaki dewasa yang bertanggung jawab bukankah seharusnya kamu menikahi Susanti setelah kuceraikan. Agar anakmu memiliki sosok ayah,” kata Tarno dengan memandang Joko tajam.
Joko hanya menunduk dan tidak menjawab pernyataan yang dilontarkan Tarno padanya.
“Kenapa kamu diam saja? Apa pertanyaanku tadi begitu sulit untuk dijawab. Bukankah jika berbuat harus berani bertanggung jawab. Dimana tanggung jawabmu sebagai lelaki sekarang?”
Joko masih diam saja. Tidak mengiyakan atau menolak.
“Apakah aku perlu melaporkan kasus perzinaan ini ke kantor polisi saja?” Tarno mengancam kali ini.
Joko langsung mendongak memandang wajah Tarno. Saat kedua mata itu bertatapan, Joko menggelengkan kepalanya.
“Jangan, No. Baiklah, aku akan bertanggung jawab dan menikahi Susanti,” jawab Joko dengan pelan.
“Baguslah. Kenapa tidak dari tadi kamu bilang seperti itu. Bukankah kamu masih single, kenapa harus berpikir lama untuk memutuskan kamu akan menikahi Susanti.”
Tarno terdiam cukup lama. Saat ini dia tidak mungkin tinggal disini lagi. Melihat wajah Susanti hanya akan mengingatkannya dengan kejadian yang dilihatnya di kamar yang akan menyakiti hatinya lagi. Dia harus pergi dari rumah ini untuk menenangkan hatinya. Namun lelaki dengan dua putri ini ingin menemui kedua putrinya sebelum meninggalkan rumah.
“Kapan anak-anak pulang?” tanya Tarno pada Susanti.
Susanti menoleh untuk melihat jam di dinding yang berada si sebelah kanannya. Jarum jam menunjuk pada angka 10.25. Lima menit lagi, Dinda putrinya berusia enam tahun akan pulang diantar tetangganya. Susanti memang sudah berpesan pada tetangganya agar membawa Dinda pulang bersama saat menyusul anaknya nanti.
“Sebentar lagi Dinda tiba. Dila pulang sekolah jam 12.00 nanti,” jawab Susanti.
Akhirnya Tarno memutuskan untuk berpamitan kepada anak-anaknya sebelum pergi dari rumah ini. Tarno sangat merindukan kedua putrinya yang sudah lima tahun tidak ditemuinya. Mereka pasti sudah sangat besar sekarang. Selama ini dia berbincang dengan kedua putrinya lewat video call atau panggilan telepon saja. Sekaranglah saatnya dia bisa bertemu dan bisa menyentuh atau memeluk mereka secara langsung.
“Jadi, sudah berapa bulan kehamilanmu?” tanya Tarno.
Susanti tampak kaget saat mendengar pertanyaan Tarno. Tangannya tampak menggaruk pahanya yang tak gatal.
“Itu ... Itu...,” lirih Susanti.
Tarno dan Joko memandang Susanti tanpa berkedip menunggu jawaban Suanti. Membuat satu-satunya wanita di ruang tamu itu semakin gugup. Tangannya berkali-kali membenarkan anak rambut untuk diselipkan di belakang telinganya.
“Itu apa? Apa kamu juga berbohong soal kehamilanmu, seperti kamu membohongiku?” cecar Tarno.
“Tidak. Aku tidak bohong. Aku memang hamil. Aku bahkan baru tahu soal kehamilanku tadi pagi. Jadi aku belum memeriksakannya ke bidan. Apa perlu kutunjukkan buktinya?” Susanti berdiri hendak mengambil hasil test pack yang digunakannya tadi pagi.
“Duduklah. Aku percaya padamu,” tolak Tarno.
Tarno sudah tidak peduli lagi, apakah kehamilan Susanti adalah memang benar terjadi atau hanya kebohongannya saja. Toh, hal itu tidak akan mengubah pikirannya untuk menceraikan istrinya sekarang. Keputusannya semakin mantap sekarang. Percuma mempertahankan hubungan ini sekarang.
Merasa pembicaraan kali ini sudah cukup, Tarno segera menyuruh Joko untuk pergi.
“Sampai kapan kamu akan tetap di sini? Pembicaraan kita sudah selesai. Aku harap kamu benar-benar memenuhi perkataanmu dan bertanggung jawab atas anak yang sekarang dikandung Susanti,” kata Tarno tanpa memandang wajah Joko.
Dia sudah terlalu muak melihat wajah sahabat yang ternyata menusuknya dari belakang. Menghunjamkan belati tepat di jantungnya dan membuat goresan yang tidak akan sembuh dalam waktu yang singkat. Tarno bahkan tidak yakin apakah lukanya akan bisa sembuh dan dia bisa memaafkan Joko pada akhirnya. Biarlah waktu yang menjawabnya.
Joko berdiri dan berjalan keluar tanpa berkata apa pun. Dia hanya menoleh sekilas pada Susanti yang dibalas anggukan oleh wanita itu. Bahkan tidak sekalipun ada ucapan maaf dari mulutnya untuk Tarno setelah semua perbuatan yang dilakukannya. Entah terbuat dari apa hati Joko, sehingga dia tidak merasa bersalah sama sekali.
***
Sesampainya di luar Joko segera menaiki motor ninja yang diberi nama Merah.
'Cih, gagal sudah semua rencanaku. Kenapa juga dia harus pulang mendadak dan memergoki kami saat sedang enak-enak. Bagaimana Susanti bisa tidak tahu kalau Tarno akan pulang' batin Joko sambil meludah ke samping.
Lelaki berjaket hijau itu segera memakai helmnya dan menyalakan motornya. Begitu motor menyala, dia memutar gas kuat-kuat dan pergi dari rumah itu secepatnya. Sepanjang perjalanan otaknya dipenuhi dengan pikiran untuk berkelit dari tanggung jawabnya. Bagaimanapun dia lelaki yang bebas dan tidak suka terikat. Itulah yang membuatnya belum menikah sampai sekarang meskipun usianya hampir mencapai kepala empat.
Padahal bila dibandingkan dengan Tarno dia lebih mapan secara finansial. Joko memiliki sepetak sawah yang cukup luas, warisan dari bapaknya. Dulu sebelum Tarno berangkat ke luar negeri, Joko kerap kali meminta bantuannya untuk membantunya menggarap sawahnya. Tarno yang rajin dan ulet seringkali disukai para pemilik sawah dan sering dimintai bantuan oleh mereka. Namun karena kedekatannya dengan Joko dan sudah menganggapnya sebagai saudara, Tarno selalu mengutamakan Joko dan membantu Joko menggarap sawahnya dulu sebelum membantu yang lain. Hal inilah yang membuat mereka dekat bahkan melebihi saudara kandung.
Awalnya Joko tulus membantu Tarno untuk menjaga istrinya, Susanti saat ditinggal ke luar negeri. Namun entah bagaimana awalnya hubungan keduanya menjadi semakin dekat lebih dari yang seharusnya. Joko merasa, Susanti mencoba mencuri perhatiannya tiga tahun belakangan ini. Joko kerap kali dipanggil ke rumah hanya untuk perkara sepele yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri oleh Susanti. Dan Susanti memanggilnya saat anak-anak sedang sekolah. Otomatis di rumah itu hanya ada mereka berdua, Joko dan Susanti.
Awalnya Joko bersikap cuek dan masih menghormati Tarno sebagai sahabatnya. Jadi dia mengabaikan segala godaan-godaan yang Susanti lancarkan padanya. Namun siapa yang bisa tahan bila setiap waktu disodori hal yang menggoda iman. Seumpama kucing disodori ikan asin pasti akan dilahapnya juga. Begitulah yang terjadi pada Joko akhirnya.
Awalnya Joko merasa sangat bersalah saat melakukannya pertama kali. Namun, Susanti dengan lihai merayunya kembali dengan kata-kata semanis madu yang membuat Joko terbuai sehingga lupalah dia dengan persahabatan yang sudah dibangunnya bertahun-tahun dengan Tarno. Lama-lama Joko menikmati permainan ini dan menjadi ketagihan. Namun mereka berdua lihai menyembunyikan perselingkuhan mereka dari mata orang-orang. Tidak ada seorang pun yang mencurigai kedua orang itu meskipun Joko kerap kali menyambangi rumah Susanti.
Lalu suatu hari Joko gagal panen. Dia kebingungan mencari yang untuk modal menggarap sawah berikutnya. Saat bercerita pada Susanti, dengan entengnya wanita itu menawarkan bantuan padanya untuk meminjamkan uangnya. Lebih tepatnya memberi karena selama ini Joko tidak pernah membayar utang itu kembali sepeser pun. Akhirnya karena merasa keenakan tidak perlu mengembalikan uang yang dipinjamnya, Joko kerap kali meminta uang kepada Susanti yang dengan entengnya langsung diberi tanpa berpikir panjang.
Begitu pula saat Joko menyatakan ingin membeli motor ninja yang sedang dinaikinya sekarang. Dengan mudahnya Susanti memberikan uang tabungannya sebagai uang muka motor. Lalu untuk angsurannya Susanti akan memberikan pada Joko setelah Tarno mentransfer gajinya. Joko lupa daratan. Dia lupa bahwa Susanti adalah istri dari sahabatnya yang harus dijaga, namun dia malah merusak semua kepercayaan yang Tarno berikan padanya. Entah apa julukan yang pantas diberikan kepada lelaki seperti Joko.
***
Tak lama setelah Joko pergi terdengar sebuah motor berhenti di depan rumah. Seorang anak kecil turun dari motor dan melambaikan tangannya pada anak kecil dan seorang wanita yang masih duduk di atas motor.
“Dadah Selly. Makasih ya Tante Rita sudah diantar pulang,” ucap Dinda dengan ceria.
Setelah motor berlalu Dinda langsung masuk ke rumah dengan mengucapkan salam.
“Assalamualaikum. Dinda pulang, Bu.”
“Wa’alaikumussalam. Sudah pulang putriku yang paling cantik,” jawab Susanti dengan tersenyum.
Dinda melihat ayahnya yang duduk di kursi. Gadis itu terdiam sejenak, melihat lelaki yang kini duduk di ruang tamu dengan ibunya. Saat mengenali lelaki itu adalah ayahnya, Dinda segera memekik kegirangan. “Wah, Ayah pulang. Kenapa nggak bilang-bilang dulu.” Dinda segera berlari menuju Tarno dan memeluknya dengan erat. Meluapkan rasa rindu yang disimpannya selama ini.
“Iya, sayang. Kejutan,” jawab Tarno dengan memeluk putrinya erat.
Tarno merasa terharu dan lega. Meskipun sudah lima tahun tidak pernah bertemu secara langsung dan hanya bersapa lewat panggilan video saja, Dinda masih mengenalinya dan bersikap hangat padanya. Padahal Tarno sempat takut kalau Dinda akan merasa segan padanya karena tidak pernah bertemu secara langsung.
Tarno memang rutin melakukan panggilan video call seminggu sekali atau paling tidak sebulan sekali saat dia benar-benar sibuk dan kesibukannya tidak bisa ditinggal. Hal itu dilakukannya agar dia tetap dekat dengan keluarganya.
Terutama Susanti. Tarno berharap dan selalu mengingatkan istrinya agar menjaga diri dengan baik selama lelaki itu tidak ada di sampingnya. Menjaga kehormatan dan kesetiaan sebagai istri yang menunggu suaminya berjuang mencari nafkah di negeri orang.
Tarno pikir semua berjalan dengan lancar dan hubungannya dengan istrinya baik-baik saja sampai kejadian beberapa jam lalu yang menunjukkan semuanya. Susanti dan Joko sangat pandai menyembunyikan semuanya sampai sekarang. Sampai tadi pagi tepatnya, saat kepergok oleh Tarno berduaan di kamarnya.
“Ayah, mana oleh-olehnya? Katanya kalau Ayah pulang, mau bawa mainan yang banyak buat Dinda,” tagih Dinda pada ayahnya.
“Oh iya, Ayah lupa. Sebentar ya,” jawab Tarno.
Tarno sampai lupa dengan mobil sewaan yang diparkir di rumah tetangganya. Lelaki berkulit sawo matang itu segera keluar rumah dan memanggil pak sopir yang tengah duduk di teras tetangganya. Tarno melambaikan tangannya sebagai isyarat untuk membawa mobil itu ke depan rumahnya. Tanpa menunggu waktu lama mobil itu sudah terparkir rapi di halaman rumah Tarno sekarang.
Tarno segera membongkar tas dan barang bawaannya untuk mencari oleh-oleh yang sudah disiapkan dalam satu tas tersendiri. Setelah ketemu dijinjingnya tas itu ke dalam rumah.
Tarno segera membuka tas itu dengan Dinda yang menunggu di sampingnya yang tampak tak sabar melihat oleh-oleh apa yang dibawakan ayahnya dari luar negeri. Begitu tas dibuka Tarno segera mengeluarkan mainan dan pakaian yang disiapkan untuk kedua putrinya lalu meninggalkan barang-barang yang rencananya akan diberikan pada Susanti. Namun setelah kejadian tadi, Tarno batal memberikannya dan berencana akan memberikan barang itu pada Ratih, adik perempuannya.
Susanti melihat dari kejauhan saat Tarno membuka tas itu. Dilihatnya beberapa barang yang dipesannya pada suaminya, saat dia pulang nanti. Melihat Tarno menutup tas kembali dan tidak memberikan barang-barang itu padanya membuatnya tak tahan untuk bertanya.
“Mana oleh-oleh buatku?” tanya Susanti dengan ketus. Kesal karena Tarno tidak memberikan barang yang dimintanya padahal sudah di depan mata.
Hati Tarno teriris mendengar pertanyaan Susanti barusan. Tangannya menyentuh kotak kecil yang ada di sakunya celananya. Seandainya Susanti tidak mengkhianatinya, kalung ini pasti sudah bertengger manis di lehernya sekarang.
“Oleh-olehmu akan datang nanti pada saat yang tepat sesuai permintaanmu tadi. Tunggu saja dengan sabar, surat perceraian kita akan segera datang,” ucap Tarno dengan suara bergetar.
Dinda terlihat heran melihat tingkah kedua orang tuanya. Dipandanginya wajah kedua orang tuanya secara bergantian. Sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya.
“Perceraian itu apa, Yah?” tanya Dinda polos.
Tarno semakin trenyuh mendengar pertanyaan dari putri kecilnya. Gadis kecil berumur enam tahun ini harus menyaksikan kedua orang tuanya berpisah bahkan di saat dia belum mengerti apa itu arti dari kata perceraian.
Tarno bingung bagaimana menjelaskan tentang perceraian pada Dinda. Karena tak tahan akhirnya Susanti menyahut
“Cerai itu artinya ayah dan ibu tidak tinggal bersama lagi,” kata Susanti.
“Berarti seperti saat ayah di luar negeri. Kan dia tidak tinggal bersama kita. Apa ayah akan pergi ke luar negeri lagi?” tanya Dinda lagi.
“Bukan seperti itu. Ayah dan Ibu tidak akan bersama lagi dan akan berpisah. Kami akan tinggal sendiri-sendiri tidak bersama dalam satu rumah lagi.” Kali ini Susanti menjelaskan arti perceraian secara gamblang pada Dinda.
Tarno melihat ekspresi kebingungan di wajah putrinya. Sepertinya dia masih kesulitan untuk mencerna penjelasan yang disampaikan oleh ibunya barusan.
“Dinda ayo, kita makan dulu. Kamu sudah lapar belum? Ayo, putri ayah ingin makan apa? Ayah belikan.” Tarno mengalihkan pembicaraan untuk mengakhiri pembahasan tentang perceraian.
“Iya. Aku sudah lapar, Yah.” Dinda mengangguk dan terlihat bersemangat saat ditawari akan dibelikan makanan oleh ayahnya.
“Ayo, kita makan sekarang. Ganti baju dulu lalu kita berangkat,” kata Tarno dengan lembut.
Dinda segera berlari menuju kamarnya untuk berganti baju dengan bersemangat. Dalam benaknya mulai menimbang-nimbang makanan apa yang ingin dibelinya sekarang. Setelah berganti baju gadis kecil itu segera berlari mencari ayahnya.
“Ayo, Yah. Kita berangkat sekarang. Ibu nggak ikut makan?” tanya Dinda saat melihat Ibunya masih mengenakan daster.
“Ibu dirumah saja, nunggu Kakak sebentar lagi pulang. Bungkusin buat Ibu dan Kak Dila ya,” pesan Susanti pada Dinda.
“Oke, Bu.” Dinda tersenyum dan berlari menyusul ayahnya yang mulai berjalan ke luar rumah.
“Sudah pulang nggak dibawain oleh-oleh. Mau makan nggak ajak-ajak. Dasar lelaki pelit,” sindir Susanti dengan cukup keras agar Tarno mendengarnya.
Darah Tarno mendidih mendengar perkataan wanita yang masih menjadi istrinya tersebut. Tangannya mengepal dengan kuat dan rahangnya mengeras. Tubuhnya berbalik dan berjalan masuk kembali ke rumah.
“Apa katamu tadi? Ayo ulangi lagi. Katakan langsung di depan mataku sekarang!” bentak Tarno.
Amarahnya sudah tak bisa ditahan lagi. Bagai gunung berapi yang siap meletus dan melemparkan magma yang sedang menggelegak di dasarnya. Selama ini dia serahkan semua gajinya pada Susanti. Tarno bahkan tidak punya simpanan uang lagi kecuali dari gaji terakhirnya yang sudah berkurang untuk ongkos perjalanan pulang dan membeli beberapa oleh-oleh yang dibawanya pulang. Namun apa yang dia katakan tadi. Wanita itu menyebutnya pelit. Tarno tidak bisa bersabar lagi. Harga dirinya sudah diinjak-injak oleh wanita yang telah melahirkan kedua anaknya.
“Apa? Aku tadi ngomong sendiri. Kalau kamu merasa ya baguslah. Berarti perkataanku tadi memang benar. Sesuai dengan kenyataan dan tidak mengada-ada.” Susanti mengangkat dagunya dan menatap Tarno dengan nyalang. Membuat amarah Tarno semakin memuncak.
Tangan Tarno terangkat ke udara. Nafasnya berubah cepat dan telinganya memerah. Wajahnya terasa panas sekarang.
“Apa? Kamu mau memukulku sekarang?” Susanti menyodorkan wajahnya kepada Tarno.
Telinga Tarno semakin panas mendengar perkataan Susanti. Tangannya mulai bergerak mendekati wajah Susanti.
Dug.