Pagi itu, Kota Penuh Dosa tidak lagi menampilkan sisi kelamnya. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela hotel seolah membersihkan kotoran yang menempel di sudut-sudutnya. Namun, tidak bagi Vania. Hatinya masih terasa kotor, hampa, dan penuh amarah. Setelah semalam suntuk dihantam emosi dan kenikmatan yang menakutkan, ia merasa kosong.
Reza, dengan wajah datar yang sama seperti saat ia masuk kamar, meletakkan amplop tebal di atas meja nakas. Amplop itu tampak membengkak, berisi tumpukan uang yang bisa melunasi semua hutang orang tuanya. Jumlahnya persis seperti yang ia sebutkan semalam, seratus juta rupiah. Vania hanya menatapnya, tanpa berani berbicara. Ia tidak tahu harus merasa apa: lega karena mendapatkan uang sebanyak itu, atau jijik karena cara ia mendapatkannya.
Reza tidak mengatakan sepatah kata pun. Tidak ada ucapan terima kasih, permintaan maaf, atau bahkan basa-basi. Ia hanya menatap Vania sekilas, matanya dingin dan tak terbaca. "Rahasiakan kejadian ini," suaranya serak dan nyaris berbisik, tetapi nadanya mutlak. "Jangan berani-berani membocorkannya pada siapa pun."
Setelah mengatakan itu, Reza berbalik dan berjalan menuju pintu. Ia bahkan tidak repot-repot menoleh kembali. Pintu kamar tertutup dengan bunyi pelan, meninggalkan Vania sendirian dalam keheningan yang menyesakkan.
Vania merasakan amarah melonjak di dadanya. Pria itu begitu dingin dan kasar. Pelanggan-pelanggan lainnya, meskipun menuntut dan menjijikkan, setidaknya memiliki sedikit sopan santun. Mereka mungkin memberikan uang dan pergi, tetapi tidak ada yang memperlakukannya dengan cara Reza semalam. Ia bukan hanya melampiaskan nafsu, tetapi juga amarah dan kekerasan.
Dengan tubuh yang terasa remuk dan perih di mana-mana, Vania mencoba bangkit dari ranjang. Setiap gerakan terasa menyiksa. Ia memunguti gaunnya yang sudah robek, seolah kepingan harga dirinya turut tercerai-berai bersamanya. Dengan enggan, ia memakai kembali gaun itu. Ia tidak peduli jika terlihat berantakan, yang ia inginkan hanyalah segera pergi dari tempat terkutuk ini.
Sebelum melangkah keluar, mata Vania tertuju pada amplop di atas meja. Seratus juta. Jumlah yang bisa mengubah hidupnya. Jumlah itu bisa membuat adiknya tidak perlu mengalami penderitaan seperti dirinya. Tanpa ragu, ia meraih amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas. Uang ini bukan untuknya, ini untuk Cinta, adiknya. Ini adalah satu-satunya alasan mengapa ia rela menanggung semua penderitaan ini.
Perjalanan pulang terasa sangat panjang. Ia berjalan di sepanjang trotoar yang mulai ramai oleh orang-orang yang bergegas menuju aktivitas pagi. Rasanya begitu ironis. Di saat mereka memulai hari baru yang bersih, ia baru saja selesai menjalani malam yang kotor.
Sesampainya di kost-kostan kecilnya, keheningan menyambutnya. Pintu tidak terkunci. Dengan langkah gontai, ia masuk dan menemukan Cinta, adiknya yang berusia tujuh tahun, terlelap di sofa ruang tamu. Rambutnya yang hitam berantakan, dan selimut tipis menyelimuti tubuh mungilnya. Sebuah buku cerita anak-anak jatuh dari tangannya.
Melihat adiknya, semua amarah dan rasa sakit Vania lenyap. Yang tersisa hanyalah rasa sayang yang tak terbatas. Cinta adalah alasannya untuk tetap bertahan. Vania berlutut di samping sofa, mengelus rambut adiknya dengan lembut. Ia melihat jam dinding. Sudah hampir jam enam pagi. Ia tidak tega membangunkan Cinta. Perlahan, ia menggendong tubuh kecil itu dan membawanya ke kamar tidur. Setelah menyelimuti Cinta dengan benar, Vania ikut merebahkan diri di sampingnya, kelelahan. Tanpa sadar, ia pun tertidur, memeluk amplop berisi uang itu erat-erat di dalam tasnya.
Pukul 07.00, alarm berdering. Vania terbangun dengan kaget. Ia melirik adiknya, yang masih tertidur pulas. Dengan hati-hati, ia bangkit dan bersiap-siap. Hari ini adalah hari penting, ia harus ke kampus. Ia mengenakan celana jins dan kaus polos, lalu mengambil jaket dan tas ranselnya. Penampilannya yang sederhana dan rapi adalah identitasnya di siang hari.
Saat ia sedang sarapan sereal, Cinta bangun. Senyumnya langsung merekah begitu melihat sang kakak. "Kakak sudah pulang!" sapa Cinta riang. Ia menghambur ke pelukan Vania. "Aku tunggu Kakak sampai ketiduran semalam. Kok lama sekali?"
Vania merasakan hatinya teriris. Ia membalas pelukan adiknya, berusaha menahan air mata. "Maaf, Sayang. Kakak lembur di restoran. Ada pesanan banyak sekali jadi harus bantu sampai pagi."
Vania terpaksa berbohong. Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya. Ia tahu, kebohongan ini adalah satu-satunya cara untuk melindungi Cinta. Ia tidak mau adiknya tahu pekerjaan kotor yang ia jalani. Ia tidak mau Cinta membencinya atau merasa malu. Ia hanya ingin Cinta tumbuh menjadi anak baik-baik, meraih cita-citanya, dan tidak pernah harus melewati jalan hidup sekelam dirinya. "Kakak janji hari ini tidak akan pulang terlalu malam," bisik Vania pada Cinta.
Setelah sarapan, Vania dan Cinta berangkat. Dengan motor matic yang sudah tua, Vania membonceng adiknya menuju sekolah dasar. Cinta bercerita dengan semangat tentang teman-temannya di sekolah, tentang pelajaran matematika, dan tentang inginnya menjadi seorang dokter. Vania tersenyum, mendengarkan setiap celotehan Cinta. Impian Cinta adalah tujuannya. Uang yang ia dapatkan semalam akan memastikan impian itu menjadi kenyataan.
Setelah mengantar Cinta sampai di gerbang sekolah, Vania melanjutkan perjalanannya ke kampus. Suasana di sana sangat berbeda. Kampus yang megah, bersih, dan penuh dengan mahasiswa-mahasiswi yang ceria. Di sini, ia adalah mahasiswi cerdas yang berdebat tentang teori ekonomi. Tidak ada yang tahu, di balik penampilannya yang rapi, ia adalah seorang wanita malam yang rapuh dan hancur.
Saat ia berjalan di koridor menuju kelasnya, telinganya menangkap suara-suara bisik-bisik dari para mahasiswa. Vania tidak terlalu peduli. Ia sudah terbiasa dengan gosip kampus. Namun, kali ini, ia mendengar sesuatu yang berbeda.
"Dengar-dengar, dosen baru kita tampan banget!"
"Benarkah? Aku dengar dia dosen killer!"
"Aku tidak peduli! Yang penting wajahnya tampan!"
"Aku dengar dia masih muda dan dari keluarga kaya raya!"
Gosip itu berputar di sekitar koridor. Vania tidak ambil pusing. Ia hanya ingin segera sampai di kelas, duduk di bangku paling belakang, dan menyerap pelajaran.
Tepat sebelum ia masuk kelas, seorang mahasiswi mengagetkannya. Lia, teman sebangkunya yang cerewet, melambaikan tangan padanya. "Vania! Sini! Kenapa baru datang?" tanya Lia. "Dosen barunya sudah mau masuk, lho! Katanya tampan banget, seperti model!"
Vania tersenyum. "Aku tidak tahu. Baru dengar ini."
Lia mengangguk-angguk. "Iya! Aku juga baru tahu. Katanya dia mengajar mata kuliah Ekonomi Moneter. Wah, semoga dia tidak sekejam gosip yang beredar, ya!"
Vania hanya tersenyum tipis. Ia tidak peduli dosennya tampan atau tidak. Yang penting ia bisa lulus, mendapatkan gelar sarjana, dan menemukan pekerjaan yang layak.
Saat bel berbunyi, semua mahasiswa kembali ke bangku masing-masing. Suasana di kelas menjadi hening. Semua mata tertuju pada pintu. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Seorang pria melangkah masuk.
Wajahnya datar, tatapannya dingin, dan penampilannya sangat rapi. Kemeja putih yang pas di tubuh atletisnya, celana kain hitam, dan rambut yang disisir rapi. Senyumnya tidak ada, dan raut wajahnya menunjukkan kekuasaan.
Vania merasakan jantungnya berhenti berdetak. Ia mengenali wajah itu, mata itu, dan sikap dingin itu. Pria itu adalah Reza. Pria yang semalam merobek-robek harga dirinya dan memberikan seratus juta rupiah.
Reza berjalan menuju meja dosen, meletakkan tasnya, dan menatap ke arah mahasiswa dengan tatapan mengintimidasi. Vania menunduk, berharap pria itu tidak menyadari keberadaannya. Ia ingin bersembunyi. Kenapa dia bisa berada di sini? Mengapa pria itu adalah dosennya?
Suara Reza memecah keheningan di kelas. Suaranya serak dan dalam, sama seperti saat ia membisikkan kata-kata kotor di telinganya semalam. "Selamat pagi, semuanya. Nama saya Reza Mahesa. Saya akan mengajar mata kuliah Ekonomi Moneter. Saya tidak suka basa-basi. Saya hanya suka mahasiswa yang cerdas dan serius. Jika kalian tidak bisa memenuhi standar saya, silakan keluar dari kelas ini sekarang juga. Saya tidak akan segan-segan memberikan nilai F."
Kata-kata itu membuat sebagian mahasiswa merinding. Gosip tentang dosen killer ternyata bukan isapan jempol belaka. Sementara itu, Vania merasa tubuhnya membeku. Tatapan Reza menyapu seluruh ruangan, dan seolah-olah waktu berhenti, mata mereka bertemu. Reza menatap Vania dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum tipis yang penuh misteri muncul di sudut bibirnya, seolah ia menyadari ada rahasia kotor di antara mereka berdua.
Vania tahu, malam yang gelap dan kotor itu tidak akan berakhir. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa pria yang merenggut segalanya darinya kini akan menjadi bagian dari setiap harinya. Pria itu adalah dosennya, dan di dalam kelas ini, ia hanyalah seorang mahasiswi biasa. Namun di luar sana, ia adalah wanita yang pernah dibeli pria itu dengan uang seratus juta.
Ia harus merahasiakannya. Ia harus berpura-pura tidak mengenalnya. Namun, bagaimana ia bisa melakukannya, saat setiap tatapan dari pria itu mengingatkannya pada desahannya semalam? Malam itu, ia berharap ia tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Pagi ini, ia menyadari, takdir memiliki rencana lain. Rencana yang jauh lebih kejam.
Suasana di dalam kelas terasa sangat mencekam. Reza berdiri di depan, menjelaskan materi Ekonomi Moneter dengan nada datar dan dingin, tetapi mata Vania tidak bisa fokus. Otaknya seperti dipenuhi kabut. Suara Reza yang seharusnya terdengar profesional malah mengingatkannya pada desahan dan bisikan liar semalam. Setiap kali Reza melangkah, setiap kali ia menoleh, Vania merasa panik. Ia tidak bisa berkonsentrasi pada teori-teori ekonomi yang rumit. Pikirannya terus melayang pada sentuhan kasar, kata-kata menusuk, dan amplop tebal di dalam tasnya.
Reza menyadari ada yang tidak beres. Mata tajamnya menyapu seluruh kelas, dan ia menangkap Vania yang menunduk, tidak mencatat, dan terlihat linglung. Ia berhenti berbicara. Keheningan tiba-tiba menyelimuti ruangan. Semua mahasiswa menatapnya, bingung.
"Saudari Vania," suara Reza menggema, dingin dan tegas.
Vania terkejut, mendongak, dan matanya membelalak. Ia merasa seluruh perhatian kelas tertuju padanya. Wajahnya memerah karena malu.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Reza, suaranya penuh nada mengejek. "Apakah materi saya terlalu sulit untuk dipahami?"
Vania mencoba berbicara, tetapi suaranya tercekat. "Maaf, Pak. Saya... saya hanya sedang tidak enak badan."
"Oh, tidak enak badan?" Reza mengangkat salah satu alisnya. "Saya pikir kamu terlalu sibuk melamun. Maju ke depan. Jelaskan materi yang baru saja saya sampaikan."
Perintah itu terdengar seperti hukuman. Vania merasa jantungnya berdebar kencang. Ia tidak bisa. Ia tidak mendengar apa pun. Dengan wajah yang pucat pasi, ia berdiri. Matanya berkaca-kaca. Ia melihat ke arah Lia yang memberinya tatapan kasihan.
"Maaf, Pak. Saya... saya tidak tahu," bisik Vania, menundukkan kepala. "Saya minta maaf."
"Tidak tahu?" Reza mendengus. "Seorang mahasiswi dengan IPK tertinggi di angkatan ini tidak tahu materi dasar? Saya rasa ada yang salah dengan gosip yang beredar."
Kata-kata itu membuat semua mahasiswa saling berbisik. Vania merasa dihina di depan teman-temannya sendiri. Ia mengepalkan tangannya, menahan amarah yang membara. Ia tahu, Reza sengaja melakukannya. Pria itu sengaja merendahkannya.
"Duduk," perintah Reza datar. "Saya tidak punya waktu untuk drama. Setelah jam kuliah selesai, datang ke ruangan saya. Jangan sampai terlambat."
Vania kembali ke kursinya dengan tubuh gemetar. Ia tahu ia tidak bisa melawan. Reza adalah dosen, dan ia hanyalah mahasiswi. Ia harus menuruti perintah pria itu, atau nilai yang ia butuhkan untuk masa depannya akan terancam. Sisa jam kuliah terasa seperti neraka. Ia tidak lagi peduli dengan materi, hanya menunggu waktu untuk segera berakhir.
Begitu jam kuliah selesai, Vania langsung bergegas menuju ruangan Reza. Ia mencoba menenangkan dirinya. Ia akan bersikap profesional. Ia akan menjawab semua pertanyaan pria itu. Ia akan berani.
Ia mengetuk pintu ruangan Reza. Suara yang sama, dingin dan datar, mengizinkannya masuk. Vania membuka pintu dan melihat Reza duduk di kursinya. Ruangan itu terlihat rapi, dengan tumpukan buku tebal dan laptop yang terbuka. Pemandangan itu sangat kontras dengan gambaran pria liar yang merobek gaunnya semalam.
"Masuk," kata Reza tanpa menoleh. Ia masih fokus pada layar laptopnya.
Vania melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia berdiri di hadapan meja pria itu, gugup. Reza akhirnya menoleh, menatapnya dengan pandangan dingin yang sama. "Kenapa kamu melamun di kelas?" tanyanya, suaranya sangat rendah. "Apa yang ada di dalam pikiranmu?"
Vania mengepalkan tangannya. Ia harus berani. "Saya sudah bilang, Pak. Saya sedang tidak enak badan."
Reza menyeringai, senyum sinis yang sama seperti semalam. "Jangan berbohong. Apakah kamu memikirkan tentang kejadian semalam?"
Pertanyaan itu membuat Vania marah. Ia mengangkat wajahnya, menatap Reza dengan tatapan tajam. "Tentu tidak! Saya tidak memikirkan kejadian itu. Saya hanya memikirkan masalah keluarga saya."
"Masalah keluarga?" Reza memiringkan kepalanya. "Soal uang? Bukankah saya sudah memberikan seratus juta? Apakah itu tidak cukup?"
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk jantung Vania. Ia tidak bisa menahan amarahnya lagi. "Bapak tidak tahu masalah keluarga saya!" teriaknya, suaranya bergetar. "Bapak pikir yang seratus juta cukup untuk melunasi semua hutang almarhum orang tua saya?! Bapak pikir uang itu bisa membayar harga diri yang bapak robek semalam?!"
Reza terkejut, ekspresinya berubah. Datar, tetapi ada sedikit keterkejutan di matanya. Ia tidak menyangka Vania akan berani melawannya. Namun, keterkejutan itu dengan cepat digantikan oleh ejekan yang kejam. Ia tertawa kecil, suara tawa yang hampa.
"Hutang?" Reza mengejek. "Coba hitung, Vania. Kamu melayani satu pelanggan saja harganya mahal. Coba kalau dihitung, berapa banyak pelanggan yang sudah kamu layani? Saya yakin, kamu sudah bisa mendapatkan banyak uang! Hutang sebesar apa yang tidak bisa kamu lunasi?"
Kata-kata Reza membuat Vania merasakan amarah yang membakar seluruh tubuhnya. Ia tidak tahan lagi. "Tutup mulut Bapak!" teriaknya. "Bapak tidak berhak menghakimi saya! Bapak tidak tahu apa pun tentang saya!"
"Saya tahu cukup banyak," balas Reza, suaranya semakin dingin. "Saya tahu siapa kamu. Kamu adalah seorang wanita yang menjual tubuhnya untuk uang. Dan saya adalah seorang pria yang membeli kamu dengan harga yang mahal. Jadi, kamu tidak punya hak untuk marah pada saya."
Vania tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia membenci pria ini. Ia membenci dirinya sendiri. Ia benci semua yang terjadi. "Bapak...," Vania mencoba berbicara, suaranya tersendat.
Reza tiba-tiba bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Vania. Vania mundur beberapa langkah. Ia merasa terancam, tetapi ia tidak akan lari. "Vania," kata Reza, suaranya berubah. Tidak lagi dingin, tetapi penuh dengan dominasi yang menakutkan. "Kamu tidak punya hak untuk memanggil saya Bapak di sini. Saya bukan Bapak kamu. Saya Reza. Dan kamu adalah Vania."
Vania menatapnya, bingung.
"Mulai sekarang, saat kita berdua saja, jangan panggil saya Bapak," kata Reza. "Panggil saya Reza. Dan saya akan memanggil kamu Vania."
Vania tidak bisa berkata-kata. Ia merasa seperti berada di dalam jebakan. Ia adalah mahasiswi yang harus menghormati dosennya. Tetapi ia juga adalah wanita yang dibeli pria itu. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
"Sekarang, keluar," perintah Reza, kembali ke mejanya. "Saya tidak ingin melihat wajahmu di sini lagi."
Vania menatapnya sekali lagi. Ia melihat ekspresi dingin dan tak terbaca di wajah pria itu. Ia tidak mengerti apa yang pria ini inginkan darinya. Ia merasa seperti boneka yang dimainkan oleh seorang predator. Dengan hati hancur dan air mata yang mengalir di pipinya, ia berbalik dan keluar dari ruangan itu.
Pintu tertutup. Vania bersandar di pintu, menangis tanpa suara. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjalani hidup ini. Uang seratus juta itu kini terasa seperti kutukan. Ia berharap ia tidak pernah bertemu dengan Reza. Ia berharap ia tidak pernah harus menjual dirinya. Ia berharap ia tidak pernah harus berbohong pada adiknya.
Namun, semua itu sudah terjadi. Ia telah kehilangan dirinya sendiri. Dan yang lebih buruk, pria yang merenggut segalanya darinya kini akan menjadi bagian dari setiap harinya. Pria yang akan selalu mengingatkannya pada malam kelam itu. Pria yang akan selalu menjadi bayang-bayang dalam hidupnya.
Vania tidak tahu, ini adalah awal dari penderitaannya yang lebih besar.