Bab. 2
Bel pertanda istirahat telah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Terlihat banyak murid yang sudah berdesakan di kantin untuk bisa mengisi perut mereka yang kosong.
Begitu pun dengan Senja, gadis itu terlihat mengedarkan pandangannya menyusuri penjuru kantin. Berharap masih ada meja yang kosong untuk ia tempati. Jika biasanya Senja akan ditemani oleh Dilan, maka kali ini tidak. Mengingat Dilan tengah kelelahan dan berbaring di UKS, jadilah Senja pergi sendiri.
Senja dan Dilan itu satu kelas. Mereka begitu dekat satu sama lain layaknya seperti orang pacaran. Namun status mereka tak lebih dari teman. Ketika banyak orang yang menjodoh-jodohkan mereka, mereka akan berkilah sambil mengatakan hanya sebatas teman.
Namun pernah dengar bukan kalau tidak ada persahabatan yang murni antara perempuan dan laki-laki. Jika bukan salah satunya yang jatuh cinta, makanya keduanya saling menyimpan rasa tapi enggan untuk mengutarakannya. Dengan alibi, tidak ingin merusak persahabatan yang sudah dibangun hanya karena cinta.
Hal demikian pun di alami oleh Senja dan Dilan. Jauh dari lubuk hati mereka, sebenarnya tersimpan sebuah rasa cinta dan ingin memiliki. Tapi keduanya sama-sama bungkam. Memilih memendam perasaan itu dalam-dalam. Keduanya pun tidak tahu kalau mereka sama-sama menyimpan rasa.
Senja tersenyum lebar saat melihat satu meja kosong. Dengan langkah ringan, Senja berjalan menuju meja itu lalu mendaratkan tubuhnya di sana.
Senja pun melambaikan tangannya, memanggil pemilik stand makanan di sekolahnya.
"Mbak, pesen mie ayam sama es teh manis, ya?" ujar Senja pada mbak Ina.
Ina pun mengangguk kemudian mengacungkan jari jempolnya. "Siap, Neng."
Kemudian Ina pun kembali ke standnya. Menyiapkan makanan pesanan Senja. Sementara Senja, gadis itu tampak mengeluarkan ponselnya. Berniat ingin berselancar di sosial media miliknya.
Senja bukan termasuk gadis yang aktif di sosial media. Bahkan isi Facebook, serta Instagram miliknya saja tidak ada. Foto profilnya pun kosong.
Gadis itu lebih senang menghabiskan waktunya dengan membaca novel. Ah, bahkan ia jarang memiliki waktu luang. Setiap hari, ia selalu membantu bundanya melakukan pekerjaan rumah.
Ponsel yang dimiliki Senja pun merupakan keluaran lama. Sudah termasuk jadul. Namun Senja tidak masalah ataupun protes ke orang tuanya. Baginya bisa untuk berkomunikasi saja sudah cukup. Ia tidak suka yang neko-neko.
Tak butuh waktu lama, Ina sudah kembali sambil membawa nampan berisi semangkuk mie ayam dan segelas es teh pesanan Senja.
Senja tampak berbinar menatap kedua sajian itu. "Makasih, Mbak."
Ina mengangguk sambil tersenyum. "Sama-sama, Neng."
Kemudian Ina pun berlalu dari hadapan Senja. Dengan segera Senja menyantap makanan itu. Senja jarang sekali pergi ke kantin. Kalaupun iya, itu pasti Dilan yang membelikannya. Bukannya apa, hanya saja ia jarang diberi uang saku oleh orang tuanya. Tapi Senja tidak mengeluh, selagi ia masih diberi bekal oleh bundanya, ia tidak masalah. Toh, masakan bundanya adalah makanan terenak di dunia, kata Senja.
Senja tampak lahap sekali menyantap makanan itu. Bahkan sampai habis tak tersisa. Begitupun dengan es teh manisnya juga. Ia pun mengelus perutnya yang terasa kenyang. Senja mengucapkan alhamdulillah sebagai bentuk rasa bersyukurnya karena masih diberikan nikmat untuk merasakan makanan enak di kantin.
Sampai seseorang mendatangi mejanya. Senja memincingkan matanya menatap orang itu. "Ngapain?" tanyanya sinis.
Orang itu tersenyum jumawa. "Ya nemuin lo, Ja."
Senja mendecak. "Senja mau ke kelas," ujarnya sambil bangkit dari duduknya.
Orang itu dengan tergesa-gesa mengikuti langkah Senja. Kemudian menarik tangannya.
Senja pun menepis. "Nggak usah pegang-pegang!" bentaknya.
Orang itu tersenyum tipis. "Tapi kalo Dilan boleh pegang ya, Ja?" tanyanya menatap mata Senja intens.
Senja mendengus pelan. "Karena Dilan temen Senja," jawabnya.
Orang itu menelengkan kepalanya ke samping. Mengintip wajah Senja yang tertunduk. "Terus kalo gue siapa lo?" tanya orang itu.
Senja mendongak. Membalas tatapan orang itu. "Raga cuma mantan Senja."
"Mantan, kan, bisa jadi temen juga," ujar Raga sambil tersenyum lebar.
Senja melengos. Ia kembali melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Raga yang mengekori di belakangnya. Senja melirik, merasa risih dengan keberadaan Raga.
"Jangan ngikutin bisa nggak, sih?" ketus Senja.
Raga tampak tertawa kecil. "Nggak bisa, Ja. Hati gue maunya ikutin lo terus," ujar Raga dibumbui sedikit gombalan.
Senja mendecih. "Nggak usah gombal. Senja udah nggak tertarik," balasnya membuat Raga kicep.
Senja pun kembali melanjutkan langkahnya. Kini ia tidak peduli dengan Raga yang terus mengekorinya. Toh, ia juga mau ke UKS. Ingin melihat keadaan Dilan terlebih dulu.
Senja menyembulkan kepalanya ke dalam pintu. Dilan tampak tengah memainkan ponselnya. Kemudian ia merasakan tangannya ditarik.
Senja menepis lagi. "Apa, sih?!"
"Ngapain ke UKS?" tanya Raga penasaran.
"Mau jenguk Dilan. Kenapa? Mau ikut?" ujar Senja sambil tersenyum miring.
Raga langsung terdiam kala mendengar nama Dilan. Bahkan raut jenakanya berubah menjadi dingin.
"Nggak," jawabnya kemudian melangkah pergi meninggalkan Senja.
Senja hanya tertawa kecil. Entah kenapa Raga selalu sensitif jika itu menyangkut Dilan. Mereka tampak seperti bermusuhan padahal pernah terlibat interaksi saja tidak.
Senja juga tidak mau bertanya tentang apa yang terjadi pada mereka. Toh, ia rasa Dilan juga perlu memiliki privasi yang tidak seharusnya Senja tahu.
Gadis itu pun masuk ke UKS dan mendapati Dilan tengah duduk sambil memainkan ponselnya. Bahkan lelaki itu tampaknya tidak menyadari kedatangan Senja karena terlalu fokus pada benda pipih itu.
Sampai akhirnya Senja harus menepuk kaki Dilan pelan. Membuat sang empunya terperanjat kaget.
"Senja...." desisnya memanjang karena kesal dikagetkan oleh Senja.
Senja hanya terkikik geli. "Senja nggak ngagetin Dilan, ya. Emang Dilannya aja yang terlalu fokus sama hp," gerutu Senja sambil memajukan bibirnya. Cemberut manja membuat Dilan gemas pada gadis mungil ini.
Dilan pun mencubit pelan pipi Senja membuat Senja mengerang kesal. Menatap jengkel ke arah Dilan.
"Udah makan?" tanya Dilan sambil menyimpan ponselnya ke saku.
Senja mengangguk. "Udah, kok."
"Dibawain bekal sama bunda?" tanya Dilan lagi.
Senja menggeleng. "Hari ini Senja lagi nggak mau bawa bekal. Terus Senja dikasih uang jajan sama bunda," jawabnya sambil tersenyum lebar.
Bohong. Tentu saja gadis itu berbohong. Bundanya tidak pernah memberikan uang jajan pada gadis itu. Dan alasan Senja tidak membawa bekal karena bunda sedang malas memasak dengan alasan kalau kakaknya Senja terbiasa makan pagi ketika menjelang siang.
Senja hanya bisa mengerti meskipun hatinya sedikit memberontak. Anak bunda bukan hanya satu, bukan hanya kakaknya. Masih ada Senja. Tapi kenapa bunda selalu pilih kasih hanya karena kakaknya sedang sakit?
Ingin rasanya Senja melontarkan kalimat itu namun ia tidak sanggup. Ia takut perkataannya akan melukai hati bunda. Tidak apa jika Senja harus mengalah pada kakaknya. Ia yakin kalau suatu saat nanti, bunda juga akan menyayanginya.
"Dikasih uang jajan? Nggak yakin gue," ujar Dilan tak percaya.
Dilan, satu-satunya orang yang paham bagaimana kehidupan pahit seorang Senja Aluna. Tentang keluarganya yang pilih kasih, tentang Senja yang harus mengalah, dan semua tentang Senja, Dilan tahu.
Bahkan tentang Senja tidak pernah diberi uang saku pun, Dilan juga tahu. Entah apa yang ada di dalam pikiran kedua orang tuanya sampai tega membeda-bedakan kedua anaknya hanya karena kakaknya Senja tengah sakit.
"Beneran, Dilan. Hari inu bunda sengaja ngasih aku uang jajan karena dia belum masak. Bunda sayang banget, kan, sama Senja?" tutur Senja lagi-lagi menampilkan senyuman lebarnya.
Dilan berdecak. "Nggak usah pura-pura, deh. Paling juga itu uang hasil dari lo kerja," kata Dilan membuat Senja terdiam.
Hasil kerja? Iya. Uang yang dipakai untuk makan tadi memang hasil dari kerjanya sebagai penjaga toko di kedai dekat sekolahnya.
Ah, Dilan. Kenapa dia sulit sekali untuk dibohongi.
Bab. 3
Bel pulang sekolah bergema memenuhi seluruh penjuru sekolah. Para siswa pun bersorak gembira lalu segera membereskan buku pelajaran yang terserak di meja. Begitu pun dengan Senja, gadis itu tampak tengah menyusun bukunya kemudian memasukkan ke dalam tas ransel yang sudah terlihat usang.
Wajar saja, tas itu dibeli ketika ia pertama kali masuk SMA dan sekarang ia sudah kelas tiga. Jadi perubahan warna serta ketahanan pun sudah mulai memudar. Namun Senja tidak pernah protes untuk dibelikan yang baru. Selagi masih bisa dipakai, Senja tidak masalah untuk memakainya.
"Mau langsung pulang?" tanya Dilan menghampiri bangku Senja.
Senja mendongak. "Nggak, deh. Senja mau ke kedai dulu. Tadi tante Siska ngechat Senja katanya kedai lagi rame," jawab Senja sembari menyampirkan tas itu ke bahunya.
Dilan mengangguk paham. Kemudian menarik tangan Senja. "Gue anterin, ya?" tawarnya.
"Nggak usah. Lagian kan kedai tante Siska deket," tolak Senja.
Ia hanya merasa tidak enak jika terus-terusan mengandalkan Dilan. Apalagi arah kedai dengan rumah Dilan itu berlawanan.
Dilan mendecak kesal. "Bodoamat. Pokoknya gue anter," putus Dilan membuat Senja mengangguk pasrah.
"Widih, pacaran mulu lo berdua," ledek seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu.
Namanya Andra, sang ketua kelas yang mulutnya tidak pernah bisa diam. Selalu berisik dan membuat onar dalam kelas. Sedikit heran kenapa manusia semacam Andra bisa menjadi ketua kelas.
"Orang cuma temen," kilah Senja tak terima.
"Ah, cuma temen masa gandengan tangan," lagi, Andra menggoda dua insan itu sambil menaikkan kedua alisnya berulang kali. Bibirnya tersenyum jenaka.
Sontak keduanya langsung melepaskan tautan tangan mereka. Senja bahkan bisa merasakan pipinya bersemu merah karena godaan berantai dari Andra.
Bahkan para teman sekelasnya yang lain pun ikut menggodanya juga.
"Kalo suka ya diungkapin kali, Lan. Ntar kalo kesalip sama si doi kelas sebelah gimana?" ujar Bayu yang tengah duduk sambil bermain dengan gitar yang ada dipangkuannya.
Yang dimaksud dengan doi kelas sebelah adalah Raga, mantan Senja. Bukan rahasia lagi kalau Raga itu masih mengejar Senja. Belum ada yang tahu pasti penyebab putusnya hubungan kedua orang itu.
"Berisik lo semua. Gue sama Senja cuma sahabatan doang. Sampe kapanpun juga bakal kayak gitu," tukas Dilan dengan lantang.
Tanpa ia sadari ada dua hati yang patah mendengar ucapan itu. Hatinya dan juga hati gadis yang berada di sampingnya.
Mereka sama-sama menyukai tapi takut untuk mengungkapkan. Takut untuk keluar dari zona nyaman.
Andra berdecih. "Kejebak friendzone nggak enak, bro," katanya lagi.
Senja hanya memutar bola matanya malas kemudian berjalan keluar kelas. Mencari udara segar karena udara di dalam kelas tiba-tiba berubah panas.
Membiarkan Dilan masih beradu mulut dengan Andra. Senja pun berdiri di dekat pembatas balkon kelasnya yang berada di lantai tiga. Matanya memandang kerumunan siswa yang ada di parkiran.
"Jangan bunuh diri, Ja. Gue belum siap kehilangan lo."
Suara itu mengalihkan atensi Senja. Gadis itu menatap malas ke arah Raga yang sudah berdiri di sampingnya.
"Pulang bareng gue, yuk? Sekalian bernostalgia sama masa-masa indah kita dulu," ajak Raga sambil tersenyum ke arah Senja.
"Senja pulang sama gue," sahutan dingin itu langsung mengalihkan perhatian keduanya.
Di belakang mereka, Dilan sudah berdiri memandang Raga tajam. Bahkan Raga pun membalasnya dengan tatapan tajam juga. Bahkan aura intimidasi pun jelas dirasakan oleh Senja.
Meskipun Senja benci dengan Raga, tapi melihat keduanya saling melempar tatapan tajam, Senja menjadi takut sendiri.
Ia pun menarik tangan Dilan. "Ayo, Senja mau pulang," ajaknya kemudian membawa Dilan menjauh dari Raga. Ia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika dua manusia itu berada di lingkup yang sama.
Menyisakan Raga yang menatap kepergian Senja dengan Dilan.
***
Semilir angin siang menjelang sore ini cukup menyejukkan. Membuat anak rambut Senja berterbangan membelai wajahnya. Gadis itu tampak tenang duduk di boncengan Dilan.
Sesuai ucapannya tadi, Dilan benar-benar mengantarkan Senja ke kedai tante Siska. Tante Siska memiliki kedai yang dinamai kedai Mawar. Kedai itu menjual banyak macam makanan ala anak muda. Tak sedikit juga anak muda bahkan anak sekolah yang mampir di kedai ini. Selain rasanya yang enak, pelayanan kedai ini juga ramah. Serta tempatnya yang nyaman dengan bertema seperti saung. Cocok untuk kalangan muda-mudi.
Dilan membelokkan motornya masuk ke pekarangan kedai Mawar. Lelaki itu menghentikan motornya kemudian melepas helm yang melekat di kepalanya. Senja pun turun dari motor besar milik Dilan. Namun karena faktor tinggi badan yang terlalu mungil, gadis itu tampak kesusahan.
Dilan yang melihat itu pun tertawa gemas. Ia mengulurkan tangannya ke belakang. Membantu gadis itu untuk turun.
"Tinggi tuh ke atas jangan ke samping," ejek Dilan yang langsung dihadiahi pelototan oleh Senja.
Senja mencebik kesal namun tak urung juga menerima uluran tangan lelaki yang kini tengah meledeknya.
"Dih, iri!" tutur Senja sambil memeletkan lidahnya ke arah Dilan. Gadis itu tampak tengah membenahi rok sekolahnya yang sedikit naik.
Dilan menaikkan alisnya merasa terkejut dengan ucapan Senja. Kemudian lelaki itu tertawa keras.
"Iri kok sama orang pendek," cibirnya lagi. Bahkan lelaki itu masih terus tertawa.
Tentu saja hal itu membuat Senja meradang. Kesalnya bukan main dengan Dilan.
"Udah, ah! Senja mau kerja. Bye!" ujar gadis itu kemudian berbalik meninggalkan Dilan. Gadis itu berjalan memasuki kedai Mawar.
Dilan hanya tersenyum tipis sambil memandangi kepergian Senja. Gadis yang menjadi sahabatnya, ternyata telah berhasil merenggut seluruh hatinya. Membuat Dilan lupa bagaimana caranya dekat dengan gadis lain. Baginya, memiliki Senja di dalam hidupnya itu sudah cukup. Senja terlalu berharga untuknya.
Secinta apapun Dilan pada Senja, ia tidak ingin mengutarakannya. Ia terlalu pengecut. Ia takut kalau nanti Senja malah akan membencinya lalu pergi meninggalkannya. Biarkan saja ia hidup dengan rasa cinta yang terpendam jika itu bisa membuat Senja bertahan disisinya.
Terjebak friendzone? Tidak peduli dengan julukan itu. Yang Dilan inginkan hanyalah berada disisi Senja. Untuk saat ini dan selamanya. Ia berjanji akan selalu ada untuk gadis itu.
Dilan pun memutuskan untuk pergi meninggalkan kedai Mawar. Ia juga memiliki urusan yang lainnya.
Senja berjalan memasuki ruang dapur yang ada di belakang kedai. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari Siska. Sampai akhirnya ia melihat sosok wanita paruh baya itu tengah membuat beberapa macam masakan. Mungkin itu pesanan para pelanggan. Mengingat ketika ia masuk tadi ada banyak sekali pelanggan yang datang. Kebanyakan adalah anak sekolah.
"Tante," panggil Senja.
Siska menoleh kemudian melemparkan senyumnya. "Baru dateng, Ja?" tanya wanita itu.
Senja mengangguk. "Iya, tan. Baru pulang soalnya. Maaf, ya, kalau Senja telat datengnya," ujarnya merasa tak enak dengan Siska.
Siska tampak mengibaskan tangannya. "Nggak papa. Ini nanti kamu antar ke meja nomor 3, ya?" kata Siska sambil menata beberapa piring untuk pesanan yang ada di meja nomor 3.
Senja mengangguk lagi. "Siap, tante."
Senja pun mulai menyusun makanan yang berisi empat macam itu. Sepertinya pelanggannya lebih dari dua orang. Pesanannya saja banyak begini.
Setelah disusun, gadis itu mulai melangkah keluar menuju meja nomor 3. Namun keningnya mengernyit dalam ketika melihat meja itu kosong. Apa jangan-jangan pelanggan itu kabur?
Senja menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin. Masih terlihat ada ponsel dan kunci motor tergeletak di sana. Mungkin pemiliknya tengah berada di toilet.
Senja pun mulai menaruh makanan itu di meja dengan hati-hati agar tidak tumpah.
"Makasih, ya, mbak," ujar seseorang dari belakang Senja.
Senja pun sontak memutar badannya. "Iya, mas. Sama-" ucapannya tiba-tiba terhenti saat menatap orang itu.