Aku jadi takut setelah tau ada bekas biru di pahaku. Ceramah bertubi-tubi dilontarkan dari Mas Pras. Kupingku jadi panas mendengarnya.
"Ku kira perempuan aja yang cerewet, Mas. Rupanya Mas Pras yang bergelar suamiku ini bisa juga secerewet ini," keluhku. Mas Pras malah narik nafas kasar.
"Lagian kamu ini aneh, Dek. Sudah tau pantang disini gak menjaga adab-adab kalau mau tidur, apalagi kamu itu hamil." Mas Pras duduk didekatku sambil melihat lagi bekas biru dipahaku.
"Ngeri banget ya, Dek. Apa ini ditandai gitu sama makhluk itu ya?" tanyanya.
"Ih, jangan gitu, ah. Bikin aku tambah takut," keluhku. Mas Pras cuma tertawa melihatku ketakutan.
"Masih berani kamu gak dengar sama, Mas atau Mama?"
Aku hanya menggeleng lemah, sembari menghusap perutku. Semoga saja tidak apa-apa. Dan Alhamdulillah, aku masih merasakan gerakan cinta dari si bayi, aku sudah khawatir karena sempat keras dan kaku.
Mas Pras berangkat kerja setelah sarapan pagi. Yang memasak Mas Pras, karena dia tau kalau aku menggoreng atau menumis makanan dengan bahan utama bawang merah pasti muntah, jadi Mas Pras gak tega dengan itu.
Tugasku tinggal membersihkan semua sisa makanan, tempat yang kotor, terutama cuci piring. Jadi ingat kata Mama, kalau cuci magickom atau bekas masak nasi harus cepat di cuci agar nanti mudah melahirkan. Ari-ari gak lengket gitu, kayak nasi lengket didalam magickom. Ah, lagi-lagi itu seperti mitos bagiku.
Dibelakang rumah ini terdapat hutan karet. Kalau sudah panen Masya Allah baunya menyengat busuk sekali. Aku dulu gak tau itu apaan, soalnya bau banget. Ketika aku tanya sama pekebun, rupanya panen getah karet. Sumpah aku pikir itu comberan, bau banget.
Dan disamping kanan rumah ini ada bengkel yang sudah lama gak dioperasikan. Kadang malam sering aku mendengar beberapa remaja menggunakan entah untuk apa. Dan sebelah kiri terdapat tetangga asli orang sini, bersuku Banjar.
Serta bagian depan rumahku, jalan besar menuju kota. Karena aku mau masak, jadi menunggu beberapa tukang sayur lewat depan rumah. Ketika aku menunggu, ada tetangga ikutan duduk didepan teras rumahku.
"Mbaknya baru ya tinggal disini," tegurnya. Aku kaget kemudian tersenyum padanya.
"Iya, mungkin sekitar 4 bulan lah disini. Suamiku kerja di proyek situ, jadinya ikut kemari," jelasku.
"Kalau malam apa Mbak berani? Apalagi lagi hamil besar gitu."
"Ya berani aja. Emangnya ada apa?"
"Banyak kejadian disini, Mbak. Ibu yang ngontrak disini lagi hamil juga, gak tahan. Katanya sering diganggu," jelasnya yang membuatku syock.
"Aduh ... jangan nakutin dong. Lagian kan yang kayak gitu sebenarnya bisa kita jaga." Jujur aja aku agak takut kayak semalam lagi. Bener-bener takut.
"Yah, intinya jangan lakuin pantangan aja sih, Mbak."
Kemudian ada tukang sayur berhenti tepat didepan kami. Banyak sekali sayur terpampang disitu.
"Duh, musim nya hamil ya ini, Buk," canda Paklek penjual sayur.
Aku cuma mesam-mesem aja malu mendengarnya.
"Cuma yang aku herannya, Buk. Kalau yang hamil pasti diberi ucapan selamat ya kan? Kalau yang ngehamilin ini malah dibuli, gak pernah dapat selamat gitu. Padahal kan dia hamil dari yang ngehamilin dari suaminya. Tapi gak pernah dapat selamat sambil dielus gitu kayak ibu-ibu hamil," candanya.
Paklek sayur itu dipukul sayur sama tetangga yang duduk disampingku tadi. Aku ketawa juga melihat tingkahnya.
"Jangan didengar ya, Mbak. Begini memang Paklek sayur ini, sangklek." Tetangga itu memilih kembali beberapa sayur.
************
Malam ini aku sendiri. Agak takut sih, jadinya aku sehabis maghrib membaca alquran sembari menunggu kepulangan suamiku. Beberapa kali melirik smartphone melihat jam. Biasanya Mas Pras pulang berkisar jam 9 malam sudah sama lemburnya.
Ketika ingin merebahkan diri di kasur, karena lama duduk untuk membaca tilawah. Tiba-tiba ada yang memegang pundakku. Sontak aku kaget, dan merinding. Bersamaan ketukan pintu disamping dekat dapur. Aku segera berdiri dan mengintip lewat sela jendela.
"Siapa?" tanyaku keras. Aku beristighfar, dan membaca berkali-kali ayat kursi.
Ada seorang wanita paruh baya sedang memegang sesuatu. Kelihatannya bawa makanan. Aku membuka pintu itu, rupanya manusia bukan hantu hehe.
"Saya tetangga sebelah, maaf ganggu malam-malam. Ini ada beberapa masakan yang saya masak sendiri. Diterima ya, Buk."
"Oh, iya. Makasih banyak ya, Bu. Gak mampir dulu sebentar kedalam?"
"Ah, gak usah. Cuma mau antar ini aja, Buk. Mari." Seseibu itu pergi meninggalkanku.
Ketika aku membuka tutup kotak makanan itu, isinya ikan asin dibuat asam manis. Harumnya mengelilingi ruang dapurku. Terlihat enak sekali.
Tak berapa lama suamiku pun tiba dirumah. Aku menyambutnya dengan senang. Kuletakkan kotak makanan itu diatas meja.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Aku menyambut tangan Mas Pras kemudian menciumnya. Tak lupa memeluk hangat mesra suamiku tercinta ini.
"Ada berita apa nih?" tanyanya.
"Gak ada, cuma tadi aku agak takut aja sih," jawabku.
"Banyakin amalan ya, Sayang. Jangan sembarang membuka pintu rumah sama yang gak dikenal," ceramahnya lagi.
"Eh bau busuk apa ini?" suamiku mencari bau busuk yang dimaksud.
"Hah? Bau busuk apa? Gak ada yang busuk, Mas."
"Beneran ada bau busuk," ucapnya sambil mentautkan alisnya. Mas Pras berkeliling mencari bau itu dan rupanya Mas Pras menatapku saat melihat ada sekotak makanan. Tanpa perlu ditanya Mas Pras membuka, otomatis suamiku pergi ke kamar mandi dan muntah.
"Astagfirullah, apa itu, Dek?"
Aku bengong. Dan aku gak mencium yang dimaksud suamiku.
"Itu dari tetangga sebelah, Mas. Ikan asin asam manis itu," kataku.
Matanya mengernyit. Kemudian memegang kepalaku.
"Belum kamu makan kan? Dia kesini sama siapa? Sendiri? Ucap salam gak?"
Aku langsung diam. Dia sama sekali gak ucapkan salam, dan hanya sendiri. Dan lagi, tadi sekilas aku melihat ada garis merah di lehernya. Badanku langsung dingin juga berkeringat.
Part 3
"Astagfirullah, Sayang." Beberapa kali suamiku memijit kepalanya pusing melihat tingkahku.
"Disini masih banyak yang menggunakan ilmu hitam. Mas sering dengar yang hamil dipantau oleh beberapa pengincar. Kamu gak sayang sama dirimu sendiri apa? Masa' buka pintu sama yang gak ucapkan salam juga gak tau." Mas Pras bolak balik didepanku persis seperti setrikaan.
"Aku sayang lah, Mas. Cuma kan aku benar-benar liat dia itu manusia," kataku memelas.
"Kamu pikir kuyang itu bukan manusia? Seperti apa dia ciri-cirinya?" tanyanya.
"Dia perempuan sih, Mas. Dan ada tanda merah dilehernya," jawabku takut-takut.
Mas Pras tepok jidat. Ekspresi wajahnya tampak sangat khawatir. Aku ikut khawatir juga, kenapa aku jadi bodoh sekali sih. Belum lagi kalau Mama sama Abah tau. Bisa brabe.
"Mulai sekarang jangan sembarang kasih masuk orang! Banyakin amalan. Kalau ada yang kerumah, cepat hubungi, Mas!" Suruhnya.
"I-iya, Mas."
Mas Pras membuang makanan yang berada dalam kotak itu. Matanya melirik kesana kemari. Kemudian mencucinya dengan air yang dibacakan olehnya. Aku tak tau apa yang dibacakan olehnya.
"Ayo kita tidur, sudah malam. Sebelum itu, ambil air wudhu dulu, kemudian kita bobo dan baca adab-adab. Mas gak mau, kamu tidur kayak kemarin. Bahaya!"
Aku pergi ke kamar mandi. Istinja', kemudian mengambil air wudhu. Tapi ketika aku ambil air wudhu, ada suara dekat genting. Kamar mandiku ini masih bolong bagian ujungnya. Kalau hujan terkadang masuk air dari situ karena memang bolong. Seketika aku kaget karena ada cahaya merah, dan juga hitam nyembul arah situ.
Aku terpleset serta ketakutan. Aku melihat bayangan kepala serta rambut dan juga beberapa usus menjuntai kebawah. Berusaha aku bergerak sehingga menimbulkan bunyi dari dalam kamar mandi.
"Dek! Meylisa. Meylisa." Berulangkali aku mendengar suara panggilan Mas Pras. Tapi aku tak kuasa menjawab. Badanku kaku.
Makhluk itu mendekat kearahku. Baunya amis sekali, perutku keras seperti waktu itu. Aku berusaha agar keluar dari kamar mandi tapi sulit. Berat sekali badan ini. Aku baca ayat kursi dari dalam hati, tapi tak ada perubahan. Air mata ini mengalir.
Mas Pras berusaha mendobrak pintu kamar mandi. Ketika terbuka, makhluk itupun pergi. Namun, pendarahan telah terjadi. Darah mengalir deras dari arah jalan lahir. Kepalaku pusing dan gelap.
**************
Aku mengerjap. Melihat sekeliling ada Mama, Ibu Mertua, Ayah mertua, Abah, dan juga Mas Pras.
"Meylisa." Mama mendekatiku sembari mengelus kepalaku.
"Berapa kali Mama bilang. Tolong hati-hati, Nak. Mereka itu ada, dan selalu mengincar ibu hamil seperti kamu," tegurnya lembut.
"Ba-bayiku gimana, Ma?"
"Alhamdulillah masih bisa diselamatkan. Untuk sementara, kamu gak boleh tinggal dirumah itu lagi. Mana kamu suka sekali menggampangkan urusan kayak gini."
"Kamu ini asli orang Kalimantan. Tapi kenapa gak percaya sama hal kayak gitu? Ibu saja yang perantau dari tanah Jawa, gak berani sembarangan dikampung ini. Banyak pantangannya," kata Ibu Mertua.
"Apalagi soal berburu atau nangkap ikan. Salah-salah kita jadi tumbal!" seru Ayah Mertua.
"Hussh, kalau ngomong jangan ngawur toh, Yah!"
"Jaga baik-baik. Ingat 10 tahun kamu nantikan anak itu. Sudah Allah kasih, tapi gak kamu jaga dengan baik. Yang salah siapa?" tegur Mama lagi.
Aku hanya diam sambil memegang perutku. Tangisku pecah. Maafin aku ya, Nak. Insya Allah mulai saat ini aku akan mendengarkan perkataan dari semua orang yang sayang padaku.
Aku dirawat di rumah sakit. Pendarahan cukup hebat. Tapi beruntung, bayinya tak papa. Cuma aku saja yang masih sangat lemah. Mereka benar-benar menjagaku kali ini. Beberapa kali tetap diceramahi karena aku sering lupa dengan pantangan mereka.
"Bukannya gimana ya, Mey. Kita hidup berdampingan dengan makhluk kayak gitu. Lebih lagi hal ghaib atau pemegang ilmu hitam sampe sekarang pasti masih ada," jelas Ibu Mertua.
"Apalagi tempat yang kamu tinggalin itu banyak hal mistisnya. Yang kuat amalannya saja masih diganggu, apalagi yang abai sama masalah beginian. Kenapa sih kok masih bertahan dirumah itu?" tanya Mama.
"Dari proyek, Ma. Kita gak bisa minta rumah ini itu, kan yang biayanya dari proyek. Kalau bisa sih kita pindah aja. Aku juga khawatir sama, Mey. Dia terlalu ceroboh," keluh suamiku Mas Pras.
"Oke fix. Meylisa tinggal sama Mama sampai waktu yang tak ditentukan. Pokoknya jangan banyak alasan, ataupun keluhan. Ini semua demi kebaikan kamu, Mey," pinta Mama.
"Denger tu, Mey. Ibu dukung Mama, kamu," tutur Ibu.
"Kalau masih bandel. Kita ikat nanti si Meylisa," kata Ayah Mertua sambil tertawa.
**************
Sekitar 3 hari aku dirawat di rumah sakit. Mama mengantarku pulang bersama kedua mertuaku. Mas Pras juga selalu ikut andil dan lebih siaga.
Tak memakan waktu lama. Aku sampai di kediaman Mama. Badanku masih terasa lemas. Ketika aku duduk, Mama memberikan bulu landak serta tasbih disampingku.
"Jangan banyak bicara mitos lagi. Baca ayat kursi buat penjagaan, dan bulu ini jangan dibuang. Dengerin kata, Mama."
Aku menuruti perkataan Mama.
"Ibu hamil itu baunya wangi. Jangankan makhluk kayak gitu. Mas aja suka sama baumu kalau lagi hamil. Sekalipun kamu belum mandi," canda Mas Pras.
"Bener itu," kata Mama membenarkan.
Malam ini aku tidur bersama Mama dan juga ketiga adikku. Sebelum aku tidur, Mama membawaku ke kamar mandi agar ambil air wudhu. Kemudian melakukan adab-adab tidur.
Namun pada saat kami semua hendak tidur. Dan Mama juga membaca adab-adab tidur. Suara genting membuat Mama kaget. Ada suara erangan dan melompat diatas genting.
"Jangan banyak gerak. Baca aja ayat kursi banyak-banyak," suruhnya.
Aku membaca ayat kursi berulang kali. Untuk penjagaan diri dan juga bayiku.
Erangan itu semakin keras dan juga genting yang seperti dilompati. Abah keluar dari rumah untuk mengecek sesuatu.
"Astagfirullah." Abah mengambil sebuah jolokan. Sembari membaca ayat suci Al-quran.
"Pergi kamu dari sini. Kami tak ada mengganggu kamu. Jangan ganggu kami," usir Abah.
Suara erangan itu semakin jadi. Abah juga semakin keras membaca ayat suci Al-quran. Dan "Bruk" Abah pingsan. Namun suara erangan sudah tidak ada lagi.
"Abah?!" Panggil Mama histeris.