Mas Haidar melepaskan tangannya dari mulutku dan dengan tiba-tiba menggantikannya dengan bibirnya. Aku kaget dan syok dibuatnya, tapi entah kenapa aku tidak menolak dan malah melingkarkan tanganku di pinggangnya.
Cukup lama kami melakukan hal itu, "ini tidak benar mas!" ucapku sambil memalingkan wajah darinya.
"Ya! memang ini tidak benar, tapi kau dan aku menikmatinya. Lihat dimana saat ini kedua tanganmu berada," ujar mas Haidar.
Aku menyadari tanganku yang masih memeluk pinggangnya akhirnya segera mendorongnya menjauhiku.
"Aku masih mencintaimu, ra," ucap mas Haidar.
Jantungku berdegup kencang mendengar pengakuannya, sama seperti dulu saat dia mengungkapkan isi hatinya pertama kali.
Aku diam tak menjawab, ku kepalkan tangan untuk menahan gemuruh di dada. Bergegas aku membuka pintu kamar kecil itu dan kebur dari situ secepatnya.
Sepanjang acara hatiku kacau tidak menentu. Kemanapun arah mataku memandang, ada mas Haidar yang sedang menatapku. Oh Tuhan, ada apa dengan laki-laki itu!
Apa laki-laki itu bermasalah dengan istrinya hingga dia bisa berbuat macam-macam padaku. Untuk apa dia mengungkapkan isi hatinya padahal kami sama-sama memiliki pasangan. Aku dengar dari Laila, sampai sekarang maa Haidar juga belum memiliki buah cinta, sama seperti diriku.
Akan tetapi, meskipun aku dan mas Arkan belum memiliki keturunan hidup kami tetap berjalan biasa. Hanya satu yang membuat hidupku tidak bahagia, yaitu mimpi aneh yang selalu datang padaku. Dan sekarang mimpi itu hadir di dunia nyata.
Aku tidak bisa menikmati acara hari ini, pikiranku kacau aku ingin segera pulang. Pukul delapan malam, akhirnya kami menyudahi acara reunian kami. Aku segera mengekor Laila menuju mobilnya.
"Lara, maaf kamu tidak bisa bareng kami. Ibu mertuaku menyuruh kami langsung kerumahnya, arah rumahnya kan berlawanan sama rumah kamu jadi kami gak bisa antar," ucap Laila.
"Trus aku harus bareng sama siapa dong?" ucapku kebingungan
"Tadi aku sudah bilang sama Haidar, dia bisa anterin kamu,"
"Hah?" aku kaget mendengar penuturan Laila.
Belum sempat hilang kagetku, sosok mas Haidar terlihat berjalan kearah kami.
"Itu dia orangnya, aku pergi dulu yaa,"
"Haidar, titip Lara yaa!"
Laila berkata dua arah padaku dan pada mas Haidar, kemudian masuk ke mobil dan berlalu begitu saja.
"Aach...!" aku sangat kesal di buatnya.
"Ayo ikut ke mobilku," ucap mas Haidar saat sudah sampai di dekatku.
Aku hanya diam tidak menjawab, aku harus melewatkan sepanjang jalan dengan orang ini? mana bisa? tapi jika tidak ikut dengannya harus pulang dengan siapa?
Semua orang terlihat sudah meninggalkan tempat ini, waktu mulai beranjak malam. Mas Haidar masih setia menungguku mengikutinya.
"Ayolah... kamu mau disini sepanjang malam? Bersamaku?" ujar mas Haidar.
Mendengar perkataannya aku segera sadar, lebih baik aku pulang bersama daripada disini semalaman dengan dia.
"Ayo," ucapku pelan.
Bergegas kami menuju mobil mas Haidar yang terparkir tidak jauh dari tempat kami berdiri. Dia membukakan pintu mobil untukku, setelah menutupnya kembali dia segera menuju kursi kemudi dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
"Maafkan atas perbuatanku tadi," ujar mas Haidar memecah keheningan. "Aku tidak bisa menahan diri saat melihat dirimu. Setelah kamu menikah dengan orang lain, baru aku menyadari jika kamu berhaga buatku," mas Haidar melanjutkan ucapannya.
"Tapi itu salah mas! kita sama-sama sudah menikah. Itu namanya berkhianat! Gimana perasaan istrimu kalau tahu perbuatanmu!"
"Aku dan istriku sudah tidak bersama, meskipun kami belum bercerai." ucap mas Haidar hampir tidak terdengar.
"Kenapa?" secara refleks mulutku menanyakan hal itu, pertanyaan yang akhirnya aku sesali. Kenapa aku harus bertanya, kepo dengan kehidupannya? seharusnya aku diam saja.
"Aku melihatnya mengkhianatiku!"
Kali ini aku terdiam, aku tidak boleh banyak bertanya lagi. Istrinya berkhianat? benarkah? Aku jadi mengingat tahun terakhir mas Arkan berdinas, dia sempat terpikat dengan rekan kerjanya.
Entah mereka punya hubungan atau tidak, tapi mereka sering pergi bersama. Saat aku mengetahui kali pertama, aku marah, dan kecewa. Tapi mas Arkan bilang mereka tidak ada hubungan apapun, hanya teman kerja. Sejujurnya aku tidak percaya, tapi sudahlah... pikirku dosa di tanggung mereka sendiri, aku sudah berusaha mengingatkannya sebagai seorang istri.
Satu hal yang membuatku tidak cemburu buta pada mas Arkan, aku tidak mencintainya dengan menggebu seperti saat dulu pertama kali jatuh cinta. Rasaku pada mas Arkan lebih pada rasa hormat dan kewajiban karena karena dia suamiku. Aku rasa lebih nyaman memilihi rasa seperti itu.
Dulu saat jatuh cita pertama kalinya pada mas Haidar, aku begitu posesif. Aku tidak suka wanita manapun mendekatinya. Seluruh hatiku, kuberikan padanya hingga rasa sesak di dada saat dia meninggalkan diriku.
Meskipun aku menerima dan diam saat dia memutuskan hubungan denganku, tapi sebenarnya hatiku hancur. Air mata meleleh berhari-hari, berharap semua akan kembali. Dari jauh selalu ku tatap dirinya, berharap dia meraihku kembali, mengajakku balikan.
Hingga waktu wisuda tiba dan kami dipisahkan jarak, mas Haidar pergi untuk bekerja meraih apa yang dia cita-citakan. Saat itu baru aku sadar jika dia tidak akan menjadi milikku lagi.
"Bagaimana kehidupanmu dengan suamimu?" pertanyaan mas Haidar membuyarkan lamunanku.
"Kami baik-baik saja, kami bahagia!" jawabku pelan.
"Mulai sekarang kalian akan tinggal di kota ini?" dia bertanya lagi.
"He'em," jawabku singkat.
Mas Arkan sudah mengajukan mutasi setelah lima tahun berdinas di pelosok desa, dan disinilah kami sekarang, ketempat dimana masa lalu mulai membayangiku.
Cukup lama kami berkendara, hingga kami sampai didepan rumahku. Aku segera meraih smartphone milikku dari atas dashboard mobil mas Haidar, yang tadi digunakan untuk menunjukkan arah dimana aku tinggal.
"Terimakasih mas," ucapku sambil meraih handle pintu mobil dan hendak keluar. Tapi tiba-tiba saja mas Haidar malah menarik tubuhku dalam pelukannya.
"Tidak bisakah kita bersama seperti dulu lagi," ujarnya sambil memeluk erat diriku.
"Lepaskan mas! sudah terlambat, Jangan berpikir hal gila seperti itu!" ucapku meronta berusaha melepaskan diri dari pelukannya.
"Harusnya dulu aku tidak melepaskanmu," dia trus berbicara tanpa berniat mengurai pelukannya.
"Mas, aku mohon... biarkan aku pergi, aku harus segera masuk kedalam. Suamiku menungguku,"
Dia merenggangkan pelukannya, segera aku dorong tubuhnya menjauh dari tubuhku. Bergegas kubuka pintu mobil dan berlari masuk ke halaman rumahku.
Sesaat aku menoleh memastikan dia tidak mengejarku, dengan tergesa-gesa kumasukkan anak kunci dan membuka pintu rumah kemudian menutupnya kembali dengan kasar.
Aku refleks melakukannya hingga mas Arkan yang ternyata sedang menungguku di ruang tamu sambil menonton televisi menoleh dan menatapku dengan heran.
"Ada apa ra? kenapa ketakutan seperti itu?" tanya mas Arkan sambil berjalan mendekatiku.
Aku menghambur kedalam pelukannya, ada rasa bersalah dalam hatiku, meskipun bukan sengaja mau mengkhianatinya.
"Kamu berlarian seperti melihat hantu saja," mas Arkan berkata lagi.
"Aku melihat hantu di seberang jalan sana mas!" ucapku sambil mengurai pelukanku kemudian berlalu meninggalkannya setelah rasa kacau di hatiku hilang setelah memeluknya.
****
"Apa kau tidak merindukanku?" suara lembut itu menyapa indera pendengar ku.
"Aku sangat merindukanmu, sangat! sangat!" kali ini tangannya menyentuh dan meraihku dalam pelukannya. Hembusan nafasnya hangat menerpa pipiku.
"Ini hanya mimpi, ini tidak boleh! ayolah buka matamu Lara!" aku berteriak dalam hati, berusaha sekuat tenaga membuka mataku. Antara mimpi dan nyata itu yang aku alami, otaku mencerna jika ini mimpi tapi aku tidak bisa membuka mata. Dan akhirnya malah terlelap lagi dalam tidur.
Aku terbangun di pagi hari tanpa semangat, begitulah jika aku bermimpi aneh di malam hari. Hatiku sangat tidak nyaman dan melow sepanjang hari.
Aku raih smartphone milikku yang ada di atas nakas, ku cari sebuah nama.
[aku merindukanmu,] ku kirim pesan itu padanya. Setelah mengirim pesan itu hatiku terasa ringan, hilang sudah sesak di dada.
"Apa yang kulakukan!" aku berteriak dalam hati, bisa-bisanya aku mengirim pesan seperti itu pada mas Haidar. "Bodoh!" aku merutuk diriku sendiri.
Segera aku raih benda pipih tersebut dan hendak menghapus pesan itu. Terlambat! sudah terbaca, hatiku menjadi was-was menanti reaksi darinya.
[ Aku juga merindukan dirimu, Lara. sangat merindukanmu!] sebuah balasan masuk ke dalam ponsel milikku.
Aku tertegun membacanya, apa yang telah kulakukan?
"Serius banget lihatin layar handphone?" mas Arkan mengagetkanku. "Baca apaan sih?" dia bertanya lagi sambil duduk di sampingku.
"Biasa mas, habis reuni pada ramai di group," jawabku sambil meletakkan telpon pintar itu diatas nakas.
Mas Arkan terlihat segar sepertinya habis mandi, aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suamiku itu. sebelum berangkat kerja memang mas Arkan selalu menyantap sarapan yang aku buatkan untuknya.
Sepulang dari tempat mas Arkan dinas, aku memang belum memiliki pekerjaan. Dulu saat ikut mas Arkan, aku memilih mengabdikan diri sebagai guru honorer di sekolah yang ada disana. Pendidikan S1 jurusan keguruan dan ilmu pendidikan, membuatku bisa menjadi salah satu pendidik di sekolah itu untuk mengisi waktuku disana.
Setelah selesai membuat sarapan, aku ke kamar. Kulihat mas Arkan sedang memakai baju dinasnya, aku mendekatinya dan membantu mengancingkan bajunya. Setelah itu kami keluar kamar bersama menuju meja makan.
Kami sarapan bersama, lebih tepatnya aku menemaninya sarapan. Aku memang tidak terbiasa sarapan di pagi hari, hanya menemani mas Arkan sambil meminum teh hangat.
Setelah selesai sarapan, mas Arkan segera berangkat ke kantor. Aku mengantarkannya hingga di depan pintu, ku cium punggung tangannya saat dia berpamitan.
"Mas jalan kerja ya, mungkin hari ini terlambat pulang. Lagi banyak kerjaan," ucapnya sambil mencium keningku.
Setelah mas Arkan pergi, aku segera berlari masuk kedalam rumah dan mengambil smartphone milikku.
"[Maaf mas, aku salah kirim pesan, itu bukan untukmu]" ku balas lagi pesan tadi pagi.
"[Bohong! aku tahu itu pesan untukku, kamu juga masih mengingatku Lara! kamu juga merindukanku kan.]" tanpa menunggu lama balasan pesanku masuk.
"[Aku sudah menikah mas, kita tidak seharusnya bermain api! Kamu tahu rasanya dikhianati kan, aku tidak mau mengkhianati suamiku]" ku balas lagi pesan itu
"[Aku tidak akan mengganggu rumah tanggamu, Lara. Aku hanya butuh teman, aku membutuhkanmu sebagai teman, aku merasa nyaman denganmu] " dia masih kukuh membalas pesanku.
Aku hanya menarik nafas dalam-dalam, tidak ada pertemanan antara pria dan wanita yang sudah menikah mas. Kalau kau membutuhkan diriku sebagai teman, kalau kau nyaman denganku kenapa dulu kau meninggalkanku. Kata-kata itu hanya ku simpan dalam hati tanpa aku ungkapkan. Aku tidak berniat lagi untuk membalas pesan dari mas Haidar.
Ku hapus pesan darinya, dan akupun sejak awal tidak menyimpan nomornya, aku tadi mengirim pesan padanya lewat nomor dia yang ada di grup alumni.
Hari ini, mas Arkan benar-benar pulang terlambat. Hingga selepas maghrib dia tidak kunjung datang, aku menunggunya sambil membaca-baca novel dalam bentuk cetak. Ya, meskipun sekarang era digital. Semua sudah ada dalam smartphone, tapi kadang kala aku memilih membaca lewat buku.
Aku menyukai novel-novel romantis dan kisah cinta, sejak jaman kuliah dulu aku sering membelinya untuk dibaca dan di koleksi. Bahkan mas Haidar sering memberiku hadiah novel, apalagi jika penulis-penulis favoritku baru merilis novel baru.
Benda pipih disampingku berbunyi, kupikir pesan dari mas Arkan. Segera ku raih benda pintar tersebut dan akupun membaca pesannya.
[ Lara, aku didepan rumahmu] pesan dari mas Haidar.
Jantungku berdegup kencang, bisa-bisanya laki-laki itu datang ke rumahku, bagaimana jika tiba-tiba mas Arkan datang dan salah sangka terhadapku.
[Ngapain kamu kesini mas? bagaimana jika suamiku menanyaimu?]
[Aku akan bilang jika aku teman kuliahmu, kalau kamu tidak punya perasaan apapun padaku kamu tidak akan takut ketahuan suamimu] balas mas Haidar.
Benar juga, jika aku takut-takut ketahuan suamiku mas Arkan, maka dia akan yakin aku masih punya perasaan padanya. Tanpa pikir panjang lagi aku keluar rumah dan melihat mobilnya terparkir di depan jalan rumahku.
Melihatku membuka pintu, laki-laki itu keluar dari mobilnya. Dia terlihat membawa sebuah paper bag berukuran besar ditangan kanannya dan kemudian menghampiriku.
"Apa kamu tidak mempersiapkanku untuk masuk?" dia bertanya.
"Maaf mas, diluar saja. Lara tidak mau memasukkan laki-laki lain saat suami Lara tidak ada. Silahkan duduk di sini," aku mempersilahkan mas Haidar duduk di teras. Teras kami terhalang oleh pagar tembok setinggi badan orang dewasa.
Mas Haidar duduk si kursi yang ada di teras, aku duduk seberang meja.
"Ini buatmu," mas Haidar memberikan paper bag itu padaku.
Aku menerimanya dan membukanya, didalamnya terdapat beberapa buah buku yang cukup tebal, sepertinya novel.
"Sudah lama aku membelinya, jika teringat dirimu aku membeli novel-novel itu." mas Haidar menjelaskan tanpa diminta.
Aku diam tidak menjawab, bahkan ucapan terimakasih pun enggan keluar dari mulutku.
"Apa kau marah padaku?" tanya mas Haidar.
Aku menggelengkan kepala masih belum berniat berbicara dengannya.
"Aku tidak akan menganggu rumah tanggamu, aku hanya perlu teman yang membuatku nyaman. Tidak bisakah kita seperti dulu, bukankah saat kita bersama kita tidak pernah melakukan hal-hal yang terlarang?" mas Haidar masih berusaha berbicara denganku.
"Kenapa dulu kamu meninggalkanku mas?" akhirnya aku membuka suara.
Mas Haidar terdiam sejenak, kemudian menarik nafas dalam-dalam.
"Maafkan aku ra, dulu aku sangat berambisi untuk sukses dan hidup mewah, aku ingin mengejar mimpiku dulu. Aku tidak bisa segera menikah denganmu, sedangkan kamu dan orang tua mu menginginkan pernikahan secepatnya dan aku memilih untuk pergi darimu karena aku belum siap."
"Apa kau bahagia setelah meraih kesuksesan seperti sekarang mas?" ucapku bertanya.
"Apa aku terlihat bahagia?" dia malah balik bertanya.
Aku menoleh kearahnya, pandangan kami bertemu. Lagi-lagi muncul desiran halus dalam hatiku, aku segera memalingkan wajah darinya.
"Ya sudah aku pulang dulu ya, aku cuma mau mengantarkan buku-buku itu saja," mas Haidar berpamitan dan berdiri dari duduknya.
Aku mengikutinya berdiri dan mengantarkannya hingga ke halaman. Tidak lama setelah kepergian mas Haidar, mas Arkan datang dengan mengendarai mobilnya. Aku masih berdiri di teras dan menunggunya turun dari mobil.
Setelah turun dari mobil, aku menyambutnya dan mencium punggung tangannya.
"Siapa itu tadi?" tanya mas Arkan
"Tukang paket anterin novel, tuh!" ucapku berbohong sambil menunjuk pada paper bag yang ada di atas meja. "ish... kenapa aku pakai berbohong pula pada suamiku," aku mengumpat kebodohanku dalam hati.
"Tukang paket pakai mobil pribadi?" mas Arkan bertanya.
"Entahlah..." aku berkata sambil bergelayut manja pada lengannya.
***