Jangan pernah tanya saya se sakit apa saat ini. Saya berfikir selama ini suamiku orang yang paling setia. Jangankan untuk melihat mereka tersenyum dan mereka napas saja saya benci.
'''Kenapa istrimu harus tinggal di rumah ini.?'' Pertanyaanku yang tak bisa ku kontrol lagi.
''Saya sengaja supayah kalan akur dan anak kita bisa memiliki dua ibu sekaligus. Jangan banyak nuntut tugas kalian saya sudah bagi dan saya harap kalian akur.''
Lincah juga lidahnya berucap. Dia kira perasaank mainan kali yah. ''Baiklah tapi ingat saya tidak akan mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Kalau kalian tidak mau saya kasih dua pilihan mau saya laporkan menikah tampa izinku atau tinggal di tempat lain.''
Susi mencebikan bibirnya tanda tidak suka dengan kata kataku barusan, emang saya peduli mau dia suka dengan tidak. ''Mas tapi kalau pengen saya cepat hamil saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah.''
''Iya benar kata Susi jadi mohon mengertilah, saya janji uang bulanan untukmu ada juga yang akan saya tambakan seratus ribu.'' Dasar manusia pelit bin medit.
Saya akan menyiksa kalian, tapi bagaimana dengan anakku dia mengetahui jika ayahnya menikah lagi. Saya tidak bisa gambarkan perasaannya seperti apa. Dia paling anti berbagi dengan orang lain tentang kasi sayag.
Bagaimana melihat ayahnya tidur dikamar lain dan wanitanya bukan saya. Itulah bagaimana saya menjelaskan sama dia apa yang harus ku benahi. Rumitnya pikiranku saat ini sampai sampai saya lupa untuk masak makan siang.
Saya bangkit ke dapur, jangan tanya lagi mereka masuk kamar sambil melakukan hubungan halal menurut mereka sambil teriak teriak yang menjanjikan. Apa ia pengantin baru seheboh itu yah. Dasar merreka saja yang pamer. Saya masak dengan penuh semangat saya akan masak untuk makanan sekianya dua porsi. Saya juga akan membuktikan jika tampa uangnya saya bisa hidup.
Enak saja uang bulananku di tambah seratus ribu, dia pikir itu bisa mengembalikan keadaan. Beruntungnya saya memiliki tabungan emas sejak saya masih gadis dan sekarang belum terjual dan saya investasi melalui aplikasi dan belum saya cairkan.
Saya akan buka usaha sendiri, saya akan jualan online dan live streaming di tok tok. Saya akan jualan baju dari bayi hingga orang dewasa. Jikaberharap sama suamiku belum tentu adil dalm hal keuangan.
Saya tidak peduli tampa uang bualanan. Mulai besok saya harus order barang dan saya akan bekerja di kamar anakku. Kamar anakku cukup luas.
Akhirnya selesai juga msak, saya simpan di wadah dan saya letakan di kamar anakku. Mereka mau makan masak sendiri saja, saya bukan malaikat yang slalu patuh tapi saya kadang berjiwa iblis.
''Lita mana makanannya, kami lapar ini.'' Enak juga itu bibir berucap bahkan tampa peduli dengan perasaanku dia pikir saya ni pembantu apa. Kenapa kamu sakit dulu tidak mati saja.
''Suruh istrimu itu untuk masak, jangan kelewatan manja nanti di jilat lalat..''
Alwi melongo saya buat, emang enak kamu berurusan denganku. Akan saya buat kalian menderita sejadi jadinya. Mentang mentang banyak uang seenaknya saja menikah.
''Kan saya sudah bilang uang bulanan saya tambah seratus ribu, kok kamu tidak mau saya tarik uang bulananmu dan mulai bulan depan sisanya mana siniin.''
Dia menengadakan tangannya, dia pikir saya akan takut kali yah. ''Sisa ini mas saya sudah belanjakn keperluan dapur dan bayar uang sekolah.'' Jawabku dengan enteng sambil meletakan uang perak di tangannya.
Smongko... rasain itu mas dia pikir itu uang cukup sampai mana. ''Suruh saja istrimu untuk mengelola keuangan mas saya sudah tidak mau.''
Saya berlalu masuk ke kamar anakku. Saya akan menjual emasku dan saya akan buka usaha dar rumah semoga cuan. Saya berusaha agar anakku tak kekurangan kasi sayang. Jika saya bekerja di luar anakku pasti merasa kekurangan kalau dari rumah saya bisa pantau tumbuh kembangnya.
Benar saja anakku sudah pulang, dengan santainya mereka bermesraan tampa peduli anakku melihanya. ''Ayah siapa dia kenapa ada di rumah kita.?'' Pertanyaan yang membuatku keta ketir.
''Viko ini ibu kamu juga, hormatilah dia karna dia juga ibumu.'' Viko melirik kearahku meminta penjelasan tapi mulutku terkatup rapat. Saya tak bersuara, ini yang saya takutkan.
''Maaf ayah jika menikah lagi, silakan pergi dari rumah ini. Saya masih punya ibu. Dan kamu bukan ibu saya jadi jangan pedeh saya menganggapmu ada.''
Dia masuk kamar di banting dengan keras pintunya. ''Mbak ajar anakmu jangan tidak sopan sama saya.'' Tegurnya dengan wajah sok polos,p pengen saya cobein tu mulut.
Saya tidak peduli dengan tatapan tak suka suamiku. Saya masuk dalam kamar, kesehatan mental anakku yang jauh lebih penting dari apa pun.
Saya masuk dalam kamar memeluk anakku, dia menangis dalam dekapanku, saya takut anakku kehilangan arah dan salah pergaulan, saya tidak sanggup jika itu terjadi.
''Ibu saya benci ayah bu, ibu jangan tinggalin saya yah, mohon ibu jangan pergi yah, jika ibu pergi saya sama siapa.''
Ya allah ternyata dia sesayang itu sama ibunya. ''Iyah nak saya tidak meninggalkanmu sendirian, tapi bantu ibu yah nanti. Ganti baju gih supayah kita makan.''
Selesai dia ganti pakaian kita makan bersama dalam kamar ini. ''Enak bu masakan ibu memang slalu juarah.'' Pujinya sambil mengangkat ke dua jempolnya. Selesai makan saya bawa keluar piring saya cuci di wastafel.
Mereka makan dengan nikamt di meja makan, saya hanya melirik mereka sekilas. Itu yang di namakan adil, makan sendiri mereka makan bertiga saja. Seharusnya makan enak anaknya juga di ingat.
Saya akan balas mas perlakuanmu sama anakmu. Saya akan bekerja diam diam agar anakku makan dengan layak. Selama ini saya tidak pernah makan di luar selama jadi istrinya. Saya akan buat kamu bersujud di kakiku.
''Maaf yah kami tidak belikan untukmu. Kan jatah bulanmu sudah ada, jadi kamu masak saja.'' Dasar suami yang tak tau keadilan. Atau perlu saya ajari bagaimana adil itu.
Sore hari mereka nonton televisi saya bawah anakku jalan jalan daripada suntuk yah kan. Saya pergi kerumah bu Renata yang merupakan onwer pakaian dia juga punya pabrik sendiri harga juga terbilang murah.
Setelah kami menyepakatinya saya pamit pulang. Saya ke toko emas untuk menjual emas yang saya punya untuk modal awal. Saya akan menyetok barang di rumah dan saya akan menjualnya di groub kompleks ini dan saya akan menjualnya di beberapa aplikasi contohnya fb.
Karna mulai bulan depan saya sudah tak di kasih uang bulanan tapi itu tak menyurutkn semangatku untuk anakku. ''Nak mau makan bakso.''
Dia meanatapku.''emang boleh ya bu.''
Saya hanya mengagguk. Kami makan bakso di dekat kmpleks dan setelahnya saya kembali kerumah bu Renata untuk membayar semua pesananku. Besok barangnya akan diantarkan kerumah...
''Darimana kalian..?''
''Dari mana kalian..? Kenapa pergi tampa seizinku. Kalian itu masih tanggung jawabku dan tak ada lagi yang seperti ini nantinya.''
''Nak masuk kamar yah nanti ibu nyusul di dalam.'' Saya suruh anakku masuk dalam kamarnya daripada dia menyaksikan pertengkaran kami nantinya. Setelah Viko masuk dalam kamarnya saya menatap suamiku dngan tatapan jengah..
''Saya cape mas, jangan ganggu saya, dan jangan marah marah terus di depan anakku karna dia terluka dengan pernikahan mu.''
Dia malah membuang pandangannya. Jangankan untuk menatap mataku dia malah berbalik arah hendak pergi, kentara sekali dia seorang pecundang.
''Mas darimana sih, saya tunggu di kamar loh malah gak ada aku kangen tau.'' Susi keluar kamar memakai pakaian kurang bahan, yang menurutku mau manas manasin. Tapi saya tak ambil pusing karna dia juga punya hak karna itu suaminya juga.
Dia sambil menjulurkan lidahnya, tapi saya tidak mua ribut saya hanya membalasnya dengan senyuman. Saya juga sudah kenyang hidup bersamanya. Aya hanya fokus bagaimana kehidupan anakku saya akan memberikannya dngan layak.
Ke esokan paginya saya menyiapkan sarapan untuk anakku. Susi keluar kamar dengan rambut stengah basa. Dengan gya angkuhnya masuk di dapur sambil bersedekap dada.
''Lihatkan suamimu seutuhnya jadi milikku karna kamu hanya sampah.'' Ingin kuremas mulutnya tapi saya tidak ingin merusak moodku.
Saya meninggalkannya karna anakku lebih penting daripada dirinya hanya benalu dalam rumah ini. Biasanya saya sangat rajin membersihkan rumah tapi sekarang saya malas malasan. Banyak orang dalam rumah ini bukan hanya saya.
''Lita mana sarapan kami. Kamu tidak masak.'' Teriaknya dari luar kamar tapi saya tak hiraukan saya sibuk sarapan denga anakku. Ada istrinya yang bisa masak, janga hanya di ranjang tapi isi juga perutnya.
Saya keluar kamar selesai sarapan, padahal mereka bertiga menunggu di meja makan. ''Lita cepat masak kami sudah lapar.'' Perintah mertuaku tapi saya tak hiraukan.
Sementara istri barunya hanya manyun sambil tunngu masakan dariku. ''Mbak masak yah, soalnya badanku sakit sakitan habis di gempur mas Alwi semalaman.'' Sambil tesenyum.
Andaikan saya tak ingat anakku saya sudah cicang wanita yang ada di hadapanku saat ini. Saya berlalu begitu saja sambil mendengarkan ocehn mertuaku. Keenakan mereka jika saya jadi babunya.
Entah bagaimana cara mereka sarapan pagi tadi, yang intinya mereka menyerah dan lagi lagi rumah bak kapal pecah emang yah hanya cantiknya saja tapi tidak bisa bersih bersih rumh ocehku.
Anakku hanya diam sambil melirik kamar tamu yang di tempati ayah sama gundiknya di dalam.
''Ibu jika sudah tak sanggup berada di rumah ini ayo kita pergi saja.'' Ternyata anakku sudah tumbuh dewasa dan mengerti keadaan rumah ini sudah tak nyaman.
Kebetulan hari minggu suamiku serta gundiknya pergi. Beretepatan barang dagananku datang juga. Ternyata anakku juga ikut menhjualnya seemoga in rezeki berpihak pada kami, dia sangat bahagia katanya kalau jualan seperti ini. Postingannya banyak yang komen dandia semakin semngat membalas komenannya orang.
''Ibu saya saja yang jadi kurirnya, banyak juga teman teman yang minat bu.''
''Apakah kamu tidak malu jualan online nak.?'' Tanyaku penuh hati hati karna takut enyinggung perasaannya dan saya tak ingin memberinya beban.
''Ibu ngomong apa sih, justru saya senang bu seperti ini karna saya juga punya uang sendiri, mengurangi beban ibu.''
Anakku sudah sedewasa ini pikirannya. Tak terasa hari sudah semakin sore anakku akan mengantar orderan kami. Yang order orang orang terdekat kami. Teman teman sekolahnya bahkan ibu ibu kompleks ini.
Jualanku banyak ada daster, baju anak anak dan lain lain. Saya juga akan live streaming di apk tok tok. Saya akan pelajari dulu, kebetulan pengikutku sudah banyak.
Semoga ini awal dari kebahagiaan ku. Viko belum juga kembali bahkan katanya belum selesai mengantar orderan kami. ''Mana Viko kenapa jam segini pergi keluyuran di luar, mau jadi apa anakmu itu.''
''Viko itu anakku jika dia keluar berarti sudah mendapatkan izin dariku.'' Dia semakin berang katanya sebagai kepala keluarga dia sudah tak di hargai. Bahkan mengancamku biayah sekolah anakknya dia tiadakan .
''Viko kamu dari mana ini sudah jam berapa. Kenapa baru pulang, kamu sama saja dengan ibumu sama sama keras kepala.''
Viko berlalu begitu saja tampa peduli sama ayahnya, bukannya saya mendukung tingkahnya tapi saya juga tak bisa melarangnya, biarlah dia bertindak sesuai keinginannya.
Saya masuk daam kamar yang kami huni berdua selama beberapa hari ini. Yah saya sudah pinda ke kamar anakku. Kamarku mertuaku yang pake jadi saya mengalah lagian kamar itu sudah tak ada artinya bagiku.
''Lihat bu hasilpenjualan kita hari ini, lumayan banyak. Bahkan saya akan bawa beberapa pcs karna banyak temanku yang minta.''
''Wah benaran. Ini awal yang bagus semoga ini jalan yang terbaik.'' Kami berepelukan saling menguatkan.
''Kamu lapar? Saya masak dulu yah.'' Ternyata mereka maka dengan lahap sementara kami diabaikan, makan enk mereka tidak mengingat kami, saya hanya mengelus dada. Inikah yang dia bilang adil, anaknya tak di belikan. Mererka makan makanan padang mreka kentara dari boxnya. Ayam bakar.
Saya masak makanan simple saja. Untuk kami berdua semoga saya juga punya rumah dn akan ku bawah anakku dari sini. Ngapain jug kan ada di rumah malah tak dianggap juga.
Selesai masak saya membawanya ke dalam kamar, kami sudah terbiasa makan dalam kamar akhir akhir ini. Anakku juga sudah tak pernah protes lagi.
Hari ini seperti biasa anakku pergi ke sekolah saya mulai posting jualanku menurutku hasil itu mengikuti kerja keras. Dari luar kamar saya dengar ada kegaduhan tapi saya tak peduli.
Alwi terlambat bangun sekarang sudah jam sepuluh lewat lima belas menit. Emang enak bertempur tiap maalam dan lupa dengan keadaan. Sudah tuaa taapi masih juga nafsuan, saya tak peduli di rumah ini tak art.
Dia berteriak memanggil namaku tapi saya abaikan. Dia tidur dengan istri barunya tampa peduli perasaan au sama anaknya. Begitulah mengedepankan nafsu. Pintu kamarku di gedor gedor sudah pasti itu gundiknya karna dia tidak ada pakaian kerjanya yang bersih.
Sudah beberapa hari ini pakaiannya tak kucucikan bahkan saya malasmengurusnya lagi. ''Mbak baju nay suamiku mana yang bersiih ini.''
Saya tertawa dari dalam kamar emang saya pembantumu. Dasar aneh baju suaminya saja dia tidak tau mana yang bersih dan mana yang kotor. Bikin anak saja tak usah ke kantor.
Alwi teriak teriak seperti oang kesetanan di luar sana. Dia merancau sambil memakiku bahkan sumpah serapah, kebun binatang sudah diabsen dari tadi, tak luput penghuni neraka pun dia panggil.