Morgan melangkah menuju ke arah kamarnya. Di sana, ia mendapati Fla yang sudah lebih dulu tertidur dengan membelakangi dirinya. Ia menghela napasnya dengan panjang, kemudian masuk ke dalam ruangan kamarnya.
Setelah menutup pintu kembali, Morgan perlahan duduk di pinggir ranjang, berusaha untuk mempersiapkan dirinya. Ia menghela napasnya dengan panjang, lalu segera membaringkan tubuhnya di sebelah Fla.
Karena perasaannya yang sangat kacau, ia tak sadar memiringkan tubuhnya untuk memeluk Fla dari belakang. Fla sangat menyadarinya, karena ia yang belum sepenuhnya tertidur dengan pulas.
Perasaan Fla ketika Morgan memeluknya saat ini, adalah rasa yang sudah bercampur aduk. Ia bahkan tidak bisa merasakan hangat tubuh Morgan, padahal Morgan sudah memeluknya dengan sangat erat.
Pelukannya terasa sangat hambar.
“Kamu sudah tidur?” tanya Morgan, Fla sama sekali tidak menjawab pertanyaan Morgan.
Mereka hanya bisa saling diam, karena permasalahan ini benar-benar sudah membuat mood Fla menjadi kacau.
Beberapa bulan terakhir, Fla memang seperti orang yang sangat berbeda dari biasanya. Ia kembali menjaga jarak dari Morgan, ketika pertama kalinya ia mendengar Morgan yang meminta izin darinya, untuk menikah kembali.
Fla benar-benar sangat tidak bisa menerimanya.
“Aku tahu kalau kamu belum tidur,” ucap Morgan, Fla mendelik mendengar ucapan Morgan yang seperti itu.
Pandangannya ia tundukkan, meskipun kepalanya tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. Fla benar-benar merasakan sesak di dadanya, ditambah lagi Morgan yang memeluknya erat seperti ini, semakin menambah rasa sakit yang ia alami.
Melepaskan sesuatu yang sama sekali tidak ingin ia lakukan pun, menjadi beban tersendiri bagi Morgan. Ia benar-benar tidak bisa melepaskan Fla, karena baginya Fla adalah sosok wanita dan istri yang sangat sempurna.
Namun, kembali lagi pada kenyataan bahwa Fla tidak bisa memberikan keturunan kepada Morgan.
“Fla, aku sangat mencintaimu,” ucap Morgan dengan nada yang sangat rendah. Ia ingin menunjukkan, bahwa ia benar-benar mencintai Fla, bahkan sampai detik ini.
Mendengar pernyataan cinta Morgan padanya, Fla kembali tersenyum pahit. Ia benar-benar tidak habis pikir, dengan Morgan yang mengaku mencintainya, tetapi hendak meminta izin untuk menikah kembali, terlebih lagi dengan adik kandungnya sendiri.
"Kau sudah membawaku ke atas langit, lantas kau juga yang hempaskan aku begitu saja. Sakit sekali hati ini, Gan," batin Fla yang tidak bisa ia katakan pada Morgan.
Mereka sejenak terdiam, dengan Morgan yang masih dalam keadaan memeluk Fla dari belakang tubuhnya. Morgan merasa sangat lelah, sehingga merasa matanya menjadi sangat berat dan tak kuasa menahan rasa kantuk.
Morgan menguap, saking tidak bisa menahan rasa kantuk yang menyerang. Ia kembali memeluk Fla dengan lebih erat, sampai akhirnya ia kehilangan kesadarannya secara perlahan.
Dalam mimpinya, ia melihat sesuatu yang sangat indah di hadapannya. Entah apa yang bersinar di hadapannya, karena pandangan di dalam mimpi yang sangat terbatas.
Morgan mengusap kedua matanya, agar ia bisa melihat dengan jelas sesuatu yang bersinar terang di hadapannya itu.
Ketika ia sudah bisa melihat dengan jelas, ia kembali memandang ke arah hadapannya.
“Fla ....” Morgan melihat sesuatu yang bersinar terang tersebut, adalah Fla.
Fla memandangnya dengan senyuman sendu, kemudian segera melangkah pergi menuju ke arah cahaya terang yang berada di hadapannya.
Melihat kepergian Fla, Morgan pun sangat tidak rela. “Fla!!” pekiknya dengan sangat keras.
Morgan mendelik, dengan kening yang sudah basah karena keringatnya yang bercucuran. Ia bangkit dan duduk di atas ranjangnya. Ia mengedarkan pandangannya ke arah ruangan kamarnya, dan tidak menemukan siapa pun di sana.
Tidak ada Fla sama sekali di sana, sehingga membuat Morgan merasa sangat gagal dalam mempertahankan perasaannya pada Fla.
Morgan melirik ke arah jam dinding, dan mendapati waktu yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Ia mengusap kasar wajahnya, karena ia sudah terlambat untuk bangun dari tidurnya, dan mengantarkan Fla menuju ke rumah sakit tempat ia bekerja.
“Aku ketiduran ...,” gumamnya yang merasa kesal dengan dirinya sendiri. “Kenapa Fla tidak ingin membangunkanku? Kenapa ia segitunya, sampai tidak mau aku antar ke tempat kerja?” gumamnya lagi sembari bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
Tak ada habisnya jika memikirkan permasalahan ini. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, sehingga membuat Morgan segera melangkah ke kamar mandi, untuk membilas tubuhnya.
SRAK!
Morgan membuka keran shower, dan sengaja membasahi tubuh kekarnya dengan air yang mengalir dari keran shower tersebut. Ia mengusap wajahnya, untuk membuat perasaan dan hatinya tenang.
“Aku cinta padamu Fla, tapi kau sama sekali tidak bisa memberikan keturunan untukku. Harus bagaimana aku sekarang?” gumamnya, sembari meratapi jalan yang harus ia ambil.
Hari-hari Morgan jalani sama seperti saat ia belum menikahi Fla. Bedanya, kini ia memang sedang dekat dengan Ara, yang tak lain adalah adik dari Fla. Walaupun ia tidak mencintai Ara, tetapi ia merasa Ara bisa memberikannya keturunan jika ia menikahinya.
Tidak ada lagi wanita yang Morgan inginkan, selain Fla. Namun, ia merasa harus melakukan ini, demi mendapatkan keturunannya sendiri.
Segala cara sudah ia coba. Pengobatan alternatif dan juga tradisional pun sudah ia jalani, tetapi hasilnya tetap saja nihil. Fla masih juga belum kunjung mengandung benih darinya.
Perasaan sukanya terhadap Ara, tidak sebesar perasaan sukanya terhadap Fla. Morgan memang menyukai adik dari Fla itu, karena ia melihat body dan juga penampilan Ara yang sangat menggairahkan.
Siapa lelaki di dunia ini, yang tidak tergoda melihat wanita seperti Ara?
Namun, Morgan benar-benar hanya melihat Ara dari segi nafsu semata. Ia sama sekali tidak melihatnya dari segi rasa cintanya terhadap Ara, karena rasa cintanya sudah terlanjur ia tanamkan pada Fla.
Saat ini, Morgan sudah berada di kampus. Ia meletakkan tas yang selalu ia bawa setiap kali ke kampus, pada meja yang berada di kantin tempat biasa ia memesan sarapan.
Morgan mengangkat tangannya, dan penjual di kantin kampusnya datang menghampirinya. Ia memesan menu sarapan seperti yang biasa ia pesan, karena selama sebulan ini Fla selalu masuk pukul 3 pagi, dan tidak bisa menyiapkan sarapan untuk Morgan.
Bukan hanya hal itu saja, Fla juga memang tidak ingin melakukan tugasnya lagi sebagai istri, karena rasa sakit hatinya pada Morgan. Ia jadi tidak mengurus Morgan lagi, dengan beralaskan jam kerjanya yang selalu masuk sangat pagi itu.
Semangkuk mi goreng dengan tambahan telur ceplok rebus di atasnya, sangat membuat Morgan berselera makan. Aromanya sudah tercium dari radius beberapa meter, sampai akhirnya mi tersebut sampai di hadapannya.
“Apa kau ingin pakai nasi, Tuan?” tanya Ibu kantin, Morgan menggelengkan kecil kepalanya.
“Tidak perlu, Bu. Sudah cukup seperti ini,” tolak Morgan.
"Apa Anda yakin, Tuan? Saya perhatikan, selama satu bulan ini ... Tuan Morgan hanya pesan mi goreng telur setiap paginya. Apa tidak ada masalah pencernaan nantinya, Tuan?” tanyanya yang sangat khawatir dengan kesehatan Morgan.
Morgan merenung, karena mendengar ucapan sang Ibu kantin. Ia merasa bingung, orang lain saja memedulikannya, tapi kenapa Fla yang jelas-jelas adalah istrinya, sama sekali tidak memedulikannya?
“Terima kasih, Bu. Tidak apa-apa, ini saja cukup,” ujarnya, membuat sang Ibu kantin memandang kasihan ke arah Morgan.
Ibu kantin pergi dari hadapan Morgan, dengan perasaan yang sangat kasihan dengannya. Namun, Morgan sama sekali tidak berselera makan, selain memakan semangkuk mi goreng ini.
Aromanya saja sudah mampu membuat Morgan hampir meneteskan air liurnya. Ia merasa ingin secepatnya menyantap makanan yang ada di hadapannya, untuk menuntaskan perasaan laparnya.
Ketika baru menyuap mi goreng tersebut ke dalam mulutnya, ia mendapati sepasang tangan yang melingkar pada perut Morgan.
Tidak salah lagi, itu adalah Ara.
“Selamat pagi, Sayang!” sapa Ara, dengan nada yang sangat bahagia, sembari tetap memeluk Morgan dari arah belakangnya.
Mengenai kelakuan Ara tadi, Morgan merasa sangat malu dan juga risih, karena Ara memeluknya di hadapan publik seperti ini. Ia merasa sangat tidak senang, karena Ara yang terlalu terang-terangan dan terlalu berani melakukan hal seperti ini.
“Ra, tolong lepas. Kita masih di area kampus,” ucap Morgan dengan nada datar, membuat Ara seketika berubah ekspresi menjadi masam.
Ara melepaskan pelukannya dari Morgan, dan langsung duduk di hadapan Morgan.
“Sayang kau kenapa, sih? Kenapa aku tidak boleh memelukmu, Sayang? Aku ‘kan ... rindu sekali denganmu, Sayang!” rengeknya yang seperti anak kecil, membuat Morgan merasa sangat risih mendengar ucapannya itu.
Hilang sudah selera makan Morgan. Ia meletakkan garpu yang ia pakai untuk menyantap mi goreng tersebut, dan memandang Ara dengan tatapan yang datar.
“Ini di area kampus, Ra. Tolong sedikit mengerti keadaanku. Aku tidak bisa berbuat seenaknya di kampus ini, karena aku adalah dosen. Aku tidak bisa mencontohkan hal buruk kepada para mahasiswa di sini,” ucap Morgan, dengan nada yang sedikit ia tarik, untuk memberitahu kepada Ara bahwa ia sedang marah padanya.
Mendengar teguran dari Morgan, Ara menjadi kesal dengannya. Ia memandangnya dengan sinis, karena ia merasa sangat tidak dihargai oleh Morgan.
“Sayang ada apa, sih? Kenapa Sayang jadi kayak gini sama aku?” tanya Ara, Morgan membuang pandangannya dari Ara. Mata Ara mendelik, karena ia merasa mengetahui sesuatu. “Kau memangnya seperti ini juga ke Kak Fla? Oh, atau kamu hanya seperti ini denganku saja?” bidiknya dengan sinis.
Morgan menghela napasnya dan kembali memandang ke arah Ara. “Jangan seperti itu, Ra. Ini kampus, dan aku berbicara benar. Tidak ada sangkut-pautnya dengan sikap aku ke Fla,” ujarnya, yang berusaha sabar di hadapan Ara yang masih kekanak-kanakkan.
Walau sudah mendengar penjelasan Morgan, Ara sama sekali tidak menggubris, dan tetap berpikiran negatif pada Morgan.
“Ah, bilang saja kau seperti ini karena aku bukan Kak Fla! Kalau aku ini Kak Fla, mungkin kau tidak akan bersikap seperti itu terhadapku!” ujarnya dengan nada yang sedikit membentak, membuat Morgan menjadi sangat risih mendengarnya.
Morgan menatapnya dengan tajam,l. "Ra, enough! Jangan bicara lagi. Kamu ya kamu, Fla ya Fla. Tidak ada hubungannya antara sikapku ke kamu, dan sikapku ke Fla!”
Morgan bangkit, dan pergi meninggalkan Ara sendiri di sana.
Melihat kepergian Morgan, Ara merasa sangat kesal sampai bola matanya hampir keluar dari pelupuk.
“Morgan!!” pekik Ara, yang tak dihiraukan sama sekali oleh Morgan.
Semua orang memperhatikannya dengan tatapan yang aneh, membuat dirinya merasa malu sendiri dengan keadaan.
Karena sudah malu dengan keadaan, Ara pun pergi dari sana untuk menuju ke arah kelasnya.
***
Sudah genap sebulan ke belakang, Morgan selalu mengonsumsi semangkuk mi goreng dengan topping telur ceplok rebus. Hal itu ternyata berdampak pada kesehatannya, dan mengganggu sistem pencernaan yang ia miliki.
Sudah beberapa kali ia keluar masuk toilet, karena perutnya yang terasa sangat perih.
Bagaimana tidak? Setelah makan semangkuk mi goreng tersebut di pagi hari, Morgan sama sekali tidak mengisi apa pun lagi pada perutnya. Esok paginya Morgan kembali menyantap mi goreng tersebut.
Bagaimana tidak sakit?
Apalagi kesibukan Fla selama beberapa bulan ke belakang ini, membuatnya jadi tidak bisa menyiapkan makanan untuk Morgan di pagi hari.
Sudah beberapa kali Morgan hanya keluar masuk toilet rumahnya saja, karena merasakan sakit pada perutnya yang membuatnya lemas. Ia melangkah keluar dari toilet rumahnya, dan menghela napasnya dalam-dalam.
“Perutku terasa perih,” gumam Morgan, sembari memegangi perutnya yang sudah terasa perih.
TRING!
Sebuah pesan singkat masuk ke kotak masuk pada handphone Morgan. Walaupun masih merasa sakit pada perutnya, ia masih sempat membuka dan membaca pesan singkat tersebut, yang ternyata adalah dari Fla.
“Fla lembur long shift. Mungkin tidak akan pulang. Kau tidur saja duluan, tidak perlu menungguku kembali ke rumah.” Isi pesan dari Fla.
Membaca pesan tersebut, sontak membuat Morgan semakin lemas.
Sudah lemas karena kekurangan cairan, ditambah lemas karena istrinya tidak pulang ke rumah malam ini.
“Fla tidak pulang?” gumamnya, yang lalu menepuk keningnya yang terasa sangat panas.
“Kenapa keningku malah panas begini? Apa aku benar jatuh sakit?” gumam Morgan, yang benar-benar sudah tidak bisa merasakan tubuhnya lagi.
Morgan melangkah dengan langkah yang sempoyongan, menuju ke arah ranjang tidurnya yang berada beberapa meter di hadapannya. Ia sangat butuh banyak cairan, tetapi ia sama sekali tidak bisa melangkah lebih jauh lagi, selain ke arah ranjang tidurnya.
Saking lemasnya, ketika sudah sampai di ranjang tidurnya, Morgan melayangkan tubuhnya ke atas ranjang, lalu berusaha merasakan tubuhnya yang sudah tidak terasa itu.
“Lemas ....” Morgan menelan salivanya yang hampir kering, karena merasa tenggorokannya yang sangat kering.
“Haus ....”
Tak ada yang bisa Morgan lakukan, selain berbaring di atas ranjang tidurnya. Ia berharap Fla pulang secepatnya, agar bisa merawatnya yang benar-benar sedang sakit itu.
Morgan menoleh ke arah foto pernikahan mereka, yang terpampang jelas pada dinding kamarnya. “Fla ... cepat pulang ... aku tidak bisa jika tanpa kamu ...,” rintihnya dengan tatapan sendu.
TRING!
Satu pesan singkat masuk kembali pada kotak masuk handphone-nya. Morgan tersenyum sangat senang, karena ia berpikir kalau Fla berubah pikiran, dan sedang menuju pulang ke rumah mereka saat ini.
“Fla ....”
Senyuman Morgan seketika luntur, ketika melihat yang mengirimkan pesan singkat tersebut adalah Ara dan bukan Fla. Ia merasa sedikit kesal, karena sudah mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
“Sia-sia saya berharap, Fla ....” Morgan merasa dirinya sudah benar-benar down, dan tidak bisa melakukan apa pun selain menerima hal yang sudah ia mulai.
Morgan mengintip dari luar chat yang Ara kirimkan padanya. Ia membaca, walaupun tidak sampai seserius itu membacanya.
“Sayang ... kau mau tidak menemani aku membeli baju sekarang? Baju OOTD aku habis, untuk besok ke kampus.” Isi pesan dari Ara.
Morgan menghela napasnya dengan panjang, karena ia merasa sangat tertekan diminta seperti itu oleh Ara. Pasalnya, Morgan sedang butuh perawatan pada masalah pencernaannya, tetapi ia diminta untuk menemani Ara berbelanja saat ini juga.
“Dia tidak tahu situasi dan kondisi, ya?” gumam Morgan, yang merasa sedikit kesal membaca pesan singkat dari Ara itu.
Morgan membalas pesan singkat Ara, dan menolaknya untuk menemaninya berbelanja. Hal itu membuat Ara yang di sana menjadi sangat kesal karenanya.
“Ish ... kenapa Morgan tirak mau menemani aku belanja, sih? Aku ‘kan butuh baju buat tebar pesona besok di kampus!” gerutunya kesal, karena Morgan yang tidak ingin memenuhi permintaannya.
Walaupun sudah berhasil mendapatkan Morgan, dan merebutnya dari kakak kandungnya sendiri, Ara masih tetap tidak puas dengan hal itu. Ia masih saja menebar pesona ke semua orang, agar semua orang mengakui dirinya yang cantik itu.
Mendapatkan Morgan dari kakaknya, adalah sebuah pencapaian. Ketika ia sudah mendapatkannya, ia tidak akan melepaskannya, tetapi bukan hal yang tidak mungkin untuk mencari kesenangan di luar dari pencapaian yang sudah berhasil ia gapai.
Matanya menyipit tajam, karena merasa harus mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Tidak bisa seperti ini! Aku harus paksa Morgan buat menemani aku malam ini!” gumamnya, yang langsung bergegas untuk pergi ke rumah Morgan.
Ara tidak akan segan menghampiri Morgan ke rumah mereka, jika Morgan tidak ingin memenuhi apa yang ia inginkan. Sekalipun di sana ada Fla, ia sama sekali tidak peduli akan hal itu.
Baginya yang terpenting adalah, membuat Morgan memenuhi segala keinginannya.
Sementara itu di sana, Morgan meletakkan handphone-nya di atas dadanya. Ia memejamkan matanya, sembari mengusap keningnya yang terasa tegang.
Morgan sangat stress menghadapi Ara.
Namun, jika bukan karena keluarganya yang memaksanya untuk menikahi Ara, ia tidak akan pernah ingin dekat dengan Ara.
“Ya ampun ... kenapa dunia ini terasa kejam untuk kami? Apa salah kami?” gumam Morgan, yang merasa sangat tertekan dengan takdir yang ia terima.
Cinta tumbuh karena terbiasa. Namun, Morgan tidak yakin, akankah cintanya pada Ara akan tumbuh sebanyak cintanya pada Fla?
Morgan kembali memegangi perutnya, karena ia merasakan sakit yang luar biasa. Sejak pagi tadi, ia sama sekali tidak sempat memakan mi goreng tersebut, karena sudah hilang selera makannya menghadapi sikap Ara.
Karena menjadi pengawas ujian juga, Morgan jadi tidak sempat mengisi perutnya, setelah berkutat dengan kesibukan yang membuatnya stress.
“Haaaaa ....” Morgan mengembuskan napasnya, saking kesalnya ia dengan keadaan.
Sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan, dari hubungannya dan juga Fla. Karena dirinya yang memang sudah tidak muda lagi, yang menginginkan seorang anak untuk mengisi hari-harinya.
Namun, perasaannya pada Fla tidak bisa dihilangkan. Ia begitu mencintai Fla, dan tidak bisa memutuskan hubungan ini dengannya.
Walaupun Morgan tidak ingin memutuskan hubungannya dengan Fla, Fla juga tidak ingin Morgan memadu kasih dengan Ara. Ia tidak ingin diduakan, karena sesungguhnya Fla juga sangatlah mencintai Morgan.
“Harus bagaimana lagi aku menjalaninya?” gumam Morgan, yang sudah sangat putus asa dengan keadaan dirinya.