Sementara di lain tempat..
Rivaldi yang tengah serius membalas beberapa Email dari rekan-rekan sesama bisnisnya, mengalihkan pandangan ke arah pintu ruangannya yang terketuk lalu terbuka. Tampak seorang pria bernama Gio sekretaris Rivaldi muncul dari balik pintu tersebut. Dan melangkah masuk ke dalam ruang Bos nya itu, tak lupa Gio menutup sedikit pintunya. Kemudian Gio pun lekas membuka suaranya lalu berkata.
'' Permisi Tuan! Mohon maaf mengganggu; Saya mau menyampaikan ada tamu untuk Anda; ucap Gio sopan.
'' Siapa?'' ujar Rivaldi penasaran dengan tamu yang ingin bertemu dirinya.
'' Beliau bilang namanya Axelle Damien Drak ! '' jawab Gio menjelaskan. Gio sendiri pun memang belum pernah bertemu dengan pria bernama Axel sebelumnya, dan baru kali ini ia bertemu dengan sosok Axelle Damien Drak. Sebab ia sendiri baru bekerja di perusahaan Granville 1 tahun dan menjadi sekretaris Bosnya ini.
Pria baru baya itu pun mengulum senyum di bibirnya ketika mendengar nama pria tersebut.
'' Baiklah, suruh dia masuk; ujarnya.
Gio mengangguk paham tanpa banyak bertanya lagi '' Baik, Tuan; lalu Gio pun lekas berbalik badan, melangkahkan kakinya lebar untuk menuju pintu. Dan setelahnya Gio mempersilahkan Axelle masuk ke ruangan Rivaldi
Tak lama, Axelle muncul dari balik pintu tersebut seraya mengulas senyum pada Rivaldi dan lekas menghambur ke pelukan Rivaldi. Pelukan akan kerinduan karena sudah sangat lama tidak bertemu dengan Uncle nya ini.
'' Hai Uncle, how are you? Kau tidak merindukanku? Dan kau masih saja tampan dan gagah. Berbeda dengan Daddy ku yang terlihat lebih tua darimu; sapanya hangat seraya masih memeluk erat Rivaldi.
Rivaldi melepaskan pelukannya dari tubuh atletis dari pria yang ia anggap sudah seperti putranya sendiri, dan mulai berkaca-kaca. Bahagia dan sedih selalu ia rasakan. Karena setiap memeluk Axelle seakan memeluk mendiang anaknya Alvaro.
Karena mereka berdua seumuran. Tidak hanya Ia dan sahabatnya Dalton, yang bersahabat sejak dari SMP. Alvaro dan Axelle juga menjalin persahabatan sejak mereka duduk di bangku SMP. Tentu ikatan batin ini sangat kuat.
Axelle yang melanjutkan pendidikan kuliah nya di Swiss, baru saja pulang ke Indonesia, karena sang ayah yang cerewet itu meminta dirinya untuk belajar memimpin perusahaan mereka. Dalton terlihat sudah begitu lelah dengan pekerjaan nya dan ingin sekali berada di rumah menikmati masa tuanya.
.
.
'' Uncle baik! Dan tentu Uncle merindukanmu Xell, bagaimana bisa kau berpikir seperti itu; Hem! Kau ini ada-ada saja; balas Rival, memberi tinjuan gemas di lengan Axelle yang berotot itu.
'' Kau sangat tampan. Tubuhmu semakin besar saja, sehingga Uncle kesulitan untuk memeluk tubuhmu; ucapnya kembali, seraya menepuk-nepuk bahu kekar Axelle sambil mengulum senyum haru.
'' Oh, ayolah Uncle, kau mulai akan menangis lagi?'' ujar Axelle menyadari ketika pria paruh baya itu mulai kembali berkaca-kaca.
Renaldi tersenyum ; dan berkata. Axelle Damien Drake! Hm? tidak ada Addison? Masih saja; ujar Rival yang tahu persis dengan Axelle anak sahabatnya itu tidak ingin menggunakan nama besar ayahnya itu.
Axelle mengangguk pelan kepalanya. " Yeah, kau tahu? Aku tidak ingin di lihat orang hanya karena nama belakang ayahku. Aku ingin mereka melihat ku dengan hasil kerjaku sendiri. Dan aku merasa tidak berguna jika mencantumkan nama itu begitu saja; ungkap Axelle menjelaskan.
'' Baiklah, baiklah. Lalu, nanti malam kita akan malam bersama bukan? Kau bersama siapa kesini? '' tanya Renaldi, mulai membahas pertemuan mereka nanti malam.
'' Aku bersama sekretarisku, Nesya. Dad memintaku untuk pergi bersamanya. Karena Nesya sudah banyak tahu tentang tugas-tugas apa saja yang perlu aku kerjakan nanti; ujar Axelle santai.
'' Nesya? Sekretarismu yang seksi itu bukan? Ok, baiklah; imbuh Rivaldi menarik kedua sudut bibir melemparkan senyum tipisnya.
'' Dan Uncle sendiri bersama siapa? '' tanya Axelle tanpa menghiraukan pertanyaan Rivaldi tantang Nesya.
'' Ya, tentu saja aku bersama Gio sekretarisku serta menantuku. Kelak ia yang akan menjalankan perusahaan ini, jika menantuku sudah lebih baik. Dan maybe ia akan membawa sekretarisnya; tutur Rivaldi.
'' Baiklah; jawab Axelle singkat tanpa basa-basi.
•
Sementara di Mansion Grandville.
Anak laki-laki nan tampan baru saja bangun dari tidur nyenyaknya. Ya, siapa lagi kalau bukan Arsenio.
Anak kecil nan menggemaskan itu. Ia bergegas turun ke lantai utama hendak menuju dapur, dan mendapati Grandma nya disana sedang membuat cemilan kesukaannya itu.
'' Good morning Grandma; sapa Arsenio dengan suara serak khas bangun tidur, sembil memeluk pinggang Reva, Sang Grandma.
'' Hai, cucu kesayangan Grandma, morning too; balas Reva sebari mengecup lembut puncak kepala sang cucu tampannya.
'' Apa semalam tidur dengan nyenyak sayang? Oh iya Grandma lagi membuat puding dan kue camilan kesukaan Arsenio; ujar Reva tersenyum lembut. Namun anak itu malah melihat ke sekeliling dan tidak mendapati Mommy nya.
'' Grandma, apakah Mommy sudah berangkat bekerja lagi? '' tanyanya lesu dan tertunduk. Reva yang sangat mengerti akan perasaan cucunya ini merasa iba dan tak tega ketika melihat raut kesedihan dari wajah tampan cucu kesayangannya ini.
'' Iya sayang, Mommy Arsenio sudah berangkat ke kantor bersama Grandpa beberapa menit yang lalu, dan Mommy masih ada pekerjaan yang belum selesai Nak ; jawab Reva menjelaskan, juga memberi pengertian sambil membelai lembut rambut hitam bergelombang sang cucu.
''Tapi Grandma, Mommy akan pulang? Dan makan malam bersama dengan kita kan?'' tanya Arsenio penuh harap, dengan bibir gemetar juga terlihat matanya mulai berkaca-kaca. Ia mulai mengerti sepi tanpa Mommynya.
Kemudian Reva menjelaskan pada sang cucunya itu yang sudah mulai banyak bertanya.
'' Sini sayang, ikut Grandma; Reva menggenggam tangan mungil Arsenio membawanya menuju ruang makan dan duduk di kursi.
Sesampainya disana, Reva menaikkan tubuh gembul sang cucu di atas pangkuannya, merapikan anak rambut dan mengelus lembut pipi gembul Arsenio. Menatap lekat wajah tampan cucunya yang sangat mirip dengan Alvaro kecil.
'' Tadi Grandpa Arsenio bilang sama Grandma, kalau mereka akan terlambat pulang. Jadi untuk sementara kita akan makan malam berdua lagi malam ini. Kalau tidak kita makan malam bersama dengan semua para pelayan di Mansion ini? Jadi kita makan beramai-ramai, bagaimana Arsenio mau kan? Ucapnya lembut penuh antusias untuk menghibur cucunya.
'' Tidak! Aku tidak mau Grandma. Arsenio hanya ingin bersama Mommy! Tolaknya penuh penekanan." Kali ini air mata Arsenio terjun bebas dari kedua mata bulatnya membasahi pipi gembulnya sambil memeluk erat sang Grandma, Reva.
Reva ikut menetes kan air matanya. Ia tak kuasa melihat cucunya menangis seperti saat ini.
Akhirnya Reva mendiamkan Arsenio bermaksud memberi kepuasaan untuk menumpahkan air mata dalam pelukan hangatnya.
Menit kemudian setelah tak terdengar isak tangis sang cucu, Reva memanggil salah satu maid, lalu menyerahkannya untuk diurus segala keperluannya Arsenio. Sementara Reva bergegas menghubungi Renaldi, suaminya lewat benda pintarnya itu.
.
.
Masih berada di kantor, tepatnya ruang kerja. Saat Rivaldi dan Axelle masih bercakap-cakap tiba-tiba saja ponsel milik Rivaldi bergetar di saku jasnya.
Derrtt!!
Rivaldi merogoh saku jasnya terlihat nama sang istri di layar ponselnya itu.
'' Xell, Uncle angkat telepon dulu sebentar, dari Ibu Negara; ujarnya, dan hanya dibalas dengan anggukan oleh Axelle. Tanda mempersilahkan Rivaldi untuk mengangkat teleponnya.
'' Halo Honey; sapa mesra pada sang istri, disebrang telepon. '' Ada apa hem? tanya Rivali.
'' Sayang, cucumu, Arsenio. Baru saja bangun dari tidurnya, dan dia menangis menanyakan Aleesya dan ingin makan malam bersama Mommy nya. Aku tidak tega sayang meliat dia menangis. Kau tahu cucu kita sudah semakin besar dan pintar, dia sudah merasakan sepi karena orang tuanya tidak berada di sampingnya; ucap Reva dengan nada melemah di seberang sana.
Rival masih terdiam, ia mendengarkan penjelasan istrinya, Reva , tanpa memotong pembicaraannya.
Di Dalam hatinya Rival , ia pun tidak tega setiap melihat cucunya seperti itu. Namun harus bagaimana lagi, ini semua yang dilakukan Aleesya, demi masa depannya kelak.
'' Ya-ah baikalah Honey, setelah pekerjaan Aleesya selesai aku akan menyuruhnya dia pulang menemani Arsenio. Untuk nanti malam biar aku dan Gio saja yang pergi; ujar Rival penuh pengertian.
'' Terima kasih sayang, maaf aku sudah mengganggu waktumu, juga ikut campur dalam urusan pekerjaanmu, tapi mau bagaimana lagi, sungguh aku tidak tega melihat Arsenio terus-terusan seperti ini sayang; sesal Reva.
'' It's okay, istriku. Baik, untuk sementara temanilah cucu kita sampai Aleesya pulang dari pekerjaannya. Dan aku akan menemui Aleesya ke ruang kerjanya; ujar Rival sambil mengakhiri percakapan mereka di sabungan telepon.
Sementara Axelle yang masih setia duduk di sofanya sempat mendengar percakapan Rival sekilas. Dan pria itu mengerutkan kening tegasnya sejenak. '' Ada masalah kah Uncle? tanya Axelle.
Rival mengalihkan pandangan ke arah Axelle dan kembali mendaratkan bokongnya di atas sofa single nya itu.
'' Tidak, hanya saja cucuku rindu dengan Mommynya. Ini juga kesalahan Uncle, Uncle terlalu memaksa Mommynya bekerja terlalu keras sampai Uncle lupa dia juga punya tanggung jawab terhadap keluarganya sendiri. Aleesya juga tidak pernah mengeluh atau protes kepada Uncle. Dia selalu menurut, walaupun Uncle tahu dia lelah dengan semuanya; imbuh Rival menjelaskan dengan pandangan sendu dan menyiratkan penyesalan.
'' Kau melakukan yang terbaik Uncle. Kau bukan hanya sekedar memaksa menantumu, tapi juga ingin memastikan keadaan mereka benar-benar terjamin kelak. Jangan terlalu menyalahkan dirimu, Uncle; hibur Axelle.
Rival tersenyum tipis. '' Terima kasih Axelle; Dan maaf, nanti malam sepertinya hanya Uncle dan Gio sekretarisku saja yang akan menghadiri perjamuan makan malam. Menantuku tidak bisa ikut.''
'' It's okay, tidak apa-apa Uncle! Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu. Sampai ketemu nanti malam; ucap Axelle sambil mengulurkan tangan besarnya untuk berjabat. Setelah pamit dari hadapan Rival, Axelle melangkah kan kaki lebarnya dan meninggalkan perusahaan sahabat ayah nya itu.
Tak lama di susul Rival keluar dari ruangannya untuk menuju ke ruang menantunya, Aleesya.
***
Menit kemudian. Sesampainya di depan ruangan Aleesya, Rivaldi tidak melihat Selly di meja kerjanya, ia sudah bisa menebak kalau Selly ada di dalam bersama Aleesya. Dengan pelan Rivaldi mengetuk pintu ruangan Aleesya beberapa kali. Walaupun Rivaldi sendiri yang memiliki perusahaan itu, ia tetap menjaga etikanya sekalipun ke bawahannya. Tidak semena-mena untuk masuk ke ruang kerja orang lain. Itulah yang membuatnya semakin menjadi di segani para karyawannya. Hal-hal yang kecil yang tidak semua pemimpin perusahaan lakukan.
Sedangkan dari dalam, Aleesya terlihat sibuk menandatangani berkas-berkas di atas meja miliknya itu. Dan di bantu oleh Selly membuka tiap-tiap lembar berkas tersebut.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kembali terketuk oleh Rivaldi. '' Masuk; saut Alessya dari dalam tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang berada ditangannya.
Kemudian Rivaldi membuka pintu ruangan Aleesya ketika mendapatkan jawaban dari dalam oleh pemiliknya.
'' Permisi Nyonya muda Grandville! Bisakah saya masuk? '' gurau Rivaldi sambil mengulum senyum di bibirnya.
Aleesya terkekeh ketika mendapatkan perkataan manis dari ayah mertuanya itu. Dengan segera Aleesya menghentikan aktivitasnya dan menyimpan penanya di atas meja kerjanya. Pun dengan Selly, ia tersenyum ramah dan sedikit menganggukkan pelan kepalanya tanda memberi hormat pada Rivaldi.
''Silahkan masuk Dad; ujar Aleesya mangkat bokong nya dari kursi kebesaran nya itu. Kaki jenjangnya melangkah pelan ke arah sangat Ayah Mertua. '' Duduk Dad; kembali.
''Ada yang bisa aku bantu Tuan besar Grandville? Balas Aleesya, membalas gurauan Ayah mertuanya, Rivaldi. Sejenak, Rivaldi menatap Aleesya sebentar setelahnya mereka bersama.
Menit kemudian. Keduanya sudah duduk di atas sofa, sementara Selly tetap dengan posisinya, yaitu berdiri di samping Aleesya.
''Dad ingin berbicara sebentar denganmu, Nak; ujar pria paruh bayah itu. Selly yang berdiri di samping Aleesya, mengetahui keseriusan di antara kedua Bosnya bergegas meninggalkan ruangan itu.
''Permisi Tuan, Al; pamit Selly pada keduanya, kemudian keluar dan menutup rapat pintu ruangan Aleesya dari luar.
Detik kemudian. Rivaldi mulai membuka suara baritonenya. ''Begini Nak, untuk jamuan makan malam nanti biar Dad dan Gio saja yang pergi. Sementara kamu, pulanglah jika pekerjaanmu itu sudah selesai; ujar Rivaldi langsung pada inti kedatangannya ini. Sejenak Aleesya melipat sedikit keningnya bingung.
''Ke -Kenapa begitu Dad? tanya Aleesya terbata. Sebab ia takut kalau ada kekurangan atau melakukan kesalahan dalam pekerjaan yang membuatnya tidak perlu ikut.
''Tidak apa-apa. Tadi Mommy mu menghubungi Dad. Arsenio bangun tidur dan menangis karna dia rindu dengan Mommy nya dan ingin makan makam bersamamu ; ucap Rivaldi hati-hati.
Seketika tubuh Aleesya melamas dan pandangannya mulai sayu. Ia ingat hampir sebulan ini bahkan ia tidak pernah lagi makan malam bersama putranya, Arsenio karena kesibukan nya.
Dan Rivaldi menyadari akan tatapan perempuan di hadapannya ini yang sudah memberinya seorang cucu laki-laki tampan nan gemaskan. Detik kemudian Rivaldi langsung berkata.
''Maafkan Daddy, Aleesya; Dad terlalu keras memaksamu bekerja, sampai Dad lupa kau juga mempunyai tanggung jawab dalam keluargamu. Yaitu memberi perhatian pada Arsenio cucu kami. Dan hanya kau orang tua satu-satunya yang saat ini dia miliki. Dad melakukan ini semua bukan tanpa alasan, tentu kau tahu bukan? Dad melakukan ini untuk masa depanmu dan Arsen. Karena Dad juga ingin kau diterima di dunia bisnis, bukan karena kau adalah menantu Dad! Tapi karena hasil kerja kerasmu yang bagus dan kau layak diperhitungkan dalam dunia perbisnisan. Dad melihat kemajuanmu sangat baik, selalu meningkat setiap waktunya. Jika nanti kau sudah mengerti, kau pasti bisa menyelesaikan pekerjaanmu dari rumah dan memiliki banyak waktu luang bersama Arsen; ujar Rivaldi menjelaskan panjang lebar.
'' Yeah Dad, tidak apa-apa, aku mengerti. Justru aku sangat berterima kasih pada kalian. Dan bahkan apa yang kalian berikan padaku sejak pertama kita bertemu sampai hari ini, tidak sebanding dengan apa yang bisa aku berikan untuk kalian dan perusahaan ini. Aku hanya bisa bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh sebagai bentuk pengabdianku kepada mendiang suamiku, Alvaro; balas Aleesya mulai berkaca-kaca.
''Lalu, kenapa kau tidak pernah memproteskan Dad, Aleesya?'' tanya Rivaldi. Ya, Aleesya memang tidak mengeluh pada kedua mertuanya. Ia hanya akan mengeluh pada Selly sekretarisnya sekaligus sahabatnya itu.
''Tidak Dad. Jika aku melakukan itu, aku akan merasa egois jika memprotes mu, Dad; ujar Aleesya dengan senyum manis di bibirnya.
Rivaldi terenyuh oleh kata-kata menantunya ini. Ia sangat bersyukur memiliki menantu seperti Aleesya. Renaldi juga sangat mengasihi Aleesya, sikap dan tutur katanya tidak pernah tercela di hadapan Rivaldi dan Reva sejak pertama bertemu sampai masuk menjadi bagian dari keluarga Grandville. Walaupun menantunya itu besar di panti asuhan tetapi Aleesya sangat tahu tata krama. Rupanya ia dididik dengan begitu baik di sana.
''Baikalah, setelah semua pekerjaanmu selesai segeralah pulang. Nanti Dad akan meminta Jayden mengantarmu. Dan sebagai apresiasi, kau boleh libur selama 7 hari mulai besok. Apakah kau mau berlibur ke luar negeri ke tempat-tempat yang kau ingin datangi bersama Skylar untuk refreshing? Katakan mau ke mana, agar Dad meminta Gio mempersiapkan semuanya; tawar Rivaldi antusias sekaligus untuk menebus rasa bersalahnya pada Aleesya dan Arsen.
Aleesya tertawa kecil melihat bagaimana Ayah mertuanya ingin menebus rasa bersalahnya.
''Tidak perlu Dad; 7 hari adalah waktu yang cukup bagiku dan Arsen. Aku tidak ingin pergi ke mana-mana ataupun keluar negeri. Aku takut terlalu lelah dan itu malah membuat perjalanan kami yang harusnya jadi senang malah jadi tidak berkesan. Oh iya Dad, mungkin aku ingin mengunjungi panti tempat aku tinggal dulu, aku akan membawa Arsen dan Mom jika ia tidak keberatan. Aku merindukan panti itu! ''ujar Aleesya.
Ternyata pilihan Aleesya berbeda jauh dengan apa yang dibayangkan Rivaldi. Rivaldi semakin kagum akan sosok menuntunnya ini dan dengan segala kebaikan hatinya. Ia tidak pernah lupa dari mana ia berasal.
''Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Manfaatkan waktumu sebaik mungkin; balas Rivaldi seraya menggenggam tangan putih nan halus Aleesya penuh kasih sayang.
''Oh iya Dad, bolehkah aku mengajak Selly juga? Sebab aku yakin, dia pun butuh istirahat sepertiku! Ia bahkan lebih lelah dari aku! Karena selalu membantu mempersiapkan segala kebutuhanku. Dan aku tidak tahu bagaimana kalau tidak ada dia; pinta Aleesya lembut. Ya, Aleesya meminta pada ayah mertuanya untuk memberi Selly libur dari kerajaannya.
Rivaldi menganggukkan kepalanya, mengulum senyum di bibir tipisnya, dan mengatakan.
''Tentu saja boleh Nak! Nanti jika ada pekerjaan lain, Dad akan meminta Gio meng-handle nya untukmu; ujar Rivaldi hangat sebari menepuk- nepuk punggung tangan Aleesya dan melepaskannya.
''Terima kasih Dad; ucap Aleesya dengan senyum manis di bibirnya.
''Tidak, Aleesya! Di sini, Dad lah seharusnya yang berterima kasih. Kau memaafkan keegoisan Dad dan tidak mempermasalahkan itu. Terima kasih Aleesya; ujar Rivaldi kembali berterima kasih dan meminta maaf.
''Bersiaplah, jika suda selesai semua pekerjaan mu, segeralah kabari Dad, supaya Dad bisa langsung menyuruh Jay untuk mengantarkan mu pulang; Rivaldi mengakhiri percakapan mereka dan bangkit dari tempat duduk nya dan bergegas meninggalkan ruangan Aleesya.
''Baik Dad.''
Detik kemudian. Setelah Rivaldi pergi dari ruangan itu dan kembali ruang kerjanya. Tak lama Selly pun kembali masuk ke ruang Aleesya. Disana, Selly melihat tampak wajah Aleesya berseri-seri. ' Ini pasti ada sesuatu yang membuat hatinya senang seperti itu!? 'pikirannya.
''Aleesya ada apa? ''tanya Selly penasaran.
''Daddy mengizinkanku pulang setelah menandatangani semua berkas-berkas ini. Putraku merindukanku! '' kata Aleesya dengan senyum bahagia.
''Wah, syukurlah. Aku turut senang mendengarnya. Kalau begitu, ayo selesaikan dengan cepat agar kau bisa lekas pulang dan bertemu dengan Arsenio, putra tampan itu. Oh iya Al, sampaikan salamku padanya ya. Maaf aku tidak bisa kasih apa-apa, karena belum waktunya untuk keluar kantor bersantai dan ini masih jam kerja; jawab Selly.
''Kau juga akan ikut bersamaku, Sell; seru Aleesya tersenyum manis ke aras Selly.
''M-maksudnya?..; tanya Selly tidak mengerti sebari mengerutkan keningnya.
''Iya, Daddy memberi izin libur selama seminggu ke depan untuk kita. kamu juga pasti merindukan Arsen, kan? Maka dari itu, kita sama-sama pulang ke Mansion, dan kamu menginap di sana. Sebab besok aku akan ajak kamu ke Panti Asuhan tempat aku dibesarkan dulu. Aku tahu kau juga penat dengan pekerjaan yang menumpuk ini.'' Kekeh Aleesya.
''Aleesya, benarkah yang kamu katakan? Ujar Selly tak percaya.
''Yes, lagi pula untuk apa aku berbohong; jawab Aleesya.
''Terima kasih, Al.'' saut Selly, kemudian menggenggam lembut tangan sahabatnya itu.
''Sama-sama; Aleesya tersenyum manis.
Lalu setelahnya mereka melanjutkan penandatanganan berkas-berkas tersebut supaya bisa cepat pulang ke Mansion. Ternyata Selly lebih tidak sabar bertemu dengan Arsenio. Ia sudah memberi pesan pada Aleesya untuk mampir sebentar ke toko kue langganannya, ia ingin membelikan kue kesukaannya Arsenio sebagai buah tangan.
***