Bab 2

Aza mundur dan ternganga. Suara itu bukan teriakannya. Suara itu bukan suaranya. Aza menutup mulutnya dan mundur perlahan karena lampu itu ternyata adalah kepala-kepala manusia yang diawetkan sehingga bentuknya begitu kecil dan ketika Aza mendekatinya, kepala itu membuka mulutnya dan berteriak keras. Ketika berteriak cahaya terpancar dari dari kepala manusia kecil itu.

Mengerikan sekali. Teriakan itu terus terdengar. Suaranya seperti orang yang kesakitan dan sangat sedih. Aza menutup telinganya karena ketakutan dan juga merasa ikut merana mendengar teriakan itu.

"Aaaarrrgghhh! Hentikan!" teriak Aza panjang. Dia benar-benar ingin teriakan itu berhenti dan ... dan setelah Aza berhenti berteriak suasana menjadi sangat hening, sepi dan sangat mencurigakan.

Aza memejamkan matanya erat-erat. Dia sepertinya tahu apa yang terjadi, tetapi dia takut membuka matanya.

"Aza! Aza!"

Ah, suara itu. Suara itu sangat dikenali Aza, entah suara siapa, Aza tidak yakin, dan Aza yakin sekarang dia pasti sudah kembali ke kamarnya atau bahkan selama ini dia masih berada di kamarnya. Ah, selalu begitu. Ketika Aza mendengar suara orang melangkah dan ular melata, pasti akan ada orang yang meninggal, entah tetangganya, entah saudaranya. Kemudian setelah itu, Aza akan mengalami mimpi buruk. Mimpi yang selalu sama. Yaitu Aza kecil pergi ke pasar setan dengan almarhumah ibunya. Dan setelah itu Aza akan tersadar di tempat yang tidak diduganya. Biasanya di tempat yang berbeda dengan tempatnya tidur tadi.

"Mbak Aza bisa mendengar ustadz?"

Aza terlonjak kaget. Dia mendengar suara yang baru dan belum pernah didengarnya. Akhirnya Aza membuka matanya perlahan.

Seketika cahaya membanjiri mata Aza, dan memaksa Aza untuk menutup matanya kembali.

"Alhamdulillah, Mbak Aza sudah bangun?" Suara itu begitu merdu merasuki telinga Aza. Ah, suara itu begitu menenangkan dan menyejukkan hati. Sehingga akhirnya Aza memutuskan untuk membuka matanya lagi.

Aza melihat dua orang wanita berjilbab besar tersenyum pada Aza. Wanita itu terlihat sangat ramah dan menenangkan. Aza tersenyum dengan wajah bingung.

"Saya di mana?" tanya Aza perlahan. Dua wanita itu berpandangan, wajah mereka nampak panik.

Aza berdeham.

"Saya di mana?" tanya Aza lagi. Kali ini dia memandang kedua wanita itu dengan wajah yang juga panik. Kedua wanita itu tidak memperhatikan Aza dan malah menoleh ke arah dua orang pria di belakang mereka. Kedua pria itu memiliki rambut panjang dan berjenggot panjang dan tebal.

Rasa takut mulai merambati punggung Aza ketika Aza mencoba memanggil mereka berempat dan mereka berempat menoleh ke arah Aza dengan pandangan takut dan waspada.

"Kasihan sekali," kata salah seorang pria, "nampaknya ada yang membuatnya tak bisa bicara."

Aza membeliak tak percaya. Dia tidak bisa bicara? Bukankah tadi dia menanyakan di mana dia berada? Atau bahasa mereka berbeda? Tetapi Aza bisa memahami apa yang mereka katakan, berarti bahasa mereka sama, kan?

Kepanikan melanda Aza. Wajahnya pucat pasi, karena Aza menyadari bahwa perkataan pria tadi benar. Dia pasti tidak bisa bicara! Napas Aza nampak tersengal dan sesak. Mereka berempat segera mendekati Aza.

"Mbak Aza! Istighfar dulu, Mbak! Tenangkan diri dulu! Ini semua adalah tipu daya jin belaka. Jangan terpancing! Istighfar dan tenangkan diri dulu, njih, Mbak?" Salah satu pria berambut panjang itu mengambil HPnya dan memberikan pada Aza.

"Mbak Aza bisa mengetikkan apa yang Mbak Aza inginkan di sini," kata pria itu, kemudian dia memberikan HPnya kepada Aza sambil tersenyum. Secara tidak sadar Aza juga ikut tersenyum, karena senyum pria itu ramah dan agak sedikit lucu.

"Mbak Aza bisa mendengar kami?" Aza mengangguk.

"Alhamdulillah. Silahkan tuliskan apa yang terjadi, ya, Mbak?"

Aza nampak bingung. Dia memandang pria ramah itu. Kemudian mengetik di HP pria itu dan memberikan HPnya pada sang pria.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya lupa." Pria itu membaca ketikan Aza di HPnya. Mereka berpandangan dengan kebingungan yang nampak jelas di wajah mereka.

"Sepertinya kita harus bicara sebentar, Mas Naim," kata pria berambut panjang yang lain dan mereka berempat berbisik-bisik di sudut ruangan itu beberapa saat. Tak lama kemudian kedua wanita itu kembali kepada Aza dan dua pria berambut panjang tadi keluar ruangan tempat Aza berbaring.

Aza baru menyadari kalau dia tidak berada di rumah sakit. Dia berada di sebuah kamar yang nyaman, bersih dan wangi. Mungkin rumah seseorang yang menolong Aza.

Wanita itu tersenyum pada Aza. Aza terkejut, karena ternyata kedua wanita itu wajahnya hampir mirip, mungkin mereka bersaudara.

"Mbak Aza, kalau Mbak Aza tidak lelah, kami minta tolong Mbak Aza untuk menuliskan mimpi buruk yang Mbak Aza alami, ya? Nanti kami akan minta orang yang menemukan Mbak Aza bercerita kepada kita," kata wanita yang lebih tinggi. Wanita satunya mengangguk. Aza mengangguk. Dia buru-buru mengetik di HP yang diberikan wanita itu padanya.

[Saya di mana? Mbak berdua namanya siapa?]

Wanita itu menerima HPnya dengan agak heran dan membaca pesan Aza tadi. Wanita itu tersenyum.

"Mbak Aza sekarang berada di Karang Legi. Tepatnya Pesantren Ruqyah Karang Legi. Nama saya Asma dan ini sepupu saya, Mbak Salma," jawab wanita berparas cantik dan lembut itu. Aza tersenyum mendengarnya. Dugaannya benar, mereka bersaudara. Aza kemudian mengangguk dan meneruskan menuliskan cerita mimpi buruknya tadi di HP wanita bernama Asma itu.

Tiba-tiba tangan Aza bergetar sendiri. Dia tidak bisa mengendalikan gerakan tangannya. Aza menelan ludah ketakutan. Dia tidak bisa memegang HP milik Asma. HP itu terlepas dari pegangannya dan entah kenapa dia tiba-tiba berdiri di ranjangnya dan sangat ingin melarikan diri.

Kedua wanita itu berusaha memanggil dan memegangi Aza. Sepertinya mereka ingin menenangkan Aza, tetapi sepertinya Aza terlalu liar dan Aza mulai berteriak-teriak sendiri.

Pintu kamar itu terbuka. Aza menjerit tertahan, dia melihat sosok pria yang sangat ditakutinya.

****

Bab 3

Aza menjerit terus dan dia merasa ada yang akan keluar dari perutnya. Aza merasa begitu mual. Dia begitu takut dan khawatir dia akan muntah di atas ranjang, sehingga dia segera melompat turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi kecil yang ada di ujung ruangan itu. Untunglah Aza masih sempat berlari dengan cepat, sehingga dia bisa mengeluarkan semua isi perutnya di kamar mandi.

Setelah itu Aza merasa begitu lega. Dia merasa sangat ringan ketika berdiri, seperti melayang dan terjatuh ketika keluar dari kamar mandi.

"Tolong!" Aza sangat ingin berteriak tetapi dia hanya bisa berbisik pelan dan akhirnya menyerah dalam kebingungan dan ketakutan.

****

Aza terbangun dengan tubuh yang segar, tetapi masih dalam selimut kebingungan. Dia benar-benar tidak tahu kenapa dia bisa sampai ke Karang Legi, tempat yang sangat jauh dari rumahnya. Bukankah kemarin dia hanya membuka pintu kamarnya setelah mendengar suara langkah kaki dan suara ular melata itu? Oh, ya, dia juga merasakan embusan angin dingin itu di wajahnya dan ... dan tiba-tiba saja dia sudah berjalan-jalan di pasar setan dan dia melihat lampu itu! Oh, lampu mengerikan itu!

Aza membayangkan bagaimana lampu berwujud kepala manusia yang begitu kecil itu membuka mulutnya dan mengeluarkan suara teriakan yang begitu keras. Sama sekali tidak sepadan dengan ukuran kepala itu. Aza merinding dan gemetaran mengingat rasa sakit yang bisa didengarnya dari suara itu. Aza terbangun sepenuhnya, dia mendelik kaget ketika menyadari bahwa kepala kecil itu masih hidup, karena kepala itu bisa berteriak, kan? Kalau kepala itu sudah diawetkan bagaimana mungkin kepala itu bisa berteriak merana seperti kemarin atau tadi atau kapan? Aza benar-benar bingung.

Aza berteriak frustasi. Dia panik, takut dan tidak mau harus melakukan apa. Bayangan kepala kecil yang membuka mulutnya dengan penuh rasa sakit itu. Aza bisa mengingat detail kerutan di sekitar mulut dan mata kepala kecil itu.

Aza menjerit panjang ....

****

Fiki menghela napas kesal. Dia membiarkan wanita muda bernama Aza itu menjerit dan berteriak lagi. Fiki menunggu saat yang tepat untuk meruqyah Aza dan kemudian meminta bantuan seorang ustadzah untuk membaringkan Aza di ranjangnya lagi.

Sejak Fiki memasuki ruangan itu kemarin, Aza langsung menunjukkan reaksi penolakan dan sudah berteriak-teriak histeris pada Fiki. Reaksi yang wajar dan sering ditemui Fiki ketika meruqyah pasien yang kerasukan dan diganggu jin, yang sepertinya takut melihat dan bertemu peruqyah seperti dirinya.

Fiki tersenyum ketika melihat Aza sudah berbaring dengan tenang. Mata Aza nampak sudah meredup dan tidak lagi membeliak liar seperti kemarin. Aza nampak memandang Fiki dengan keheranan.

"Bapak siapa?" tanya Aza.

"Saya Fiki, Mbak Aza. Mbak Aza sudah baikan?" tanya Fiki.

Wajah Aza nampak bingung, dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan Salma mendekatinya sambil tersenyum bahagia.

"Ah, Mbak Aza sudah bisa bicara lagi. Alhamdulillah. Mbak Aza masih ingat dengan apa yang terjadi kemarin, Mbak?" tanya Salma. Aza nampak mengerjapkan matanya dan mengangguk.

"Saya kemarin tidak bisa bicara. Sekarang apakah Mbak Salma bisa memahami apa yang saya katakan?" tanya Aza. Salma mengangguk.

"Ya, Mbak. Insya Allah saya dan kami semua sudah memahami apa yang dikatakan Mbak Aza. Insya Allah Mbak Aza sudah sembuh, njih, Mbak?" kata Salma dengan mata berkaca-kaca dan kemudian memeluk Aza. Fiki melihat dan menunggu dengan sabar, kadang Salma --istrinya-- memang mudah terbawa perasaan, itulah kenapa Fiki tidak memperbolehkan Salma ikut meruqyah dengan ustadzah yang lainnya.

Setelah tenang, kemudian Fiki meminta Aza untuk menceritakan apa yang terjadi kemarin. Cerita Aza sama dengan cerita dari Asma dan Salma. Semua klop.

"Mbak Aza sering merasa mendadak mengantuk dan kemudian bermimpi buruk seperti ini?" tanya Fiki. Aza mengangguk.

"Semenjak kapan, Mbak?" tanya Fiki lagi. Aza nampak berpikir keras dan kemudian menggelengkan kepalanya.

"Saya tidak ingat, Ust, tetapi sepertinya sudah cukup lama. Mungkin sejak saya masih kecil," kata Aza, "pokoknya setiap saya mendengar suara orang melangkah persis di depan pintu kamar saya dan suara ular melata yang menurut saya mengikuti langkah kaki orang itu, pasti akan terjadi dua hal. Yang pertama akan ada orang yang meninggal dan yang kedua saya akan bermimpi buruk lagi dan terbangun di tempat yang berbeda dengan tempat saya tidur tadi. Selalu seperti itu, Ust."

Fiki mengangguk. Dia nampak berpikir, tetapi kemudian Fiki tersenyum lebar.

"Mbak Aza istirahat dulu, njih? Nanti kalau sudah benar-benar sehat dan kuat, kita akan bicara lagi," kata Fiki dan meminta Asma dan Salma untuk membantu Aza. Fiki kemudian keluar dari ruangan itu dengan selaksa kebingungan di kepalanya.

****

Aza masih takjub dengan ustadz yang tadi menemuinya. Ustadz itu memperkenalkan diri sebagai Fiki dan matanya ... oh, mata ustadz itu membuat Aza merinding. Mata Fiki yang berbeda warnanya dan seperti transparan itu, seakan menghunjam masuk ke dalam sanubari Aza. Mata itu seakan bisa tahu apa yang disembunyikan Aza, sehingga Aza merasa takut untuk berbohong.

Ketakjuban Aza bertambah ketika melihat mata yang sama pada seorang anak lelaki yang digandeng oleh Fiki memasuki sebuah ruangan luas pada keesokan harinya. Anak lelaki itu memiliki warna mata kanan dan kiri yang berbeda, seperti warna mata Fiki dan wajah mereka juga mirip. Aza yakin bahwa mereka adalah anak dan bapak.

Anak lelaki itu memandang Aza lekat, membuat Aza risih dan akhirnya Aza menunduk dalam-dalam. Kemudian kedua wanita yang masih diingat Aza bernama Asma dan Salma masuk ke dalam ruangan bersama dengan seorang wanita setengah tua yang agak bungkuk. Aza mengerjapkan matanya beberapa kali. Wanita itu ... wanita itu, kan yang hendak menolongnya ketika dia jatuh di pasar setan!

****

"Astaghfirullah!" desis Fiki sambil mencebik, "ada apa dengan dia sebenarnya? Kenapa masih saja diganggu oleh jin?" tanya Fiki dengan sebal ketika Aza mulai menjerit lagi dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan kesal ketika melihat wanita yang menolong dan membawa Aza ke Pesantren Ruqyah kemarin. Aza berteriak dengan menggunakan bahasa yang tidak dimengerti semua orang. Kadang hanya seperti geraman atau dengusan saja.

Mereka semua berpandangan kebingungan.

"Sepertinya saya sudah pernah melihat ajian yang membuat orang mengantuk dan tiba-tiba tertidur seperti Mbak Aza ini, njih, Ust?" tanya seorang pria berambut panjang yang duduk di samping Fiki.

Fiki mengangguk.

"Ya, Ust. Benar sekali. Saya dan Ustadz Iqbal pernah meruqyah kasus serupa ini di Karang Pandan, Ust," jawab Fiki.

Sekarang semua mata memandang ke arah Fiki. Pria lain yang juga berambut panjang mengerutkan keningnya.

"Kalau tidak salah nama ajian itu adalah Kunci Lathi, kan, Ust?"

"Njih, Mas Naim. Betul sekali. Nama ajian itu adalah Kunci Lathi."

****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED