Amira Suwito POV:
"Pulanglah, Nak." Suara ibu terdengar sangat lembut di telepon, tapi mataku bisa merasakan kekhawatiran yang mendalam di baliknya. "Rumahmu di Yogya, Amira. Biar kamu tidak sendirian lagi." Kata-kata itu menusuk, mengingatkanku pada kesendirian yang kurasakan di Jakarta.
Aku terdiam, memegang ponsel erat-erat. Jari-jariku mengusap bibir cangkir teh yang sudah dingin. Haruskah? Haruskah aku kembali? Keraguan memenuhi benakku, seperti kabut tebal yang menghalangi pandangan. Jakarta adalah kota impian, tapi kini terasa seperti sangkar yang menyesakkan.
Orang-orang mengenalku sebagai Amira Suwito, seorang koki berbakat yang meninggalkan karier cemerlangnya untuk mendukung pacarnya. Tapi di kampung halaman, aku lebih dikenal sebagai cucu Nenek Suwito, pewaris warung gudeg legendaris di Yogyakarta. Rahasia yang kusimpan rapat, bahkan dari Galih.
Nenek selalu bilang, "Dapur bukan hanya tempat memasak, Mir. Dapur adalah hatimu." Aku selalu percaya itu. Dulu, aku bermimpi membuat nama sendiri di dunia kuliner, bukan hanya sebagai koki, tapi sebagai pemilik restoran yang sukses. Namun, mimpi itu terkubur dalam-dalam demi mimpi Galih.
Faktanya, aku adalah seorang pengacara. Lulusan terbaik dari fakultas hukum, yang seharusnya bekerja di kantor firma hukum internasional, seperti orang tuaku. Tapi aku mencintai memasak. Aku mencintai suasana dapur. Dan aku mencintai Galih.
Selama bertahun-tahun, Galih dan aku adalah pasangan idaman di mata banyak orang. Koki berbakat dan fotografer fesyen yang ambisius. Kami adalah inspirasi bagi banyak orang, simbol cinta yang saling mendukung. Mereka tidak tahu betapa rapuhnya kami di balik layar.
Aku memejamkan mata, membiarkan kenangan pahit itu membanjiri. Setiap janji yang diucapkan, setiap pengorbanan yang kubuat, setiap kali Davina muncul di antara kami. Aku sudah lelah. Lelah berpura-pura semuanya baik-baik saja. Lelah menjadi prioritas kedua, atau bahkan ketiga.
"Baik, Bu," kataku akhirnya, suaraku masih serak tapi kini dipenuhi tekad. "Aku akan pulang." Keputusan itu terasa seperti beban berat yang terangkat dari pundakku. Aku akan kembali ke rumah, ke tempat di mana aku menemukan diriku dulu.
Senyum lega terukir di wajah Ibu. Ia menghela napas panjang, seolah bertahun-tahun kekhawatiran akhirnya terlepas. Ayah mengambil alih telepon, suaranya lebih tegas. "Bagus, Nak. Itu keputusan terbaik. Kami akan selalu ada untukmu." Aku mendengar kelegaan di suaranya.
"Kami tidak akan membiarkanmu menderita lagi, Amira," janji Ayah, suaranya bergetar. "Tidak akan lagi." Kata-kata itu menghangatkan hatiku yang beku, mengingatkanku bahwa ada tempat di mana aku selalu dicintai tanpa syarat. Sebuah tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri.
Aku mematikan telepon dan menatap sekeliling apartemen. Sunyi. Hampa. Bayangan Galih, tawa kami, janji-janji yang pernah terucap, seolah menghilang ditelan kegelapan. Hanya aku dan kesunyian ini.
Ponselku berdering. Notifikasi Instagram. Davina mengunggah foto. Dia dan Galih. Berpelukan erat di sebuah kafe. Caption-nya: "Terima kasih untuk selalu ada di saat aku rapuh. Kamu memang pahlawanku, @GalihPalgunadi." Tanganku gemetar. Seluruh tubuhku terasa dingin.
Bukan hanya itu. Ada komentar dari teman Davina: "Kalian berdua serasi banget! Kapan resmi?" Davina membalasnya dengan emotikon malu-malu dan hati. Mataku terasa panas. Mereka tidak peduli dengan perasaanku. Tidak peduli dengan keberadaanku.
Aku merasa mual. Perutku bergejolak, seolah ingin memuntahkan semua kepahitan yang kutelan selama ini. Kepala berdenyut semakin hebat. Aku menutup mata, mencoba mengusir gambar itu dari benakku, tapi percuma.
Galih tidak akan pulang malam ini. Aku tahu itu. Sudah berapa kali ini terjadi? Terlalu sering untuk diingat. Dia selalu punya alasan, selalu punya Davina. Aku terlalu mengenalnya.
Satu-satunya hal yang bisa kusesali adalah, mengapa aku tidak pernah melihat ini sebelumnya? Mengapa aku membiarkan diriku terluka sejauh ini? Beruntung, kami belum menikah. Beruntung, belum ada ikatan hukum yang mengikatku pada pria tak setia itu.
Aku bangkit. Melangkah ke meja kerjaku, mengambil pulpen dan selembar kertas. Aku akan mengosongkan meja kerjaku besok. Aku akan menulis surat pengunduran diri. Semua yang kumiliki di sini tidak lagi penting.
Keesokan harinya, di kantor Galih, langkahku terasa berat. Aku memegang amplop berisi surat pengunduran diriku. Tiba-tiba, sebuah suara familiar memanggil. "Amira!" Galih. Dia berbalik, senyumnya cerah.
Senyum itu... Senyum yang dulu begitu kucintai kini terasa menjijikkan. Aku melihatnya. Noda lipstik merah muda yang samar di kerah kemejanya. Aroma parfum Davina yang khas. Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya lagi.
"Davina bilang kamu minta aku jangan deket-deket dia lagi ya?" tanya Galih, nada suaranya terdengar jengkel. "Kenapa kamu kekanakan begitu, Mir? Dia hanya butuh bantuanku." Wajahnya menunjukkan kekesalan, bukan permintaan maaf.
Aku menatap matanya. Mata yang dulu selalu memancarkan cinta kini hanya memperlihatkan kebingungan dan kemarahan. Dia bahkan tidak tahu. Dia benar-benar tidak tahu apa yang telah dia lakukan padaku. Atau mungkin, dia memang tidak peduli.
Amira Suwito POV:
Aku mengabaikan Galih. Langkahku mantap, menuju ruang HRD. Tanganku gemetar saat menyerahkan amplop putih itu kepada Nona Rima. "Ini surat pengunduran diri saya," kataku, suaraku tegas dan tanpa keraguan.
Nona Rima menatapku dengan mata membulat. "Amira, kamu serius?" Dia adalah salah satu rekan kerja yang paling dekat denganku, yang tahu sedikit banyak tentang hubunganku dengan Galih. "Apa Galih tahu tentang ini?"
"Dia akan mengetahuinya," jawabku datar. Saat aku berbalik untuk pergi, sebuah tangan menyentuh lenganku. "Amira, jangan pergi!" Itu Rima. Matanya berkaca-kaca. "Kami akan merindukanmu. Kamu adalah koki terbaik di sini."
"Benar, Amira! Jangan pergi!" Suara lain menyahut, itu adalah Dimas, fotografer junior yang sering kubantu. "Kalau kamu pergi, siapa yang akan memasak makanan enak saat kita lembur?" Nada suaranya bercanda, tapi matanya menunjukkan kesedihan.
"Lagipula, bagaimana kamu bisa tahan dengan mereka berdua?" Rima berbisik, mendekat kepadaku. "Davina selalu menempel pada Galih seperti lintah. Dia bahkan memanggilnya 'Papa Galih' di depan semua orang kemarin! Itu sangat tidak sopan!" Aku hanya tersenyum tipis. Mereka tidak tahu apa-apa.
Saat itu juga, Davina muncul di ambang pintu, lengannya melingkar mesra di lengan Galih. Mereka berdua tersenyum lebar. Galih membawa sebuah kotak kecil berbalut pita merah di tangannya. "Davina, ini untukmu. Hadiah terima kasih karena sudah menemaniku bekerja hari ini," katanya manis.
Davina membuka kotak itu dengan mata berbinar. Sebuah jam tangan mewah, berkilauan. Harganya pasti puluhan juta. Hadiah yang sama persis seperti yang pernah dijanjikan Galih kepadaku saat ulang tahunku tiga tahun lalu, tapi tidak pernah terwujud.
"Oh, Sayang! Kamu tidak perlu repot-repot!" Davina berteriak kegirangan, tapi matanya melirik ke arahku dengan senyum kemenangan. "Aku hanya ingin membantu 'Papa Galih' kok." Dia sengaja menekankan kata 'Papa Galih'.
Rima mendengus. "Lihatlah dia," bisiknya padaku, rahangnya mengeras. "Sungguh menjijikkan!" Aku hanya diam, menatap kosong. Aku tidak merasakan apa-apa lagi.
"Amira!" Galih akhirnya memperhatikanku. "Kenapa kamu masih di sini? Bukankah kamu bilang mau pulang?" Nada suaranya terdengar tidak sabar.
Aku hendak menjawab, tapi Davina mendahuluiku. "Oh, Amira?" Davina tersenyum lembut, seolah dia adalah malaikat tanpa dosa. "Maaf ya, aku tidak tahu kalau kamu masih ada di sini. Aku tidak bermaksud mengganggu." Matanya menyiratkan ejekan.
"Dia tahu persis apa yang dia lakukan," Rima hampir meledak, tapi aku menahan lengannya. "Tidak apa-apa, Rima," kataku pelan, menggelengkan kepala. Aku tidak ingin membuat keributan. Aku hanya ingin pergi.
Aku menatap Davina. "Selamat bersenang-senang dengan hadiahmu," kataku, suaraku tenang, bahkan mungkin terlalu tenang. Aku bisa melihat sedikit kekecewaan di matanya. Dia mungkin mengharapkan aku marah, berteriak, merusak momennya. Tapi aku tidak akan memberinya kepuasan itu.
Dia mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak tahu kenapa kamu begitu dingin padaku, Amira," katanya, suaranya kini terdengar lebih manja. "Aku hanya ingin berteman denganmu. Bukankah kita semua bekerja di sini?" Oh, betapa naifnya dia berpikir aku akan mempercayai itu.
Galih menatapku dengan tatapan tajam. "Amira, jangan membuat masalah," bisiknya, menarik Davina lebih dekat. "Davina tidak bersalah. Kamu tidak perlu cemburu kepada semua orang yang dekat denganku."
Aku hanya tersenyum dingin. "Aku tidak marah, Galih," kataku, kini menatap matanya. "Aku hanya mengingatkanmu, aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Jadi, mulai sekarang, kamu tidak perlu khawatir Davina akan merasa tidak nyaman dengan keberadaanku."
Galih terdiam, matanya membelalak. "Apa?" Suaranya pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Ada sedikit kepanikan di wajahnya.
"Kamu mengundurkan diri?" Davina bertanya, nada suaranya mendadak ceria. "Oh, itu... itu sangat disayangkan. Aku harap kamu menemukan pekerjaan lain yang lebih baik." Dia memegang lengan Galih lebih erat.
"Aku tidak bisa percaya ini, Mir," kata Galih, suaranya kini lebih tinggi. "Bagaimana bisa kamu melakukan ini tanpa bicara padaku? Kita punya restoran yang harus dibangun!"
"Restoran itu," kataku, menunjuk ke arahnya dengan tangan yang sedikit gemetar, "adalah impianku. Bukan impianmu. Dan kamu sudah membatalkannya 52 kali. Aku sudah selesai." Aku menatap Rima dan Dimas. "Aku sudah mengakhiri hubungan ini secara sepihak. Aku tidak akan lagi menjadi tunangan Galih."
Rima dan Dimas saling menatap, shock. Galih terdiam, wajahnya pucat pasi. Dia tidak menyangka aku akan sejauh ini. Dia tidak tahu bahwa aku sudah merencanakan ini jauh sebelum dia membatalkan semuanya.
"Ini bukan lelucon, Galih," kataku. "Aku sudah muak dengan pembatalan pernikahan yang terus-menerus. Aku sudah muak dengan janji-janji kosongmu." Aku merasa beban berat terangkat dari pundakku.
Galih mencoba meraih tanganku. "Amira, tunggu! Kita bisa bicara. Jangan begini." Matanya memohon, tapi aku hanya merasakan kekosongan.
"Aku sudah bicara cukup banyak, Galih," kataku, menarik tanganku. "Aku sudah menunggu cukup lama." Aku melangkah ke mejaku, mulai mengemasi barang-barang pribadiku.
Galih mencoba membantuku, tangannya meraih beberapa barang. "Aku akan membantumu. Kita bisa bicara di rumah."
"Tidak perlu," kataku, mengambil kembali barang-barang itu dari tangannya. "Aku akan mengurusnya sendiri."
"Bagaimana kalau kita makan malam?" Dia mencoba lagi, suaranya terdengar cemas. "Aku akan membayarmu sebagai permintaan maaf. Kita bisa membahas semuanya."
Aku hanya menggeleng. "Tidak perlu." Aku menatap perhiasan kecil yang dulu kukira adalah cincin pertunangan kami. Sebuah gelang perak dengan ukiran nama kami.
"Gelang itu," kata Galih, menunjuk ke arah gelang di kotak perhiasanku. "Kamu tidak pernah memakainya lagi." Dia terdengar bingung.
"Aku menyimpannya dengan baik," kataku, berbohong. Aku tidak akan pernah memberitahunya bahwa gelang itu, bersama dengan kalung liontin hati, sudah berada di tempat sampah.