Bab 2

Rianti melahirkan bayi tanpa di dampingi sang suami.

Menjelang subuh telah lahir seorang bayi laki-laki dengan berat dua koma delapan, kulitnya bersih dengan rambut yang hitam pekat.

Mas Bambang dan istrinya mbak Ida mengantarkan di Bidan desa. Hanya sekitar satu kilometer dari rumahnya.

Pagi itu terasa dingin sekali, mengingatkan mas Bambang beberapa tahun yang lalu ketika mengantarkan istrinya, tetapi kali ini perempuan yang akan melahirkan adik kandung mas Bambang.

Mas Bambang mendengar tangisan bayi dari dalam ruangan bersalin.

Bidan,"Alhamdulillah anak ibu laki-laki, bapaknya mana?"

Mas Bambang sudah ada di dalam ruangan, mereka bertiga serempak mengucapkan,

"Alhamdulillah"

Mas Bambang mendekati bayi yang baru lahir di dekat telinga sebelah kanan untuk melantunkan adzan dan iqomah sebelah kiri.

"Bayimu sehat loo Rin, semoga besuk menjadi anak yang sholeh."

"Iya pak dhe, matur nuwun doanya."

"Hidungnya mancung loo Rien," mbak Ida ikut komentar.

"Iya pa mbak." Rianti ikut memperhatikan juga.

Sementara Mas Bambang bergegas pamit pulang.

"Pak dhe, pulang dulu ya, biar mbak mu yang temani."

"Iya pak dhe," Dalam hati Rianti merasa bersalah di saat seperti ini akhirnya kakaknya juga yang repot.

Tapi semua sudah berjalan normal seperti tidak ada masalah. Mas Bambang juga tidak pernah membahas tentang kepergian mas Bayu.

"Obatnya tiga kali sehari ya bu, kalau ada keluhan bisa hubungi saya." Kata Bidan.

"Makasih bu Bid," Rianti bersyukur proses persalinan berjalan lancar, secara normal.

Di hari ketiga Rianti dan bayinya sudah boleh pulang, ibu dan bayi dalam keadaan sehat wal afiat.

"Sisa tabungan ku cukup untuk beli dua ekor kambing untuk aqigoh di hari ketujuh." Rianti lihat tabungan.

"Biar besuk minta tolong pak dhe saja beli kambingnya." Rianti masih berdialog sendiri.

"Biasanya mas Bambang sudah ada pandangan kambing dari kampung sebelah, jadi bisa mendadak." Rianti sudah merasa cukup tenang.

Kebahagian itu tidak terlepas dari keberhasilan Rianti melewati hari-hari tanpa suami sampai proses kelahiran anaknya.

"Mas Bayu sudah benar-benar melupakan kelahiran anaknya sebenarnya dia juga sudah tahu hitungan bulan kelahiran, tapi mungkin lupa atau lagi sibuk," sekelumit pertanyaan yang bersarang di kepala Rianti.

"Tapi mengapa nomornya sudah tidak aktif lama ya? barangkali hape nya rusak atau hilang, jadi hilang kontak." Rianti selalu berfikir positif untuk suaminya.

"Semoga cepet selesai kuliahnya biar bisa cepet cari kerja." Doa Rianti.

Tinggi putih badannya masih gempal rambut panjang terbalut kain batik panjang sedikit tersingkap kaki mulus milik Rianti.

Tidak terlihat kalau Rianti habis melahirkan tiga bulan yang lalu.

laki-laki mencoba mendekati di kira masih gadis, rambut di ikat menambah terpancar dari wajah terlihat lebih cerah.

Perubahan pasca melahirkan Rianti lebih suka berdandan ala tipis tipis kesan sederhana lebih dominan.

Dasar orangnya sudah cantik putih dipoles sedikit sudah bikin orang lain tidak mengenalinya.

Rianti sudah dapat kerja di pabrik garmen sebagai resepsionis, karena penampilannya memang mendukung sebagai etalase kantor.

Rianti cepat di kenal orang karena setiap pagi hampir berpapasan dengan semua karyawan.

Sikap ramah dan murah senyum membuat Rianti banyak teman.

Tetapi jangan berharap lebih dari sikapnya yang ramah murah senyum bukan berarti mudah diajak jalan.

Rianti sudah membuktikan kesetiaan sampai detik ini. Tidak berpaling dari Bayu suaminya.

Darah nifas yang mengalir saat melahirkan dan tangisan bayi di setiap malam dilalui sendiri tanpa berkeluh kesah karena ini adalah sebuah pilihan hidupnya Rianti.

Sedih dalam diam, menunggu dalam kesetiaan, menangis tanpa air mata, dinginnya malam menyayat sepi. Rindu tak pernah bilang. Tertawa hanya untuk menutup luka.

Bila harapan sebatas bualan, kepercayaan yang di khianati tak kan ada lagi pengulangan janji suci.

Sampai saat ini Rianti ingin menjaga pernikahan yang pertama sebagai pernikahan yang akan membuat dirinya bahagia.

Rianti tidak pernah berfikir yang membuat dirinya pesimis terhadap suaminya, walau sampai saat ini belum ada kabar dari Bayu sama sekali.

Di setiap ada laki-laki yang mendekat selalu di tolak dengan halus.

Tetapi Bos perusahaan di mana Rianti kerja mulai tertarik dengan penampilan Rianti.

Masih muda duda anak satu, setiap masuk kantor hanya sebatas senyum kecil saja dan melirik ke arah Rianti.

Pertama tidak terpikirkan oleh Rianti, sebatas keramahan seorang Bos yang menyapa anak buahnya.

Tetapi setiap pagi semakin ke sini Rianti menangkap ada sesuatu yang berbeda dan itu membuat Rianti salah tingkah.

Apa yang di pikirkan Rianti menjadi nyata, saat telpon berasal dari jalur ruangan Bos.

Keringat dingin tangan gemetar Rianti memaksa diri berani angkat telpon karena sudah menjadi tugasnya.

"Selamat pagi pak, ada tugas apa pak untuk Rianti?" Nadanya Rianti agak gemetar.

"Iya selamat pagi Rianti, bisa ke ruangan saya sebentar, sekarang ya!"

"Baik pak, segera ke sana." Rianti menutup telepon menuju ruangan pak Bos.

Tok ... Tok ... Tok

"Silahkan masuk Rianti, duduk."

Rianti duduk, tak berani menatap langsung Bos, menunduk terkadang melihat lemari yang penuh dengan data-data kantor.

Bos rupanya juga ingin berlama lama melihat secara langsung. Bos pura-pura memilih file yang berubah ubah.

Otak Bos mulai liar nich setelah melihat langsung Rianti.

"Dia janda atau masih punya suami ya?" Pertanyaan yang tidak pernah terungkap. karena hanya Bos yang tahu.

Pertemuan pertama Bos masih jaga image, ga tahu nanti dech.

Terlalu lama menduda Bos kembali ganas seperti melihat pepaya yang sudah menguning.

"Tolong ini di taruh meja kamu, nanti kalau ada yang ambil telpon dulu saya ya."

"Siap Pak Bos, permisi."

"Eh sebentar, hampir lupa ini juga kamu bawa ya!"

Bos cuma ingin melihat body Rianti apakah tongkrongannya masih bagus.

Rianti sudah keluar ruangan, Bos mengunjal nafas panjang dengan mengeluarkan kegundahan perasaan yang masih tertahan gengsi.

Bos mulai bertingkah aneh, ruangan ber ac tetap saja merasa gerah.

"Besuk harus ada cara lain lagi, yang tadi sudah basi, bisa curiga nanti." Bos memutar otak untuk cara yang lain lagi.

"Kalau pulang terlalu cepet ga ya kalau aku anter, terlalu riskan." Bos mulai kena virus nich.

Selama dia kerja di sini masih banyak waktu untuk mendapatkannya.

Masih banyak waktu untuk membuat dia merasa nyaman dan tidak pindah tempat kerja. Atau jadi sekretaris atau di mana seorang Bos tidak kurang akal.

Bab 3

"Apa yang masih kau harapkan dari judi ini Bayu?" Ucap Danto.

"Lima tahun bukan waktu yang sebentar."

"Apa belum cukup lima tahun memberi pelajaran hidup mu?"

"Sudahlah Bayu, kasihan dengan hidup mu!"

Bayu mencerna apa yang diucapkan Danto.

Dia pura-pura tidur saja.

Danto dulu tetangga kontrakan, tetapi sekarang Bayu tak mampu lagi membayar bulanan.

Walaupun Bayu seperti tidur, tetapi dia tetap mendengar.

Suara Danto sudah tidak Asing lagi di telinga Bayu.

Cuma Danto yang selama ini peduli dengan hidup Bayu.

Danto seorang penjual bakmi dan nasi goreng, sekitar jam lima sore sudah mulai buka.

Danto kasihan melihat Bayu hanya tidur beralaskan koran.

"Kalau ingin berubah tidak ada kata terlambat yang penting kamu mau in sya Alloh selalu ada jalan."

"Kalau belum dapat kerja, sementara boleh bantu di sini dulu nyuci piring."

Setelah Terdengar telapak kaki berjalan selangkah, Bayu membuka pelan matanya.

Pertama kali yang di lihat adalah lowongan pekerjaan, iklan di koran dibutuhkan sopir pribadi.

Bayu mengucek matanya beberapa kali, untuk melihat benar atau sudah tidak berlaku.

Koran itu ternyata baru terbit dua hari yang lalu. Bayu masih punya harapan untuk melamar.

Bayu keluarkan dompet dan cek duitnya masih ada, senyum sedikit kelihatan giginya.

Termenung sejenak Bayu bingung duit itu buat beli celana dan baju lengan panjang atau buat transport besuk pagi.

Bayu putuskan untuk beli baju dan celana buat melamar besuk pagi.

"Untuk transport besuk pagi coba cari pinjaman dulu sama Banto." Ucap Bayu dalam hati.

Hari belum terlalu malam Bayu pergi ke toko pakaian.

Sejak meninggalkan rumah dan pamit ke kota ingin kuliah ternyata sampai di kota sama sekali tidak pernah kuliah.

Memang dari awal Bayu hanya membohongi istrinya biar mendapatkan uang.

Suami macam Bayu ini tidak punya rasa tanggung jawab menipu dengan cara berdalih ingin melanjutkan kuliah demi masa depan.

Tetapi apa nyatanya dia hanya ingin mengejar kebebasan hawa nafsu untuk bisa hidup foya-foya bebas apa yang seperti dia mau.

Pagi ini adalah babak baru kehidupan Bayu, setelah sekian tahun hidup ga jelas arah dan tujuan.

"Danto, bisa pinjami aku dulu uang untuk transport."

Danto tidak percaya kalau yang di hadapan dirinya adalah Bayu.

Sosok yang kemarin di ingatkan adalah sosok seorang laki-laki kumal bau dan dekil.

Kini sudah berubah menjadi laki-laki yang gagah bersih dan wangi, tidak seperti kemarin.

"Wuuuiis ... apa aku ga salah lihat? Bayu kamu ternyata ganteng, berapa yang kamu butuhkan?"

"Yang penting cukup buat PP dan makan siang nanti."

Danto mengambil uang di dompet, dua lembaran warna merah di berikan ke Bayu.

"Terima kasih Danto, hanya kamu yang peduli sama aku."

"Wis tak doakan dapat kerja an ora mung klumbrak klumbruk koyo kumbahan.

Bayu sampai alamat yang di tuju, dan satpam menanyakan kepentingan Bayu sesaat kemudian di persilakan masuk.

Suami sampah macam Bayu ini lagi berusaha merubah nasibnya, yang di perbuat sendiri.

Hampir semua kenakalan sudah dia lakukan molimo.

"Selamat pagi, betul ibu yang membutuhkan sopir pribadi? Masih ada kesempatan untuk saya buk."

Perempuan dengan paras cantik putih berkaca mata itu menatap tajam kepada Bayu.

Metamorfosa yang di lakukan Bayu membuat orang yang melihat cukup berkesan.

Sebenarnya Bayu secara fisik termasuk laki-laki yang proposional.

Dengan badan tegap tinggi dan dada bidang, potongan rambut baru menambah kesan rapi.

Tetapi berkelakuan yang kurang baik.

"Silahkan duduk mas, siapa namanya?" Bu Lira mengawali interview ringan.

"Bayu Dewanto, buk." Nampak Bayu sedikit gugup.

Lira membuka CV Bayu yang hanya beberapa lembar saja.

"Mas Bayu serius ingin menjadi sopir pribadi? Karena aku mencari sopir yang bisa tinggal di sini."

Bayu berhasil membuat Bu Lira interes dengan penampilan Bayu.

Mendengar permintaan untuk tinggal di dalam, Bayu menyimpan kebahagiaan yang tak mau terlihat oleh Bu Lira. Karena ini sebenarnya yang di inginkan Bayu. Karena sudah tidak sanggup membayar uang kontrakan.

"Ya ... sanggup buk." Bayu menganggukkan kepala.

"Lumayan juga buat di pajang di rumah, tidak terlalu memalukan bahkan bisa buat pendamping kalau ada acara." Ucap Lira dalam hati.

"Sesekali duduk depan juga tidak masalah buatku." Ucap Lira dalam hati tuk yang ke dua.

Lira seorang ibu dengan dua anak perempuan yang sudah belasan tahun, sebagai orang tua tunggal.

Lira janda yang di tinggal pergi suaminya, Sampai sekarang tidak ada lagi kabar entah dimana.

Kehadiran seorang laki-laki di rumah sudah di inginkan sejak kesibukan yang semakin banyak tiga tahun terakhir.

"Bagaimana dengan lamaran saya bu?" Ucap Bayu mengagetkan Lira dari lamunan.

"Oh ... Iya, kalau sanggup kamu bisa tanda tangan disini."

Surat pernyataan bahwa bersedia tidur di rumah majikan dan siap sewaktu waktu dipekerjakan.

Surat itu di baca Bayu sesaat kemudian ditanda tangani.

"Alhamdulillah resmi hari ini dapat kerja sekaligus tempat tinggal." Ucap Bayu dalam hati.

Kalau tidak di tawarin tidur di dalam, mungkin Bayu juga berusaha menawarkan diri.

"Terima kasih bu, kapan saya bisa mulai kerja?"

"Terserah, kalau bisa besuk pagi, hari ini kamu bisa pulang dulu untuk menyiapkan semua."

"Kalau begitu saya mohon pamit dan besuk siap kerja."

"Apa yang harus aku siapkan, baju yang pantas juga cuma ini." Ucap Bayu dalam hati.

Sore harinya dengan sinar wajah yang berseri seri Bayu menemui Danto.

Tak banyak bicara Bayu langsung ikut membantu cuci piring gelas tanpa harus di minta oleh Danto.

Bayu merasa terima kasih orang yang selalu mengingatkan dirinya dan tidak pernah bosan.

Bertahun tahun Bayu hidup dalam ketidak jelasan, makan dan tempat tinggal berpindah pindah.

Akibat perbuatannya selama ini yang sudah mendholimi istri dan anaknya.

Di sela-sela melayani pembeli Danto menegur Bayu.

"Tidak usah nanti basah kamu!"

"Ga papa sekali kali." Bayu nekat melanjutkan nyucinya.

Jam sebelas malam sudah sepi pembeli Danto dan Bayu masih asyik bercerita.

Bayu tidak hanya satu kali mengucapkan terima kasih telah menyadarkan dirinya.

"Aku berharap kamu tidak kambuh lagi penyakit sosialmu yang suka hidup tidak menentu."

Perjalanan hidup seseorang tidak pernah tahu akan hari esok. Terkadang sifat dan karakter bisa berubah setiap saat.

Sebagian orang ada yang berkarakter tidak bisa hidup normal, yang dia inginkan hidup di jalan bebas tanpa beban.

Walau terkadang di jalanan justru membuat dirinya seperti sampah.

Sifat dan karakter itu ada pada Bayu. Terkadang bagi istri yang setia Tidak pantas memberikan perhatian dan kesetiaan kepada suami yang hanya mementingkan diri sendiri.

.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED