Bab 2

Kirana menatap bayangannya di cermin besar di kamar mewah yang kini menjadi tempat tinggalnya. Gaun tidur sutra berwarna lembut membalut tubuhnya, begitu kontras dengan pakaian lusuh yang biasa ia kenakan di rumahnya dulu. Semua di sini serba mahal, mulai dari furnitur bergaya klasik hingga lampu kristal yang menggantung di langit-langit.

Namun, meski dikelilingi kemewahan, hatinya terasa kosong.

Ia menyentuh perutnya, yang masih datar. Tidak ada tanda-tanda perubahan. Namun, di dalam dirinya, tumbuh kehidupan yang akan mengikatnya dengan Narendra selamanya-meskipun hanya secara biologis.

Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. Dengan ragu, Kirana berjalan dan membukanya. Seorang pelayan wanita berdiri di sana, membawa nampan dengan segelas susu dan sebutir pil kecil.

"Tuan Narendra meminta Anda meminum ini sebelum tidur, Nona Kirana," kata pelayan itu sopan.

Kirana menatap pil di atas nampan itu dengan kening berkerut. "Apa ini?"

"Vitamin untuk membantu tubuh Anda lebih siap menghadapi kehamilan," jawab sang pelayan.

Kirana menghela napas pelan. Tentu saja, semua ini hanya demi memastikan dirinya bisa mengandung anak Narendra tanpa masalah. Tanpa banyak protes, ia mengambil gelas susu dan meneguk pil itu.

"Terima kasih," ucapnya sebelum kembali ke dalam kamar, menutup pintu di belakangnya.

Di ruangan lain di lantai yang sama, Narendra duduk di kursi kerjanya, membaca laporan kesehatan Kirana. Ia tak main-main dengan kontrak ini. Setiap aspek telah diperhitungkan, termasuk memastikan bahwa Kirana dalam kondisi sempurna untuk mengandung anaknya.

Namun, ada sesuatu yang mengganggunya.

Matanya kembali ke layar laptop, di mana foto Kirana dari investigasi sebelumnya terpampang jelas. Seorang gadis desa sederhana yang hidup dalam keterbatasan, jauh dari kehidupan glamor yang biasa ia lihat. Namun, tatapan mata gadis itu dalam foto begitu keras kepala, penuh keteguhan yang anehnya menarik perhatiannya.

Narendra menggeleng pelan. Tidak, ini tidak boleh menjadi lebih dari sekadar kontrak.

Baginya, Kirana hanyalah alat.

Hari-hari berlalu dengan cepat. Kirana menjalani rutinitas baru yang ditentukan oleh tim dokter pribadi Narendra. Ia diberi makanan sehat, vitamin, dan jadwal pemeriksaan ketat untuk memastikan kehamilannya berjalan lancar.

Namun, yang paling sulit diterima adalah keberadaan Narendra.

Pria itu tak sering muncul, tetapi setiap kali mereka bertemu, aura dinginnya begitu menusuk. Seolah-olah ia benar-benar ingin menegaskan bahwa Kirana tak lebih dari sekadar 'wadah' bagi pewarisnya.

Namun, ada momen-momen kecil yang tak bisa Kirana abaikan.

Seperti malam itu, saat ia duduk di taman belakang rumah mewah ini, menikmati udara malam setelah seharian menjalani pemeriksaan kesehatan. Ia tak menyangka Narendra akan muncul di sana, berdiri di dekatnya dengan ekspresi sulit ditebak.

"Kau baik-baik saja?"

Itu pertama kalinya Narendra menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi.

Kirana menoleh, terkejut oleh pertanyaannya. "Aku baik-baik saja," jawabnya pelan.

Narendra mengangguk, lalu duduk di kursi seberang tanpa berkata apa-apa lagi. Mereka hanya diam, menikmati ketenangan malam. Untuk sesaat, Kirana hampir bisa percaya bahwa pria ini bukanlah monster dingin seperti yang ia bayangkan.

Tapi itu hanya sesaat.

Karena setelah beberapa menit, Narendra bangkit berdiri dan berkata, "Jangan terlalu berharap, Kirana. Ini hanya sementara."

Dan begitu saja, ia pergi, meninggalkan Kirana dengan pertanyaan yang semakin menghantuinya.

Kenapa kata-katanya terasa lebih menyakitkan daripada yang seharusnya?

Bab 3

Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan, kecuali satu hal-Kirana mulai merasakan sesuatu yang tidak seharusnya ia rasakan.

Narendra Adipradana adalah pria yang dingin dan penuh perhitungan. Setiap interaksi mereka selalu terasa seperti transaksi bisnis. Namun, di balik tatapan tajamnya yang selalu berusaha menjaga jarak, Kirana mulai menangkap kilasan emosi yang lain.

Ia melihatnya saat pria itu diam-diam mengawasi saat dokter memeriksa kesehatannya.

Ia merasakannya saat Narendra, tanpa kata-kata, menggeser mangkuk sup mendekat padanya ketika ia kehilangan nafsu makan.

Ia menemukannya dalam cara pria itu, yang biasanya tak pernah menyentuhnya tanpa alasan, tiba-tiba membantunya saat ia hampir terpeleset di tangga.

Hal-hal kecil itu.

Namun, Kirana tahu lebih baik daripada membiarkan harapan tumbuh di hatinya.

Mereka punya perjanjian.

Dan setelah bayi ini lahir, ia akan pergi.

Narendra duduk di ruang kerjanya, menatap laporan bisnis yang ada di tangannya tanpa benar-benar membaca isinya. Pikirannya terganggu, dan ia membenci dirinya sendiri karena itu.

Ia tidak boleh terpengaruh.

Ia sudah memutuskan bahwa pernikahan dan cinta bukanlah sesuatu yang akan masuk dalam hidupnya. Tapi entah kenapa, setiap kali ia melihat Kirana, ada sesuatu yang mengusiknya.

Ia tidak suka melihatnya murung.

Ia tidak suka saat Kirana menunduk, seolah tak yakin dengan keberadaannya di rumah ini.

Dan yang paling ia benci, ia mulai peduli.

Suatu malam, saat ia melewati ruang keluarga, ia melihat Kirana duduk sendirian di balkon, memeluk dirinya sendiri. Hujan baru saja reda, dan udara dingin menusuk.

"Kau seharusnya tidak duduk di luar saat udara dingin," katanya tanpa sadar, membuat Kirana tersentak kaget.

Ia menoleh, menatap Narendra dengan mata sedikit membesar. "Aku hanya ingin menghirup udara segar."

Narendra menghela napas dan berjalan mendekat. Dengan gerakan tegas, ia melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Kirana.

Wanita itu membeku. Ini pertama kalinya Narendra menunjukkan sesuatu yang mendekati kepedulian secara langsung.

Kirana menggigit bibirnya. "Kau tidak perlu melakukan ini."

Narendra menatapnya tajam. "Aku tidak ingin kau jatuh sakit. Itu akan membuat segalanya lebih rumit."

Jawaban dinginnya seharusnya membuat Kirana sadar diri. Tapi, jantungnya justru berdetak lebih cepat.

Ia menarik napas dalam. "Narendra..."

Pria itu tidak menjawab, hanya berdiri di sana, menatapnya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, keheningan di antara mereka terasa lebih dari sekadar batasan.

Itu adalah awal dari sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang tidak boleh mereka biarkan berkembang.

Tapi apakah mereka benar-benar bisa menghindarinya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED