Setelah kegagalan yang berulang, Mahesa pun mendapatkan ide untuk mengubah penampilannya yang memang cukup asal-asalan dan juga kelebihan berat bada, ditandai dengan perutnya yang buncit. Kerap kali Maminya sering menasihatinya agar menjaga pola makan, namun ia masih saja ngeyel nggak ketolongan.
“Mahesa, coba lihat itu perut sudah makin buncit. Kamu diet kek, olahraga kek, ngapain kek! Kamu itu punya keturunan diabetes lho dari Papimu, jadi harus jaga pola makan.” Tunjuk Maminya ke perut buncit Mahesa.
“Mami, ini perut orang makmur. Semakin kaya semakin buncit, Mi.” kilahnya sambil ngemil ciki-cikian.
“Eh, nggak juga tuh. Pengusaha yang lagi trending, Jusuf Hamka nggak buncit kayak kamu.”balas Mami. “Kurang kaya apa, coba?”
“Itu kan Bapak Jusuf Hamka, Mi. Kalau aku kan, Narendra Mahesa. Beda,dong!” Mahesa lalu mengelus perut buncitnya.
“Aduh, mami males kalau sudah ngomong soal perut buncit kamu. Sebenarnya bukan masalah perutnya lho, tapi berat badanmu. Kalau kelebihan berat badan itu bisa mengundang penyakit. Apalagi kamu makan makanan yang nggak sehat.”jelas Mami. “Bukan berarti kamu punya duit atau sukses jadi bebas makan apa pun.”lanjut Mami.
“Iya, Mi.”jawab Mahesa singkat.
Enam bulan setelah perdebatan kecil dengan Maminya, Mahesa mendaftar di Fitness centre. Ia menyewa couch yang paling disiplin. Bagi Mahesa, uang tidak menjadi masalah. Beberapa waralaba kuliner miliknya telah berkembang ke seluruh Indonesia, bahkan di setiap provinsi memiliki 3-5 stand untuk satu jenis produk kulinernya. Bisnis receh, namun pemasukan nggak recehan.
“Aya, kalau fitness yang dibawa apa aja? Hari ini jadwal pertama kita kan?” tanya Mahesa lewat telepon ke sahabatnya Gayatri.
“Iya, ini aku lagi siap-siap. Kata teman kantorku yang juga ikutan fitness, biasanya bawa baju ganti, peralatan mandi, air minum, tas plastik, flip flop karet dan music player.”jawab Gayatri.
“Bawa baju gantinya berapa banyak?” Mahesa kembali bertanya sambil membongkar isi lemari.
“Secukupnya aja, Mahesa. Satu atau dua, deh. Hei, kita mau fitness bukan vacation!”sembur Gayatri dan Mahesa tertawa.
“Iya juga,ya. Sepuluh menit lagi aku sampai ke rumahmu. Awas aja kalau belum siap, Ya.”ancam Mahesa mengingat terkadang Gayatri lama di depan cermin.
“Iya, ini udah siap. Cusss...jemput!” ujarnya.
***
Enam bulan berlalu, dengan latihan selama tiga kali seminggu dengan durasi 50-55 menit, baik Mahesa dan Gayatri telah mendapatkan hasil yang diinginkan, meskipun mereka masih harus tetap berlatih untuk mempertahankannya. Mahesa berhasil meburangi beratnya sebanyak 14 kg dan perut buncitnya mulai terlihat sixpack. Begitupula Gayatri yang badannya semakin terbentuk.
Selain rajin dan disiplin dalam berlatih, mereka juga lebih selektif dalam memilih makanan. Bahkan, Mahesa juga memiliki ahli gizi pribadi sehingga makanan yang masuk ke tubuhnya sesuai dengan kebutuhan. Tekad Mahesa mengantarkannya pada berat tubuh ideal dan body goal yang diimpikan banyak laki-laki. Ia pun semakin percaya diri untuk menunjukkan dirinya di depan para ciwir-ciwir yang pastinya terpukau melihat penampilannya sekarang.
“Kamu kenapa, Mbul?” tanya Gayatri ketika melihat Mahesa senyum-senyum tiada henti sepanjang jalan.
“Aku sedang memamerkan diriku yang sekarang, Aya. Biar para wanita yang dulu bikin aku patah hati menyesal.”umbarnya dan Gayatri memberikan ekspresi geli.
“Iiihhh...kok jadi kayak gini sih, sahabatku ya, Allah?” ujar Gayatri.
“Sekarang aku tuh sudah beda, Aya. Semua mata mengarah padaku, mengagumiku, mereka semua jadi terpesona melihatku.”Mahesa menjadi sosok narsis seketika.
“Jadi, kamu mati-matian diet, fitness, dan lain-lain itu supaya jadi pusat perhatian?” Gayatri menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aya, kamu nggak tahu rasanya jadi aku yang selalu nggak berhasil menjalin hubungan asmara. Orang lain sat set sat set, langgeng sampai ke pelaminan. Giliran aku? Sat set sat set diputusin.” Gayatri menahan tawa saat melihat sahabatnya mengomel.
“Hai, bestie, apa kabar aku yang nggak pernah tuntas kalau dating? Baru mau makan, ditelpon kantor, baru mau minum, di chat editor, baru aja mau masuk bioskop ada virtual meeting pakai zoom. Kita tuh senasib, brother!” Gayatri menepuk punggung Mahesa.
“Ya, tapi kan kamu nggak rugi waktu dan finansial. Lah aku?” Mahesa malah membandingkan kemalangan nasib mereka.
“Nggak gitu juga caranya, Mbul! Intinya kita sama-sama aja nggak punya keberuntungan dalam cerita asmara. Tapi kan, perjalanan masih panjang, Mbul.”hibur Gayatri.
“Rasanya aku ingin balas dendam sama mereka yang dulu mengkhianatiku dan cuma morotin aku.”Tatapan Mahesa jauh ke depan, mengingat apa yang pernah ia rasakan.
“Mbul, itu sudah lewat. Kamu mau balas dendam sama mereka? Itu sih namanya kamu sebelas dua belas aja sama mereka, Mbul. Come on! Sekarang fokus karis aja dulu, Mbul.”Gayatri tetap memberikan semangat ke sahabatnya itu.
“Kamu sih ngomong gampang, Ya.”ujar Mahesa sedih.
“Hm, gini deh. Gimana kalau aku kenalin kamu sama teman kantorku si Maya? Dia juga lagi nyari pendamping hidup,tuh. Siapa tahu kan kalian cocok?”Gayatri menawarkan solusi.
Demi mendengar kata-kata pendamping hidup, Mahesa langsung kembali ceria.
“Serius, Ya? Beneran?” Mahes antusias menyambut tawaran Gayatri.
“Seribu rius! Anaknya baik kok, Mbul. Kayaknya juga dia bukan tipe yang sok hedon atau apalah gitu. Sejauh ini sih aku lihat dia lurus-lurus aja.” Gayatri menjelaskan siapa Maya selintas lepas kepada Mahesa.
“Aku mau!”Mahesa semringah.
“Oke! Nanti aku kirim kontaknya ya, Mbul.”janji Gayatri dan Mahesa merasakan menemukan secercah harapan untuk memperbaiki hubungan asmaranya yang selalu kandas.
Dua minggu kemudian, Gayatri kehilangan kontak dengan Mahesa. Awalnya ia berfikir Mahesa sedang berusaha mendekati Maya, sehingga waktunya habis untuk hang out atau romantic dinner. Namun, rasanya aneh jika Mahesa tidak mengabarinya tentang kegiatannya. Akhirnya Gayatri memutuskan untuk mengunjungi Mahesa di rumahnya.
“Pak, si Mbul ada di rumah?” tanya Gayatri kepada Pak satpam sebelum masuk ke dalam rumah Mahesa.
“Ada, non. Sudah dua mingguan ini di belakang aja,tuh.” Jawab Pak satpam dan Gayatri paham apa yang terjadi jika Mahesa mulai mengabiskan waktunya di taman belakang.
“Mbul, lagi ngapain?” Gayatri langsung duduk disamping Mahesa yang asyik mengunyah keripik kentang. “Hei...hei...bukannya katanya nggak mau makan yang beginian lagi?” Gayatri menunjuk sekantong besar keripik kentang.
“Kayaknya ada yang salah sama aku, Ya.” Ujar Mahesa melow bernada melankolis. Gayatri menatap sahabatnya lekat-lekat.
“Nggak ada tuh yang salah. Mata masih dua, hidung satu, mulut satu, telinga dua, lubang hidungnya emang agak gede sih.”canda Gayatri berusaha mencairkan suasana.
‘Aku serius lho, Ya. Aku merasa ketidakberuntunganku dalah hal percintaan itu bagaikan kutukan.”kisahnya yang membuat Gayatri mengernyitkan dahinya.
“Hah? Sama Maya nggak sukses?”terka Gayatri dan Mahesa mengangguk.
“Tapi kan, body udah oke, muka kinclong tanpa jerawat, duit oke, friendly lagi. What’s wrong?” Gayatri kebingungan.
“Nah, disitulah aku nggak tahunya. Aku juga bingung, Aya.”tuturnya,
“Mungkin kamu salah ngomong pas chat atau nelpon Maya.” Gayatri mengira-ngira penyebab gagalnya hubungan Mahesa.
“Seingat aku, aku baru chat beberapa kalimat aja sudah langsung di blokir. Ini pasti kutukan! Ada orang yang sirik sama kesuksesanku, jadi aku diguna-guna.” Mahesa bicara asal yang membuat Gayatri menjewer telinganya.
“Mulai kapan otak seorang Mbul gesrek ,hah? Nggak ada yang sirik sama kamu, Mbul!”Gayatri meyakinkan Mahesa yang mulai bicara aneh-aneh.
“Nah, masalahnya sudah maksimal pun penampilanku, tetap juga kan cewek kabur.” Ia membela diri.
“Memang kamu chat Maya gimana sih,Mbul?” Gayatri penasaran dengan isi chat Mahesa yang dikirimkan ke Maya.
“Biasa aja kok chatnya,” jawab Mahesa.
“Biasa itu yang gimana?” paksa Gayatri yang mulai gemas akan kelakuan Mahesa.
“Ehm, hai Maya, ini aku Mahesa teman Gayatri. Aku mau ngajak kamu makan malam di restoran mewah, nonton bioskop, dan jalan-jalan ke mall. Kamu boleh ambil apapun di mall. Oiya, kapan kamu siap dilamar?” Mahesa mengulang kembali isi chatnya ke Maya dengan santai, sementara Gayatri menahan emosi.
“Mbul, Bekicot! Itu ngajak kenalan apa nodong? Ya, wajar anak orang lari!” Emosi Gayatri memuncak. “Pokoknya mulai sekarang, cari aja pacar sendiri!”rajuk Gayatri sambil berlalu dari hadapan Mahesa.
“Eh, Ya...Aya...! Nah, kok malah ngambek? Aya!”
Mahesa masih tetap mempercayai bahwa dirinya diguna-guna atau dikutuk oleh saingan bisnisnya. Gayatri yang mendengarkan celotehan unfaedah Mahesa menguap berkali-kali tanda ia bosan harus menjadi pendengan yang baik tentang kecurigaan Mahesa yang tanpa alasan.
“Nah, aku akhirnya memutuskan untuk membuka aura, Ya.” Mahesa mengakhiri dongeng pengantar tidurnya.
Gayatri yang setengah mengantuk hanya menganggukkan kepala.
“Menurut kamu, buka aura itu aman nggak,Ya?”tanya Mahesa dan Gayatri yang merasakan matanya tinggal 5 watt menjawab sekenanya.
“Nggak tahu, Mbul. Biasanya aku buka dompet, bukan buka aura. Lagian si aura itu kenapa harus dibuka sih?” protesnya.
“Yah, kamu nggak nyimak nih. Buka aura itu Ya, cara meningkatkan pesona pemikat mengandung pengasihan, jadi mudah disukai orang banyak wanita atau pria. Kita tuh masing-masing punya aura beda-beda. Kalau auranya butek kayak air comberan, nah wajib dibersihkan.”ceramah Mahesa. “Kamu mau buka aura juga,nggak?” tawarnya.
“Mbul, aku boleh pilih Aura Kasih aja, nggak? Lagunya enak buat party.”ledek Gayatri.
“Kamu tuh Ya, harus buka aura juga. Supaya para cowok itu tertarik sama kamu.” Tegas Mahesa.
“Mbul, cowok tuh tertarik sama aku, cuma masalahnya tempat kerjaku kayaknya sensian banget kalau aku lagi kencan sama siapa pun. Semacam punya indra ke 12 aja tuh manager.”adu Gayatri. Kali ini ia sudah tidak merasakan kantuk yang amat sangat seperti ketika Mahesa memberikan kuliah 2 SKS tentang buka aura.
“Udahlah, keluar aja dari situ. Dari jaman rambut kamu kuncir kuda, sampai rambut kamu sekarang model sliced cut ala Paris Hilton, kamu masih aja jadi jurnalis junior. Nggak naik kelas, apa nggak niat kamu maju?”rutuk Mahesa.
“Muncung ya, Mbul! Gampang aja nyuruh orang resign. Cari kerja after pandemi gini susah, tahu!”oceh Gayatri.
“Makanya buka aura, biar gampang urusannya.”hasut Mahesa.
“Buka aura itu gimana sih? Pakai ritual?”Gayatri parno membayangkan proses buka aura.
“Ritual apaan?Kebanyakan nonton film horor,nih.” Mahesa menoyor Gayatri yang langsun manyun.
“Kan judulnya buka aura. Pakai dukun kan,tuh?”tuduh Gayatri sadis.
“Makanya, Aya...jangan kebanyakan baca gosip kalau searching internet. Sekarang tuh zaman canggih, non. Buka aura itu bisa pakai kapsul aura,minyak aura, parfum aura atau garam aura.”jelasnya.
“Bisa pakai parfum? Oke, aku parfum aja. Beliin, ya!” Gayatri semangat ketika mengetahui membuka aura segampang itu.
“Giliran gampang aja, semangat! Aku lagi yang bayar!”Mahesa mendadak sewot.
“Mbul, cowok itu harus berkorban untuk cewek. Lagian kan duit seorang Mahesa banyak. Eakkkkk!”canda Gayatri.
“Pintar banget kalau ngambil hati. Iya, nanti aku pesan sama temannya Luki.”ujar Mahesa.
“Ini Luki yang mana?Temen nongkrong kita waktu SMP?”tebak Gayatri.
“Benar sekali! “sahut Mahesa.
“Yakin sama tukang halu itu?”Gayatri tiba-tiba meragukan parfum yang akan ia pesan.
“Dia itu bukan halu, Aya,”bela Mahesa. “Dia itu kaya ide dan imajinasi.”lanjutnya.
Gayatri menjulurkan lidahnya. “Apa bedanya?”
“Beda. Pokoknya beda!”Mahesa ngotot.
“Ya, terserah, duit-duit kamu juga, Mbul!” ujar Gayatri menutup perdebatan tentang buka Aura.
Keesokannya, Mahesa mengabarkan Gayatri jika Luki mengajak mereka bertemu di cafe depan komplek. Demi Mahesa, Gayatri menyetujuinya. Pulang dari kantor, Gayatri langsung menyusul Mahesa ke cafe.
“Aya, sini...sini!” panggil Mahesa begitu melihat Gayatri berjalan masuk ke cafe.
“Hai, semua!” sapa Gayatri kepada Mahesa dan Luki.
“Hai!” jawab luki.
“Kita ngapain disini?” Gayatri to the point mengingat dia masih dikejar dateline.
“Soal buka aura yang Mahesa ceritakan, nah temanku itu butuh nama, tanggal lahir dan foto kalian.”jelas Luki.
“Mau buka aura, atau kredit rumah,sih?”sindir Gayatri.
Mahesa menyikut Gayatri. “Ayolah, buruan.”ujarnya.
Gayatri menuliskan nama lengkapnya, beserta tanggal lahir. Ia lalu mengirimkan fotonya melalui ponsel menggunakan bluetooth. “Udah”
Setengah jam kemudian, abang ojol mengantarkan paket parfum yang dipesan oleh Luki, yang selanjutnya ia serahkan ke Mahesa dan gayatri.
“Ini tinggal disemprot aja, kan?”tanya Gayatri.
“Baca Bismillah dulu sebelum dipakai.”jawab Luki.
Mahesa langsung membuka kotak yang bertuliskan namanya. Ia tersenyum dan matanya berbinar-binar. “Aku pakai sekarang, boleh?”tanyanya ke Luki dan Luki mengangguk.
Gayatri menyimpan kotak miliknya ke dalam tas, sementara Mahesa sibuk menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya.
“Norak, Mbul! Norak!”ejek Gayatri begitu Mahesa selesai mengguyur badannya dengan parfum.
“Hasilnya akan mulai terlihat sejam kedepan ya, gaes. Aku duluan, nih!” Luki berpamitan, begitupula Gayatri yang juga izin pulang karena masih ada tugas kantor yang harus diselesaikan. Tinggalah Mahesa yang sibuk tebar pesona dengan aroma parfum auranya yang semerbak mewangi ke seluruh cafe,
Jam di dinding menunjukkan pukul 19.30. Gayatri asyik masyuk di depan laptopnya. Sesekali ia menyesap nikmatnya cappucino hangat yang disajikan oleh Ibunya. Terlintas di benaknya tentang kabar sahabatnya yang kelakuannya unik, Mahesa.
“Tumben nggak nanyain aku dimana jam segini? Mungkin parfum buka auranya sukses.”batin Gayatri lalu melanjutkan kembali kekhsyukannya di depan laptop.
Drrttttt....Drrrtttt....
Gayatri melirik ponselnya dan nama Mbul tertera di layarnya. “Baru juga dibilang, udah mulai aja nih rusuh.”ujar Gayatri, lalu meraih ponselnya.
“Ya, Mbul? Halo?” sapa Gayatri.
“Aya! Tolong aku, Ya! Tolong!” suara Mahesa memelas meminta pertolongan.
Gayatri terkesiap, ia lalu menghidupkan loud speakernya. “Woi....Mbul, kamu di mana? Minta tolong apa?” lagi-lagi Gayatri panik dengan kelakuan Mahesa.
“Aku masih di cafe, tolong aku,Aya!” ia setengah berteriak.
“Memang kamu kenapa? Tunggu aku, Mbul! Aku ke sana, nih!” Gayatri langsung mengambil kunci motornya yang tergeletak di meja laptop, lalu buru-buru keluar kamar.
“Aya jemput Mbul dulu, Bu.”pamitnya tergesa-gesa ketika melewati ruang tamu dan berpapasan dengan ibunya. Ibunya mengangguk mengiyakan dan kembali fokus menata ruangan.
***
“Mbul! Mbul!” Gayatri menerobos pintu cafe dan mendapati Mahesa duduk pasrah dikelilingi para wanita, termasuk pelayan cafe.
“Tolong,” pintanya dengan wajah sedih.
Gayatri mendekati sekumpulan wanita yang mengelilingi Mahesa yang menatap penuh cinta. Ia merinding disko melihat wanita –wanita itu seolah terhipnotis ketika melihat Mahesa. Mahesa bergerak ke kanan, kumpulan para mabuk kepayang tersebut juga bergeser ke kanan. Bergerak ke kiri pun sama saja. Mahesa seolah magnet bagi mereka.
“Mereka kenapa?”tanya Gayatri. Mahesa mengangkat bahunya. “Mana nomor Luki? Sini ponselmu, Mbul!” Mahesa menyerahkan ponselnya dengan pasrah ke Gayatri.
Gayatri mencari nama Luki di daftar panggilan, lalu ia menelpon dengan perasaan kacau balau.
“Halo, Mahesa?” suara Luki menyambut dengan ramah.
“Mahesa, Mahesa! Kamu ke cafe sekarang!” hardik Gayatri.
“Aduh, aku ada kerjaan!”kilahnya.
“Aku nggak mau tahu, pokoknya dalam sepuluh menit kamu sudah ada di cafe ini atau chat kamu nembak aku waktu SMP yang alay itu aku sebarkan ke grup alumni!” ancam Gayatri dan Luki langsung menyanggupi.
Luki belum sempat berkata-kata ketika Gayatri mendampratnya di depan cafe.
“Hei, itu parfum apaan? Lihat tuh si Mahesa nggak bisa gerak gara-gara dikerubuti cewek!”
“Lho?” Luki ikut bingung.
“Nggak usah lho, lho, lho! Tanggung jawab!” omel Gayatri.
“Sebentar, aku telpon temanku dulu.” Luki mengambil ponselnya. Beberapa menit ia berbicara, Gayatri menangkap ketidakberesan karena Luki meliriknya takut-takut.
“”Hm, Gayatri.” Luki terlihat merasa bersalah.”Kata temanku,”ia masih ragu untuk menceritakan hasil pembicaraannya.
“Apa katanya? Buruan,deh!”Gayatri tidak sabar untuk mendengar penjelasan Luki.
“Dia salah ngirim parfum. Itu bukan parfum buka aura, tapi parfum pelet lawan jenis.”jawab Luki sambil ketakutan.
“Hah? Pelet? Ya, salam!”