Kak Dewi tak terima, menurutnya bahwa dengan adanya perjodohan itu, berarti kami sekeluarga tidak menganggap ia sebagai keluarga sendiri, seperti apa yang selalu aby ucapkan padanya.
Aby dan ummi, mencoba memberi pengertian dan alasan, mengapa perjodohan itu terjadi. Menurut aby, aby tak mau hubungan kekeluargaan antara kami dan kak Dewi, terputus. Karena ayah kak Dewi bukanlah berdarah Arab, tapi berdarah Bugis.
"Abah jahat, tega-teganya abah jodohin Dewi, dengan Alfa!" protes kak Dewi saat itu.
Kak dewi memanggil aby dengan sebutan abah, untuk aby dan memanggil ummi untuk ummiku, atas permintaan aby dan ummi dulunya.
"Abah hanya mau hubungan tali kekeluargaan kita, tidak semakin jauh, Dewi!" jawab aby sabar.
"Tapi tidak juga dengan memaksa Dewi dan Alfa menikah 'kan, bah!" ucap kak Dewi dengan mata berkaca-kaca.
Aku yang saat itu belum mengetahuai tentang apa permasalahan yang terjadi, hanya diam memperhatikan perdebatan itu di samping mbak Nisa.
"Emang apa sih Mbak, yang diributin?" tanyaku pada mbak Nisa.
"Udah....! Kamu jangan mau tau, itu urusan orang dewasa!" jawab mbak Nisa, sambil menutup telingaku dengan telapak tangannya.
"Jadi kak Dewi udah dewasa ya, Mbak?" tanyaku lagi semakin penasaran.
Mungkin karena tak mau bicara banyak, mbak Nisa membawaku ke kamar.
"Nanti juga kamu tau, Al! Kita ke kamar aja, yuk!" bujuk mbak Nisa padaku.
Aku, yang memang tipe anak yang penurut, mengikuti saja ajakan mbak Nisa, tanpa bertanya lagi.
Tapi baru saja kakiku sampai di ujung tangga lantai dua rumahku, aku mendengar suara tamparan.
"Plak.....!"
"Dasar anak pelacur...!"
Aku mendengar jelas itu suara aby. Tapi siapa yang dimaksud aby anak pelacur? Aku nggak tau, bahkan pelacur itu apa, aku juga nggak tau.
Tapi saat aku ingin melihat ke bawah, mbak Nisa langung menutup mataku, dengan telapak tangannya.
"Udah jangan dilihat, buruan masuk kamar!" ucap mbak Nisa.
Sambil gegas mendorong tubuhku, aku merasakan kegugupan dari mbak Nisa, karena telapak tangannya yang menutupi mataku terasa dingin saat itu.
Aku duduk di balkon kamar, dalam kebingungan. Selama ini, aku tidak pernah melihat perdebatan atau pertengkaran dalam keluarga kami. Dan ini, adalah kali pertama aku mendengarnya, dan itu antara aby dan kak Dewi.
"Apa harus begitu ya, kalau udah dewasa?" batinku. Tapi sudahlah, nanti juga aku akan tau sendiri, apa itu arti dewasa.
Pov Dewi....
Awalnya aku sangat bahagia bisa diterima baik oleh keluarga dari ibuku, bahkan aku memanggil mereka dengan panggilan abah dan ummi.
Bukan aku kekurangan kasih sayang dari orangtuaku, tapi aku hanya seolah merasa tak dianggap saudara se ayah, dari anak ayah yang dari istri, pertamanya.
Awalnya aku sedih diperlakukan beda oleh semua, saudaraku. Tapi seiring bertambah usia, aku mulai mengetahui jika kami ternyata tak satu ibu, membuat aku sadar diri, dan tak lagi menuntut untuk disamakan.
Aku terlahir dari istri ke-dua ayah, dan aku adalah anak satu-satunya. Tapi, sejak kecil aku dirawat oleh ibu. Walau bukan ibu kandungku, tapi aku bersyukur, ibu sangat menyayangiku.
Mungkin itu yang menjadi alasan semua saudaraku, membenciku, pikirku.
Ah biar sajalah, yang penting ayah sama ibu tak membedakan.
Apabila liburan sekolah, aku pergi ke rumah abah di kota P. Sementara ayahku tinggl di kota S. Di sana, aku seperti punya saudara kandung yang lengkap.
Abah memiliki dua anak, satu anak gadis yang tiga tahun lebih tua dariku, bernama Nisa. Wajahnya turunan dari abah, dengan mata belo dan hidung mancung, dan berkulit kuning langsat, membuat ia menjelma jadi gadis cantik, yang banyak diincar para siswa cowok, di sekolahnya.
Dengan hadirnya mbak Nisa, membuat aku merasa mempunyai seorang kakak, dan bisa merasakan menjadi seorang adik. Hal yang tak pernah aku rasakan dari saudara, se-ayahku.
Dan abah juga punya anak laki-laki, bernama Alfa. Dengan wajah yang turun dari ummi, yang otomatis berwajah tampan berkulit putih, namun memiliki tatapan yang tegas seperti abah.
Usia Alfa lebih muda dariku tiga tahun, tapi karena tubuhnya yang bongsor, menjadikan ia tak seperti anak seusianya.
Dengannya, aku merasakan menjadi seorang kakak, karena dengan saudaraku se ayah, aku jadi anak bungsu. Jadi dengan Alfa lah, aku merasa harus menjadi contoh yang baik buat adikku.
Kebetulan hobiku pencak silat, olahraga yang identik digemari para cowok pada masa itu, membuat Alfa lebih dekat denganku, ketimbang dengan mbak Nisa yang notabene adalah saudara kandungnya.
Hal terburuk yang pernah aku alamai adalah, aku pernah mengalami pelecehan, di saat usiku dua belas tahun, oleh saudara se ayah.
Hari itu...
"Dewi... malam ini, Ayah sama Ibu mau pergi ke Rumah Sakit! Kalau kamu malas di rumah sendirian, lebih baik kamu nginap di rumah Abangmu!" ucap ibu sambil berkemas.
"Memangnya nginap, Yah?" tanyaku.
"Iya, mungkin besok baru pulang! Kamu nginap tempat Abang aja, ya? Biar Ibu gak kepikiran, saat kamu sendirian di rumah!" lanjut ibuku.
Awalnya aku malas nginap di rumah abangku, karena aku tau bagaimana sinis dan bencinya ia padaku, tapi karena tak ingin membuat ayah dan ibu kepikiran, aku akhirnya menyetujui saran ibu.
"Iya Bu, Dewi nanti nginap di tempat Abang, kok! Tapi berangkatnya nanti ya, Bu. Habis maghrib, aja?" usulku meminimalisir pertemuanku dengan abangku.
"Iya... tapi jangan terlalu malam ya, Wi!" pesan ibu lagi.
"Siap, Nyonya.....!" ucapku sambil mengangkat tangan dengan gaya hormat.
Ibu tersenyum melihat tingkahku.Ya....Hanya sama ibu dan ayah, aku bisa menjadi anak pada, usiaku! Manja dan merengek jika meminta sesuatu. Tapi jika ada abang-abang atau kakakku, aku seperti anak yang tak punya keinginan.
Lepas sholat isya, aku berangkat ke rumah abangku, yang hanya berjarak limaratus meter dari rumah ayah.
Sampai di sana, tak ada yang istimewa, terlalu malas bagiku untuk bercengkerama, dengan anak dan istri abang.
Aku langsung pamit ke kamar, pada kakak iparku. Kutinggalkan Abang dan keluarganya, yang masih menikmati tontonan dari televisi, karena saat itu belum ada handphone seperti saat ini, maka hiburan satu-satunya adalah televisi.
Entah berapa lama aku tertidur, saat aku merasa ada sesuatu yang menimpa tubuhku, dan terasa ada yang mengerayangi tubuhku. Aku sontak bangun. Dan alangkah kagetnya aku, saat melihat jika ternyata, abangku lah yang berada di atasku, sambil tangannya mengerayangi tubuhku.
Aku panik dan langsung menjerit, namun mulutku segera disumpal dengan selimut. Aku tak putus asa, aku masih berusaha meloloskan diri dari kungkungnnya, namun dengan tenaga yang pas-pasan, tak mungkin bagiku meloloskan diri.
Dengan tekad, dan ditambah dengan kebencian dalam hati, membuat aku akhirnya punya akal, dengan sekuat tenaga aku menendang selangkangannya, dan ternyata caraku berhasil.
Abangku terjengkang dan berguling di sampingku, sambil meringis memegang harta pusakanya, memandang tajam padaku.
"Sial...!" ucapnya memaki.
Abangku mungkin tak memperkirakan apa yang akan aku lakukan padanya, maka dia berani mengambil tindakan itu.
Dia pikir, dengan tubuhnya yang besar, dia bisa menyampaikan keinginan
iblisnya, biadab.
Bisa dibayangkan, bagaimana kuatnya tenaganya, sedangkan aku yang saat itu masih duduk ke bangku sekolah menengah pertama, jelas mudah untuk ia intimidasi.
Beruntung aku punya dasar beladiri, jadi walaupun aku masih terbilang kecil, aku masih bisa meloloskan diri, dari kebejatan saudara laki-lakiku.
Aku berlari dari kejaran abangku, karena saat kejadian sekitar tengah malam, aku tak mungkin menggedor rumah tetangga, apalagi pulang ke rumah ayah.
Aku yakin, jika aku pulang ke rumah ayah, maka ia akan dengan mudah menemukanku. Karena saking takutnya pada kejaran abang, membuat aku memberanikan diri, tidur di komplek pemakaman.
Karena, orang mati tidak mungkin punya nafsu duniawi lagi, seperti orang hidup. Berbeda dengan mausia yang masih hidup, ia bisa berubah jadi iblis, bahkan lebih kejam dari iblis.
Malam itu kulalui di tengah jejeran kayu nisan. Tak jauh dari tempatku duduk, ada sebuah payung hitam, di salah satu kuburan yang nampaknya masih baru. Tapi aku tak peduli "Wahai pemilik payung, aku pinjam payungnya ya, jangan marah!" ucapku memberanikan diri.
Tak berapa lama, turun hujan, aku berteduh dengan payung, yang kupinjam dari penghuni di bawah sana.Walau tak mampu menutupi seluruh tubuhku, tapi lumayan untuk mengurangi bagian tubuhku, dari kebasahan.
Aku bukanlah anak pemberani dari hal-hal gaib seperti hantu dan sanak familinya. Tapi karena takut dengan kebejatan saudaraku sendiri, membuat aku jadi anak pemberani, malam itu. Esoknya jam enam pagi, aku terbangun. Aku langsung pulang ke rumah ayah, dengan pakaian yang penuh dengan tanah kuning, ciri khas tanah kuburan.
Pandangan heran para warga yang melihatku, tak kuhiraukan. Pikirku, kalian belum tentu bisa membantu, jika aku menceritakan masalahku.
Sore hari ayah dan ibu pulang, bersamaan dengan kedatangan semua saudaraku yang berkunjung ke rumah ayah, hal yang biasa mereka lakukan.
Dari awal kedatangan mereka, mereka selalu memandangku dengan tatapan sinis. Lebih-lebih abangku yang ingin menodaiku. Dari awal datang, pandangannya tak beranjak dariku, mungkin ia takut aku akan melaporkan apa yang telah ia lakukan pada ayah.
"Tadi malam kamu nginap di rumah Abang, 'kan Wi?" tanya ayah sambil mengusap rambut panjangku.
"Iya, Yah!" jawabku berusaha tersenyum.
"Apa Abangmu, nggak marah-marah?" tanya ayah lagi. Karena ayahku tau, bagaimana kelakuan anak-anaknya, padaku.
Sebelum aku menjawab ayah, aku melihat tatapan dari dua abangku yang sama-sama sudah berkeluarga, seperti ingin menelanku bulat-bulat.
Aku menelan ludahku, untuk membasahi tenggorokan ini, yang terasa serat "Nggak kok, Yah!" jawabku.
Jawabanku yang berbohong, membuat pandangan abangku sedikit melunak.
"Syukurlah..!" jawab ayah lega.
Setelah hari itu, aku tak pernah lagi mau menginap di rumah saudara-saudaraku. Cukup sudah satu kali, aku mengalami mimpi buruk dalam hidupku, pikirku.
Tapi ternyata, kejadian itu kembali terulang, saat aku berusia tujuh belasan.
Pov berakhir......
Cerita ini sengaja aku buat beralur lambat, agar pembaca lebih memahami peran dan karakter pemerannya... Sabar ya, walau alur lambat, tapi tetap punya cerita yang tak kalah seru kok.....
03 Pov Alfa..
Sejak pertengkaran itu, aku jadi jarang melihat kak Dewi main ke rumah kami lagi, membuat aku merasa kehilangan.
Yang awalnya setiap liburan sekolah, kak Dewi selalu datang ke rumah kami, sekarang hanya saat Hari raya, atau menyambut bulan Ramadhan. Itupun jika aby atau ummi, yang minta.
Ummi berpesan padaku, untuk tidak membahas masalah yang pernah terjadi, antara aby dan kak Dewi.
Walau banyak yang ingin aku tanyakan, namun aku hanya mengangguk. Maka, tiap kali kak Dewi datang, aku akan mengajaknya keluar jalan-jalan.
Terkadang, aku sparing dengannya tentang silat. Walau akibatnya wajah dan tubuhku membiru, karena mendapat pukulan dan tendangan darinya, aku ikhlas asal kak Dewi kembali dekat, denganku.
Dan aku bukan tipe orang yang mudah menyerah. Walau tak sekalipun kak Dewi mau mengalah dariku, justru itu membuat aku semakin bertekad, jika aku harus lebih kuat, dari kak Dewi.
Aku selalu memanfaatkan momen kebersamaan kami, dengan hanya kami berdua.
Ada aja alasanku agar pergi ditemani kak Dewi, entah itu ke Mall, atau sekedar makan bakso pinggir jalan, atau jalan-jalan ke taman.
karena menurutku hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menghibur kak Dewi, sekaligus menikmati saat-saat bersamanya.
"Kak, kalau nanti Alfa udah gede, kakak mau nggak jadi pacar, Alfa?" tanyaku suatu sore, saat kami duduk di taman alun-alun kota.
Entah mengapa, kekhawatiran akan kak Dewi meninggalkanku, menghampiriku hingga membuat hatiku gelisah.
Aku merasa tak rela, jika kak Dewi dimiliki oleh laki-laki lain. Tapi, saat itu bukan rasa cinta yang aku rasakan. Hanya rasa takut, jika kak Dewi meninggalkanku, itu yang ada di pikiranku.
"Kamu kok ngomong kayak gitu sih, Li! Bagi kakak, kamu adalah adik, yang dikirim Tuhan untuk kakak! Kamu 'kan tau, kak Dewi nggak punya adik! Jadi, di hati kak Dewi, selamaya kamu akan tetap jadi adik kakak yang lucu, dan paling ganteng!" ucap kak Dewi tersenyum manis, sambil mengacak rambutku.
Aku merasa sedih dan bahagia, saat mendengar jawaban kak Dewi. Aku bahagia, bisa memiliki kakak yang mengerti aku.
Walau tak dipungkiri, jika mbak Nisa juga menyayangiku, tapi bagiku kak Dewi lah yang lebih mengenalku, dan mengerti mauku. Dan sedih , jika suatu saat aku akan kehilangan orang yang mengerti aku.
"Jika suatu saat nanti, kak Dewi udah punya pasangan, apa kakak tetap sayang sama, Alfa?" tanyaku sambil menyodorkan snack keju kegemaranku padanya, sambil memberi tatapan berharap ia mengambilnya.
Kak Dewi memandang wajahku sesaat, lalu mengambil satu snack keju yang kuberikan, lalu memakannya.
Aku melihat semua itu sambil tersenyum, karena aku tau, kak Dewi sangat membenci makanan yang berbahan keju, tapi demi menghargaiku, ia memakannya dengan wajah meringis.
"Sampai kapanpun, kakak akan tetap sayang pada Alfa, alias Ali! Walau kita mungkin akan jarang bertemu, tapi di hati kakak, Ali punya tempat tersendiri, kok!" ucap kak Dewi, sambil memandang kosong ke depan.
Ntah apa yang ia pikirkan, aku tak tau. Tapi ada kesedihan yang terpancar dari sana.
Begitulah masa kecilku ku lalui, bersama kedua orangtua, dan kedua kakakku, aku merasakan kebahagiaan yang sempurna sebagai anak, juga adik.
Tapi hal yang tak kuduga kembali terjadi, saat aku berusia empatbelas tahun, aku dikagetkan dengan kejadian serupa.
Dimana kak Dewi, kembali berdebat dengan Aby dan dengan masalah yang sama. Tapi ini lebih parah dari sebelumnya.
Aku ingat kata-kata kak Dewi, yang ia ucapkan dengan lantang.
"Dewi menyesal memiliki darah Al-habsy dalam tubuh Dewi, Bah! Jika darah ini, mengharuskan Dewi menikahi adik Dewi sendiri, biarlah Dewi tak dianggap bagian dari keluarga besar Al-habsy!"
Kulihat dengan jelas, bagaimana nampak begitu terpukulnya, kak Dewi. Ingin rasanya aku memeluk dan menghiburnya, tapi tak bisa, karena itu berarti yang aku hadapi, adalah abyku sendiri.
"Lalu mau kamu apa, Dewi? Jangan seperti Ibumu, yang pela**r itu!" bentak Aby tak kalah lantang, sampai aku yang berada di ruang makan mendengar jelas.
"Owh .... Jadi menurut Abah, Ummi Dewi pel**r....? Baik, terimakasih atas penghinaan Abah, untuk almarhumah Ummi Yasmine...Tapi Dewi bersumpah, Bah! Jika dalam tubuh ini memang memiliki darah seorang pelacur, maka biarlah Dewi menjadi pela**r yang selanjutnya, mengikuti jejak dari wanita yang telah melahirkan Dewi, ke dunia ini!" ucap kak Dewi, dengan suara bergetar menandakan ia sedang menangis.
"Dewi .... istigfhar!" ucap ummi dan mbak Nisa, serempak.
"Biarkan aja, Mii...! Abah ingin lihat masa depannya, tanpa kita mendampinginya!" ucap tegas aby.
"Udah donk, By! Jangan paksakan Dewi dengan perjodohan, ini! Biarkan dia memilih!" lanjut ummi lagi.
"Mau jadi apa dia, jika dibiarkan! Aby tau bagaimana Ayahnya mendidiknya! Bisa-bisa, apa yang dia ucapkan akan menjadi kenyataan!" lanjut aby tetap dengan pikirannya.
Kulihat ummi hanya menangis melihat situasi saat itu.
"Iya ..... Dewi memang anak yang bernasib malang, Bah! Tapi Dewi bukanlah anak yang membawa si*l, pada keluarganya. Jika tuduhan Abah pada Ummi Dewi, salah! Maka, Abah akan merasakan yang namanya, dihancurkan! Selamanya, Abah nggak akan pernah menemukan, apa itu kebahagiaan! Itu do'a Dewi, Bah! Do'a dari anak, yang Abah anggap anak seorang pel**r!" ucap kak Dewi, lirih sambil memandang tajam pada aby.
"Apa kamu begitu membenci kami, sampai harus mengucapkan do'a buruk seperti itu, nak?" tanya ummi pada kak Dewi.
"Maaf Ummi, jika Dewi mengatakan kata yang tak pantas! Tapi ...Percayalah, Dewi nggak akan pernah membenci keluarga ini, justru Dewi merasa berhutang budi atas kebaikan keluarga ini! Tapi tuduhan Abah, itu sangat menyakitkan, Mii!" ucap kak Dewi
"Jangan ucapkan itu, nak! Bagi kami, kamu bagian dari keluarga ini!" ucap Ummi sambil memeluk kak Dewi.
"Iya Wi, gak ada yang namanya hutang budi, sama keluarga sendiri!" ku dengar mbak Nisa juga ikut membujuk kak Dewi.
Hanya aby yang tetap diam, tak bicara sepatah katapun, entah minta maaf atau apa kek. Aku merasa geram dengan sikap aby, tapi aku hanya bisa diam, dan mendengar obrolan mereka.
"Makasih Ummi, Mbak Nisa..! Tapi ... Ucapan Abah hari ini, sampai mati akan Dewi ingat!"
Setelah memeluk ummi dan mbak Nisa, aku melihat kak Dewi masuk ke kamar tamu, tempat ia selama ini menginap, di rumah kami.
Baru saja aku ingin beranjak untuk menghampirinya, ku lihat kak Dewi keluar dari kamarnya, dan menghampiri aby.
Kulihat kak Dewi menyalami aby.
"Maaf, jika Dewi tak bisa seperti yang Abah inginkan! Dewi mohon, halalkan dan ridhoi atas semua rezeki dan nasehat Abah, yang telah masuk ke tubuh Dewi!" ucap kak Dewi di sela isak tangisnya.
Abah tak menjawab sepatah katapun. Tapu aku sempat melihat, aby menghapus air matanya, saat kak Dewi meninggalkannya.
Lalu, kak Dewi menghampiri ummi dan mbak Nisa, mereka berpelukan sambil menangis.
"Jangan bosan main ke rumah ini, Wi!" ucap mbak Nisa.
"Kamu harus sering-sering, ke sini ya nak!" ucap ummi.
Kak Dewi hanya mengangguk tak bersuara sepatahpun.
Terakhir, kak Dewi menghampiriku, ia memelukku erat, seakan enggan tuk berpisah. Dapat kurasakan guncangan di tubuh kak Dewi, yang membuat aku ikut menangis.
Menyadari jika aku pun menangis, kak Dewi melepaskan pelukannya dan memandang wajahku lekat.
"Ingat baik-baik pesan kakak, ya Ali! Sekeras apapun hatimu, jangan pernah menyakiti wanita! Jangan malas latihan ya, jadilah laki-laki kuat, tak mudah menyerah! Satu lagi .... Lindungi dia yang pantas kamu lindungi, dan jauhi dia jika itu bisa merusak dirimu!"
Itu lah pesan kak Dewi yang selalu kuingat, hingga saat ini. Karena setelah itu, aku tak lagi mendapat pesan dan nasehat dari kak Dewi. Karena sejak itu, hubungan keluarga kami dan keluarga kak Dewi, semakin renggang.
Aku coba mengambil hikmah dari apa yang terjadi, satu yang kuyakini bahwa kepatuhan atas ucapan orangtua, adalah yang utama. Maka, sebisa mungkin aku mematuhi setiap perkataan dan perintah orangtuaku.
Saat sekolah, aku sering loncat kelas. Mungkin karena tekanan aby, yang mengharuskan aku selalu juara dalam semua bidang, membuat aku yang tiada hari tanpa belajar dan berlatih, menjadikan aku selalu juara kelas, walaupun bisa dibilang usiaku bukan pada angkatan
Bisa kalian bayangkan, aku tamat sekolah menengah atas, saat teman seusiaku baru tamat sekolah menengah pertama.
Karena usia yang masih terlalu muda, untuk duduk di bangku kuliah, aby memasukkanku ke pondok pesantren.
Di sanalah aku mengasah lagi dan lagi ilmu agamaku, yang sebelumnya ku pelajari dari aby dan ummi.