Bab 2

"Yun ...." Rika menyentuh lenganku.

"Eh, gimana tadi?" tanyaku, mengalihkan pandangan dari lelaki itu. Lelaki yang aku kenal di masa remaja, dia yang kini menggandeng perempuan hamil.

"Emm ... ganteng juga, Yun," ucap Ulfa sambil menunjuk ke arah lelaki itu.

"Emang ya kalo jomlo tuh, radarnya kenceng banget, liat yang ganteng dikit aja langsung bunyi," ucap Ulfa sambil terkekeh. Rika menoleh ke arah yang ditunjuk Ulfa. Matanya langsung melotot.

"Gila! Ganteng juga percuma, dia udah punya bini! Gini ya, Yun, gue emang pengen elo cepet-cepet punya cowok. Tapi kalo jadi pelakor nggak usah! Mendingan jadi jomlo aja, lebih bermartabat!" cerocos Rika dengan nada yang tidak santai. Aku mengangguk setuju dengan pendapatnya.

"Tapi dia beneran ganteng loh, Yun. Dadanya senderable banget." Rupanya Ulfa masih belum mengalihkan perhatiannya.

"Eh, eh, dia ngeliat ke arah kita! Omaigot! Dia senyum lagi!" Ulfa bertingkah heboh. Aku dan Rika menoleh ke arah lelaki itu. Benar saja, dia dan perempuan hamil itu berjalan ke arah kami. Gawat deh, tingkah Ulfa bikin malu, mungkin dia mau menegur kami.

"Elo sih, norak banget, jadi aja dia ngeh kalo lagi diomongin!" omel Rika.

"Permisi, kamu Yuna?" tanya lelaki itu. Aku terkejut, tidak menyangka dia masih mengingatku. Ulfa dan Rika melongo saat dia menyapa.

"Eh, iya," ucapku berusaha bersikap tenang.

"Aku Evan, anak PDK. Inget, nggak?" Dia mengulurkan tangannya dan kami berjabat tangan.

"Oh, iya! Kak Evan apa kabar?" tanyaku setelah diam beberapa detik berpura-pura lupa.

"Alhamdulillah kabar baik. Eh, boleh gabung? Meja yang lain penuh semua."

Oh, ternyata dia menyapaku karena tidak kebagian meja. Aku melirik ke arah Rika dan Ulfa meminta persetujuan mereka. Mereka mengangguk, aku ijinkan Kak Evan bergabung di meja kami.

"Oh iya, kenalin ini Mbakku. Evi." Perempuan hamil itu tersenyum lalu menjabat tanganku.

"Kenalin juga, Kak, temen-temenku," ucapku, mereka semua saling berjabat tangan.

"Evan."

"Rika."

"Ulfa."

"Evi."

Beberapa saat suasana menjadi canggung. Aku sendiri bingung mau ngobrol apa.

"Teh Evi istrinya Kak Evan, ya? Hamil berapa bulan, Teh?" tanya Ulfa sambil tersenyum tanpa dosa. Ih, boleh jitak Ulfa tidak? Buat apa tanya hal yang sudah jelas. Apa dia tidak lihat tadi Kak Evan perhatian banget?

"Bukan. Dia Mbakku, artinya dia kakakku," jawab Kak Evan ramah. Ulfa bertepuk tangan dengan bahagia.

"Kan, apa gue bilang, bukan istrinya, masih bisa lo gebet, Yun," ucap Ulfa di telingaku dengan suara yang cukup keras.

Mama ... enaknya aku apakan temanku yang satu ini? Malu banget!

Rika menendang kaki Ulfa di kolong meja. Ulfa meringis, tapi tetap saja dia tidak merasa bersalah. Aku berusaha bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

"Yuna kenal sama Evan di mana?" Satu pertanyaan dari Mbak Evi bikin aku semaput. Jujur, aku malu banget kalau ingat apa yang sudah aku lakukan di masa lalu. Semoga Kak Evan sudah lupa. Ya Allah, buat Kak Evan hilang ingatan, please ....

"Yuna juga dari Cirebon, Mbak. Kita dulu sering seangkot bareng kalau berangkat sekolah. Iya 'kan, Na?" Kak Evan menjawab pertanyaan Mbak Evi yang malah bikin tiga orang selain kami itu makin penasaran.

"Iya, Mbak," jawabku singkat.

"Kalian pernah pacaran, ya?" Aku menggeleng cepat, begitu juga Kak Evan. Sudah pasti dia menolak dianggap pernah pacaran denganku.

"Kita sering seangkot bareng, Mbak. Kebetulan aku SMA 6, Yuna SMP 5. Tetanggaan itu. Karena sering seangkot, lama-lama jadi kenal," jelas Kak Evan.

Lama-lama jadi kenal? Cih, apaan! Mana pernah Kak Evan notice keberadaanku waktu itu. Kalau bukan akunya yang nekat, mungkin sampai sekarang kami tidak akan saling kenal.

Aku baru ngeh kalau penampilan Kak Evan berubah. Seingatku, dulu Kak Evan anak paskibra, rambutnya selalu potongan cepak ala pak tentara. Sekarang potongan rambutnya sudah tidak cepak lagi. Apa itu? Dia pakai anting di telinga kirinya? Kenapa seperti badboy begitu, ya?

Kakiku ditendang, entah siapa yang menendang. Tapi melihat raut wajah Rika yang serius sambil mendelik, sepertinya dia.

"Yun, heh! Kok, malah bengong, sih? Itu ditanyain sama Kak Evan." Ulfa menjentikkan jarinya di depan mukaku.

"Eh, gimana, Kak?"

Kak Evan tersenyum tipis melihat responsku, berbeda dengan Mbak Evi yang tertawa.

"Elo ditanyain ngekost dimana? Kebanyakan ngelamun, sih," sahut Rika ketus.

"Aku ngekost di Lengkong, Kak. Kak Evan udah lulus kuliah, ya?" tanyaku basa-basi. Seharusnya dia memang sudah selesai S1. Dulu dia SMA kelas tiga, aku SMP kelas tiga. Sekarang aku semester empat, harusnya dia sudah lulus. Kalau melihat dia ada di sini sekarang, saat makan siang di hari kerja, kemungkinan dia belum lulus. Sepertinya aku salah pertanyaan, gawat!

"Alhamdulillah, udah tahun kemaren, langsung dapet kerja."

"Kok, sekarang ada disini, emang lagi cuti, ya?" Ulfa mewakiliku yang memiliki pertanyaan serupa.

"Kerjaanku emang nggak nuntut harus dateng setiap hari, sih. Terus nggak harus pake pakaian formal. Jadi kayak lagi main aja." Kak Evan menjawab pertanyaan Ulfa sambil tersenyum manis. Berbeda sekali raut wajahnya jika sedang bicara denganku. Ya, siapa yang menolak pesona Ulfa, iya kan? Ck, kenapa harus kesel, Yun?

Pembicaraan kami lebih didominasi oleh Ulfa dan Kak Evan. Ulfa banyak tanya dan Kak Evan menjawab dengan wajah berbinar.

"Yuna, Mbak boleh minta nomor hp kamu?" tanya Mbak Evi memotong pembicaraan Ulfa dan Kak Evan. Kak Evan tak bisa menutupi keterkejutannya. Terlihat sekali dia tidak suka dengan pertanyaan kakaknya.

"Buat apa, Mbak?" tanyaku. Jujur, aku tidak nyaman melihat raut wajah Kak Evan yang kecut.

"Cuma nyimpen aja, barangkali kita bisa lebih deket. Boleh, ya? Nanti bayi Mbak ileran loh, kalau nggak dapet nomor tante cantik," gurau Mbak Evi.

Aku hanya bisa meringis dipuji cantik olehnya, yang jauh lebih cantik. Ulfa tertawa mendengar gurauan Mbak Evi. Rika tersenyum tipis, sedangkan Kak Evan? Wajah dia datar. Tidak ada senyum sama sekali.

Akhirnya, dengan terpaksa aku memberikan nomor ponselku. Makan siang kami selesai dengan traktiran dari Kak Evan.

Sekarang kami bertiga sedang ada di kamar kostku. Rika rebahan sambil memainkan ponsel, sedangkan Ulfa sedang mencoba beberapa lipstik koleksiku. Walau aku tidak semodis mereka, tapi aku suka bereksperimen dengan make up. Koleksi make up aku lumayan komplit, terutama lipstik. Ada puluhan lipstik berbagai warna dan merk.

"Yun, itu beneran kamar sebelah mau pindah? Nanti gue yang ngisi, gue jadi ngekost. Capek bolak-balik, tua di jalan," ucap Ulfa.

Dari beberapa bulan kemarin, dia ribut ingin ngekost. Rumahnya di Cimahi, lumayan jauh jaraknya dari kampus. Katanya dia sudah mendapatkan ijin dari orangtuanya. Karena kami tidak mau sekamar, maka harus menunggu salah satu kamar di kostku kosong dulu. Kebetulan Mbak Dewi di kamar sebelah sudah tamat kuliah.

"Akhir bulan ini katanya, Fa. Gue juga udah bilang ke ibu kost kalau kamar bekas Mbak Dewi buat elo. Nanti elo kasih dp aja dulu, barangkali keduluan orang." Ulfa mengangguk mendengar ucapanku.

"Yun, namanya Kak Evan siapa? Evan Rahardian, bukan?" tanya Rika tanpa melepas pandangannya dari ponsel.

"Iya, kenapa gitu?"

Rika bangun dari rebahannya, menyodorkan ponselnya. "Nih liat. Anjiir! Kak Evan emang ganteng, sih. Sayang dia gebetan elo, kalau bukan udah gue embat!"

Aku melihat ponsel Rika yang membuka aplikasi Instagram. Di sana ada foto Kak Evan sedang menenteng tas gitar. Ulfa merebut ponsel Rika.

"Aaa!!! Ganteng banget, aduh jadi pengen khilaf nyelingkuhin Dani." Ulfa menatap foto Kak Evan dengan tatapan memuja. Aku membuka akun Instagram Kak Evan dengan ponselku sendiri. Waw, pengikutnya lumayan banyak. Padahal isinya didominasi oleh foto pemandangan. Foto diri cuma sebiji doang.

"Yun, Kak Evan kudu elo dapetin. Gue rela mengikhlaskan dia buat elo." Rika menatapku serius. Ulfa mengangguk setuju, tidak ada raut jahil di wajah mereka, dan membuatku menjadi salah tingkah.

"Kalian ngomong apa, sih? Gue kenal dia juga cuma sekedar kenal doang, kok," elakku.

Rika menghela napas,"Nggak usah ngelak! Tadi di Heritage elo natap dia kayak kucing ngeliat ikan asin! Sampe dia risih diliatin kayak gitu."

"Ih, kapan?" Aku tidak merasa menatap Kak Evan dengan memuja, maaf-maaf, diriku bukan yang dulu lagi.

"Waktu elo ditanyain ngekost di mana, elo cuma bengong ngeliatin wajah dia. Sampe kakaknya ngetawain. Jangan nggak ngaku!" omel Rika.

"Waktu itu gue cuma heran sama perubahan dia doang, kok," sanggahku.

"Halah, ngeles aja terus!"

"Udah, pokoknya kita kawal Yuna dan Kak Evan sampai SAH lalu ... aaahh," ucap Ulfa sambil mendesah. Rika melempar wajah Ulfa dengan bantal.

Bab 3

Tidak terasa sudah semester lima. Rasanya baru kemarin aku datang ke kampus ini sebagai mahasiswa baru. Semester ini jadwal kuliahku lumayan padat. Alhamdulillah karena IPK-ku kemarin cukup memuaskan, semester ini aku ambil beberapa matkul dari semester atas. Semoga bisa lulus tepat waktu.

"Yun, sendirian aja lo? Ulfa sama Rika mana?" tanya Bendot sambil merangkul pundakku. Aku refleks melepas rangkulannya. Bendot berdecak.

"Elaah, napa lo, cuma gitu doang, kok. Lagian gue 'kan udah bilang, gue udah anggap lo adek gue sendiri. Elo anggap aja gue abang lo. Jadi rangkul-rangkul gini, nggak papa, dong." Bendot merangkulku lagi. Sekali lagi aku lepas tangannya dari pundakku.

"Tetep gue nggak mau! Berat!" sahutku.Bendot tertawa, tangannya mengacak-acak rambutku.

Nama aslinya Beno. Dia anak Tanggerang, katanya dia anak Betawi asli seperti si Doel. Tapi sudah tergusur dari Jakarta, sekarang orang tuanya tinggal di Tanggerang. Dia lebih tua tiga tahun dari teman-teman seangkatan. Dia sempat kerja dulu sebelum kuliah. Karena itu kami panggil dia, Bendot artinya Beno Bandot. Hihihi...

Seperti yang dikatakannya tadi, dia anggap aku adik, Bendot itu perhatian banget. Perhatian layaknya seorang kakak ke adiknya, bukan perhatian seperti sepasang kekasih, loh ya .... Bendot sudah punya pacar. Aku juga kenal, namanya Teh Mia. Anak kampus sebelah. Orangnya cantik, anggun, dan baik hati. Dia sekarang lagi nunggu jadwal sidang. Berarti Teh Mia bakal lebih dulu lulus dibanding Bendot.

"Ntar sore gue maen ke tempat elo, yak."

"Mau ngapain?" tanyaku.

"Hehehehe biasaa ... " Bendot cengengesan. Aku menghela napas, tidak heran dengan tingkahnya yang satu ini.

"Nape sih lo? Gue kangen sama baso Mang Enjay. Baso paling enak se-Bandung," lanjut Bendot, tangannya menarik tanganku ketika ada beberapa mahasiswa hampir menabrakku. Awal semester baru kampus memang lebih ramai dari biasanya.

"Ya, iyalah paling enak, gratis!" jawabku sambil cemberut. Bendot tertawa melihat reaksiku. Jadi begini, perlakuan Bendot yang perhatian itu sebanding dengan tingkah menyebalkannya. Dia sering ke kostan untuk numpang makan. Numpang makan gratis lebih tepatnya. Buatku, selama dia tidak minta makan yang mahal-mahal tak masalah. Bendot sering minta traktir baso Mang Enjay. Tukang baso yang mangkal dekat kost'an. Terkadang dia juga minta dibelikan nasi rames di kantin sebelah kost'an.

"Bang Beno apa kabar? Kok, udah lama nggak ngechat aku, sih?" Tiba-tiba ada seorang gadis menyapanya. Aku tidak mengenalnya, mungkin anak fakultas lain.

Cukup banyak perempuan yang mendekati Bendot. Dia itu ganteng sebenarnya, cuma orangnya slengean, sering cengengesan tidak jelas. Rambut gondrongnya yang cuma diikat asal, berantakan. Katanya, itu yang membuat para perempuan menjadi gemas. Jangan lupa juga, dia itu genit. Semua perempuan digodanya, padahal sudah punya pacar. Jawabnya, 'lah punya bini aja boleh sampe empat. Masak gue punya pacar lebih dari satu kagak boleh'. Terserah kamu, Ben!

"Sorry, Beb. Cewek gue yang ini cemburuan banget," ucap Beno sambil merangkul pundakku lagi. Aku berusaha melepas, tetapi Bendot memberi kode agar aku menurut.

Perempuan itu melengos sambil menatapku sinis. Bendot cekikikan melihat salah satu fansnya kesal.

"Lepas ah, berat tahu!"

"Baru tangan loh ini, Yun. Kalo gue tindihan lo, gimana? Ehz elo keenakan sih pastinya." Bendot mengedipkan mata kirinya, sembari tersenyum jahil menggodaku.

"Dasar mesum! Gue laporin ke Teh Mia, tahu rasa!" Aku bergegas masuk ke kelas, mengabaikan Bendot yang masih tertawa.

Bendot itu selain menumpang makan, dia juga sering curhat. Dia suka cerita tentang pacarnya. Dia sering menceritakan apa saja yang dia lakukan dengan pacarnya. Awalnya aku kaget mendengar cerita dia, tidak menyangka gaya pacaran Bendot sebebas itu. 

Aku sempat menjauh, takut ternyata dia seperti itu. Otak aku yang awalnya bersih dan lurus, sedikit tercemar. Bendot menyakinkan aku, bahwa dia tidak akan berbuat macam-macam. Dia benar-benar menganggap ku sebagai adiknya. Setelah itu barulah aku bisa berinteraksi dengan dia seperti biasa.

Setelah perkuliahan aku langsung ke kantin. Mau pulang nanggung. Hanya ada waktu sejam sebelum jadwal kelas berikutnya. Aku tidak sendiri, ada Rika juga Bendot. Ulfa tidak masuk karena KRS nya tidak cukup untuk ambil matkul statistik.

"Bang, bagi minum, dong?" Itu suara Lucky. Anak kelas sebelah yang akhir-akhir ini jadi dekat karena kita sering ambil matkul yang sama.

"Nih! Jangan diabisin, gue masih haus!" Bendot menggeser gelasnya.

"Kenapa nggak pesen sendiri aja, sih?" tanya Rika.

"Udah, tapi belum jadi. Gue haus banget," jawab Lucky setelah menyedot es teh manis Bendot.

"Yun, nanti sore gue maen, ya?" tanyanya.

"Ngapain lo?" sahut Bendot lebih dulu.

"Ya maen ajalah, emang harus ada alasan?" jawab Lucky.

"Ya, emang kudu ada alasan. Inget, Yuna ntuh adek gue!" sahut Bendot.

"Kenapa elo posesif banget sama Yuna? Adek ketemu gede juga!" Rika menoyor kepala Bendot. Bendot mendengkus.

"Ya gue sih maunya posesif ke elu, Yang. Elu nya kagak maoo ...," jawab Bendot dengan logat Betawi yang khas. Rika berdecih. Bakal ramai kalau Rika sama Bendot sudah saling sahut seperti itu.

"Yang, yang, pala lo peyang!" sewot Rika.

"Elu mah aneh. Gue perhatian sama Yuna, elu cemburu. Gue kasih perhatian, elu kagak mau. Padahal elu itu cewe pertama yang gue ajak pacaran di kampus ini. Elu langsung nolak sebelum mencoba. Padahal udah gue kasih garansi," ujar Bendot.

"Siapa yang cemburu, Pe'a! Udahlah emosi gue kalo ngomong sama kambing!"

"Ih, gemess kalau lihat Neng Rika ngambek gini. Jadi pengen cepet-cepet Abang halalin," goda Bendot, mukanya dibuat imut sambil menempelkan sumpit di kedua pipinya.

Rika memukul kepala Bendot dengan buku statistik.

"Woyy...sakit anjir!" Bendot mengusap kepalanya.

Aku dan Lucky tertawa melihat interaksi mereka berdua. Sudah bukan rahasia lagi kalau Bendot naksir Rika dari awal kuliah. Sayangnya, Rika menolak mentah-mentah. Dia bilang Bendot bukan tipenya.

"Mau ketemu Ulfa ya, Ky?" tanyaku mengabaikan pertengkaran Rika dan Bendot. Lucky cuma senyum mendengar pertanyaanku.

"Antara iya dan engga, sih. Gue mau ngajak lo nonton basket. Syukur-syukur bisa ketemu Ulfa. Menyelam sambil minum air 'kan. Dia  nggak ada jadwal kuliah hari ini?"

Aku menggeleng, lalu menusuk somay pesananku dengan garpu. Lapar banget, tadi pagi cuma minum kopi tidak sempat sarapan. Lucky ini salah satu dari sekian banyak penggemar Ulfa. Dia dekatu aku juga karena sedang pendekatan dengan Ulfa. Aku tidak keberatan, selama aku tidak dimanfaatkan. Toh, selama ini Lucky baik, kok. Andai Ulfa putus sama Dani, Lucky bakal jadi orang pertama yang aku rekomendasikan untuk jadi pacar Ulfa. Sudah lulus seleksi. Cakep, sholeh, pinter dan tidak merokok. Sudah masuk kriteria lelaki idaman aku juga, sih. Sayangnya dia naksir Ulfa. Asli, aku tidak menaksir Lucky, hanya kagum.

"Kalian ngobrolin apaan, sih? Jangan bisik-bisik!" Bendot melempar gelas plastik kosong ke arah Lucky.

"Kenapa sih, Bang, sensi amat?" Temen-temen yang lain walaupun tau Bendot umurnya lebih tua tetap manggil nama saja. Termasuk aku, Ulfa dan Rika. Namun, Lucky memanggilnya dengan panggilan 'abang'. Satu lagi point plusnya Lucky, sopan.

"Pokoknya elu kagak boleh maen ke kost'an Yuna. Ntar sore gue mau ke sana, jangan ganggu!" Aku mengode Lucky untuk diam. Untung saja dia paham.

"Yun, ke toilet, yuk. Touch up bentar, mau ketemu Pak Dodik dosen handsome."

"Genit lo! Pak Dodik udah tua, mendingan sama gua!" Bendot mencibir.

"Bodo amat! Males gue ngobrol sama kambing!" Rika menarik tanganku. Tiba-tiba ponselku bergetar, ada pesan masuk di aplikasi WhatsApp.

"Bentar, ada yang nge-WA. Siapa ya kok nomornya nggak kenal?"

"Udah nanti lagi, gue kebelet. Buruan ...."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED