“Selamat siang Nona Kim, maaf jika saya terlambat," ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya kepada Nana.
“Tidak apa bu, kami juga baru sampai." sahut Nana. Ada getaran dan rasa aneh pada saat berjabat tangan dengan kliennya, Nana merasa sudah tak asing dengan sentuhan itu.
“Siapa wanita ini? Kenapa aku seperti tak asing dengannya?" batin Nana.
“Ehem...” Naura memberi kode kepada Nana.
“Eh maaf ...” ucap Nana gugup sambil melepaskan tangannya.
“Perkenalkan ini ibu Riana, berasal dari singapura” ucap asistennya yang bernama Marsel.
“Saya Nana, dan ini asisten saya Boy dan Naura.” Nana memperkenalkan dirinya dan juga asistennya.
“Baiklah untuk mempersingkat waktu, mari kita mulai membahas masalah ini." ucap Naura.
Nana kaget bukan main saat melihat biodata seseorang di dalam kertas itu. Ternyata yang dicari kliennya adalah dia dan adiknya.
Wajah Nana memucat tubuhnya berubah dingin seketika, Boy menyadari perubahan Nana langsung mengambil air minum. “minumlah!’’
“Makasih Boy.” Nana sambil meraih gelas itu.
“Apakah nona baik-baik saja?" tanya Riana yang melihat perubahan Nana.
“Saya baik-baik saja, oh ya ... saya akan pelajari berkas ini dulu, paling lambat nanti malam saya akan memberikan kabar baik kepada Anda. Sekarang saya harus pergi, ada pertemuan lain yang sangat penting yang harus saya hadiri.” pamit Nana kepada Riana.
Boy dan Naura hanya bisa diam dan saling memandang dengan heran akan perubahan Nana.
Mereka bertiga meninggalkan restoran tersebut tanpa menyentuh makanan yang ada sedikit pun.
Begitu juga dengan Riana yang hatinya memang sangat keras, wanita itu tak menyadari jika ada sesuatu yang aneh dengan Nana.
Setelah sampai di mobil barulah Boy dan juga Naura bertanya kepada Nana.
“ada apa mbak, kenapa Mbak mendadak berubah?” tanya Boy.
“Iya mbak. Dan ini baru pertama kalinya aku lihat mbak gugup dalam menghadapi klien’’ Naura juga ikut berbicara.
“Nggak papa ... a-aku baik-baik saja” jawab Nana berbohong. Nana tak ingin siapa pun tahu tentang siapa dirinya dan juga masa lalunya.
“Antar aku ke club!" ucap Nana.
“Tapi tadi kamu bilang masih ada satu lagi pertemuan penting dengan ...”
Naura diam setelah Boy menantap tajam Naura.
Boy tahu betul bagaimana Nana. Jika sedang dalam masalah pasti akan pergi ke club dan melupakan kekesalannya di sana.
Mobil pun meluncur dengan kecepatan sedang menuju club.
Setelah sampai Nana langsung masuk begitu saja tanpa menjawab sapaan penjaga. Wanita itu langsung menuju ke meja bar dan mengambil minuman dan langsung meneguknya hingga tandas.
"Boy ... apa yang terjadi dengan mbak Nana?" tanya Naura bingung.
“Aku juga nggak tahu , tapi menurut ku dia sedang ada masalah” jawab Boy santai.
Akhirnya Nana menghabiskan malam panjang itu dengan minum sampai mabuk sedangkan Naura dan Boy hanya menemani Nana sambil berjoget ria.
Tiba-tiba ada seorang pemuda datang menghampiri Nana, duduk di sampingnya sambil merebut gelas yang di pegang Nana.
Nana tak terima berteriak dan memaki pemuda tersebut.”Siapa kamu berani menggangguku?”
Pemuda itu langsung menggendong Nana dan membawanya pergi keluar dari tempat itu, sedangkan Naura dan Boy tak menyadari kepergian Nana.
Nana dibawa masuk kedalam sebuah kamar.” hey ... sialan. Siapa kau beraninya kau bawa aku kemari?”
Namun pemuda itu tak menghiraukan teriakan Nana. Dia malah menuang anggur merah ke dalam gelasnya, menikmatinya sambil melihat tingkah Nana dari sudut ruangan.
Setelah puas Pria tampan itu langsung berdiri, melepas seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan celana pendek dan berjalan mendekati Nana yang berbaring di ranjang. Ikut tidur dan memeluk Nana dari belakang.
Baru saja terbaring dan mencium tubuh Nana ada gelenyar rasa aneh muncul di dalam diri pria itu, ya sebut saja dia adalah Marsel. Pria yang menjadi asisten Riana yang diam-diam terpikat dengan kecantikan Nana.
Marsel menciumi aroma tubuh Nana yang membuat dirinya yang tadinya resah menjadi tenang.
Selama ini, Marsel begitu tertekan selama bekerja menjadi asisten Riana. Wanita sombong, angkuh dan juga keras kepala. Apapun yang Riana mau harus Ia turuti dengan cara apapun.
Dan hari ini Marsel ditugaskan untuk mencari info tentang Nana, dan ternyata diam-diam Marsel sudah mengikuti Nana sejak gadis itu masuk ke dalam club.
Pagi hari Nana bangun dengan tubuh yang terasa berat dan nafasnya terasa sesak, ternyata ada tangan melingkar di dada dan perutnya yang memeluknya sangat erat.
Refleks Nana menendang mendorong tubuh pria itu dengan kedua sikunya, hingga Marsel jatuh tersungkur ke lantai.
“Aduh ...” rintih Marsel antara terkejut dan juga kesakitan.
“Siapa Kau ...? berani sekali tidur bersamaku." teriak Nana sambil memegang selimut menutupi dadanya.
“Apakan Anda lupa dengan saya?" tanya Marsel sambil berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Nana berusaha mengingat-ingat siapa pria itu,”Oh ... Dia?!” ucap Nana sambil menunjuk ibu jarinya kearah kamar mandi.
Marsel keluar dengan rambut masih basah menetes ke dada bidang yang sangat seksi.
Memutar kepalanya mengibaskan rambutnya agar lekas kering.
“Hey ... brengsek. Tak bisakah Kau keringkan dengan handuk? Tetesan air itu mengenai wajahku’’ teriak Nana tak terima dengan tingkah Marsel yang kurang sopan.
“Diam dan lekas mandi, ada yang ingin aku sampaikan padamu,” seru Marsel sambil mengambil kaos hitam polos dari lemari.
Nana hanya diam tak bergeming lalu, Marsel mendekatinya dan mencium aroma lehernya. ”ouhh bau ... jorok sekali” ejek pria itu.
Bantal pun melayang sempurna di wajah Marsel , Nana langsung kabur melarikan diri karena malu dikatai bau.
Setelah pintu kamar mandi tertutup.”Sialan pria mesum itu, beraninya mengatai aku bau. Tubuhku wangi begini” monolog Nana sambil menciumi bau tubuhnya.
Sedangkan Marsel hanya tertawa geli melihat tingkah Nana yang menggemaskan, Marsel segera mengambil ponselnya dan memesan makanan.
Nana sudah selesai mandi, dia keluar dengan menggunakan atasan kaos yang kebesaran milik Marsel yang ada di kamar mandi. Dan tentunya tanpa mengenakan bawahan karena tak ada.
Naluri Marsel sebagai laki-laki muncul saat melihat paha putih nan mulus tanpa balutan kain sedang mendekat kearahnya.
“Apa lihat-lihat?! jangan berpikir aneh-aneh atau Kau akan menyesal” Nana memperingatkan Marsel.
Bel berbunyi, Nana berjalan kearah pintu untuk membuka pintu namun, dengan cepat Marsel melempar selimut kepada Nana untuk menutupi pahanya.
“Apa lagi ini ?" ucap Nana terkejut.
“Kamu yang apa ... sudah tau ada tamu kenapa keluar dengan pakaian seperti itu!" teriak Marsel sinis sambil berjalan kearah pintu.
“Tuan, benar ini dengan tuan Marsel?”
“Iya saya sendiri!” jawab Marsel.
Reno masuk membawa pesanannya.”Ayo kita sarapan dulu” ucap Marsel sambil menata makanan di atas meja.
Sementara di tempat lain Reyhan sedang kalang kabut mencari keberadaan kakaknya.”Bagaimana Kalian bisa membiarkan kakak ku pergi sendirian ..." Rey bertanya kepada Boy dan Naura sambil menggebrak meja.
“Maafkan kami tuan muda, kami lalai.”sesal Naura.
“Tidak ada gunanya minta maaf, yang penting sekarang temukan kakak, jangan sampai terjadi apa-apa dengannya,”sahut Rey.
Meskipun tingkah Rey kekanak-kanakkan dan konyol namun jika sudah menyangkut kakaknya dia akan berubah menjadi pria dewasa yang manakutkan. Rey akan berdiri di barisan depan untuk melindungi sang kakak dari mara bahaya yang mengancam.
Dengan cepat Rey berlari ke parkiran dan memasuki mobil hitam mewahnya untuk mencari sang kakak,“Sial ..., kenapa disaat seperti ini kakak tak membawa ponsel. Apa yang terjadi padamu, Kak?" Rey berbicara sendiri sambil sesekali memukul kemudi mobil karena merasa putus asa.
Sedangkan di hotel Marsel dan Nana sedang menikmati sarapan pagi mereka dengan sedikit pertengkaran yang terus-menerus terjadi.
“Jadi apa tujuanmu membawa aku kemari?" tanya Nana sambil memakan nasi gorengnya.
“Aku, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu”
“Apa ...?" jawab Nana.
“Kamu mau langsung atau ...” tanya Marsel sebelum mengutarakan pertanyaannya.
“Kamu nggak usah bertele-tele. Cepat katakan!”gertak Nana.
“Santai saja, kita masih punya banyak waktu" jawab Marsel dengan santainya.
Nana berdiri dan mengambil celananya yang terletak di kamar mandi dan langsung memakainya, dia keluar melewati Marsel begitu saja.
“Hey apakah ini caramu berterima kasih, setelah aku membantumu?”Marsel berusaha mencegah kepergian Nana, namun itu hanya sia-sia.
Nana menendang tubuh Marsel hingga tersungkur ke lantai dan lemas tak berdaya.
“Apa kurang dalam semalam kamu sudah memeluk tubuhku tanpa izin dari ku, masih untung aku tak menuntutmu." Nana keluar kamar sambil membanting pintu dengan kasar.
Sampai di lobi hotel Nana meminjam telepon di resepsionis untuk menghubungi adiknya.
Setelah menunggu beberapa saat Rey datang dan Nana segera pergi dari tempat itu.
“Astaga kak, Kamu kemana saja, apa yang terjadi kepadamu?" tanya Rey bertubi-tubi.
“Rey. Diamlah dulu!, kepala ku masih sangat pusing” ucap Nana.
“apa kita kerumah sakit dulu kak?" tanya Rey khawatir dengan kondisi kakaknya.
“nggak usah.ini hanya efek mabuk semalam, Kita langsung pulang saja aku ada urusan penting” jawab Nana.
Nana benar-banar tak menyangka jika kontrak kerja yang baru saja ia ambil ini membawanya ke masalah yang begitu rumit.
Bagi Nana mengetahui keberadaan orang tuanya memang tujuan utamannya, namun hal ini terlalu cepat untuk Nana, kehadiran ibunya yang secara tiba-tiba membuat Nana terkejut bukan main.
“Kak ... kakak semalam kemana?” tanya Rey pelan-pelan agar tak membuat Nana emosi. Rey tahu jika saat ini kakaknya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
“kak.” Rey memegang tangan kakaknya karena Rey melihat kakaknya hanya melamun dan tak merespon dirinya.
Nana tersentak kaget “Ada apa. Rey?’’
“kakak baik-baik saja? Apa ada masalah yang terjadi kak?” tanya Rey.
“Fokuslah mengemudi, nanti aku ceritakan jika sudah sampai di rumah” jawab Nana lalu ia kembali diam.
Rey tahu jika ada sebuah masalah besar yang saat ini kakaknya alami, Rey memilih diam dan menuruti permintaan Nana.
Sesampainya di rumah Nana langsung ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, baju milik Marsel yang tadi dia pakai dia lempar ke tempat sampah. Dalam hati gadis itu begitu jengkel dengan pria yang tidur dengannya semalam.
Dalam hati Nana terus berpikir apa yang terjadi semalam antara dia dan Marsel. Mungkinkah sudah terjadi suatu hal yang terlarang antara dia dan pria mesum itu. "Ahh ... tidak mungkin. Aku masih perawan dan jika aku melakukan hal itu pasti rasanya sakit, tapi aku tak merasakan hal itu dan .... tubuhku juga bersih tanpa jejak apapun”guman Nana sambil terus memeriksa area tubuhnya.
Selesai mandi Nana segera menuju ke kamar Reyhan. "Rey ... boleh kakak masuk?”tanyanya sambil mengetuk pintu.
“Aku disini kak" sahut Reyhan dari arah teras atas.
Nana segera berjalan mendekatiRehan, Nana duduk di kursi dekat dengan adik kesayangannya itu lalu memeluknya dengan erat.
Rey merasakan hal aneh telah terjadi dengan kakak kesayangannya. "Kak ... ada apa? Tidak biasanya kakak seperti ini." ucap Rey sambil mengelus rambut kakaknya.
“Rey." satu kata terucap begitu pelan diiringi tetes air mata yang jatuh membasahi kaos yang Rey pakai.
Spontan Reyhan langsung melepas pelukan kakaknya dengan paksa. "Kak, katakan ada apa!”Rey tak sabar lagi saat melihat air mata kakaknya yang sudah beberapa tahun ini tak lagi menetes.
“Rey tahu, pasti ada masalah serius sampai kakak seperti ini. Apa tadi malam ada yang memperkosa kakak?”
Pletakkk
Satu jitakan mendarat di kepala Rey.
“jangan gila kamu Rey. meskipun aku mabuk, tak mungkin aku biarkan seseorang menjamahku” sanggah Nana meskipun dirinya sendiri belum yakin dengan keadaannya.
“Lalu apa kak?" tanya Rey kebingungan.
Nana mengambil susu hangat milik adiknya dan meminumnya hingga hampir habis.
Nana berdiri dan menuju ke pagar balkon memandang jauh ke arah perkotaan.
“Rey, wanita tempo hari adalah ... ibu!” ucap Nana pelan sambil menengadahkan kepalanya ke langit yang cerah.
“APA? ... jadi Dia?” Rey pun terkejut dengan ucapan Nana. Ada kilat kemarahan juga di raut wajah Rey.
Rey mengepalkan tangannya dan meninju tembok yang ada di sampingnya.
“Rey, tahan emosimu, Aku tahu ini berat. Tapi bantu aku untuk menghadapi ini ya”ucap Nana mencoba menenangkan sang adik.
“Lalu apa kakak juga akan mengakui jika kita adalah anaknya?”tanya Rey tentang tujuan Nana.
“Tidak semudah itu Rey, aku akan menyelidiki terlebih dulu tentangnya”jawab Nana.
Ponsel di saku Nana berbunyi dan ternyata itu adalah panggilan dari Riana.
Nana menetralkan emosinya lalu menjawab panggilan Riana.” hallo ... selamat siang”
“Selamat siang, bisakah kita bertemu sekarang, aku sudah tidak sabar dengan berita apa yang sudah anda dapatkan" ucap Riana.
“Maaf bu. Tapi ini akhir pekan dan aku tidak melayani klien di hari libur”tolak Nana.
Dengan nada kecewa Riana berbicara kasar atas penolakan Nana." siapa Kau? Berani menolak perintahku. Ingat kamu sudah menandatangi kontrak kerjasama dengan ku”
Nana mejauhkan ponsel dari telinganya agar tak mendengar ocehan Riana.
“Huff ... masih sama dan tak pernah berubah” cicit Nana pelan.
Nana memandang Rey
“Ikuti saja kak” ucap Rey pelan.
“Baiklah, Bu ... di mana ibu akan menemui saya?" tanya Nana.
“Ouhhh ... kalau untuk itu Kamu saja yang menentukan saya masih baru di sini. Tak begitu tahu tempat ini” jawab Riana.
“Baiklah Bu. Tunggu kabar dari saya”ucap Nana sambil memutuskan sambungan teleponnya.
Nana meminta ide dari Rey untuk pertemuannya saat ini.
"Bagaimana, Rey?’’
Dalam otak Rey sudah terbesit ide gilanya untuk membalas perlakuan ibunya yang membuat kakaknya terkejut dan menangis.