Langkah kaki ringan milik Zha memasuki sebuah kos kosan kecil. Ruang yang sebenarnya lebih pantas di sebut gudang kumuh itu terletak di pinggir Rumah Susun.
Langkahnya terhenti di depan pintu kamar yang terbuat dari asbes itu ketika matanya menangkap bercak darah bercecer di lantai. Ia menyandarkan punggungnya di dinding kayu yang sudah mulai rapuh itu. Berkali kali mengusap wajahnya dengan kasar, lalu membuka pintu kamar mandi.
"Nisa, kau sudah pulang Nak.?" suara lirih di iringi batuk berat itu milik Aisyah. Wanita paruh baya itu segera menoleh sesaat setelah membersihkan sisa darah di ujung bibirnya.
"Bu, kemarilah jika kau sudah selesai." panggilan Zha pada Aisyah menandakan jika wanita itu adalah Ibunya.
Aisyah segera menghampiri Zha yang langsung memapahnya dan mendudukkannya di ranjang reyot milik mereka.
"Bu, lihatlah. Aku membawa uang banyak. Simpanlah! Aku akan segera mencari tambahannya." Zha mengulurkan beberapa uang pada Aisyah yang langsung menggenggam erat uang tersebut dan menyimpannya di dalam dompet buruk mikiknya.
"Kau mencopet lagi..?" Aisyah menatap wajah Zha.
"Kali ini tidak Bu, aku hanya...!"
"Nisa! Bisakah kau beralih profesi Nak? Menjadi buruh cuci walau pun sedikit penghasilannya, ibu lebih nyaman menggunakan uangnya."
"Tidak bisa Bu, itu terlalu lama. Waktu kita hanya sebentar."
" Nisa.!"
"Berhenti memanggilku itu Bu, aku tidak suka." Zha memalingkan wajahnya.
"Hari ini, kepala ibu sungguh sakit luar biasa, ibu ingin cepat tidur." raut wajah sang ibu berubah masam.
"Bu,..." Nisa menarik wajah nya untuk menatap kembali Ibunya , tangannya menyentuh pipi yang sudah mulai menua itu.
"Bisakah Ibu bertahan sebentar lagi. Setidak nya sampai aku bisa membawamu ke luar negri untuk membuang penyakitmu ini.?" ucapan Zha seperti jarum yang menyengat hati Aisyah, setiap kali Zha mengatakan itu , wanita ini hanya bisa menghela nafas beratnya.
"Ibu sudah lama bertahan , bahkan sejak Ibu memilih penyakit ini dari pada harus tidak melahirkanmu."
"Jika saat itu aku bisa memilih, aku memilih tidak kau lahirkan , dari pada harus melihat mu menderita seumur hidup mu." deru nafas kesal Zha terdengar memburu.
"Tidak baik bicara begitu Nak. Setiap kehidupan manusia akan ada jalannya masing masing. Kau harus bisa menerimanya dengan lapang." ucap Aisyah membelai rambut acak acakan milik putrinya.
"Tidak untuk sekarang Bu, Zha tidak bisa menerima kenyataan pahit hidupmu." Zha mencengkeram bahu ibunya.
"Dengarkan aku Bu, aku akan membalik kan keadaan kita. Aku akan membuat mu bahagia dan bangga sudah melahirkan aku." Zha menatap lekat wajah Ibunya.
"Cukup Nisa, Ibu tidak menyetujui jalanmu. Cukup dengan menjadi wanita baik dan sederhana, kau sudah bisa membahagiakan Ibumu ini."
"Dengan memakai kerudung seperti mu, lalu berdiam diri ketika semua orang menghinamu. Aku tidak akan pernah melakukannya..!"
"Nisa, luruskan jalanmu. Buang jauh jauh rasa dendammu. Maka hatimu akan bersih. Dan kehidupan bahagia akan datang padamu. Percayalah nak..?"
kata kata itu terus terngiang ditelinga Zha.
Saat ini, Air mata Zha jatuh menetes membasahi Batu nisan yang ia sentuh.
"Maafkan Zha Bu,. Aku harus membalas semua orang yang pernah melakukanmu tidak adil. Seluruh orang yang telah menghancurkan keluarga kecil kita." Zha mengusap air matanya.
"Aku akan berhenti, tapi bukan sekarang. Jika saatnya sudah tiba nanti , Kau boleh memanggilku Al'Fathunisa seperti yang kau inginkan selama ini." Zha melangkah keluar dari Area pemakaman.
Kilasan masa lalunya, ketika Sang Malaikat tak bersayapnya masih ada di sisinya yang setiap saat memberinya semangat untuk tetap tegar menghadapi hidup.
Namun beberapa tahun yang lalu, saat ia terpaksa harus menyerah , kalah oleh keadaan dan hanya bisa pasrah ketika sang malaikat tak bersayap nya harus meregang nyawa meninggalkan dirinya sendirian di muka bumi ini untuk selamanya. Itu hanya sebagian kecil dari masa masa sulit hidupnya.
Semenjak itu, Zha tak mempunyai arah, hidupnya terasa hancur berkeping keping, terasa tak terbentuk. Yang ada hanya kedinginan. Kesepian dan dendam.!!
Sebuah keunikannya dari kecil pun di asah nya dengan cara nya sendiri, menjadikan ia wanita setengah iblis tanpa tanding. Dengan bantuan Elang sahabat kecil nya dulu ia bisa mendapatkan pekerjaan nya yang sekarang. Mengenalkan pada seorang Ketua Mafia yang bernama Tuan Poso dan mengangkatnya sebaik anak didiknya. Dan saat ini dunia seperti ada di genggamannya.
Sambil bersenang-senang dulu dengan memainkan nyawa manusia manusia yang di anggap nya rakus dan jahat, ia terus mencari tau keberadaan orang orang yang telah membuat orang tuanya menderita.
Nama Zha akhirnya terkenal di kalangan para Mafia kelas atas , saat ia berhasil membunuh seorang ketua mafia hanya dengan sekali hentakan tangannya memakai senjata unik ciptaannya sendiri. Senjata yang tak membuat mangsanya harus mengeluarkan darah, namun akan mati dalam sekejap.
Sudah puluhan nyawa melayang di tangannya, namun aneh nya tidak ada satu pun yang bisa mengungkapnya.
Detektif handal pun pernah di turunkan untuk menyelidiki kasus demi kasus dari perbuatan Zha. Tapi lagi lagi, semua hanya bertemu dengan jalan yang buntu.
Bahkan Senjata uniknya tak mampu ditemukan dalam jasad korbannya.
Kepulan asap putih milik Zha terlihat melintasi wajah Elang yang sesekali mengibaskan tangan nya, seolah ingin mengusir asap itu.
"Berhentilah Nona, aku sungguh sesak.!" ucap Elang.
"Kau ingin aku menghisap lehermu? Berikan sekarang , maka aku akan mematikan rokokku.!" sahut Zha melempar puntung rokoknya sembarang.
Elang segera meraih puntung itu.
"Aku senang jika kau sedang memainkan asapnya. Lanjutkan Nona." Elang segera mengulurkan kembali puntung tersebut.
"Cih....! Dasar munafik, kau tadi bilang tidak suka!" Zha memalingkan muka nya.
"Aku tidak bilang seperti itu!"
"Tadi kau bilang, kau sesak karena asap rokok kan?"
"Lebih baik aku menahan sesak, dari pada harus kehabisan darah." kembali Elang berucap seraya kembali duduk tenang di hadapan Zha.
Zha hanya menyeringai tipis. Lalu melirik jam. Kemudian menoleh pada Elang.
"Kenapa kau masih di situ? Lihat! Sudah jam berapa?" tatapan Zha kali ini berekspresi.
"Kau benar benar disiplin Nona." sahut Elang ketika sudah melirik jam, mengingatkan nya pada kegiatan yang harus segera di siapkannya.
Elang melangkah keluar Mansion, di ikuti Zha lebih jauh dari belakang.
"Hitam , merah ,abu abu..Emmm. .. Putih." Elang menunjuk nunjuk deretan Mobil. Lalu segera membuka Mobil Sport berwarna putih itu dan segera mengeluarkannya dari garasi.
Hentakan pantat Zha di susul bunyi pintu mobil yang tertutup, menandakan kesiapan Zha untuk segera meninggalkan Mansion itu. Elang segera menginjak gas , meluncur di atas aspal hitam legam ke arah Barat kota.
Di jalanan yang terlihat sepi, pintu belakang mobil itu terbuka , Zha segera melompat turun setelah Elang menginjak rem, lalu Elang pergi begitu saja tanpa keduanya saling berbicara sedikitpun. Melangkah di kesunyian malam yang nampak sepi itu, Zha terus melanjutkan derap kakinya yang terlihat begitu tenang untuk semakin mendekati sebuah gedung Perhotelan.
Tanpa menoleh ke arah mana pun, dengan memasang wajah datarnya ia bersandar di bawah pohon Pinus yang ada di tepi pagar.
Sambil terus menghisap rokok berfilter kuning kecoklatan milik nya Zha memanggut-manggutkan kepalanya menikmati alunan musik dari handset yang ia selipkan di salah satu telinganya.
Zha menjatuhkan sisa rokoknya dan menginjaknya begitu saja, tangan nya merogoh sesuatu, mata nya lurus menatap ke depan. Saat beberapa pria berbadan tegap sedang mengiring seseorang yang berwajah asing itu menuju mobil.
Dalam lima detik ke depan, ia telah memutar pandangan nya dan melangkah pergi dengan tenangnya.
"Tuan, Tuan Frankyn ..!"
Pria yang di panggil namanya itu sudah terkulai lemas di antara tubuh para pengawalnya.
"Cepat bawa ke Rumah sakit. Mungkin Tuan Frankyn terkena serangan jantung..!" ucap panik dari salah satu dari mereka.
Di Rumah Utama Keluarga Samudra.
Pemuda yang super Coll dan tampan itu tidak lain adalah Azzero Halilintar yang kini sudah berusia sekitar 26 Tahun.
Di ruang tengah Rumah utama berwarna putih yang luas itu, pemuda ini terus mendekap seorang wanita yang masih terlihat sangat cantik meskipun usianya sudah bukan muda lagi, ia terus mendekap nya dengan tak mempedulikan kehadiran sesosok pria paruh baya yang terlihat masih juga tampan dan gagah yang sedari tadi hanya menghela nafas menatap mereka disudut sofa.
"Lepas Azze.! Aku gerah." seru sang wanita yang sedang dipeluk oleh Halilintar itu.
"Biar kan dulu Mam, aku merindukan mu." bantah Halilintar.
"Kau tidak tau malu, seharusnya kau memeluk kekasih mu bukan aku. Lepas atau aku akan menendang mu!"
"Kau tidak akan bisa melakukannya Mam, tenanglah. Sebentar lagi Az akan pergi
lagi. " Halilintar masih saja memeluk wanita itu.
"Lihatlah! Papa mu cemburu padamu." wanita itu melirik sang suami yang hanya tersenyum menatap jagoannya yang kini sudah beranjak dewasa itu.
"Setiap hari Papa sudah memelukmu Mam, sedangkan Az, hanya bisa sesekali kali. " ucap Halilintar.
"Itu salah mu, kenapa harus tinggal berpisah dengan kami."
"Karena Az ingin belajar hidup mandiri Mam, mengertilah. Suatu nanti Az akan kembali ke Rumah ini dan tinggal bersama kalian." ucap Halilintar masih memeluk Wanita yang tak lain adalah Azkayra Ibunya.
" Baiklah, dengan syarat kau harus kembali dengan membawa calon menantu Mama."
"Ah, itu permintaan yang sulit Mam,"
"Kenapa.? Kau ingin mengikuti jejak Papamu ,menikah dengan usia tua hah..!" ucap Azka.
"Bukan tua Azka, tapi dewasa. Kau tidak bisa membedakan mana tua mana dewasa." bantah Hanzero yang berada di sudut sofa.
"Kau dengar Mam, Papa menikahi mu dengan usia matang bukan Tua." sambung Halilintar.
Dreeetttt.....Dreeetttt....!!!
Getaran panjang yang berasal dari Hp Halilintar membuatnya akhirnya melepaskan belenggunya pada sang Mama, dan menjadi kesempatan untuk Azka menjauh dari Putranya yang manja itu. Azka duduk di samping suaminya dan merebahkan kepalanya di dada Hanz.
"Putramu masih saja manja." keluh nya.
"Lebih baik begitu daripada dia manja dengan wanita lain." sahut Hanz.
"Kau dan Azze sama saja, selalu membuatku kesal." ucap Azka memukul pipi suaminya yang hanya terkekeh dan langsung merengkuh tubuhnya.
Di sudut sana nampak Halilintar tengah serius berbincang dengan seseorang di Hp nya.
"Apa ,? Jadi..? Baiklah kali ini aku akan membantu mu memecahkan kasus ini." sahut Halilintar menutup panggilan dan menghampiri kedua orang tuanya.
"Ada apa Hall, seperti nya ada masalah."? tanya Hanz melihat raut tegang Putranya.
"Apa Papa tau Mr. Frankyn?"
"Iya. Kenapa dengannya?"
"Dia tewas." ucap Halilintar.
"Apa.? Kenapa.? Di bunuh seseorang atau bagaimana.?" Hanz sedikit terkejut mendengar nama Frankyn. Siapa yang tidak mengenal Frankyn seorang pengusaha yang sedikit congkak dan kejam itu? Orang itu sebenarnya mempunyai banyak perusahaan dan berkuasa. Tapi sifat Congkak
nya membuat ia banyak tidak di sukai rekan bisnisnya.
"Tadinya, kematian mendadaknya di kira terkena serangan jantung, tapi setelah hasil visum menyatakan jika ia terkena racun ganas yang memecahkan pembuluh darahnya. Anehnya racun itu masuk ke dalam tubuhnya dengan cara seperti di suntikkan dari bagian lehernya. Cara membunuh seperti ini sudah sering terjadi Pa, sudah banyak korban berjatuhan dengan kasus yang sama." jelas Halilintar atau Hall, panggilan Hanzero untuknya.
"Lalu, apa hubungannya dengan mu?" tanya Azka.
"Mam, Victor kali ini meminta bantuan ku untuk memecah kasus ini." ucap Hall.
"Bagaimana mungkin.? Victor seorang detektif Handal dan bahkan ia meminta bantuanmu yang bahkan tidak mengerti dwngan profesi seperti itu?" Azka sedikit melotot seperti tidak mengijinkan Putranya terlibat dengan urusan itu.
"Azka, apa kau tidak tau jika selama ini Putra kita selain belajar urusan bisnis perusahaan ia juga ingin menjadi seorang detektif.?" sambung Hanz.
"Benar Mam, dengan begitu Az akan menjadi orang hebat, bukan hanya hebat di dunia perusahaan juga hebat dalam memecahkan kasus. Dengan begitu Az akan siap dengan segala masalah yang kemungkinan akan ada di perusahaan kita." jelas Halilintar pada Mamanya, ia menyebut dirinya sendiri Az khusus untuk Ibunya. Sedangkan Ibunya memanggilnya dengan panggilan Azze.
Azka hanya bisa menghela nafas sabarnya. Azzenya memang lain, ia selalu ingin tau tentang dunia sekitarnya dan urusan urusan yang baginya menantang.
"Lalu, apa rencana mu.?" tanya Hanz menatap putra tampannya.
"Aku akan membantu Victor. Kasus ini sudah yang sekian kali nya. Tapi aneh nya pelaku sama sekali tidak bisa teridentifikasi." ucap Halilintar.
"Baiklah, Az pergi dulu Pa, Mam ku yang cantik..!" pamit Halilintar segera memeluk Hanz dan tentunya menciumi wajah Mamanya.
"Azze, berhentilah. Kau sungguh kelewatan." kaki Azka menendang kaki Putranya.
"Mama tidak adil, Papa saja boleh menciummu setiap saat, sedang Az yang hanya sekali kali saja sampai di tendang begini. Dasar Mama Singa." gerutu Halilintar memegangi kakinya.
"Pergi...! Bikin pusing saja." umpat Azka.
"Baiklah, sekali lagi." Halilintar merengkuh tengkuk Azka dan mengecup kening wanita itu lalu melangkah begitu saja.
"Huh, akhirnya dia pergi juga." Azka menghela nafas lega.
"Kau jangan seperti itu Azka. Dia putra kita satu satunya, dan tinggal di Apartemen tidak bersama kita. Wajar jika ia merindukan Mamanya dan ingin sesekali kau manja." sahut Hanz.
"Kenapa juga kau mengijinkannya tinggal di sana? Kalau terjadi apa apa padanya bagaimana?"
"Dia laki laki Azka, sudah sewajarnya Hall belajar hidup mandiri dan belajar menghadapi hidup, agar nantinya ia tidak gampang menyerah dengan permasalahan yang datang tidak terduga." Hanz berusaha memberi pengertian istrinya.
"Rasanya baru saja kemarin aku menggendongnya, sekarang dia yang sudah menggendongku. Aku merasa kesepian jika Azze selalu pergi dariku." ucap Azka.
"Dari pada kau memikirnya lebih baik kita berusaha membuat kan adik untuk Halilintar, siapa tau kita berhasil. Kau tidak akan kesepian lagi." ucap Hanz merengkuh tubuh istrinya.
"Hanz, kau masih saja brutal." mendorong tubuh Suaminya.
"Kenapa Azka,? Kenapa kau sering menolak ku.? Ah, baiklah. Mungkin karena aku sudah tua dan kau masih terlihat begitu cantik, kau jadi tidak bergairah lagi padaku." Hanz merajuk.
"Hanz.!" Azka merasa bersalah.
"Siapa bilang begitu, kau tetap terlihat tampan dan gagah. Aku hanya sering pusing memikirkan Putramu, apalagi keinginannya menjadi detektif sangat menganggu pikiran ku ." jelas Azka berusaha merayu Hanz yang memasang wajah cemberut.
"Benarkah..?"
"Benar Hanz, kau tetap tampan dan gagah. Baiklah, kita berusaha membuat adik untuk Azze sekarang yuk..?" Azka tetap berusaha membujuk Hanz, mendengar itu Hanz langsung bersemangat dan segera meraih tubuh istrinya , segera membawanya melangkah memasuki kamar mereka.
Setelah itu entahlah, tebak sendiri apa yang mereka berdua lakukan.