Bab 2

"Kamu ... berani membohongiku?"  Giginya bergemelatuk. "Kamu lupa aku nikahi untuk apa, Ki?" 

Dengan sisa keberanian yang ada, Kiandra menatap mata Evan. "Aku ingat. Aku ingat kenapa kamu perlu menjadikanku istri kedua." 

"Kamu ingat sama kesepakatan kita?" 

Cukup lama menunggu, Evan tak kunjung mendengar istri keduanya bersuara. Kia malah menunduk, membuatnya semakin geram. 

Tangan pria itu menarik dagu Kia. Membuat tatapan mereka bertemu. "Satu buah rumah. Uang untuk biaya pernikahan Rina. Uang sekolah Nando sampai lulus SMA. Kamu lupa aku membayar semua itu untuk imbalan supaya kamu memberikan aku satu orang anak?" 

Kia bungkam. Matanya panas dan memerah. 

"Aku tidur di kamar kamu tiga kali dalam seminggu, selama setahun ini. Aku penasaran kenapa kamu belum juga terlambat datang bulan. Dan ternyata ini? Kamu bohong sama aku, Ki?" 

"Aku enggak mau punya anak." 

"Kamu minum pil KB tanpa sepengetahuan aku?" 

"Aku enggak mau punya anak." 

"Kamu kira kamu siapa berani bersikap begini sama aku, Ki?" 

"Aku enggak mau punya anak." Tangis Kiandra pecah. Perempuan itu sesegukkan. Kepalanya menunduk dalam. 

Satu tangan Evan mengepal. "Jangan nangis. Aku enggak perlu air mata kamu. Jelaskan. Kenapa kamu sampai seberani ini sama aku? Kamu besar kepala karena selama ini aku selalu nurut sama mau kamu?" 

Apa yang tak Evan lakukan untuk istri keduanya yang keras kepala itu? Evan menuruti syarat material yang Kia mau sebelum mereka menikah. Membelikan rumah untuk orang tua Kia, menanggung biaya pernikahan adik Kia yang nomor dua dan mengambil tanggung jawab untuk biaya sekolah Nando. 

Evan bahkan meninggalkan rumah lamanya dengan Lidia untuk tinggal di rumah yang punya kamar lebih dari tiga. Demi Kia yang berkata tak ingin tinggal sendiri dan dikunjungi hanya saat akan dibuahi. 

Lelaki itu juga tak pernah meminta Kia menjadi sebenar-benarnya istri. Kia tak perlu mengurusi pekerjaan rumah tangga atau dirinya. Bebas tidur seharian, makan apa saja, minta uang kapan saja dan mengatakan apa saja. 

Lalu, setelah semua itu, Kia berani menipunya? Wajar jika Evan ingin sekali memukul gadis itu sekarang. Namun, itu pun tak Evan lakukan. 

"Jelaskan, Kia!" Tak mampu menahan diri, Evan berteriak tepat di depan sang istri. 

Kiandra tersedu. Gadis itu merosot dan berjongkok di depan Evan. Bahunya bergetar karena tangis. 

"Kamu enggak pernah bersikap baik sama aku. Kamu selalu sesuka hati. Kamu enggak pernah mikirin aku. Aku enggak mau punya anak dari laki-laki jahat kayak kamu," sungut perempuan itu dalam tangis. 

Pada perempuan yang berjongkok di bawahnya, Evan merapatkan gigi. Mengusap wajah, rambut, frustrasi. "Kamu berlebihan, Kia. Sikap kamu ini, seolah kamu yang paling menderita. Kamu tahu? Lidia yang dimadu aja, enggak secengeng dan sedrama kamu ini." 

Evan melihat perempuan itu mengangkat kepala. Menampakkan wajahnya yang basah dan memerah. 

"Lidia? Kamu bandingkan aku sama Lidia?" Perempuan itu berdiri. Satu pukulan keras ia berikan di dada Evan. "Kamu pernah perlakukan dia kayak kamu perlakukan aku, Evan?" 

"Aku berusaha untuk enggak membedakan kalian," sanggah si lelaki. 

Air mata Kia jatuh semakin banyak. "Kamu pernah ancam dia, Evan? Kamu pernah bentak dia? Kamu pernah ngatain dia? Kamu pernah maksa dia untuk bermesraan kayak yang kamu lakuin ke aku? Pernah?" 

Wajah Evan memerah. "Lidia enggak pernah keras kepala dan membantah. Aku enggak punya alasan untuk ancam atau bentak dia." 

Evan memegangi dua bahu Kia. Memojokkan perempuan itu ke dinding. "Aku datang ke kamu, memang di saat jadwalnya aku sama kamu. Aku enggak pernah maksa kamu, Kia." 

Evan membebaskan Kiandra mengatakan apa saja. Kecuali mengatainya memaksakan diri. Evan hanya datang ke Kia di hari yang memang sudah mereka sepakati. Dituduh memaksakan diri seperti tadi, sungguh Evan tak terima. 

"Aku ini enggak punya perasaan apa-apa sama kamu. Kita nikah karena terpaksa. Tapi aku diharuskan melayani kamu. Kamu pernah mikir sama perasaan aku, Evan?" 

"Kamu setuju sama kesepakatan kita, Kia." 

Kiandra menghapus air matanya. Perempuan itu melepaskan diri dari Evan. "Udah enggak. Aku udah berubah pikiran. Aku enggak tahan sama sikap kamu. Aku mau kesepakatan ini batal." 

Perempuan itu berlari keluar dari kamar. Menuju rak sepatu, mengambil sepasang sepatu kesayangannya. 

"Kamu mau ke mana?" Lidia yang melihat Kiandra akan pergi bertanya. Dari luar, samar ia mendengar percakapan si suami dan madunya. 

"Aku mau pergi. Aku enggak tahan hidup sama orang kayak suami kamu." Kiandra memakai sepatu di teras.  

Evan yang sudah ikut berdiri di teras rumah hanya bersedekap menatapi Kiandra yang bersiap pergi. 

"Jangan terbawa emosi, Ki. Kamu cuma lagi marah." Lidia berusaha membujuk madunya itu. 

"Enggak. Aku mau pergi. Aku mau ini semua berakhir." 

"Kamu mau ke mana? Pulang ke rumah Bapak? Kamu mau rumah itu aku ambil lagi?" Evan tersenyum remeh pada istrinya yang sudah melempar sorot benci.  

Kiandra berdiri dengan dua tangan terkepal. Matanya yang menatap Evan penuh rasa marah. "Aku udah enggak peduli. Ambil semua yang kamu kasih. Aku enggak peduli." 

"Kamu enggak bisa." Evan menggeleng dengan sorot sinis. "Mau kabur ke mana kamu? Memang ada orang yang mau nampung kamu?" 

"Dasar ba*ingan," maki Kia. Air matanya jatuh lagi karena hinaan tadi. "Aku bisa, Evan. Aku bisa pergi ke mana pun. Aku enggak butuh kamu!" 

Kiandra berbalik, perempuan itu berlari menuju pagar rumah, lalu melewatinya. Lidia yang panik berteriak dan berusaha memanggil. Namun, tak ada sahutan atau dilihatnya Kia kembali. 

"Evan, kejar dia. Dia beneran mau kabur." 

Evan bergeming. Raut wajahnya terlihat tenang, tetapi juga marah. 

"Evan! Kejar Kia." 

Lelaki itu menggeleng. "Dia enggak akan berani kabur, Lid. Nasib keluarganya ada di tanganku. Dia cuma mau menggertak. Bentar lagi paling pulang lagi." Evan melenggang masuk ke rumah.

Bab 3

Evan terkekeh di tengah hujan. Pria itu berdiri di tepi jalan, di dekat sebuah pohon yang lokasinya tak jauh dari kompleks perumahan. Di bawah pohon itu, seorang perempuan tampak berjongkok dan menggigil kedinginan. 

"Kamu baru mau kabur atau lagi mau pulang, Ki?" 

Evan mengusap wajah yang kuyup. Hujan yang sejak sore mengguyur belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti sepertinya. Pada perempuan pucat di bawah pohon, lelaki itu melempar tatapan menang. 

Kiandra kabur pukul dua pagi. Lidia sudah menangis-nangis meminta dilaporkan ke polisi, sebab orang tua Kia mengaku tidak didatangi anaknya. Evan menolak melakukan itu. Pria itu menunggu hingga malam dan lihat? Kiandra bisa ia temukan dengan mudah, 'kan? 

Evan mendekat pada Kia. Ikut berjongkok di depan perempuan itu. "Gimana? Udah kabur-kaburannya?" 

Kia tak menjawab. Bibir perempuan itu gemetar, seperti seluruh bagian tubuh yang lain. Dia kedinginan dan lemas. 

"Jadi, gimana? Kamu masih mau kabur atau enggak?" 

Evan kembali terbahak saat kepala istri keduanya menggeleng lemah. "Mau pulang?" 

Kia mengangguk dengan tangis di pipi.  Sungguh, tadi pagi itu niatnya sudah bulat. Apa pun yang terjadi, biarlah rumah yang ditempati ayah dan ibu diambil. Biarlah saja Evan menagih utang atau sampai menyita harta Rina, dan tak apa jika Nando putus sekolah. 

Namun, keteguhan hati Kia itu runtuh saat bayangan Nando yang bercerita tentang cita-cita muncul di benak. Kiandra kalah. Ia menyerah pada kekuasaan Evan. 

Nando ingin menjadi polisi atau tentara. Anak itu masih kelas 2 SMA. Masih butuh banyak biaya. Apa jadinya jika Evan berhenti membiayai Nando? Gaji ayah Kiandra yang hanya seorang supir ojek tak akan bisa membuat impian Nando terwujud. 

Mungkin, bisa, dengan sedikit keajaiban. Namun, bukankah Kia juga bertanggung jawab untuk mimpi Nando itu? Kiandra sulung. Si bungsu pantas ia pikirkan masa depannya. 

Tidak jadi kabur, perasaan malu, sedih dan marah menahan Kia untuk berteduh sebentar di bawah pohon itu. Lelah juga karena sepanjang hari luntang-lantung, berjalan tak tentu arah. Kemudian, hujan menyemarakkan suasana. Jadilah ia semenyedihkan sekarang. Menjadi bahan tertawaan si berengsek Evan. 

"Mau pulang, Ki?" Evan bertanya saat diihatnya kelopak mata Kiandra nyaris menutup. Pria itu menyeringai. Apa istri keduanya itu sedang berakting ringkih untuk dikasihani? 

Kepala Kia kembali mengangguk. Perempuan itu mulai sulit membuka mata. 

Evan berdiri. "Kamu pergi sendiri, 'kan? Pulang sendiri juga, ya? Aku duluan." Ia berbalik, berjalan menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana. 

Laki-laki itu sudah menarik pintu mobil, saat akhirnya kembali menoleh ke pohon tadi. Terdiam sebentar, Evan membanting pintu mobil. Kiandra sudah tergeletak tak sadarkan diri di sana. 

Evan menggigit bibir. Mengusap wajah. "Sejak kamu datang, hidupku enggak pernah tenang, Ki." 

*** 

Pukul delapan malam. Evan bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan dapur sembari meregangkan lengan. Pria itu masih di salah satu toko rumah makan milknya, habis memeriksa laporan belanja bulan ini. 

"Pulang, Pak?" Kasir di rumah makan itu menyapa. 

Evan mengangguk. Ia mengedarkan pandangan. Mencari Doni, si penanggung jawab gerai. Setelah menemukan orang itu, tangannya melambai, memanggil. 

"Tolong yang pemasok ikannya segera dicari pengganti. Yang lama kayaknya memang sengaja naikkan harga, sementara kualitas ikannya jelek." 

Doni mengangguk paham. 

"Pastikan yang bisa kirim ke cabang yang lain." Evan menambahkan. "Saya bakal absen datang beberapa hari ke sini. Tolong, kamu kasih laporan tiap hari." 

Selesai memberi arahan, Evan pun pamit pulang. Pria itu sudah sangat ingin mandi dan tidur. Lelah sekali, padahal hanya memantau pegawai bekerja dan memeriksa beberapa laporan. Menjadi pemilik dari beberapa gerai rumah makan sungguh menguras banyak tenaga dan pikiran. 

Setibanya ia di rumah, Evan disambut oleh Lidia, seperti biasa. Wanita itu menyiapkan pakaian ganti dan teh saja karena Evan tidak ingin makan. 

"Sepupu aku jadi datang, ya, Van." Lidia memulai obrolan. Perempuan  bewajah lembut itu memijat lengan suaminya. 

Evan mengangguk saja. 

"Kia. Tolong, jangan terlalu keras sama dia." Lidia merasa Evan menepis tangannya yang jadi memijat lengan. "Kamu terlalu keras sama dia, Van." 

Evan menjatuhkan punggung di sandaran sofa. "Jangan mulai lagi, Lid." 

"Dia cuma mau kamu ngertiin dikit. Kamu bahkan jarang ajak dia ngobrol." 

"Aku pernah ajak kamu ngobrol?" balas si suami. "Lagian, dia udah bohongi aku. Dia minum pil KB, padahal tahu alasan aku nikahin dia." Matanya terpejam, teringat kejadian setahun lalu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED