Bab 2

Detak jantung Gia di layar monitor stabil tapi lambat. Dokter menuliskan sesuatu di clipboard.

Mae terus merapal doa lirih di antara isak. Tangannya menggenggam jari Gia erat-erat.

"Kalau sampai oksigen tidak bantu menaikkan saturasi dalam 15 menit, kita bawa ke ICU," kata dokter pelan ke salah satu perawat.

Mae mendengarnya. Dunia seperti runtuh.

"Ya Allah... jangan ambil Gia dulu... jangan... ambil aku aja... ambil nyawaku, jangan Gia... dia anakku, dia nafasku, dia segalanya buatku..."

Ruangan observasi itu mendadak jadi ruang pengadilan antara harapan dan kepasrahan.

Ruang itu senyap. Bunyi monitor berdetik seperti palu sidang yang mengetuk pelan waktu.

Gia terbaring dengan selang oksigen menutupi lubang hidung kecilnya. Matanya tak tertutup rapat, bola matanya setengah terbuka, seperti masih ingin melihat dunia, tapi tubuhnya kelelahan.

Mae menggenggam tangan mungil itu. Jemari Gia dingin, seperti dahan kecil yang kehabisan embun.

Di pipinya masih ada noda muntah yang tak sepenuhnya sempat dibersihkan perawat. Kulitnya pucat, dengan rona biru di bawah mata.

"Gia... sayang, ini Mama, Nak... Dengerin suara Mama, ya, sayang... Jangan tidur terlalu dalam. Jangan pergi dulu."

Tapi Gia hanya diam. Napasnya berat, dadanya naik-turun lambat.

"Kalau dalam lima belas menit oksigen ini nggak berhasil naikkan saturasi di atas 90, kita harus bawa dia ke ICU, Bu," ucapnya pelan. Tegas tapi tak menggertak. "Kami akan berjuang. Tapi kami butuh izin Anda... bila nanti perlu ventilator..."

Mae mengangguk cepat, gemetar. "Apa pun. Tolong. Apa pun. Selama dia masih bisa bertahan..."

Maimunah mencoba untuk menghubungi suaminya. Menyampaikan kabar darurat ini. Tapiii ...

Di luar, suara tawa terdengar samar dari sambungan telpon. Suara laki-laki. Terlalu nyaring untuk situasi sekarat. Mae meraih ponselnya, layar menunjukkan

"Mas Bas," suara Mae parau. "Anak kita, Gia, lagi kritis. Kamu bisa ke sini sekarang?"

"Heh? Mae, aku lagi nyari duit! Jangan bikin panik! Anak kita kuat, dia biasa aja 'kan biasanya juga kayak gitu."

"Mas, ini bukan kayak gitu. Ini beda. Dokter bilang bisa masuk ICU, bisa pakai ventilator! Kamu dengerin aku nggak?!"

Di seberang, suara musik semakin keras. Terdengar suara perempuan tertawa. Bastian tidak menjawab cepat.

Mae menekan tombol speaker. "Mas! Anak kamu butuh kamu! Jangan pura-pura nggak denger! Ini anak kamu, Gia!"

Tapi sambungan mati.

Mae mematung.

Tangis tak keluar. Tapi napasnya tercekat seperti tertabrak. Ia ingin menjerit, tapi mulutnya terkunci. Ia peluk Gia.

Ia cium pipinya. Ia bisikkan doa-doa dari surah yang ia hapal saat kecil, karena kini tak tahu lagi harus bicara dengan siapa, kalau bukan Tuhan.

Dokter Rendy menarik napas. "Bu, saturasinya turun ke 78. Kami akan pindahkan ke ICU sekarang."

Seorang perawat sudah menyiapkan ranjang dorong. Mae harus melepaskan pelukannya. Tapi tangan Gia masih menggenggam ujung bajunya. Lemas, tapi ada.

"Dia sadar, Dok... Lihat, dia sadar... Dia takut ditinggal!" teriak Mae, separuh gila.

"Kita nggak akan tinggalin dia, Bu. Tapi kita harus cepat."

Lampu di langit-langit menyala dingin. Ruang observasi yang tadinya sunyi berubah menjadi panggung transisi: dari harapan ke kepasrahan.

Dan Mae? Ia berjalan sambil menggenggam tangan putrinya yang mungil, menuju pintu ICU... di mana kemungkinan hidup dan mati berjabat tangan

---

Udara di sekitar lorong itu terasa lebih dingin. Bukan karena AC yang menggila, tapi karena ada banyak nyawa yang digantungkan di balik pintu-pintu sunyi. Pintu ICU terbuka otomatis, seperti menyambut nasib yang belum tentu berpihak.

Gia dibawa masuk di atas ranjang dorong dengan selimut tipis menutupi tubuh kecilnya.

Di sisi kanan, infus bergoyang pelan. Di sisi kiri, monitor portable berbunyi pendek, detak yang lambat dan berat. Dua perawat sigap menyambut, seorang dokter muda langsung menanyakan kronologis ke dokter jaga, dan satu orang lagi mengambil oksigen cadangan.

"Bahagia, 7 tahun, Down Syndrom. Saturasi drop, gagal naik meski pakai oksigen ruangan. Terindikasi infeksi paru berat. Duga pneumonia berat. Tindak lanjut antibiotik IV dan cek labor asap," suara dokter itu tenang tapi cepat, seperti peluru perintah di medan perang.

Mae masih berdiri di ambang pintu. Tak ada yang menyuruhnya keluar, tapi dia tahu tempatnya bukan lagi di sana. Ada kaca pembatas yang memisahkan. Antara ibu dan anak. Antara cinta dan logika kedokteran.

Ia melangkah mundur perlahan, keluar dari zona steril.

Langkahnya goyah, lalu terduduk di bangku besi dekat ruang tunggu ICU. Masjid kecil di pojok rumah sakit seolah memanggil.

Sunyi. Tak ada satu pun suara manusia di dalam, hanya suara air keran wudhu yang menetes dan azan dari ponsel orang entah siapa yang ditinggal charging di dekat dispenser.

Mae melangkah masuk.

Di dalam masjid, ia sujud. Ia berdoa. Tak ada doa panjang seperti ustaz-ustaz yang ia dengar di YouTube. Hanya kalimat-kalimat sederhana yang keluar dari hatinya yang remuk:

"Ya Allah...

Kalau Engkau mau cabut semua bahagiaku, ambillah. Tapi jangan anakku.

Kalau aku harus tidur di jalan, jualan cendol, kerja di tempat paling hina pun, aku mau. Tapi jangan bawa dia ya Allah. Jangan ambil Gia dari aku."

Air matanya jatuh tanpa henti. Mukena rumah sakit basah, pipinya sembap, suara isaknya menggema tipis.

Dua puluh menit kemudian.

Seorang dokter pria berdiri di dekat pintu masjid. Mae menoleh, matanya merah.

"Bu?"

Ia bangkit buru-buru, menyeka wajah.

"Gimana, Dok?"

"Kami sudah berikan oksigen tekanan tinggi dan antibiotik, hasil lab awal menunjukkan infeksi bakteri cukup ganas.

Kami curiga pneumonia berat. Kemungkinan komplikasi jantungnya juga terpicu. Ini memang kasus kompleks karena kondisi dasar anak ibu."

Mae terdiam. Kata-kata dokter itu seperti peluru tajam: komplikasi... pneumonia... kondisi dasar...

"Kalau boleh jujur, kami harus observasi ketat 24-72 jam ke depan. Dan ini, bukan biaya kecil. Saya paham ini berat, tapi kami butuh persetujuan untuk rawat intensif dan tindakan lanjutan," ujar sang dokter, pelan dan manusiawi, tidak menggurui.

Mae mematung. Dunia di sekelilingnya seperti menyorot satu titik: angka rupiah yang tak tahu harus dicari dari mana.

"Berapa, Dok?"

"Untuk tiga hari awal bisa sekitar delapan sampai sepuluh juta. Tindakan bisa menambah lagi."

Mae mengangguk lemas. Tangan gemetar, ponsel dikeluarkan dari saku. Mencoba menghubungi suaminya lagi.

Sambungan tersambung.

Masih terdengar suara musik dan tawa ramai terdengar dari seberang.

"Halo?"

"Mas... Gia di ICU. Saturasinya drop. Aku butuh uang buat rawat dia... tolong..." suara Mae bergetar.

"Jangan nelpon sekarang. Aku lagi sibuk meeting."

"Anak kamu sekarat, Mas. Kamu bilang jangan nelpon?"

"Ya Allah, jangan lebay, Mae. Udah! Stop nelpon aku!"

Tuutttt-

Sambungan mati.

Mae menatap layar ponsel. Tangannya mengepal. Napasnya naik-turun.

Ia bangkit berdiri, menatap jendela ICU dari luar. Gia masih di dalam. Tubuh kecilnya terbaring di tengah kabel, jarum, dan mesin.

Dan di sanalah, ruang ICU itu bukan lagi sekadar ruang perawatan.

Itu ruang pengadilan, antara cinta seorang ibu melawan semesta yang tak ramah.

Mae menghela napas dalam, lalu berkata pada dirinya sendiri,

"Aku akan cari uang itu. Meski harus jadi apa pun. Asal Gia hidup."

Ketika dokter itu pergi, ponselnya berdering. Nama Eci muncul di layar.

"Kamu di rumah sakit mana? Gimana keadaan Gia? Kerjaan aku udah selesai. Aku mau mampir situ. Kamu udah makan belum?"

Mae tidak sempat menjawab semuanya. Hanya gumaman pendek, "ICU, Rumah Sakit Ananda."

Tak sampai tiga puluh menit kemudian, Eci sudah datang. Napasnya ngos-ngosan. Ia menerobos pintu IGD, lalu lorong ICU, dan saat melihat Mae duduk lemas di bangku luar ruangan, ia langsung berlari dan memeluknya.

"Mae!" serunya.

Pelukannya hangat. Sederhana. Tapi membuat tangis Mae pecah lebih parah.

"Mae, tenang... tenang dulu, ya. Mana suami kamu? Mana mertua kamu?"

Mae menggeleng lemah, matanya merah, "Nggak ada yang datang. Mereka semua jahat. Aku sendiri, Ci. Sendiri..."

Eci menarik napas panjang, lalu mendekap Mae lebih erat.

"Sekarang kamu gak sendiri, dengerin aku. Ada aku di sini. Ada Allah juga. Kamu gak sendiri."

Eci lalu berdiri dan mengintip ke balik kaca ICU. Wajah Gia tertutup masker oksigen, dadanya naik turun pelan seperti mengejar napas yang tak kunjung bisa didapat.

Tangannya mengepal.

"Anak sekecil itu..."

Mae mencengkeram lengan Eci.

"Ci... aku mau minta tolong banget."

"Apa, Mae?."

"Carikan aku kerja, ya?"

Eci menatapnya bingung. "Kerja? Kamu tahu aku kerja di karaoke."

"Iya... maksud aku di tempat itu. Gak apa-apa, Ci."

"Kamu serius?"

Mae mengangguk, wajahnya hancur tapi matanya tajam.

"Serius. Udah dua bulan ini jualan aku gak pernah laku. Aku gak punya modal lagi. Sekarang dokter bilang dia bisa butuh banyak uang buat pengobatan lanjutan. Aku... aku gak bisa cuma duduk diem."

Eci menatapnya dengan wajah antara kagum dan pilu.

"Kalau kamu kerja, Gia gimana?"

"Nanti aku coba konsultasi ke dokter. Mungkin dia bisa rawat inap lama. Ruangan ICU kan memang nggak boleh ditunggui terus. Aku bisa datang siang. Aku kerja malam. Aku masih bisa jenguk. Asal dia hidup, Ci... asal dia hidup. Aku masih ingin berjuang..."

Eci memeluknya lagi, kali ini lebih erat.

"Oke. Aku bantu. Tapi kamu gak sendirian. Jangan pikul ini semua sendiri, Mae."

Mae mengangguk sambil terisak.

"Aku akan cari uang itu meski harus jadi apapun, Ci. Asal dia hidup..."

Dan lorong rumah sakit malam itu tetap sunyi, tapi dada Mae sudah penuh dengan suara: suara tekad, suara doa, suara cinta paling liar dari seorang ibu yang akan berjalan ke api sekalipun, asal putrinya masih bisa bertahan.

----

Bab 3

Suara dentuman musik menggetarkan tembok tipis ruangan sempit itu. Aroma parfum, hairspray, dan bedak murahan menyatu dalam udara.

Di depan cermin besar penuh lampu neon kuning pucat, Maemunah, yang sekarang dipanggil Maya oleh Eci, berdiri kikuk.

Tubuhnya yang gempal dibungkus mini dress merah menyala, ketat, mencetak lipatan perut.

Di atas kepalanya, wig pirang bergelombang menjuntai sampai ke dada. Alisnya dibentuk tebal, lipstick merah menyala menutupi bibirnya yang gemetar.

Eci, ramping, lincah, centil, sedang merapikan bulu mata palsu di kelopak Mae.

"Tenang, Mae, tenang. Ini semua buat dia. Biar kamu bisa bayarin semua pengobatan Gia. Di sini, nggak ada yang nge-judge. Yang penting niat kamu bersih."

Di sudut ruangan, seorang cewek gempal lain, Bella, dengan gaya mirip Mae, sedang bercermin sambil ngunyah permen karet.

"Udah biasa, Mae. Dulu gue juga begitu. Nangis-nangis dulu. Sekarang? Liat gue. Biasa aja. Duit ngalir dan gue hepi."

Mae senyum getir. Kakinya coba menapak pakai high heels lima senti.

Kepletot.

"ASTAGA!"

Semua langsung ngakak.

Eci terpingkal, nyentil pundaknya.

"Gitu dong! Udah seksi, lucu pula. Klien suka yang kayak gitu!"

Di Paskal Karaoke, LC bukan cuma pemancing minuman.

Ada yang kerja bersih, nemenin nyanyi, dengerin curhat, joget-joget manis.

Ada yang abu-abu, kalau klien nawarin tips lebih buat pegangan tangan atau cium pipi.

Ada juga yang ke hitam, bawa klien ke hotel setelah jam tutup.

Tapi semua itu... pilihan.

Maemunah masih LC baru. Masuk ke tim Eci, yang terkenal bersih dan selektif. Posisinya bukan primadona, tapi newbie eksotis, judul yang dijual dengan penuh kejutan.

---

Bastian duduk di rooftop café, rokok di tangan, mata menerawang ke kota Bandung yang kelap-kelip. Temennya, si Ronny, lagi ngebahas proyek yang katanya bisa cuan gede.

"Bro, udah malem nih. Lu udah pusing. Kita karaokean yuk, buat ngelemesin otak."

Bastian ngelirik jam.

"Ah, males. Gue..."

"Yaelah, lo pikirin istri mulu. Udah, semalem doang. Gue tau tempat oke, cewek-ceweknya cakep, no ribet."

Bastian akhirnya nurut. Toh, cuma nyanyi-nyanyi. Nggak bakal aneh-aneh, pikirnya.

Lampu ruangan karaoke remang, musik EDM bergema.

Mae disuruh masuk room 3C.

Dia narik napas panjang, senyum dipasang.Tangannya mendorong pintu pelan.

Lalu matanya membeku.

Di depan...

Bastian menoleh, gelas di tangan.

Dan dunia seolah berhenti.

Sofa beludru ungu tua di pojok ruangan jadi singgasana laki-laki itu. Bastian.

Duduk santai, satu tangan pegang gelas whisky yang setengah habis, satu lagi ngetuk-ngetuk meja kaca dengan jari telunjuk.

Kayak orang lagi mikir utang, atau mungkin mikirin siapa yang bakal ngisi hatinya malam ini.

Maya menarik napas. Panjang. Senyum dipasang, meski rahangnya agak bergetar.

Langkah pertama, klik. Heels-nya menyentuh lantai kayu berkarpet tipis.

Klik. Klik. Klik.

"Good evening, Mas..." suaranya dibuat serak manja. Profesional. Nggak ada getar cinta, nggak ada kenangan anak-anak. Cuma suara LC yang udah dilatih tiga kali sehari.

Bastian menoleh pelan.

Matanya nyaris menyipit, lalu membelalak sedikit. Matanya hanya nge-scan bodi itu, gaun hitam mini, pundak terbuka, belahan dada rapi, paha nyaris keluar tiap jalan. Bibir merah glossy. Rambut pirang ikal sebahu.

Dia sempet mikir dalam hati,

Eh, kok... Tapi buyar. Gelasnya ditaruh.

"Masuk aja. Namanya siapa?"

Mae senyum.

"Mayaaa," katanya, sambil duduk di sebelahnya.

Senyum Bastian miring.

"Maya... dari mana aja, kok baru masuk?"

Mae menggeser rambut pirangnya ke belakang telinga. "Dari tadi nunggu disuruh masuk. Nggak berani asal nyelonong..."

Gelas kedua dituang. Es batu disuguhkan. Cemilan kering, kacang mede, keripik kentang, dan seiris semangka di piring kecil.

"Maya suka lagu apa?" Bastian bertanya sambil ngelirik remote di meja.

"Yang mellow boleh, yang jedag-jedug juga oke. Mas suka nyanyi?"

"Gue lebih suka dengerin..."

Senyap sejenak.

Maya menahan napas. Dada sesak bukan karena takut ketahuan, tapi karena...

Dia gila ini absurd. Duduk di sebelah suaminya sendiri, yang nggak ngenalin dia.

Tapi juga nggak nyariin dia.

Nggak nyebut, "Eh, istri gue mirip-mirip lo, deh."

Dia nggak nyadar.

Sial.

Mae bersandar di sofa, menggeser sedikit lebih dekat. Tangannya mainin remote karaoke, pura-pura nyari lagu.

Tapi batinnya udah penuh sumpah serapah.

Ini toh kerjaan meeting rapat bisnis kamu, Mas Bas?

Di kaca besar di sisi ruangan, pantulan mereka terpantul samar. Maya si seksi, Bastian si klien, dua siluet dunia yang berbeda.

Tapi itu dia. Itu dirinya.

Maya melihat bayangannya, dan untuk pertama kalinya...

Dia nggak melihat ibu-ibu yang nangis sambil ngerendam cucian.

Dia nggak melihat cewek kucel yang dituduh nggak becus jadi istri.

Dia melihat perempuan.

Dan dari samping, Bastian menyender, mendekat sedikit, senyumnya melebar.

"Boleh dong denger suara Maya..."

"Ayo nyanyi, Maya!"

Sorakan datang dari ujung sofa. Lampu disko berkedip seperti mata dewa-dewa jahil yang mengintip dari langit-langit.

Maya menarik napas. Tangannya sedikit gemetar saat menerima mic. Musik mengalun pelan, lalu dentuman beat dangdut remix menyeruak, lagu klasik:

"Janda Pirang".

Maya tersenyum kecil.

"Lagu favorit emak-emak pengkhianat," umpatnya dalam hati. Tapi suaranya?

Menggelegar.

"Janda pirang kembali menggoda, senyumnya manja, hatinya luka..."

Bastian terdiam. Tangannya yang tadi sibuk ngetok-ngetokin meja, kini berhenti.

Matanya menajam. Teman-temannya, tiga cowok parlente dan satu om-om berkemeja batik modern, tercengang, lalu tertawa, bersorak, bersiul.

"Gilaaa... ini janda pirang versi real life!"

"Wah, bisa ngajarin nyanyi nggak, Mbak Maya?"

"Ini suaranya mercon! Mana dapet sih model begini?"

Maya membalas dengan senyum kalem.

Matanya tajam. Suaranya lembut, tapi terkontrol.

Dia menjawab semua candaan dan pertanyaan dengan lihai. Bahkan satu cowok sempat nyeletuk,

"Mbak, dulu guru bahasa Indonesia ya? Jawabannya tuh kayak teks ujian nasional."

Maya ketawa, tapi hatinya mendidih.

"Oh, jadi begini. Duit-duit yang gak pernah dikasih buat beli susu Gia, ternyata ngucur buat tempat beginian. Buat senyuman, buat mic wireless, buat high heels dan whisky. Ini cara Allah nunjukin. Di tempat gelap, tapi terang."

Dia naik lagi ke panggung kecil. Nyanyi satu lagu pop galau, semacam "Resesi Hati, dengan gaya lebih elegan.

Gerakan tubuhnya anggun. Tak berlebihan. Tapi cukup buat bikin semua mata lupa caranya ngedip.

Tepuk tangan menggelegar saat lagu selesai.

Satu cowok angkat gelas. "Untuk Mbak Maya! The real janda next door!"

Bastian masih diam, tapi senyumnya lain.

Bukan senyum suami, tapi senyum laki-laki yang penasaran.

Dia menyender. Mendekat sedikit.

"Mbak Maya, boleh minta nomor WA-nya?"

Maya diam. Mic masih di tangan. Jantungnya berdetak seperti genderang perang.

Dia melirik ponsel lamanya di tas.

HP receh yang cuma bisa WA-an kalau sinyalnya nggak ngamuk.

Kalau dia kasih nomor itu, besok rumah bisa meledak.

Kalau nggak dikasih, Bastian bisa curiga.

Dia senyum tipis.

Dunia dalam pikirannya sudah saling bertabrakan.

"Boleh, Mas..."

Maya nyengir. Dalam hatinya:

"Berabe kalau dikasih nomor biniknya sendiri. Mending aku kasih nomor Eci aja. Untung aku hafal nomornya..."

Mae membanting pintu ruang karaoke dengan pelan tapi jengkel. Bukan suara keras, tapi cukup nyaring buat mewakili perasaan gondok yang menempel dari kepala sampai tumit.

Langkahnya cepat, sepatunya berdecit melintasi lorong. Matanya tajam, napasnya berat, dan hatinya, ah, hatinya campur aduk kayak es teler ditambah sambel rawit.

Di ruang make-up, Eci lagi ngerapihin rambutnya yang udah lepek karena terlalu banyak joget lagu dangdut koplo tadi. Begitu Mae masuk, Eci langsung berdiri, nyamperin.

"Eh, kenapa lo, Mae? Wajah lo kayak abis nelen paku payung."

Suaranya Mae pelan, tapi menggigit

"Aku ketemu Mas Bas, Ci. Di ruangan 3C."

"APA?! Mas Bas? Suami lo? Yang bangke itu? Gue samperin sekarang juga!"

Mae langsung nangkep tangan Eci, narik pelan tapi tegas.

"Jangan. Jangan bikin ribut. Dia gak tau kalau aku... aku ini aku. Dia bener-bener percaya aku tuh Maya."

Eci terdiam. Nafasnya tertahan. Antara geli dan bingung.

"Terus... kalian ngapain aja di dalam?"

Mae ngelirik ke kaca. Bayangannya sendiri membuatnya pengen muntah tapi juga, pengen ketawa. Dunia memang sialan.

"Dia nyuruh aku nyanyi. Aku nyanyi lagu 'Janda Pirang'. Aku joget. Dia senyum-senyum. Temen-temennya seneng. Akhirnya dia minta nomor HP aku."

"Terus lo kasih?"

Mae buka tas kecilnya, ngeluarin ponsel butut warna pink pucat dengan casing retak di pinggir.

"Kalo aku kasih nomorku nanti dia tahu. Jadi aku kasih nomor kamu, Ci. Maaf, ya..."

Eci tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya mengurai udara soal perkata tak masalah. Bahkan nyawa pun akan aku berikan untuk membantumu.

"Aku cuma punya HP ini. Yang gak pernah bunyi kecuali dari rumah sakit dan debt collector. Dia sama sekali ga pernah nelpon aku yang sebagai isterinya. Kita liat apakah dia akan nelpon Eci sebagai Maya ..."

Eci ketawa. Mae ikutan ketawa. Tapi air mata udah jalan duluan.

"Anj*r. Lo tuh kuat banget, Mae. Tapi kadang hidup keterlaluan juga ya."

Mae ngusap air matanya dengan punggung tangan.

"Aku mau ke rumah sakit. Pekerjaan selesai. Aku gak tenang."

Bella baru muncul dari pintu

"Gue temenin. Kita naik mobil gue. Sekalian cari makan."

Mae ngangguk. Tapi ekspresinya masih kayak orang yang kepalanya barusan ditabrak truk emosi.

"Gue sih emang sendiri dan gak punya anak. Suami gue emang menggila di luar sana, tapi... hidup gue masih lebih gampang dari lo. Malam ini, gue temen lo ya, Mae."

Eci, Bella, dan Mae saling berpelukan. Tapi tentu saja...

"Eh! Eh! Ntar tok*t gue kegencet! Astagaaa... dada gue bukan pelindung baja!"

Mereka bertiga tertawa. Tawa yang pahit tapi hangat. Seperti kopi tubruk yang diseduh di tengah badai.

Mungkin aku gak bisa beli kebahagiaan. Tapi malam ini, aku beli harapan. Dengan suara. Dengan tubuh. Dengan sakit yang tak terlihat mata.

Manajer menyerahkan amplop coklat.

"Ini bagian kalian malam ini. Tamu VIP suka sama perform-nya Maya. Bonusnya masuk. Total dua juta tujuh ratus."

"Alhamdulillah."

"Kita bisa bantu buat nambahin kalau kurang, ya."

"Gue jual cincin tunangan juga gak apa-apa. Emang mantan gue juga udah kawin sama juru masak catering."

Semua tertawa lagi. Tapi kali ini... lebih lega.

Mae duduk di mobil, matanya memandangi layar ponsel bututnya.

Tapi tiba-tiba, malah muncul notifikasi di hp Eci. satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

"Kamu tadi nyanyi dengan hati, Maya. Aku belum pernah lihat perempuan kayak kamu. Besok aku booking kamu lagi. Jangan tolak ya."

Eci mematung. Jari-jarinya tak sabar membalas pesan.

Mae, laki lo wasap ke nomor gue nih.

Dan uang yang tak pernah sampai ke tangan Maya itu... ternyata mengalir ke malam-malam seperti ini.

Terima kasih, Tuhan. Karena Kau kirimkan kebenaran dengan cara yang tak akan pernah bisa kuprediksi, gumam Mae lirih.

---

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED