Juna beberapa kali mengumpat kesal seraya memukul kemudi. Rasa benci bertubi-tubi pada wanita bernama Dara itu tak bisa hilang dari benaknya
Ia memejamkan mata guna menetralisir perasaan yang bercokol di hati. Dering ponsel menyadarkan ia dari lamunan panjang. Membuat matanya terbuka dan meraih ponsel yang ia letakkan di atas dashboard mobil.
“Halo sayang.“ Suara Diandra terdengar. Membuat rasa marahnya yang tadi memuncak kian mereda.
“Iya, sayang,” ucapnya dengan kalimat lembut.
“Kamu di mana? Kita gak jadi jalan?“
“Jadi, kok, aku lagi di jalan ini. Tunggu, ya! Aku segera ke sana.“
“Oke, aku tunggu. Jangan lama-lama!“
“Hm ….“ Juna memutuskan sambungan telepon. Sejenak menatap walpaper ponselnya. Sebuah kertas berwarna pink berisi puisi yang di bawahnya tertulis nama D'SecretAdmirer.
Puisi dari Diandra saat mereka masih SMA dulu. Puisi yang membuatnya jatuh cinta dengan wanita itu untuk pertama kali.
Seseorang yang ia tekadkan dalam hati untuk ia nikahi namun semuanya sirna saat sang Papa yang memaksa untuk menjodohkannya dengan Dara.
Wanita yang merupakan anak teman Papa. Seorang rekan bisnis yang berjanji akan menolong perusahaan Papa Juna yang saat itu tengah berada di ambang kehancuran.
Mau tidak mau, suka tidak suka Juna menerima hal itu demi menyelamatkan perusahaan keluarga yang juga ia kelola demi keberlangsungan hidupnya.
Membuat Diandra menangis karena mendengar kabar pernikahannya dengan Dara. Namun Juna tak bisa berbuat apa-apa.
Juna hanya bisa memilih untuk memutus hubungannya dengan Diandra atau perusahaannya hancur sedemikian rupa.
Untung saja wanita itu mengusulkan hal yang menurut Juna brilian, yang pada dasarnya tak terpikir dalam benak Juna. Pernikahan kontrak dengan Dara dalam kurun waktu dua tahun dan Diandra siap menunggunya untuk bercerai.
Juna pikir itu alasan yqng bagus untuk mengakhiri pernikahannya. Walau Dara cenderung lebih cantik dari Diandra dengan wajah naturalnya, Juna tetap tak bisa menaruh hati.
Karena dari awal yang ia sukai adalah si penulis puisi dengan nama pena D'SecretAdmirer yang secara tidak langsung telah menyelamatkan hidupnya.
Bagi Juna, Diandra adalah penyelamatnya saat ia benar-benar hancur. Surat-surat berisi kata-kata semangat dan puisi mengenai kehidupan mampu membangkitkannya dari keterpurukan pasca ditinggal mamanya dahulu.
Betapa Diandra begitu berarti dan tak ada yang bisa menggantikan wanita itu di hidupnya.
Maka, dalam waktu dua tahun itu Juna benar-benar bekerja keras untuk membangkitkan perusahaannya kembali seperti sedia kala agar ia bisa tepat waktu berpisah dengan Dara.
Lagipula ia perlu waktu agar ayahnya yakin kalau pernikahannya dengan Dara memang tak bisa dipertahankan dengan perceraian itu. Dua tahun adalah waktu yang cukup.
***
“Kamu bermasalah lagi sama Dara?“ tanya Diandra saat keduanya berada di salah satu restoran mall besar setelah Juna menjemput wanita itu di apartemennya.
“Dia menyentuh barang-barangku dan aku tidak suka itu.“
Diandra menghentikan suapannya. “Barang-barangmu?“
“Berkas-berkas di meja kerjaku. Ia membereskannya karena tampak berserakan.“
“Kenapa dia begitu berani?“
“Entahlah padahal sudah kuperingatkan berkali-kali. Aku sudah katakan padanya kalau aku dan dia punya batas yang tak boleh dianggar dan juga tak boleh kulanggar. Namun sepertinya wanita itu lupa apa yang kusampaikan.“
“Astaga, memang benar-benar aneh istrimu itu. Kau mesti bersabar, hanya satu minggu lagi sayang. Setelah itu kau akan lepas darinya.“
“Kuharap kau tetap mau menungguku Diandra.“
“Pasti Juna, aku akan selalu menunggumu sampai kapanpun karena aku percaya akan janjimu. Kau lelaki yang menepati janji bahkan sejak pertama kali aku mengenalmu.“
“Terima kasih.“ Juna menggenggam erat tangan Diandra dan mengecupnya. Wanita itu tersipu malu dengan pipi bersemu merah.
Keduanya melanjutkan makan kembali hingga makanan yang ada di hadapan masing-masing habis tak bersisa.
“Setelah ini kau mau ke mana?“ tanya Juna mengelap mulutnya dengan tisu.
“Aku mau nyalon, kau mau menunggu, kan?“
“Pagi-pagi begini?“
“Aku dari kemarin tidak keramas Juna. Rambutku sudah sangat gatal sekali.“
Juna memandang rambut lurus Diandra yang sangat terawat persis seperti iklan shampo. Berbeda dengan rambut Dara yang bergelombang di ujungnya. Entahlah, satu kalipun sepertinya ia tak pernah melihat Dara pergi ke salon atau ia yang tak pernah tahu.
“Juna!“
Tersentak dari lamunan, Juna menatap Diandra dengan senyuman.
“Gimana?“
“Apa gak bisa keramas sendiri? Sebenarnya aku ngajak kamu ke luar supaya bisa jalan berdua, Dian. Bukan nunggu kamu nyalon yang bisa makan waktu sampai satu harian.“
“Jadi kamu gak mau nemenin?“
“Bukannya gak mau, tapi aku ingin menghabiskan waktu satu harian sama kamu kebetulan aku libur hari ini. Kalau kamu nyalon, aku cuma menunggu dan gak melakukan apa-apa. Kalau gitu buat apa kita jalan?“
“Juna, aku kemarin baru nail art. Sayang dong kalau aku pakai buat keramas nanti jadi rusak. Sia-sia udah bayar mahal.“
Juna berdecak, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Selalu dan selalu seperti ini. Setiap jalan dengan Diandra selalu saja ada hambatannya.
“Jadi kamu gak mau nemenin aku? Biar aku pergi sendiri aja.“
“Gak, gak gitu. Yaudah, oke, aku mau tapi … apa aku boleh minta sesuatu?“
“Apa itu?“
“Boleh aku memintamu menulis puisi lagi, untukku. Satu bait saja seperti yang kau lakukan saat kita sekolah dulu, Dian. Jujur aku sangat merindukan tulisanmu. Aku ingin membacanya lagi.“
“P—puisi?“ ujar Diandra terbata. Ia memilin rambutnya sembari mengalihkan pamdangan ke arah lain. “Kenapa tiba-tiba?“
“Entahlah, aku tiba-tiba terkenang masa lalu. Kau tahu salah satu puisi darimu yang menjadi favoritku kujadikan walpaper ponselku. Saat aku melihatnya tadi tiba-tiba saja terkenang akan hal itu lagi. Jadi, kau bisa membuatnya, kan?“
“Tapi puisi sudah tidak zaman lagi sekarang, Juna. Kenapa kau masih mau mengoleksi kertas berisi tulisan seperti itu?“
“Karena berisi kenangan tentangmu.“
“Aku tak bisa.“
“Kenapa?“
“Aku sudah lama tidak buat puisi, jadi teras kaku. Nanti kamu malah kecewa karena hasilnya gak bagus.“
“Gak apa-apa, Sayang. Aku cuma mau lihat tulisanmu.“
“Besok saja, deh atau kelar nyalon nanti.“
“Sekarang gimana?“
“Aku gak bisa Juna kenapa kamu maksa terus. Kepalaku gatal dan aku gak bisa mikir. Sekarang lebih baik antarin aku ke salon dulu. Lalu setelah itu aku bakalan buatin kamu puisi. Untuk sementara kamu lihatin puisi-puisi yang ada di sosmed dulu.“
“Tapi aku maunya kamu yang nulis.“
“Iya, tapi nanti.“
Juna menghela nafas. Entah kenapa ia merasa Dian sedikit berbeda hari ini.
“Mau, kan? Setelah itu bakalan aku bikinin kok puisinya. Sekarang temenin aku dulu, yuk!“
Juna berdecak, ia tak bisa berdebat melawan Diandra. Maka dengan anggukan pasrah, mulutnya menjawab, “ya sudah.“
***
Laki-laki dengan kacamata itu berjalan dengan langkah menunduk. Sesekali ia melangkah mundur kala siswa dari kelas lain berlarian di koridor sekolah.
Juna, nama siswa itu melangkah masuk ke dalam kelasnya. Duduk menyendiri dibangku sudut kelas. Di tengah hiruk pikuknya suasana kelas yang ramai karena saling bercengkerama. Ia malah berdiam diri tak berusaha membaur sembari mengeluarkan bukunya.
Sesaat setelah memasukkan tas ke dalam laci meja, dan menarik buku dari dalam tas. Sebuah surat jatuh dari laci mejanya.
Kertas berwarna hijau dengan tulisan D'SecretAdmirer di depan surat. Terletak di ujung kiri membuat dahinya berkerut. Juna memungut dan membuka kertas tersebut.
Untuk kamu yang sedang berada dalam masa sulit. Untuk kamu yang merasa sendiri. Untuk kamu yang tak pernah dekat dengan siapapun dan merasa rendah diri. Percayalah ada seseorang yang selama ini selalu memandangmu dari kejauhan. Berharap kamu tetap tersenyum dan semangat dalam melanjutkan hari.
Keberadaanmu begitu penting bagi seseorang ini. Jadi, jangan pernah menyerah, ya!
Juna membenarkan letak kacamatanya. Sesaat setelah membaca surat itu ia melihat ke sekeliling kelas. Seseorang dengan inisial D cuma ada satu di sini.
Diandra.
Dan gadis itu tengah menatap ke arahnya.
Juna mengerjap, menatap silau pada lampu di atasnya. Ah, ia pulang terlambat tadi malam karena menemani Diandra berkeliling setelah kegiatan salonnya itu.
Bahkan Juna juga tak sempat menikmati waktu berdua dengan wanita itu seperti dulu. Diandra sedikit banyak telah berubah dan hubungan mereka mulai terasa tidak menyenangkan.
Juna meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Menghidupkan layarnya dan seketika terbelalak.
“Sepuluh panggilan tak terjawab?“ gumamnya sembari bangkit dari tempat tidur. Ia menekan nomor tersebut.
“Halo Ayara.“
“Kak Juna, susah sekali menghubungimu dari kemarin. Apa kau tidak ingat besok hari pernikahanku, atau kau sudah melupakan adik sepupumu ini. Kau akan datang, kan? Kau tidak sedang mencoba untuk menghindarkan?“
Juna terbelalak saat Ara memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan, ia menatap tanggal yang tertera di ponsel. Kemarin malam ia tidak mengecek ponsel sama sekali karena sibuk dengan belanjaan Diandra di tangan.
Juna juga sama sekali tak melihat ponsel sampai pulang ke rumah. Gawatnya, ia baru menyadari kalau ponselnya dalam keadaan silent.
“Maaf, Ara, Kakak lupa,” ucapnya sembari menggaruk kepala yang tak gatal. Meringis dengan rasa bersalah.
Dapat ia dengar gerutuan sang adik sepupu dari sebrang sana. Meski hanya berstatus anak dari adik sang Papa, Ara sangat dekat dengan Juna. Apalagi Tante Amira yang merupakan adik kandung papanya sangat menyayanginya seperti anak sendiri.
“Janji, loh, ya! Datangnya jangan lama-lama. Oh iya satu lagi, ada paket yang kukirim ke rumah kakak. Mungkin akan sampai nanti siang. Isinya baju untuk Kakak dan Kak Dara. Baju seragam keluarga.“
“Iya Ara.“
“Ya sudah kalau begitu, lain kali ponselnya diaktifkan, Kak. Aku bahkan sempat takut terjadi apa-apa denganmu karena tidak bisa dihubungi.“
“Iya, Ara.“
“Baiklah aku matikan, Mama sudah manggil dari tadi. Sampai jumpa besok.“
“Hmm ….“
Panggilan terputus seketika. Juna menatap jam yang tertera di ponselnya. Pukul setengah enam pagi. Ia beranjak dari kasur dan berjalan ke luar dari kamar.
Begitu ia keluar dilihatnya lampu kamar Dara dari celah pintu sudah menyala. Wanita itu sudah bangun berarti.
Di dapur Dara tengah berkutat dengan masakannya. Aroma yang menggugah selera menyelusup indra penciuman Juna. Meski begitu ia tetap tidak pernah menyentuh masakan wanita berkulit putih itu. Ia tak suka Dara, juga tak suka apa yang wanita itu perbuat.
“Besok acara pernikahan sepupuku,” ucap Juna sembari mengambil gelas. Dilihatnya Dara menoleh sekilas lalu mengalihkan pandangan kembali.
“Aku tahu,” jawab Dara pelan.
“Baguslah, nanti akan ada paket berisi pakaian yang Ara inginkan kita pakai di pernikahannya. Kuharap besok kau tak terlambat bangun.“
Dara menghela nafas, selesai menyiapkan bekalnya ia menatap Juna. “Iya,” ucapnya singkat lalu meninggalkan Juna begitu saja. Berjalan masuk ke dalam kamarnya seraya mengambil tas.
Meski berstatus istri dari seorang pengusaha ternama tak lantas membuat Dara menopang hidupnya pada laki-laki itu. Ia mengajar di salah satu yayasan amal. Mengajarkan para anak-anak jalanan tidak mampu yang tidak mampu bayar uang sekolah.
Sekejap saat Dara turun dari lantai atas kamar dengan tas di tangan, Juna masih berada di dapur sembari menghirup kopi buatannya sendiri.
***
Butuh waktu satu jam untuk datang ke lokasi mengajarnya yang memang berada di pelosok. Jalanan yang terjal dan sedikit sulit dijangkau oleh mobil membuat Dara harus memarkirkan mobilnya di salah satu rumah warga. Kemudian bersama teman-temannya yang lain mereka menaiki motor menuju sekolah tersebut.
“Kau nampak tidak sehat pagi ini, Ra. Kau ada masalah?“ tanya Melisa saat istirahat jam makan siang berlangsung. Dara menatapnya sembari menggeleng.
“Jangan bohong! Kita sahabatan sejak SMA, kau tidak bisa menyembunyikan apa-apa dariku. Apa ini karena Juna?“ tanya Melisa dengan suara pelan.
Sedikit banyak, sejak satu sekolah dan mengajar bersama Melisa tahu peliknya kehidupan pernikahan Dara yang menurutnya cukup di luar nalar.
Bagaimana bisa pernikahan dibuat seperti mainan dengan adanya kontrak seperti itu. Melisa sangat menyayangkan Dara telah menikah dengan Juna. Meski tahu bagaimana perasaan wanita itu untuk suaminya.
“Enam hari lagi.“ Dara menghentikan suapannya. Ia menatap ke depan dengan pandangan kosong. “Aku akan bercerai dengan Juna.“
“Jadi, kesepakatan itu akan dilaksanakan?“ Melisa menutup mulut, menatap Dara tak percaya.
Wanita dengan rambut kuncir kuda itu mengangguk. “Dia akan menikah dengan pacarnya setelah selesai bercerai denganku,” ujar Dara dengan suara lirih. Dapat Melisa tangkap kepedihan di mata wanita itu.
Ia menggenggam tangan Dara, menyalurkan sedikit kekuatannya pada wanita itu. Melisa tahu Dara sedang rapuh.
“Sabar, Dara! Ini ujian pernikahanmu. Apa kau tak bisa membuatnya berpaling?“
“Segala cara sudah kulakukan Mel. Bukannya membuat dia suka, malah membuatnya semakin membenciku terus-terusan.“ Dara memejamkan mata menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Kurasa, aku akan menyerah saja,” ucapnya dengan helaan nafas berat seraya mendongak. Menghalau air matanya yang hendak tumpah.
“Kau kuat! Apapun keputusanmu, selagi itu baik aku akan mendukungmu, Ra.“
“Terima kasih, Mel. Setelah aku mengajukan surat perceraian nanti, aku akan pindah dari rumah Juna sampai sidang perceraian kami selesai.“
“Apa orang tuamu sudah tahu?“
Dara menggeleng. “Bisa pingsan mereka kalau sampai tahu. Tapi aku akan beritahu saat kami sudah resmi pisah. Akan kuberitahu mereka pelan-pelan agar tidak terkejut. Lagipula ini perjodohan. Mereka bisa maklum kalau kami tidak cocok.“
“Aku turut prihatin. Aku tak bisa beri saran apa-apa karena aku juga belum menikah, Ra. Apa yang bisa kau harapkan dari jomblo sepertiku?“
“Tak apa, melihat kau mendukung keputusanku, aku sudah sangat berterimakasih sekali.“
“Pasti, sebagai sahabat aku akan tetap berada di sisimu. Tetap kuat, ya! Kau pasti akan menemukan pria yang lebih baik daripada Juna.“
Dara mengangguk sembari tersenyum. Tak lama pintu kantor terbuka dan Okin masuk ke dalam. Laki-laki itu membawa sebuah kotak nasi di tangannya.
“Loh, kalian sudah makan? Kenapa tidak menungguku?“ ucap Lelaki berbadan tegap dengan kulit sawo matang itu duduk di samping Dara.
“Kau lama Okin, bisa-bisa kami kelaparan karena menunggumu,” kata Melisa.
“Astaga, teganya! Nasi yang kupesan baru datang tadi makanya lama.“
“Makanya bawa bekal.“
“Gak ada yang masakin, Mel, aku tinggal sendiri.“
“Makanya nikah!“
“Calonnya belum ada,” ucap Okin sembari melirik Dara sekilas. Melihat itu Melisa mendengkus sembari memutar mata. Ia tahu perasaan terpendam laki-laki itu.
“Ra, kau diam saja. Seperti tak bernafsu makan, kau sakit?“ tanya Okin sembari mendekatkan wajahnya pada Dara yang tampak tertunduk.
“Ha? Tidak Okin, aku baik-baik saja.“ Dara reflek menjauhkan dirinya dari Okin.
“Jangan agresif sama istri orang, Okin,” peringat Melisa.
“Aku hanya khawatir, Dara juga tidak merasa terganggu, iya, kan, Ra?“
Dara mengangguk samar, meski begitu menggeser duduknya menjauh sedikit dari sebelah Okin.
“Tuh! Lihat!“
Melisa menggeleng. Ia melanjutkan membereskan bekal makanannya.
“Ra, wajahmu pucat, apa kau mau jus? Kupikir jus jambu merah bisa mengurangi pucat di wajahmu. Sebentar aku tanyakan dulu.“
“Eh, gak usah Okin!“ Dara berteriak memanggil tapi Okin dengan langkah lebarnya itu telah berjalan menjauh dari hadapannya.
Melisa berdecak melihat kelakuan Okin. “Aku rasa dia yang paling bahagia nanti saat tahu kau sudah bercerai dengan Juna, Ra.“
“Hah? Kenapa?“
“Aku bukan bermaksud apa-apa, ya, Ra. Tapi tingkah Okin itu sedikit menyebalkan saat dekat denganmu. Apa kau tidak menyadarinya? Okin itu menyukaimu, dia memperlakukanmu lebih perhatian dari seorang sahabat.“
“Benarkah? Aku … tidak sadar. Bukankah ia selalu baik pada semua orang?“ Dara mengangkat bahu, menikmati suapan terakhir makananya.
Melisa menghela nafas. “Ah, dasar tidak peka,” ucapnya lirih menatap Dara sembari menopang dagu.