Fajar menyingsing di cakrawala Jakarta, namun bagi Ardi, mentari pagi terasa seperti obor yang membakar jiwanya. Cahaya jingga yang merayap masuk melalui celah gorden di kamar Citra tidak membawa kehangatan, melainkan bayangan-bayangan gelap dari keputusan yang baru saja ia buat. Kepala Ardi masih berdenyut, bukan lagi karena sisa mabuk, melainkan karena beban pikiran yang kini jauh lebih berat. Kata-kata yang ia ucapkan, "Aku akan menikahi kamu," masih menggema di benaknya, janji yang terucap dari bibir seorang pria yang putus asa, yang mencoba menambal luka menganga dengan tambalan yang mungkin akan menciptakan luka baru.
Citra masih duduk di tepi ranjang, membelakanginya, bahunya bergetar sesekali. Ardi tak tahu apakah ia menangis lagi atau hanya mencoba menenangkan dirinya. Keheningan di antara mereka terasa begitu tebal, dipenuhi dengan ketegangan yang menyesakkan. Ardi ingin mengatakan sesuatu, apa saja, untuk meredakan suasana, namun lidahnya terasa kelu. Semua skenario buruk berputar di kepalanya: reaksi Maya, kemarahan Rio, kekecewaan orang tuanya, pandangan menghakimi dari masyarakat. Dunia yang ia bangun dengan susah payah, kini terasa di ambang kehancuran.
"Citra," panggil Ardi pelan, suaranya serak. "Kita harus bicara. Bagaimana kita akan menjelaskan ini?"
Citra tidak bergerak untuk sesaat, kemudian perlahan membalikkan badan. Matanya sembap, wajahnya pucat, dan ada lingkaran hitam samar di bawah matanya. Tatapannya kosong, seperti jiwa yang baru saja ditarik paksa dari raga. "Menjelaskan apa, Ardi?" tanyanya, suaranya parau. "Bagaimana bisa menjelaskan sesuatu yang tidak masuk akal ini?"
Ardi menghela napas panjang. Citra benar. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ia, seorang pria yang besok akan menikah, terbangun di ranjang pengasuh keponakannya setelah melakukan hal tak senonoh karena mabuk? Bahkan baginya sendiri, kisah ini terdengar seperti plot sinetron murahan.
"Kita harus pergi dari sini dulu," Ardi memutuskan, berusaha berpikir praktis. "Aku akan kembali ke kamarku, bersih-bersih, dan kita akan bertemu lagi setelah aku... aku pikirkan sesuatu." Ia sadar, ini hanyalah penundaan, bukan solusi. Tapi ia tidak bisa lagi berada di kamar ini, dengan Citra di sisinya, mengingat apa yang telah terjadi.
Citra mengangguk pelan, tanpa ekspresi. "Baiklah," bisiknya. "Aku juga... aku harus mengurus si kembar. Sebentar lagi mereka bangun."
Mendengar nama si kembar, Ardi merasakan nyeri di ulu hatinya. Anak-anak yang tidak bersalah itu, yang selama ini Citra rawat dengan penuh kasih sayang. Kini, ia telah mencemari kehidupan pengasuh mereka.
Ardi beranjak, melangkah dengan berat menuju pintu. Sebelum ia membuka kenop, ia berhenti dan menoleh ke arah Citra. "Aku serius, Citra. Aku akan bertanggung jawab. Aku tidak akan lari dari ini."
Citra hanya menatapnya, seulas senyum pahit terukir di bibirnya. Senyum yang lebih mirip tangisan. "Kita lihat saja, Ardi," katanya, suaranya lemah. "Semoga kamu tidak menyesal."
Kalimat itu menghantam Ardi telak. Menyesal? Tentu saja ia sudah menyesal. Menyesali setiap tetes alkohol yang ia teguk, setiap langkah yang ia ambil ke kamar yang salah. Namun, penyesalan kini terasa begitu kecil dibandingkan dengan jurang kehancuran yang terbentang di hadapannya.
Ia keluar dari kamar Citra, menutup pintu pelan, seolah takut membangunkan seluruh hotel. Koridor masih sepi, hanya ada beberapa staf kebersihan yang lalu lalang. Ardi berjalan cepat menuju kamarnya, jantungnya berdebar tak karuan. Setiap langkah terasa seperti langkah menuju tiang gantungan.
Setibanya di kamar, ia langsung masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan shower, membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya, berharap air itu bisa membersihkan bukan hanya kotoran fisik, tetapi juga rasa jijik pada dirinya sendiri. Namun, air itu tak mampu membilas memori buruk yang kini melekat kuat di otaknya. Bau parfum Citra masih tercium samar di pakaiannya, di kulitnya, seolah menjadi bukti bisu atas dosa yang ia lakukan.
Setelah mandi, Ardi mencoba menenangkan dirinya. Ia duduk di tepi ranjang, meraih ponselnya. Ada beberapa pesan dari Maya, mengucapkan selamat pagi dan menanyakan apakah ia sudah siap untuk acara akad. Pesan itu terasa begitu menusuk, seperti pisau yang mengoyak-oyak hatinya. Bagaimana ia bisa mengatakan pada wanita yang sangat ia cintai bahwa ia telah mengkhianatinya, bahkan sebelum mereka mengucap janji suci?
Ia mengacak rambutnya, frustrasi. Ia tahu ia harus melakukan ini. Menghubungi Maya adalah langkah pertama. Tapi ia tidak sanggup. Tidak sekarang. Ia butuh waktu. Waktu untuk menata kata-kata, waktu untuk mengumpulkan keberanian, waktu untuk menghadapi badai.
Kemudian, ia teringat Rio. Adik angkatnya, sahabat karibnya. Rio adalah orang yang memperkenalkannya pada Citra sebagai pengasuh si kembar. Rio adalah orang yang paling ia percaya, dan kini ia telah menghancurkan kepercayaan itu. Ardi membayangkan kemarahan Rio, kekecewaannya. Rio mungkin akan membencinya seumur hidup.
Ia memutuskan untuk menghubungi Rio terlebih dahulu. Setidaknya, Rio adalah keluarga. Rio mungkin bisa membantunya mencari jalan keluar, atau setidaknya, memarahinya habis-habisan sampai ia merasa sedikit lebih baik.
Tangannya gemetar saat ia menekan nomor Rio. Deru nada sambung terasa begitu panjang. "Halo, Bang?" Suara Rio terdengar ceria, seperti biasanya. "Gimana? Udah siap buat jadi raja sehari?"
Suara ceria Rio semakin membuat Ardi merasa bersalah. "Rio... aku... aku harus bicara denganmu." Suaranya serak dan berat.
Seketika nada ceria Rio menghilang. "Ada apa, Bang? Kok suaramu begitu? Mabuk berat ya?"
"Bukan soal mabuk, Rio. Ini lebih serius," Ardi menjawab, mencoba menstabilkan suaranya. "Aku butuh kamu datang ke kamarku sekarang. Sendirian. Jangan ada yang tahu."
Ada jeda di ujung telepon. Rio pasti merasakan ada yang tidak beres. "Ada apa sebenarnya, Bang? Kamu bikin masalah apa lagi?" tanyanya, ada nada khawatir dan sedikit kesal dalam suaranya.
"Datang saja, Rio. Aku akan jelaskan semuanya," Ardi mendesak.
Lima belas menit kemudian, Rio sudah berada di depan pintu kamar Ardi. Wajahnya menunjukkan campuran rasa ingin tahu dan kekhawatiran. "Ada apa, Bang? Kamu kelihatan pucat banget. Jangan bilang kamu... kamu sakit?"
Ardi menggelengkan kepala, mengunci pintu kamar. Ia menuntun Rio untuk duduk di sofa. "Aku... aku melakukan kesalahan fatal, Rio." Ardi menunduk, tidak sanggup menatap mata adiknya.
Rio mengernyitkan kening. "Kesalahan apa? Semalam kamu pesta bujangan kan? Jangan bilang kamu berbuat yang aneh-aneh sampai keciduk orang."
Ardi menghela napas, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia mulai menceritakan kejadian semalam, dari bagaimana ia mabuk, salah masuk kamar, hingga akhirnya terbangun di samping Citra. Ia berusaha jujur, sejelas mungkin, tanpa menutupi detail yang paling menyakitkan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti duri yang menusuk jantungnya sendiri.
Saat Ardi selesai bercerita, Rio terdiam. Wajahnya yang tadinya penasaran kini berubah menjadi tegang, kemudian perlahan memerah. Nafasnya memburu. Ardi bisa melihat urat-urat di leher Rio menonjol.
"Kamu bilang apa?!" Rio akhirnya berseru, suaranya tertahan, namun penuh amarah yang membara. Ia bangkit dari sofa, menatap Ardi dengan tatapan tak percaya yang bercampur jijik. "Kamu... kamu meniduri Citra? Pengasuh anak-anakku? Adikku sendiri?"
Ardi menyusut, merasakan gelombang kemarahan Rio menghantamnya. "Rio, dengarkan aku. Aku bersumpah aku tidak sadar. Aku mabuk berat. Aku benar-benar tidak tahu itu kamar Citra."
"Tidak sadar?!" Rio membentak, suaranya kini meninggi, mengabaikan fakta bahwa mereka berada di hotel. "Omong kosong macam apa itu, Bang? Kamu pikir ini lelucon? Kamu merusak hidup orang, Bang! Kamu merusak Citra!"
"Aku tahu, Rio! Aku tahu!" Ardi balas membentak, kini ikut emosi. "Apa kau pikir aku tidak merasa bersalah?! Aku sudah menghancurkan segalanya! Pernikahanku, hidup Maya, dan sekarang Citra!"
"Maya?! Kamu masih sempat memikirkan Maya?!" Rio melangkah maju, tangannya mengepal. "Bagaimana dengan Citra, Bang?! Dia itu gadis baik-baik! Dia itu sudah seperti adikku sendiri! Kamu... kamu benar-benar keterlaluan!"
Ardi menahan diri untuk tidak membalas pukulan yang ia tahu akan segera datang. Ia pantas menerimanya. "Aku tahu, Rio. Aku tahu. Itu sebabnya aku memanggilmu. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab. Aku sudah memutuskan. Aku akan menikahi Citra."
Kata-kata itu membekukan Rio di tempat. Matanya membelalak, amarahnya sejenak tergantikan oleh keterkejutan yang mendalam. "Apa?!"
"Aku akan menikahi Citra," Ardi mengulangi, suaranya lebih tegas. "Ini satu-satunya cara untuk memperbaiki ini. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku."
Rio tertawa pahit, tawa yang tak ada lucunya. "Kamu gila, Bang? Kamu gila?! Besok kamu menikah dengan Maya! Kamu akan menghancurkan hati Maya! Kamu akan menghancurkan keluargamu sendiri! Kamu tahu seberapa besar Maya mencintaimu? Seberapa besar dia mempersiapkan pernikahan ini?"
"Aku tahu, Rio! Aku tahu semua itu!" Ardi berteriak, frustrasi memuncak. "Tapi aku sudah melakukan kesalahan. Aku tidak bisa hidup dengan beban ini. Aku tidak bisa menikah dengan Maya jika aku sudah merusak Citra seperti ini!"
Rio menggelengkan kepala, tatapannya kini berubah menjadi keputusasaan yang mendalam. "Dan bagaimana dengan Citra? Apa kamu pikir dia akan bahagia menikahimu? Menikahi pria yang menidurinya dalam keadaan mabuk, yang besoknya akan menikahi wanita lain? Kamu pikir itu bentuk tanggung jawab, Bang? Itu namanya penderitaan!"
"Aku akan mencoba, Rio!" Ardi bersikeras. "Aku akan mencoba membuat Citra bahagia. Aku akan melindunginya. Aku akan memberinya masa depan."
"Masa depan macam apa, Bang?!" Rio hampir menangis. "Masa depan yang dibangun di atas kebohongan? Di atas air mata Maya? Di atas penderitaan Citra? Kamu pikir Citra tidak punya hati? Dia juga pasti tahu kamu mencintai Maya!"
Hati Ardi mencelos mendengar kata-kata Rio. Rio benar. Sangat benar. Keputusan ini, meskipun didasari niat baik untuk bertanggung jawab, mungkin akan menimbulkan lebih banyak penderitaan daripada yang ia bayangkan. Ia akan menikahi Citra, tetapi tidak dengan cinta yang sama seperti ia mencintai Maya. Ini adalah pernikahan paksa, pernikahan yang didasari oleh rasa bersalah dan kewajiban.
"Aku tidak melihat jalan lain, Rio," Ardi berbisik, suaranya kembali patah. "Jika ini terbongkar, Citra akan hancur. Reputasinya akan hancur. Dan kamu tahu bagaimana masyarakat kita menghakimi wanita dalam kasus seperti ini."
Rio menghela napas panjang, amarahnya sedikit mereda, digantikan oleh keputusasaan. Ia tahu Ardi benar tentang Citra. Sebagai seorang wanita lajang yang menjadi pengasuh, reputasi Citra adalah segalanya. Jika berita ini menyebar, Citra akan menghadapi penghakiman yang brutal.
"Lalu bagaimana dengan Maya?" Rio bertanya lagi, suaranya pelan. "Kamu akan bilang apa padanya? Acara sudah disiapkan. Keluarga besar sudah berkumpul. Tamu undangan sudah datang."
Ardi memejamkan mata, membayangkan kerumunan orang di acara akad. Senyum sumringah Maya dalam gaun pengantinnya. Orang tua mereka yang berbahagia. Semua itu akan hancur dalam sekejap mata.
"Aku akan bilang padanya ada hal mendesak yang terjadi," Ardi mencoba merangkai kata-kata. "Kecelakaan. Keluarga. Apapun. Aku akan membatalkan pernikahan."
"Membatalkan pernikahan di hari-H?" Rio menatapnya tak percaya. "Kamu akan menjadi bahan tertawaan, Bang! Dan Maya... dia akan sangat terpukul!"
"Aku tahu, Rio! Aku tahu semua risikonya!" Ardi berteriak, kepalanya terasa ingin pecah. "Tapi ini lebih baik daripada aku menikah dengan kebohongan! Lebih baik daripada aku terus menerus dihantui rasa bersalah!"
Rio menjatuhkan dirinya kembali ke sofa, mengacak rambutnya frustrasi. "Aku tidak percaya ini terjadi. Tidak percaya kamu bisa berbuat sebodoh ini, Bang."
"Aku juga tidak percaya," Ardi bergumam. "Aku tidak pernah berniat menyakiti siapa pun."
"Jadi, apa rencanamu sekarang?" Rio akhirnya bertanya, suaranya lelah. "Kamu akan bicara dengan Maya? Kapan? Apa kamu yakin dia akan mengerti?"
"Aku akan bicara dengannya pagi ini," Ardi menjawab, meskipun ia tidak yakin dengan kata-katanya sendiri. "Sebelum semua tamu datang. Aku akan menjelaskannya secara pribadi."
Rio hanya bisa menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu harus berkata apa, Bang. Ini gila. Ini benar-benar gila."
"Aku tahu," Ardi menyetujuinya. "Tapi aku harus melakukan ini. Untuk Citra. Untuk diriku sendiri."
Di kamar sebelah, Citra juga sedang berjuang menghadapi kenyataan pahit. Setelah Ardi pergi, ia ambruk di tepi ranjang, membiarkan air mata yang tadinya tertahan tumpah ruah. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, tidak ingin membangunkan si kembar yang masih pulas di ranjang terpisah.
Ia tidak bisa percaya apa yang telah terjadi. Malam yang seharusnya menjadi malam istirahat setelah seharian mengurus si kembar yang rewel, malah berubah menjadi mimpi buruk. Ardi, pria yang ia kenal sebagai kakak yang baik hati bagi Rio, pria yang akan menikah besok, telah melakukan hal yang tak termaafkan padanya.
Dan sekarang, Ardi ingin menikahinya. Pernikahan. Sebuah kata yang terasa begitu asing di telinganya. Ia tidak pernah membayangkan pernikahan seperti ini. Selama ini, ia hanya bermimpi tentang pernikahan yang didasari cinta, bukan rasa bersalah. Bagaimana mungkin ia bisa membangun rumah tangga dengan Ardi, setelah apa yang terjadi? Bagaimana mungkin ia bisa menatap wajahnya setiap hari, mengetahui bahwa Ardi menikahi dirinya hanya karena kewajiban?
Citra mencintai Maya. Ia melihat bagaimana Maya dan Ardi saling mencintai, bagaimana mereka merencanakan masa depan bersama dengan penuh semangat. Hati Citra mencelos membayangkan bagaimana perasaan Maya jika mengetahui kebenaran ini. Ia tidak ingin menjadi penyebab kehancuran kebahagiaan orang lain.
Namun, di sisi lain, ia juga merasakan ketakutan yang mendalam. Ketakutan akan penghakiman masyarakat, ketakutan akan kehilangan pekerjaannya, ketakutan akan kehilangan martabatnya. Sebagai seorang wanita dari keluarga sederhana yang merantau ke kota besar, reputasi adalah satu-satunya aset yang ia miliki. Jika berita ini terbongkar, ia tidak tahu bagaimana ia akan melanjutkan hidup.
"Astaga," bisiknya, suaranya bergetar. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Terdengar suara pintu terbuka, dan Rio masuk. Citra langsung mengangkat kepalanya, melihat ekspresi Rio yang kini sudah mengetahui semuanya. Rio menghampirinya, wajahnya menunjukkan campuran amarah, kesedihan, dan keputusasaan.
"Citra... aku tidak percaya ini terjadi," Rio berbisik, suaranya parau. Ia berjongkok di hadapan Citra, meraih tangannya. "Aku benar-benar minta maaf. Abangku... Abangku sudah berbuat keterlaluan."
Air mata kembali membasahi pipi Citra. "Rio..." Ia tidak sanggup mengucapkan kata-kata lain.
"Dia bilang dia akan bertanggung jawab," Rio melanjutkan, suaranya berat. "Dia bilang dia akan menikahimu."
Citra menatap Rio, matanya memancarkan kesedihan. "Bagaimana bisa, Rio? Dia akan menikah besok. Dengan Maya."
Rio mengangguk. "Dia bilang dia akan membatalkan pernikahan. Demi kamu. Demi pertanggungjawaban."
Citra menggelengkan kepala. "Aku tidak ingin menjadi alasan kebahancuran pernikahannya, Rio. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Maya."
"Tapi bagaimana dengan kamu, Citra?" Rio bertanya, matanya berkaca-kaca. "Jika berita ini tersebar, kamu yang akan hancur. Masyarakat tidak akan peduli dia mabuk atau tidak. Mereka hanya akan melihat kamu sebagai korban."
Kata-kata Rio menusuk Citra. Rio benar. Dunia akan menghakiminya, bukan Ardi. Masyarakat akan menyalahkannya, bukan pria yang melakukan kesalahan.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa, Rio," Citra mengakui, suaranya bergetar. "Aku takut."
Rio menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. "Dengar, Citra. Aku tahu ini sulit. Tapi kita harus memikirkan pilihan terbaik untukmu. Ardi menawarkan untuk menikahimu. Itu adalah bentuk pertanggungjawaban yang paling besar yang bisa dia lakukan."
"Tapi aku tidak mencintainya," Citra berbisik, air matanya kembali mengalir deras. "Bagaimana aku bisa menikah dengan pria yang tidak aku cintai? Yang melakukan ini padaku?"
Rio mengusap punggung Citra. "Aku tahu, Citra. Aku tahu ini berat. Tapi terkadang, hidup tidak berjalan sesuai keinginan kita. Jika kamu menikah dengan Ardi, setidaknya kamu akan mendapatkan perlindungan. Kamu akan mendapatkan nama baikmu kembali."
"Nama baik yang dibangun di atas kebohongan?" Citra bertanya pahit.
"Setidaknya, orang lain tidak akan tahu kebenaran pahit di baliknya," Rio mencoba meyakinkan. "Hanya kita yang tahu. Dan kita akan menjaganya."
Citra menatap Rio, mencari kekuatan. Rio adalah satu-satunya orang yang bisa ia percayai saat ini. Adik angkat Ardi, yang kini berada di sisinya, mencoba membantunya menghadapi mimpi buruk ini.
"Bagaimana dengan Maya?" Citra kembali bertanya, pertanyaan itu terus menghantuinya.
Rio menghela napas. "Ardi bilang dia akan bicara dengan Maya. Dia akan menjelaskan ada masalah keluarga mendesak yang membuat pernikahan harus dibatalkan."
Citra tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Maya saat mendengar berita itu. Hati Citra terasa sakit membayangkan kesedihan Maya. Ia tidak pernah ingin menjadi penyebab penderitaan orang lain.
"Aku tidak bisa, Rio," Citra menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa merusak kebahagiaan Maya. Aku tidak bisa hidup dengan beban itu."
"Tapi kamu harus hidup, Citra!" Rio berseru, kini sedikit frustrasi. "Kamu tidak bisa mengorbankan dirimu demi kebahagiaan orang lain! Ini bukan salahmu! Kamu adalah korban di sini!"
Kata-kata Rio membuat Citra tersentak. Korban. Ya, ia adalah korban. Korban dari kecerobohan Ardi, korban dari takdir yang kejam. Tapi apakah menjadi korban berarti ia harus menghancurkan kehidupan orang lain juga?
"Aku tidak tahu, Rio," Citra bergumam, air mata kembali membasahi pipinya. "Aku tidak tahu."
Rio memeluk Citra erat. "Apapun keputusanmu, Citra, aku akan mendukungmu. Aku akan selalu ada untukmu. Kamu sudah seperti adikku sendiri. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian."
Pelukan Rio terasa hangat, memberikan sedikit kenyamanan di tengah badai emosi yang melanda Citra. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut. Keputusan ini, betapapun sulitnya, harus segera diambil. Pagi sudah menjelang, dan waktu terus berjalan.
Sementara itu, di sebuah suite lain di hotel yang sama, Maya baru saja terbangun. Senyum merekah di wajahnya. Hari ini adalah hari besarnya, hari pernikahannya dengan Ardi, pria impiannya. Ia memandang gaun pengantinnya yang tergantung rapi di sudut ruangan, gaun putih bersih yang sudah ia impikan sejak kecil.
Ia meraih ponselnya, melihat pesan dari Ardi yang masuk dini hari. Isinya singkat, hanya ucapan selamat pagi dan permintaan untuk bertemu di lobi hotel sesegera mungkin. Maya sedikit heran. Mengapa Ardi ingin bertemu di lobi? Bukankah seharusnya ia bersiap-siap? Tapi ia tidak terlalu memikirkannya. Mungkin Ardi ingin memberinya kejutan pagi ini.
Dengan hati riang, Maya bersiap-siap. Ia mengenakan jubah mandi sutra, membiarkan rambutnya terurai indah. Ia membayangkan momen di mana ia akan melangkah di altar, melihat tatapan kagum di mata Ardi. Ia membayangkan kehidupan bahagia yang akan mereka jalani bersama.
Sesampainya di lobi, Maya melihat Ardi sudah menunggunya. Namun, ada yang berbeda dari Ardi. Wajahnya pucat, matanya merah, dan ada ekspresi cemas yang terpancar jelas di wajahnya. Senyum Maya memudar.
"Ardi? Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Maya, menghampiri Ardi dengan cepat. Ia meletakkan tangannya di lengan Ardi, merasakan ketegangan di tubuh pria itu.
Ardi menatap Maya, mata penuhhnya berkaca-kaca. Ia meraih tangan Maya, menggenggamnya erat, seolah itu adalah satu-satunya pegangan yang ia miliki. "Maya... ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu," katanya, suaranya bergetar.
Hati Maya mencelos. Ada firasat buruk yang tiba-tiba melandanya. "Ada apa, Ardi? Jangan membuatku takut."
"Pernikahan kita... pernikahan kita harus dibatalkan," Ardi berbisik, kata-kata itu keluar dari mulutnya dengan sangat berat, seperti batu yang menghimpit dada.
Maya membeku. Kata-kata itu berputar di kepalanya, namun otaknya menolak untuk memprosesnya. "Apa? Apa yang kamu katakan? Kamu bercanda, kan?" Ia tertawa hambar, mencoba menepis kenyataan yang baru saja ia dengar.
Ardi menggelengkan kepala, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku tidak bercanda, Maya. Aku sangat menyesal. Ada hal yang sangat mendesak terjadi. Hal yang tidak bisa aku ceritakan sekarang. Tapi pernikahan kita tidak bisa dilanjutkan."
Dunia Maya runtuh. Kata-kata Ardi menghantamnya seperti gelombang tsunami, memporak-porandakan semua impiannya, semua harapannya. Gaun pengantin yang ia idamkan, dekorasi yang sudah ia pilih dengan cermat, janji-janji yang sudah mereka ukir bersama, semuanya kini hancur berkeping-keping.
"Apa maksudmu, Ardi?" Maya bertanya, suaranya nyaris tidak terdengar. Air mata mulai mengalir deras di pipinya. "Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba?"
Ardi menunduk, tidak sanggup menatap mata Maya yang kini dipenuhi rasa sakit dan kebingungan. "Aku... aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, Maya. Ini terlalu berat. Tapi percayalah, ini demi kebaikanmu. Demi kebaikan kita berdua."
"Demi kebaikanku?!" Maya berteriak, suaranya pecah. Ia menarik tangannya dari genggaman Ardi, memukul dadanya dengan kepalan tangan. "Kamu pikir menghancurkan hidupku seperti ini adalah demi kebaikanku?! Kamu pikir ini adil bagiku, Ardi?! Setelah semua yang kita lalui?!"
Ardi ingin memeluk Maya, ingin menenangkan kekasihnya yang kini hancur berkeping-keping. Namun ia tahu, ia tidak berhak melakukannya. Ia adalah orang yang telah menghancurkan Maya.
"Aku tahu ini berat, Maya. Aku tahu ini menyakitkan," Ardi mencoba menahan emosinya. "Aku benar-benar minta maaf. Aku akan menanggung semua ini. Aku akan menjelaskan pada semua orang. Aku akan bicara dengan orang tuamu."
"Apa yang akan kamu jelaskan?!" Maya menangis histeris, tidak peduli dengan orang-orang di lobi yang mulai melirik ke arah mereka. "Kamu akan bilang apa pada mereka?! Bahwa kamu pengecut?! Bahwa kamu lari di hari pernikahanmu sendiri?!"
Air mata Ardi akhirnya tumpah. Ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya melihat Maya dalam kondisi seperti ini. Namun, ia tahu, ia tidak bisa menarik kembali keputusannya. Ia telah membuat janji pada Citra. Janji yang lebih berat dari apa pun.
"Aku... aku minta maaf, Maya," Ardi hanya bisa mengulangi, kata-kata itu terasa hampa. "Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini."
Maya terhuyung mundur, seolah baru saja dipukul. Wajahnya pucat pasi, matanya merah dan bengkak. Ia menatap Ardi dengan tatapan kosong, seolah tidak mengenali pria di depannya. "Aku... aku tidak percaya ini," bisiknya. "Aku tidak percaya kamu tega melakukan ini padaku, Ardi."
Tanpa menunggu jawaban Ardi, Maya berbalik dan berlari. Ia berlari keluar dari lobi hotel, air mata membasahi pipinya, meninggalkan Ardi sendirian, terpaku di tempat, dengan hati yang hancur. Ia tahu, ia baru saja menghancurkan hati wanita yang paling ia cintai, demi sebuah tanggung jawab yang ia pikul di pundaknya.
Di kejauhan, ia bisa mendengar suara langkah kaki Rio yang mendekat. Rio pasti sudah melihat apa yang terjadi. Ardi menutup matanya, merasakan beban dunia menindih pundaknya. Pagi ini, ia telah membuat keputusan yang paling sulit dalam hidupnya. Keputusan yang akan mengubah segalanya, untuk selamanya.
Raungan histeris Maya yang menghilang di kejauhan masih terngiang-ngiang di telinga Ardi, mengoyak-ngoyak hatinya yang sudah remuk. Ia berdiri terpaku di tengah lobi hotel yang megah, kini terasa begitu kosong dan sunyi, meskipun beberapa pasang mata penasaran masih melirik ke arahnya. Hawa dingin AC hotel terasa menusuk tulangnya, namun tidak sedingin kekosongan yang kini melingkupi dadanya. Ia telah menghancurkan wanita yang dicintainya, dan ia baru saja merasakan dampaknya secara langsung.
Rio menghampirinya, wajahnya menunjukkan campuran kekhawatiran dan amarah yang mereda menjadi keputusasaan. Ia menepuk bahu Ardi pelan, isyarat yang Ardi tahu berarti "aku bersamamu, tapi aku juga kecewa padamu."
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Bang?" tanya Rio, suaranya pelan dan dalam. "Maya... dia pasti hancur."
Ardi hanya bisa menggelengkan kepala, bibirnya bergetar. "Aku tidak tahu, Rio. Aku tidak tahu bagaimana aku akan memperbaikinya." Ia memejamkan mata, membiarkan air mata yang tadinya ia tahan kembali mengalir. Rasa bersalah itu menusuknya lebih dalam, lebih tajam daripada sebelumnya.
"Kita harus segera menghadapi keluarga," Rio mengingatkan, menatap jam tangannya. "Waktu akad sudah semakin dekat. Mereka pasti sudah berkumpul."
Mendengar kata "akad" dan "keluarga", Ardi merasakan gelombang kepanikan. Ini bukan hanya tentang Maya. Ini tentang orang tua mereka, keluarga besar yang sudah berkumpul dari berbagai kota, teman-teman, kolega bisnis. Mereka semua akan menyaksikan kehancuran ini.
"Rio... aku tidak sanggup," Ardi berbisik, suaranya nyaris tak terdengar.
"Kamu harus sanggup, Bang," Rio membalas, nadanya tegas. "Kamu yang membuat kekacauan ini, kamu yang harus membersihkannya. Aku akan menemanimu. Kita hadapi bersama."
Ada kekuatan dalam kata-kata Rio, sebuah dukungan yang Ardi butuhkan saat ini. Ia mengangguk, menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Mereka berjalan beriringan menuju ballroom hotel, tempat acara akad nikah seharusnya dilangsungkan. Setiap langkah terasa berat, seperti berjalan di atas pecahan kaca. Ardi bisa merasakan tatapan penasaran dan bisik-bisik dari para tamu yang sudah mulai berdatangan. Aura kebahagiaan yang seharusnya meliputi ruangan itu kini terasa digantikan oleh kecemasan yang mencekam.
Sesampainya di depan pintu ballroom, Ardi bisa mendengar riuhnya suara dari dalam. Suara tawa, sapaan, dan alunan musik tradisional yang seharusnya mengiringi momen sakral. Semua itu terasa begitu ironis, mengingat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Rio membuka pintu, dan Ardi melangkah masuk. Seketika, semua mata tertuju padanya. Wajah-wajah familiar yang tadinya tersenyum ceria kini berubah menjadi keheranan. Orang tuanya, orang tua Maya, sanak saudara, dan teman-teman, semuanya menatap Ardi dengan tatapan bertanya-tanya.
Ayah Ardi, Pak Danu, menghampirinya dengan raut wajah cemas. "Ardi? Kamu kenapa, Nak? Mana Maya? Kenapa kamu belum siap?" tanyanya, suaranya dipenuhi kekhawatiran.
Ibu Ardi, Bu Amira, juga mendekat, matanya memancarkan ketakutan. "Ada apa, Nak? Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit?"
Ardi menatap kedua orang tuanya, dan ia merasakan pisau tajam menusuk dadanya. Ia harus menghancurkan harapan dan kebahagiaan mereka. Ia melihat ke arah Ayah Maya, Pak Bayu, dan Ibu Maya, Bu Laras, yang juga mendekat dengan ekspresi bingung. Bu Laras sudah terlihat gelisah, matanya mencari-cari putrinya.
"Ayah... Ibu... Pak Bayu... Bu Laras..." Ardi memulai, suaranya serak dan bergetar. "Ada sesuatu yang harus saya sampaikan."
Suasana di ballroom mendadak hening. Semua mata menatap Ardi, menunggu. Rio berdiri di samping Ardi, memberikan dukungan fisik dan moral.
"Pernikahan... pernikahan saya dengan Maya... harus dibatalkan," Ardi akhirnya mengucapkan kata-kata itu. Meskipun ia sudah mengucapkannya pada Maya, mengucapkannya di depan seluruh keluarga terasa seribu kali lebih berat.
Seketika, riuh rendah bisik-bisik menyebar di antara para tamu. Ada yang terkejut, ada yang tidak percaya, dan ada pula yang mulai bergosip. Namun, yang paling hancur adalah keluarga inti.
Bu Laras terhuyung, seolah baru saja dipukul. "Apa?! Apa yang kamu katakan, Ardi?! Kamu bercanda, kan?!" teriaknya, suaranya pecah. "Mana Maya?! Kenapa dia tidak bersamamu?!"
Pak Bayu, meskipun terkejut, berusaha menenangkan istrinya. Namun wajahnya juga terlihat sangat tesiksa. "Ardi, apa maksudmu? Ini tidak lucu. Ini hari besar putriku."
Pak Danu dan Bu Amira juga sama terkejutnya. "Ardi, jelaskan pada kami! Ada apa sebenarnya?!" Pak Danu bertanya, nadanya tegas, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.
Ardi menelan ludah, mencari kata-kata yang tepat. Ia tahu ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Tidak di sini, tidak sekarang, tidak di depan semua orang. Ia harus mencari alasan yang masuk akal, yang setidaknya bisa diterima, meskipun itu berarti ia harus berbohong.
"Maafkan saya, semuanya," Ardi memulai lagi, suaranya sedikit lebih stabil. "Ada... ada hal mendesak yang terjadi. Sebuah masalah keluarga yang sangat serius dan tidak terduga. Saya tidak bisa menceritakannya secara detail sekarang, tetapi hal ini membuat saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini."
"Masalah keluarga apa?!" Bu Laras kembali berteriak, air mata membasahi pipinya. "Ini tidak masuk akal! Semua sudah siap! Putri saya sudah menunggu! Apa yang akan kamu katakan padanya?!"
Ardi memejamkan mata. "Saya sudah bicara dengan Maya. Dia... dia sudah tahu." Kata-kata itu terasa seperti pisau yang mengoyak-oyak hatinya. Maya tidak tahu yang sebenarnya. Ia hanya tahu bahwa pernikahannya dibatalkan, tanpa penjelasan yang memadai.
Tiba-tiba, suara tangis histeris kembali terdengar dari pintu masuk ballroom. Semua mata menoleh ke arah sumber suara. Maya. Ia muncul di ambang pintu, dengan rambut berantakan, wajah sembap, dan mata merah bengkak. Gaun pengantin yang seharusnya ia kenakan kini digantikan oleh pakaian biasa yang asal ia kenakan. Ia tampak seperti badai yang baru saja menerpa.
"Maya!" Bu Laras berteriak, menghambur memeluk putrinya.
Maya tidak membalas pelukan ibunya. Matanya tertuju pada Ardi, penuh amarah, pengkhianatan, dan kesedihan yang tak terhingga. "Kamu pengecut, Ardi!" teriaknya, suaranya bergetar karena amarah. "Pengecut! Beraninya kamu melakukan ini padaku!"
Suasana menjadi semakin ricuh. Para tamu berbisik-bisik, beberapa mencoba mendekat untuk mendengar, sementara yang lain hanya bisa menatap terkejut.
Pak Bayu, dengan wajah memerah menahan marah, menghampiri Ardi. "Ardi! Jelaskan ini padaku sekarang! Apa yang sudah kamu lakukan pada putriku?!"
Ardi menunduk. Ia tidak bisa berbohong lagi pada Maya. Ia tidak bisa menyakiti Maya lebih jauh. Tapi ia juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Dilema itu menghimpitnya.
"Saya minta maaf, Pak Bayu," Ardi hanya bisa mengucapkan. "Saya... saya tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Saya tidak layak untuk Maya."
Kata-kata Ardi semakin membingungkan semua orang. Tidak layak? Apa maksudnya?
Bu Amira, ibu Ardi, kini mendekat, wajahnya juga dipenuhi air mata. "Ardi, Nak... apa yang terjadi? Kenapa kamu bilang begitu?"
Ardi melihat sekeliling, merasakan semua mata menghakiminya. Ia tahu ia harus pergi. Ia tidak bisa menghadapi ini lebih lama lagi. Ia tidak bisa terus menerus melihat Maya hancur karena dirinya.
"Maafkan saya, semuanya," Ardi berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar. Kemudian, ia berbalik dan berjalan cepat keluar dari ballroom, meninggalkan kekacauan dan kebingungan di belakangnya. Rio mencoba memanggilnya, namun Ardi terus berjalan, ingin menghilang dari pandangan.
Ia tidak tahu kemana tujuannya. Ia hanya ingin pergi, menjauh dari semua kekacauan ini. Ia berjalan cepat menyusuri koridor hotel, turun menggunakan lift, dan keluar dari pintu utama. Udara pagi Jakarta yang dingin menyambutnya, namun tidak mampu meredakan panas di hatinya.
Ia berjalan tanpa arah, pikirannya kosong. Ia hanya ingin melarikan diri dari kenyataan yang baru saja ia ciptakan. Rasa bersalah, penyesalan, dan kehancuran menggerogoti dirinya dari dalam.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama Citra muncul di layar. Ardi ragu-ragu sejenak, kemudian mengangkatnya.
"Halo?" suaranya serak.
"Ardi... kamu di mana?" suara Citra terdengar cemas. "Rio memberitahuku apa yang terjadi. Maya... dia menangis histeris."
"Aku tahu," Ardi membalas, suaranya putus asa. "Aku sudah menghancurkan hidupnya, Citra."
"Kita harus bicara," Citra mendesak. "Kita harus segera membuat keputusan. Kamu tidak bisa terus seperti ini."
Ardi menghela napas. Citra benar. Ia telah membuat keputusan untuk menikahi Citra. Sekarang, ia harus menghadapi konsekuensinya, dan mulai menyusun rencana.
"Baiklah," Ardi akhirnya menjawab. "Aku akan kembali ke hotel. Temui aku di kafe. Jangan di lobi."
"Oke," Citra menjawab, suaranya sedikit lega. "Aku akan segera ke sana."
Ardi berbalik, kembali ke hotel dengan langkah yang lebih pasti. Ia tahu ia harus menghadapi kenyataan. Ia telah membuat pilihan, dan sekarang ia harus hidup dengan pilihan itu.
Sesampainya di kafe hotel, Ardi melihat Citra sudah duduk di salah satu sudut, dengan wajah tegang. Ia terlihat sudah rapi, namun matanya masih sembap dan menunjukkan bahwa ia juga baru saja menangis.
Ardi menghampirinya, duduk di kursi di hadapannya. "Maaf membuatmu menunggu," katanya.
Citra menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa. Bagaimana... bagaimana dengan Maya?" tanyanya, suaranya pelan.
"Dia... dia sangat terpukul," Ardi mengakui, merasakan nyeri di dadanya. "Dia menangis histeris. Aku... aku tidak sanggup melihatnya."
Citra menunduk, bibirnya bergetar. "Aku turut prihatin, Ardi. Aku tidak ingin ini terjadi."
"Ini bukan salahmu, Citra," Ardi berkata, menatap lurus ke mata Citra. "Ini semua salahku. Aku yang mabuk, aku yang ceroboh. Aku yang menghancurkan segalanya."
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Citra bertanya, suaranya lebih tegas. "Kamu sudah membatalkan pernikahanmu. Sekarang, bagaimana dengan kita?"
Ardi menghela napas panjang. Ini adalah inti masalahnya. "Aku sudah bilang padamu. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu."
Citra menatapnya, matanya memancarkan keraguan. "Apakah kamu yakin, Ardi? Ini bukan pernikahan yang didasari cinta. Ini adalah pernikahan yang didasari kewajiban."
"Aku tahu," Ardi membalas, suaranya berat. "Tapi ini satu-satunya cara. Aku tidak bisa membiarkanmu menanggung semua ini sendirian. Aku tidak bisa membiarkan reputasimu hancur."
"Tapi bagaimana dengan hatimu?" Citra bertanya, suaranya lirih. "Bagaimana dengan hatiku? Bisakah kita membangun rumah tangga seperti ini?"
Ardi terdiam. Pertanyaan Citra menusuknya. Bisakah ia membangun rumah tangga tanpa cinta? Bisakah ia hidup dengan bayangan Maya yang selalu menghantuinya?
"Kita akan mencobanya, Citra," Ardi akhirnya menjawab, meskipun ia sendiri tidak yakin. "Kita akan berusaha. Demi masa depanmu. Demi tanggung jawabku."
Citra tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kita harus bicara dengan keluargamu," Ardi melanjutkan, mencoba menyusun rencana. "Dan juga keluargaku. Kita harus menjelaskan situasinya, meskipun tidak sepenuhnya jujur."
"Bagaimana kamu akan menjelaskannya pada orang tuamu?" Citra bertanya. "Mereka pasti sangat terkejut dengan pembatalan pernikahanmu dengan Maya."
"Aku akan bilang ada hal serius yang terjadi di antara kita," Ardi mencoba merangkai skenario. "Dan bahwa aku dan kamu... kita berdua memutuskan untuk memulai babak baru bersama. Mungkin kita bisa bilang kita sudah lama punya perasaan satu sama lain, tapi terhalang oleh keadaan." Ia tahu itu adalah kebohongan besar, tapi itu adalah satu-satunya skenario yang paling tidak merugikan.
Citra menatapnya, ada sedikit keraguan di matanya. "Apakah mereka akan percaya?"
"Kita harus membuat mereka percaya," Ardi bersikeras. "Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan muka kita berdua."
"Dan bagaimana dengan Rio?" Citra bertanya. "Dia sudah tahu yang sebenarnya."
"Rio akan membantu kita," Ardi menjawab, yakin. "Dia mengerti situasinya. Dia akan mendukung kita."
Meskipun Ardi berkata demikian, ia tahu ia masih harus menghadapi kemarahan Rio. Rio mungkin akan mendukungnya di depan umum, tetapi secara pribadi, ia pasti masih kecewa padanya.
"Kita harus segera pulang," Ardi memutuskan. "Aku akan mengurus hotel dan check-out. Kamu bisa siapkan si kembar. Kita akan pulang ke rumahku. Kita akan tinggal di sana dulu, sementara kita memikirkan langkah selanjutnya."
Citra mengangguk. "Baiklah. Aku akan siapkan barang-barang si kembar."
Ardi merasa sedikit lega melihat Citra mulai bisa berpikir jernih dan bekerja sama. Setidaknya, mereka tidak akan menghadapi ini sendirian.
Kembali ke ballroom, kekacauan masih belum mereda. Pak Danu dan Bu Amira berusaha menenangkan Pak Bayu dan Bu Laras yang masih syok dan marah. Maya sudah dibawa pergi oleh beberapa anggota keluarga untuk menenangkan diri.
"Saya tidak percaya ini!" Bu Laras menangis, memeluk suaminya. "Bagaimana bisa Ardi melakukan ini pada putriku di hari pernikahannya sendiri?!"
"Tenang, Laras," Pak Danu mencoba menenangkan. "Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ardi pasti punya alasan."
"Alasan apa?!" Pak Bayu membentak. "Tidak ada alasan yang bisa membenarkan ini! Ini adalah penghinaan besar bagi keluarga kami!"
Rio, yang kembali ke ballroom setelah Ardi pergi, mencoba menjelaskan. "Om, Tante... ada hal mendesak yang terjadi. Ardi... dia sedang dalam masalah besar."
"Masalah apa, Rio?!" Bu Laras menatap Rio dengan mata sembap. "Katakan pada kami! Ada apa dengan Ardi?!"
Rio ragu-ragu. Ia tidak bisa mengungkapkan kebenaran tentang Citra. Ia harus melindungi kakaknya, dan juga Citra. "Saya tidak bisa menceritakannya secara detail sekarang, Tante. Tapi percayalah, ini bukan karena Ardi tidak mencintai Maya. Ini lebih rumit dari itu."
Pak Danu menghela napas panjang. "Baiklah, Rio. Kami akan bicara dengan Ardi nanti. Tapi sekarang, kita harus menghadapi para tamu. Kita harus memberitahu mereka bahwa pernikahan dibatalkan."
Membatalkan pernikahan di hari-H adalah skandal besar. Terutama di lingkungan sosial mereka yang sangat menjunjung tinggi tradisi dan reputasi. Ardi tahu bahwa ia akan menghadapi kritik, cemoohan, dan mungkin juga pengucilan sosial. Namun, ia telah membuat pilihannya.
Beberapa jam kemudian, Ardi dan Citra sudah berada di mobil Ardi, dalam perjalanan menuju rumah Ardi. Di kursi belakang, si kembar, Kevin dan Kiki, sudah tertidur pulas setelah lelah menangis karena bingung dengan suasana pagi itu.
Suasana di dalam mobil terasa canggung dan sunyi. Ardi fokus mengemudi, sementara Citra menatap keluar jendela, memandangi hiruk pikuk kota Jakarta yang kontras dengan kekacauan dalam hatinya.
"Kamu sudah menghubungi orang tuamu, Citra?" Ardi memecah keheningan.
Citra menggelengkan kepala. "Belum. Aku tidak tahu harus bilang apa pada mereka."
"Kita akan pikirkan itu nanti," Ardi membalas. "Yang penting sekarang, kita sudah keluar dari hotel itu."
Ia tahu, ini hanyalah awal. Awal dari perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian. Mereka akan menghadapi keluarga, masyarakat, dan yang terpenting, diri mereka sendiri.
Sesampainya di rumah Ardi, sebuah rumah mewah di kawasan elit Jakarta, Citra merasa semakin canggung. Ini adalah rumah Ardi, rumah yang seharusnya ia tempati bersama Maya. Kini, ia berada di sini, sebagai "pengganti" yang tidak diinginkan.
Rio sudah menunggu di depan pintu. Wajahnya masih terlihat lelah dan khawatir. Ia membantu Citra menurunkan si kembar dan tas-tas mereka.
"Kamu baik-baik saja, Citra?" tanya Rio, menatap Citra dengan prihatin.
Citra mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja, Rio. Terima kasih sudah membantuku."
"Tidak masalah," Rio membalas. Ia kemudian menoleh ke Ardi. "Bang, Ayah dan Ibu sudah menunggumu di ruang keluarga. Mereka ingin penjelasan."
Ardi menghela napas panjang. Ini dia. Pertempuran sesungguhnya. Ia menoleh ke Citra. "Kamu bisa istirahat dulu, Citra. Aku akan menghadapi mereka."
Citra mengangguk. Ia tahu ini bukan saatnya untuk ikut campur.
Ardi melangkah menuju ruang keluarga, jantungnya berdebar kencang. Di sana, duduklah Pak Danu dan Bu Amira, dengan ekspresi tegang di wajah mereka.
"Ardi," Pak Danu memulai, suaranya dingin dan tegas. "Jelaskan pada kami apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa pernikahanmu dengan Maya dibatalkan? Dan kenapa Citra ada di sini?"
Ardi menarik napas dalam-dalam. Inilah saatnya untuk memulai kebohongan yang akan menjadi dasar dari kehidupan barunya. Ia harus meyakinkan orang tuanya, dan meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ini adalah jalan yang harus ia tempuh.
"Ayah, Ibu," Ardi memulai, suaranya pelan namun penuh tekad. "Ada hal yang rumit terjadi antara aku dan Maya. Kami menyadari bahwa kami... kami tidak cocok. Dan selama ini, aku... aku memiliki perasaan pada Citra."
Seketika, mata Pak Danu dan Bu Amira membelalak. Terkejut, bingung, dan tidak percaya.
"Apa?! Perasaan apa, Ardi?!" Bu Amira berseru, suaranya meninggi. "Kamu kenal Citra hanya sebagai pengasuh keponakanmu! Bagaimana mungkin kamu bisa tiba-tiba punya perasaan padanya di hari pernikahanmu sendiri?!"
"Ini bukan tiba-tiba, Bu," Ardi mencoba meyakinkan, meskipun hatinya mencelos karena kebohongan yang ia ucapkan. "Perasaan ini sudah ada sejak lama. Tapi aku selalu menepisnya, karena aku pikir aku harus menikah dengan Maya. Tapi semalam, aku menyadari bahwa aku tidak bisa hidup dengan kebohongan ini. Aku tidak bisa menikah dengan Maya jika hatiku tidak sepenuhnya untuknya."
Pak Danu menatapnya dengan tajam. "Jadi, kamu membatalkan pernikahan karena kamu tiba-tiba menyadari kamu mencintai pengasuh adikmu? Kamu pikir kami akan percaya omong kosong ini, Ardi?"
"Ayah, Ibu, saya bersumpah," Ardi bersikeras, mencoba membuat kata-katanya terdengar tulus. "Ini adalah kebenaran. Saya tahu ini mengejutkan. Saya tahu ini menyakitkan. Tapi saya tidak bisa berbohong pada diri sendiri, apalagi pada Maya."
Bu Amira mulai menangis. "Bagaimana dengan Maya, Nak? Dia pasti hancur. Bagaimana dengan keluarga Bayu? Ini adalah aib bagi keluarga kita, Ardi!"
"Saya tahu, Bu," Ardi membalas, rasa bersalah kembali melilitnya. "Saya akan menanggung semua konsekuensinya. Saya akan bicara dengan keluarga Maya. Saya akan meminta maaf. Tapi saya harus jujur pada diri sendiri. Saya harus mengikuti kata hati saya."
Pak Danu menghela napas panjang, mencoba memproses informasi yang baru saja ia dengar. "Jadi... kamu berniat menikahi Citra?" tanyanya, suaranya berat.
Ardi mengangguk. "Ya, Ayah. Saya berniat menikahi Citra. Saya ingin bertanggung jawab atas perasaan saya. Saya ingin membangun hidup baru dengannya."
Keheningan melanda ruangan. Suasana terasa sangat mencekam. Pak Danu menatap Ardi dengan tatapan yang sulit diartikan, antara kekecewaan, kemarahan, dan mungkin juga sedikit pemahaman yang samar. Bu Amira masih terisak, namun perlahan mulai mereda.
"Ini adalah keputusan terbesar dalam hidupmu, Ardi," Pak Danu akhirnya berkata, suaranya kini sedikit lebih lembut. "Kamu harus yakin dengan apa yang kamu lakukan. Karena setelah ini, tidak ada jalan kembali."
"Saya yakin, Ayah," Ardi menjawab, meskipun di dalam hatinya masih ada keraguan yang menggerogoti. Ia telah memilih jalannya. Jalan yang sulit, penuh tantangan, dan mungkin akan membawa lebih banyak penderitaan. Namun, ia telah membuat janji. Dan janji itu harus ia tepati. Babak baru dalam hidupnya telah resmi dimulai, dan ia harus siap menghadapi badai yang akan menerpa.