Bab 2

Panggilan telepon terputus begitu saja. Kenapa Nia memutuskan telepon saat kami belum selesai berbicara. Pikiranku bertanya-tanya tentang sikap Nia yang aneh saat kutanyai tentang keresek hitam berisi mayat bayi yang kutemukan dalam freezer pagi ini. Suaranya terdengar gugup dan mencurigakan.

Apakah Nia yang menaruhnya. Tapi kenapa dan buat apa dia menyimpan bayi ini dalam freezer. Apakah dia memasaknya? Kalau memang demikian berarti selama ini aku mengonsumsi mayat bayi. Pikiranku bergidik ngeri. Perutku terasa mual membayangkannya. Jika benar demikian berarti selama ini aku bukan makan daging sapi atau ayam tapi mayat bayi.

Segala macam dugaan berputar dalam benakku. Aku hanya bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini tanpa tahu harus bertanya pada siapa. Nia malah menutup teleponku tanpa menjawab pertanyaanku.

Merasa pusing memikirkan segala kemungkinan yang belum pasti, aku mencoba menghubungi Nia lagi. Mungkin saja dia mau menjawab pertanyaanku kali ini. Namun dia tidak mengangkat teleponku. Aku tidak menyerah dan terus menghubungi Nia lagi dan lagi. Namun ia tetap tidak mengangkatnya. Akhirnya aku menyerah dan kukirim pesan padanya.

[Dek, angkat teleponnya. Jawab pertanyaanku. Apakah Kamu tahu siapa yang menaruh keresek hitam itu dalam freezer? Keresek hitam itu berisi mayat bayi, Dek.]

Centang dua pertanda pesanku terkirim. Namun ia belum membacanya. Kulihat dia sedang offline.

[Dek, kenapa Kamu diam saja? Jawablah sayang. Jangan membuatku penasaran. Apakah ini perbuatanmu? Bukan Kamu kan yang menyimpan keresek hitam ini?]

Aku memfoto keresek hitam dengan posisi terbuka agar isinya terlihat. Dengan perasaan ngeri dan bergidik kulihat lagi hasil fotoku. Setelah terlihat cukup jelas segera kukirim foto tersebut ke Nia untuk membuktikan bahwa aku sedang serius dengan pertanyaanku tadi. Namun balasan yang kutunggu tidak juga datang.

Kulihat dia masih offline. Aku mencoba menghubunginya lagi lewat panggilan telepon biasa. Namun tetap tidak ada jawaban. Nia tidak mengangkat teleponku. Aku kalut dan bingung dengan apa yang harus kulakukan dengan keresek hitam itu.

Haruskah keresek itu kubuang ke tempat sampah. Bagaimana kalau tetanggaku yang menemukannya? bukankah hal ini akan menjadi gempar dan masalah menjadi bertambah besar.

Lalu bagaimana bila penemu melaporkannya ke polisi. Bukankah segala sesuatunya akan menjadi semakin rumit. Aku terus berpikir dan merenung. Apa yang harus kulakukan terhadap keresek hitam itu. Namun tetap tidak kutemukan jawaban atas segala permasalahan ini. Akhirnya kuputuskan untuk mengembalikan keresek hitam itu ke dalam freezer lagi.

Aku harus meminta penjelasan dari Nia, apakah dia yang menaruh keresek ini atau bukan. Tak terasa sudah 3 jam lebih aku merenung dan berpikir tentang tindakan yang harus kuambil selanjutnya. Perutku mulai berteriak minta diisi. Makanan terakhir yang kukomsumsi adalah mi instan yang kumasak kemarin malam.

Jam di dinding menunjukkan pukul 10.00 pagi dan aku masih belum sarapan. Sejujurnya nafsu makanku sudah menghilang dan menguap bersamaan dengan terbukanya keresek hitam tadi. Namun perutku yang keroncongan benar-benar tidak bisa dibohongi minta untuk segera diisi.

Aku memutuskan untuk membeli makanan di luar saja. Sungguh aku benar-benar tidak memiliki nafsu untuk makan sama sekali. Namun aku harus mengisi perutku yang terus bernyanyi dari tadi agar tidak kelaparan lagi.

Sambil menunggu pesananku datang, aku terus mencoba menelepon Nia. Nihil, dia tidak mengangkat panggilan teleponku. Saat pesananku datang kuletakkan ponselku dan segera menyuap sesendok makanan ke dalam mulut.

Aku mengunyah makanan dan menelannya dengan sangat pelan. Makanan ini terasa hambar dan tidak ada kenikmatan sama sekali. Padahal perutku terasa sangat lapar dan aku memesan makanan kesukaanku. Sungguh rasanya seperti mengunyah kerikil yang kupaksa masuk ke dalam kerongkonganku.

Setelah berapa suapan, aku tidak bisa meneruskan makan lagi. Kuletakkan sendok di piring dan kuteguk sisa minuman di gelas. Aku mengecek ponselku untuk melihat apakah ada balasan dari Nia. Namun pesan yang kutunggu masih belum ada. Kutekan tombol memanggil lagi namun tetap tidak ada jawaban dari Nia.

Aku enggan untuk pulang ke rumah. Mengingat keresek hitam berisi mayat bayi yang tersimpan dalam freezer rumahku membuatku bergidik ngeri. Pikiranku buntu. Memikirkan segala kemungkinan tentang siapa pelaku yang menaruh keresek itu.

Jika memang Nia pelakunya, lalu bayi siapakah itu. Dari mana dia mendapatkannya. Apakah itu bayi Nia. Tapi bagaimana mungkin? Setahuku dia tidak hamil. Bayi itu cukup besar dan mungkin berusia 6 atau 7 bulan.

Jika memang Nia hamil bukankah perutnya akan membesar. Sedangkan perutnya masih rata dan tidak ada tanda-tanda kehamilan yang muncul padanya. Nafsu makannya masih baik. Ia tidak pernah mengeluh mual atau muntah sekalipun.

Kalaupun Nia hamil dan itu bayi yang dikandungnya, kenapa dia diam saja dan tidak memberitahuku. Kenapa dia malah menyimpannya dalam keresek lalu menaruhnya dalam freezer. Apakah dia keguguran lalu karena bingung akhirnya menaruhnya ke dalam freezer? Apakah ini yang membuat Nia memaksa pulang ke rumah ibunya saat itu.

Aku memang berjanji akan mengantarkan Nia pulang hari itu. Namun tenggat waktu yang mendadak dari atasan membuatku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan hari itu juga. Padahal aku sudah berjanji untuk mengantarkannya pulang besok saja. Namun ia tetap bersikeras pulang sendiri hari itu juga.

Nia bilang kalau ia sudah kangen sekali dengan ibunya dan sudah berjanji pada ibunya akan pulang hari itu juga. Ia tetap memaksa pulang hari juga meskipun sudah kurayu berkali-kali agar pulang besok saja.

Hari sudah petang saat itu. Aku khawatir jika terjadi sesuatu di perjalanan. Meskipun Nia sudah terbiasa pulang sendiri ke rumah ibunya, tapi tetap saja rasanya tidak tega membiarkannya pulang sendirian.

Aku melonjak kaget saat mendengar ponselku berbunyi. Kulihat pesan masuk datang dari Nia.

[Maaf Mas, tadi Ibu memanggilku. Aku baru selesai membantu ibu masak lalu sarapan. Kamu sudah sarapan? Di sini sinyalnya jelek banget Mas, buat telepon nggak jelas. Suaranya, putus-putus. Kirim pesan saja ya. Kresek apa yang kamu bilang tadi?]

Sinyal di rumah ibunya Nia memang jelek. Aku selalu kesal dan mengeluh tentang sinyal yang tidak stabil setiap kali menginap di sana. Karena itu aku tidak betah menginap berlama-lama terutama saat ada tanggungan pekerjaan yang belum kuselesaikan.

[Mas, ini gambar apa? Kenapa ada bayi di dalam keresek hitam?]

Kubaca pesan balasan dari Nia setelah melihat foto yang kukirim tadi.

[Itu mayat bayi yang kutemukan saat membuka keresek hitam yang ada di freezer. Kemarin malam saat aku membuka freezer kulihat keresek hitam ini. Saat merabanya aku menduga isinya adalah ayam. Lalu aku mau memasaknya pagi ini. Karena itu aku bertanya resep ayam goreng padamu. Namun setelah kubuka ternyata isinya bukan ayam yang tetapi mayat bayi ini]

[Terus kenapa keresek hitam itu ada di freezer? Siapa yang menaruhnya, Mas?]

[Aku juga tidak tahu, Dek. Karena itu aku bertanya padamu. Kukira kamulah yang menaruhnya. Bukannya selama ini Kamu yang mengurusi kulkas dan isinya]

[Mas, sumpah bukan Aku yang menaruhnya. Kemarin sebelum aku pergi semua isi kulkas sudah kuperiksa. Tidak ada apa pun dalam freezer saat kutinggalkan]

[Kamu tidak sedang hamil kan sayang?] tanyaku memastikan.

[Mas, kalau Aku hamil orang yang pertama kali kuberitahu adalah Kamu]

[Lalu siapa yang menaruhnya?]

[Entah Mas. Aku juga tidak tahu. Apakah mungkin, Bu Reni pelakunya?]

Ya, Bu Reni. Muncul lagi sebuah nama yang masuk dalam daftar yang patut dicurigai sebagai salah satu pelaku yang menaruh keresek itu dalam freezer selain Nia. Kenapa aku tidak terpikirkan nama itu.

Bu Reni adalah orang yang biasa datang ke rumahku untuk membersihkan rumah 3 kali seminggu. Biasanya dia datang pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Setelah Nia pulang dia sudah datang 2 kali ke rumah untuk bersih-bersih rumah.

Apakah Bu Reni pelakunya? Namun kenapa dia harus menyimpan bayi ini ke dalam freezer rumahku. Kenapa dia tidak membuangnya atau menguburkannya ke tempat lain saja. Apakah dia kebingungan harus melakukan apa terhadap mayat bayi ini sehingga disimpan dalam freezer. Tapi kenapa harus di rumahku.

Apa karena Nia pulang ke rumah ibunya jadi dia menaruhnya di sana untuk sementara. Lalu dia akan mengambilnya lagi saat Nia akan kembali.

Jika memang benar demikian, Aku harus menyusun langkah yang tepat untuk mencari tahu apakah benar Bu Reni pelakunya. Aku tidak boleh gegabah apalagi bertanya secara langsung kepadanya. Bisa-bisa dia berkelit dan mengatakan kalau bukan dia pelakunya. Lalu berbalik menuduh Nia atau akulah pelakunya. Yang terburuk dia akan menyebarkan masalah ini bahkan melaporkannya ke polisi. Aku harus menyusun rencana yang tepat untuk menyelidiki Bu Reni.

Apakah kupindah saja keresek itu dari freezer agar Bu Reni kebingungan lalu mencarinya. Saat terlihat kebingungan lalu akan kutanyai dia agar dia bicara jujur dengan keresek itu sebagai buktinya. Namun harus kupindah ke mana. Jika ditaruh di luar bukankan mayat bayi itu bisa membusuk.

Atau kutunggu saja dia sampai mengambil keresek itu dari freezer dan kutangkap dia saat memegangnya agar dia tidak bisa berkelit lagi saat kutanyai tentang keresek itu. Tapi bukankah itu terlalu berisiko. Aku tidak tahu kapan Bu Reni akan mengambil keresek hitam itu. Bisa saja dia melakukannya saat aku di kantor sehingga aku tidak bisa memergokinya secara langsung.

Haruskah kupasang CCTV di dapur agar aku bisa memantau Bu Reni saat mengambil keresek hitam itu dan menunjukkan rekaman itu padanya agar dia tidak bisa berkelit. Aku berpikir dan menimbang-nimbang tentang hal yang bisa kulakukan untuk memancing Bu Reni.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalaku. Aku langsung berdiri dan berjalan menuju kasir untuk membayar makananku. Setelah itu bergegas pergi ke sebuah toko untuk membeli beberapa barang yang kuperlukan untuk menjebak Bu Reni besok. Aku tidak sabar untuk pulang ke rumah dan menyiapkan segala keperluan untuk penyelidikanku kepada Bu Reni. Aku sangat bersemangat melakukannya dan tidak sabar untuk sampai di rumah.

Kira-kira apa yang akan dilakukan Tedi untuk menjebak Bu Reni besok? Benarkan Bu Reni pelakunya seperti kata Nia?

Bab 3

Setelah membeli semua barang yang kubutuh kan untuk penyelidikan besok aku segera pulang ke rumah dengan terburu-buru. Aku harus menyiapkan segala sesuatunya dengan tepat agar bisa segera menyelesaikan segala permasalahan ini.

Aku harus segera menangkap pelakunya dengan tanganku sendiri agar bisa menguburkan bayi itu dengan layak secepatnya. Aku ingin menyelesaikan masalah ini secara tenang tanpa melibatkan polisi atau pihak luar mana pun.

Bagaimana jika itu perbuatan Nia? Jika polisi sampai terlibat bukankah dia akan dituduh atau dicurigai membunuh bayi tak berdosa itu. Kalaupun Bu Reni pelakunya aku juga tetap tidak ingin melibatkan siapa pun. Bu Reni sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Ia mirip dengan mendiang ibuku yang sudah meninggal.

Jika memang Bu Reni pelakunya aku akan memintanya bertanggung jawab untuk segera menguburkan bayi itu secara layak. Setelah itu baru kuusut apa sebenarnya motifnya melakukan hal tersebut. Aku benar-benar menyayangi kedua orang itu dan tidak ingin permasalahan ini melebar kemana-mana yang akhirnya akan melukai mereka. Apalagi sampai melibatkan pihak polisi. Pasti masalah ini akan semakin rumit. Karena itu aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini sebaik mungkin.

Sesampainya di rumah aku segera membuka freezer dan mengambil keresek hitam itu. Kubungkusi lagi keresek hitam berisi mayat bayi itu dengan keresek merah yang kubeli sebelum pulang tadi. Setelah itu mayat bayi itu segera kukembalikan ke dalam freezer.

Di sebelah mayat bayi tadi kuletakkan keresek hitam berisi ayam mentah yang kubeli bersama keresek merah tadi. Setelah selesai segera kututup kulkas dan pergi dari dapur. Aku tidak ingin berlama-lama di dapur karena keresek berisi mayat bayi yang membuatku bergidik ngeri. Kembali terlintas dalam pikiranku siapakah orang yang tega melakukan hal ini kepada bayi kecil yang tidak berdosa itu.

Untuk melancarkan penyelidikanku besok, aku berencana tidak masuk kantor dan mengambil jatah cutiku sehari saja. Segera kuhubungi atasanku dan kusampaikan rencanaku untuk cuti besok. Tanpa banyak bertanya alasanku mengambil cuti secara mendadak atasanku langsung menyetujui permintaanku.

Aku tak sabar menunggu esok tiba. Haruskah kuberitahukan rencanaku kepada Nia. Dia berkali-kali mengirimiku pesan menanyakan tentang rencanaku untuk menyelidiki Bu Reni. Aku tidak menjawab pertanyaannya dan kualihkan dengan membicarakan hal yang lain.

Aku tidak mau membuat Nia khawatir. Jadi kuputuskan untuk merahasiakan rencana penyelidikanku dan memberitahukannya nanti setelah semua masalah terpecahkan. Lagi pula Nia juga salah satu daftar pelaku yang patut kucurigai jadi aku pun harus mulai menyelidiki dia secara diam-diam mulai sekarang.

Waktu berjalan terasa lambat untukku. Malam itu aku tidak bisa tidur karena teringat mayat bayi di kulkasku. Tengkukku terasa merinding setiap kali aku masuk ke dapur setiap kali hendak minum. Aku baru bisa memejamkan mata pukul 02.00 dini hari karena pikiranku kacau memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi besok.

Paginya aku terbangun kesiangan. Sinar matahari menerobos lewat lubang ventilasi di kamarku menandakan bahwa aku melewatkan waktu Salat Subuh. Aku segera beranjak dari kasur dan berjalan dengan cepat ke kamar mandi.

Saat hendak keluar dari kamar, aku mendengar suara aktivitas dari luar. Sepertinya Bu Reni sudah datang dan mulai membersihkan rumah. Aku mengambil ponselku yang tergeletak di atas kasur. Kuusap layar ponselku, tidak ada pesan apa pun dari Nia untuk menanyakan kegiatanku seperti biasanya. Sepertinya ia merasa kesal karena aku tidak menjawab pertanyaannya semalam.

Jam di ponsel menunjukkan saat ini sudah pukul 08.00 pagi. Aku sudah tertidur cukup lama sekitar 6 jam tetapi rasanya seperti baru memejamkan mata sebentar saja. Aku segera keluar kamar dan ingin melancarkan aksiku sesuai rencana yang telah kususun kemarin.

Aku mendekati Bu Reni yang sedang menyapu lantai. Berbasa-basi sebentar sebelum bertanya pada Bu Reni untuk memulai percakapan.

“Jam berapa ini, Bu Reni? Sudah dari tadi sampainya. Kok aku nggak dengar suara apa pun dari tadi.”

“Loh Mas Tedi nggak masuk kerja? Saya baru sampai satu jam yang lalu, Mas,” jawab Bu Reni dengan ramah. Ia terlihat sedikit terkejut saat melihatku keluar dari kamar tadi lalu segera melanjutkan kegiatannya menyapu lantai yang sempat terhenti saat menjawab pertanyaanku tadi.

Bu Reni memang sangat ramah. Dia juga cekatan dalam melakukan semua tugasnya. Tidak pernah terlihat bermalas-malasan saat bekerja. Sifatnya yang keibuan dan penuh perhatian mengingatkanku pada sosok ibuku yang meninggal 4 tahun lalu. Aku sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri karena itu aku selalu memanggilnya dengan panggilan Bu Reni.

Aku juga meminta Bu Reni memanggil namaku langsung dan tidak usah menambahkan kata Mas. namun dia selalu menolak permintaanku. Terlalu sungkan dan tidak enak rasanya. Lagi pula ia juga merasa nyaman dan sudah terbiasa dengan panggilan tersebut.

“Aku ijin nggak masuk kantor, Bu. Badanku terasa meriang dan ngilu-ngilu dari kemarin. Mulutku terasa pahit dan tenggorokan rasanya sakit buat menelan. Makanya aku ingin istirahat di rumah saja biar sembuh dulu.”

Aku terpaksa berbohong sakit agar dia tidak curiga kalau aku sengaja ijin dari kantor untuk menyelidikinya. Kuamati Bu Reni yang masih menyapu lantai dengan sigap. Tubuhnya yang kurus bergerak dengan luwes sehingga pekerjaan menyapu selesai dalam waktu singkat.

“Mas Tedi sakit apa? Sudah periksa ke dokter belum?” tanya Bu Reni dengan nada penuh kekhawatiran.

“Sudah, Bu. Kemarin sudah periksa ke dokter katanya cuma flu biasa. Obatnya juga sudah kuminum. Ini sudah agak mendingan. Ngilunya sudah hilang. Tinggal nafsu makan yang masih belum kembali.”

“Syukurlah kalau begitu. Oia, Mbak Nia kapan pulang, Mas?”

Deg. Jantungku berdebar-debar saat mendengar pertanyaan Bu Reni barusan. Kenapa ia menanyakan kapan Nia pulang. Apakah ia berencana mengambil keresek hitam itu sebelum Nia kembali kesini. Aku harus berbohong agar dia segera bertindak dengan keresek hitam itu. Ini kesempatan emas. Harus kupergunakan dengan baik.

“Nanti sore sepertinya, Bu. Kenapa?” jawabku dengan semangat sembari tersenyum penuh kemenangan. Membayangkan Bu Reni pasti akan segera bertindak bila mengetahui Nia akan segera pulang. Ayo ambil keresek hitam itu dan akan kutangkap basah kamu agar tidak bisa berkelit lagi, pikirku.

Kuamati wajah Bu Reni dengan saksama. Tidak ada perubahan apa pun di wajahnya saat aku menjawabnya. Ia tetap terlihat tenang seperti biasanya. Aneh.

“Syukurlah kalau begitu. Kasihan kalau Mas Tedi sendirian di rumah dalam kondisi sakit seperti ini. Kalau ada Mbak Nia kan enak ada yang merawat.”

Benarkah apa yang dikatakannya. Aku tidak bisa menilai apakah dia sedang jujur atau berbohong sekarang.

“Bu Reni, aku boleh minta tolong?” tanyaku dengan hati-hati untuk melakukan rencana berikutnya.

“Minta tolong apa, Mas? Kalau saya bisa pasti saya bantu.” Bu Reni tersenyum simpul. Suaranya terdengar tulus saat mengatakannya. Aku jadi merasa ragu dengan dugaanku kalau Bu Reni yang menaruh keresek hitam tersebut.

“Kemarin setelah pulang periksa dari dokter aku membeli ayam. Dari kemarin aku ingin makan sop ayam buatan Bu Reni. Pasti enak dimakan saat kondisi mulut yang pahit seperti ini. Apalagi dengan sepiring nasi hangat. Dari kemarin aku terus mengiler membayangkan makan sop ayam buatan Bu Reni yang maknyus itu.”

Selain membersihkan rumah, dulu Bu Reni juga bertugas memasak untukku dan Nia. Dulu saat masih baru menikah denganku, Nia masih belum pandai memasak seperti sekarang. Kesibukannya di kampus dan tugas yang menumpuk membuatku kasihan melihatnya kelelahan harus membagi waktu untuk membersihkan rumah, mencuci pakaian kami dan mengerjakan tugas dari kampus. Karena itu aku memperkerjakan Bu Reni untuk membantu Nia membersihkan rumah sekaligus memasak agar kami tidak terus-menerus makan di luar.

Selain lebih hemat, memasak sendiri juga lebih sehat karena kita sendiri yang mengatur bahan dan takaran bumbu saat memasak. Syukurlah meski tanpa disuruh, Nia berinisiatif belajar memasak sendiri dari Bu Reni.

Saat hari minggu dan tidak ada jadwal kuliah Nia akan mulai belajar memasak pada Bu Reni. Setelah Nia pandai masak kami hanya menugaskan Bu Reni untuk membersihkan rumah dan urusan memasak diambil alih oleh Nia. Sesekali saat sedang sibuk dia akan meminta Bu Reni yang memasak. Namun itu juga jarang sekali. Bisa dihitung dengan jari.

“Oh ... Mas Tedi mau dimasakkan sop ayam. Baiklah, mau dimasakkan sekarang atau nanti? Mas Tedi sudah sarapan belum?” tanya Bu Reni.

“Iya. Sekarang saja, Bu Reni. Perutku lapar belum sarapan. Semalam cuma makan roti sedikit buat minum obat saja.”

Aku memang cuma makan roti yang kubeli dari toko bersama keperluan penyelidikan hari ini untuk makan malam kemarin. Nafsu makanku benar-benar menghilang. Aku makan hanya sekedar mengganjal perutku agar tidak kelaparan lagi.

“Baiklah, Mas. Bahan-bahannya sudah ada ya? Atau perlu belanja dulu?”

“Sudah, Bu. Ayamnya ada dalam freezer. Nanti kalau ada bahan yang kurang bilang saja padaku.” Sengaja aku tidak menjelaskan padanya ayam itu dalam keresek yang mana. Kalau dia pelakunya bukankan dia akan kaget melihat keresek hitam yang berubah menjadi keresek merah. Aku ingin tahu reaksinya secara langsung jadi aku mengikutinya ke dapur.

“Loh Mas Tedi mau ngapain kok ikut saya ke dapur?” tanya Bu Reni yang keheranan karena aku mengikutinya ke dapur.

“Mau buat teh hangat. Biar nggak pahit mulutku. Sekalian mengganjal perut biar nggak terlalu lapar, Bu.” Aku berbohong lagi untuk menjalankan aksiku.

“Mas Tedi istirahat di kamar saja, kan masih sakit. Jangan banyak gerak biar cepat sembuh. Biar tehnya saya buatkan.”

“Nggak papa, Bu. Kubuat sendiri saja tehnya. Bu Reni masak sop ayam saja biar cepat matang dan aku bisa segera sarapan. Perutku sudah sangat lapar minta diisi, Bu,” tolakku secara halus. Bagaimanapun aku harus tetap di dapur untuk mengawasinya secara langsung.

Apakah dia bermaksud mengusirku dari dapur agar dia leluasa mengambil keresek hitam berisi mayat bayi itu. Tentu saja dia harus segera mengambilnya sebelum Nia kembali agar dia tidak ketahuan telah menyembunyikan mayat bayi itu dalam freezerku.

“Baiklah kalau begitu saya masak dulu ya, Mas”.

Bu Reni mengambil beras dan memasak nasi terlebih dulu. Setelah memasukkan beras yang sudah dicucinya ke dalam rice cooker ia membuka lemari untuk mencari bumbu-bumbu yang diperlukan untuk memasak. Ia terlihat membawa beberapa bumbu dalam tangannya lalu menaruhnya di atas meja.

Aku melihatnya diam-diam sambil berpura-pura merebus air untuk membuat teh. Hatiku berdebar tak karuan saat melihatnya mulai bergerak mendekati kulkas. Aku tak sabar menunggu Bu Reni membuka kulkas dan melihat reaksi yang akan dia tunjukkan saat melihat keresek hitam yang menghilang berganti menjadi keresek merah.

Bu Reni membuka pintu kulkas bawah dan mencari sayuran yang dibutuhkan untuk memasak. Tidak ada apa pun kecuali sawi yang mulai menguning dan layu karena terlalu lama disimpan dan sisa sayir sop dalam plastik. Melihat sayuran yang dibutuhkan tidak ada Bu Reni menutup kulkas dan berkata, “Mas Tedi sayurnya masih ada yang kurang. Saya belanja sayur dulu ya.”

“Sebentar kuambilkan dulu uangnya, Bu,” jawabku seraya berjalan secara tergesa-gesa ke kamar untuk mengambil uang dari dompet untuk belanja sayuran. Namun dompet yang kucari tidak segera ketemu. Aku lupa dimana menaruh dompetku. Biasanya aku meletakkannya di nakas atau kalau tidak masih tas kerjaku.

Berulang kali kucari dompetku di dua tempat itu, namun tetap tidak ketemu. Aku mencoba mengingat kembali dimana dompetku kuletakkan setelah pulang belanja kemarin namun tetap tidak ketemu. Pikiranku kacau karena aku memikirkan apa yang dilakukan Bu Reni di dapur sehingga tidak bisa fokus mencari dompetku.

Tidak mau berlama-lama meninggalkan Bu Reni sendirian di dapur aku segera bergegas keluar dari kamar dan berjalan dengan cepat ke dapur. Biarlah aku meminjam uang Bu Reni dulu, nanti setelah aku ingat dimana dompetku uangnya akan kuganti. Aku tak ingin kehilangan momen yang kutunggu-tunggu sejak kemarin dan berjalan dengan tergesa-gesa ke dapur.

Saat tiba di dapur aku kaget melihat apa yang tengah kulihat. Ini benar-benar diluar rencanaku. Semuanya kacau dan aku hanya bisa terdiam melihat apa yang terjadi di depan mataku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED