-Sebab sempurna tidak harus selalu berhasil dalam semua hal." Veen Darendra Mahardika. -
Di dalam Mansion megah bernuansa putih berisi suasana mencekam. Di ruang tamu, Sella, ibu dari Sally tengah memarahi putrinya karena menjadi juara tiga di kelas.
"Mama, Sally akan belajar lebih keras lagi besok," kepala kecilnya merunduk. Tidak berani menatap langsung pada wajah marah Sella.
"Itu yang selalu kamu ucapkan sama Mama! Lihat Aruna, dia tidak pernah ikut les apapun tapi bisa menjadi juara satu! Semua nilainya sempurna dan bagus. Tapi kamu, Mama udah buang banyak uang untuk les kamu. Dan hanya ini yang Mama dapat?! Juara 3?!" Matanya memerah karena marah. Arjuna, ayah dari Sally hanya duduk di sofa. Melihat istrinya memarahi putri semata wayang. Sekalipun tidak ada niatan untuk melerai.
"Kalau kamu nggak dapet juara 1 tahun depan, jangan harap kamu bisa keluar dari kamar selama sebulan. Madam Kian!"
"Ya, Nyonya."
"Pukul dia menggunakan rotan dua puluh kali, jangan beri dia makan sampai besok pagi. Biar Sally tau apa kesalahan dia karena tidak mendapat nilai yang paling sempurna, sebagai putri Amaranggana. Kamu hanya bisa mempermalukan Mama dan Papa!"
"Mama...." mata bulatnya berair. Siap menangis di bawah kaki kedua orang tuanya jika saja Madam Kian tidak membawa tubuh kecilnya ke gudang dekat halaman belakang.
Dibawa secara paksa, Sally hanya bisa diam. Pasrah dan membenci dirinya sendiri karena lahir di keluarga penuh aturan ini. Sesampainya di gudang, punggungnya di sentak ke bawah hingga tubuhnya berjongkok.
Slash!
"Nona Muda, harap menghitung. Jika tidak, maka saya tidak akan berhenti sebelum anda mau menghitung," kata Madam Kian. Wajahnya tanpa ekspresi. Memecut punggung kecil di bawahnya menggunakan rotan.
Tangan Sally terkepal, tidak perduli jika bajunya lusuh atau robek dan berdarah. Madam Kian tetap akan memecut sesuai perintah Sella. Bibir kecilnya bergetar keras bersamaan mengucapkan hitungan pada setiap pecutan.
Akhirnya 20 pecutan sudah lunas. Sally ambruk di lantai, seragam putihnya kusut pada bagian depan, dan bagian belakang mengalami robek. Warna putih bersih terkontaminasi warna coklat lusuh dan merah darah.
Matanya terpejam mendengar suara pintu tertutup. Menyisakan dirinya sendirian di tempat gelap tanpa cahaya. Mengeluarkan air mata tanpa suara. Kerongkongan miliknya terasa kering karena berteriak terlalu keras.
Tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Pagi tadi dia tidak sempat sarapan, di sekolah juga dia tidak sempat membeli makanan ringan di kantin. Tubuhnya melengkung seperti lintah yang terkena taburan garam.
"Veen...." Tidak ada sahutan. Hanya kesunyian disana sebagai teman. Melengkapi rasa sakit dan penderitaan.
Kenapa orang tuanya tidak pernah memuji dirinya? Teman-temannya yang mendapat rangking lima di kelas sudah membuat orang tua mereka bahagia, hingga mendapatkan hadiah.
Sally mendapatkan juara tiga. Namun kenapa Sella justru menyuruh Madam Kian untuk memecut punggungnya menggunakan rotan. Dimana kesalahannya?
Meski hal seperti ini sudah banyak dia dapatkan, tetap saja, mentalnya sama dengan gadis kecil berumur 13 tahun. Masih memerlukan kasih sayang dan dukungan penuh dari orang tua. Bukan hanya harta.
Pintu gudang berderit, membuat Sally menoleh ke arah pintu. Mata redupnya kembali bercahaya melihat sosok yang muncul dari balik pintu.
"Hai, ssstt diam. Jangan berisik."
Sally mengangguk menurut.
Veen mengunci lagi pintu gudang dari dalam, menenteng bekal makanan yang di masak Vira, ibunya.
"Seragam kamu!" Veen panik. Darah mengotori hampir keseluruhan seragam bagian belakang Sally. Beberapa menetes di lantai.
"Nggak papa, Sally kuat kok." Senyuman manisnya mengembang seolah tidak pernah terjadi aksi kekerasan pada dirinya. "Veen bawa apa? Sally laper, hehe."
"Mama masakin nasi goreng kesukaan kamu, tadi aku mau lewat pintu depan tapi takut masuk karena Tante Sella lagi marah-marah sama kamu. Jadi aku lewat pintu belakang yang sepi, minta kunci gudang cadangan ke tukang sapu kebun. Madam Kian nyambuknya keras nggak? Sakit banget, ya?"
"Enggak kok, Sally baik-baik aja. Besok juga sembuh, Sally di hukum karena nggak bisa bahagiain Mama, Papa. Sally buat mereka kecewa dan menyia-nyiakan uang mereka." Kedua tangannya merapikan seragam bagian depan, "Maaf ya, Sally kotor. Mana nasi gorengnya? Mau Sally makan. Nanti sampein makasih ya, buat Mama Vira."
"Ini, mau aku bawain obat dari rumah?" Veen menyodorkan kotak bekal berisi nasi goreng dengan sendoknya sekalian. "Biar lukanya nggak parah, anak gadis nggak baik punya luka parut."
Tidak menanggapi ucapan Veen serius, dia lebih memilih fokus pada nasi goreng. Memakannya dengan lahap. Setelah makan mereka berbicara sebentar.
"Nilai kamu gimana, Veen?"
Veen menggaruk kepalanya, "Alhamdulillah, rata-rata, hehe. Jadi bisa naik kelas. Kalau Sally?"
"Sally dapat juara 3."
"Wah! Bagus!"
Sejak kecil, Sally adalah sosok gadis pintar bagi Veen. Kelas mereka juga berbeda karena kepandaian di antara keduanya memiliki kesenjangan cukup jauh. Sally di kelas 7-A sedangkan dia di kelas 7-F.
"Cuma Veen yang bilang nilai Sally bagus, Mama bilang nilai aku belum sempurna. Jadi di hukum biar nantinya Sally lebih tekun belajar dan dapat juara satu ngalahin Aruna."
"Sal, kamu tau apa arti sempurna?"
"Tau dong," kuncir kuda miliknya bergoyang, "Sempurna harus bisa mendapatkan hasil tertinggi dalam semua aspek. Iya, kan?"
"Salah."
"Kok salah?" Wajah cantiknya tertekuk. "Kalau salah, jadi yang bener apa dong?"
Veen menutup bekal makanan kosong, nasi goreng sudah habis di lahap Sally dalam waktu singkat. Dia menepuk pundak sahabatnya, "Sempurna bisa di dapat bukan hanya dengan meraih hasil tertinggi dalam semua aspek dan berhasil dalam segala hal. Sempurna bisa di dapat dari diri kita sendiri, hargai dan syukuri semua yang telah di beri kepada kita. Disaat itu, kamu akan merasakan sebuah kesempurnaan di dalam diri kamu."
Sally masih diam. Mencerna semua kalimat yang di lontarkan Veen. Arti sempurna ini berbeda dari ajaran Madam Kian. Hal pertama yang wajib tertanam dalam diri Sally kecil, harus sempurna, menjadi unggul dalam segala hal.
"Kalau gitu, Sally harus bersyukur, ya?"
"Iya, nilai itu hasil kerja kamu. Hasil belajar kamu sendiri. Berapapun dan apapun hasilnya. Nilai itu milik kamu. Kalau kamu bersyukur, hati kamu akan puas dengan nilai kamu saat ini. Jangan terlalu memaksa diri mengejar kesempurnaan di mata orang lain, cukup menjadi sempurna untuk diri kamu sendiri dan di mata Allah. Mama selalu bilang begitu, jadi kamu nggak boleh terlalu memaksa diri. Sally juga perlu istirahat."
Keduanya saling bercerita, bertukar lelucon mengalihkan rasa sakit akibat luka berdarah milik Sally menjadi tidak berarti. Hari ini, dia mendapatkan ilmu baru lagi. Kesempurnaanmu lahir dari bagaimana caramu menghargai dan mencintai diri sendiri. Tidak perlu iri dengan orang lain, karena kamu istimewa. Tentu saja dengan caramu sendiri.
- "Aku menyadari, kebebasan dalam mengekspresikan diri lebih menyenangkan daripada hidup dalam wajah penuh kepalsuan akan tuntutan." Sally Abaigeal Amaranggana -
Dua tahun berlalu begitu cepat. Rasa tertekan penuh dengan aturan masih melekat dalam hidup Sally. Kali ini ujian nasional telah selesai dan besok sore adalah hari pengumuman nilai ujian. Akan ada panggung megah yang tentu saja wajib untuk Sally ikuti. Mamanya berkata pada dirinya tempo hari, menceritakan bagaimana pintarnya anak temannya dalam bernyanyi. Dia juga ingin Sally pandai bernyanyi dan langsung mencarikan guru les menyanyi.
Beruntung Sally sudah memiliki suara alami yang lembut dan indah untuk di dengar. Setidaknya dia tidak terlalu terbebani untuk bernyanyi dan membuat Mamanya senang.
Sebentar lagi dia akan memasuki masa SMA. Banyak orang berkata masa SMA adalah masa terbaik dalam masa muda. Akan banyak kenangan bahagia dan seru yang tercipta. Menjadikan sesutau istimewa untuk di ceritakan pada anak-anak mereka suatu saat nanti.
"Nona, anda harus mandi." Suara Madam Kian membuat Sally berhenti bermain piano di dalam kamarnya. Membuka pintu dan mempersilahkan Madam Kian di ikuti beberapa pelayan berseragam kompak di belakang.
"Madam, apa Mama dan Papa akan keluar malam ini?" Tanya Sally. Sangat ingin tau.
"Ya, Nona. Tuan dan Nyonya saat ini menghadiri pesta bersama kolega perusahaan. Mereka akan pulang besok sore dan langsung datang ke acara pengumuman nilai ujian Nona Muda besok. Jadi anda tidak perlu khawatir jika orang tua anda tidak datang, Nyonya berpesan untuk mengawasi nyanyian anda agar tidak mengecewakan besok hari."
Sally diam-diam merasa bahagia di hati, orang tuanya tidak ada di rumah malam ini. Hal itu akan memudahkan rencananya dengan Veen.
Para pelayan bergegas mencampurkan air susu dan potongan kelopak mawar merah berkualitas ke bak mandi luas berpola burung angsa raksasa. Bau harum menguar memenuhi kamar mandi pribadi Sally yang banyak di hiasi oleh emas.
Sally terduduk saat pelayan meraih tangannya mengguyurkan parfume khusus. Bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum. Menatap ke depan dengan fikiran bergelayut kemana-mana.
Madam Kian ikut tersenyum melihat Nona muda terlihat begitu bahagia. Ruangan seluas ini terlihat terlalu berlebihan hanya untuk 1 orang. Namun keluarga Amaranggana selalu mementingkan keindahan dan kesempurnaan dalam hal apapun. Tidak luput dari desain kediaman.
Patung kaca berbentuk mermaid berdiri tegak di dua sisi meja cermin berlapis emas, tempat untuk bercermin setelah Sally selesai dalam urusan mandi.
Setelah menunggu, akhirnya malam tiba. Sebelum pergi, Sally memanggil Madam Kian, meminta untuk mendengar lagu yang sudah dia latih hanya dalam waktu 2 hari. Ia menyanyikan lagu berjudul Poem sesuai keinginan Sella, lagu yang menggunakan bahasa Tiongkok Chinese. Dia ingin putrinya bernyanyi menggunakan bahasa cina, bahasa rumitnya susah dalam pelafalan jika tidak ahli. Kalau putrinya bisa menyanyikan ini, maka akan menjadi sangat luar biasa.
Madam Kian memberikan banyak pujian pada Sally. Meninggalkan kamar setelah tidak ada urusan lagi yang perlu dia lakukan. Kembali bekerja mengatur rumah sebesar istana.
Sally membawa kardus lusuh, di dalamnya berisi tas. Saat ini dia memakai baju tidur agar tidak menimbulkan kecurigaan orang yang lewat. Sampainya di pintu belakang yang temaram cahaya, dia tergagap mendengar suara salah satu penjaga.
"Siapa itu?"
"Ini Sally."
"Ah, Nona Muda. Maaf, saya tidak sopan." Pengawal tersebut membungkuk.
"Tidak apa-apa. Aku ingin membawa kardus berisi buku ini kepada Veen, tolong jemput aku jam 10 malam, ya?"
"Baik, Nona Muda. Saya mematuhi."
"Kamu boleh pergi."
Sally berjinjit menengok kanan dan kiri, dirasa benar-benar aman. Dia keluar dari gerbang belakang. Tidak masalah jika dia hanya bisa keluar sebentar karena harus membuat pengawal tadi yakin. Dalam hati, dia tetap sedih. Kenapa harus datang pengawal? Jika saja pengawal tadi tidak datang, dia bisa bermain di luar lebih lama.
"Veen, Veen..." Sally berbisik. Melempar batu menimbulkan bunyi dedaunan kering sobek, memberikan kode sesuai ajaran sahabatnya.
Gang sempit sepi temaram cahaya membuat jemari Sally semakin memegang kardusnya kuat-kuat, mengigit bibir bawahnya menahan rasa takut yang membuncah.
Rasa dingin menjalar pada leher belakangnya, Sally terdiam sambil berdo'a. Semoga tidak ada hantu. Semoga tidak ada hantu.
"Ba!"
"Aa!"
"Hahaha," Veen tertawa terbahak-bahak. Melepas topeng berwajah hantu dari wajahnya. Paras rupawan tanpa cacat nampak di bawah sinar bulan.
Sally memukul lengan Veen, "Ngagetin! Ayo cepetan, kita ke pasar malem!"
"Oke, ayo! Kita cari kamar mandi umum buat kamu ganti baju." Ia menarik tangan Sally penuh semangat. Meninggalkan kardus sembarangan dan menenteng tas Sally di pundaknya. Ini adalah kali pertama mereka berdua menghabiskan waktu di luar.
Veen yang merencakan semua ini, setidaknya bisa mengalihkan kekhawatiran mereka terhadap nilai ujian. Nilai tidak bisa menggigit, tapi mereka sangat takut dengan Nilai. Terutama Nilai rendah.
Sally keluar dari kamar mandi. Gadis cantik yang biasanya tampil elegan dan anggun kini sirna. Menyisakan gadis cantik ceria yang sangat hiperaktif. Sally memakai kaos polos hitam, celana jeans sobek di kedua lutut, dan rambut yang di kuncir kuda. Tidak lupa memakai topi, agar tidak ada yang mengenali dirinya sebagai putri dari pasangan Presiden Amaranggana Group's dengan aktris papan atas, Sella Mikayla Stiva.
Veen dan Sally sampai di pintu depan, mampir ke kotak pos untuk membayar biaya masuk. Setibanya di dalam, Sally tidak bisa menahan untuk takjub. Pertama kali berbaur dengan banyak orang dalam masyarakat membuatnya sangat bahagia.
Selalu berdiri di samping Sally, Veen tidak bisa menahan untuk melengkungkan sebuah senyuman tampan. Banyak perempuan melirik malu-malu ke wajah tampan sempurna milik Veen.
Sally sudah tidak menghiraukan Veen. Dia berlari ke sana ke mari mencoba hal yang tidak pernah dia lakukan, mendatangi setiap kios yang menarik di lapangan tempat pasar malam di gelar.
Lampu besar di atas panggung menyorot ke atas, membuat garis vertikal putih transparan. Sally mendongak, membuka mulutnya lebar kagum. Ini adalah cahaya yang dulu hanya bisa dia lihat melalui jendela. Mama dan Papanya tidak pernah memberikan ijin untuk dirinya pergi ke pasar malam. Segala negoisasi di tolak oleh orang tuanya. Membuat Sally hanya bisa terduduk di balkon menyaksikan lampu putih bergerak membentuk pola setengah lingkaran. Berulang-ulang.
Sally membeli permen kapas, gulali, dan lolipop besar. Dia sudah bermain banyak hal sampai lupa waktu. Veen tergopoh-gopoh di belakang, membawa boneka raksasa hadiah dari permainan lempar anak panah yang tentu saja di menangkan oleh Sally. Anak itu sangat pandai dalam memanah. Bermain tanpa henti membuat penjaga toko hampir menangis merasa akan bangkrut bila tidak mengusir anak cantik ini.
Di pertengahan jalan, Veen membagikan boneka berukuran kecil ke beberapa anak perempuan yang melewatinya, Sally bahagia bisa membuat orang lain bahagia.
"Veen! Ayo pulang!"
"Okey, udah puas main semuanya?" Tanya Veen. Dia membenarkan topi hitam milik Sally, dan mengusap sisa permen kapas di sudut bibir sahabatnya secara lembut.
Pipi Sally memerah, menepis ibu jari Veen tanpa tenaga, "Jangan gitu, aku malu."
"Gak papa."
"Kok gitu?"
Merangkul pundak Sally yang lebih pendek darinya, dia mencuri kecupan di pipi selembut kulit bayi, "Karena kamu keliatan manis waktu malu-malu. Veen suka."
"Tuh kan, Sally malu beneran! Au ah, Sally duluan!"
Melihat Sally berjalan beberapa langkah didepan malu-malu. Rasa manis tak tertahankan menembus hatinya. Senyuman Sally adalah pelangi, sebuah warna dalam bentuk keindahan yang ingin selalu Veen pertahankan.
Dan membuat pelangi di hidup Sally adalah tujuan hidupnya.
Ada banyak perilaku manusia ketika sedang jatuh cinta. Pertama, mencintai dalam diam. Kedua, mencintai dengan mengungkapkan. Dan ketiga, mencintai tanpa berharap sebuah balasan.
Veen mencerminkan perilaku ketiga. Dia mencintai Sally tanpa berharap akan mendapatkan balasan perasaan suatu hari nanti. Dia melakukan semua yang di inginkan hatinya untuk selalu membuat Sally bahagia.
Melukis kegembiraan di wajah cantiknya adalah rasa bahagia paling sempurna. Menguapkan segala problematika dalam hatinya.
Veen terbatuk, menutup mulutnya karena trotoar sudah banyak di lewati orang. Takut tidak sopan jika dia tidak menutup mulut. Selesai batuk, dia meraih kembali boneka Sally yang dia taruh di dekat tiang tong sampah.
"Sally tunggu!" Teriak Veen.
Sally menjulurkan lidah dan terus berjalan di depan, memakan permen kapas borongannya. Anak itu sangat demam dengan rasa permen kapas saat ini.
Ia merunduk. Menatap boneka besar berbulu putih bersih. Sangat cantik seperti pemiliknya. Tapi atensinya teralihkan oleh noda basah di dekat lengan boneka. Warna merah terlalu kontras untuk bulu seputih salju.
"Darah?" Dia kalang kabut. Khawatir jika Sally akan melihatnya. Mengangkat tangan kiri yang dia gunakan untuk menutup mulut, Veen terbatu di tempat. Menghentikan langkah menatap noda darah basah di telapak tangan kirinya.
Veen meraih ponselnya, menekan icon kamera dan berkaca melalui ponsel canggihnya. Mengusap sudut mulutnya, Sally tidak boleh melihat noda darah ini. Tapi boenakanya sudah terkotori darahnya dan Sally nanti pasti akan bertanya.
Mencari akal dalam keadaan seperti ini, Veen tidak ada pilihan lain selain mengambil dua duri dari tanaman terjejer di sepanjang jalan. Menekannya tanpa keraguan. Bibirnya meringis sesaat karena merasakan rasa goresan tajam menyayat sepanjang telapak tangan halusnya.
Veen tersenyum melihat kulitnya robek tidak terlalu dalam, membiarkan darah sedikit demi sedikit keluar. Kembali memegang boneka, membiarkan darahnya mengotori.
Sally dan Veen sampai di kediaman Vira. Dirumah sepi sebab Vira lembur di butik mengurus pesanan gaun. Papa dan Mamanya sudah bercerai lama membuatnya tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Meski begitu, Veen tetap bersyukur masih memiliki Vira sebagai ibu yang selalu menyayanginya.
"Veen, tangan kamu kenapa?!" Sally menarik tangan Veen, tidak perduli pada bonekanya. Matanya berair ingin menangis melihat robekan berdarah kering.
"Gak papa, tadi kepleset terus nggak sengaja megang tanaman hias yang berdiri deket trotoar. Kesayat sedikit, kamu bersihin boneka kamu dulu. Aku masakin nasi goreng, abis itu ambil baju piyama aku dulu buat kamu pake." Tidak lupa memberikan usapan lembut di puncak kepala Sally.
Dengan beberapa bujukan, gadis cantik itu akhirnya mau pergi dan mencuci bulu bonekanya. Walau setelah di cuci pasti akan tetap meninggal bekas.
Veen memasak nasi goreng yang resepnya mudah dan tidak terlalu susah. Di tengah memasak, kerongkongannya seperti terdorong sesuatu. Dia menuju tempat cuci piring dan batuk disana, darah merah mengguyur permukaan aluminium. Memberikan warna mengerikan.
Veen menghidupkan kran, membasuh mulutnya secepat mungkin. Kedua tangannya tanpa sadar bergetar. Merasakan ketakutan luar biasa.
Ponselnya berbunyi, tertera nama Vira. Veen mengangkat telefon, memanggil Vira, "M-ma," suaranya terputus-putus.
"Kamu kenapa Veen? Sakit?"
"Darah Ma, aku batuk darah lagi." Sekuat tenaga Veen menahan diri untuk tidak membuat suara ketakutan.
"Tunggu di rumah! Mama pulang sekarang, kita ke rumah sakit!"
Sambungan terputus sebelum Veen sempat membalas. Menghirup udara dalam-dalam. Hatinya terasa sedikit tenang. Meletakkan ponselnya dan kembali memasak.
"Veen! Sally udah selesai cuci bonekanya!" Menunjukan boneka putihnya bahagia, "Kita kasih nama apa, ya?"
Veen mematikan kompor, ikut berfikir dengan tangan sibuk mengangkat nasi goreng ke dalam piring, "Vely?"
"Vely?" Sally membeo.
"Iya, Ve untuk Veen. Ly untuk Sally. Boneka ini lambang kasih sayang kita, setuju?"
"Setuju!" Seru Sally bahagia.
Mereka berdua memakan nasi goreng bersama. Selesai makan mereka tidak lupa untuk sholat bersama. Jam sudah menunjukan pukul 10 malam jadi Sally harus pulang.
Pengawal yang tadi bertemu dengannya di halaman belakang juga sudah menunggu di depan pintu, siap mengawal Sally.
"Kamu keluar dulu, tunggulah di luar gerbang. Aku ingin mengambil bonekaku."
"Baik, Nona."
Sebelum dia mengambil, Veen sudah membawakan Vely. Memberikannya pada Sally.
"Sally."
"Iya, Veen?"
Melihat mata jernih begitu bening membuat hatinya terasa di peras oleh sesuatu. "Aku mau tanya, boleh?"
"Boleh, ayo ngomong aja. Sally tunggu."
"Kamu sayang sama aku?"
Mengangguk, Sally menepuk pundak Veen, "Sally sayang sama Veen. Selalu. Kenapa harus tanya?"
"Enggak, boleh tanya satu lagi?"
"Boleh lah."
"Sally suka sama Veen?"
Mengingat betapa polosnya pemikiran Sally saat ini, dia juga mengangguk mengiyakan, "Sally suka sama Veen."
"Dan Veen juga suka sama Sally."
Wajah Sally bersemu merah saat dada Veen tepat berada di depannya, keningnya di sentuh oleh sesuatu yang hangat. Begitu lembut dan penuh kasih.
"Veen suka sama Sally. Sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan. Bukan lagi sebagai sahabat. I want to be your sun."