Matahari telah naik tepat di atas kepala, tepat setelah melaksanakan sholat dzuhur di masjid kampus. Seorang pemuda dewasa dengan menggendong ransel besarnya, berjalan menyusuri gang-gang kecil untuk mencari plang bertuliskan "ada kontrakan kosong" peluhnya sudah bercucuran, sesekali ia tersenyum ramah kepada orang yang kebetulan berpapasan dengannya.
Lelaki itu memang terkenal ramah, terlalu ramah malah. Setiap gang yang disusuri banyak kos-kosan mahasiswa, ada yang masih kosong, namun sang pria tidak mau tinggal di kos-kosan, kurang privasi katanya.
Dia lebih nyaman tinggal di rumah kontrakan tiga petak, agar lebih leluasa melakukan aktifitasnya.
"Permisi, Bu," sapanya ramah kepada ibu yang sedang duduk di teras menggendong bayinya.
"Ya ada apa, Mas?" sahut sang ibu.
"Ehhmm ... maaf numpang tanya, kalau kontrakan tiga petakan sekitar sini ada gak ya, Bu?" tanyanya sambil menyunggingkan senyum.
"Ga ada, Mas. Adanya juga kos-kosan," sahut si Ibu.
"Coba ke gang depan, belok kiri nanti ketemu pertigaan ambil kanan, lurus aja belok kiri," jelas si ibu dengan detail.
"Oh ... gitu, daerah situ ada ya, Bu?" tanyanya antusias.
"Ya gak tau juga, sampe situ tanya lagi bae," ucap si ibu cuek sambil menimang bayinya.
Sang lelaki menyeringai sambil menggaruk rambutnya yang mulai terasa panas dari balik kopiah kupluknya.
"Oh, baik, Bu, terimakasih informasinya." lelaki itu pun berlalu, mencoba peruntungan mengikuti arah yang ibu jelaskan tadi.
"Huuhh ... lumayan jauh juga," gumamnya begitu sampai di tempat yang diberitahu oleh ibu tadi.
Tidak ada rumah kontrakan di sana, hanya padang rumput dan kebun cabe rawit. Entah siapa pemiliknya. Di sana juga ada sebuah musola kecil yang tengah sepi.
"Maksud ibu tadi, aku disuruh nanya sama musola ? apa disuruh tanya sama cabe?" gumamnya sambil kembali tertawa kecil.
Lelah berjalan dengan keringat bercucuran, membuat ia memutuskan untuk duduk sebentar di pelataran musholla. Lelaki yang bernama Devit tadi mengibas-ngibaskan kopiah kupluknya untuk mengusir gerah dan peluhnya.
"Pak, ngapain di situ?" tanya seorang wanita ABG berwajah oriental, dengan tampang galaknya. Devit melongo, kaget ditanya tiba-tiba oleh seorang gadis yang saat jutek aja cantik.
"Eh, ini ...," jawabnya gugup kemudian menundukkan wajahnya, demi mengalihkan rasa terpesonanya.
"Mau maling kotak amal ya?" tuduh si ABG dengan berkacak pinggang.
"Eehh, bukan Dek, saya cuma numpang istirahat," jawabnya kaget.
"Istirahat ya di rumah, Pak. Masa di musholla. Kecuali Bapak mau disholatkan, baru di sini bisa. He he ... udah sana pergi! jaman sekarang pake baju salat dan jenggotan, tau-tau bawa bom," ucapnya lagi sambil mencebik. Devit berusaha menahan senyumnya mendengar ocehan tidak jelas dari wanita di depannya ini.
"Ehh, tas Bapak ada bomnya?" tanyanya polos dengan wajahnya pucat seketika.
Devit menahan tawa. "Ga ada Dek, nih liat aja!" Devit menyerahkan ranselnya.
Gadis itu mundur beberapa langkah sembari memperhatikan Devit dengan seksama. "Boleh juga nih orang tua," bisiknya di dalam hati yang paling dalam.
Devit jadi salah tingkah ditatap intens oleh ABG bening di depannya.
"Ada apa, Dek? kok liatinnya gitu?" tanya Devit.
"Ah, siapa yang liatin? Bapak baper aja." Wanita itu mengambil ponsel dari saku bajunya lalu dengan cepat memotret Devit.
"Kalau kotak amal tidak berada di tempatnya, saya punya bukti," ucapnya sambil memasukkan kembali ponsel ke dalam kantongnya.
"Ha ha ha ...." Devit terbahak. Masa iya tampang keren gini dikira maling kotak amal.
"De!" Panggil Devit namun gadis itu terus saja berjalan tanpa mengindakan panggilan Devit.
"Ada-ada saja," gumamnya, kemudian segera berdiri dan melanjutkan perjalanannya.
"Jika sampai sore tidak ketemu, sebaiknya aku menumpang nginap di rumah Pak Sugi sajalah."
Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Perutnya mulai terasa lapar, ia memutuskan sebaiknya mencari warung makan dulu, lalu melanjutkan lagi pencariannya.
Beep..beep...
Pesan masuk ke dalam ponselnya, senyumnya terbit saat membaca dari siapa pesan tersebut.
"Assalamualaikum, Kak, bagaimana, kontrakannya sudah dapat?
"Wa'alaykumussalam, belum nih De, masih mencari, doakan ya."
"Oh..gitu semoga Allah mudahkan ya, Kak."
"Aamiin."
"Hati-hati di jalan, Kak. Kalau sudah ketemu, segera kabari Sarah ya."
"Baik calon istriku." Ditambahkan emot senyum.
Devit kembali melanjutkan pencarian warung makannya dengan langkah lebih ringan, menambah semangat saat mendapat pesan dari Sarah, mahasiswi sekaligus calon istri yang baru dua pekan dia lamar.
Tak lama berjalan, terlihat warung makan cukup ramai, Devit menghampiri dan memesan lauk. Ikan goreng, tumis buncis dengan udang serta tahu goreng serta segelas teh tawar hangat.
Kini perutnya sudah kenyang, Devit melanjutkan perjalanannya kembali. Kali ini Devit memasuki gang yang tidak terlalu kecil, pas seukuran satu mobil sedan, langkahnya terhenti saat melihat warung kelontongan, niat hati mau beli air mineral.
"Beli, permisi!" serunya dari luar etalase.
Warung itu terletak persis di pinggir kiri sebuah rumah berukuran sedang dengan halaman cukup luas. Warung ini menyediakan aneka kebutuhan pokok ibu-ibu rumah tangga serta aneka jajanan anak-anak.
"Permisi," serunya lagi dengan suara cukup keras.
"Iyaa ... tunggu, baru kelar nyebokin," sahut suara wanita sambil berjalan cepat ke arah warung.
"Eh, Bapak!" pekik gadis itu karena kaget.
"Eh, Dek, kayak pernah ketemu?" ucap Devit sambil tersenyum.
"Iya yang tadi di musola, " jawabnya sambil pura-pura sibuk, merapikan barang-barang jualan.
"Mau beli apa, Pak?" tanyanya datar, cenderung cemberut.
"Mau beli air mineral yang botol," sahutnya .
"Dingin atau panas? eh maksudnya dingin atau yang biasa?"
"Yang biasa aja, De." Gadis itu lalu mengambilkan satu botol air mineral dan memberikannya pada Devit.
"Berapa, Dek?" tanyanya.
"Empat ribu."
Devit menyerahkan uang pas empat ribu rupiah kepada penjaga warung yang bening itu.
"Saya numpang duduk ya, De?"
"Eehhmm."
"Bahaya nih kalau dia ga cepat-cepat pergi, bisa hilang tabung gas nanti," gumam gadis itu sambil melirik sengit ke arah Devit.
"Iya boleh, tapi jangan lama-lama," sahutnya ketus sambil melayani beberapa pembeli yang menghampiri warungnya.
"Cie ... Juwi," seru seorang wanita paruh baya saat mendatangi warung kelontong Juwi. Sang wanita terlihat memperhatikan Devit yang sedang duduk dengan tatapan takjub.
"Calonnya kok ga diajak masuk Neng Juwi, kasian tuh kepanasan!" goda si Ibu sambil tertawa kecil.
Juwi melongo tak mengerti, ia mengendikkan bahunya. Si ibu menarik sudut matanya ke arah Devit yang sedang duduk dan mengibaskan topinya tepat di depan wajahnya.
"Bukan tipe saya kali, Mak," sahut Juwi sambil melirik Devit yang kini tengah tersenyum manis pada si Ibu.
"Dari mana hendak ke mana gerangan wahai pria tampan?" tanya si Ibu berpuitis.
"Eh, saya Bu?" tanya Devit meyakinkan.
"Iya dong, emang siapa lagi yang tampan di sini? masa saya? Ha ha ha ...." si Ibu terbahak, terlihat sisa kangkung masih menempel di gigi depannya, membuat Devit tersenyum kecut.
"Eh, anu ... saya ...," jawab Devit dengan terbata sambil menjauhkan jarak duduknya dari wanita paruh baya yang kini kian mendekatinya. Juwi memperhatikan sambil cekikian. Lelaki polos-polos amat. gumamnya dalam hati.
"Saya lagi cari kontrakan, Bu," ucapnya cepat agar si Ibu segera berhenti mendekatinya.
"Itu ada, Pak!" Juwi yang mendengar, ikut menimpali, bahkan ekor matanya menunjuk rumah kosong di samping kiri warungnya.
"Beneran, Dek?"
"Bener, itu di samping."
"Syukurlah," ujar Devit puluh kelegaan.
"Siapa pemiliknya? boleh saya bertemu?"
"Itu pemiliknya, Mas," Si Ibu melirik Juwi.
"Waah, kebetulan sekali."
Setelah berbasa-basi cukup lama, akhirnya Juwi mengantar Devit melihat-lihat kondisi kontrakan, bersih, sepertinya baru saja di cat ulang.
"Pintu kamar mandi tidak ada, Dek?" tanya Devit heran sambil menatap kamar mandi yang tertutup kerai transparan.
"Copot, Pak."
"Gak di pasang lagi?"
"Ga ah, mahal, pake kerai aja lebih praktis!"
"Oh, gitu ya, tapi...." belum selesai Devit menyahut Juwi sudah memotong pembicaraannya.
"Siapa yang mau ngintipin bapak mandi sih emangnya?" goda Juwi sambil mencibir.
"Ya ampun, bukan gitu, De."
"Sejuta per bulan, kalau Bapak bersedia, boleh diisi sekarang juga."
"Baiklah ...." Devit mengeluarkan uang dari dalam dompetnya, lalu memberikannya pada Juwi.
"Makasih Dek Juwi, Juwi'kan namanya?"
Juwi menerima uang dari Devit sambil mengangguk.
"Bapak siapa namanya?"
"Sulaiman Devit, panggil aja Devit."
"Oke, saya tinggal dulu ya, Pak. ini kuncinya." Juwi menyerahkan kunci kontrakan kepada Devit.
Juwi melangkah keluar rumah kontrakannya. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu, lalu dengan cepat berbalik menghadap Devit yang tengah menurunkan ranselnya.
"Awas, gak boleh ngerakit bom lho ya!"
****
Hari ini Devit membawa sebagian barang-barang ke kontrakan. Sebuah televisi layar datar, kompor gas, dua buah kursi, dan satu buah meja. Ada juga ranjang berukuran seratus enam puluh yang langsung di taruh dia ruangan tengah kontrakan. Aneka perabotan dapur, alat mandi serta lemari kecil untuk menyimpan pakaiannya.
"Terimakasih, Pak," ucap Devit ramah kepada supir mobil box yang sudah membantu Devit pindahan hari ini, sembari memberikan amplop kepada sopir tersebut.
Juwi memperhatikan. "Barangnya lengkap banget, jangan-jangan udah ada istrinya Wi," bisik ibu Juwi yang bernama Nurmala.
"Kayaknya sih masih bujangan, Bu," sahut Juwi sambil menatap ke arah Devit.
"Udah selesai angkut barangnya, Pak?" tanya Juwi berbasa-basi sambil tersenyum.
"Oh, iya, De. Alhamdulillah sudah," sahutnya ikut tersenyum ramah.
"Oh sukurlah, Istrinya mana, Pak?"
"Oh ... eh ... belum ada, insya Allah sebentar lagi," sahut Devit. Seketika mengingat wajah Sarah, calon istri sholihahnya yang belum ia kabari.
"Barang Bapak banyak juga, saya kirain udah beristri, soalnya wajah bapak mmm ... sedikit boros," ujar Juwi dengan wajah tanpa dosa.
"Perlu bantuan, Pak?" Juwi menawarkan dengan serius.
"Boleh!" Devit menyeringai senang.
"Baiklah, sebentar, Pak." Juwi menengadahkan tangan.
"Ya Tuhan, semoga beberes pindahan Pak Devit dimudahkan. Aamiin," ucap Juwi lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Devit dan bu Nur bengong.
"Tuh, saya udah bantuin doa, Pak
" Juwi terkekeh. Sedangkan Devit jadi salah tingkah sendiri, akhirnya ikut tertawa.
"Oh ya Pak." Langkah Devit terhenti.
"Ini kenalkan ibu saya, namanya Bu Nurmala, panggilannya Bu Nur," terang Juwi. Devit mengangguk hormat dan lagi-lagi tersenyum ramah dan manis.
Setelah Devit pamit masuk rumah, Juwi pun kembali menjaga warung, sambil sesekali membuka medsos. Membaca gosip artis, info-info terapdet yang dibagikan akun lambe curah. Selain itu Juwi suka melihat youtube menonton serial india, menyanyikan lagu-lagu india. Pokoknya mak-mak banget deh. Padahal Juwi baru sembilan belas tahun lho.
Dil laga liyaaa...
Maine tumse pyaar karke
Tumse pyaar karke
Tumse pyaar karke
Dil chura liya..
Maine ikraar karke
ikraar karke..ikraar karke..
" De Juwi, ada obat ...," ucapan Devit terputus, fokusnya menatap wajah Juwi yang menghadap ponselnya.
Woooww..india...bagus juga suaranya. ucapan itu tentu tak mampu terucap dari bibir Devit. Lelaki itu hanya bergumam. Cepat Devit mengalihkan pandangan dari Juwi yang masih asik bernyanyi.
"De...de...," panggil Devit sambil mengetuk tutup toples permen.
"Ehh ... iya, Pak. Maaf, keasikan nyanyi jadi gak denger!" Juwi tersenyum salah tingkah.
"Mau beli apa, Pak?"
"Obat sakit gigi ada?" tanya Devit.
"Jangankan sakit gigi, Pak. Sakit hati aja saya ada obatnya," ujar Juwi sambil terkikik, namun tangannya tetap meraih kotak obat untuk mencari obat yang diinginkan Devit.
"Ini, Pak. Delapan ribu."
Devit lalu menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan. Juwi memberi kembaliannya.
"Pak, suara saya tadi bagus gak?" tanya Juwi dengan cueknya.
"Mmm...bagus."
"Cocoklah masuk dapur," lanjutnya lagi.
"Dapur rekaman, Pak? Serius?" Juwi berbinar dengan wajah yang merona.
"Dapur umum." Devit berbalik badan lalu tertawa cekikikan.
"Hei, orang tua, hei!" teriak Juwi tak terima. Namun Devit terlanjur masuk ke dalam rumah. Juwi mengumpat kasar, wajahnya manyun. Devit mengintip dari jendelanya, gadis yang aneh.
****
"Ampun deh, dari dulu kenapa susah banget sih mau pasang gas?" gerutu Devit. Minta tolong sama siapa ya? Devit bermonolog sambil mengintip ke arah jendela. Tak ada lelaki yang lewat, sekalinya ada tukang jarpit, itu juga dirubungin ibu-ibu.
Padahal mah tampangnya biasa aja, tapi kenapa dia menang banyak? Ck, mana ngetemnya depan warung Juwi lagi. Devit masih asik mengamati ibu-ibu yang berkumpul di satu titik. Sesekali Devit memergoki si Abang jarpit melirik manis ke arah Juwi yang kini tengah memilih aneka pernak pernik.
"Mau beli apa Neng Juwi?" tanya si Abang jarpit.
"Mau beli hati Abang," goda Juwi sambil cekikikan, ibu-ibu yang lain ikut terkekeh.
Ya ampun Juwi sama abang jarpit aja kegatelan. Devit bermonolog.
Devit menatap dengan kasian. Anak jaman sekarang, candaannya pada berani-berani. Devit kembali ke dapur, mencoba lagi memasang gas, namun berkali-kali gagal. Perutnya sudah lapar, tenggorokannya ingin diisi dengan teh hangat, tapi gas belum juga terpasang. Devit berjalan membuka pintu. Tampak Juwi dan ibu-ibu yang lain masih asik ketawa-ketiwi, dengan wajah merona si abang jarpit.
"Dek Juwi!" panggil Devit dengan suara agak keras. Juwi menoleh ke Devit lalu menggerakkan kepalanya. Seolah bertanya ada apa. Devit memanggil Juwi dengan tangannya. Juwi pamit ke ibu-ibu.
"Bentar ya Ibu-ibu, bapaknya anak-anak manggil tuh," ucap Juwi sambil tersenyum genit.
"Awas, Mas, jangan dekat-dekat Juwi, dia gigit lho!" ledek ibu yang berdaster biru.
Duh, setiap hari harus menyaksikan daster melambai-lambai begini. Sabaar...sabar..harus banyak dingajiin nih, Biar ga tergoda.
Devit hanya tersenyum meladeni ledekan ibu-ibu tersebut. Juwi mendekat sambil memegang kunciran rambut berwarna merah muda dengan motif hello kitty.
"Ada apa, Pak?" tanyanya.
"Mmm...ini, saya...tidak bisa pasang gas." Devit sudah ingin menceburkan dirinya ke kolam soang. Malu ditahan.
"Apa? Bapak ga bisa pasang gas?serius?" tanya Juwi, ekspresinya tidak percaya
"Heh ....iya De, tolong ya." Devit sedikit memelas.
"Ha ha ha ...." Juwi tertawa keras hingga seluruh orang yang berada di sekitaran mereka menoleh.
Juwi hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Bapak lucu, jenggot doang lebat!" ledeknya kini sambil masuk ke dalam rumah Devit menuju dapur.
"Sini saya ajarkan Bapak!" Juwi menarik tangan Devit agar berjongkok bersamanya.
Drt..drrt..
Devit seperti terkena serangan listrik. Tangan Juwi terasa halus saat menyentuh lengannya.
Beep..beep...beep..
Ponsel Devit berdering. "Sebentar ya, De, saya angkat telepon dulu." Devit pamit ke ruang tengah tempat di mana ia menaruh ponselnya tadi.
Mama.
["Hallo Assalamualaikum, Ma."]
["Wa'alaykumussalam. Bagaimana Vit? Sudah dapat kontrakannya?" ]
["Sudah, Ma. Ga jauh dari kampus."]
["Tukang sudah mulai hari ini?"]
["Sudah, Ma."]
"Paak, Bapak kok lama sih?" panggil Juwi dari dapur.
"Bantuin nih, saya susah bukanya," suara Juwi seperti sedang merengek manja.
["Devit...suara perempuan siapa itu?"]
"Aah...itu...mah."
"Pak, jadi ga nih?" suara Juwi kembali terdengar sangat seksi.
["Ma, udah dulu ya..nanti Devit jelasin, Devit lagi repot banget hari ini."]
["Kamu berhutang penjelasan Vit."]
"Sayaaang...kok lama banget sih bicara di telponnya," rengek Juwi manja yang dibuat-buat. Juwi mengira pacar Devitlah yang menelpon. Juwi sudah cekikian di sekat dapur
["Ya ampun, Devit...itu apa sayang..sayang?"]