"Bu, Rey mau keluar dulu sama Faisal dan Anggi." Kata Rey sembari berpamitan.
"Yaudah, kalau bisa pulangnya jangan terlalu malam Rey." Kata Bu Widia, yang sedang duduk di sebelah Farah.
"Ia bu."
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah Rey.
Tok Tok Tok..
"Permisi bu." Kata Faisal sembari mengetuk pintu rumahnya.
Rey langsung membukakan pintu rumahnya, karena Rey tahu, yang mengetuk pintu rumahnya pasti sahabatnya.
"Udah siap Rey?" Tanya Faisal yang sedang berdiri di dekat pintu.
"Udah.... Mau masuk dulu apa mau langsung jalan?" Tanya Rey memastikan.
"Jalan sekarang aja, soalnya nggak enak di tungguin bosnya Anggi."
"Ya udah kalau gitu." Rey dan Faisal masuk kedalam mobilnya, setelah itu Faisal langsung mengemudikan mobilnya menuju lokasi.
20 menit kemudian, mereka tiba di depan Diskotik tempat Anggi bekerja, Anggi langsung membawa Rey dan pacarnya masuk ke dalam ruangan khusus.
"Elu tunggu disini sebentar, gua mau ganti baju dulu." Kata Anggi lalu pergi ke ruang ganti, sementara Rey dan Faisal sedang duduk di sofa sambil menunggu kedatangan Anggi.
Beberapa saat kemudian, Pelayan datang sambil membawa 10 Botol Minuman.
"Ini mas minuman nya." Kata pelayan, lalu meletakan minuman nya diatas meja kaca.
"Terima kasih." Kata Faisal dengan ramah, lalu membuka minuman nya, setelah itu menuangkan minuman nya kedalam gelas yang sudah terisi batu es.
"Ayo Rey diminum." Kata Faisal, lalu mendorong gelasnya.
Rey langsung meneguk minuman nya hingga kering, lalu menyalakan rokoknya.
Beberapa saat kemudian, Anggi datang dengan mengenakan pakaian yang sangat seksi, dan pakaian itu yang sering Anggi pakai selama di tempat kerjanya.
"Maaf ya menunggu lama." Ucap Anggi lalu duduk disamping Faisal.
Faisal kembali menuangkan minumannya ke dalam gelas, setelah itu mendorong kembali gelasnya ke Rey.
"Rey, ayo minum lagi." Kata Faisal, lalu menghisap rokoknya.
Rey langsung meneguk minuman nya hingga kering, lalu menghisap rokoknya.
Beberapa saat kemudian, Imelda datang lalu menghampiri mereka yang sedang asik minum.
"Hay tante." Ucap Anggi dengan sopan.
Faisal pun ikut menyapa nya.
"Malam tante." Ucap Faisal dengan sopan.
"Malam juga." Sahut Imel lalu duduk di sebelah Anggi.
"Oh iya tante kenalkan, ini Rey yang barusan aku ceritakan di telpon." Kata Anggi lalu menatap kearah Rey.
Rey langsung menganggukan kepalanya, dan berkata.
"Perkenalkan, namaku Rey tante." Ucap Rey dengan sopan.
Melihat wajah Rey yang terlihat tampan, Imel langsung menerimanya sebagai sopir nya, karena Imel sangat menyukainya.
"Namaku Imel, panggil saja tante Imel." Kata Imel dengan senyum manisnya.
"Ia tante." Sahut Rey dengan sopan.
"Kamu yakin mau kerja dengan saya?" Tanya Imel sembari memastikan.
"Ia tante." Hanya itu yang Rey katakan.
"Ya sudah, mulai malam ini juga, kamu sudah mulai bekerja dengan saya."
"Ia tante." Lagi-lagi hanya itu yang Rey katakan.
Mendengar Imel berkata seperti itu pada Rey, Anggi merasa lega, karena sebentar lagi Anggi akan mendapatkan komisi dari Imel.
Anggi sangat tahu sipat Imel, dari dulu, Imel selalu meminta Anggi untuk mencarikan pria tampan yang masih muda, karena menurut Imel, yang mudah lebih terlihat bergairah.
Anggi kembali bicara.
"Tante, silahkan diminum." Ucap Anggi lalu mendorong gelasnya.
Imel langsung meneguk minuman nya hingga kering, lalu meletakan gelasnya diatas meja kaca.
1 jam kemudian, mereka semua sudah mulai mabuk, karena cukup banyak alkohol yang masuk ke perut mereka.
Faisal sudah tidak tahan menahan hasratnya, Faisal langsung mencium Anggi didepan Rey dan Imel, hingga Imel mulai kepanasan.
Imel langsung mengajak Rey ke apartemen nya, karena Imel sudah tidak tahan menahan nafsunya.
"Rey, kita jalan sekarang yuk." Kata Imel lalu beranjak dari tempat duduk nya.
"Ia tante." Sahut Rey dengan patuh, lalu mengikuti Imel dari belakang.
Sementara Anggi dan Faisal masih asyik bercumbu di atas sofa, sampai mereka tidak sadar, Imel dan Rey sudah pergi meninggalkan nya.
Saat ini Rey sedang mengemudikan mobilnya, mengantar Imel ke tempat yang biasa Imel gunakan saat bertukar keringat.
20 menit kemudian, Imel sudah tiba di depan Apartemennya, Rey langsung memarkirkan mobil BMW nya di parkiran khusus.
Imel keluar dari mobilnya, lalu masuk ke dalam Lift khusus bersama Rey.
Saat didalam Lift, perasaan Imel sudah mulai gelisah, karena sudah tidak sabar ingin secepatnya mencumbu Rey.
Tak lama Lift pun berhenti tepat di depan pintu masuk kamar Imel, lalu mereka berdua masuk kedalam kamarnya.
Karena Imel dan Rey masih dalam pengaruh alkohol, langkah kaki mereka sedikit Sempoyongan.
Setibanya di dalam kamar, Rey duduk di ruang tamu, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, sementara Imel pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Setibanya di dalam kamar, Imel langsung mengganti pakaian yang lebih seksi, agar Rey, semakin terangsang saat melihat tubuhnya
Saat ini Imel hanya mengenakan pakaian Transparan berwarna putih, bahkan Imel tidak memakai pakaian dalam, sehingga terlihat bagian tubuhnya yang sexy.
Setelah berganti pakaian, Imel kembali ke ruang tamu, menemui Rey.
Melihat Imel memakai pakaian tembus pandang, Rey mulai terangsang, karena Rey bisa melihat dengan sangat jelas keindahan tubuh Imelda.
Seketika rudal Rey langsung mengeras, karena pakaian Imel sudah membakar gairah nya.
Imel duduk disamping Rey, lalu menatap Rey dengan penuh Nafsu.
Tak lama tangan Imel meraba-raba rudal Rey, yang masih terhalang celana jeans nya.
Rey diam saja, sambil merasakan sentuhan tangan Imel, yang sudah membangkitkan gairah di dalam tubuhnya.
Imel membuka semua pakaian Rey, lalu melemparkan pakaian nya ke atas lantai.
Setelah membuka pakaian nya, Imel melihat rudal Rey, cukup besar dan panjang, sehingga membuat Imel semakin tidak sabar ingin segera menikmatinya.
Imel mengelus-elus rudalnya, lalu menjilati tubuh Rey yang sedikit berkeringat, hingga membuat Rey semakin terangsang.
Karena sangat nikmat, Rey pun mendesah pelan, hingga matanya terpejam menahan nikmat.
Hhmm.. Hhmm.. Rey mulai mengerang merasakan kenikmatan di dalam tubuhnya, saat Imel menggerayangi tubuhnya.
Mendengar Rey mendesah, nafsu Imel semakin terbakar, Imel mendorong tubuh Rey, hingga terbaring di atas sofa.
Setelah itu Imel langsung menindih tubuh Rey, lalu mencium bibir Rey dengan sangat nafsu.
Cuuppss...Cuuppss... Imel sangat bergairah saat menjilati bibir Rey, hingga bibir Imel basah oleh air liurnya, Imel juga terus menggesekan bagian intim nya ke rudal Rey, yang sudah sangat keras.
Setelah merasa puas menjilati bibir Rey, Imel menurunkan kepalanya, lalu mencaplok rudalnya.
Haapp.. Aarghhh... Aarghhh.. Hhmm... Rey mendesah, saat rudalnya di makan Imel, hingga matanya merem melek menahan rasa nikmat.
Rey memegangi kepala Imel, lalu memaju mundurkan kepalanya lebih cepat lagi, agar lebih terasa nikmat.
Aarghhh...Hhhmmm.. Uurghhh... Rey tak henti-hentinya mendesah, hingga mata Rey terus terpejam menahan rasa nikmat.
Hampir 5 menit Imel memakan rudal Rey, hingga Imel mulai terasa lelah.
Imel melepaskan rudalnya, lalu merebahkan tubuhnya diatas sofa.
Melihat Imel merebahkan tubuhnya diatas sofa, Rey sudah tidak tahan lagi menahan nafsunya.
Rey langsung melucuti pakaian Imel, lalu menindih tubuhnya yang sangat menggoda.
Rey menjilati bibir tipisnya Imel dengan sangat agresif, sambil menggesekan rudalnya ke bagian intim Imel, hingga Imel semakin terangsang.
Cuuppss...Cuupps... Hhmmm... Suara itu yang terdengar saat Imel dan Rey sedang asyik berciuman.
Imel sangat bergairah saat bercinta dengan Rey, karena Imel sangat menyukai Rey.
Setelah merasa puas menjilati bibirnya, Rey menurunkan kepalanya, lalu menjilati payudara Imel, yang cukup mengkal dan besar.
Aarghh...Hhmmm... Aarghhh... Imel mulai mendesah saat Rey menjilati putingnya yang berwarna merah jambu, hingga matanya merem melek menahan rasa nikmat.
Rey terus memainkan lidahnya berputar-putar di sekitar putingnya Imel, yang berwarna merah jambu, hingga mata Imel merem melek menahan nikmat.
Setelah merasa puas di bagian itu, Rey menurunkan lagi kepalanya, lalu mendarat di atas lubang intimnya Imel.
Hhhm.. Uurghhh.. Imel tak henti-hentinya mendesah, saat Rey menjilati lubang intimnya, hingga tubuhnya sesekali bergetar menahan rasa nikmat.
Mendengar Imel terus mendesah, nafsu Rey semakin terbakar.
Rey memasukan jari tangannya ke dalam lubang intimnya, karena Rey ingin melihat Imel mencapai puncak kenikmatannya.
Sleep...Aarghhh... Hhmmm... Aarghhh... Imel terus mendesah merasakan kenikmatan di dalam tubuhnya, saat Rey mengobok-obok lubangnya, hingga mulutnya menganga menahan rasa nikmat.
Melihat wajah Imel terlihat sangat menikmatinya, Rey mempercepat kocokannya.
Clok...clok...clok... Aarghh.. Uurghhh... Hhmmm... Desahan Imel semakin keras, hingga tubuhnya sesekali mengejang menahan nikmat.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Imel mencapai puncak kenikmatan nya.
"A_awas Rey... Crooottt.. Uurghhh.." Desah Imel karena sudah mencapai puncak kenikmatan nya.
Tubuhnya mengejang hebat hingga perutnya naik turun.
Haah..Huuhh..Haah..Huuh.. Nafas Imel ngos-ngosan.
"A_ayo Rey, cepat masukan rudal nya." Imel sudah tidak tahan lagi menahan nafsunya, sampai tubuhnya mulai berkeringat.
"Ia tante."
Rey langsung memasukan rudalnya ke dalam lubang intim nya Imel, hingga Imel kembali mendesah.
Bleess... Aarghhhhh...plok plok... Aarghhh...Hhmmm... Imel kembali mendesah, saat lubang nya terisi rudal Rey, hingga mulutnya menganga menahan rasa nikmat.
Melihat Imel sangat bergairah, nafsu Rey semakin terbakar, Rey mempercepat genjotan nya, hingga tubuh Imel kejang-kejang menahan rasa nikmat.
Plok..plok... Aarghhh...Aarghhh... Hhmmmm... Desahan Imel semakin keras, hingga kepalanya mendongak ke atas menahan rasa nikmat.
Beberapa saat kemudian, Rey merasa spermanya akan segera keluar.
Dengan cepat Rey menarik rudalnya, lalu mengocoknya, agar cairan nya tidak keluar di dalam.
"Masukan ke mulut aku Rey." Kata Imel lalu duduk diatas sofa.
Mendengar itu, Rey langsung memasukan kepala rudalnya, lalu mengocok batangnya, agar cairan kentalnya segera keluar.
Beberapa saat kemudian, akhirnya cairan kental pun keluar dari lubang jahanam itu.
"Aa_ku mau keluar tan_te... Aarghhh.. Crooot...croot..croot... Aarghhh.." Rey mendesah karena sudah mencapai puncaknya.
Tubuh Rey sampai bergetar, menahan rasa nikmat.
Imel langsung menelan spermanya yang lumayan cukup banyak.
Setelah sperma nya keluar, Rey langsung membantingkan tubuhnya diatas sofa, sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Huh..hah..huh...hah.. nafas Rey ngos-ngosan.
Saat ini Rey dan Imel sudah mandi keringat, karena malam ini mereka berdua sangat bergairah.
Setelah nafasnya pulih, Rey pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sementara Imel masih terkapar lemah di atas sofa, sambil memulihkan kondisinya
Setelah merasa bersih, Rey kembali ke ruang tamu.
Setelah tiba di ruang tamu, Rey membantu Imel, membopong tubuhnya ke kamar, agar Imel bisa beristirahat.
Setelah di dalam kamar, Rey membaringkan tubuh Imel di atas kasur, karena Imel terlihat sangat kelelahan.
"Makasih ya Rey, malam ini aku sangat puas." Kata Imel sambil menatap wajah Rey yang tampan.
"Ia tante." Sahut Rey dengan sopan.
"Kamu tenang saja, walaupun kamu hanya seorang sopir, aku akan menggaji kamu sesuai yang kamu inginkan.... Kamu ingin digaji berapa?" Tanya Imel yang masih terbaring lemah, dalam keadaan telanjang.
"Soal itu, aku terserah tante saja." Jawab Rey singkat.
Sebenarnya, Rey tidak perlu bekerja, karena setiap bulan, Rey mendapatkan penghasilan dari anak buahnya.
Walau usia Rey masih sangat muda, namun kemampuan nya sangat luar biasa, bahkan di dunia bawah tanah, hampir semua orang mengenalnya.
Namun Rey selalu rendah hati, agar tidak terlihat menonjol.
Imel kembali bicara.
"50 juta cukup untuk gaji satu bulan?" Tanya Imel dengan santai, karena Imel tidak kekurangan uang, yang Imel inginkan hanya kebahagiaan dan kepuasan.
"Maaf tante, tidak mungkin gaji sopir bisa sebesar itu, saya minta disamakan saja dengan gaji sopir pada umumnya." Kata Rey menegaskan, karena Rey tidak gila dengan uang.
Mendengar perkataan Rey, Imel sangat kagum dengan pribadi Rey, bahkan Imel tidak percaya, di zaman sekarang, ada pemuda yang tidak berambisi mengejar uang.
"Aku salut sama kamu Rey, kamu tidak berambisi mengejar uang, karena yang aku tahu, di zaman sekarang, orang berlomba-lomba memperbanyak kekayaan, bahkan mereka menghalalkan berbagai macam cara, agar mereka bisa mendapatkan impian nya."
"Namanya juga hidup tante, kalau semua orang benar semua, nggak seru dong, karena hidup tempat kita belajar, aku juga masih belajar." Kata Rey menegaskan.
"Kamu benar Rey." Sahut Imel lalu tersenyum manis menatap Rey.
"Ya sudah, aku mau ke ruang tamu dulu ya tante, mau merokok dulu."
"Ya udah aku juga mau mandi dulu." Kata Imel lalu pergi ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya, sementara Rey pergi ke ruang tamu untuk bersantai.
Setelah merasa bersih, Imel kembali berpakaian, lalu pergi ke ruang tamu, menemui Rey.
Setibanya di ruang tamu, Imel duduk di sebelah Rey, lalu menyalakan sebatang rokok.
Saat Imel sedang asik mengobrol, tak lama ponselnya berdering.
Kring Kring Kring.. Suara panggilan masuk.
Saat Imel melihat kelayar ponselnya, ternyata anak kesayangan nya yang menelpon nya.
Dengan cepat Imel langsung mengklik tombol jawab.
"Ia sayang ada apa?" Tanya Imel merasa khawatir, karena tidak biasanya anaknya menelpon nya malam-malam.
"Mami dimana?" Tanya Frisca di ujung telpon.
"Mami lagi sama temen, kenapa sayang?" Tanya Imel penasaran.
"Mami pulang sekarang juga, Frisca takut disini hujan, terus disini mati lampu juga mi." Kata Frisca sangat ketakutan, sampai wajahnya terlihat pucat.
"Ya sudah mami pulang sekarang, kamu minta tolong Bi Minah dulu untuk nemenin kamu."
"Nggak mau, Frisca mau nya sama mami."
"Yaudah mami pulang sekarang juga, kamu tunggu sebentar ya." Kata Imel lalu menutup teleponnya.
"Rey, kita kerumah sekarang juga." Kata Imel lalu mengambil tas kecilnya.
"Ia tante." Sahut Rey dengan patuh.
Rey langsung bersiap-siap karena ia harus secepatnya mengantar Imel pulang ke rumahnya.
Setelah semuanya siap, Rey dan Imel pergi ke parkiran, lalu masuk kedalam mobilnya, setelah itu Rey langsung menancap gas mobilnya dengan kecepatan penuh, karena Imel ingin segera tiba di rumahnya.
"Sebenarnya ada apa tante?" Tanya Rey merasa khawatir, karena melihat wajah Imel terlihat sangat cemas, setelah mendengar anaknya menghubunginya.
"Barusan Frisca telpon, katanya di sana hujan, terus mati lampu juga." Jawab Imel dengan cemas.
"Frisca takut gelap gelap tante?" Tanya Rey sembari menyetir.
"Ia Rey, Frisca takut gelap dan hujan, apalagi saat ada petir, Frisca pasti sangat ketakutan."
"Hhmmm..." Hanya itu yang Rey katakan.