Kini, Ningsih telah menjadi seorang talenta terkenal di bidang kedokteran anak, sehingga banyak rumah sakit anak domestik besar mengajaknya untuk bergabung dan bekerja sama.
Di sini, bagaimanapun, adalah tanah airnya, ia tetap memutuskan untuk kembali ke negaranya sendiri. Tidak peduli dengan segala yang telah terjadi di masa lalunya, cepat atau lambat ia akan kembali ke negaranya.
"Hei Ningsih, di sini, di sini!" Sebuah suara yang terdengar tidak asing sedang memanggilnya di antara kerumunan.
"Desi, kamu datang sangat awal!" Ia mengenal pemilik suara itu. Ningsih dengan gembira berjalan menghampiri sahabatnya itu dan memeluknya. Sudah lama berlalu sejak terakhir kali ia bertemu dengan Desi Simanjuntak, sahabatnya itu.
Desi memutarkan matanya. "Sudah jelas. Aku adalah sahabat terbaikmu. Aku meninggalkan pekerjaanku begitu kamu memberikan kabar bahwa dirimu akan datang hari ini!"
Ningsih dengan tulus mengatakan. "Terima kasih!"
Selama lima tahun ini, di saat ibunya masih sakit, dan dirinya dalam kondisi mental yang kurang baik, Desi selalu hadir menemaninya, mendengarkan keluhannya, dan menjadi tempat baginya untuk berbagi cerita.
"Kamu memang adalah sahabat terbaikku. Ayo kita pergi." Sambil menggandeng lengan Ningsih, Desi berjalan ke menuju Volkswagen Beetle bekas miliknya.
"Tante, mohon beri saya uang dan makanan." Saya merasa sangat lapar."
Ketika kedua orang tersebut sedang mengobrol dan berjalan menuruni tangga, tiba-tiba sebuah tangan kecil yang kotor, meraih ujung kemeja yang dikenakan Ningsih dan menariknya, membuatnya keduanya berhenti berbicara dan mengalihkan perhatiannya.
Ningsih buru-buru menundukkan kepalanya, dan melihat seorang anak kecil dengan rambut yang terlihat acak-acakan, dan menatapnya.
Sebuah kepedihan melintas di hati Ningsih. Anaknya pasti seusia dengan anak ini sekarang.
"Adik kecil, orang tuamu ada di mana?" Ningsih berjongkok dan menatapnya dengan perasaan sedih.
Bocah itu hanya menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan Ningsih.
"Aduh, Ningsih, kamu terlalu baik hati, aku bisa mengerti. Tetapi, sebagian besar anak-anak yang mengemis sekarang dihasut oleh orang tua mereka untuk meminta uang. Bisakah kamu menyimpan atau menyingkirkan kebaikanmu? Itu strategi baru mereka belakangan ini." Desi berkata dengan tidak sabar.
"Aku tidak begitu! Aku tidak dihasut oleh orang tuaku, tante jahat itu sembarangan berbicara......" Bocah itu mengerutkan bibirnya, meningkatkan suaranya dengan nada yang sangat marah. Ia menatap Desi dengan rasa kesal di matanya, ia tidak menerima dituduh Desi begitu saja.
Meskipun seorang anak laki-laki, tetapi ketika mendengar suara lucunya, hati setiap orang akan terasa segar.
Namun Desi tidak peduli dengan semua keluguan dan kelucuan itu, ia mengangkat bahunya dan tidak berbicara.
"Tante, saya benar-benar tidak memiliki orang tua." Bocah kecil itu menarik lengan Ningsih, matanya yang besar berkedip dengan cepat ibarat sebuah boneka. "Saya sekarang sangat lapar, bisakah Tante membelikan makanan untukku?"
"Baiklah." Tante akan membawamu pergi membeli makanan. Ningsih bersikap lembut dan tidak memiliki perlawanan terhadap anak ini sama sekali.
"Kamu ini ya, tuyul nakal, kamu memilih orang yang berhati baik sebagai sasaranmu, bukan?" Desi berpura-pura marah kepada bocah itu. Ia tidak akan memberikan kesempatan bagi orang-orang semacam bocah ini. Ia telah melihat banyak tipu muslihat yang dilakukan pengemis macam bocah ini sebelumnya, dan mengatakan kepada dirinya sendiri untuk tidak menaruh kepercayaan kepada apapun yang mereka katakan.
Bocah itu menghadap ke arah Desi membuat wajah jelek.
"Ini kan hanya untuk satu kali makan saja, Desi. Untuk apa perhitungan dengannya?" Ningsih berusaha menenangkan sahabatnya, ia tersenyum kemudian meraih tangan bocah itu dan bertanya dengan penuh kasih sayang. "Adik kecil, nama kamu siapa?"
"Namaku Robin, tante." Bocah itu terdiam, dan berpikir sejenak. Ia juga tidak boleh mengatakan nama keluarganya, karena saat ini, ada begitu banyak televisi dan surat kabar yang sedang mencarinya.
"Robin. Nama yang bagus." Ningsih mengusap rambut bocah laki-laki itu.
"Apakah nama tante adalah Ningsih?" Ia kemudian bertanya.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" Desi menyela dengan cepat sebelum Ningsih sempat menjawab pertanyaan Robin.
"Tante jahat ini sangat bodoh. Aku baru saja mendengarmu memanggilnya dengan nama itu," ejek Robin membalas Desi.
"Kamu.....Apa... Dengar ya bocah, aku Desi, adalah orang paling cerdas dan paling bijaksana seluruh dunia. Kamu malah berani mengatakan bahwa aku bodoh, sini biar aku tendang pantatmu. Desi dengan marah, sambil mengangkat salah satu tangannya, membuat gerakan seolah-olah hendak memukul bocah laki-laki itu.
Robin dengan cepat berlari dan bersembunyi di belakang punggung Ningsih, ia menjulurkan lidahnya mengejek kepada Desi.
Saat ketiganya sibuk berkejaran. Pada saat ini, pemberitahuan orang hilang di putar di layar mal. 'Robin, Tuan muda Keluarga Kusuma, telah dinyatakan hilang selama dua belas jam. Berikut ini kami tampilkan fotonya. Jika Anda melihatnya, silakan menghubungi nomor ponsel di bawah layar ini. Sebagai imbalan atas informasi yang Anda berikan, Anda akan mendapatkan milyaran uang tunai.' Tulisan dalam pemberitahuan itu terus berjalan.
"Apa yang sedang ditampilkan di layar elektronik itu?" Desi dengan penasaran menoleh ke layar tersebut. Akan tetapi, belum sempat ia berbalik dan melihatnya, Robin berteriak kepadanya.
"Tante jahat, kamu pasti suka tahu busuk, kan?" Robin menghampirinya dan berteriak. Ha?"
"Siapa yang bilang?" Rasa penasaran tentang apa yang ditampilkan di layar elektronik hilang dalam sekejap dari kepala Desi ketika mendengar perkataan Robin, ia berbalik dengan kedua tangan di pinggulnya.
"Aku dengar sih orang gendut sangat suka makan tahu busuk, dan karena kamu lebih gendut dari tante yang baik hati ini, aku menebak pasti kamu suka makan tahu busuk." Robin terus berbicara demi mengalihkan perhatian Desi, sambil diam-diam melirik ke layar elektronik di belakang Desi. Pemberitahuan itu sudah menghilang dari layar. Untung saja, identitas aslinya tidak di ketahui oleh kedua wanita di hadapannya.
"Kamu anak nakal! Kekeliruan macam apa ini, Aku jadi gendut seperti ini karena aku... Aku... Pokoknya, itu bukan karena aku menyukai tahu busuk!" Pipi Desi memerah karena marah dan juga malu.
Dia gemuk karena, asalkan ada makanan yang bisa di makan, apapun yang diberikan kepadanya ia akan memakannya.
Meskipun ia dari kecil menyukai tahu busuk, namun ia bagaimanapun terlalu malu untuk mengakuinya di depan bocah itu.
Ningsih tersenyum, ia kemudian menghadap Desi dan berkata, "Yah, setidaknya dia benar tentang satu hal ini. Kamu menyukai tahu busuk selama bertahun-tahun, ibarat kamu sudah memiliki sejarah selama dua puluh tahun."
Desi mendengus dengan kesal. "Ningsih, kamu baru saja mengenal bocah ini tidak berapa lama, sekarang kalian kelihatannya seperti ibu dan anak, dan aku dianggap seperti orang luar? Kamu menyukai yang baru dan tidak menyukai yang lama, menyayangi anak laki-laki itu daripada aku temanmu, seolah-olah dia adalah anakmu."
"Ibu dan anak, omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan?" Ningsih menegur, menghindari tatapannya. Sesuatu yang tersembunyi dan tidak berani di sentuh di dalam hatinya selama empat tahun ini adalah topik pembicaraan yang berusaha ia hindari selama bertahun-tahun, dan kini Desi malah membahasnya. Demi mengalihkan pembicaraan, ia pun dengan suara lembut mengatakan kepada Robin. "Robin, beri tahu aku, apa makanan yang kamu sukai?"
"Kerang Abalon... Bubur Abalon, lobster Australia... dan..." Robin selalu di suguhi semua makanan itu di masa lalu, dan sebenarnya sudah bosan. Tetapi, sekarang, ia sudah lama tidak makan, ia terlalu lapar, oleh karena itu, ia merasa makanan yang membosankan itu menjadi makanan yang paling lezat di dunia.
Akan tetapi, sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Desi menyela perkataannya. "Wah bocah, bukannya aku bilang ya, mulutmu sangat manis, dan mengemis di jalanan tujuannya untuk membohongi kami kan? Kerang Abalon? Lobster? Apakah kau pikir kami ini orang kaya atau bagaimana? Anak bandel.. mau makan roti kukus atau roti isi, itu saja."
"Tante yang baik hati jangan khawatir. Aku adalah anak yang baik. Aku akan memakan apa yang Anda berikan kepadaku. Baik itu roti isi ataupun roti kukus. Robin tidak pernah berpikir tentang betapa sulitnya mengemis uang, dan kini, ketika ia telah bertemu dengan seseorang yang baik hati seperti Ningsih, ia tak ingin melepaskannya begitu saja.
Selain itu, ia juga tak mengerti apa perbedaan antara Abalon dan roti isi. Yang ia tahu hanyalah, bahwa keduanya adalah makanan.
Lihat, Tuan muda yang tidak tahu tentang uang sejak dia masih kecil, ia tak pernah mengetahui tentang harga makanan yang ia makan.
"Tidak masalah. Aku bisa membawamu makan bubur Abalone dan lobster Australia. Makanan itu juga merupakan makanan favoritku," ucap Ningsih sambil tersenyum.
"Betulkah?" Robin mengangkat kepalanya dan menatap ke Ningsih. Suara tante ini sangat lembut, seandainya wanita ini adalah ibunya, betapa baiknya dia.
Langit berangsur-angsur berubah menjadi gelap.
Saat ini masih musim panas, namun di dalam rumah keluarga Kusuma, suasana terasa sedingin es.
Di aula rumah yang terang benderang, Angelina mondar-mandir dengan penuh rasa cemas di ruang tamu. "Charles, kenapa kamu tidak mengatakan apa pun?" tanya Angelina penuh kecemasan, tangannya naik ke wajahnya dengan panik. "Apa yang telah terjadi padanya? Robin sudah beberapa waktu tidak kembali, aku merasa sangat cemas dan tidak tenang. Apa menurutmu ia mungkin diculik dan dijual oleh sindikat perdagangan manusia?"
"Kurasa bukan itu yang terjadi." Charles Kusuma akhirnya berkomentar sambil menggelengkan kepalanya.
Begitu ia mengetahui tentang hilangnya Robin dari rumah, ia segera mengirimkan semua anak buah dan pelayannya untuk mencari bocah itu.
Ia bahkan sampai menelepon polisi untuk mengantisipasi agar penculiknya tidak bisa melarikan diri, jika memang itu yang terjadi. Berdasarkan laporan itu, pihak kepolisian pun telah melakukan pencarian ke seluruh penjuru kota, namun mereka tak dapat menemukan apa pun.
Sepertinya Robin sangat pandai dalam menghilangkan jejak yang ia tinggalkan ketika ia kabur.
"Apa kau berpikir ini semua perbuatan pamanmu? Atau mungkin Yusuf? Karena, Robin adalah sasaran mereka," kata Angelina, suaranya terdengar bergetar karena rasa cemas.
Sesuatu melintas di mata Charles.
Ia juga memiliki dugaan, bahwa Yusuf mungkin ada kaitannya dengan hilangnya Robin.
Enam tahun lalu, Kelvin Kusuma, ayah Charles, mengadakan pertemuan keluarga pada hari ulang tahunnya yang kedelapan puluh, mengenai siapa yang akan mengelola perusahaan di masa depan.
"Aku saat ini sudah tua dan sekarat, akan tetapi, baik Charles maupun Yusuf, keduanya belum ada yang berumah tangga," kata Kelvin dengan kerutan di wajahnya. "Sejujurnya, aku tidak peduli dengan status mereka, apakah akan segera menikah atau tidak. Namun, aku menginginkan seorang cicit yang dapat meneruskan masa depan perusahaan kita. Jadi, kuputuskan, siapa di antara keduanya yang dapat memberiku seorang cicit laki-laki pertama, akan memiliki tujuh puluh persen sahamku di perusahaan,"
Ia mengumumkannya dengan nada yang sangat tenang. Namun, perkataannya menciptakan sebuah kekacauan dalam benak semua anggota keluarga yang hadir dan mendengarkannya. Siapa pun yang mendapatkan bagian saham itu, akan menjadi pewaris Grup TS berikutnya, keterangan itu saja sudah cukup untuk menarik semua anggota keluarga dari kedua pihak berlomba-lomba untuk dapat memenuhi persyaratan yang diminta olehnya.
Begitu menariknya ide untuk dapat menguasai Grup TS, sehingga setiap orang berusaha dan bersaing untuk menemukan seorang calon istri baik bagi Charles maupun Yusuf.
Setelah pengumuman dari Kelvin, Jaka Kusuma dan Deco Kusuma berusaha menemukan gadis yang cocok untuk masing-masing putra mereka.
Keesokan harinya, Yusuf mengumumkan pernikahannya dengan Amanda Salim, seorang bintang pop yang sedang naik daun.
Namun sebaliknya dengan Charles, ia belum melakukan apa pun demi memenuhi persyaratan dari kakeknya.
"Yusuf baru saja menikah. Istrinya bisa saja hamil dalam waktu sebulan," ucap Angelina dengan nada cemas.
Akan tetapi putranya, Charles, tak mengucapkan sepatah kata pun untuk menanggapi perkataannya.
"Bukankah kamu dekat dengan Rebecca? Bagaimana menurutmu kalau kita coba menghubunginya?" Angelina berusaha menyampaikan perkataannya dengan nada lembut, berusaha tidak terpancing oleh sikap cuek yang ditunjukkan putranya.
Setelah merenungkannya beberapa saat, Charles menganggukkan kepalanya, dan menjawab pertanyaan ibunya. "Kamu bisa mencobanya."
"Baiklah." Angelina kemudian menghubungi Rebecca Wijaya melalui via telepon, namun, di tolak oleh Rebecca
Rebecca hanya tertawa dan mendengar apa yang dikatakan oleh Angelina di telepon. "Angelina, aku belum mau hamil untuk saat ini, tapi aku bersedia untuk menikah dengan Charles"
Angelina menutup telepon dengan penuh amarah, tanpa memberikan Rebecca kesempatan untuk dapat menyelesaikan kalimatnya. Ia menatap telepon yang dipegangnya dengan penuh rasa kecewa, andai saja sebuah tatapan bisa membakar, mungkin telepon itu sudah ditelan api yang berkobar saat ini. "Rebecca sungguh keterlaluan," ucapnya dengan nada keras. "Ia hanya ingin menikah denganmu, namun tidak ingin mengandung anak darimu untuk saat ini. Apa yang harus kita perbuat sekarang?"
Charles tidak menjawab pertanyaannya, dan meninggalkannya, hal ini membuatnya semakin merasa frustasi.
"Apa kamu akan duduk diam saja di sana, dan tidak melakukan apa pun, ketika Yusuf merebut semua saham Grup TS?" Angelina berteriak pada Charles, yang kemudian berdiri dan berjalan kembali ke kamarnya.
Charles kemudian berhenti, ia berbalik, hanya agar Angelina dapat melihat rasa tidak senang di wajahnya. "Kamu boleh mencarikanku seorang gadis, siapa pun dia, dan aku akan memberimu bayi dari gadis itu," Charles berkata dengan nada sinis. "Aku tidak perlu memberitahumu bagaimana cara melakukannya, kan?"
Angelina mendengus dan tertawa mendengar perkataan Charles. "Baiklah, aku paham."
Ia lebih menyukai ide yang baru saja dikatakan oleh Charles, karena hal ini berarti putranya tidak akan memiliki ikatan apa pun dengan wanita yang akan memberikan bayi bagi mereka. Dengan bersemangat, ia menelepon Sofia dan memintanya untuk menemukan seorang gadis untuk putranya.
Ketika Sofia berhasil mendapatkan gadis untuk Charles, maka sembilan bulan kemudian Robin pun hadir dan menjadi bagian dalam keluarga mereka.
Semuanya terjadi di belakang layar tanpa ada siapa pun yang mengetahuinya, bahkan Yusuf, hingga akhirnya Charles menyerahkan cicit kepada Kakeknya sebagai bukti dan memperoleh tujuh puluh persen saham Grup TS sebagaimana dijanjikan oleh Kelvin.
Amanda, istri Yusuf, masih mengandung lima bulan ketika semua itu terjadi.
Saking marahnya, Yusuf menendang perut istrinya, dan mengakibatkan keguguran pada kandungannya. Sejak saat itu, Amanda tidak bisa hamil lagi.
Meskipun itu semua terjadi di masa lalu, namun semua kejadian itu bukanlah hal yang mudah untuk dilupakan begitu saja.
Tidak ada yang tahu sejauh apa Yusuf mampu bertindak.
"Charles, aku akan pergi ke rumah pamanmu dan bertanya padanya sekarang juga. Jika memang dia yang melakukan ini semua, aku akan membawa Robin pulang ke rumah," ucap Angelina sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Angelina bertekad untuk melakukan apa pun untuk dapat membawa cucunya pulang.
Tepat sebelum ia beranjak pergi, ponsel Charles berdering.
Melihat layar ponsel dan menemukan bahwa yang menghubunginya adalah Joni Riady, sahabat baiknya, Charles pun dengan cepat mengangkat panggilan itu. "Ada informasi apa?"
"Salah seorang anak buahku melihat Robin di bandara pagi ini, jadi aku coba mengirimkan lebih banyak orang untuk melakukan pencarian. Apa menurutmu dia bisa naik pesawat itu seorang diri?" tanya Joni dengan nada gugup.
Charles berpikir sejenak hingga keningnya berkerut. "Dia tidak membawa kartu identitas apa pun bersamanya, jadi kurasa itu tidak mungkin."
"Bagaimana jika dia naik pesawat bersama orang lain?" Angelina menangis lebih keras dengan pertanyaan yang diutarakannya sendiri, ketakutan menyelimuti benaknya. "Jika memang dia diculik dan sesuatu yang buruk terjadi padanya," ucap Angelina sambil terisak, dan kemudian melanjutkan. Aku tidak akan mampu terus hidup jika mengetahui itu semua."
"Laporan dari anak buahku mengatakan bahwa Robin di sana sendirian, aku akan terus memonitor pencariannya," kata Joni.
"Baiklah. Terus lakukan pencarian. Aku akan segera ke sana."
Charles dengan cepat menutup teleponnya, dan kemudian mengambil kunci mobilnya. Sebelum beranjak pergi, ia menengok kepada Angelina. "Kamu di rumah saja, bu. Aku akan segera memberitahumu begitu mendapatkan informasi tentang Robin. Aku pikir ini semua tidak ada hubungannya dengan Yusuf."
Angelina merasa tubuhnya lemas mendengar ini semua, ia hanya dapat terdiam dan duduk di sofa. "Tolong bawa cucuku kembali pulang ke rumah."
Setelah Ningsih selesai mengajak Robin keluar untuk makan, ia mengunjungi ibunya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika mereka tiba di apartemen Ningsih.
Sepanjang waktu, Robin terus mengikuti Ningsih dengan sangat patuh.
Selesai memandikan bocah itu, Ningsih membongkar kopernya dan mengeluarkan sebuah piyama lucu untuk dikenakan kepada Robin.
Robin melihat piama itu sejenak, dan kemudian mengambilnya dari tangan Ningsih. "Kenapa kamu memiliki pakaian untuk anak-anak, Tante?"
Ningsih tertawa mendengar pertanyaan Bobby. "Aku suka dengan pakaian anak-anak, jadi aku akan membelinya jika menurutku bagus."
Kebenarannya adalah, ia selalu membeli pakaian anak-anak setiap tahunnya, demi mengenang putranya yang selama ini tak ada di sisinya. Ia sangat merindukan anak yang dilahirkan dari rahimnya, hingga terkadang ia menangis, dengan pakaian anak-anak melilit di tangannya. Terkadang ia memaksakan diri untuk menyingkirkan pakaian-pakaian itu, berusaha melupakannya.
"Kamu sangat menyukai anak-anak kan, Tante?" sambil bertanya, Robin memiringkan kepalanya dan menatapnya.
"Tentu saja, apalagi jika mereka pintar dan penurut sepertimu." Ningsih mencolek hidung Robin dengan jari telunjuknya.
Sesuatu melintas di mata Robin. Kenyataannya, ia adalah anak yang sangat nakal di rumahnya. Ia sering menghancurkan mainan apa pun yang tidak membuatnya merasa senang, membuat ayahnya terpaksa membelikannya mainan baru untuk menggantinya. Dan ia tak pernah berhenti melakukannya ketika ia di rumah.
Namun, Robin tidak berniat untuk menceritakan kenakalannya kepada Ningsih. Bagaimana jika Ningsih akhirnya meninggalkannya, setelah mengetahui betapa nakal dirinya?
Robin berjalan dengan canggung menghampiri Ningsih, dan kemudian mencium pipinya dengan lembut. "Tante," katanya ceria.
"Bolehkah aku memanggilmu ibu?"
Ibu, ibu...
Kata-kata itu menusuk sangat dalam di hati Ningsih.
Andai saja... mata Ningsih berlinang air mata.
"Robin, kurasa ibumu yang asli tak akan senang jika kamu memanggilku dengan panggilan ibu,"