Diah (POV):
Ketenangan itu, sebuah lapisan es tipis di atas gunung berapi yang siap meletus, membungkus setiap gerak-gerikku. Aku tidak bisa tinggal di sini, di rumah ini yang kini terasa seperti penjara mewah. Pikiranku mencari jalan keluar, sebuah pelarian.
Pagi itu, ponselku bergetar. Sebuah email dari Hanafi Angkawidjaja. Mentor lamaku. Dia menawarkan proyek restorasi kastil tua di Eropa. Proyek impianku, yang dulu kuberikan untuk Bara. Jantungku berdebar, bukan karena kegembiraan, melainkan karena sebuah kemungkinan baru. Sebuah jalan keluar yang nyata.
Keputusanku bulat. Aku akan pergi. Total, tanpa jejak. Tiga hari. Aku akan bersandiwara menjadi istri sempurna selama tiga hari itu.
Bara masuk ke kamar tidur, senyumnya cerah, sebuah topeng yang dipakainya begitu sempurna. "Diah, sayang. Kau sudah tidur? Aku mencarimu."
Tangannya mengulur untuk membelai rambutku. Aku menahan diri untuk tidak menghindar. Sentuhannya terasa hambar, bahkan menjijikkan.
"Aku hanya merasa sedikit lelah, Bara," kataku, suaraku stabil, bahkan terlalu stabil. Aku terkejut dengan diriku sendiri.
"Kau pasti kelelahan. Akhir-akhir ini kau terlihat pucat," katanya, pura-pura khawatir. Sebuah perhatian kosong. Bagaimana mungkin dia tidak menyadari apa yang terjadi padaku? Atau lebih tepatnya, dia tidak pernah benar-benar melihatku.
'Kau terlihat lelah. Apa yang terjadi?' tanyanya, matanya menatapku, mencoba mencari tahu.
'Tidak ada, hanya sedikit pusing. Mungkin aku butuh istirahat lebih,' jawabku, sambil tersenyum tipis. Senyum itu, terasa begitu berat di pipiku.
'Kau tahu, aku tidak suka melihatmu sakit. Kau adalah duniaku, Diah. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku,' katanya, memelukku erat. Pelukannya menyesakkan. Kata-katanya, sebuah janji palsu yang mengambang di udara.
Aku tahu semua ini adalah kebohongan. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu, sementara tadi malam aku mendengar dia meremehkanku di telepon? Bagaimana bisa dia begitu munafik?
"Bara," panggilku, suaraku rendah. "Bagaimana kalau suatu hari nanti, aku menemukanmu dengan wanita lain? Apa yang akan kau lakukan?"
Dia tertawa, tawa yang meremehkan. "Kau ini bicara apa, Diah? Tentu saja tidak akan terjadi. Aku hanya mencintaimu. Kau wanitaku."
'Tidak ada yang bisa menggantikanmu. Kau adalah rumahku,' katanya, lalu mencium puncak kepalaku. Aku memejamkan mata, menahan rasa mual.
'Benarkah?' Aku bertanya, suaraku hampir berbisik. 'Jadi, tidak ada wanita lain yang bisa membuatmu merasa lebih hidup, lebih menarik?'
'Tentu saja tidak, sayang. Jangan pikirkan hal itu. Kau adalah yang terbaik,' jawabnya, meyakinkanku. Dia tidak tahu bahwa setiap kata-katanya adalah pisau yang mengiris hatiku.
Aku tahu dia berbohong. Aku tahu dia sedang berbohong. Dan aku mengiyakan setiap kebohongannya. Aku menarik diri dari pelukannya.
'Aku ingin mandi,' kataku, rasanya aku ingin segera membersihkan sentuhan tangannya dari kulitku.
Aku berjalan ke kamar mandi, mengunci pintu. Air mata yang kutahan sejak tadi, kini tumpah ruah. Aku menatap pantulanku di cermin, seorang wanita yang hancur, namun dengan mata yang dipenuhi tekad.
Aku harus mengakhiri sandiwara ini.
Pagi itu, saat aku duduk di meja makan, ponselku berdering. Nomor tak dikenal.
"Halo, Diah?" Suara di seberang terdengar panik. "Ini Fathia. Tolong aku, Diah. Aku... aku hamil."
Jantungku berdetak kencang. Fathia hamil. Anak siapa? Bara? Pasti Bara.
"Fathia, kau bicara apa?" tanyaku, mencoba menjaga suaraku tetap tenang.
"Aku... aku tidak tahu harus bagaimana. Bara..." Dia terisak.
Suara Bara dari ruang kerjanya memotong tanganku yang gemetar.
'Diah, sayang, kau sudah siap? Aku akan mengantarmu ke butik untuk mencoba gaun pestamu nanti malam.'
Aku mematikan telepon. Aku tahu. Aku tahu semuanya sekarang. Fathia hamil anak Bara. Dan aku hamil anak Bara.
Ada kilasan memori, Bara menertawakan ide memiliki anak. "Untuk apa terburu-buru, Diah? Kita masih muda. Nikmati saja hidup kita." Kata-kata itu berputar-putar di kepalaku. Dia tidak menginginkan anak denganku, tapi dia menghamili Fathia.
Kemarahan itu, dingin dan tajam, menyelimuti diriku. Aku merasa dikhianati, dipermalukan. Aku melihat tanganku yang gemetar. Aku tidak bisa lagi bertahan di sini.
Ponselku kembali bergetar. Kali ini panggilan video dari Hanafi Angkawidjaja.
"Diah, bagaimana kabarmu?" Suaranya hangat, penuh perhatian. "Kudengar kau belum menanggapi tawaran proyek kastil itu."
"Aku akan mengambilnya, pak Hanafi," kataku, suaraku penuh tekad. "Aku akan mengambilnya. Tapi ada syarat."
"Syarat?" Dia mengerutkan kening.
"Aku ingin semua jejak Diah Darwis lenyap. Aku akan pergi, dan Diah Darwis tidak akan pernah kembali ke Indonesia."
Hanafi terdiam sejenak. "Diah, ini keputusan besar. Kau yakin?"
"Lebih dari yakin," kataku, mataku berkaca-kaca. "Aku ingin memulai hidup baru. Tanpa Bara. Tanpa Fathia. Tanpa kenangan buruk ini."
"Tapi... keluargamu?" tanyanya, ragu.
'Aku tidak punya keluarga lagi, Pak Hanafi. Kecuali diriku sendiri. Dan anakku,' kataku dalam hati, memegang perutku.
"Keluargaku..." Aku tersenyum pahit. "Keluarga mana yang kau maksud, Pak Hanafi? Pria yang kujadikan suami itu? Atau sepupuku yang kutolong dengan segenap hatiku?"
"Diah..." Hanafi terdengar sedih.
"Aku sudah kehilangan segalanya, Pak Hanafi. Sekarang, aku hanya ingin diriku kembali. Dan memastikan mereka tidak pernah menemukanku."
"Baiklah, Diah. Aku akan mengurusnya. Tapi ini tidak akan mudah."
"Aku tahu," kataku. "Aku sudah terbiasa dengan yang tidak mudah."
Aku mengakhiri panggilan. Aku merasa sedikit lega, seperti beban berat telah terangkat dari pundakku. Tapi di waktu yang sama, kepalaku berputar-putar. Aku akan pergi. Aku akan membawa anak kami pergi.
Aku berdiri, mematung di tengah ruangan. Suara Bara terdengar lagi, "Diah, sayang, ayo kita pergi. Aku sudah menunggu."
Pintu kamar terbuka dan Bara berdiri di sana, menatapku.
"Ada apa, sayang? Kau baik-baik saja?" tanyanya, ekspresinya penuh kekhawatiran.
Aku menatapnya. Pria yang telah menghancurkan hidupku. Pria yang akan segera kehilangan segalanya.
'Aku akan lebih dari baik-baik saja, Bara,' pikirku. 'Kau yang tidak.'
Aku tersenyum padanya, senyum yang begitu dingin, begitu mematikan, sehingga aku sendiri terkejut.
Diah (POV):
Senyumku, sebuah topeng sempurna yang kusulam dari serpihan kehancuran, membuat Bara terpana sesaat. Dia mendekat, tangannya refleks merengkuh pinggangku, menarikku mendekat. Aku membiarkannya, seperti boneka yang patuh.
"Kau terlihat sangat cantik, sayang," bisiknya di telingaku, suaranya sarat akan hasrat. "Ada apa dengan senyum itu? Kau membuatku gugup."
"Bara, kau ini," kataku, nada suaraku terdengar manja, bahkan aku sendiri terkejut dengan kemampuan aktingku. "Aku hanya berpikir, betapa beruntungnya aku memilikimu. Kau selalu tahu bagaimana membuatku merasa istimewa."
Aku harus memainkan peran ini dengan sempurna. Setiap sentuhan, setiap kata, harus meyakinkannya. Ini adalah pertunjukan terakhir Diah Darwis, sang istri sempurna.
Dia menatapku, matanya mencari kebenaran. Aku membiarkannya mencari. Tidak ada yang akan dia temukan kecuali apa yang ingin kutunjukkan padanya.
"Tentu saja," katanya, tatapannya melembut. "Kau wanitaku. Selalu." Dia mencium keningku, lalu turun ke bibir. Aku memejamkan mata, mencoba membayangkan bahwa bibir ini bukan bibir yang baru saja mencium Fathia.
"Aku tidak akan pernah melakukan apa pun yang bisa menyakitimu, Diah," bisiknya di antara ciuman. "Kau bisa percaya padaku."
Kata-kata itu terasa seperti pisau panas yang dihujamkan ke jantungku. Sebuah kebohongan yang begitu telanjang, begitu kejam.
"Aku tahu," kataku, menarik napas dalam, membalas ciumannya singkat. "Aku tidak pernah meragukanmu."
Bara tersenyum puas. Dia percaya. Dia benar-benar percaya bahwa dia telah memanipulasiku sepenuhnya, bahwa aku adalah miliknya, sebuah properti yang akan selalu ada di sana, tanpa pertanyaan.
"Bara, aku penasaran," kataku, memecah keheningan. "Bagaimana jika suatu hari, ada orang lain yang datang, dan dia bilang dia hamil anakmu? Apa yang akan kau lakukan?"
Dia menarik diri, ekspresinya berubah. Ada sedikit kekhawatiran di matanya, tapi cepat hilang, tergantikan oleh seringai angkuh.
"Diah, kau ini bicara apa? Tentu saja itu tidak mungkin. Aku tidak pernah tidur dengan wanita lain selain dirimu," katanya, suaranya tegas, terlalu tegas. "Kau adalah satu-satunya wanita di hidupku."
"Benarkah?" tanyaku, nadaku terdengar ragu.
"Dengar, Diah," katanya, memegang kedua tanganku, matanya menatap intens ke mataku. "Aku bersumpah. Demi nama baik keluargaku, demi semua yang kita miliki, aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Kau adalah duniaku. Kau adalah ratu di istanaku."
Sumpahnya terdengar begitu kosong, begitu hampa. Dia tidak tahu bahwa aku telah mendengar Fathia terisak di telepon, mengaku hamil anaknya.
Aku menghela napas panjang, pura-pura lega. "Aku percaya padamu, Bara."
Dia tersenyum lagi, senyum kemenangan. Dia menarikku kembali ke pelukannya, memelukku erat, tangannya mengunci pinggangku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat.
Dia terlalu yakin aku tidak akan pernah pergi. Terlalu yakin aku adalah miliknya.
'Kau tidak pernah tahu, Bara, betapa kejamnya takdir yang akan menanti orang-orang yang terlalu yakin,' pikirku.
Dia mencium leherku, mendesah. "Kau tahu, Diah. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Kau adalah napasku. Kau adalah segalanya bagiku."
Aku merasa jijik. Kata-kata itu, dulu begitu berarti, kini terasa seperti sampah. Aku berusaha keras untuk tidak mendorongnya menjauh. Aku hanya ingin semua ini berakhir.
"Aku juga tidak bisa hidup tanpamu, Bara," kataku lirih. Kata-kata yang keluar dari mulutku terasa seperti duri yang menusuk lidahku sendiri.
Aku merasakan sentuhan tangannya di punggungku, mencoba menyeretku lebih dekat. Aku menegang. Sebuah penolakan tak kasat mata.
"Aku akan menyiapkan makan malam spesial untuk kita nanti. Kau pasti suka," kataku, sedikit mendorongnya. "Aku butuh waktu sebentar sendiri."
Dia melepaskan pelukannya, sedikit kecewa, tapi mengangguk. "Baiklah, sayang. Tapi jangan terlalu lama, ya. Aku merindukanmu."
Aku mengangguk, lalu berbalik, berjalan menuju pintu. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku. Terakhir kali. Mungkin ini yang terakhir kalinya dia melihatku sebagai istrinya.
Di balik pintu, aku menarik napas dalam. Pertunjukan harus terus berjalan. Sampai tirai terakhir diturunkan.