Sampul Novel Kematian Berujung Perceraian

Kematian Berujung Perceraian

9.6 / 10.0
Demi merayakan ulang tahun putri kami, aku memohon hingga sembilan puluh sembilan kali agar Rizald Pratama bersedia mengajaknya berkemah. Namun, perjalanan itu berakhir tragis saat aku menemukan jasad kaku putriku di kaki gunung keesokan harinya. Di tengah duka yang menyayat hati, sebuah unggahan media sosial Rizald bersama teman masa kecilnya mengungkap kenyataan pahit. Foto bahagia yang membelakangi matahari terbenam itu rupanya diambil oleh putriku sendiri sebelum kematian menjemputnya.
Ringkasan Kematian Berujung Perceraian
Demi merayakan ulang tahun putri kami, aku memohon hingga sembilan puluh sembilan kali agar Rizald Pratama bersedia mengajaknya berkemah. Namun, perjalanan itu berakhir tragis saat aku menemukan jasad kaku putriku di kaki gunung keesokan harinya. Di tengah duka yang menyayat hati, sebuah unggahan media sosial Rizald bersama teman masa kecilnya mengungkap kenyataan pahit. Foto bahagia yang membelakangi matahari terbenam itu rupanya diambil oleh putriku sendiri sebelum kematian menjemputnya.
Baca Selengkapnya

Kematian Berujung Perceraian Bab 1

Aku memohon kepada Rizald Pratama sebanyak 99 kali dan akhirnya dia setuju untuk mengajak putri kami berkemah di pegunungan pada hari ulang tahun putri kami.

Pada saat aku menemukan putriku di kaki gunung keesokan harinya, dia sudah meninggal, tangannya memegang erat sebuah foto keluarga.

Aku berdiri di depan tubuh kaku putriku, hatiku tersayat pedih. Tiba-tiba, aku melihat Rizald memperbarui status di media sosialnya.

Dia menuliskan, "Kamu dan anakku adalah harta berharga dalam hidupku."

Dalam foto tersebut, dia dan teman masa kecilnya menggandeng seorang gadis kecil, tengah melihat matahari terbenam di kejauhan.

Di sudut kiri bawah foto, terlihat sebuah tangan kecil yang merupakan tangan putriku.

Foto yang menyakitkan ini diambil oleh putriku.

"Seharusnya meninggalnya karena jatuh dari ketinggian ...."

Polisi berbicara kepadaku secara langsung, tetapi aku tidak bisa mendengar apa pun.

Yang bisa aku lihat hanyalah putriku, putriku yang masih begitu kecil.

Dia baru berusia 5 tahun dan sangat menggemaskan seperti malaikat. Namun, matanya yang selalu terlihat bersinar itu tertutup rapat dan tidak akan pernah terbuka lagi.

Perlahan-lahan, aku berlutut di depannya dan menangkupkan tangannya yang kecil dan penuh luka. Entah ke mana hilangnya jam tangan yang aku berikan kepadanya.

"Cherin, buka matamu dan lihat Ibu. Ibu membelikanmu boneka yang kamu sukai. Bukankah kamu bilang kamu akan selalu tidur dengan boneka itu di pelukanmu?"

"Bagaimana kamu bisa tidur dengan tenang kalau kamu sendirian?"

Namun, tidak peduli seberapa keras aku memanggilnya, dia tidak merespons perkataanku.

Aku membalik telapak tangannya dan melihat foto keluarga kami yang dia gambar sendiri. Aku tidak tahan lagi dan menangis pilu.

Saat itu pukul tiga pagi, satu jam sebelumnya aku menemukan tubuhnya di kaki bukit tempat dia dan ayahnya, Rizald, berkemah.

Dia masih hidup dan sehat ketika kami meninggalkan rumah sore sebelumnya.

Aku sendiri yang menggendongnya ke kursi belakang mobil Rizald saat itu.

"Cherin, apa kamu senang karena kamu bisa tidur di tenda di atas bukit bersama Ayah?"

Dia mengangguk dengan penuh semangat dan menunjukkan gerakan yang terlihat ketakutan.

Dia tidak bisa bicara, memang sudah tidak bisa bicara sejak dilahirkan.

Aku ingat saat itu aku bicara kepadanya, "Cherin jangan takut, ada Ayah, dia akan melindungimu."

Selama lima tahun sejak Cherin lahir, Rizald selalu punya alasan untuk tidak merayakan ulang tahunnya. Kali ini, setelah aku memohon 99 kali, barulah dia bersedia merayakannya.

Dia menatapku dengan tidak sabar saat masuk ke dalam mobil.

"Sudah selesai? Kalau matahari sudah terbenam sudah nggak perlu pergi lagi."

Dia setuju untuk menemani Cherin berkemah untuk melihat matahari terbenam dengan syarat aku tidak boleh ikut.

Cherin ingin menghabiskan hari ulang tahunnya bersama ayahnya. Itulah yang dia harapkan saat ulang tahunnya tahun lalu.

"Sudah, kok." Aku memeriksa kembali jam tangan Cherin sebelum menutup pintu. "Kalau terjadi sesuatu, jangan lupa untuk menelepon Ibu, ya?"

Meskipun Cherin tidak bisa berbicara, kami memiliki kesepakatan bahwa jika dia dalam bahaya, dia akan meneleponku tanpa berbicara.

Aku merasa bahwa semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.

Aku tidak tahu bahwa wajah kecil yang terpantul di jendela mobil adalah kali terakhir aku bisa melihat wajah itu dalam keadaan hidup.

Keesokan paginya, Rizald tidak membawa Cherin kembali. Cherin pun tidak terlihat.

Aku berlari ke atas bukit untuk mencarinya. Yang tersisa di tempat itu hanyalah tenda yang rusak dan tumpukan sampah.

Aku menelepon Rizald sambil mencari Cherin di atas bukit.

Hari sudah larut malam dan akhirnya Rizald menjawab panggilanku. Yang keluar dari mulutnya hanyalah makian.

"Aliona apa kamu gila? Apa kamu nggak tahu kalau aku baru sampai hotel karena mau dinas kerja? Kamu menelepon terus, kalau kamu nggak mau istirahat, aku masih butuh istirahat!"

Saat itu aku menghela napas lega, "Maaf karena sudah mengganggu tidurmu. Kamu pergi dinas, apa kamu juga bawa Cherin bersamamu?"

Kerendahan hatiku dibalas dengan cibiran dari Rizald.

"Aku sudah menyuruhnya pulang. Apa keteledoranmu bikin dia hilang, jadi kamu malah menyalahkanku? Ibu macam apa kamu ini?"

"Aku tahu. Aliona, kamu pasti melihat statusku, jadi kamu sengaja berbohong, ya?"

"Aku hanya mengajak Wilona dan putrinya berkemah. Wilona ibu tunggal dan anaknya nggak punya ayah. Apa salahnya aku menjaga mereka? Kamu membuatku muak dengan kebohonganmu!"

Aku membuka status media sosialnya..

Aku melihat foto baru yang dia unggah.

Di foto itu ada dia, Wilona dan anak perempuannya. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia.

Aku tahu kalau Cherin sendiri yang mengambil foto ini untuk mereka.

Betapa benar-benar kejam dan menakutkan.

Namun sampai saat itu, aku masih bisa berpikir bahwa dia tidak sejahat itu sampai meninggalkan putrinya sendiri.

Sampai aku melihat tubuh dingin putriku di dasar bukit, bahkan beberapa anjing liar telah menggerogoti tangan dan kakinya hingga berdarah.

Wajahnya sudah memucat, bahkan ada aroma busuk yang menguar.

Pada saat itu, aku merasa hatiku seperti dicabik-cabik.

"Suamimu menelepon, apa kamu mau jawab?"

Suara petugas polisi itu menarikku kembali ke dunia nyata.

Aku melihat kata suami yang terpampang di layar ponsel.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kematian Berujung Perceraian

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Kehidupan baru Anisa Rahma dimulai setelah ia menikah dengan Seno Bagaskara, seorang pria kaya raya. Di kediaman megah keluarga suaminya, ia harus beradaptasi tinggal bersama para ipar. Namun, di balik kemewahan itu, bahaya mengintai. Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno serta suami dari iparnya memendam hasrat terlarang padanya. Kini, ia terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah tersebut. Mampukah Anisa bertahan menghadapi situasi rumit ini?
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berbalik total setelah sebuah rahasia di kampusnya terungkap. Ezza, sosok suami yang dinikahinya melalui perjodohan orang tua, mendadak hadir sebagai dosen baru di tempatnya berkuliah. Kemunculan Ezza yang tiba-tiba di hadapannya memicu kecurigaan besar dalam benak Bunga. Ia pun mulai mempertanyakan tujuan sebenarnya dari sang suami. Apakah ada motif terselubung di balik keputusan Ezza, ataukah semua ini murni ketidaksengajaan?
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Dalam keheningan malam, Shila harus menahan rasa sakit saat Sam menyentuhnya dengan begitu intim. Di tengah situasi yang sangat berisiko ini, Sam berbisik setengah berbisik, meminta Shila agar tidak bersuara. Ia mengingatkan bahwa ayah dan ibu Shila bisa saja terbangun dan memergoki mereka. Ketegangan pun kian memuncak saat keduanya berusaha keras menyembunyikan hubungan rahasia ini dari jangkauan orang tua Shila yang berada di rumah yang sama.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Seorang penjelajah tersesat di Hutan Gondoriyo dan mengalami teror mistis saat kendaraannya hilang secara gaib. Di sebuah gubuk sunyi, pasangan lansia misterius sempat memperingatkannya. Meski sempat kembali dengan selamat, rasa penasaran justru menyeretnya kembali ke sana, namun hutan itu seolah menguap. Misteri pun kian kelam saat ia menemukan kaitan erat antara kecelakaan bus di jurang dan hutan tersebut, hingga ia harus bertaruh nyawa demi kebenaran.
Sampul Novel Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin
8.1
Clayden Ardhanesa, yang dahulu dikenal sebagai Bradford, rela meninggalkan kejayaannya di puncak dunia demi wanita yang sangat ia cintai. Ia memilih hidup sederhana dalam pernikahan sambil terus melindungi istrinya secara rahasia. Sialnya, begitu meraih kesuksesan besar, sang istri justru menganggap Clayden sebagai beban tak berguna dan menuntut perceraian. Namun, roda berputar saat nama Clayden kembali mengguncang dunia, menyisakan penyesalan mendalam bagi mantan istrinya yang kini bersujud menangis.
Sampul Novel Satu Malam Bersama Calon Besan
8.5
Setelah sekian lama menyendiri, sebuah kesalahan fatal terjadi dalam hidup Mira akibat pengaruh alkohol di malam ulang tahunnya. Ia melewati malam yang intim bersama Rendi, lalu pergi tanpa sempat mengenali wajah pria itu. Saat mencoba melupakan kejadian tersebut, Mira justru dikejutkan oleh kenyataan pahit saat bertemu calon besannya. Rendi ternyata adalah ayah dari calon menantunya. Kini, keduanya terjebak dilema antara melupakan malam itu atau berselingkuh di belakang anak-anak mereka.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED