Sampul Novel Kelahiran yang Menghancurkan

Kelahiran yang Menghancurkan

9.5 / 10.0
Alana disekap di ruang bawah tanah oleh suaminya, Alexander Santoso. Di usia kandungan sembilan bulan, ia dipaksa menerima suntikan penahan kontraksi agar Elisa, janda mendiang kakak Alexander, melahirkan lebih dulu demi mengamankan warisan Teluk Barat Jaya. Meski Alana memohon demi keselamatan bayinya dan membantah tuduhan serakah, Alexander mengabaikannya demi sumpah darah masa lalu. Penyesalan mendalam datang saat Alexander mendapati bahwa istri dan anaknya kini telah tiada.
Ringkasan Kelahiran yang Menghancurkan
Alana disekap di ruang bawah tanah oleh suaminya, Alexander Santoso. Di usia kandungan sembilan bulan, ia dipaksa menerima suntikan penahan kontraksi agar Elisa, janda mendiang kakak Alexander, melahirkan lebih dulu demi mengamankan warisan Teluk Barat Jaya. Meski Alana memohon demi keselamatan bayinya dan membantah tuduhan serakah, Alexander mengabaikannya demi sumpah darah masa lalu. Penyesalan mendalam datang saat Alexander mendapati bahwa istri dan anaknya kini telah tiada.
Baca Selengkapnya

Kelahiran yang Menghancurkan Bab 1

Saat usia kehamilanku sembilan bulan, aku sudah ada di penghujung masa kehamilan, tubuhku terasa berat dengan bayi yang bisa lahir kapan saja.

Tapi suamiku, Alexander Santoso, wakil kepala keluarga, justru mengurungku. Dia menahanku di sebuah ruang medis bawah tanah yang dingin dan steril, lalu menyuntikkan obat penahan kontraksi.

Saat aku berteriak kesakitan, dia menatapku dengan dingin dan berkata aku harus menahannya.

Karena pada saat yang sama, istri almarhum kakaknya, Elisa juga diperkirakan akan melahirkan.

Sebuah sumpah darah yang pernah dia buat dengan mendiang kakaknya menyatakan bahwa anak laki-laki sulung akan mewarisi wilayah keluarga di Teluk Barat Jaya yang begitu menguntungkan.

"Warisan itu milik anak Elisa," katanya.

"Davin sudah tiada, dia benar-benar sendirian dan tak punya apa-apa. Seluruh cintaku tetap untukmu, Alana. Aku hanya butuh dia melahirkan dengan selamat. Setelah itu, barulah giliranmu."

Obat itu membuat tubuhku terus-menerus tersiksa. Aku memohon padanya untuk membawaku ke rumah sakit.

Dia justru mencekik leherku, memaksaku menatap mata dinginnya.

"Berhenti berpura-pura! Aku tahu kau baik-baik saja. Kau cuma berusaha merebut warisan itu."

"Untuk mendahului Elisa, kau rela melakukan apa saja."

Wajahku pucat, tubuhku bergetar hebat. Dengan sisa tenaga, aku berbisik lirih, "Bayinya akan lahir... aku tidak peduli soal warisan. Aku hanya mencintaimu, dan aku ingin anak kita lahir dengan selamat!"

Dia mencibir. "Kalau kau memang sesuci itu, kalau kau benar mencintaiku, kau tak akan pernah memaksa Elisa menandatangani perjanjian pranikah yang membuat anaknya kehilangan hak warisan."

"Jangan khawatir, aku akan kembali padamu setelah dia melahirkan. Bagaimanapun, kau mengandung darah dagingku."

Sepanjang malam, dia berjaga di depan ruang bersalin Elisa.

Baru setelah melihat bayi itu di pelukan Elisa, dia teringat padaku.

Dia akhirnya menyuruh tangan kanannya, Raka untuk membebaskanku. Tapi ketika Raka menelepon, suaranya gemetar.

"Bos... nyonya dan bayinya... mereka sudah tidak ada."

Di saat itu juga, Alexander hancur.

Dengan perut yang sangat besar, aku menyeret diriku di lantai, merangkak menuju pintu baja yang berat itu.

Tepat saat pintu itu menutup dengan dentuman keras yang mengguncang, jariku terjepit di kusen.

Aku mendengar suara tulang yang patah, renyah dan mengerikan.

Rasa sakit baru menghantam, menenggelamkan siksaan obat dalam tubuhku. Aku menjerit sekuat tenaga, teriakan melengking merobek tenggorokanku.

Tapi pikiran Alexander hanya tertuju pada Elisa. Tangisku sama sekali tak terdengar olehnya.

Tiba-tiba, cairan hangat merembes turun. Aku tahu ketubanku sudah pecah.

Ketakutan yang dingin dan mutlak menelan seluruh diriku.

Satu-satunya cahaya hanyalah kilau hijau redup dari lampu darurat di atas pintu.

Aku berusaha menenangkan diri, menghantam pintu dengan tinju lemahku, berteriak minta tolong.

Tapi ini ruang operasi pribadi milik Alexander yang terisolasi, kedap suara, tanpa jendela.

Tidak ada seorang pun yang bisa mendengar rintihanku yang makin melemah.

Bayiku menendang keras-keras, seakan berusaha melepaskan diri dari penjara dingin ini.

Tubuhku basah kuyup, entah karena keringat atau darah.

Racun dari obat penahan kontraksi itu terus menyedot tenagaku, mencuri hidupku detik demi detik.

Dengan sisa kekuatan terakhir, aku menjerit sekali lagi, putus asa.

Akhirnya, kudengar langkah kaki di luar.

"Tolong aku!" Aku menjerit, suara serak. "Aku terkunci di ruang operasi! Aku mau melahirkan!"

Aku ulangi lagi dan lagi, yakin pertolongan sudah datang.

Tapi suara yang menjawab membuat darahku membeku, penuh kebencian sadis.

"Wah, Alana. Lihat dirimu yang menyedihkan. Alexander seharusnya sudah mengajarkanmu cara patuh sejak lama."

Itu suara Gianna, adiknya Alexander.

Aku memejamkan mata, berusaha menahan suara agar tetap tenang. "Gianna, kumohon... lepaskan aku. Bayinya mau keluar. Aku tak kuat lagi."

Gianna membuka pintu, menatapku dari atas dengan wajah penuh jijik.

Sesaat aku sempat berharap dia akan menolongku.

Namun di detik berikutnya, kakinya menghantam tulang rusukku. Nafasku seketika terhenti, bintik-bintik gelap mulai berputar di pandanganku.

Suaranya setajam pisau cukur.

"Melepaskanmu? Supaya kau merusak persalinan Elisa? Tetap di situ, Alana. Alexander menyuruhku mengawasi."

"Kau tidak pantas jadi istri Alexander. Dia ingin kau tetap di sini, merenungkan kesalahanmu. Alexander sudah cukup terbebani tanpa kau bikin masalah."

"Anak Elisa lah yang akan jadi pewaris keluarga ini. Trik murahanmu tidak akan mengubah kenyataan."

Kontraksi berikutnya menghancurkan tubuhku, membuat jeritan meluncur paksa dari bibirku.

Air mata mengalir deras. Aku terisak, terengah-engah.

"Anakku tidak akan ikut dalam urusan keluarga... aku akan menyerahkan semuanya! Tolong, sampaikan pada Alexander. Biarkan aku pergi. Aku akan lenyap dari keluarga ini, takkan menoleh lagi. Aku bersumpah."

Teriakanku hanya membuat Gianna makin marah.

Dia menyeringai jijik. "Perempuan murahan. Kau kira bisa merayu siapa dengan tangisan itu? Menyedihkan."

Dia menekan tombol radio komunikasi, menghubungi Alexander.

Siksaan dari obat dan rasa sakit melahirkan itu mencabik jiwaku sampai hampir hancur.

"Tenang saja, Alexander, jangan khawatir. Aku akan terus mengawasinya," jawab Gianna.

Saat mendengar suara Alexander, secercah harapan menyala di dadaku. Dia pasti peduli. Dia pasti peduli pada anak kami.

Aku menjerit sekuat tenaga, "Alexander! Bayinya mau lahir! Sekarang! Kumohon, suruh Gianna bawa aku ke rumah sakit! Tolong!"

Suara tangisku parau, bergetar tanpa kendali.

Gianna ragu. Aku mendengarnya berbisik ke radio komunikasi, "Alexander, aku mulai percaya ini sungguhan. Dia berteriak seperti itu, aku tidak percaya dia sedang berpura-pura. Mungkin sebaiknya aku membawanya ke rumah sakit. Bagaimanapun juga, dia adalah satu-satunya anakmu. Kalau sampai terjadi sesuatu..."

Alexander terdiam beberapa detik, seolah mempertimbangkan.

Lalu suaranya melunak. "Baiklah, kalau begitu bawa saja dia..."

Namun tiba-tiba, suara lembut menggoda terdengar dari ujung sana.

"Alexander, sayang, aku haus. Bisa ambilkan aku sampanye? Dokter bilang aku harus rileks supaya kuat melahirkan pangeran kecil kita."

"Oh, Alana sedang melahirkan? Itu bukan apa-apa, sayang. Sama sekali tidak sakit. Sejujurnya, aku merasa seperti bisa berlatih maraton. Alana itu perempuan kuat, dia akan baik-baik saja."

Tentu saja Elisa tak merasakan sakit itu.

Seluruh tim medis keluarga dan fasilitas mewah dialihkan hanya untuknya. Dia diperlakukan bak ratu.

Beberapa kata dari Elisa saja sudah cukup untuk mengubah segalanya. Untuk mengubah pikiran Alexander.

Suaranya kembali membeku.

"Tidak ada yang akan terjadi. Dia cuma berpura-pura. Kalau kau sampai tertipu, kau hanya akan terlihat bodoh."

Sambungan mati.

Tersengat oleh hardikan Alexander, Gianna melampiaskan amarahnya padaku.

Dia merogoh kotak kulit dan mengeluarkan seekor ular, lalu melangkah mendekat ke arahku.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kelahiran yang Menghancurkan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat kondisi hormon ini tak lagi tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta tolong kepada gurunya di ruang guru. Kejadian tak terduga itu menjadi awal mula rahasia mereka. Hubungan guru dan murid ini pun perlahan berubah menjadi jalinan asmara rumit yang sangat berisiko bagi keduanya.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menguak sisi kehidupan tersembunyi yang jarang dibahas. Di balik topeng kesucian, terdapat luka mendalam, dilema, serta kerinduan emosional yang rumit. Melalui penyampaian yang realistis dan eksplisit, Anda diajak merenungkan jati diri di tengah kegelapan demi meraih titik terang. Sebuah bacaan penuh makna tentang pencarian hakikat hidup dan cinta yang berliku, siap memberikan sudut pandang baru yang mendalam bagi pembacanya.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima tega menguji ketulusanku lewat obsesi kejam mereka pada Sandra. Puncaknya, demi menyelamatkan perempuan itu dalam sebuah kecelakaan, mereka membiarkan tanganku hancur hingga karier musikku hancur total. Reaksi diamku saat liontin peninggalan ibu dihancurkan Sandra membuat mereka heran. Namun di rumah sakit ini, cintaku telah mati. Aku sadar ini hanyalah sangkar penyiksaan. Kini, aku bersiap untuk pergi dan membalas semua kepedihan ini.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu per satu orang di sekitarku tewas secara mengerikan. Mulai dari sahabat, kerabat dekat, hingga musuh-musuh yang pernah berbuat jahat kepadaku, semua berakhir tragis. Sang pembunuh berdarah dingin beraksi sangat rapi tanpa meninggalkan bukti sedikit pun. Teror mencekam ini terus berlanjut, memakan korban baru tanpa bisa dihentikan. Kini, di tengah misteri yang tak terpecahkan, nyawaku sendiri pun terancam menjadi target berikutnya dari sosok misterius yang mengintai.
Sampul Novel Nafsu Kakak Tiriku
9.6
Nando diam-diam terobsesi pada adik tirinya, Laily, yang dikenal anggun. Suatu malam, ia mencoba melecehkan Laily saat gadis itu bersiap ibadah. Beruntung, Abdi yang sedang mabuk datang menolong. Sialnya, keadaan justru berbalik hingga Abdi difitnah sebagai pelaku asusila. Akibat tuduhan keji tersebut, Abdi terpaksa menikahi Laily guna mempertanggungjawabkan kesalahpahaman yang merusak nama baiknya.
Sampul Novel PRIME MINISTRE'S DAUGHTER
8.2
Demi menikahi Eleanore, putri perdana menteri yang dingin, Ken nekat memakai cara licik. Kebahagiaan keponakan raja itu sirna setelah pernikahan terwujud, karena Ken justru mengungkap rahasia kelam masa lalu istrinya. Hal ini memicu kebencian mendalam dan mengubah sikap Ken menjadi sangat drastis. Meski hatinya hancur disakiti oleh sang suami, Eleanore tetap bertahan dalam cinta di tengah konflik masa lalu yang sulit dimaafkan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED