Rumbai-rumbai cahaya, menerebos pintu kayu kuning keemasan. Menemani, dua orang di tengah halaman. Ukiran kayu yang cantik nan rumit, inilah keindahan. Tertata, buah dan bunga di meja. Aroma kantung bunga lavendel, terus menari di udara. Sungguh disayangkan, untuk keadaan saat ini, harus ada suara penuh minat. "Kamu harus segera mencari wanita, yang bisa mengamankan dan mengokohkan posisimu. Mengerti!" suara seorang wanita penuh keinginan. Sedikit menekankan kata menikah.
Lelaki di depannya, tetap menunduk dan tidak mengiyakan ataupun menolak. Kedua tangan menyatu, diletakkan di depan dada. Sedikit bungkukan, guna memberi hormat lalu pamit keluar.
Tepat baru 2 langkah, mencoba melirik ke belakang, memperlihatkan ujung dagu dan ekor mata. "Saya tidak memiliki waktu luang untuk itu," ucapan dingin nan datar. Menemani langkah kepergian Putra Mahkota. Wajahnya ikut mendatar, tidak ada garis senyum sedikitpun. Disertai tarikan alis, dia keluar sehabis menyapa Permaisuri kekaisaran. Sekaligus ibundanya sendiri.
Sang ibunda menarik napas dan menghembuskan napas dalam. Dibarengi lontaran kekesalan di dalam hati. 'Dasar pria dingin ini! Jika bukan aku yang bekerja keras sampai di detik ini! Apa dia bisa bertahan di posisi sekarang? Ahh!' deruan napas, tetapi lebih merunjuk kedengusan kesal. Sambil memijat pelipis, benih mata bergerak kekanan-kekiri. Seperti memikirkan sesuatu, membuat lipatan di dahi.
---
"Kenapa Putra Mahkota harus dijodohkan dari klan Lu? Huh! Apa anakku tetap menikahi si 'sampah masyarakat' itu? Heh, menggelikan sekali, tidak habis pikir. Semua anak keluarga Lu menonjol dengan bakat masing-masing. Tapi--- kenapa harus perempuan satu itu, yang tidak memiliki bakat apapun? Baiklah, seandainya diangkat menjadi selir. Belum layak disandingkan terhadap Putraku. Tapi kekuatan dari klan Lu, tidak bisa dianggap remeh. Ssst," oceh wanita ini. Telunjuk kanan mengetuk meja.
---
Suara riuh gemuruh di dalam perut, membuat Xiao li hanya bisa menelan ludah kering. Angin malam begitu dingin, menusuk di Hanfu pudar nan kaku. Tidak ada arang, tidak ada alas. Hanya ada tumpukan jerami kering. Terdapat jerami kering, Xiao li tetap tersenyum, dia bisa tidur di atasnya. Rona merah di pipi masih membekas, akibat tamparan salah satu dayang milik kakak pertama.
Tidak ada cahaya menemani di halaman ini. Tangan itu meraba, mau menenangkan diri dan mengistirahatkan tubuh lemahnya. Di detik ini, Xiao li tidak memikirkan pipi merah, dahi membengkak! Apalagi kedinginan yang melandanya. Direbahan pejaman mata, hanya memikirkan sang ibunda. "Aku harus bertahan, aku tidak mau membuat ibu khawatir!" sembari menutup kembali bola mata. Kelopak mata sudah tidak bisa terbuka, saking lemah dan tidak memiliki tenaga.
---*
Byurrr!
Satu siraman air timba, membangunkan Xiao li. Dua dayang saling tertawa dan semakin mendekati Xiao li. Air dingin menyerbak ke seluruh badan, memaksa masuk ke mata, Dingin! Terpaksa, membuka kedua bola mata hitam, terkaget akan guyuran air. Dua dayang tidak mau menyentuh Xiao li, mereka menggunakan ujung sepatu. Semakin membangunkan Xiao li dari baringan. Cahaya pagi kian meninggi, menerawangi Xiao li di atas jerami.
"Cepat bangun! Sudah ditunggu oleh Putra Mahkota. Aku pikir, Putra Mahkota mau membatalkan pernikahan dengan sampah sepertimu!'' bentak salah satu dayang. Xiao li, padahal sudah membuka kelopak mata. Naas, tenaganya belum terkumpul sepenuhnya. Dia menggerakkan kedua tangan dan kaki. Kelambatan gadis itu untuk berdiri, membangkitkan rasa amarah dari dua dayang. Dia menyeretnya bangun, justru semakin membuat Xiao li terkejut.
"Bangun! Dasar lemah! Saya tidak mau menyentuh lama-lama tubuh bau ini!" begitu pedas ucapan dayang itu.
"Ayuk cepat jalan!" timpal sekali lagi dayang lebih kurus. Belum sepenuh hati kaki Xiao li berdiri, sudah di seret. Gadis ini, begitu patuh dibawa pergi mau menolak tidak ada tenaga. Xiao li menatap jalan, kakinya tersandung kerikil dan batu. Karena tidak berjalan dengan benar. 'Mau dibawa kemana lagi? Aku ingin sekali mengakhiri hidupku atau aku tidak bisa lagi membuka kelopak mataku. Aku ingin semua ini berakhir, tapi--- aku takut meninggalkan ibu sendirian,' batin Xiao li. Sekarang dia sudah berganti pakaian dan di seret lagi ke ruang tengah.
---
Tunas yang mengecil, langsung membesar dan membulat. Mengintip sudah ada tamu. Semua anak keluarga Lu berkumpul di ruang tengah. Ada seseorang mendekati Xiao li.
''Adik, ayo sini," lirih nona pertama, Lu an ran. Xiao li masih bingung, ada apa ini? Ain pekatnya menangkap seorang Pria duduk dengan tenang. Pria itu terus menyorotinya. Baru Xiao li sekilas meninjau, kembali menundukkan kepala. Malu dan takut. Tidak berani lagi menatap dan mengangkat wajah. Walau Xiao li sudah berganti pakaian. Tetap saja, dia tidak didandani seanggun nona pertama atau seglamor nona kelima. Memang nona keempat, tidak memiliki aksesoris atau peralatan untuk merias diri. Diberi jatah uang yang sedikit, oleh selir pertama. Ditambah uang sakunya, ditilap oleh dayangnya sendiri.
Hanfu yang dikenakan Xiao li sangat biasa saja. Tidak ada motif awan atau motif guguran bunga salju. Soalnya, model ini lagi ngetren di ibu kota. 'Mata itu terus menuju kepadaku, aku bisa melihat wajah Ibu yang gelisah. Siapa lelaki itu? Kenapa datang kesini, tetapi adaapa dengan mataku ini?' kata hati Xiao li. Dia terus mengejap-ngejapkan kedua bola mata. Maniknya berkunang-kunang, dari kemarin hingga sekarang. Belum merasakan sesuap makanan, masuk ke dalam mulut. Begitu lemas, lesu dan berjalan serampungan. Serasa, terhempas banteng akan tumbang. Dia berusaha mengumpulkan sisa energi, untuk tetap berdiri.
'Apa aku harus menikahi gadis itu, yang tidak berani menatap mataku?' monolog pria yang terus melonyok Xiao li dengan mata tajamnya.
''Cepat beri hormat kepada Putra Mahkota," suruh Ming bai sang ayah. Mendengar kata 'Putra Mahkota' pupil Xiao li bergoyang. 'A-ap--ppa Pu-putra Mahkota? Untuk apa dia datang ke sini?' Xiao li mendiam sejenak akan pemikiran itu, lantas memberi salam. Dia tahu, sudah bertunangan. Sayangnya, dari dulu hingga sekarang tidak pernah bertemu, kecuali di saat masih kecil. Pernikahan mereka, telah direncanakan oleh Kaisar terdahulu sejak kecil. "Sa-salam untuk Putra Mahkota, se--semoga harimu, ba-ba--haagia," salam gagap. Membuat semua orang keluarga Lu membuang wajah. Terkecuali, sang ibu yang menatap cemas putri tercinta.
Lu an ran memanfaatkan kesempatan, menunjukkan diri lebih bagus dari adiknya. "Maaf 'kan adik hamba Putra Mahkota, dia sedikit gugup saja. Maka dari itu ... Hamba akan menggantikannya memberi salam," pungkas An ran. Membungkukkan badan ke depan, tangan ditumpuk di bawah dada. Kaki sedikit menekuk, di tutup senyum. Sang ayah, tampak bangga akan prilaku putri pertamanya.
Tindakan itu, tidak berlaku bagi nona ketiga. ''Sihh! Aku ingin meninju mulut itu!'' gumam Ming yi. Tak terima An ran mencari muka.
"Adik, tenangkan dirimu, kita berada di mana?" balas sang kakak. Lu bing bin membisiki sang adik. Mereka cukup jauh dari Putra Mahkota.
Di ruang tengah, ada Lu ming bai dan Xiao meng. Kedua selir, tidak di sini guna menghormati Putra Mahkota. Malah semua anak Lu ming bai ada di sini. Putra Mahkota, datang kemari atas perintah sang Permaisuri. Agar membatalkan pernikahanya dengan nona keempat. Semisal, keluarga Lu menolak atau nona keempat menolak. Jalan satu-satunya menjadi selir Putra Mahkota. Membawa dekrit Kekaisaran, sang pengawal Putra Mahkota membacakan isi dekrit dengan tegas.
Sebelumnya, Permaisuri meminta kepada Kaisar untuk membatalkan pernikahan anaknya. Berdalih, Xiao li si 'sampah masyarakat' tidak memenuhi kualifikasi sebagai Permaisuri masa depan. Dia membuat keributan, supaya membatalkan pernikahan anaknya. Kaisar pun menerima saran Permaisuri, sayangnya janda Ibu suri tidak tahu akan hal itu.
Gulungan berwarna kuning keemasan, terbuat dari bahan paling bagus. Terlihat begitu indah dan megah, faktanya. Di dalamnya berisi hal sebaliknya. Baru pengawal membacakan salam pembuka. Xiao li yang berlutut tiba-tiba. 'Aku tidak mendengar jelas dan juga aku tidak bisa menahan ini lag--gi ak .…' hati Xiao li mulai mendiam. Indra penglihatan berkunang, mencoba mengambil alih kesadaran. Sedangkan, pengawal itu terus membaca isi dekrit. Sampai di tengah pembacaan dekrit.
"Jadi, nona Keempat dari keluarga Lu dan Putra Mahk--"
Brakggh!
"Xiao er!"
Teriak Xiao meng sang ibu, membidik sang anak terbaring di lantai. Membuat pengawal berhenti membaca dekrit Kekaisaran, isinya pembatalan pernikahan. Putra Mahkota, menyaksikan keluarga ini bak menonton opera. Hingga bangkit dan memutuskan pergi dari sini.
Sedikit memberi wajah untuk Xiao li. "Sepertinya, keadaan tubuh Nona Keempat tidak cukup baik. Saya memutuskan menghentikan sampai di sini. Maka, tunda dulu hari ini, setelah kesehatan nona Keempat membaik, baru lanjutkan masalah ini. Tentunya, dengan pembatalan pernikahan!" tegas Putra Mahkota. Berjalan meninggalkan kediaman keluarga Lu. Nona pertama, An ran tidak mau kalah, dia menghantarkan kepergian Putra Mahkota.
Sang ibu memanggil tabib, tetapi Ming bai tampak mengeluarkan ekspresi ketidak kesukaannya. Sehari setelah kejadian ini. Putra Mahkota yang mengunjungi kediaman Lu dan membatalkan pernikahan. Serta merunjuk Xiao li bukan lagi tunangan Putra Mahkota. Rumor aneh menyebar ke seluruh penjuru. Orang-orang yang mengolok-olok Xiao li, sekarang lebih kejam lagi. Sudah hilang bayang-bayang tunangan Putra Mahkota, apalagi Permaisuri masa depan! Meski belum sepenuhnya dibatalkan oleh Putra Mahkota. Karena Xiao li belum menerima dekrit. Seharusnya, Xiao li masih tunangan Putra Mahkota. Walaupun dekrit itu sudah turun, tetapi belum dijalankan. Orang-orang tidak menganggap Xiao li sebagai tunangan Putra Mahkota dan calon istri masa depan Putra Mahkota! Memang dari dulu, tidak ada yang menganggap tinggi Xiao li.
---*
Keesokannya, ketika Xiao li keluar disuruh sang kakak. Sorot mata orang-orang di sekeliling, menertawai langkah kaki gadis ini. Dia hanya ditemani satu pelayan saja. Malah, dirinya sendiri yang kerepotan membawa belanjaan.
''Heh, lihat itu! Dia diputuskan oleh Putra Mahkota hahah!" tawa nyaring. Xiao li masih menunduk, tidak memperdulikan ucapan yang mengolok-olok dirinya.
Sepanjang jalan, Xiao li ditertawai dan di cemooh. Memilih jalan pulang yang sedikit sepi. Kaki itu berjalan tidak biasa, mulai digantikan larian kecil. Sudah jelas, Xiao li tidak bisa berlari dari kepungan para Pria entah dari mana ini. Netra hitamnya melesat takut, belanjaan berceceran di mana-mana. Pelayan tadi tidak terlihat, dirinya sekilas meninjau samar-samar. Menangkap, sedikit asing terhadap tempat ini. Akibat berlari sembarangan. Tubuh kurusnya gemetaran, mengintip di sekeliling sudah ada…*..*
Gercikan air terpantul di bebatuan bisa di tangkap telinga Xiao li. Tanpa sadar, larian itu mengarah ke sebuah air terjun. Memang sengaja, 4 Pria itu mengiring Xiao li menuju ke air terjun. Kaki memberat, mau maju ada 4 Pria memasang seringai, siap menerkamnya. Mau mundur, ada jurang air terjun. Terlihat, dari atas tidak bisa melihat dasarnya. 'Bagaimana ini? Apa aku melompat saja, tapi aku masih ingin bersama Ibuku. Meski aku tidak berguna begini!' pikir Xiao li. Mulai memperlihatkan kerutan di dahi.
Mereka berempat memiliki perawakan yang beragam. Bila disimpulkan para lelaki itu adalah kultivator tingkat 3 ranah 2. Mungkin dialah pemimpinya, badannya sedikit gemuk. Memiliki wajah kaku dengan warna kulit gandum. Sedangkan pria di sisinya, dia tinggi dan kurus. Auranya tidak terlalu menonjol, pasti baru tahap 2 awal. Kalau yang botak, dia pendek. Memancarkan tekanan yang kuat, tidak sekuat si pria gemuk. Sisanya, dia berperawakan tinggi, tidak kurus dan tidak berisi, paling dia kultivator tingkat 2 ranah ketuju. Walaupun begitu, tetap saja mereka bukan tandingan Xiao li. Para pria itu, jelas mengutatarakan keinginnaya, dari sorotan mata mereka. Tidak ada tatapan persahabatan!
"Hehehe, Gadis bodoh! Kematianmu akan datang!" celetuk salah satu Pria bongsor. Disertai majuan teman botak.
"Hahaha, dasar sampah masyarakat! Sayang sekali ... kau mati sia-sia. Tapi, melihat dirimu yang kotor, siapa yang mau menyentuhmu!" ejeknya.
"Kekekeke dasar Babi!" timpal pria kurus kering. Semua pria melangkah maju, semakin Xiao li mundur. Meski dia memberanikan diri, 4 lelaki bukan tandingannya. Seumpama, dia melompat lalu berenang ke tepian, tetap saja! Dia akan terseret arus, terlebih lagi, tidak bisa berenang. Xiao li benar-benar berada di keadaan terburuk. Badan kecilnya, kembali menggigil cemas.
"Hehe, jangan membuat Kakak menunggu. Lompat saja, kalau begitu--- bukan kami yang membunuhmu, tapi kebodohan dan kelemahanmu!"
"Hahahah, hahaha."
Mereka menertawai Xiao li, yang akan mati tepat di depannya. Mendengar tawa itu, gadis ini terus menggigil. Para lelaki semakin mendekati Xiao li. Mau tidak mau, dia memutuskan melompat ke arus sungai.
"Akkkkhhhh."
Raung Xiao li terlempar di ujung arus, tetapi kedua tangan masih memegangi bebatuan. Tubuhnya bergelantung di arus sungai. Rasa takut mencengkam ke dalam diri. Tangan bergoyang, tunas menyoroti 4 pria yang berdiri di sisi sungai. Bidikan Xiao li, mampu memberhentikan tawa mereka sejenak.
"Sial! Apa mau kucongkel mata itu! Berani sekali memelototiku!" murka salah satu pria. Memutuskan mengambil batu. Melempari gadis yang masih bertahan memegangi ujung batu, agar tidak terjatuh ke bawah.
Byurs, syut! Dugh plak.
Lemparan demi lemparan batu, dihiasi tawa mereka. Satu batu, dua batu, 4 batu. Xiao li tidak bisa menahan jauh lebih lama lagi. Dia tidak memiliki kekuatan spiritual apapun. Makanya tidak bisa membuat kontrak dengan hewan spiritual. Darah segar merintik dari; bibir, hidung serta wajah yang terkena lemparan batu. Netranya membulat, mulai mengumandangkan suara getar, "Meski dewa kematian mencabut nyawaku sekarang! Aku akan merangkak keluar dari kubur dan membalas! Nyatanya, aku tidak memiliki kekuatan apapun. Sial! Aku benar-benar sampah!" umpat Xiao li. Kesal dengan diri sendiri. Sampai di titik ini, dia tidak bisa melakukan apapun. Walau nyawanya terancam!
Kelopak mata mulai mengatup, menahan sakit. Baru di buka, sebuah batu seukuran bola tepat di depan alis. Benih mata terasa mendelik keluar, belum sempat menghindar sepenuhnya, malah dihujani batu lagi. Membuat keseimbangnnya runtuh.
"Terimalah ini!" Disertai lemparan batu yang mengenai tangan Xiao li, membuat pegangan tangannya terlepas.
Blagkh!
"Akhh! TIDAAAAAAAKKK!!"
Jeritan gadis ini, jatuh bersama batu-batu. Tubuh dan suaranya tidak lagi terdengar, ataupun terlihat. Bola mata hitam sepenuhnya tertutup. Tenggelam ke dasar, sesaat kembali mengambang di dasar jurang air terjun. Ketika gadis ini terjatuh dan tenggelam. Rasa dingin menyusup ke tubuh, dada sesak. Matanya kian lelah, ingin tidur sekarang juga. Dia tidak bisa lagi membuka kedua bola mata. Hanya, menyisakan kegelapan dan terdampar di sisi lembah.
"Hahaha, akhirnya mati juga, kita bisa menerima 500 tael perak hahah! Ayo bubar, mari kita ke rumah bordil hhehe!" ajakan dari bos mereka.
"Dia sudah mati. Tidak ada yang keluar hidup-hidup dari jurang air terjun ini. Dikatakan, di bawah air terjun adalah lembah Húdié. Kecuali dia setan, yang merangkak keluar!" himbuh bos mereka. Sedikit angkatan bahu. Merasa merinding dan meninggalkannya begitu saja.
---
Lembah Húdié, lembah yang terkenal di negeri Pùbù. Tidak ada yang pernah keluar hidup-hidup dari lembah ini. Ketika Xiao li terjatuh. Sangat jelas, dia tidak memiliki harapan untuk hidup. Dia tahu ini, di saat terjatuh memikirkan; "Aku terjatuh di sini? Sudah pasti, hanya bisa mati! Aku tahu aku bodoh, tapi aku tahu tempat ini paling mematikan di negri Pùbù. Ya, di lembah Húdié. Sayang sekali, aku harus mati di sini. Pasti begitu sepi dan sunyi. Maafkan aku Ibu, bila aku belum berbakti sepenuh--nya," pejaman mata itu. Mengakhiri ucapan gadis ini, untuk terdiam selama-lamanya.
.
..
…
---
"Di mana nona Keempat? Ini sudah malam, tapi belum kunjung datang!" nada tinggi disertai kekhawatiran. Kakek tua dengan rambut memutih. Datang 2 pria gagah, mengenakan seragam biru muda.
"Hormat ketua Klan. Maafkan kami, kami belum bisa menemukan keberadaan nona Keempat!" lapor salah satu pengawal. Mereka berlutut dan memberikan hormat. Mendapat laporan begini, mata keriput tuanya mengecil. Menghunuskan tinju ke pilar, guna meluapkan emosi. Membuat, cekungan sebesar piring kecil di pilar. Tunas para pengawal, saling menatap dan menunduk malu.
"Hukum saja hamba ketua, Hamba tidak bisa menemukan nona Keempat!" sesalnya. Mengepal kedua tangan. Mendapati para pengawal menyalahkan diri. Kakek ini menenangkan dirinya. "Sudah! Jika aku menghukum kalian, siapa yang akan mencari nona Keempat? Cepat pergi! Jangan pulang sebelum menemukan Xiao erku!" pinta ketua klan. Meski sudah tua jangan salah, dia menjadi ketua klan, yakni Lu san tu.
Suasana semakin mencengkam, menunggu kabar dari nona keempat. Sang ibu tak henti-hentinya menangis dari tadi siang. Kedua kakak beradik masih berdiri di pojokan.
"Kakek, kakek tenang dulu. Kakek 'kan baru saja mencapai tahap ke 5, baru pulang dari pengasingan. Jadi tahan amarah Kakek," tahan An ran. Memegangi kakeknya.
Begitu gelisah, "Bagaimana bisa tenang, kamu sebagai nona Pertama kediaman Lu. Seharusnya, menjaga Adikmu! Tahu begini, Kakek cepat pulang!" balas Lu san tu. Mengomeli cucunya.
Selang beberapa jam, para pengawal kembali lagi, Lu san tu sedikit senang. Namun, melihat wajah para pengawal ….
"Tuan, ka--m-i menemukan ini di sisi sungai," lirih pengawal bayang-bayang milik Lu san tu. Badan tuanya memundur sebentar. Sececah, sebuah tangan mulai maju. Mengambil serpihan sayatan kain hijau. Xiao meng sang ibu mendengar ini, langsung berlari dan menangis. Dia tahu pemilik kain ini, badannya bergetar. Hingga tidak bisa menjaga kesadaran dan terjatuh ke lantai.
Menyaksikan menantu jatuh pingsan, dia mengernyitkan alis. "Pelayan! Cepat bawa nyonya Xiao ke kamar dan panggilkan tabib, segera!" perintah Lu san tu. Kembali melirik serpihan kain. Matanya langsung memerah, tidak bisa berkata apa-apa. Tangan keriput, mulai meraih sayatan kain hijau. Warna ini sering digunakan oleh Xiao li, apalagi dia sering menggunakannya. Bukan berarti suka, tetapi tidak bisa membeli kain lainnya. Karena tidak memiliki uang! Sebelum kepergian Lu san tu dia mengingat, sang cucu berdiri di pojok pintu menatap kepergiannya. Maka gaun hijau, masih terbayang-bayang di asal pikirnya.
Pengawal mulai membuka mulut, "Tuan, kami menemukan ini. Didekat-dekat lem-le--lembah Húdiè ja--jadi ...," ucapan terputus. Segera membungkuk melanjutkan kalimat, "Ampuni kami tuan. Kami tidak bisa masuk kedalam, karena jiwa spiritual kami kurang kuat!" tundukan kedua pengawal. Diikuti wajah muram. Bisa dipastikan, nona keempat keluarga Lu meninggal.
Menangkap penjelasan itu, Lu san tu mencengkram pengawal dan mencoba membangunkannya, memastikan lagi. Namun, pengawal ini hanya mendiam, menyaksikan orang di depannya, mengeluarkan pandangan kosong.
"Apah! Le-lem--bah Húdié? Bukankah lembah itu, lembah paling mematikan. Bahkan aku tidak pernah mendengar, makhluk hidup yang bisa keluar dari dasar lembah. Apalagi adik yang tidak memiliki jiwa spiritual! Ahh, adik ka--kamuu," tangis An ran pecah, bersimpuh di bawah. Menutupi bibir yang tersenyum.
Brusssh!
"Tuan!"
Suaranya begitu menggema, 2 pengawal mendapati tuannya menyemburkan darah. Emosinya pecah di saat, An ran memperjelas lembah Húdié. Tidak bisa berkata-kata lagi. Tidak ada harapan!
"Kakek!" teriak secara bersamaan nona ketiga dan tuan muda kedua.
"Cepat bawa Ayah pergi ke dalam!" jerit Ming bai baru datang. Dia semakin kesal, "kurang ajar! Gadis bodoh itu! Sudah mati masih saja menyusahkan orang lain!" geram Ming bai. Bukannya prihatin dengan keadaan sang anak, malah menyumpahinya.
---*
Kabar ini cepat menyebar, bukaan mata Lu san tu dari kondisi buruknya. Rumor mengenai nona keempat semakin menjadi-jadi. Malahan fajar belum menyingsing, rumor aneh cepat menyebar. Orang-orang sudah ada di sini.
---
"Aku yakin, Xiao li bunuh diri, dia sudah diputuskan oleh Putra Mahkota," gerutu Lu nian. Tampaknya, sang kakak menegur, "adik! Kamu harus menjaga kata-katamu! Lihat kakek baru sadar!" balas nona pertama.
Lu san tu tetap mendengar obrolan mereka, semua orang tertunduk. Namun, di bibir mengukir senyum. Padahal belum fajar menjelang, kematian nona keempat sudah menyebar, dikatakan mati bunuh diri. Akibat pernikahannya dibatalkan, bagaimanapun juga. Belum sepenuhnya dibatalkan oleh Putra Mahkota. Kemarin ditunda karena kesehatan nona keempat memburuk.
.
..
…
"Ssst, aw! Punggungku?" desisan seorang gadis. Memegangi sebuah pinggang yang melembab…*..*