Bab 2

"Tetapi kenapa Ratna? Kenapa cowok itu, gak kamu jadiin pasangan kamu aja? Kamu juga kan belum ada pasangan, Ratna? Karena selama aku temenan sama kamu, kamu juga gak pernah kenalin aku sama cowokmu. Itu artinya, kamu belum punya cowok juga, kan? " tanyaku lagi.

Aku bertanya kepada Ratna, kenapa dia sampai tega ingin menjauhiku, dan kenapa ia tidak pacaran saja sekalian sama si cowok tersebut.

Padahal selama ini, aku juga belum pernah melihat Ratna memiliki pasangan. Sebab tidak ada satu orang pun cowok, yang Ratna perkenalkan sama aku. Sungguh aku merasa tersinggung, dengan sikap Ratna saat ini.

"Jangan ngaco kamu, Anisa. Aku sudah punya cowok, tau! Asal kamu tau, Nisa. Aku sudah memiliki cowok, sejak lama. Tapi, cowokku sedang mengejar S dua, di luar negeri. Makanya, si Bagas, aku mau kenalin sama kamu. Kalau aku belum punya cowok, sudah pasti aku akan menjadikan Bagas sebagai pacarku. Gak perlu repot-repot untuk ngenalinnya sama kamu," cerocos Ratna.

Ratna membentakku, saat aku menyuruhnya untuk berpacaran, dengan cowok yang bernama Bagas tersebut. Aneh Ratna ini, sampai segitunya Dia belain temen cowoknya, yang satu ini. Dia sampai rela berdebat denganku, demi laki-laki tersebut. Akupun akhirnya mengikuti keinginan Ratna, kalau hanya untuk sekedar berkenalan saja.

"Baiklah Ratna, aku mau kalau hanya untuk sekedar berkenalan. Tetapi, aku tidak akan langsung memutuskan kalau aku menerimanya, atau tidak. Untuk kelanjutannya, kita lihat saja nanti." Aku berkata, sambil menatap wajah Ratna yan cemberut.

"Nah gitu dong Nis, baru namanya temenku. Sekarang yang penting berkenalan aja dulu, baru setelah itu terserah kamu, mau lanjut atau pun tidak." Ratna langsung menyahut ucapanku, wajahnya pun kini berubah drastis, tidak merengut lagi.

"Kapan kita akan ketentuannya, Ratna?" Aku bertanya kepada Ratna, kapan kami akan ketemuan dengan Bagas.

"Kalau besok, kamu bisa tidak? Kamu gak lagi repot kan?" tanya Ratna.

Ia bertanya, sambil menatap wajahku tajam. Ia menanyakan kepadaku tentang skedulku

besok. Ratna bilang kalau besok aku tidak sibuk, kami akan mengadakan pertemuan dengan Bagas.

"Besok ya Rat, aku besok gak ada kegiatan deh kayanya. Boleh deh, besok," sahutku. Aku pun menyetujui rencana Ratna, untuk mempertemukanku dengan Bagas.

"Kita besok mau ketemuan dimana, Rat? Jam berapa?" tanyaku lagi. Aku bertanya tentang tempat dan juga waktu, untuk pertemuan besok.

"Gimana kalau di Restauran Samudra aja, yang deket kantorku. Besok jam makan siang, kita ketemu disana." Ratna menjawab ucapanku.

"Ok deh," kataku, sambil mengacungkan jempol, ke arah Ratna.

"Ya udah Nis, aku pulang dulu ya! Udah sore nih, kasian nanti Mamaku menunggu." Ratna mengakhiri percakapan kami, ia berpamitan sambil melihat arloji, yang menempel di pergelangan tangan kirinya.

"Iya Ratna, hati-hati di jalan. Jangan ngebut bawa motornya!" pesanku. Aku memberi peringatan kepada Ratna, supaya berhati-hati bawa motornya, dan jangan sampai ngebut.

"Iya Nis, terima kasih perhatiannya. Aku permisi ya, assalamualaikum," pamit Ratna. Iya berjalan menuju pintu, dan aku pun mengekorinya. Aku mengantar Ratna sampai teras depan.

Ratna menaiki motor matiknya, dan menstaternya. Setelah mesinnya hidup, ia pun langsung tancap gas. Aku kembali masuk ke dalam rumah, setelah Ratna tidak terlihat lagi.

Sesampainya di dalam rumah, aku masuk ke kamar. Aku malah kepikirkan sama semua ucapan, yang dikatakan Ratna tadi. Aku kepikiran ucapan Ratna, yang ingin mengenalkanku dengan pria, yang bernama Bagas.

Jujur aku akui, kalau Bagas itu tampan, seperti yang dibilang Ratna. Aku melihat poto Bagas di layar handphonenya Ratna, kelihatannya sih baik. Tetapi tidak tahu kalau kenyataannya.

Saat sedang melamun, aku tersadar dengan bunyi handphone, yang begitu nyaring. Ternyata Papa yang menelfonku, aku pun segera mengangkat telpon dari Papa.

"Hallo, assalamualaikum, Papa." Aku menyapa, dan mengucapkan salam kepada Papaku itu.

"Waalaikumsalam. Nis kamu sedang apa, dan lagi di mana?" Papa bertanya tentang keberadaanku, Beliau pun menjawab salamku.

"Aku ada di rumah, Pah. Tidak lagi ngapa-ngapain, kenapa Pah?" tanyaku. Aku menjawab pertanyaan Papa tentang keberadaanku, dan bertanya kenapa Papa menanyaiku.

"Nggak apa-apa, Nis. Papa cuma mau nanya, kamu sudah makan apa belum? Papa juga mau bertanya, kamu besok ada acara nggak?" Papa memberitahu maksudnya, jika Papa ingin tahu aku sudah makan atau belum. Papa juga ingin tahu, besok aku ada kegiatan atau nggak.

"Anisa sudah makan Pah, dan besok Anisa juga ada kegiatan, mau ketemuan sama temannya Ratna. Boleh kan, Pah?" tanyaku.

"Ya sudah, Nis. Terserah kamu aja," sahut Papa.

Setelah tidak ada lagi kepentingan, yang disampaikan. Kami pun memutuskan sambungan telponnya. Aku kembali larut dalam lamunanku, memikirkan tentang pertemuan besok. Ada perasaan tidak karuan, di dalam hati ini. Saat mengingat yang ingin aku temui, adalah seorang laki-laki.

*****

Keesokan harinya, aku sedang bersiap-siap, untuk menuju ke Restoran Samudra. Restoran yang berada dekat dengan kantor Ratna, yaitu kantor cabang perusahaan Papa. Ratna bekerja di kantor itu, sebagai ketua HRD.

Ratna bekerja di kantor Papa, atas rekomendasi dariku. Aku yang meminta Papa, untuk menerima Ratna sebagai karyawannya. Aku juga yang meminta Papa, untuk memberi kedudukan kepada Ratna di kantor itu, dan Papa mengangkatnya menjadi Ketua HRD.

Jam telah menunjukan pukul sebelas kurang lima belas menit, aku telah berdandan rapi. Aku sedikit memoles riasan di wajahku, supaya tidak kelihatan pucat. Aku telah berkali-kali bercermin, takut kalau penampilanku ada yang kurang

Setelah aku rasa cukup, aku mengambil tas selendang, dan kunci mobil yang berada di atas nakas. Tidak lupa aku memasukan handphoneku, ke dalam tas tersebut. Setelah semuanya beres, aku keluar dari kamar menuju garasi.

Mobil alpard keluaran terbaru, yang aku bawa saat ini. Mobil ini akan membawaku menuju Restoran Samudra, untuk bertemu dengan Anisa dan juga Bagas. Sekitar empat puluh menit aku sudah berada di restoran itu, aku segera mencari meja yang kosong, untuk duduk kami bertiga. Setelah aku mendapatkan meja yang cocok, aku segera mengabari Ratna.

[Assalamualaikum, Ratna. Aku sudah sampai di Restoran Samudra, dan aku telah memboking sebuah meja, untuk makan siang kita. Kamu segera datang ya, kalau kerjaannya sudah selesai.] Aku mengetik pesan kepada Ratna, untuk memberitahu keberadaanku.

Sambil menunggu kedatangan Ratna, dan Bagas. Aku memesan minuman kepada pelayan, aku meminta jus alpukat kesukaanku. Tidak berapa lama terdengar sebuah notifikasi, dari handphoneku. Aku pun segera menggeser layar, kemudian membacanya. Rupanya Ratna yang mengirim balasan chat dariku.

[Ok, Nis. Tunggu aja ya, aku sebentar lagi selesai. Aku nunggu jam istirahat dulu, baru aku dan Bagas kesana.] seperti itulah Ratna mengirim balasan pesan kepadaku.

[Ok Ratna, aku tunggu.] Aku kembali mengirim pesan kepada Ratna.

*****

Tidak berapa lama Ratna datang, bersama dengan seorang laki-laki. Laki-laki ini sama persis dengan yang ada di foto, waktu kemaren Ratna menunjukannya ke aku.

"Hai, Nis, maaf ya lama nunggunya. Tadi, kerjaan belum selesai dan belum istirahat. Makanya, kami baru keluar ini." Ratna berkata, sambil duduk di kursi yang masih kosong.

"Iya, Rat, gak apa-apa kok." sahutku.

"Oh iya Nis, ini orang yang mau aku kenalin sama kamu. Ayo, kalian saling memperkenalkan diri masing-masing!" perintah Ratna. Ratna pun memberitahu kalau laki-laki yang bersamanya, adalah orang yang ingin ia perkenalkan.

"Bagas," ucapnya, sambil mengulurkan tangan kepadaku.

"Anisa," sahutku, sambil menelunngkupkan kedua tangan di dada.

"Oh, maaf," ucapnya lagi, sambil menarik uluran tangannya, kembali.

"Iya, gak apa-apa. Seharusnya aku yang minta maaf," ujarku.

"Ya sudah, ayo kita pesan makan. Aku juga belum pesan, kok, nunggu kalian datang." Aku memerintahkankan, Bagas dan Ratna untuk memesan makanan.

Kami pun memanggil pelayan untuk memesan makanan, sesuai dengan selera kami. Kami pun makan dengan khusyuk, tanpa mengeluarkan suara. Setelah selesai makan kami ngobrol kesana kemari, hingga membahas tentang kerjaannya Bagas.

"Oh, jadi Mas Bagas kerja di kantor Papa, ya Rat?" Aku bertanya kepada Ratna.

"Iya Nis, cuma masih sebagai karyawan biasa. Tapi, mungkin kamu mau membantunya, supaya naik jabatan. 'Kan kamu anaknya Bos," ujar Ratna.

"Hee, iya gampang, itu bisa di atur. Sekarang, apa kalian sudah mau masuk kantor lagi?" tanyaku.

"Iya, Nis," sahut Ratna.

"Ya sudah, ayo, kita bayar dulu!" ajakku. Ratna dan Bagas malah saling melirik, saat aku mengajaknya membayar makanan.

Rupanya, Bagas bekerja di perusahaan Papa. Ia menjadi karyawan, di kantor cabang Papa, satu kantor dengan Ratna. Selesai makan, kini tinggal pembayaran, apa yang telah kami makan tadi.

Aku ingin tahu, Bagas ini peka, atau enggak orangnya. Aku ingin melihat tanggung jawabnya sebagai seorang lelaki, apakah Bagas mau membayarkan makanan kami, atau tidak.

*****

Kira-kira siapa ya, yang akan mengeluarkan uang untuk makan siang mereka? Bagas, Ratna, atau Anisa?

Yuk. terus ikuti ceritanya biar gak penasaran sama endingnya.

Bersambung ...

Bab 3

"Pelayan ...," panggilku sambil mengacungkan tangan kanan. Kemudian pelayan pun menghampiri meja kami, setelah tadi aku memanggilnya.

"Iya, Mbak," sahut si pelayan kafe, setelah sampai meja kami.

"Berapa semuanya?" tanyaku. Aku menanyakan bill makanan dan minuman, yang tadi kami makan.

"Semuanya empat ratus delapan puluh ribu rupiah, Mbak. Ini notanya," ucap sang pelayan, sambil memberikan nota kepadaku.

"Oh iya Mbak, terima kasih. Bisa pake debit kan, Mbak?" tanyaku, sambil mengambil nota tersebut.

"Bisa, Mbak, langsung aja ke kasir." Pelayan tersebut menjawabnya dan menunjuk, ke arah kasir yang berada di pojok, dekat pintu keluar.

"Iya Mbak, terima kasih, ya." Aku kembali mengucapkan terima kasih.

"Sama-sama, Mbak. Aku permisi dulu ya, Mbak," sahutnya. Pelayan pun pergi dari hadapan kami.

Aku pun berdiri dan berjalan ke arah kasir, setelah sampai aku merogoh tas untuk mengambil ATM, buat membayar makanan yang kami makan tadi. Tetapi, saat aku mau menyerahkan kartu ATM tersebut, kepada Mbak kasir, Bagas menghampiriku.

"Nis, udah biar Mas yang bayar. Masa iya, cowok di traktir cewek, sih?" Bagas berkata, sambil menyodorkan kartu ATM miliknya.

"Ih tidak apa-apa, Mas, santai aja!" Aku berkata sambil menyerahkan kartu ATMku, kepada Mbak kasir.

"Janganlah Nis, bisa malu Mas nanti. Masa iya, baru kenalan udah di bayarin cewek." Andre tetap meminta, supaya ia yang membayarnya.

"Udah enggak apa, Mas, untuk kali ini aja. Nanti lain waktu, Mas yang traktir aku." ujarku. Aku tetap memaksa, bahwa aku yang akan membayarnya.

"Mas mending susul Ratna aja, dia sudah keluar tuh!" Aku menyuruh, Bagas supaya ikut keluar aja, bareng Ratna.

"Ya udah, lain kali Mas, yang traktir kamu, ya. Mas keluar duluan," pamit Bagas. Ia pun berjalan keluar, menghampiri Ratna yang sudah duluan di sana, tanpa menunggu jawaban dariku.

"Ini Mbak," ucapku, sambil menyerahkan kartu ATM kepada Mbak kasir, setelah Bagas pergi keluar.

"Iya, Mbak," sahutnya. Mbak kasir menerimanya ATM dariku, setelah itu ia memintaku untuk memasukan pinnya. Aku pun mengetik pin tersebut, lalu kembali memberikan printer kasir, kepada Mbak kasir tersebut.

Setelah selesai membayar, aku menemui Bagas dan Ratna yang telah berada di luar kafe. Mereka sedang tertawa bersama, entah sedang membicarakan apa, sehingga membuat mereka tertawa serenyah itu.

"Nis, aku malu sama kamu. Masa iya, aku malah di traktir sama kamu. Aku yang seharusnya mentraktir kamu, bukannya kamu yang mentraktir aku. Aku ini kan cowok," ujar Bagas, saat aku sudah berada di antara mereka berdua. Mereka pun tidak lagi tertawa seperti tadi, saat melihatku menghampiri mereka.

"Oh, enggak apa-apa, Mas, selama aku bisa dan mampu. Santai aja, jangan terlalu di pikirkan." Aku berkata kepada Bagas, kalau semua itu tidaklah masalah buatku.

"Oh ya, Ratna, aku pulang ya! Kalian sudah mau masuk kantor lagi, bukan?" tanyaku.

"Iya Nis, kamu hati-hati di jalan, ya? Kamu jangan ngebut-ngebut, bawa mobilnya." pesan Ratna.

"Terima kasih, Ratna, ya udah aku duluan. Assalamualaikum," pamitkku, sembari mengucapkan salam.

"Waalaikumsalam, hati-hati, Nisa!" sahut mereka berdua serempak.

Aku pun segera berlalu, dari hadapan Ratna dan Bagas, menuju parkirkan. Aku segera menaiki mobilku, setelah itu aku pacu mobil alphard ini, dengan kecepatan sedang.

Saat dalam perjalanan pulang, handphoneku berbunyi. Aku pun segera memasang headset bluetooth, di telingaku. Setelah terpasang, aku pun menyapa si penelepon.

"Hallo, assalamualaikum." Aku menyapa serta mengucapkan salam.

"Waalaikumsalam, Nis." sahut si penelepon, yang ternyata adalah Papa.

"Iya Pah, kenapa?" tanyaku.

"Kamu ada di mana? Udah selesai belum, acara ketemuan sama temannya Ratna? Kalau udah selesai, tolong kamu ke kantornya Papa, ya! Papa tunggu," pinta Papa. Ia menyuruhku untuk datang ke kantornya.

"Iya, Pah, sudah selesai, kok. Ini Anisa, lagi di jalan, tadinya mau langsung pulang. Ya udah Pah, nanti Anisa, biar langsung ke kantor Papa aja." Aku menyetujui, jika aku akan langsung ke kantor Papa.

"Ok, Papa, tunggu! Hati-hati di jalan, ya Nak? Assalamualaikum," ucap Papa, mengakhiri pembicaraan kami.

"Baiklah, Pah, Waalaikumsalam." sahutku.

Setelah telepon terputus, aku kembali memacu mobilku, dengan kecepatan lumayan kencang, yaitu delapan puluh kilo meter perjam.

Tidak sampai tiga puluh menit, aku sampai di kantor pusat Papa. Kebetulan, jalanan lumayan lengang karena para karyawan sedang sibuk kerja.

Beda lagi jika pagi dan sore hari, jalanan penuh sesak karena banyak orang yang pergi dan pulang kerja. Jika pagi dan sore hari, jalanan dipenuh oleh kendaraan, baik roda dua atau pun roda empat. Membuat kepulan asap dari kendaraan, membumbung ke udara. Sehingga menambah polusi udara di metropolitan, yang terkenal dengan sebutan ibukota negara ini.

"Mbak Irma, aku mau ketemu Papa, tadi Papa yang suruh datang! Papa ada di ruangannya, kan?" Aku bertanya, kepada sekertaris Papa yang bernama Irma. Aku bertanya tentang keberadaan Papa, takutnya tidak ada di ruangannya.

"Iya, Mbak, Bapak ada kok, di dalam." Mbak Irma menjawab pertanyaanku.

"Ok, Mbak, terima kasih, ya!"

"Sama-sama," sahutnya.

Aku segera melangkah, menuju ruang kerja Papa. Aku pun mengetuk pintu dulu, sebelum masuk keruangannya. Walaupun aku seorang anak, dari pemilik perusahaan ini. Tetapi aku tetap mengutamakan tatak rama dan sopan santun.

Papa, yang selalu mengajarkan semua itu, padaku. Papa bilang sekaya apapun kita, setinggi apapun derajat kita harus tetap mengutamakan tatak rama. Tatak rama, merupakan ciri kepribadian seseorang.

"Tok ... tok ... tok!"

"Assalamualaikum," ucapku.

"Waalaikumsalam, ayo masuk, Nis." sahut Papa.

Aku pun segera memutar knop pintu, kemudian masuk ke dalam. Rupanya di dalam, Papa sedang ada tamu. Mereka sedang berbicara, entah sedang membicarakan tentang apa.

"Pah, ada apa? Kenapa, Nisa, di suruh datang ke kantor?" Aku langsung to the point, menanyakan maksud dan tujuan Papa, menyuruh aku datang ke kantornya tersebut.

"Sini, sayang, kamu duduk dulu! Biar nanti, Papa jelasin sama kamu." Papa melambaikan tangannya, supaya aku menghampiri beliau, yang sedang ngobrol bareng seorang pria muda. Sepertinya, ia seorang rekan bisnisnya Papa.

"Iya, Pah," sahutku.

Aku pun menghampiri Papa, yang sedang duduk bersama pria tersebut di sofa. Aku pun kemudian duduk, di samping Papa. Sedangkan Pria yang sedang bersama Papa, duduk berseberangan dengan Papa. Ia cuma melirikku sekilas, tetapi sama sekali tidak menyapaku.

Boro-boro menyapa, melirik pun sekedarnya saja. Wajahnya begitu datar, raut mukanya pun tidak bersahabat. Aku merasa tidak nyaman, saat berhadapan dengannya. Bukan karena takut tetapi karena aku merasa, orangnya ini orang yang paling jutek yang pernah aku temuin.

"Nis,bermaksud Papa nyuruh kamu kesini. Papa mau kenalin kamu, sama Nak Andre ini. Dia rekan bisnis Papa, Nak Andre, ini hebat lho, Nis. Masih muda udah jadi pengusaha," ungkap Papa.

"Nak Andre, perkenalkan ini anak Om namanya, Anisa. Anisa, adalah anak Om satu-satunya. Ibunya sudah meninggalkan, sejak Anisa baru dilahirkan." Papa memperkenalkanku, dengan orang jutek tersebut, ternyata namanya Andre.

"Oh, iya Om. Nama yang cantik," sahut Andre. Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Ia hanya melihat, kearahku sekilas.

"Ayo, Nis, kenalan!" perintah Papa padaku, supaya mau berkenalan dengan manusia es batu tersebut.

"Anisa," ucapku, sambil merentangkan tangan kanan.

"Andre," sahutnya, sambil menyatukan kedua telapak tangan di dada.

Andre sama sekali tidak menyentuh tanganku, membuat aku langsung menarik tanganku. Malu? Jelas, aku malu. Aku merasa, menjadi seorang perempuan yang tidak ada artinya di hadapan Andre.

"Nis, Papa menyuruh kamu datang ke kantor. Bukan sekedar untuk memperkenalkan kamu sama Andre, tetapi Papa ingin supaya kalian berjodoh." Papa berkata, mengungkapkan tujuannya.

"Maksud Papa, apa?" tanyaku, tidak mengerti

Ini gimana sih, Papa, maen mau jodohin saja. Mana sama orang jutek, macam Andre, lagi.

Bersambung ...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED